Persona Non Grata [Part 1]

Title : Persona Non Grata

Author : ditjao 

Cast :

  • Shin Eunjin [OC]
  • Byun Baekhyun [EXO-K]
  • Park Chanyeol [EXO-K], Kim Taerin [OC], dan beberapa nama yang bertugas sebagai figuran lainnya akan menyusul~

Rating : buat ABG

Genre : fail Romance, i guess-___-

Length : Twoshot

Disclaimer : Semuanya punya saya, kecuali cast. Member EXO dan OC milik Tuhan dan milik papah sama mamahnya masing-masing. Pengecualian buat Sehun sama Tao yang hak miliknya juga berada di tangan saya 8D /slapped (becanda, mereka gak maen di sini-___-)

Note : FF ini sudah pernah saya publish sebelumnya di FFIndo 🙂 Maaf ya buat Kak Riana, padahal aku udah janji sebelumnya buat nge-post hari kemarin 😦 Maaf juga karena ff-nya masih re-post 😦 Niatnya mau bikin baru, tapi tadi sore ada something yang bikin saya bete setengah idup. Gara-gara kelimpungan nyari-nyari NISN buat registrasi online untuk keperluan daftar ulang universitas (dan akhirnya malah gak ketemu-ketemu (۳ ˚Д˚)۳) bikin saya bad mood semaleman heu -___- *maafin curhat-_-* Tapi kalau ada waktu bakal aku sempetin bikin yang baru kok ^^ Untuk sementara, enjoy yang ada aja dulu ya semers, hehe 😀 Hepi riding semua 😉

Persona Non Grata

Jung Sonsaengnim menyebalkan! Dasar perawan tua tak punya hati! Kalau saja beliau tak menugaskan aku untuk membuat makalah tentang sejarah Dinasti Goryeo, mungkin aku tak perlu begadang sampai larut malam dan harus berlari-lari menyusuri koridor sekolah gara-gara bangun terlambat tadi pagi seperti sekarang ini. Belum lagi tumpukan buku sejarah yang juga sedang kubawa sekarang di samping tas ransel yang masih menempel di punggungku, aish! Hanya menambah beban dan penderitaanku sebagai seorang murid saja!

Oh, Tuhan! Bunuh saja aku sekarang! Kulihat hanya tinggal beberapa milimeter lagi hingga jarum panjang pada arlojiku benar-benar dapat mencapai angka 12. Dan ini artinya, tak lama lagi bel masuk akan segera berbunyi. Bahkan mungkin malah bisa terhitung beberapa detik lagi dari sekarang. 

Lebih parah lagi karena untuk mencapai ruangan kelas, aku bahkan harus mendaki beberapa anak tangga terlebih dahulu. Ah ya, dan apa aku lupa bilang kalau kelasku berada di lantai tiga gedung sekolah ini? Jinjja… rasanya aku benar-benar ingin mengutuk Bapak Kepala Sekolah-ku yang terhormat karena beliau telah memutuskan untuk memindahkan semua ruangan kelas 12 ke lantai paling atas itu dengan seenaknya. Aku tak mengerti alasannya dan tak penting juga bagiku untuk mengetahuinya. Yang jelas, yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar aku bisa segera sampai di lantai 3 sementara hanya… tunggu. Apa aku tak salah lihat? HANYA TINGGAL SATU MENIT LAGI HINGGA BEL MASUK AKAN SEGERA BERBUNYI?! TUHAAAN…. TOLONG AKU TUHAN KUMOHON!!

Kalau aku kembali terlambat pada kelas sejarah Jung Sonsaengnim kali ini, bukan tidak mungkin jika perawan tua itu akan kembali mengancam untuk memanggil kedua orang tuaku ke sekolah. Errr… baiklah, mari ambil sisi terburuknya. Malah bukan tidak mungkin kalau beliau akan benar-benar memanggil kedua orang tuaku mengingat ia tidak bisa menolerir kesalahan setiap muridnya sampai batas waktu 3 kali. Okay, ini buruk. Bahkan sangat buruk! Karena sekarang aku sedang berada di frekuensi yang ke 3 kalinya. Setidaknya hampir.

BRUK!

Baiklah, sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak mau bersahabat denganku hari ini. Baru saja aku hendak menaiki anak tangga untuk menuju lantai 3, tanpa sengaja aku menabrak dua orang namja yang saat itu datang dari arah yang berlawanan. Kalian mengerti maksudku? Saat aku hendak ke atas, kedua orang itu muncul menuruni tangga. Salahkan kehadiran mereka yang begitu tiba-tiba dalam kasus ini, sebab adalah wajar apabila orang yang sedang dalam kondisi terburu-buru sepertiku ini tidak terlalu menperhatikan jalan, bukan?

Aish…”

Aku meringis. Begitu pula korban yang aku tabrak barusan. Oke, ralat. Aku tak menabrak keduanya, hanya salah satunya karena kulihat namja beruntung teman korban dari yang kutabrak tadi langsung berinisiatif untuk menolong temannya itu seraya ikut membantu membereskan tumpukan bukuku yang tadi sempat terjatuh berserakan di lantai.

