[Part 2] Lalat Musim Dingin 겨울 비행

Author : Kalvid

Main Cast : Cho Kyuhyun & Kim Gyeoul

Genre : Family, Friendship, Romance

Rating : T

Type : Twoshoot

“Yah… Aku ketahuan deh,” sesal Hyena berpura-pura.

“Apa maksudmu melakukan itu? Bukankah kita teman?!” Suara Gyeoul naik satu oktaf.

“Chingu? Ah… Aku lupa sudah sejak kapan terakhir kali aku menganggapmu sebagai teman. Tapi yang jelas, itu sudah lama sekali!”

“Ta… Tapi, Hyena–ah…”

“Aku punya terlalu banyak alasan untuk tidak lagi menganggapmu sebagai teman. Kau tahu kenapa? Karena… Satu, kau egois. Dua, kau egois. Dan tiga, kau EGOIS!”

Gyeoul tergagap, berusaha mengatakan sesuatu namun Hyena telah mendahuluinya.

“Kau pasti sudah lupa kapan terakhir kali kau bersedia menyediakan telinga untuk mendengar curhatanku. Seingatku, terakhir kali aku curhat, hmm… tentang seorang cowok yang mencampakkanku. Dan kau meresponnya dengan ini! Dengan membully si cowok cupu itu!” Hyena menunjuk Kyuhyun yang kini tengah berdiri di belakang Gyeoul. “Kau mengubahku menjadi seperti ini, Gyeoul–ah. Ini salahmu karena tidak pernah mau mendengar ceritaku lagi. Kau tidak tahu kan, siapa cowok yang pernah kutaksir itu? Dia orangnya! Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun bergeming, untuk pertama kalinya, otaknya konslet karena omongan gadis itu terdengar begitu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang yang selama ini mati-matian menyiksanya malah mengaku pernah naksir padamya? Coba pikirkan. Di mana logikanya?

“Tapi tentu saja sekarang tidak lagi. Aku muak padanya!” Hyena mengacungkan terlunjuknya pada Kyuhyun seolah ingin menusuk pemuda itu dengan kuku-kukunya. Lagi-lagi Kyuhyun meremang, dia tak pernah mendapati dirinya terjebak dalam keadaan seba salah seperti ini. “Aku tidak pernah tahu apa yang harus kulakukan pada cowok yang telah mencampakkanku… dan saat kau bercerita bahwa betapa kesalnya kau dengan dia karena telah membuat peringkatmu turun di kelas, aku berpikir bahwa sebaiknya, aku menolongmu mengenyahkan dia agar tidak lagi belajar dan membiarkanmu menempati peringkatmu lagi. Aku berusaha, Gyeoul–ah, aku berusaha menuruti keinginanmu. Bahkan aku sempat merasa berterima kasih karena secara tak langsung, kau sudah membantuku membalaskan keperihanku karena dia.”

Gyeoul terpaku. Lembaran film masa lalu berputar dengan cepat di otaknya. Iya, dia ingat. Hyena pernah naksir seorang pemuda yang tidak pernah Gyeoul ketahui siapa itu. Tidak sebelum hari ini.

“Tapi sudah lama sejak kau mendengarkanku, Gyeoul–ah. Kau hanya ingin menyelesaikan urusanmu sendiri. Sejak saat itu aku sadar bahwa kau tidak seharusnya menjadi temanku dan… Aku mulai berpura-pura. Berpura-pura menjadi temanmu, menunggu saat yang tepat untuk berbalik menjebakmu. Dan sekarang, kau sudah tahu kan? Aku membenci KALIAN berdua!”

“Hyena –ah…” panggil Gyeoul getir.

“Berhenti memanggilku seolah kita adalah teman! Mulai sekarang, anggap saja kau tidak pernah mengenalku. Eunsa–ah, gaja[1].” Hyena dan Eunsa pun beranjak dari perpustakaan. Meninggalkan Gyeoul yang berusaha keras menahan bendungan air bah yang hampir jebol di pelupuk matanya.

