[FF Tragedy] Over Love You

Tittle      : Over Love You

Author  : Quin

Casts     :

–          Lee Taemin (SHINee)

–          Ahn Sorin (OC)

–          Lee Jinki (SHINee) => numpang nama

Genre   : Angst, tragedy, AU, (bit) Romance

Rating   : PG-13

Length  : Oneshoot

Play        : Coagulation (Super Junior) & Crush (B1A4)

Disclaimer           : The story is mine. Jinki is belong to Shawols and MVPs but Taemin is mine (digodhok Taemints)

Warning               : This is just fanfic from my imagination. Lagu dan isi cerita tidak berhubungan. Aku Cuma pengen kalian dengerin lagu itu biar bisa menghayati (?). Jangan sampai terlalu terbawa suasana walau saya tahu kalian tak akan menangis setelah membaca fanfic ini.

Note      : Ini fanfic Taemin pertama saya yang berhasil selesai dalam waktu singkat. Entah kenapa kalau bikin fanfic romance lamanya nggak ketulungan, tapi kalau bikin fanfic bunuh-bunuhan cepet banget selesainya. Mungkin ini karena saya lebih sering membaca novel bunuh-bunuhan daripada novel romance. Maaf, di sini Taemin agak (?) kunistakan walau dia adalah suamiku sendiri *dibacok Taemints*

FF perkenalan Quin untuk semua yang di sini. Selamat membaca dan semoga mendapat respon yang positif ^^

*****

I killed him because he had grabbed you from me

*****

Di bawah langit sore yang mendung, segerombolan manusia berpakaian serba hitam tampak berkumpul di tempat pemakaman sambil menangis. Ada yang menangis sesenggukan, ada yang pingsan, bahkan ada yang datang untuk melayat hanya untuk sekedar memberikan simpati.

Kulihat Eomma tampak menangis histeris di samping peti mati dan appa yang sedang menenangkan Eomma. Kudekati peti mati itu dan kudapati Jinki Hyung tengah terbaring kaku di dalam peti mati. Wajahnya benar-benar damai dan polos seperti seorang malaikat. Kuraba wajah putih Jinki Hyung yang lembut dan dingin. Sayang, Jinki Hyung meninggal sebelum ia mengikatkan janji suci minggu depan. Malang sekali.

Oppa!” jerit seorang yeoja histeris.

Oppa! Kumohon bangun, Oppa. Oppa, jangan tinggalkan aku. OPPA!!” Yeoja itu kembali menjerit dan terus menjerit-jerit sambil mengguncang-guncangkan tubuh Jinki Hyung yang sekarang sedang terbaring tak bernyawa di dalam peti mati.

Ya, yeoja itu adalah tunangannya Jinki Hyung, Hyungku sendiri. Mereka juga sudah mempunyai rencana menikah minggu depan. Tapi sayangnya, Jinki Hyung harus pergi meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya.

“Sorin-ah, mianhae, petinya harus kami tutup.”

ANDWAE! Jinki Oppa, jangan pergi! Bawa aku bersamamu, Oppa.. Oppa, jangan pergii… kumohon…” yeoja itu terus menangis walau ia tahu Jinki Hyung tak akan pernah bangun lagi.

Kudekati yeoja itu dan kuelus-elus punggungnya kemudian memeluknya agar ia dapat merasa tenang. “Sorin-ah, sudahlah, Jinki Hyung tak akan kembali lagi,” kataku masih dengan memeluk tubuh mungil yeoja itu.

“Taemin-ah, kenapa ini terjadi padaku? Kenapa Jinki Oppa harus pergi saat kami berdua akan menikah minggu depan? Kenapa dia bisa keracunan makanan? Kenapa dia tidak bisa hati-hati dalam memilih makanan? Kenapa, Taemin? KENAPA??” Yeoja itu menangis semakin keras dalam pelukanku.

Jasku pun mulai basah terkena air matanya yang sedari tadi tak pernah berhenti mengalir dari pelupuk matanya.

Aku hanya diam tak menjawab pertanyaannya. Aku terus diam sambil merapatkan pelukanku dan mengamati ujung kepala yeoja itu sampai aku sendiri tak sadar kalau aku mulai menyunggingkan senyum sinis.

“Sorin-ah,” panggilku seraya melepaskan pelukanku pada Sorin. Kupegang kedua bahunya dan kutatap lekat-lekat mata indahnya yang berwarna coklat kehitaman yang sekarang sudah sembab karena usai menangis. “Sorin-ah, ikut aku,” perintahku lembut sambil menggandeng tangannya keluar dari kerumunan makhluk-makhluk berbaju hitam yang sudah memadati tempat pemakaman Jinki hyung.