Aku mendongak, bermaksud meminta maaf pada namja yang masih berjongkok di hadapanku ini.

Mian—“

Lidahku terasa kelu seketika. Sepertinya Dewi Fortuna memang benar-benar menyimpan dendam pribadi terhadapku sehingga aku harus berhadapan dengan kesialan selama beberapa kali pagi hari ini. Hanya dengan melihat wajah dari teman namja yang kutabrak barusan rasanya langsung sukses membuat jantungku berdetak dengan tempo yang tak karuan. Belum lagi semua darahku yang rasanya langsung naik ke puncak kepala. Sial! Padahal hari masih pagi, tapi kenapa aku harus melihat wajah menyebalkan ini lebih awal?

“Kau tak apa, Eunjin?”

Namja yang kutabrak barusan tiba-tiba bersuara dengan tatapan matanya yang memandangku cemas. Hei, aku jadi merasa bersalah. Ayolah, aku yang menabrak duluan tapi kenapa malah dia yang terlihat lebih khawatir? Padahal dia juga sama-sama terjatuh tadi.

Gwenchana, Chanyeol-ah..,” aku tersenyum kecil meski sesekali masih sambil meringis. Adegan tabrakan kami barusan setidaknya menyisakan sedikit rasa nyeri di bokongku. Meski tak terlalu parah, tapi sudah cukup lumayan untuk membuat seseorang mengaduh kesakitan.

Sementara namja—yang tak ingin kulihat mukanya—satunya lagi hanya memandang tumpukan buku yang barusan ia bereskan dengan tatapan heran. Kulihat mata sipitnya itu langsung mendelik ke arahku, seakan menyerangku dengan ribuan tanda tanya.

“Semua ini buku sejarah?” tanyanya dengan ekspresi aneh.

Aku tak mau menggubris pertanyaannya dan langsung saja mengambil alih tumpukan bukuku yang sedari tadi masih berada dalam genggamannya. Sudah tahu kalau semua ini adalah buku sejarah kenapa masih bertanya? Mungkin namja ini menderita katarak.

Aku pun bangkit, disusul Chanyeol bersama teman namjanya itu. Namja berpostur tubuh jangkung bernama Chanyeol itu langsung mengucapkan kata maaf dengan sopan kepadaku, berbeda dengan bocah menyebalkan yang sedari tadi masih berdiri di sampingnya.

“Eunjin-ssi, sejak kapan cita-citamu berganti menjadi seorang sejarawan?” tanya namja itu dengan nada meledek.

Mendadak wajahku terasa panas. Yang benar saja? Dia sedang menyindirku barusan? Sial..

“Bukan urusanmu!” balasku ketus.

Chanyeol hanya mengulum senyum merasakan atmosfir penuh permusuhan yang tengah tercipta di antara kami. Jelas saja, ini memang benar-benar pemandangan yang lumrah baginya. Ia lalu pamit pergi, disusul namja menyebalkan itu yang juga berjalan mengekor di belakangnya.

“Entah mengapa tapi aku merasa aroma kekalahanmu sudah tercium dari sini, Nona.” Namja menyebalkan itu meninggalkan sebuah bisikan tepat di telinga kananku sebelum benar-benar melengang pergi.

Aku melotot. Namja ini benar-benar mau cari masalah denganku rupanya! Dan sialnya, rasa ingin membalas ucapannya barusan malah datang kalah cepat. Ia sudah melangkah jauh sebelum aku bisa berpikir untuk balas mengatainya karena bel masuk sudah keburu berbunyi. Aish… jinjja! Kalau bukan karena aku terlambat pagi ini, akan kubalas perkataanmu barusan!

Sialan, lain kali kau akan benar-benar habis di tanganku! Ingat itu baik-baik, Byun Baekhyun…

**~***~**

“Yang benar? Jadi tadi pagi namja itu bilang begitu?”

Gadis yang sedari tadi duduk menemaniku di ruangan perpustakaan semenjak sepulang sekolah ini bertanya dengan kedua matanya yang membulat.

Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya meski fokusku sama sekali belum beralih dari sketch book yang kini sedang aku penuhi salah satu lembarannya dengan sketsa desain interior rancanganku.

“Kenapa namja itu bisa percaya diri sekali?” Dengan cepat nada suara gadis itu langsung berubah menjadi kesal begitu melihat reaksiku barusan.

“Sepertinya dia memang terlahir dengan rasa percaya diri yang kelewat berlebih semenjak masih dalam kandungan. Mengenaskan dan menyebalkan di waktu yang bersamaan, bukan?” jawabku tak acuh.

Kim Taerin, sahabatku itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Terlihat gemas.

“Jangan bilang kalau kalian juga memang sudah berteman sejak masih dalam kandungan?” Meski terdengar konyol, gadis itu bertanya sembari memandangku dengan tatapan penuh selidik.

