Ficlet – One Day

Author : AltRiseSilver

Cast : Choi Minho SHINee & Choi Sulli F(x)

Genre : Romance, Sad

Length : Ficlet

Rating : PG 15

Pria tinggi bermarga Choi berjalan gontai menuju mobilnya. Pemakaman baru saja usai namun, suasana hatinya  masih dikabuti kesedihan. Kekasihnya sekaligus calon istrinya pergi menuju tempat asalnya. “Tuan Choi,” suara lirih seorang wanita paruh baya menghentikan langkahnya.

“Nona Sulli menitipkan ini kepadaku sebelum ia meninggal,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna kemerahan kepada pria tersebut.

Ia masih memandangi kotak tersebut sebelum akhirnya mengambilnya dari tangan si wanita paruh baya. “Apa isinya, Bibi Jung?” suaranya seraknya karena habis menangis terdengar begitu lirih.

“Saya tidak tahu, Nona Sulli tidak mengatakan apa-apa selain aku harus memberikan kotak ini padamu setelah pemakamannya,” jawab wanita yang dipanggil Bibi Jung olehnya.

Pria itu tidak menyahut lagi, ia sibuk mengira-ngira isi kotak tersebut sementara Bibi Jung perlahan berjalan meninggalkannya. Angin semilir menyerbak meniupkan serbuk-serbuk bunga pemakaman ke arahnya, membuatnya tersadar dari lamunannya.

Ia kembali berbalik dan berjalan menuju mobilnya. “Kenapa kau pergi seperti ini Sulli­-a?” bisiknya saat memasuki mobil dan melihat bangku disampingnya akan selamanya kosong. Ia menaruh kotak yang diberikan Bibi Jung disana kemudian menyalakan mobilnya dan berjalan menuju tempat kesukaan Sulli.

-ooOOoo-

“Bagaimana aku bisa mengatasi canduku padamu padahal kau tak mampu lagi kulihat?”

Pertanyaan yang sama berulang kali terlontar dari mulut pria itu sejak berbagai alat di tubuh kekasihnya dicopot satu persatu kemarin siang. Ia mengadahkan kepalanya menatap langit, berusaha memalingkan bayangan kekasihnya namun awan-awan disana malah melakukan hal licik dengan membentuk wajah Sulli.

Ia berdecak lalu menunduk. Dari dulu ia selalu benci jika merindukan kekasihnya itu tapi kenapa Tuhan malah membuatnya hidup tanpa gadis itu. “Tuhan sangat menyayangi Nona Sulli, Tuan,” suara Bibi Jung kemarin tiba-tiba terngiang di kepalanya.

Tuhan memang menyayanginya tapi, tidak bisakah ia melihat kalau aku lebih membutuhkannya?

Pria itu membatin dihatinya. Berkali-kali ia menampar pipinya agar terbangun dari mimpi buruk ini namun berkali-kali juga ia menyatakan kalau ini adalah sebuah kenyataan. Ia menggigit bibirnya, menahan airmatanya jatuh lagi.

“Kumohon jangan menangis lagi,” kali ini nasihat Sulli jika melihatnya menangis terngiang dikepalanya, begitu lembut mengalun ditelinganya. Namun sayang, bulir bening itu terlanjur jatuh lagi dan membasahi pipinya. Biasanya, saat seperti ini ada Sulli yang membantunya mengusap airmatanya lalu memeluknya erat.

Tangis pria itu semakin keras kala mengingat hal itu. Suaranya bahkan kian tercekat dan nafasnya mulai sesak. Bulir-bulir airmatanya mulai membasahi hampir seluruh wajahnya. Ia mendongak, kemudian mengusap wajahnya. “Sulli, bahagiakah kau melihatku seperti ini?”

Hening. Hanya semilir angin yang menerpa wajah basahnya.

“Choi Minho,” suara gadis kecil memanggil namanya membuat seorang bocah kecil yang sedang membaca buku menoleh. “Kenapa?” tanyanya dengan suara nyaringnya.

“Jangan membaca buku terus, temani aku bermain,” rengeknya manja. Bocah bernama Minho itu menggeleng kuat. “Aku tidak mau bermain permainan anak perempuan,” sungutnya membuat gadis kecil dihadapannya menunduk. Ia ingin menangis mendengar jawaban temannya itu.