*

            Gyeoul sampai di rumah dengan kondisi mengenaskan. Pertama, karena dia belum mandi sejak kemarin dan kedua, karena Hyena yang selama ini dia anggap sahabat, ternyata telah memutuskan tali persahabatan secara sepihak. Hari ini dia sengaja tidak ingin mengikuti pelajaran. Dia punya cukup alasan untuk membolos dan mendekam di rumah. Sepanjang perjalanan ke rumah, ucapan Hyena terus menerus bergema di kepalanya. Kata-kata itu seperti mengikis sesuatu di dadanya hingga terasa begitu perih hingga dia ingin menangis. Namun, Gyeoul benci terlihat lemah. Seburuk apa pun kondisinya, menangis tetap tak akan dijadikan pilihan untuk dilakukan oleh seorang Kim Gyeoul.

Langkah kaki Gyeoul sempat terhenti saat mendengar suara sebuah koper di geret dari lantai dua. Pemilik koper itu tak lain adalah eomma-nya sendiri. Berbanding terbalik dengan putrinya, wanita itu mudah sekali menangis. Seperti yang tengah dilakukannya sekarang.

“Eomma? Apa yang terjadi?” tanya Gyeoul.

Rupanya wanita itu baru menyadari kehadiran Gyeoul hingga dia tersentak dan sempat berhenti menuruni anak tangga. Namun, begitu dilihatnya Gyeoul masih segar bugar, senyumnya terkembang. “Gyeoul–ah,” panggilnya.

“Eomma beum menjawab pertanyaanku. Apa yang terjadi? Kenapa eomma menangis?” Dia berharap eomma tidak akan benar-benar melakukan ancamannya. Ancaman bahwa dia akan pergi kalau Gyeoul tak bisa mendapatkan nilai yang lebih baik.

Alih-alih menjawab, wanita itu meneruskan menuruni tangga hingga sampai di hadapan putri semata wayangnya. Dia sempat menghapus air matanya sebelum menggenggam tangan Gyeoul. “Gyeoul–ah, berjanjilah pada eomma kau akan terus belajar untuk meraih peringkatmu lagi. Eomma akan datang ke sekolah kalau ada waktu dan kita masih bisa pergi ke mall bersama,” ujarnya.

“Eomma akan meninggalkanku? Jadi, hak asuh jatuh ke tangan appa?” Gyeoul mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Dia tahu, sekeras apa pun dia berusaha untuk belajar, orang tuanya tetap akan berakhir dalam perceraian. Dan… Eomma akan tetap meninggalkannya.

Sia-sia eomma menahan tangisnya karena akhirnya kegetiran telah mengambil alih sebagian jiwanya hingga kedua pipinya kembali basah. Eomma menunduk, menyembunyikan sebutir air yang menyeruak di ujung matanya.

Tiba-tiba, appa datang. Air mukanya tidak terlihat begitu menyenangkan. “Kau masih di sini?” Kalimat itu ditujukan pada mantan istrinya. “Aku sudah memanggilkan taksi dan kau bisa segera pergi dari sini,” lanjutnya.

Eomma segera beranjak dan lagi-lagi menghapus air matanya. “Ne, aku akan segera pergi,” katanya sambil bersiap kembali menggeret kopernya.

“Eomma,” panggil Gyeoul menghentikan langkah wanita itu. “Aku berjanji akan kembali mendapatkan peringkatku itu. Yaksokhae[2],” katanya getir. Dia menemukan suaranya bergetar saat eomma kembali menatapnya sambil tersenyum.

“Yaksok?” Eomma mengacungkan kelingkingnya dan Gyeoul menautkan miliknya.

Gyeoul mengangguk. “Yaksok,” ujarnya dengan suara yang hampir tak terdengar. Eomma pun berlalu dan meninggalkan Gyeoul yang bersikeras tak ingin mengantarnya ke depan pintu. Gyeoul bergeming saat suara mesin mobil taksi semakin menjauh hingga tak terdengar lagi. Sisa-sisa kekuatan yang masih disimpannya, tak mampu menahan kerasnya keinginan si bendungan dalam pelupuk mata Gyeoul untuk menumpahkan isinya. Dan dalam hitungan detik, air bah benar-benar sudah keluar. Pertahanannya telah jebol seutuhnya. Dia merasa begitu lemah karena sekarang, dia tengah menangis pilu.