YA! Tolong jaga ucapanmu, karena bahkan kami ini sama sekali tak pernah berteman! Ingat itu!” seruku sewot.

Taerin hanya terkekeh pelan. Sungguh, mendengar pertanyaan silly darinya tadi entah mengapa langsung membuat emosiku naik.

“Baiklah. Jadi kau tetap tak mau menyebutnya sebagai teman meski sudah hampir 15 tahun lamanya kalian saling mengenal?” Taerin bertanya lagi, sementara aku langsung menjawabnya dengan mendengus.

“Perlukan aku memperjelasnya berkali-kali, Taerin-ah? Sudah kukatakan berapa kali padamu bahwa kami itu adalah rival! Perlu aku ulangi? RI-VAL!” tandasku sembari memberi penegasan di akhir kalimat.

“Oke, jadi… rival semenjak masih dalam kandungan?” tanya Taerin hati-hati.

Aku mengerutkan dahi. Hei, meski pertanyaannya masih terdengar mirip seperti yang tadi, tapi aku lebih suka mendengar versi yang satu ini. Terdengar lebih enak dibandingkan kata ‘teman’.

“Mungkin…,” aku mengendikkan bahu. Aktivitas menggambarku yang tadi sempat tertunda kini telah berlanjut kembali.

“Salahkan orang tuaku yang memutuskan untuk bertempat tinggal di samping rumahnya sewaktu ibuku mengandungku dulu.”

“Hmm… jadi…, apa orang tua kalian bersahabat baik?”

“Sayangnya… iya,” jawabku lemas. “Salah satu hal yang paling kusesali seumur hidup karena gara-gara hubungan baik di antara keluarga kami itu akhirnya kami jadi sering menghabiskan waktu bersama di masa kanak-kanak.” Aku tersenyum miris kala mengenang kenangan pahit itu, saat-saat di mana aku dan namja menyebalkan itu masih senang bertengkar bahkan jauh semenjak di waktu kami berdua masih balita.

“Hei, ini seperti di film-film. Rumah yang bersebelahan, hubungan pertemanan keluarga yang terjalin cukup akrab, kedua umur anaknya yang sebaya… mungkin setelah ini hanya tinggal menunggu waktu hingga kalian berdua dijodohkan!” celoteh Taerin yang hampir saja membuatku tersedak oleh salivaku sendiri.

MWOYA?!!” aku spontan melototi gadis yang masih duduk di sampingku ini dengan tatapan penuh hasrat akan keinginan membunuh.

Calm down, Eunjin!” gadis itu tertawa kecil, membuat aura pembunuh yang mencuat keluar dari tubuhku ini jadi makin terasa.

“Tidak lucu, Taerin! Jinjja… sekali lagi kau bilang seperti itu, kupastikan pulang dari sini kau hanya tinggal nama!” aku bersungut sementara gadis itu hanya menyikut lenganku pelan.

“Iya iya… aku bercanda. Jangan bicara keras seperti itu, ah! Yang lain jadi melihat ke arah kita, tahu!” bisik Taerin sembari pandangannya berkeliling mengitari ruangan perpustakaan.

Aku diam. Gadis ini benar. Ada beberapa pasang mata yang saat ini tengah tertuju pada kami. Ah, tapi masa bodoh. Ini bukan salahku. Dia yang memulainya duluan tadi.

Aish… sudahlah, jangan bicarakan si chocolate-allergy itu lagi di hadapanku!” ujarku kesal.

“Eh? Dia… alergi cokelat?” untuk yang kesekian kalinya, gadis ini kembali membulatkan mata.

“Iya! Benar-benar payah, bukan?” aku mencibir sembari meneruskan sketsa rancanganku yang sedari tadi belum terampungkan.

“Bukan begitu. Hanya saja…dia aneh. Aku tak percaya jika di dunia ini ada orang dengan nasib seperti itu. Ayolah, alergi terhadap cokelat? Hidupnya benar-benar memprihatinkan sekali..”

Taerin yang notabene-nya adalah seorang penggemar kudapan berbahan dasar cokelat itu langsung terlihat menaruh rasa belasungkawanya terhadap namja yang masih menjadi topik pembicaraan kami saat ini.

“Hahahaha… kau harus tahu hal ini, Taerin! Jika si Baekhyun sombong itu kalah dalam taruhan kami, maka aku tak segan-segan akan menjejalkan berbagai macam cokelat ke mulutnya! Hahaha…,” aku tertawa puas sementara Taerin yang melihatnya hanya terbelalak.

“Ya Tuhan… itu kriminal!” gadis itu berseru.

“Tapi aku bisa membayangkan wajahnya saat dijejali cokelat itu, sih… Pasti akan kelihatan menderita sekali… hahahaha…,” pada akhirnya ia malah ikut tertawa bersamaku. Oke, pribadi Taerin di sini ternyata cukup menyeramkan.

“Ngomong-ngomong, kalian berdua serius dengan taruhan itu?” usai tawanya terhenti, gadis itu kembali melemparkan pertanyaannya kepadaku.