“Minho jahat, aku tidak mau bermain lagi denganmu!” bentak gadis itu kemudian berlari meninggalkan Minho yang hanya tertegun menatap kepergiannya. “Dia kenapa?” gumamnya keheranan kemudian kembali menatap bukunya.

Pria tinggi itu berjalan menuju pohon oak yang tumbuh kokoh disana sejak ia masih kecil. Sebuah kenangan saat mereka kecil membuat bibirnya tersenyum simpul. “Dasar gadis manja,” gumamnya.

Diperhatikannya batang pohon oak yang penuh dengan tulisan-tulisan tangan mereka berdua. Kenangannya kembali menerawang.

“Minho-ya, kau mau menuliskan harapanmu untuk masa depan?” tanya Sulli kecil pada bocah disampingnya.

“Memangnya perlu?” tanyanya acuh.

Sulli mengangguk lucu sambil menggeser duduknya ke hadapan Minho. “Aku tidak punya harapan,” ucapnya lagi masih acuh. Sulli tidak kehabisan akal, dia terus merengek kepada Minho agar bocah itu segera menuliskan permohonannya.

“Menikah?” Sulli memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil memikirkan harapan Minho. Ia menoleh dan menatap Minho berharap bocah itu mau menjelaskan artinya. “Kau tidak tahu menikah?” tanya Minho setelah dipandangi Sulli dengan tatapan bingung, gadis kecil itu menggeleng.

“Memangnya sepenting itukah?” tanya Sulli polos membuat Minho berdecak. “Ibuku bilang menikah itu seperti garpu dan sendok yang selalu saling membantu saat kita makan,” jawab Minho sambil mengingat apa yang ibunya pernah katakan soal pernikahan.

Kepala Sulli mengangguk. “Berarti pernikahan itu seperti makanan?” tanya Sulli lagi membuat Minho mengerutkan keningnya, berpikir keras. “Sepertinya iya,” ucap Minho ragu.

“Lalu kau akan menikah dengan siapa?” Sulli masih bertanya penuh antusias kepada Minho yang sebenarnya sudah malas untuk menjawab berbagai pertanyaan Sulli. Bahunya terangkat.

“Mungkin denganmu,” jawabnya asal lalu melanjutkan kembali kegiatannya bermain mobil-mobilan. Sulli tercengang, telunjuk kanannya menyentuh bibirnya yang mengerucut lucu. “Kenapa harus denganku?” tanya Sulli pada dirinya sendiri. Ia menatap tulisan Minho di batang pohon oak itu lagi.

“Apa aku juga harus menikah denganmu?” tanya Sulli sambil menoleh lagi ke arah Minho. Bocah kecil itu mendongakkan kepalanya lalu mengangguk cepat, itulah caranya agar Sulli diam dan tidak bertanya banyak lagi.

Namun ia sepertinya tidak akan mengira kalau Sulli akan begitu mempercayai ucapan Minho barusan.

Telunjuk besar milik pria itu menari-nari di batang pohon oak mengikuti tulisan-tulisan kecil yang dulu ia buat hanya untuk menyenangkan gadisnya. Harapan-harapan konyol yang selalu ditulis setiap tahun oleh mereka hampir memudar disana namun ia masih mengingat betul semua harapan itu.

Jari telunjuknya kemudian berhenti disalah satu tulisan yang dibuatnya saat ulangtahun Sulli ke-15.

Saengil Cukkhaehamnida!”

Minho menyodorkan kue tart cokelat kehadapan Sulli dengan hiasan lilin yang bersinar diatasnya. Sulli terperangah, ia tidak menyangka seorang Choi Minho akan memberikannya kejutan dibawah pohon oak kesayangan mereka.

Gomawo,” ucap Sulli dengan wajah memerah menahan rasa senangnya. Setelah mengucapkan harapannya ia meniup lilin diatas kuenya. Minho menatapnya senang.

