Lalat Musim Dingin 겨울 비행

Lalat Musim Dingin

Dari sebuah fanfiction oleh kalvid

Author : Kalvid

Main Cast : Cho Kyuhyun & Kim Gyeoul

Genre : Family, Friendship, Romance

Rating : T

Type : Twoshoot

Jemari gemulai gadis itu mencengkeram selembar kertas dari buku setebal lima ratus halaman milik seorang pemuda berkaca mata. Pemuda yang menutupi keningnya dengan poni itu hanya menatap si gadis dalam kebekuan. Gadis itu sempat tersenyum remeh pada pemuda berkulit putih itu sebelum membuat lembaran kertas rapuh itu lepas dari punggung bukunya. Dengan rambut panjangnya yang tergerai, dia terkekeh sambil memandang kasihan pada pemuda yang masih betah bergeming itu. Seorang pemuda kutu buku yang menghabiskan sepanjang waktunya dengan berkutat pada teori-teori memusingkan. Dan masalahnya, hal itu begitu mengganggu si gadis sehingga dia harus turun tangan dan menghancurkan buku pemuda culun itu.

“Ah.. bukankah begini lebih baik, Kyuhyun–ah?” ujar si gadis girang. Dia mengernyit jijik pada rentetan rumus dan teori pada sobekan kertas di tangannya. Kepalanya menggeleng lemah, pura-pura ikut bersedih. “Maaf ya… Aku harus memusnahkan lembar yang satu ini. Ugh.. lihatlah, terlalu banyak angka dan huruf. Mm.. gals, korek. Mana korek?” tanyanya pada dua orang gadis yang sedari tadi telah berdiri di belakangnya.

Salah seorang gadis, yang mengucir kuda rambutnya terlihat bingung saat dia tak dapat menemukan benda mungil penghasil api itu di sakunya. “Eobseo[1], Gyeoul–ah.”

“Ya! Eunsaa–ah, bukankah sudah kuperingatkan untuk selalu membawa korek?” Gyeoul tidak terlihat begitu senang dengan keteledoran kawannya yang satu itu.

Gadis yang satu lagi, pemilik rambut pendek bergelombang mendekatkan bibirnya ke telinga Gyeoul untuk membisikkan sesuatu. Tak perlu waktu lama hingga akhirnya Gyeoul tersenyum dan memuji temannya itu. “Hyena–ah, kau memang selalu bisa diandalkan.”

Gyeoul kembali memandang Kyuhyun yang kini menatap nanar pada sobekan yang masih tersisa pada bukunya. Inilah kepuasan yang selalu Gyeoul dapatkan saat mengerjai seseorang. Terutama Kyuhyun, si maniak rumus. “Kyuhyun–ah, uljima[2]. Karena…” Gyeoul menyeringai sambil menyobek kertas di tangannya. “Karena kau, sudah tak perlu pusing memikirkan rumus yang ada di kertas ini lagi.” Setelah kertas itu berubah menjadi sobekan-sobekan kecil, dia menaburkannya pada buku Kyuhyun sambil masih menyeringai puas. Kyuhyun tak melawan. Dia hanya mengutuk dalam hati sambil berusaha menahan gelombang panas yang menjarah seluruh tubuhnya.

Saat Gyeoul sibuk terkikik bersama komplotannya, Kyuhyun bangkit dari kursinya dan menusuk Gyeoul dengan tatapan garang. Ditutupnya buku Matematika yang sudah sekitar beberapa hari ini rajin dibacanya dan tanpa sepatah kata pun, dia berlalu meninggalkan trio gadis sok itu. Meninggalkan ruang kelas dan mendengar gadis-gadis itu menertawakannya di belakang.

*

            Kyuhyun duduk di kursi perpustakaan sambil menggenggam erat bukunya yang kini telah cacat. Sudah sekitar dua puluh menit yang lalu bel pulang berbunyi. Tapi dia belum juga beranjak karena masih banyak hal yang harus dibaca di perpustakaan. Otaknya mengembara, kembali pada kejadian beberapa waktu yang lalu saat Gyeoul menyobek bukunya. Itulah saat pertama dia merasa begitu kesal dan marah. Tidak seorang pun dapat membuatnya jengkel. Tapi jika sudah berhubungan dengan buku, maka dia akan menjadi tak terkontrol dan mengutuk-ngutuk. Seharusnya seperti itu. Namun dia sendiri bahkan tak habis pikir, mengapa alih-alih melawan, dia hanya membeku seperti patung es.