“Tentu saja!” aku mengangguk mantap.

“Kami sudah sepakat, jika salah satu dari kami bisa mendapatkan beasiswa untuk meneruskan kuliah di jurusan Arsitektur Cheon-gu University, maka salah satu yang gagal harus menerima hukuman. Tapi kalau kami berdua lulus atau sama-sama gagal, maka taruhan itu batal.” jelasku tanpa mau berpaling dari coretan gambar rancangan desainku.

“Oke, bahkan ini kedengaran semakin menarik..,” Taerin langsung terlihat manggut-manggut.

“Bukannya Cheon-gu University itu dikenal dengan kesohorannya dalam melahirkan arsitek-arsitek kelas dunia yang sangat berbakat? Apa kau yakin bisa menyainginya, Eunjin? Kudengar Baekhyun sering mendapat nilai sempurna tiap kali diadakan tes menggambar perspektif.”

“Kau pikir karena dia terlihat lebih bersinar dariku makanya jadi membuatku takut? Memangnya kenapa kalau selalu dia yang mendapat nilai sempurna? Aku juga berbakat, kok. Bahkan mungkin bisa melebihi dirinya. Hanya saja, banyak orang yang belum menyadari hal itu.”

“Lalu…apa yang akan terjadi seandainya kau memenangkan taruhan itu? Baiklah, kau bisa meneruskan kuliahmu ke universitas elit itu, lalu Baekhyun..”

“…akan mati di tanganku dengan mulut penuh bongkahan cokelat..,” jawabku dengan nada dingin.

“Eunjin, kau menyeramkan..,” Taerin bergidik, sementara aku hanya mengendikkan bahu lantas kembali meneruskan menggambar rancanganku.

“Lalu, jika kau yang…kalah?”

Aku langsung menghentikan coretan pensilku di atas kertas. Lantas segera kualihkan pandanganku ke arahnya.

“Molla.” jawabku pendek.

“Baekhyun sudah setuju jika aku yang lolos menerima beasiswa itu, maka dia akan memakan cokelat yang paling dia takutkan itu di hadapanku. Tapi kalau dia yang menang…uhm…entahlah. Namja itu hanya bilang kalau aku harus mengabulkan satu permintaannya.”

“Permintaan apa?” kedua alis Taerin spontan langsung bertaut. Sepertinya gadis itu begitu tertarik dengan penjelasanku barusan.

Molla, dia tak mau menyebutkannya.” Kembali, aku mengangkat bahu. “Tapi aku berani bertaruh, pasti tak akan jauh dari hukuman menjadi pelayannya atau apapun yang akan membuatku tersiksa setengah mati! Percayalah, karena namja itu benar-benar tak punya hati!” lanjutku dengan nada berapi-api.

“Oke… oke…,” Taerin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, terlihat paham.

“Lalu jika kau tidak bisa mendapatkan beasiswa itu, apa yang akan kau lakukan? Bukannya berkuliah di sana dan menjadi arsitek adalah impianmu sejak dulu, Eunjin?”

Tak sampai beberapa detik, gadis ini kembali bersuara. Ah, memang tak salah ternyata jika teman-teman di kelasku menjulukinya sedikit cerewet.

“Mungkin aku akan mengambil akademi perawatan, seperti yang disarankan oleh ibu. Ah, kumohon doakan aku, Taerin. Hanya dengan membayangkan diriku dalam balutan seragam perawat saja rasanya benar-benar membuatku ketakutan setengah mati! Aish… padahal ibuku tahu sendiri jika aku paling benci yang namanya rumah sakit!” aku mengeluh.

“Seorang Shin Eunjin jadi perawat?” sahabatku itu sontak langsung memasang ekspresi aneh.

“Mungkin jika kau benar-benar jadi perawat nantinya, pihak rumah sakit akan menugaskanmu khusus untuk merawat pasien-pasien yang ajalnya sudah dekat saja. Jinjja… tak bisa kubayangkan jika kau itu menjadi perawat, Eunjin. Aku hanya prihatin dengan nasib calon pasien yang akan kau rawat nanti..”

Aish… apa ini? Kata-kata menusuk yang diucapkan dengan straight face. Benar-benar ciri khas Taerin.

“Sialan!” aku melotot, sementara gadis itu hanya tersenyum dengan raut wajah innocent bak seorang bocah sekolah dasar. Menyebalkan.

“Ups…sudah jam segini. Sehun pasti sudah menungguku untuk pulang bersama,” kata Taerin tiba-tiba.

Aish…bocah kelas 11 itu? Hebat sekali, ternyata hubunganmu dengan hoobae itu masih bisa bertahan sampai sekarang,” pujiku setengah hati karena dibandingkan dengan kalimat pujian, kata-kataku barusan lebih mirip dikategorikan sebagai sebuah cibiran.

“Bilang saja kau iri. Makanya, selain sibuk menggapai mimpimu menjadi seorang arsitek, jangan lupa juga cari pacar!” Taerin hanya tertawa kecil lantas kemudian segera berdiri dari kursinya.