“Tuliskan harapanmu untuk ulangtahunku ini,” pinta Sulli manja seperti biasanya. Minho menggeleng, “Kemarin aku sudah membuat harapan, kenapa aku harus membuat harapan lagi?” tanyanya pura-pura kesal.

Sulli mengerlingkan matanya nakal, ia tidak peduli Minho akan marah atau tidak padanya yang terpenting sekarang adalah pria itu harus menuliskan harapannya.

“Cepat tulis,” desak Sulli.

Minho menaruh kue diatas meja yang ia siapkan lalu mengambil sebuah batu tajam untuk menulis di batang pohon itu. Sulli memperhatikan tulisan Minho yang terpahat dengan rapi disana sambil sesekali mencondongkan tubuhnya karena Minho terus saja menutupi tulisannya.

“Kau seperti mengerjakan ujian saja,” sindir Sulli setelah berhenti mencondongkan badannya. Minho terkekeh kecil lalu menurunkan tangannya dan memandang tulisannya bangga. Sulli menggeser posisinya dan tercengang melihat tulisan Minho.

Selamanya buat Choi Sulli ini mencintaiku dan berharap akan menikah denganku

“Siapa bilang aku mau menikah denganmu,” ucap Sulli sambil berbalik dan berjalan menghentakkan kakinya menjauhi Minho. Wajahnya memerah, jantungnya berdetak kencang dan ia tidak ingin Minho melihatnya seperti itu.

Minho menatap Sulli bingung kemudian menyusul langkah gadis itu. “Kenapa? setiap wanita ingin menikah denganku,” tanya Minho yang sudah mensejajarkan langkahnya dengan Sulli. Gadis itu mendelik. “Semua wanita kecuali aku,” ucapnya tegas sambil berjalan cepat meninggalkan Minho.

“Sampai kapan aku harus mengingat dirimu seperti ini Sulli­-a?” gumam pria itu sebelum jatuh terduduk dan menyandarkan kepalanya di pohon oak tersebut. Matanya menerawang menatap langit lalu ia teringat kembali dengan kotak yang tadi diberikan Bibi Jung padanya. Ia beranjak lalu mengambil kotak tersebut didalam mobilnya.

Pria itu tersenyum, dipandanginya seluruh isi kotak tersebut.

Ia meraih selembar foto dan memandanginya dengan seksama. Sebuah foto dirinya bersama sulli saat mereka melakukan piknik untuk kesekian kali di bukit ini.

“Minho, buka mulutmu,” ucap Sulli sambil menyodorkan sebuah kue beras kepada Minho. Pemuda itu mendongak lalu membuka mulutnya sesuai perintah Sulli lalu mengunyah cepat kue beras itu. “Uhm enhak shekhalhi,” ucap Minho dengan mulut penuh.

Sulli menjitak kepala Miho, “Telan dulu makanan dimulutmu baru berbicara,” umpat Sulli kesal melihat tingkah kekanak-kanakkan Minho.

Pemuda itu merintih kesakitan sambil mengelus kepalanya yang sakit. “Kau ini tidak sopan sekali padaku,” Minho mendelik sambil mengambil kue beras lain dan memasukkannya lagi kedalam mulutnya. Sulli tidak menimpali ucapan Minho barusan. Ia sibuk menikmati pemandangan dihadapannya.

“Kenapa pemandangan disini selalu indah?” tanya Sulli pada dirinya sendiri.

“Itu karena kau melihatnya saat bersamaku,” timpal Minho percaya diri membuat Sulli memalingkan wajahnya dan menyipitkan matanya. “Berhenti meningkatkan rasa percaya dirimu Choi Minho,” ucap Sulli sebal lalu memalingkan wajahnya lagi.

“Daripada kau terus menatap langit lebih baik kita berfoto,” usul Minho. Usahanya membuat Sulli tersenyum lagi berhasil, gadis itu segera mendekatkan tubuhnya dan berpose dihadapan kamera yang menyoroti mereka berdua. Sebuah kecupan kilat mendarat dipipi Sulli saat Minho menjepret kameranya.

Sulli menatap Minho yang sukses membuat wajahnya bersemu memerah. Minho tersenyum lalu mengecup kening Sulli membuat gadis itu lagi-lagi tercengang. Mereka masih bertahan –dengan posisi Minho mengecup kening Sulli— selama beberapa saat, membuat keduanya tidak bisa mengelak perasaan yang merambati hati masing-masing.