“Cho Kyuhyun. Apa yang terjadi padamu?” Dia bergumam sendiri. Berusaha membuat hubungan antara seseorang yang menyobek bukunya dengan tidak menjadi marah. Namun dia malah semakin bingung karena tak menemukan hubungan antar keduanya.

“Aish! Menyebalkan!” seseorang berseru. Pikiran Kyuhyun sontak kembali, dia pun berusaha menjadi normal dengan membenarkan letak kacamatanya dan pura-pura membaca. Seseorang itu duduk di seberang Kyuhyun sambil menenteng sebuah buku pelajaran, buku tulis dan pulpen. Dia terlihat begitu kesal hingga membanting ketiga benda itu di atas meja. Kyuhyun terbelalak, dia mendongak untuk melihat wajah seseorang itu. Kim Gyeoul.

“Ya! Mwolbwa?[3]” Gyeoul melotot garang. Tapi sedetik kemudian air mukanya berubah. Dia terlihat begitu frustasi hingga rambut panjangnya diacak-acaknya. Lembar demi lembar buku pelajaran dibaliknya, beberapa kali menyocokkan dengan soal di buku tulisnya. Alisnya bertaut dan bibirnya mengerucut. “Aish! Sama saja. Di sini juga tidak jelas.” Lagi-lagi dia mengumpat. Lalu, tidak sengaja pandangannya bertemu dengan Kyuhyun. Kyuhyun langusng kembali membaca bukunya dan begitu pula dengan Gyeoul yang sontak membuang muka, menunduk dan mengubur dagunya di kedua lengannya. Pulpen bergambar hamster di tangannya tampak membuat goresan tak berarti pada permukaan polos buku tulisnya. Dia benar-benar merasa bodoh saat itu. Terlebih di depan Kyuhyun yang pintarnya keterlaluan. Soal-soal menyebalkan itulah penyebabnya. Mereka datang saat Gyeoul sudah muak dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan belajar. Namun suka tidak suka, dia harus menyelesaikan soal itu dan mendapatkan nilai yang sesuai standar. Karena kalau tidak, apa yang selama ini diancamkan eomma padanya akan benar-benar terjadi.

Menit berlalu, jam berlalu. Gyeoul sudah menjalajah seisi perpustakaan, mencari buku yang dapat memberikan penjelasan padanya untuk mengerjakan soal. Tapi percuma, semua buku di sana hanya sama tidak jelasnya dengan buku miliknya. Mereka punya terlalu banyak kata yang berputar-putar hingga memusingkan Gyeoul. Gadis itu pun menyerah dan roboh pada lorong di antara dua rak buku.

“Michigeseo![4]” pekiknya kehilangan semangat hidup.

Kyuhyun yang sedari tadi masih berkutik dengan bukunya, langsung melepas pandangan dari sebuah paragraf yang sedang dibacanya dan menatap Gyeoul datar. Memberi tatapan jangan berisik pada gadis itu. Namun Gyeoul tak terlihat begitu peduli, dia balik menatap Kyuhyun, masih berusaha tegar dan sangar.

Sebelum Gyeoul sempat mengumbar makiannya pada Kyuhyun, tiba-tiba suara tertawa yang begitu familiar terdengar dari balik pintu perpustakaan. Itu suara Hyena dan Eunsa. Mereka membuat bunyi ceklek pada lubang kunci dan melakukan high five karena suaranya terdengar jelas. Tak lama kemudian, suara itu tak lagi terdengar. Mereka sudah pergi. Gyeoul menegang. Dia menyongsong pintu perpustakaan dan menarik gagang pintunya. Jantungnya hampir jatuh saat mengetahui bahwa pintu itu tetap bergeming, tak mau terbuka.

“Jeongmal paboya[5]…” umpatnya dengan suara seminim mungkin. Dia memukul-mukul kepalanya sendiri dan mengerang kesakitan. Hyena dan Eunsa telah menguncinya di sini bersama Kyuhyun. Itu melenceng dari rencana mereka. Kyuhyun sendirian, hanya dengan buku-buku di perpustakaan, terjebak di dalam sampai besok pagi. Itu rencana mereka. Tapi… Aish! Dasar komplotan bodoh. Rencananya sama sekali gagal. Ini salah Hyena! Dia yang mengusulkan dan merencanakan ini semua.