“Kau mau mebawaku kemana, Taemin-ah?” tanyanya heran.

“Kau ikut saja,” jawabku sembari mempersilakan dia masuk ke dalam mobilku, kemudian aku pun ikut masuk dan duduk di belakang kemudi.

Hening. Begitulah suasana dalam mobil sekarang. Tak ada seorang pun dari kami yang ingin membuka pembicaraan sampai aku memarkirkan mobilku di tepi pantai.

“Kenapa kau membawaku kemari, Taemin-ah? Cepat bawa aku kembali ke tempat pemakaman,” pintanya padaku. Tapi aku tak menanggapi permintaannya dan hanya tersenyum penuh arti. Kemudian aku pun menggandeng tangannya dan terus membawanya ke arah pantai yang sudah mulai pasang.

Pertanyaan-pertanyaan terus keluar dari mulutnya, tapi aku tetap mengacuhkannya dan terus menggenggam tangannya erat sambil menyembunyikan senyum sinisku.

Ya! Lee Taemin!” bentaknya tepat di telingaku ketika air sudah menyentuh mata kaki kami. “Ya! Kau mau membawaku kemana, hah?” lanjutnya lagi.

“Kau lihat batu karang itu?” tanyaku sambil menunjuk batu karang yang terletak agak jauh dari tempat kami berdiri sekarang. “Kita akan ke sana.”

“Tapii..”

Kajja,” kataku dan kembali menggandeng tangannya.

Tak peduli dia sudah mulai kesulitan berjalan di dalam air karena sepatu berhak tinggi yang sekarang dikenakannya. Tak peduli nafasnya yang memburu karena kelelahan berusaha menyamai langkah kakiku. Aku juga tak peduli dia sudah menggigil kedinginan karena air yang sudah setinggi pinggangnya. Aku tak peduli apa pun asal aku bisa sampai di batu karang itu sebelum matahari terbenam.

Ya! Apa maksudmu membawaku ke tempat seperti ini, hah?” bentaknya ketika kami sudah sampai di atas batu karang yang dituju.

“Tidakkah ini indah?” tanyaku berbasa-basi sembari menatap matahari yang sudah mulai terbenam di ufuk barat.

Yeoja itu tampak mengerutkan dahinya kemudian membalikkan badannya ke arah matahari yang mulai terbenam. “Hmm.. lumayan,” jawabnya datar.

Kulirik wajah cantiknya dan kulihat matanya tengah menatap sunset itu dengan sendu. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang, tapi yang pasti wajahnya memancarkan aura kesedihan.

Seketika itu juga aku langsung teringat masa-masa dimana aku dan Sorin masih sering melihat sunset berdua. Kebiasaan yang selalu kami lakukan ketika kami duduk di bangku sekolah dasar. Jauh sebelum Jinki Hyung kembali ke Korea dan kemudian dijodohkan dengan Sorin.

*****

“Wooaa!! Taemin-ah, sunset ini indah sekali!” kata Sorin sambil menunjuk ke arah matahari yang sudah mulai terbenam.

Aku tersenyum dan menatap Sorin yang masih kagum dengan keindahan matahari terbenam. Rambut panjangnya yang tergerai tampak melambai-lambai diterpa angin dan tangannya sibuk merapikan roknya yang ikut terkena hembusan angin sore.

“Taemin-ah, setiap sore antar aku melihat sunset, ya?” pintanya padaku.

Ne,” jawabku sambil tersenyum. Kulihat wajahnya nampak bahagia ketika aku mengiyakan ajakannya.

*****

“Aih, menyebalkan sekali! Taemin-ah, hari ini kita tidak bisa melihat sunset karena hujan,” dumalnya padaku sambil mengerucutkan bibirnya.

“Kekekekekeke,” kekehku karena geli dengan tingkahnya. “Kita kan masih bisa melihat sunset besok sore,” lanjutku lagi.

“Tapi tetap saja menyebalkan. Tidak bisakah turun hujan di siang hari? Atau malam hari? Sehingga aku bisa melihat sunset pada sore hari,” gerutunya lagi.

Aku hanya tersenyum geli melihat ekspresi wajahnya yang sebal tak bisa melihat sunset.

Tapi, setelah kejadian itu, Sorin tak pernah lagi mengajakku untuk melihat sunset bersama. Setiap hari aku sudah menunggunya di depan rumahku berharap dia meneriakkan namaku dan mengajakku ke pantai untuk melihat sunset bersama. Tapi sampai matahari terbenam, dia tak kunjung datang ke rumahku. Bahkan hari-hari selanjutnya dia tak pernah mampir ke rumahku sampai akhirnya Jinki Hyung kembali ke Korea dan dijodohkan dengan Sorin 3 tahun yang lalu.