*

            Setelah mendesak Eunsa untuk memberitahukan alamat rumah Gyeoul, Kyuhyun langsung meluncur ke rumah Gyeoul sambil membawa dua buah buku dan pulpen hamster milik gadis itu yang tertinggal di perpustakaan. Beruntung masih ada Eunsa yang sepertinya netral-netral saja dengan permasalahan yang melibatkan kedua sahabatnya yang lain. Sepanjang perjalanan, pikiran Kyuhyun melayang ke mana-mana. Dia bingung, nanti sesampainya di rumah Gyeoul, apakah dia hanya langsung memberikan buku gadis itu dan pergi, ataukah perlu berbasa-basi? Jika dia memilih untuk berbasa-basi, masalahnya adalah, apa yang dibasa-basikan? Sepertinya tidak ada hal yang begitu penting untuk dibicarakan dengan gadis itu. Baiklah, Kyuhyun telah memutuskan. Dia akan hanya memberikan buku dan langsung pulang setelah urusannya selesai.

Kyuhyun memarkir mobilnya di depan rumah Gyeoul dan dia sudah akan melangkah untuk menyentuh sebuah layar di dekat gerbang jika Gyeoul tidak tiba-tiba datang dari arah yang berlawanan. Tubuh gadis itu terbalut sebuah jaket, rambut panjangnya terbalung hoodie dan sesuatu yang mengganjal tengah menyelinap keluar dari pelupuk matanya. Gyeoul. Gadis, itu… Dia menangis.

Gyeoul terlonjak saat mendapati Kyuhyun berdiri di hadapannya dan memergokinya tengah menangis. Sontak dihapusnya air matanya, lalu segera kembali pada sifat yang selama ini diumbar-umbarnya di sekolah. “Ya! Apa yang kau lakukan di depan rumahku!” serunya.

*

Rencana Kyuhyun untuk hanya memberikan buku yang tertinggal kemudian pulang telah berubah sepenuhnya. Ternyata dia dan Gyeoul punya banyak hal untuk dibasa-basikan. Kyuhyun pun tertahan di ruang tamu untuk beberapa lama. Dia duduk di sofa dengan canggung. Dia tak menyangka ternyata Gyeoul tanpa diminta telah membeberkan penyebab tangisnya. Bahkan dia juga bercerita tentang keinginannya yang begitu besar untuk mendapatkan peringkat lagi di kelas. Selama ini, Kyuhyun mengira bahwa Gyeoul adalah anak manja dari sebuah keluarga kaya raya yang selalu siap sedia memenuhi kebutuhan putri mereka. Namun, dia salah. Sikap keras Gyeoul justru terbentuk dari kedua orang tuanya yang beberapa tahun terakhir ini tak pernah akur hingga dia terpaksa hidup kesepian. Hanya Hyena dan Eunsa yang selama ini menjadi kawannya. Namun sekarang, kedua sahabat itu telah pergi meninggalkannya. Cerita itu terdengar begitu tragis untuk terjadi kepada seorang Kim Gyeoul. Sifat keras dan emosional yang selama ini tampak di gadis itu, rupanya hanya sebuah topeng kamuflase. Gadis itu hanya perlu perhatian dan dia menyalurkannya dengan cara yang memang agak berbeda.

“Aku kagum padamu. Kau, adalah gadis yang tegar,” ungkap Kyuhyun.

Gyeoul mengerjap. “Kau? Kagum padaku?” Suhu panas tiba-tiba saja muncul di kedua pipinya. Dia merona. Nah, itu… Lagi-lagi tubuhnya merespon dengan aneh.

“Hmm… Apa kau ingin hiburan?” tanya Kyuhyun mengalihkan topik. “Mungkin tak ada salahnya jika seekor lalat mendapat hiburan. Kau telah melalui masa-masa sulit sepanjang hari.”