“Wae? Tidak bisa terbuka?” Gyeoul terlonjak saat menemukan Kyuhyun telah berdiri tepat di belakangnya. Gadis itu mendongak untuk menatap Kyuhyun yang sepuluh senti lebih tinggi darinya.

“Kalau pintunya bisa terbuka, aku pasti akan langsung keluar dari tempat menyedihkan ini!” Suara Gyeoul meninggi. Kyuhyun pura-pura tidak mendengarkan dengan berusaha sekuat tenaga menarik dan mendorong gagang pintu. Dia bahkan menghempaskan tubuhnya ke pintu, namun, si pintu hanya bergetar pelan sebelum kembali diam dalam sunyi.

“Aish!” Kyuhyun mengumpat. Ditinjunya pintu itu hingga kembali bergetar. Gyeoul terbelalak. Tak menyangka Kyuhyun bisa bereaksi sebegitu marah. Hal itu semakin membuatnya untuk bungkam dan mengunci rapat rahasia kecilnya. Kyuhyun tidak akan tahu bahwa Gyeoul terlibat dalam penguncian salah sasaran ini.

*

            Hari sudah malam, dua orang siswa masih terkunci di bangunan sebuah perpustakaan sekolah mereka. Kyuhyun tertidur dengan menelungkupkan wajahnya di antara lembaran buku. Sementara Gyeoul masih berusaha berkutat dengan soal-soal yang satu pun belum dapat diselesaikannya. Dia bersandar di salah satu rak buku sambil menghisap ujung pulpennya. Kondisi wajahnya yang amburadul karena terlampua stress, membuat perutnya bercengkrama. Sudah sekian kali bunyi kyruyuk dihasilkan perut teposnya itu. Tapi yang bisa dilakukannya hanyalah membentak perut itu agar diam karena dia sama sekali tak punya makanan.

Gyeoul memandang Kyuhyun yang terlelap. Wajahnya tertutup lembaran kertas dan lengannya melingkar seperti sedang berusaha melindungi buku itu setengah mati. Gyeoul berani bertaruh bahwa suatu hari Kyuhyun pasti akan menikah dengan buku-bukunya, perpustakaan atau pustakawan. Gyeoul mengenyahkan pikirannya. Dia kembali berusaha berkonsentrasi pada kondisi perutnya yang mengenaskan. Mitos bahwa tidur akan menunda lapar tak dapat dipercayanya lagi.

Tiba-tiba, sebuah ide brilian terlintas di otak Gyeoul. Dengan semangat menggebu, dia segera bangkit dan mengendap ke tempat Kyuhyun tidur. Ransel pemuda itu duduk dengan manis di sebelah sang empunya. Sambil terus berusaha tidak membuat suara dan membangunkan Kyuhyun, ditariknya resliting ransel tersebut dan… Bingo! Perkiraannya tepat. Kyuhyun menyimpan dua bungkus roti dan sebotol air yang tinggal setengah. Mata Gyeoul berbinar, dengan tak sabar, tangannya langsung meraih sebuah roti. Namun, perjalanannya berhenti di tengah-tengah. Buku yang menutup wajah Kyuhyun tersingkap, menunjukkan pada Gyeoul sepasang mata yang memelototinya.

Sekonyong-konyongnya Gyeoul menyingkirkan tangannya sejauh mungkin dari tas Kyuhyun. Dengan gugup, Gyeoul berusaha mencari-cari alasan. Ah.. percuma, otaknya buntu.

“Aku.. aku. Aku hanya membetulkan posisi tas-mu. Iya! Hanya membetulkan!” ujar Gyeoul berusaha semeyakinkan mungkin. Sayangnya, dia bukanlah pembual yang baik. Lagi pula Kyuhyun sudah memergokinya, untuk apa lagi berdalih.

“Baegopende?[6]” tanya Kyuhyun.

Gyeoul menggeleng mantap. “Baegopeuji anha[7],” jawab Gyeoul berbohong.

“Geurae.” Kyuhyun mengambil sebungkus roti dari tasnya dan langsung melahap roti isi coklat itu.