*****

Aku kembali melirik Sorin yang masih menatap sunset dengan sendu. Apakah yang ada dipikirannya sekarang sama dengan yang ada di pikiranku? Ataukah kenangan-kenangannya bersama Jinki Hyung? Aku tidak tahu.

Tiba-tiba setetes cairan bening keluar dari pelupuk mata Sorin, tapi kemudian ia buru-buru menghapus air matanya. Entah apa yang ditangisinya sekarang aku tak ingin tahu.

Perlahan tapi pasti kupeluk lagi yeoja yang berdiri di sampingku itu lalu kusibakkan poninya yang menutupi dahinya. Kudekatkan wajahku dan kucium dahinya dengan lembut. Kemudian turun ke mata dan kucium lembut kelopak matanya.

“Taemin?” tanyanya sambil menatapku heran.

Aku melepaskan pelukanku dan beralih memegang kedua bahunya. Kembali kudekatkan wajahku dan kucium hidung mancungnya, lalu bergeser mencium pipi lembutnya. Ciumanku kembali turun menuju bibirnya yang merah ranum dan kulumat bibirnya lembut. Tak ada perlawanan ataupun membalas ciumanku, dia hanya diam seolah-olah pasrah dengan perlakuanku. Kuturunkan lagi ciumanku dan mencium leher jenjangnya.

Kugeserkan tanganku dari bahunya menuju lehernya. Kuelus-elus lehernya, semakin lama aku menekankan tanganku di lehernya. Kutekankan semakin kencang hingga ia jadi sulit bernafas. “T-t-taem.. miinn..” rintihnya kesakitan karena lehernya kucekik cukup kencang.

“T-t-tae..taemm.. miinn.. akhhk..” rintihnya semakin keras. Tapi aku tak menggubrisnya dan terus menekan lehernya lebih kencang lagi.

“T-t-tae.. miin.. k-ke-kena.. ppaa?” tanyanya lagi masih dengan menahan sakit di lehernya.

“Kenapa?” aku tersenyum sinis tanpa melepaskan cekikanku di lehernya.

“Karena kau dan Jinki Hyung. Apa kau tahu? Aku yang sudah membunuh Jinki Hyung. Apa kau tidak pernah berpikir kalau Jinki Hyung meninggal bukan karena keracunan? Tapi dia DIRACUNI oleh aku, adiknya sendiri. Apa kau tahu kenapa aku tega melakukan semua itu? Karena aku tak bisa melihat kau dan Jinki Hyung menikah. Padahal aku yang lebih dulu mengenalmu dan mencintaimu. Tapi kenapa justru Jinki Hyung yang dijodohkan denganmu? KENAPAA??”

Sorin tak menjawab pertanyaanku. Dia memejamkan matanya untuk menahan sakit. Aku yang sudah tak sabar ingin membunuh Sorin langsung saja mengambil belati yang berada di saku sebelah dalam jasku dengan tangan kiriku.

Aku sedikit mengendurkan cekikanku di leher Sorin dan mendekatkan diriku pada Sorin. “Saranghae,” bisikku tepat di telinganya kemudian aku pun menusukkan belati yang kubawa ke punggung Sorin.

Seketika itu juga darah kental berwarna merah kecoklatan keluar dari dada di sebelah kirinya tempat dimana belati itu hampir menembus jantungnya. Mulut Sorin juga mulai mengeluarkan cairan yang sama. Gadis itu pun ambruk seketika itu juga.

DEG! Aku pun segera sadar dengan apa yang sudah kulakukan. “SORIN!!” teriakku lalu memeluk tubuhnya yang sudah berlumuran darah. “Sorin, apa yang kulakukan padamu? Sorin!”

“T-t-taem.. miin..” panggilnya dengan nafas terputus-putus. “Na.. do.. s-sa.. sarang.. hae,” kemudian Sorin pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Tes. Air mataku menetes dari pelupuk mataku, semakin lama semakin deras membasahi pipiku. Kata-kata Sorin yang terakhir benar-benar membuat jantung serasa berhenti berdetak. ‘Nado’ kata-kata itulah yang kini berputar-putar di otakku.

KRIIING!!

Terdengar suara ponsel berbunyi. Kulirik tas Sorin yang tergelat begitu saja di samping tubuhnya yang sudah tak bernyawa. Kubuka tasnya dan kuambil ponselnya, terlihat nama Eomma-nya yang tertera pada layar ponselnya. Sepertinya Ahn Ahjumma khawatir pada Sorin karena ia belum pulang juga.

