[Prolog] Psycho’s Theater and Obsession

Author : vanflamighty (@vanflaminkey91)
Genre : AU, romance, tragedy, angst, family, friendship
Length : chapter
Rating : PG
Main cast :

  • Kim Key SHINee
  • Han Nayoung (OC)

Support cast :

  • Cho Kyuhyun SJ
  • Choi Minho SHINee
  • Kwon Rihye (OC)
  • Choi Seoyoon (OC)

Other cast : bertambah sesuai alur ^^
Disclaimer : claimed by ME (@vanflaminkey91). Claimed this by you = illegal.
P.S : full remake from “Psycho’s Theater and Obsession”. View the original story (before remake) here : PROLOG (old version) chapt 1 chapt 2 chapt 3 (link ini buat yang ada di blogku ya, soalnya aku belum pernah publish cerita yang sebelum remakenya di sini, dan ingat, diriku author aslinya. Merasa milikmu? Ngomong di Twitter! Tak ladenin dengan kekuatan ke-frontalan saya LOL)

. . .

Ia bisa mendengar perempuan itu menjerit sambil menangis. Matanya menyipit, sangat menyipit. Tapi, dia hanya bisa diam di sana sambil menatap sosok perempuan manis berkuncir dua itu menjauh darinya. Perempuan itu menangis, tapi tampaknya tak ada yang peduli.

Mereka tetap menyeretnya menjauh dari sana, meninggalkan pria kecil ini dengan tatapan berlumuran luka.

Ia tak peduli meski lingkaran api mengurungnya di tengah rumah. Matanya masih terpaku lurus menembus pagar api, tepatnya keluar pintu. Perempuan itu hilang ditelan sebuah limousine hitam. Sebelum limousine itu pergi, pria kecil ini melihat orang yang lebih tua tersenyum kepadanya. Entah apa maksud senyum itu.

Limousine itu hilang dan kobaran api semakin membesar. Dia tak berbuat banyak. Hanya berdiri di sana memandangi tubuh ayahnya yang terkapar tak berdaya di hadapannya – tanpa nyawa.

Beberapa detik kemudian ia merasakan seseorang menarik lengannya dan mereka berlari menembus celah api. Anak itu tetap diam tanpa kata. Ingin menangis dan berteriak bahwa dia tak mau meninggalkan ayahnya dan membiarkannya terbakar hangus, tapi tak bisa.

Akhirnya ia hanya berdiri memandangi rumahnya yang perlahan mulai runtuh dilalap jago merah. Melihati tetangga yang sibuk memadamkannya.

Terlambat. Ayahnya tak terselamatkan.

Dan genggaman sahabatnya yang berjenis kelamin sama dengannya itulah yang membuatnya kuat. Tapi, ia melepaskannya kemudian berlari menerobos kerumunan orang-orang.

Ia berjanji, akan membalaskan dendamnya…

Psycho’s Theater and Obsession
[New Remake] PROLOG | ©2012 by @vanflaminkey91

“KEY!! ARRGH!”

Key berjalan santai di tengah koridor sambil tersenyum dingin menanggapi teriakan para fansnya di sekolah. Oh, yeah, posisinya sebagai ketua OSIS dan pria ‘idola sekolah’ yang paling digemari ini tak usah diragukan lagi. Ini tahun ketiganya bersekolah di Seoul Art and Music School.

Prestasinya luar biasa. Di bidang akademik maupun sikap. Dia juara umum, tapi brandalan. Sangat brandalan.

Gurupun dilawannya, dengan alasan bahwa dia punya otak meski dia brandalan. Tidak ada satupun guru yang memungkirinya. Dia memang cemerlang.

“KEY! KEY!”

Key menoleh kepada salah seorang gadis yang baru meneriaki namanya dengan semangat. Ia mengecup jari telunjuk dan tengahnya, kemudian meniupnya ke arah gadis tadi. Perempuan itu menjerit histeris, kemudian pingsan.

Key tersenyum simpul. Benar-benar menyenangkan saat kau menjadi idola dan mendengar mereka memanggil namamu dengan penuh damba.