Melihat kenikmatan dari setiap gigitan roti dan selai coklat yang meleleh di bibir pemuda itu, semakin membuat pertahanan Gyeoul lemah. Perutnya seolah ikut meneteskan liur saat potongan roti itu meluncur dari mulut Kyuhyun. Perutnya juga ingin dipasok, dia meraung-raung dan… dia benar-benar meraung karena… Kruyuukk.. Bunyi itu terdengar lagi. Kampret! Batin Gyeoul mengutuk perutnya sendiri. Sama sekali tak bisa diajak kompromi. Gyeoul seolah ingin menyembunyikan wajanya di dalam gurun pasir saat Kyuhyun menertawakannya. Namun Gyeoul bergeming, tak memaki seperti yang biasa dia semburkan pada pemuda itu. Karena dia yakin, jika dia ada di posisi Kyuhyun, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama. Menertawakan dirinya sendiri.

Kemudian sebuah roti terulur di hadapan Gyeoul. Roti yang masih baru dan masih terbungkus rapi. “Kau lapar. Makanlah,” tawar Kyuhyun.

Gyeoul sempat ragu untuk sesaat. Namun, roti yang begitu menggoda itu akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Dia pun mengambil roti itu sambil memberikan pandangan terima kasih pada Kyuhyun. Lagi-lagi gengsi yang membuatnya tidak mau mengucap terima kasih secara langsung. Tapi Kyuhyun seharusnya tahu betapa Gyeoul berterima kasih padanya.

Dengan canggung, Gyeoul menarik sebuah kursi di samping Kyuhyun. Tanpa sedikit pun berani menatap pemuda itu, Gyeoul melahap rotinya tanpa basa-basi. Dia begitu lapar sehingga hanya dalam tempo beberapa detik roti di hadapannya hanya tinggal menyisakan bungkus. Diremasnya bungkus itu, disempilkannya di saku dan dia kembali menuju habitatnya semula. Ruang diantara dua rak buku. Di situlah buku tulis dan pulpennya menunggu untuk digunakan menjawab soal.

“Perlu bantuan?” Gyeoul tersentak saat menemukan Kyuhyun telah berdiri di hadapannya. Pemuda itu ikut duduk di sebelah Gyeoul sambil mengamati soal-soal di buku dengan seksama.

“Ah… tidak perlu. Aku bisa sendiri,” elak Gyeoul sambil merebut bukunya dari Kyuhyun.

“Tapi kau tidak terlihat begitu pintar untuk bisa menjawab soal-soal ini.”

Gyeoul melotot. “Mwo?!”

“Sudahlah. Tidak usah sok pintar. Serahkan padaku dan aku akan menyelesaikan semua. Mana soalnya?” Tanpa menunggu Gyeoul menyerahkan bukunya sendiri, Kyuhyun telah merebut benda itu terlebih dahulu. Dan dengan kecepatan super, Kyuhyun langsung menggilas soal nomor satu.

Saat Kyuhyun tengah asyik mengerjakan soal, tiba-tiba Gyeoul menutup bukunya dan menatap Kyuhyun dengan tegas. “Kau,” ujarnya. “Jangan remehkan kemampuanku. Kau pikir aku apa? Keledai? Aku juga bisa mengerjakan semua soal ini. Kau tidak perlu mengerjakannya untukku.”

Kyuhyun berhenti mengerjakan soal. Dia memiringkan kepala, menatap Gyeoul dengan heran. “Kau tidak akan mampu menyelesaikan ini semua sendirian. Nomor satu adalah soal termudah dan kau bahkan tak bisa mengerjakannya.”

Gyeoul memberengut. “Siapa bilang aku akan mengerjakannya sendiri? Kau. Kau akan menjelaskan caranya padaku dan akulah yang akan mengerjakannya. Aku! Mengerjakan dengan tanganku sendiri,” katanya tegas.

Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum. Itulah pertama kalinya Gyeoul menyaksikan pemuda itu tersenyum. “Geurae. Kita akan mulai dari yang termudah. Soal nomor satu,” kata Kyuhyun sambil menyingkirkan tangan Gyeoul dari buku soal dan kembali membuka buku itu. Itulah pertama kali Gyeoul bersentuhan dengan Kyuhyun. Dan… Dia tak tahu mengapa tubuhnya merespon dengan tak normal. Dia tidak seharusnya bungkam dan hilang akal hanya dengan sebuah sentuhan singkat dari seorang pemuda cupu.

PLAK! Kyuhyun terbelalak. “Kau… kau menampar dirimu sendiri?!”