“Bagaimana aku bisa melupakanmu sedangkan sepanjang hidupku selalu dipenuhi olehmu?” gumamnya dengan suara bergetar menahan tangisnya pecah lagi. Sulli meracuni otaknya, Sulli memberikan candu yang kuat dalam tubuhnya.

Pria itu mengambil selembar kertas berwarna merah jambu lalu membukanya perlahan. Dibacanya tulisan tangan Sulli kalimat per kalimat dikertas itu. Airmatanya mulai menggenang lagi di matanya. Sekuat tenaga ia menahannya agar tidak membasahi kertas itu.

Choi Minho kesayanganku,

Jangan menangis lagi, ingat pesanku ini. Jangan menangis lagi hanya untuk seorang Choi Sulli yang meninggalkanmu sendirian tanpa bisa menepati janjinya.

Kau boleh membenciku seumur hidupmu tapi, jika kita bertemu suatu saat nanti kumohon jangan benci aku lagi. Aku juga sebenarnya tidak bisa hidup jauh darimu hehehe ^^v

Maaf kalau aku tidak pernah mengatakan cinta padamu secara terang-terangan dan maaf juga aku tidak pernah memangilmu oppa seperti permintaanmu waktu itu. Aku malu Minho, kau tahu itu kan? Tapi kenapa kau selalu memaksaku untuk mengatakannya? Dasar namja menyebalkan, entah kenapa aku bisa jatuh cinta padamu sampai segila ini.

Hmm. Aku pesankan lagi, jangan menangisi aku.

Makanlah yang teratur.

Tidurlah yang cukup.

Dan belajarlah menyanyi yang rajin. Aku akan selalu melihatmu dari tempatku dan meminta Tuhan untuk selalu membuatmu bahagia.

Berjanjilah, kau akan bahagia selama ditinggal olehku. Otte?

Carilah penggantiku agar kau tidak merasa kesepian tapi kuperingatkan, jangan mencari wanita yang lebih cantik dariku karena aku bisa saja membunuhmu untuk kedua kalinya saat kita bertemu nanti. Mengerti?

Minho-ya, mungkin ini terlalu telat untuk kusampaikan. Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu sampai aku tidak tahu apa yang aku harus katakan lagi selain kata cinta itu sendiri. Aku tahu kau juga mencintaiku dan itulah yang menjadi kekuatanku selama aku sakit.

Kumohon, berhentilah menangis. Itu bukan dirimu sama sekali.

Aku selalu mencintaimu.

Choi Sulli lugumu.

Pria itu mengerang. Diletakkannya kembali kertas merah muda itu lalu menutup kotaknya. Terlalu sakit kalau ia harus mengenang semua barang-barang didalamnya. Ia menarik kaki panjangnya dan menenggelamkan wajahnya disana. Sikapnya seperti anak kecil yang sedang menangis sehabis dikerjai oleh temannya.

“Minho kenapa menangis?” suara kecil Sulli mengejutkan Minho kecil yang sedang bersandar di pohon dan memeluk kakinya erat. Ia makin menenggelamkan wajahnya agar Sulli tidak melihat airmatanya.

“Kenapa menangis? Siapa yang mengganggumu?” tanya Sulli lagi semakin penasaran. Dipaksanya kepala Minho untuk terangkat namun usahanya gagal.

Sulli mendesah ringan. Dilihatnya sekeliling taman untuk mencari siapa yang berani mengganggu temannya itu. Sulli melirik sekilas ke sekawanan bocah laki-laki yang sedang memainkan mainan Minho yang dikenalinya. Gadis kecil itu mengacak pinggangnya lalu memasang wajah marah sebisanya dan berjalan menghampiri mereka.

“Hey kalian!” bentaknya membuat sekawanan anak-anak itu–termasuk Minho menoleh kearahnya.

“Cepat kembalikan mainanku yang kalian rebut dari Minho!” bentaknya lagi walau ia merasa takut melawan sendirian melawah bocah laki-laki yang badannya lebih besar darinya. Mendengar bentakkan gadis itu, seorang yang berbadan lebih kecil dibanding yang lainnya mendekati Sulli.