Rihye, perempuan berok mini itu berjalan mendekati Key. Rambutnya panjang bergelombang. Wajahnya blasteran Jepang China karena memang orang tuanya keturunan dua bangsa itu. Siapa yang tak tahu Kwon Rihye? Kekasih dari sang ‘raja’ sekolah.

Key tersenyum melihat wanita itu menghampirinya. Ia menarik pinggang langsingnya, kemudian mengecup bibirnya sekilas. Adegan yang membuat suasana lebih riuh dari pasar. Guru? Mana ada guru yang berani membubarkannya? Sejak orang tua Key membeli sekolah ini dua tahun yang lalu, Key selalu semena-mena, walau soal akademis ia tak pernah sembrono.

Pria bermata tajam itu menjauhkan wajahnya kemudian mendapati Rihye tengah tersenyum kecil kepadanya.

Key langsung menarik tangan Rihye menjauhi kerumunan siswi-siswi itu. Seolah-olah membutuhkan privasi sehingga mereka tak membuntuti pasangan populer itu.

***

Nayoung menekuk wajahnya.

Seoyoon tertawa keras menertawainya. Wajah Nayoung benar-benar lucu.

“Ya! Kau masih saja ilfeel dengan Key, huh? Maklumlah dia begitu, banyak sekali kemampuan yang dimilikinya. Ia punya nilai plus yang tinggi,” ucap Seoyoon sambil menggeser duduknya sehingga Nayoung duduk di tempat bekas Seoyoon.

Nayoung tak menjawab. Ia membanting tasnya ke atas meja kemudian menghela nafas. Sejak masuk ke sekolah ini, dia sudah tak suka dengan Key. Padahal kenal dan bicara saja tidak pernah. Ia merasa bahwa Key terlalu freak dan… menyebalkan.

“Sudahlah, lebih baik kau tenangkan dirimu.” Seoyoon (dengan lancangnya) menarik tas Nayoung, kemudian mengubek-ngubek isinya. Berbagai benda ditemukannya selain buku pelajaran. Ada sisir, buku diary, cermin lipat kecil, dompet…

“Kau terlihat seperti maling,” gerutu Nayoung merebut kembali tasnya. “Aku akan membeli minum, tak usah kau cari minum di tasku. Aku tak membawa air minum,” ucap Nayoung ketus. Seoyoon mengangguk-angguk.

“Dasar sentimental,” ledek Seoyoon sambil terkikik.

***

“Kamsahamnida,” ucap Nayoung setelah menerima dua botol air mineral yang baru saja dibelinya dengan uang pas. Gadis itu kemudian berbalik dengan santai. Rambut panjangnya bergoyang lembut mengikuti irama langkah kakinya.

Saat melewati meja kantin yang diisi teman-temannya, Nayoung bertegur sapa dengan mereka sekilas.

“Young-ah! Tali sepatumu!” Salah satu dari mereka berteriak mengingatkan. Nayoung melirik sepatunya tanpa memperlambat atau menghentikan langkahnya.  Ah, talinya lepas.

Entah sedang sial, entah sedang tidak beruntung.

Karena begitu hendak berhenti untuk berjongkok membetulkan tali sepatunya, ia merasakan seseorang menabraknya hingga terjajar mundur.

“Punya mata tidak, sih?” Suara tinggi nan menyebalkan (bagi Nayoung) terdengar melengking di sana. Nayoung melirik si pemilik suara dan mendesah berat. Rihye.

Nayoung memutar bola matanya, kemudian melangkah hendak pergi meninggalkan Rihye. Tapi, tangannya sudah ditarik seseorang. Auranya tidak enak. Cengkeramannya begitu dingin.

Dan Nayoung harus kembali mengeluh lewat hentakan nafas saat mendapati pria yang paling dihindarinya selama tiga tahun ini mencengkeramnya.

“Lepaskan,” ucapnya dingin. Membuat keributan yang biasa terdengar di kantin langsung berhenti, sunyi dan senyap. Hampir semua memandang ke arah ketiga orang ini. Satu orang yang tidak menonjol melawan orang-orang terkenal?