Gyeoul terperangah. “Ah… apa? Oh.. Maaf. Lupakan saja. Jadi, bagaimana dengan nomor dua?” tanyanya. Tapi sepertinya tamparan itu tak cukup untuk membuat organ tubuh Gyeoul bekerja normal kembali. Mereka masih bekerja menyimpang dan bahkan semakin menjadi-jadi saat Kyuhyun mendekat untuk memberikan penjelasan.

“Kyuhyun–ah,” panggil Gyeoul menghentikan penjelasan Kyuhyun.

“Ne?” Kyuhyun menyahut sambil masih mencoret-coret buku dengan deretan angka dan rumus.

“Mianhae,” ujar Gyeoul lirih.

“Mwo? Mworago?” Kyuhyun berhenti mencatat dan kini dia menatap Gyeoul tepat di matanya.

“Jeongmal mianhe,” ulang Gyeoul berusaha untuk tidak berseru. “Aku minta maaf atas sobeknya bukumu tadi pagi, atas percobaan pencurian roti yang barusan, atas pencoretan meja dan kursimu kemarin, atas penyembunyian buku-bukumu kemarin lusa, dan atas segala hal kejam yang pernah kulakukan terhadapmu, aku minta maaf yang sebesar-besarnya.”

Kyuhyun terbelalak. Gadis di hadapannya itu tidak terlihat seperti tipe orang yang mau minta maaf. Gengsinya terlampau tinggi. “Apa kau tidak sedang berusaha mengerjaiku?” tanya Kyuhyun tak yakin.

Gyeoul menggeleng. “Tidak. Kali ini sungguhan. Aku minta maaf dengan bersungguh-sungguh. Aku juga mewakili Eunsa dan Hyena, minta maaf yang sebesar-besarnya padamu.”

Kyuhyun diam sejenak, dibetulkannya letak kacamatanya dan berkata, “Kau dan teman-temanmu tidak perlu minta maaf.”

Gyeoul bungkam. Tak mengerti maksud Kyuhyun. “Kau… tidak mau memaafkanku?”

“Bukan… Bukan begitu maksudku. Aku hanya, menganggap kalian sebagai lalat-lalat kecil yang hanya sedikit mengganggu. Itu saja. Jadi, apakah lalat perlu minta maaf? Tentu saja tidak perlu. Karena sesungguhnya, manusia menganggap mereka sebagai gangguan kecil yang tak berdampak apa pun.”

“Jadi, kau anggap aku lalat?!”

“Kurang lebih.”

“Ya! Kyuhyun–ah! Jass…” Hampir saja Gyeoul mengeluarkan umpatan lagi. Kyuhyun sudah menyelamatkan perut dan soal-soalnya. Kyuhyun pasti beranggapan bahwa Gyeoul adalah gadis tak tahu diuntung dan tak tahu berterima kasih jika dia meneruskan kalimat mengumpat itu. Jadi, alih-alih mengumpat, gadis itu bungkam tapi menghujam Kyuhyun dengan ekspresi kesal.

*

            Sudah larut malam saat Kyuhyun baru saja selesai mengerjakan soal. Gyeoul yang katanya ingin mengerjakan sendiri semua soalnya, malah tertidur pulas di lantai perpustakaan. Rupanya gadis itu memang tidak menaruh sedikit pun perhatian pada penjelasan Kyuhyun. Jadi, alih-alih paham, teori demi teori yang dibeberkan Kyuhyun secara perlahan telah berubah sedemikian rupa hingga menjadi sebuah lagu nina bobo bagi Gyeoul. Kyuhyun mendapati dirinya tengah mengamati gadis itu mengembara di negeri mimpi yang tak diketahuinya. Bola mata hitam pekat milik gadis itu terbungkus kelopak matanya, rambut hitamnya tergerai menyibak lantai yang dingin dan tubuhnya yang kurus memunggungi salah satu rak buku. Gadis itu pasti kelelahan hingga dia bisa tidur dengan mudahnya bahkan tanpa alas apa pun kecuali tas sekolah di bawah kepalanya.

Kyuhyun seperti kehilangan kesadaran saat dia tersenyum dan telapak tangannya mendekat ke rambut Gyeoul. Sontak ditarik kembali tangannya. “Kyuhyun–ah, kendalikan dirimu,” makinya pada diri sendiri. Diliriknya jam tangan silver yang membalut pergelangannya, sudah lewat tengah malam. Kyuhyun merapikan buku-buku dari lantai dan menyusunnya di sebelah Gyeoul. Sebelum dia beranjak untuk mencari tempat yang pas untuk tidur, dia melepas jasnya dan menyampirkannya di sepasang kaki Gyeoul. Berharap semoga gadis itu tidak kedinginan seperti namanya. Gyeoul, musim dingin.