“Eh, tunggu tunggu! Aku lupa belum meminta pendapatmu, Taerin-ah!” aku buru-buru menahannya sebelum gadis itu benar-benar beranjak.

“Pendapat?” Taerin sontak mengerutkan dahi. “Soal apa?”

“Rancangan desain kamar anak buatanku yang ini. Otte? Terlihat bagus atau masih ada sesuatu yang kurang?” aku menunjukkan lembaran yang tadi sibuk aku gambari sementara Taerin hanya bisa tersenyum kecut usai melihatnya.

“Kau sendiri tahu aku tak begitu mengerti dengan hal-hal seperti ini. Di mata orang awam sepertiku, gambarmu itu selalu terlihat bagus, namun di saat yang bersamaan juga sangat rumit!” komentarnya.

Jinjja? Rumit?? Rumit sebelah mananya?? Apa bagian yang rumit itu terlihat jelek??” tanyaku panik.

Aish…molla! Daripada kau tanya aku, lebih baik kau tanya Baekhyun saja sana! Kalau untuk urusan begini kalian kan sama-sama ahlinya! Sudah ya, aku tak mau membuat Sehun lama menunggu. Bye, Eunjin!”

Gadis itu lantas berlalu, membuat aku yang melepas kepergiannya itu hanya bisa mendengus kesal. Ish… padahal kan aku butuh pendapatnya mengenai gambar rancanganku yang ini. Mana hari diadakan tes untuk mendapatkan beasiswa Cheon-gu juga sudah semakin dekat lagi.. Aish.. kenapa, ya? Rasanya aku masih menangkap adanya sesuatu yang kurang dari gambar rancanganku ini. Errr… tapi apa?

Aku masih sibuk mengamati sketsa rancanganku ini sembari bertopang dagu. Menelisik setiap coretan yang tertoreh di sana dengan seksama. Sial, tapi tetap saja… Aku masih tak bisa menemukan apa sesuatu yang mengganjal itu. Ukh… ayolah Tuhan…, kumohon bantu aku!

“Jangan menaruh titik pandang terlalu dekat dengan bidang gambar..”

Tiba-tiba saja sebuah jemari telunjuk muncul di atas lembaran sketch book yang berisikan gambar rancangan desainku barusan. Spontan aku mendongak, berusaha mencari tahu wajah dari sosok yang tiba-tiba saja sudah hadir di sampingku ini.

“…kalau titik pandang terlalu dekat dengan bidang gambar bisa-bisa terjadi gambar perspektif dengan kedalaman yang berlebihan.”

Aku berdesis. Kenapa tiba-tiba namja menyebalkan pembenci cokelat ini harus hadir di sini?

“Oh, ya?” aku melengos, pura-pura tak mendengar perkataannya barusan.

Sementara namja itu sama sekali tak mengacuhkan reaksi ketidaksukaanku dan malah memilih untuk duduk di kursi yang ada di sampingku yang tadi juga sempat ditempati oleh Taerin. Aish… kenapa dia malah jadi berdiam diri di sini, sih?

“Sedang berlatih untuk menghadapi tes Cheon-gu?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk tanpa mau memandang ke arahnya.

Babo!” tiba-tiba dia menjitak kepalaku. Aku yang kesakitan bercampur terkejut hanya bisa meringis.

Mwoya?! Apa yang baru saja kau lakukan, huh?!” hardikku kesal.

“Kalau gambarmu masih seperti ini, harapanmu untuk bisa menerima program beasiswa dari Cheon-gu itu hanya tinggal angan-angan belaka, Nona!” dia balas menghardikku yang refleks langsung membuat darahku terasa mendidih. Cih, kenapa dia seolah-olah sedang merendahkanku?

“Lihat ini..,” namja bernama Baekhyun itu lantas kembali menaruh telunjuknya mengarah pada sebuah sudut dari gambar rancangan yang tadi aku buat.

“Di sini, garis cakrawala lebih baik diturunkan atau dinaikkan supaya bagian objek dapat terjangkau oleh sudut pandang pengamat. Kemudian di sebelah sini..,” ia lalu mengarahkan telunjuknya ke sudut gambar yang lain. “Kedudukan pengamat seharusnya dimundurkan lebih jauh dari bidang gambar supaya seluruh bagian objek dapat terjangkau oleh sudut pan—“

“Byun Baekhyun, hentikan..”

Belum sempat namja itu menuntaskan kritikan panjang lebarnya mengenai gambar rancanganku, aku buru-buru memotongnya duluan dengan raut wajah dingin.

“Kau tidak berhak mengaturku. Di sini aku juga punya teknik menggambar sendiri,” ujarku setenang mungkin, meski siapapun yang mendengarnya mungkin saja malah terkesan akan menganggapku sebagai pribadi yang angkuh.

Geurae?” Namja itu lalu mendelik ke arahku dengan tatapan sinis.