Tiba-tiba mataku terpaku pada wallpaper ponsel Sorin. Di situ terpmpang fotoku dengannya saat kami masih SD. Mungkinkah..? Belum puas dengan wallpaper ponselnya, aku pun mengambil dompetnya dan membukanya. Ternyata di dompetnya terpasanga foto kami saat ulang tahunnya yang ke-10. Foto lama itu.. ternyata ia masih menyimpannya.

Air mataku kembali mengalir semakin deras. “Soriin… kenapa kau tak bilang sejak dulu? Kenapa?” tanyaku entah pada siapa. Seketika itu juga ingatan-ingatanku saat bersama Sorin kembali muncul dalam pikiranku.

*****

“Taemin-ah, coba tebak apa warna kesukaanku.”

Blue sky.”

“TET TOT! Salah,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku sekarang suka warna putih.”

Aku mengangkat alisku merasa heran dengan jawabannya. “Kenapa?”

“Karena orang yang kusukai suka warna putih,” jawabnya dengan wajah berseri-seri.

*****

“AUUWW!” sorin tiba saja terjatuh ke lantai.

“Kau ini kenapa, hah?” tanyaku yang heran dengan tingkahnya karena sejak tadi ia berjalan dengan gaya aneh seperti orang autis.

“Aku sedang berlatih menari tahuu..” jawabnya sambil mengelus-elus pergelangan kakinya yang sepertinya terlikir.

“Menari? Poco-poco, ya?” tanyaku lagi. Tumben sekali dia menari, karena yang kutahu dia sangat benci menari.

“Enak saja. Ini popping dance tahuu…,” jawabnya lagi dengan mengerucutkan bibirnya.

Aku menaikkan alisku heran. Belakangan ini dia memang bertingkah sedikit aneh dari biasanya. Melakukan hal yang tak disukainya. Gadis aneh.

“Kenapa?” tanyaku sambil membopong tubuhnya ke sofa.

“Karena orang yang kusukai sangat suka popping dance. Hehee..” jawabnya dengan memerkan deretan gigi kelincinya yang putih mengkilat.

*****

“ARGHH!!” teriakku frustasi. Aku benar-benar lelaki paling bodoh di dunia. Ternyata selama ini dia sudah memberikan petunjuk siapa orang yang disukainya. Dan orang itu adalah aku, Lee Taemin.

Lalu sekarang apa gunanya aku membunuh Jinki Hyung dan Sorin? Aku benar-benar lelaki tak berguna. Aku sudah membunuh kakak kandungku sendiri dan gadis yang aku cintai. Padahal sudah jelas-jelas Sorin juga mencintaiku. Kenapa aku tak pernah menyadarinya? Kenapa?

Aku pun kembali merogoh saku bagian dalam jasku dan mengeluarkan sebuh pistol yang sudah kusiapkan sebelum pergi kemari. Kuangkat pistol itu dan kutempelkan tepat di pelipis kananku. Kutarik pelatuknya perlahan-lahan dan memejamkan mataku sebelum aku melepaskan pelatuknya. Kembali kuputar sejenak memoriku bersama Sorin yang sudah lama kulupakan. Aku tersenyum dan memantapkan niatku. Kemudian aku pun melepaskan pelatuk pistolku.

DOOR!!

Dapat kurasakan sebuh peluru berhasil menembus kepalaku. Seketika itu juga semua terasa dingin. Lalu semuanya menjadi gelap.

*****

“Ditemukan mayat wanita dan pria di atas batu karang . Diduga mereka adalah Ahn Sorin dan Lee Taemin yang dilaporkan hilang sejak kemarin sore. Menurut penyelidikan polisi, dapat dipastikan Nona Ahn ditusuk menggunakan belati sedangkan Tuan Lee ditembak menggunakan pistol. Polisi juga masih akan menindak lanjuti kasus ini sampai tuntas. Bagi yang merasa kehilangan anggota keluarganya dan atau merasa mengenal dengan orang yang bersangkutan dapat melapor ke kantor polisi. Sekian dan terima kasih.”

THE END

Gimana eh? Jelekkah? Pendek, ya? Gajekah? Maklum, ini FF dibuat dalam sehari. Kekekekeke… Feel-nya kurang dapet, ya? *nangis di pojokan* Untuk para Readers yang Quin cintai, terima kasih udah mau baca ^^

Advertisements

19 thoughts on “[FF Tragedy] Over Love You

  1. dee,,,taeminnya jahat bgt dsini,,,uda bunuh onew eh bunuh tunangannya jg yg trnyata dy cnta sm taemin,,-____-

    jd cmuanya mati dong de??

    eh ia ka lucu pas sorinnya blg TET TOt….hahaha,,lucu de..;))

    taeminnya kburu bunuh diri sih,,,klo gx dy psti d hntui rasa brsalah seumur hdpnya tuh..huhu…

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s