“Sejak kapan kau bermain mobil-mobilan?” tanyanya polos.

Sulli menatap ragu bocah dihadapannya. “Sejak.. Sejak…,” ia memutar bola matanya mencari alasan lalu ekor matanya melihat Minho yang sudah berdiri menatapnya dari kejauhan.

“Sejak aku berteman baik dengan Minho,” jawabnya kemudian dengan yakin. Bocah dihadapannya itu menatap Sulli tidak percaya, menurutnya tidak ada seorangpun anak perempuan bermain mobil-mobilan.

“Kami tidak akan mengembalikannya,” timpal seorang lagi dari belakang bocah itu. Sulli semakin marah dibuatnya. “Kembalikan atau aku akan menangis memanggil ibuku supaya kalian dihukum olehnya!” ancam Sulli.

Mereka semua saling berpandangan lalu memutuskan untuk mengembalikan mainan itu kepada Sulli lalu pergi meninggalkan taman. Sulli tersenyum girang lalu menghampiri Minho yang menatapnya polos.

“Lihat ‘kan, aku tidak selugu yang kau katakan selama ini,” katanya memamerkan sikapnya tadi kepada Minho, membuat bocah itu menyunggingkan senyumnya walau sedikit.

Kepala Minho terangkat. Warna kejinggaan langit sore mulai terlihat menandakan hampir seharian ia berada ditempat ini. Airmatanya tak lagi keluar. Ia mengambil kotak disampingnya lalu beranjak dari duduknya menuju mobilnya untuk pulang kerumahnya.

Ia membuka pintu mobilnya dan menatap kembali pohon oak penuh kenangan itu. Bayangan Sulli masih terasa jelas berada disana sedang melambai kepadanya sambil tersenyum cerah. Gaun putihnya melambai mengikuti tiupan angin.

Pria itu tersenyum kemudian masuk kedalam mobilnya. Kenangan itu tidak akan berakhir, sekeras apapun ia mencoba bayangan Sulli dan keluguannya tidak akan pernah terlupakan. Ia menjalankan mobilnya, meninggalkan pohon oak dan Sulli yang tengah memandangi kepergiannya saat ini.

THE END

Advertisements

12 thoughts on “Ficlet – One Day

  1. adeeeee,,,,,minhonya kasian bgt,,,,-___-

    eh,..eh tp jd ngebayangin minho nangis ampe sgitunya kah??huaaa…minho sini sm eomma d peluk dlu, nak..*maunya

    padet tp ngena de….btw tu sullinya skit apakah??

  2. mw nangiiis baca suratnyaa.
    Minho-yaaaa..
    Author sukses ngoyak2 perasaan aqu nih*colek2 author/digampar*
    daebak deh,wlwpun hrus bner2 teliti bacanya krna bbrapa bgiannya flashback,wkwk.
    Keep writing…

  3. aaaah~ kece! feel sedihnya ngena, tapi kenapa endingnya kok serasa kurang “ngeh” gitu ya? ._. #digampar
    “Tuhan memang menyayanginya tapi, tidak bisakah ia
    melihat kalau aku lebih membutuhkannya?” <~ kata"nya dlm banget sumpah! ngejleb gitu buat yg bacanya u.u
    doooh~ Choi Minho, sebegitu hancurkah perasaanmu saat ditinggalkan seorang gadis yg sangat kau cintai? *apaini-_-* *ngelantur*
    uhm… mungkin setiap org juga akan merasa sedih kali ya ketika kehilangan org yg dicintainya? soalnya mereka blm sepenuhnya rela pada apa yg diputuskan oleh Tuhan, iya gak? 😉
    haha… salam kenal yah dari Glace Panda~^^ keep writing!

  4. uaaaa,,,,,,,,,,,, kereeeeeeeennn, sumpah,,,, biar baca berkali” teteup aja bikin nangis… sukses buat sad endingnya… TT

  5. keren nih authornya, feel sedihnya ngena banget. endingnya juga bagus, gk ngegantung.. daebak dh pokoknya 🙂

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s