“Sudah kubilang kan, kalau teknik menggambarmu terus-terusan seperti ini, lupakan saja impianmu untuk menjadi mahasiswa arsitektur Cheon-gu. Mereka tak butuh calon arsitek dengan kualitas gambar rendahan yang banyak mengandung kesalahan di sana-sini,” cibirnya dengan nada angkuh.

Aku refleks membulatkan mata. Rasanya kepalaku mendadak terasa panas. Kalau tak ingat ini adalah ruang perpustakaan, mungkin aku sudah balas meladeninya untuk adu mulut. Tapi sebisa mungkin akhirnya kutahan emosiku itu. Meski omongan dari namja bernama lengkap Byun Baekhyun ini tadi telah benar-benar sukses melukai harga diriku.

“Jangan sombong dulu, Tuan. Aku tahu, mungkin aku memang tak sehebat dirimu. Tapi jangan mentang-mentang karena hal itu kau bisa mengatai hasil karyaku seenaknya, ya. Kalau menurutmu Cheon-gu tak bisa menerima orang-orang sepertiku, maka menurutku Cheon-gu juga tak butuh orang sombong yang minim akan rasa respek sepertimu!” aku menghantamnya dengan argumen sinisku.

Kulihat namja itu mulai terdiam. Mungkin sedang merasa tak enak hati atau malah merasa tertampar mendengar kata-kataku barusan? Entahlah. Aku tak peduli. Yang jelas, aku puas karena bisa membalas perkataannya tadi.

Aku lantas bergegas merapikan seluruh peralatan gambarku ke dalam tas. Kehadiran dari namja yang sudah menjadi rival-ku semenjak masa kanak-kanak ini langsung membuat mood-ku turun ke level yang paling rendah. Namja ini memang bagaikan ujian hidup bagiku. Selalu ditempatkan di satu sekolah yang sama bukan membuat kami berdua menjalin hubungan pertemanan yang akrab, melainkan tak ubahnya seperti hubungan anjing dan kucing. Kami memang tak pernah akur. Entah itu saat bangku TK, SD, SMP, bahkan sekarang…SMA. Kuharap aku bisa terlepas darinya saat duduk di bangku kuliah nanti. Mungkin sedikit terdengar kejam memang, karena walaupun keinginannya adalah sama sepertiku yakni menjadi salah satu mahasiswa penyandang beasiswa di Cheon-gu University kelak, tapi aku menyumpahinya agar tak bisa merealisasikan impiannya tersebut.

“Aku duluan, permisi,” kataku dingin sebelum benar-benar berbalik pergi meninggalkannya yang masih terduduk.

“Errr… chakanman, Eunjin-ssi!” tiba-tiba kulihat ia berdiri dari kursinya, sepertinya hendak mengucapkan sesuatu sebelum aku benar-benar pergi. Semacam salam perpisahan, mungkin?

“Kau tak lupa taruhan kita, kan?” ia tersenyum licik.

Aku menelan ludah. Baiklah, rupanya dia ingin menggertakku. Kau pikir aku akan takut, Byun Baekhyun? Maaf, tapi tidak akan pernah.

“Tentu.” Aku balas tersenyum tipis menanggapi pertanyaannya.

“Kau tahu konsekuensi untuk si pecundang, kan?”

Sial. Apa dia bermaksud untuk mengataiku lagi? Tenang Eunjin, kau harus tenang. Dia hanya ingin menyulut amarahmu seperti yang biasa ia lakukan tiap kali kalian bertemu.

“Tentu saja. Sebaiknya kau segera siapkan janji dengan dokter gigi dan dokter yang biasa menangani penyakit alergimu itu karena aku sudah menyiapkan banyak sajian olahan spesial dari cokelat yang pastinya akan sangat cocok di lidahmu. Kau tidak mau alergimu kambuh bersamaan dengan kondisi gigimu yang mungkin juga bisa saja berlubang karena terlalu banyak menyantapnya, kan?” aku tersenyum penuh arti.

Baekhyun ikut membalas perkataanku tadi dengan senyuman. Meski senyumannya itu sedikit menyeramkan di mataku, karena di sini lengkungan bibirnya itu bisa dikategorikan dalam konteks menyeringai bila diperhatikan secara lebih cermat.

“Kau sendiri juga lebih baik persiapkan dirimu dari sekarang, Eunjin. Kau belum tahu apa permintaanku jika kau gagal dalam tes, kan? Tolong camkan baik-baik karena seorang Byun Baekhyun tak akan pernah menerima penolakan dalam bentuk apapun.”

Baiklah, dia menang. Aku mulai takut. Jujur, aku sama sekali belum tahu apa permintaannya itu. Tapi yang jelas, aku merasakan adanya firasat buruk dari maksud ucapannya barusan..

Sudahlah, tak usah dipikirkan! Ingat, Eunjin. Namja ini hanya ingin menggertakmu agar kau gentar. Iya, ingat itu! Errr… lebih baik sekarang kau pulang daripada Baekhyun bisa menangkap adanya sorot ketakutan yang mungkin saja sedang terpancar dari dalam matamu sekarang.