“Baiklah, lakukan sesuatu untuk seekor lalat yang malang ini,” kata Gyeoul. Dia seharusnya marah. Tapi nyatanya, dia menerima julukan lalat itu dengan senang hati. Sepertinya, tubuhnya bertingkah aneh lagi.

Gyeoul sama sekali tak punya bayangan dengan apa yang akan Kyuhyun lakukan untuk menghiburnya sebelum pemuda itu membetulkan posisi duduknya sedemikian rupa hingga pandangan mereka bertemu di satu titik. Kemudian, sebuah nada mengalir keluar secara perlahan dari pita suara Kyuhyun. Alunan nada itu membentuk satu kesatuan utuh yang membuat Gyeoul hampir tak percaya bahwa Kyuhyun yang ada di hadapannya sekarang, adalah pemuda yang selama ini terkenal dengan kecupuan-nya. Pemuda itu, entah bagaimana terlihat begitu lain saat bernyanyi. Begitu… Mempesona.

Kyuhyun tak dapat menarik tatapannya dari kedua bola mata Gyeoul. Dia berusaha keras memperdengarkan suara terindahnya kepada gadis itu. Dia dapat merasakan, seluruh perasaan mengganjal yang selama ini bersarang dalam tubuhnya, tumpah ruah di jalinan nada pada suaranya. Hatinya benar-benar bernyanyi saat itu. Bernyanyi untuk seorang gadis yang selama ini telah bertengger di relung hatinya. Gadis yang selama ini telah membully dirinya dan buku-bukunya. Ya, gadis itu yang Kyuhyun suka. Terdengar tidak masuk akal memang. Kyuhyun seharusnya membenci gadis itu mati-matian. Bukan malah bernyanyi untuk menghibur si tukang bully. Tapi, apakah ada hal tidak masuk akal lain selain jatuh cinta? Perasaan yang sekarang tengah menyelubungi batin dan pikiran Kyuhyun.

Gyeoul tersenyum. Mengukir sebuah perasaan riang tak terhingga pada setiap alunan lirik lagu Kyuhyun. Lalu, nada-nada itu terhenti. Usai pada sebuah bunyi isak tangis dari seorang gadis. Gyeoul, dia menangis lagi.

“Kyuhyun–ah, aku… menyukai lagumu,” ucap Gyeoul lirih. “Begitu indah dan… Ini adalah pertama kalinya aku merasa begitu berharga sejak terakhir kali aku merasakannya dari kedua orang tuaku.” Dia menangis karena mendapatkan sebuah kebahagiaan. Satu hal yang selama ini dirindukannya. “Gomawo, Kyuhyun–ah. Jeongmal gomawo.” Dia berucap dan lagi-lagi tersenyum. Kyuhyun lega. Tumpahan perasaan yang ada pada lagunya tadi,  direspon dengan sebuah kata magis dan senyuman yang seindah hamparan salju dari seorang gadis yang dicintainya.

*

            “Saengilchuka!” seru Eunsa sambil melonjak di depan Hyena. Dia menyodorkan sebungkus kado dan mendesak Hyena untuk segera membukanya.

Dengan tak sabar, Hyena segera membuka bungkus kado itu. “Neomu guiyeopta[3]!” serunya saat mendapati sebuah jaket hoodie berwarna ungu dengan gambar beruang yang memenuhi permukaan kainnya. Jaket itu juga memiliki sepasang telinga beruang di hoodie-nya. “Gomawo, Eunsa–ah,” ujarnya sambil merangkul sahabatnya itu. Namun, pelukan itu terlepas saat Gyeoul menghampiri mereka. Hyena mengajak Eunsa untuk segera pergi dan tidak menghiraukan keberadaan Gyeoul.