*

            “Hei, Lalat. Ireona[8],” Kyuhyun membangunkan Gyeoul dengan suara berbisik. Sesekali dia melihat pintu perpustakaan dengan khawatir. “Palli ireona[9]!” Dia mengeraskan suara namun kali ini disertai guncangan-guncangan hebat agar gadis yang masih meringkuk itu segera bangkit.

Gyeoul mengerjap. Dia membeku sejenak berusaha menyerap kondisi tak normal yang ada di sekelilingnya. Tempat di mana seharusnya dia menemukan ranjang, digantikan oleh lantai ubin yang sama sekali tak ada unsur keempukannya. Dia segera bangkit saat mengingat kembali bahwa dia sedang tidak ada di kamar tidur, tapi di perpustakaan sekolah. “Apa kau bilang? Lalat?” Gyeoul merespon dengan begitu lambat.

Namun Kyuhyun memilih untuk tidak peduli. “Cepat sembunyi sebelum seseorang membuka pintu. Aku tidak mau ada yang salah paham melihat kita berdua di sini,” ujarnya.

“Mwo? Aku? Sembunyi?” Gyeoul terbelalak.

Kyuhyun mengangguk dengan terburu. “Palli,” desaknya.

“Sireo[10]! Aku akan tetap di sini dan tidak akan bersembunyi di mana pun dengan alasan apa pun. Kau tahu, aku telah menunggu-nunggu orang yang mengunci kita di sini sejak kemarin agar bisa segera menyumpah dan memaki mereka. Mereka harus bertanggung jawab karena sudah…”

Gyeoul tak pernah menyelesaikan kalimatnya karena tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka dan tampaklah dua orang gadis bediri di depan pintu perpustakaan dengan gaya sok belagu. “Annyeong, Kyuhyun–ah. Jaljasseo[11]?” tanya Hyena pada udara kosong. Dia belum melihat keberadaan Kyuhyun yang membeku di antara rak buku. Gyeoul emosinya sudah meletup-letup, dia ingin segera menyembur kedua komplotan bodohnya itu. Kyuhyun sempat mencegah namun gagal. Gyeoul sudah terlanjur keluar dari tempatnya dan muncul di hadapan kedua gadis itu.

“Kalian!” Gyeoul berseru sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah Eunsa dan Hyena bergantian. “Jangan pernah menggangu Kyuhyun lagi!” pekiknya.

Eunsa terkejut setengah mati sampai terlonjak. “Gyeoul–ah, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Gara-gara kebodohan kalian, aku dan Kyuhyun terkunci di sini semalaman!”

“Mwo? Kyuhyun dan… kau? Kupikir…”

“Wah… Wah. Benar-benar sebuah kejutan besar. Aku tak menyangka ternyata Gyeoul sekarang sudah jadi pembela si cupu itu,” ujar Hyena sambil menyeringai.

“Kau!” Gyeoul baru menyadari sesuatu. “Kau sudah tahu aku ada di perpus. Kau menjebakku!”

To be Continued..


[1] Tidak ada

[2] Jangan menangis

[3] Apa yang kau lihat?

[4] Aku gila!

[5] Benar-benar bodoh!

[6] Kau lapar?

[7] Aku tidak lapar

[8] Bangun

[9] Cepat bangun

[10] Tidak mau.

[11] Tidur nyenyak?

Advertisements

5 thoughts on “Lalat Musim Dingin 겨울 비행

  1. kereeeeennnnn,,berasa baca novel…suka jg ada pnjelasan gtu d akhir FF nya,,kaya d novel” jg,,,,

    first ff nya daebak,,,dtnggu ff slanjutnya yah..dan ini twoshoot kan??next chap nya asaaaaap..;D

    oya slmkenal lg,,ini eommanya anak” di sini,,selamat bergabung..;)

  2. KYUUUUUUU…..aku padamuuu*digampar kanan kiri*
    bner kata halmeoni ria*siap2 dpet bogeman*’agak’brasa kyk baca novel.Suka diksinya deh,rapi tulisannya.

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s