“Aku duluan.”

“Hati-hati di jalan, Eunjin.”

Namja itu mengedipkan sebelah matanya tepat ketika aku hendak berbalik pergi menuju pintu ruangan perpustakaan. Sial, lagi-lagi ekspresi itu. Ekspresi menjijikkan yang selalu berhasil membuatku menahan mual.

Kenapa kau ini harus tercipta dengan begitu menyebalkan sih…, Byun Baekhyun?

**~***~**

Banyak yang bilang, detik-detik menjelang hari ujian bukannya malah membuat kita semakin rajin tetapi malah semakin malas. Seperti sekarang ini, sepulang sekolah tadi aku baru saja diajak Taerin untuk berjalan-jalan. Biasa, acara wanita. Apalagi kalau bukan seputar belanja, hang out, dan bergosip? Padahal hari Sabtu besok adalah hari di mana aku akan mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa Cheon-gu. Lebih parah lagi karena sekarang hari telah beranjak gelap dengan hujan yang tiba-tiba sudah turun dengan derasnya. Ditambah satu hal lagi yang melengkapi kesialanku malam ini. Aku tak bisa pergi ke mana-mana dan hanya mampu terjebak di halte karena lupa membawa payung. Belum cukup sampai di situ, ternyata baterai ponselku pun habis. Great, mungkin jika aku telah sampai ke rumah nanti dan masih dibiarkan untuk mengikuti makan malam sudah merupakan karunia terbesar mengingat ayah dan ibuku adalah tipe yang lumayan keras dalam mendidik anak-anaknya jika telah berbuat kesalahan.

Okay, tapi sepertinya angan-anganku tadi terlalu mustahil untuk bisa terlaksana. Sepertinya aku tak bisa berbuat banyak selain harus mengikhlaskan diri menjadi bulan-bulanan sasaran kemarahan ayah dan ibuku malam ini.

Sebenarnya tadi saat Taerin dan aku belum berpisah, hujan memang sudah turun dengan derasnya. Namun beruntung bagi Taerin karena gadis itu sudah mempunyai penjemputnya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Sehun? Giliran aku yang kelabakan ketika hendak ditinggal gadis itu. Pasalnya, tak ada yang bisa menjemputku saat itu dan akupun memang tak membawa apa-apa. Taerin yang masih menaruh rasa iba terhadapku akhirnya sempat memberikan jas hujan milik Sehun kepadaku sebelum ia benar-benar pergi meninggalkanku dengan namja itu. Tapi…ayolah. Apa kalian pikir aku akan berterima kasih pada Taerin? Jawabannya tidak. Jas hujan yang diberikan gadis itu bahkan sudah terlihat kumal dengan banyaknya lubang yang terlihat di sana-sini. Ini bahkan sama sekali tak layak pakai. Dasar sahabat tak punya hati.

Aku masih berdiam diri di halte. Dari sejam yang lalu yang bisa kulakukan di sini hanyalah menunggu, menunggu, dan terus menunggu hingga hujan mereda meski tanpa kepastian. Sesekali aku mengkhayal bagaimana jika ada orang yang aku kenal melintas di hadapanku kemudian memanggil namaku untuk menyelamatkanku dari sini.

“Eunjin-ssi! Eunjin-ssi!”

Ah, ya. Kurang lebih panggilannya seperti itulah. Lalu setelah itu, orang itu akan menghampiriku dan berlari ke halte sambil memandangku dengan tatapan cemas.

“Sedang apa kau di sini?”

Setelah melontarkan pertanyaan semacam itu, kemudian orang itu pasti akan cepat-cepat menarikku dari halte lalu mengajakku untuk pergi bersamanya, dan…

“Aww!!”

Aku spontan meringis. Tunggu dulu. Adegan menjitak kepala seperti ini tidak ada dalam lamunanku barusan!

Babo! Jawab jika ada orang yang sedang bertanya padamu hei, Shin Eunjin!”

Aku refleks menolehkan kepala.

Katakan kalau ini bohongan. Kenapa tiba-tiba bisa ada Baekhyun yang sedang berdiri di sampingku? Dari mana munculnya sosok ini? Datang begitu saja di kala hujan deras.. Mengapa kemunculannya yang tak diundang dan terkesan tiba-tiba ini jadi terasa begitu mistis? Apa jangan-jangan Baekhyun yang ini bukan manusia?

“Kau tuli? Hei, kubilang jangan melamun!” serunya lagi. Kali ini sambil mengibas-ngibaskan sebelah tangannya ke hadapan wajahku.

“Aish, apa yang kau lakukan?” Aku refleks langsung menyingkirkan sebelah tangannya yang sangat mengganggu pemandanganku itu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku! Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?? Aish, bahkan kau masih mengenakan seragam?? Kau tahu, Bibi Shin begitu khawatir tentang keadaanmu karena jam segini kau belum pulang!” omelnya kesal.