“Saengilchuka, Hyena–ah,” ujar Gyeoul sambil menyodorkan sebuah kotak berbungkus kertas warna ungu. “Bathajwo[4].” Dia memohon. Alih-alih menerima hadiah tersebut, Hyena berpaling dan beranjak menjauh dari Gyeoul. “Apa kau pernah merasa seperti ada lubang yang menganga di tubuhmu, Hyena–ah?” tanya Gyeoul kendati dia tahu Hyena tidak akan menjawab. “Kalau kau pernah, berarti kita sama. Aku tengah merasakannya sekarang. Kau tahu kenapa? Karena aku sedang kehilangan seorang sahabat.” Hyena berhenti melangkah, dia mendengarkan Gyeoul tapi masih membelakangi gadis itu. Gyeoul bertindak, dia membuka kotak hadiah yang dibawanya, mengeluarkan sebuah album foto dan membalik lembar pertama. “Apa kau ingat ini? Saat kita… Kau, aku dan Eunsa mengadakan pesta tahun baru di halaman belakang rumahku. Kita menghabiskan semua marshmallow dan melontarkan banyak kembang api ke udara. Dan ini… Apa kau ingat yang satu ini?” Gyeoul lanjut ke halaman dua. “Kita pergi main ski. Saat itu, aku bahkan tak tahu bagaimana cara melangkah dan Eunsa sampai terjerembab karena papan ski-nya sendiri. Lalu ini…” Dia kembali membalik halaman. “Kita saling bertukar kado saat hari kasih sayang. Aku mendapatkan sekotak coklat hati yang begitu besar hingga coklat itu berakhir di mulut kita bertiga. Kita begitu kenyang dan beratku naik satu kilo setelah itu. Kau ingat kan, Hyena–ah, Eunsa–ah?” Suara Gyeoul melemas dan bergetar. “Aku tak pernah mengenal yang namanya mantan sahabat. Tapi, aku mengenal kalian berdua sebagai sahabat terbaikku di muka bumi ini.” Hyena tidak merespon, dia masih bergeming saat pelupuk mata Gyeoul mulai terasa berat. “Bodohnya aku, keegoisan telah membuat kalian menjauhiku. Aku tahu aku salah, kalian tak pantas mendapatkan orang sepertiku sebagai sahabat. Tapi, kumohon, biarkan aku untuk tetap menganggap kalian sebagai sahabat. Mungkin hanya secara sepihak. Aku…” Gyeoul tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Dia telah kehilangan tentara penjaga hingga air matanya merembes ke mana-mana. Dengan getir, dia berlutut dan meletakkan kadonya di lantai. “Bathajwo,” ulangnya sambil mundur perlahan meninggalkan Hyena yang masih berpaling. Bulir air di pipinya sudah terlampau banyak hingga dia berbalik, menjauh dari Hyena dan Eunsa.

*

            Pengumuman peringkat kelas baru saja diumumkan dan Gyeoul begitu senang saat dia mendapati namanya pada peringkat yang selama ini diidamkannya. Dia melonjak dan memekik kegirangan di depan papan pengumuman. Tiba-tiba, di tengah kegembiraan yang membuncah, seseorang memanggil namanya. Pemilik suara itu mengucapkan selamat.

“Aku tahu kau bisa mendapatkan peringkatmu kembali, Gyeoul –ah,” kata suara itu.

Gyeoul berpaling dari daftar nama peringkat dan terbelalak saat menemukan pemilik suara itu. “Hyena–ah… Eunsa–ah?”

“Jadi, kau akan mentraktir kami makan apa? Hmm… Di sekitar sini ada restoran Jepang yang baru buka. Mungkin kita bisa mencoba beberapa potong sushi di sana,” ujar Eunsa bersemangat.

“Kalian…” Gyeoul masih terlihat bingung. Dia tidak mengerti mengapa kedua gadis itu bisa tiba-tiba kembali menyapa dan bicara padanya. Bukankah kemarin dia baru saja dicampakkan dan tidak dianggap teman?