“Yeobo~~” rengek Rihye kepada Key yang masih memfokuskan pandangannya tepat di mata Nayoung. Tatapannya benar-benar terasa tajam buat Nayoung, tapi dia tak peduli. Dia muak dengan pria sok ini, apalagi saat Rihye merengek tadi. Freak.

“Sepertinya kau gadis berani,” ucap Key sedingin es. Wajahnya nyaris tak mengandung emosi apapun, sampai Nayoung agak ngeri dibuatnya.

“Lepaskan tanganmu,” kata Nayoung lagi. Tatapannya mengandung kebencian tak beralasan. Tidak memperdulikan rasa gugup yang menggelayut di hatinya. Key tersenyum tipis. Matanya berlumur cahaya penuh arti.

“Oh, namamu Han Nayoung,” ucap Key sambil membaca name tag di bagian kiri seragam Nayoung. Nayoung sama sekali tak menjawab. Tak sudi.

Untunglah ponsel Key berteriak nyaring di saat yang tepat. Pria itu langsung merogoh sakunya dengan tangan kiri. Menemukan sebuah nama yang membuatnya segera melepaskan tangan kanannya dari pergelangan tangan Nayoung.

“Baik, kita bertemu besok. Lihat saja siapa pengecutnya, Kyuhyun-ssi.”

Nayoung langsung mengambil langkah seribu saat Key berbicara di telepon. Rihye tak mencegah, ia sibuk menatap wajah kekasihnya. Merasa bagaikan ratu yang bahagia menerima lamaran raja.

Nayoung menunduk selama berjalan menuju ke kelasnya kembali. Entah kenapa, ia merasa pernah melihat tatapan serupa.

***

“Nanti malam aku jemput, Honey,” ucap Key sambil mengecup puncak kepala Rihye. Wanita itu mengangguk semangat kemudian melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam kelas. Key tersenyum kecil, kemudian berjalan cepat meninggalkan kelas Rihye.

Lelaki ini tidak lagi tersenyum. Bibir tipisnya bahkan tak membentuk segurat senyum maupun lengkungan cemberut. Tidak ada. Datar saja. Tatapannya pun sedingin es. Entah kenapa hampir seluruh murid menyukainya.

Key membuka ruang arsip dengan gerakan tidak sabaran.

Di sana ada temannya yang sedang menjaga ruang arsip. Tanpa buang waktu, Key langsung mendekatinya.

“Tolong kau cari siswi bernama Han Nayoung di sini. Aku mau tahu di mana kelasnya.”

***

Rihye menatap kedua bola mata Key yang tengah menatapnya dalam jarak sangat dekat dan menikmati ketika tangan Key membelai pipinya lembut, lalu kemudian merasakan bibir namja itu menyapu bibirnya lembut. Melupakan kenyataan bahwa Key hanya mempermainkannya. Ia tahu Key tak mencintainya, tetapi saat ada kesempatan begini, dimanfaatkan saja, eoh?

Mereka sedang ‘mojok’ di halaman belakang sekolah yang sepi. Bersender di tembok merupakan pose yang menjadi menarik karena adegan kisseu itu.

“Key, apakah kau pernah melakukan yang ‘lebih’?” tanya Rihye, membuat Key sontak menjauhi wajahnya dan menatap dengan pandangan yang tak dapat diartikan dengan mudah.

“Anhi… aku belum pernah dan tidak akan pernah, meski aku bisa dibilang bisa saja…” balas Key sambil mengerling nakal. Rihye tertawa kecil.

“Wae, Key?” tanya Rihye setelah tertawa.

Key tertegun, ia ingat alasannya tidak pernah mau melakukan lebih. Ia ingat akan janjinya kepada seseorang… karenanya, ia hanya menggeleng, tak mau melukai hatinya.

“Ada alasan tersendiri, Rihye.ya…” bisik Key tepat di telinga Rihye, tangannya mengusap pipi Rihye lembut.