Aish…apa ini? Apa urusannya keterlambatan pulangku dengan dirinya? Tak ada yang berhak memarahiku kecuali ayah dan ibu!

“Kenapa jadi harus kau yang marah-marah?” tanyaku tak terima.

“Kau tak ingat besok hari apa?” tanyanya gemas.

“Hari Sabtu, memangnya kenapa?”

“Aish, besok itu kan—“

“Tes untuk mendapatkan program beasiswa Cheon-gu? Iya, aku tahu, kok. Tak usah sok ingin mengingatkanku seperti itu, aku juga tidak lupa,” kataku ketus.

“Sudah tahu akan mengikuti tes lalu kenapa jam segini masih keluyuran di luar, huh?! Kau ingin dirimu jatuh sakit lalu kau tak bisa memenangkan—“

YA! Aku tak bisa pulang karena aku lupa membawa payung! Dari tadi yang aku lakukan di sini hanyalah menunggu hujan reda agar aku tak harus basah-basahan untuk sampai ke rumah! Aku juga tak mau jatuh sakit! Kita lihat saja besok, aku pasti akan mengerjakan tes itu dengan lancar!”

“Kalau begitu sekarang cepat pulang!”

“Kau ini bodoh atau apa?! Kan sudah kubilang kalau tadi aku lupa—“

Aku terdiam begitu Baekhyun menyodorkan sebuah payung kecil yang sedari tadi berada dalam genggamannya. Ah, kenapa aku baru sadar kalau ternyata dari tadi namja ini membawa dua buah payung? Satu yang sedang dipakainya sekarang, satunya lagi masih dalam genggamannya. Tapi tunggu. Apa payung yang sedang ia sodorkan ke arahku ini…untukku?

Babo! Cepat ambil! Katamu kau ingin pulang, kan?!” hardiknya kesal.

Tunggu. Jangan bilang kalau dari awal ia memang sengaja ingin menjemputku? Errr… apa ibu yang menyuruhnya untuk mencariku malam-malam begini? Tidak aneh sih, kami kan bertetangga..

Aku lantas menerima payungnya itu dengan ekspresi ragu. Tunggu dulu, tapi ini bukan payung yang biasa kulihat ada di rumah..

“Apa ibu yang—“

“Iya, Bibi Shin yang tadi menyuruhku untuk mencarimu! Dasar merepotkan!” namja itu menggerutu lagi.

“Tapi payung ini bukan—“

“Jangan banyak bicara! Lebih baik kau pakai saja payung itu ketimbang jas hujan bututmu ini!”

Namja itu kemudian berbalik, bersiap meninggalkan aku bersama payung pemberiannya. Aish, apa ini? Kupikir kami berdua akan pulang bersama. Dia bilang, ibuku sendiri yang menyuruhnya untuk mencariku, kan?

“YA! Baekhyun-ssi!” aku spontan meneriakkan namanya begitu namja itu telah melangkah keluar dari halte. Aku lupa, aku belum mengucapkan terima kasih.

Merasa terpanggil, namja itu pun langsung menoleh.

“Bayar uang sewa payungnya nanti saja setelah sampai di rumah!” serunya dari kejauhan.

Aku mematung. Layaknya orang bodoh, aku hanya bisa memandangi kepergian namja itu sampai sosoknya menghilang ditelan bayangan air hujan.

Yang tadi itu…maksudnya apa? Jadi, dia…………..menyewakan payungnya?

Aish, sial! Apa-apaan ini?! Sudah kuduga, pasti ada niatan lain di samping pertolongannya tadi. Dasar namja mata duitan!

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Persona Non Grata [Part 1]

  1. deeeee,,,,ka kya baca intro de,,skr baca ff de pun ka ktwa” sndiri lho,,,ka ampe gtw mu ngmong apa de,,ka suka ff nya,, segi bahasanya jg rapi….wah ka curiga baekhyun nti menang taruhan nih,,hehe..;))

    baguuuuus bgt de, ka tnggu ia part 2 nya..oya pas dialog sm aterinnya kocak de,,kekekeke…skali lg kau menghiburku ade syg…..

    • Kayaknya aku harus balik lagi jadi author comedy ya kak, hiks *ngesot di lantai*
      Aih, makasih kak. FF kakak juga bahasanya rapi kok ^^ Rapihan yang kakak malah u.u
      Wkwkwk ayo kak silakan menerka-nerka ^^

      Hahaha jadi malu kak dibilang bagus dan menghibur (ʃ⌣ƪ) Makasih ya kak, mumumu :*

      Eniwei thanks udah mau baca + komen ya Kak Riana 😀

      • hhahahaha,,ia de emang bakat comedy de gkn prnah bs hilang dr tubuhmu,,kyanya tu bawaan lahir ia de??hehehe..^^v

        ia sama” de,,makasih malah uda ngehibur ka yg lg dilema,,hikz..

        akh ci ade nyak,,kan kta ka jg udahan akh merendahnya,,,huaahahahaha..;D

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s