Hyena meraih kedua pundak Gyeoul dan menatap gadis yang kebingungan itu dengan tulus. “Mulai hari ini dan selamanya, kau, aku dan Eunsa adalah sahabat. Kau dengar itu? Sahabat. Selamanya!” umum Hyena sambil mengukir sebuah senyum. “Lupakan apa yang telah terjadi. Aku tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah…” Dia merangkul pundak Eunsa dengan salah satu tangannya, sedangkan tangan yang lain masih melingkar di pundak Gyeoul. “Kita tetap menjadi sahabat,” ujarnya masih menyunggingkan senyum. “Bagaimana? Setuju?”

Tanpa ragu, Gyeoul mengangguk mantap dan berseru. “Setujuu!!”

“Setujuuu!!” sahut Eunsa menggebu-gebu.

Saat itu, Gyeoul merasa seperti akan benar-benar menangis. Namun, dia tidak melakukannya. Tidak di depan murid-murid lain. Hanya Hyena, Eunsa dan Kyuhyun yang boleh melihatnya menangis.

Setelah mereka bertiga berpelukan dan melepaskannya, kedua mata Hyena langsung jelalatan di depan papan pengumuman. “Gyeoul–ah, lihatlah. Si bocah cupu kembali meraih peringkat pertama,” ujarnya sambil menunjuk bagian teratas papan pengumuman. Gadis itu sekonyong-konyongnya bungkam saat Gyeoul memberinya tatapan buas.

“Namanya Cho Kyuhyun. Dan dia, tidak cupu,” bela Gyeoul.

“Kau suka padanya ya?” tebak Eunsa sambil mengerling penuh arti.

“Kyuhyun? Aku? Ba… Bagaimana mungkin? Dia musuh bebuyutanku!” elak Gyeoul.

“Tapi wajahmu bersemu tuh…” Hyena ikut-ikutan.

Gyeoul berusaha mengelak lagi namun sesuatu menghentikannya. Sebuah getaran dari ponselnya.

“Ehem… Kyu chagi menelepon! Cepat angkat!” desak Hyena saat melihat nama Kyuhyun terpampang di layar ponsel Gyeoul.

Dengan wajah yang semerah udang rebus, Gyeoul segera menerima telepon tersebut. “Yeoboseyo?”

“Selamat ya, Lalat. Kau berhasil meraih peringkat itu. Dan sebagai penghargaan, aku punya sebuah kejutan untukmu. Kalau kau menginginkannya, segera datang ke atap sekolah, aku menunggumu. Bye.”

Gyeoul terbelalak. Ditatapnya kedua sahabatnya dengan keheranan. “Aku bahkan belum bicara apa pun!” protesnya.

Eunsa mengangkat alis. “Dia bilang apa?”

“Dia… Menyuruhku ke atap sekolah.”

“Kalau begitu, cepat pergi.” Hyena mendorong Gyeoul. “Kau juga ingin mengucapkan selamat padanya kan?”

“Oh, baiklah. Kalian yang memaksaku,” ujar Gyeoul bertingkah seolah dia tak ingin menemui pemuda itu. Hyena dan Eunsa cekikikan. Sahabat mereka yang satu itu gengsinya masih terlalu tinggi. Lalu, dengan langkah gontai, Gyeoul pun pergi menuju atap sekolah. Sesampainya di atas, angin musim dingin langsung menyerbu tulang rusuknya.

“Ya! Kyuhyun–ah, kenapa menyuruhku ke sini? Ini dingin sekali!” protesnya. Tunggu. Itu seperti bukan Kyuhyun. Pemuda itu tidak mengenakan kaca mata dan rambutnya tak lagi berponi. Kening pemuda itu telah sepenuhnya terlihat karena poninya berubah menjadi sebuah jambul yang membuatnya begitu berbeda.

“Annyeong, Lalat,” sapa Kyuhyun.

“Kyuhyun–ah, kau…”  Gyeoul tak sanggup berkata-kata.

“Aku tampan kan?” pamer Kyuhyun bangga.

Gyeoul mengangguk samar. Dia telah terhipnotis sepenuhnya oleh penampilan baru pemuda itu. “Kau… benar-benar mengejutkan,” ujarnya sambil masih terpesona.