Yeah, alasan tersendiri yang terlalu menyakitkan dan membuatnya tidak sanggup menahan sakit hatinya tersebut.

Rihye tersenyum lagi. Ia menggenggam tangan Key yang masih mengusap pipinya, kemudian mencium pria itu sekali lagi, “Ayo, antarkan aku pulang, Baby.”

***

Nayoung berjalan kaki. Maklumlah, keluarganya hanya keluarga sederhana yang hidup dari penghasilan berjualan ramen. Meski tidak bisa dibilang miskin, mereka keluarga penganut hidup hemat. Jadi, jarak sekolah Nayoung dan rumah mereka yang dekat menjadi alasan untuk Nayoung tidak menggunakan kendaraan umum.

Gadis itu berjalan sambil memeluk sebuah map berisi dokumen tugas sekolahnya. Tak memedulikan keadaan sekitar. Otaknya sibuk mencerna arti tatapan Key di kantin tadi. Seperti mengalami déjà vu.

Nayoung menggelengkan kepala. Untuk apa memikirkannya? Toh ia punya masalah lain yang lebih berguna ketimbang –…

Crass!

Sebuah jaguar silver melewatinya dan roda-rodanya menggilas genangan air. Nayoung kontan menghindar, walau usahanya sia-sia. Roknya kotor dan sebagian seragam atasnya lebih kotor lagi.

“HEI!” teriak gadis itu sekuatnya. Jaguar yang bergerak dengan kecepatan sedang itu rupanya langsung berhenti. Yakin, pengemudinya terus memerhatikan gerak-gerik Nayoung dari TL.  Perlahan, mobil mewah itu mundur hingga tepat berada di depan batang hidung Nayoung.

Pintu dari bagian kanan terbuka. Pengemudinya menyembulkan kepala, kemudian keluar dari mobil. Membanting pintunya cukup keras. Ia melirik Nayoung, kemudian berjalan mendekatinya sambil membuka kacamata hitam yang bertengger di mata kucingnya.

“Kau jangan sombong! Baru punya Jaguar saja sudah…” Ucapan gadis yang tengah meledak itu terhenti begitu Key menempelkan telunjuknya di tengah bibir tipis Nayoung.

“Memang kau bisa membeli Jaguar?” Suaranya terdengar melecehkan. Kurang ajar.

“Tidak, tapi aku tak peduli,” balas Nayoung ketus.

Key tertawa. Terdengar menyebalkan untuk Nayoung. Pria itu kemudian mundur dua langkah dan membungkukkan badan nyaris sembilan puluh derajat. Ala pengawal kepada seorang putri.

“Mianhamnida, Miss Han yang cantik,” ucap Key sambil tersenyum.

“KAU!” teriak Nayoung menunjuk Key tepat di hidungnya. Key tertawa kecil kemudian segera merubah ekspresi wajahnya menjadi datar, tidak ada bekas ia habis tertawa. Perubahan wajahnya drastis.

Key mencengkeram pergelangan tangan yeoja itu dan mendekatkan mulutnya ke telinga Nayoung yang langsung merah mendengarnya, “Aku tak suka dibentak orang asing. Sebaiknya kau tunggu tanggal mainnya, Baby~” ucapnya dengan penekanan. Key tersenyum, menepuk bahu yeoja itu sebelum meninggalkannya dengan Jaguar mewah appa.

***

“Aku berjanji, aku akan menikah denganmu. Hanya denganmu.” Perempuan cilik itu menyodorkan kelingkingnya. Teman lelakinya yang juga cilik itu menautkan kelingkingnya. Mereka saling menukar senyum.

“Sepertinya menikah itu menyenangkan. Main rumah-rumahan, benar?” kata lelaki kecil berwajah lucu dengan mata yang indah itu.

Perempuan tadi tersenyum, “Iya. Makanya kita akan main itu nanti. Aku gak ngerti kenapa kita harus dewasa dulu, tapi baiklah~ daripada salah, benar?”

“Kekeke, kau benar.”

To be continued.

***

Monggo kalau suka dikomentar ^^

Advertisements

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s