Kyuhyun terkekeh dan melangkah mendekati gadis itu. “Aku masih punya kejutan yang lain. Tutup matamu.” Gyeoul pun menurut. Dia mengantisipasi apa yang akan Kyuhyun berikan padanya. “Kau siap?” tanya Kyuhyun. Gyeoul mengangguk mantap. Dia merasakan seluruh tubuhnya menegang menunggu kejutan lainnya. Sebuket bunga kah? Sebuah boneka jumbo dengan bentuk hati? Dia sudah tak sabar. Kemudian, dimulai dari bibirnya, sesuatu yang hangat tengah menjalar perlahan hingga ke seluruh tubuhnya. Lalu, kehangatannya, bertahan di satu titik. Pada kedua bibirnya. Sontak, dia membuka mata dan menemukan wajah Kyuhyun tepat di depan hidungnya. Kyuhyun menciumnya! Tapi aneh, Gyeoul tidak memberontak. Dia membiarkan lengan Kyuhyun membalut pinggangnya, semakin erat dan erat. Beberapa detik kemudian, Kyuhyun menyudahi ciumannya. Dia tersenyum nakal pada Gyeoul. “Jadi, kau menyukai kejutanku yang satu ini?” tanyanya. Dengan pipi merah merona, Gyeoul mengangguk. “Kalau begitu, satu kali lagi!” seru Kyuhyun bersemangat.

“Tidak! Cukup sekali. Dasar genit!” Gyeoul mendorong dada Kyuhyun dan berusaha menjauhkan wajahnya sejauh mungkin dari wajah pemuda itu.

“Ayolah, satu kaliii…” rengek Kyuhyun.

“Tidak! Menjauh!” Belum sempat Kyuhyun menjauh, Gyeoul sudah menyerangnya dengan segenggam bola salju. “Aku Gyeoul, putri salju. Akan kuserang kau dengan salju jika berani mendekat lagi!” gertaknya.

“Ya! Kau ingin perang? Baiklah.” Kyuhyun pun bersiap dengan bola saljunya. Mereka pun saling melempar bola salju hingga tak menyadari bahwa Eunsa dan Hyena tengah memandang mereka dari tangga.

“Senangnya…” kata Hyena sambil tersenyum.

“Aku juga ingin punya pacar setampan dia,” ujar Eunsa berangan-angan.

“Ya, Eunsa-ah! Apa kau memperhatikan kelas sebelah akhir-akhir ini?” tanya Hyena mengganti topik.

Eunsa menggeleng. “Memangnya ada apa di sana?”

“Ada dua cowok imut di sana!” Hyena hampir saja memekik, tapi dia segera bungkam.

“Jinjja?” Eunsa terbelalak. Cowok imut memang selalu membuat panca indranya awas.

“Bagaimana kalau kita dekati mereka sebelum keduluan cewek lain?” usulnya.

“Setuju.” Eunsa mengangguk girang dan mereka pun pergi memperjuangkan cowok imut mereka masing-masing.

 

The End


[1] Ayo pergi

[2] Aku berjanji

[3] Sangat imut!

[4] Tolong diterima

Advertisements

3 thoughts on “[Part 2] Lalat Musim Dingin 겨울 비행

  1. neomu choayo……bagus endingnya,,,sumpah lho pas scene gyeoul ngasih kado k hyena trus dy jelasin satu” isi fto knangan mrka,,,eomma nangis,,,asliiii…gtw knp deh klo uda sola shbat sk gmpang bgt terharu,,jd inget shbat eomma jg,,bertiga jg lagi..huhuh…kangeeeeen ddeh…yg satu uda nikah,,tnggal eomma sm tmn yg satu lg…..*eh malah curcol

  2. AUTHOOORRR…SUMPEH SAYA NANGIS SMPE PUSING.
    Udh gg tau mw ngomong apa lgi.Kisah prsahabatan diatas udh nyaris sama sm kisah prshbtn aqu.Wlwpun gg pke ngunjukin foto2 knngn kyk di atas n awal prmasalahannya jg gg sama seh.
    Tpi author,,bliin aqu tisu sama obat pusing ya,author baik deh.*bltak*

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s