EXO Helping Earth (Chapter 1)

Title : EXO Helping Earth

Sub Title : EXO is Coming

Author : Rei

Cast :

  • Member EXO
  • Zen Sang Hi

Genre : Fantasy, Friendship

Length : Chapter

Rated : PG-13

Credit poster : http://chocolatevanillalate.wordpress.com

Author’s Note : Halo semuanya! Author Light/Rei kembali dengan membawakan FF baru. Genrenya masih fantasi. Pingin buat yg romance, tapi nggak begitu bisa. Langsung ancur : (. Oh ya, FF ini pernah dipublish di EXO Fanfiction, tapi dengan nama author beda (Aeru). Oke, langsung aja,

Happy Reading!!

///

Seperti yang diceritakan, Planet EXO adalah planet yang dihuni oleh manusia, sama seperti bumi. Hanya saja, mereka memiliki kekuatan unik. Sebagian besar orang hanya menganggapnya sebagai dongeng anak-anak. Tapi siapa sangka kalau ternyata Planet EXO itu benar-benar ada. Kuulangi, benar-benar ada.

Planet EXO ini dibagi menjadi dua kubu, EXO-K dan EXO-M. Pemimpin EXO-K saat ini adalah Suho, dan pemimpin EXO-M saat ini adalah Kris.

 

EXO-K generasi sekarang memiliki enam anggota. Kim Joon Myeon –yang lebih akrab dipanggil Suho–, Byun Baek Hyun –yang lebih akrab dipanggil Baekhyun–, Park Chanyeol –yang lebih akrab dipanggil Chanyeol–, Do Kyung Soo –yang lebih akrab dipanggil DO–, Kim Jong In –yang lebih akrab dipanggil Kai–, dan Oh Se Hoon –yang lebih akrab dipanggil Sehun–.

EXO-M generasi sekarang juga memiliki enam anggota. Kim Min Seok –yang lebih akrab dipanggil Xiumin–, Xi Lu Han –yang lebih akrab dipanggil Luhan–, Wu Yi Fan –yang lebih akrab dipanggil Kris–, Zhang Yi Xing –yang lebih akrab dipanggil Lay–, Kim Jong Dae –yang lebih akrab dipanggil Chen–, dan Huang Zhi Tao –yang lebih akrab dipanggil Tao–.

Tadi sudah kukatakan kalau setiap penghuni Planet EXO memiliki kekuatan unik. Aku akan memberitahu kalian tentang ini. Dimulai dari Suho. Ia memiliki kekuatan untuk mengendalikan air. Jadi, jika kalian butuh air saat terjadi kekeringan atau kebakaran, mintalah bantuan pada Suho. Dia akan membantu kalian dengan kekuaan yang dimilikinya.

Baekhyun memiliki kekuatan cahaya. Pasti banyak dari kalian yang menganggap bahwa kekuatan Baekhyun sangat remeh. Tapi jangan terlalu lama berpikiran seperti itu. Bagaimana bisa kalian hidup tanpa cahaya? Nah, kalau kalian tidak ingin semua lampu di dunia mati hanya karena membuat Baekhyun marah, berhentilah menganggap remeh kekuatannya.

Chanyeol adalah pengendali api. Kalau kalian kehabisan bahan bakar untuk memasak, memanaskan air, menyalakan perapian, dan semua kebutuhan yang berhubungan dengan api, hubungilah Chanyeol. Karena ia orang yang baik, ia pasti akan membantu kalian. Tapi jangan menyalahkannya jika ia terlalu lepas kontrol sehingga menyebabkan kejadian yang tidak kalian inginkan.

DO adalah pengendali tanah. Hati-hati jika berada di dekatnya saat ia marah. Karena sekali dia melangkah, dia bisa membuat daerah di sekitarnya terjadi gempa. Skalanya memang kecil. Tapi jika kalian berada di dekatnya, guncangannya pasti akan sangat terasa. Jadi, jangan sekali-kali membuatnya marah. Oke?

Sekarang beralih ke Kai. Kekuatannya adalah teleportasi. Mungkin banyak dari kalian yang iri pada kekuatan Kai, terutama para pencuri. Apalagi yang masih amatir. Tapi jangan hanya lihat sisi buruknya saja. Ada juga sisi baiknya. Yaitu untuk menghemat bahan bakar kendaraan yang akhir-akhir ini semakin menipis. Karena itulah, jika kalian ingin berhemat, panggillah Kai untuk mengantar kalian sampai tujuan.

Kekuatan Sehun adalah angin. Sekilas, kekuatan Sehun terlihat mengerikan. Coba kalian pikirkan. Jika dia mendadak merasa marah dan melampiaskannya dengan membuat angin tornado, itu sangat mengerikan, bukan? (Sehun : Hya! Jangan menjelek-jelekkan diriku!). Tapi, kalau kita pikir sekali lagi, kekuatan Sehun sangatlah berguna dan juga dibutuhkan. Untuk menggerakkan kincir angin, mungkin?

Baiklah, kembali ke topik. Sekarang, kita akan membahas tentang kekuatan anggota EXO-M.

Anggota kubu dua, EXO-M, juga memiliki kekuatan unik, yang tentunya tidak kalah keren dari yang dimiliki kubu satu, EXO-K. Xiumin memiliki kekuatan untuk membuat es. Aaa, sepertinya kamu harus berhati-hati jika bersamanya. Bisa-bisa, dia tidak sengaja menyentuh tanganmu dan membuatmu membeku.

Luhan memiliki kekuatan psikokinesis atau telekinesis. Jadi, Luhan bisa membuat benda yang ada di sekelilingnya bergerak hanya dengan kekuatan pikiran. Dia juga bisa membaca pikiran orang lain. Orang-orang biasa menyebutnya kekuatan untuk membaca pikiran ini dengan telepati.

Kekuatan Kris adalah terbang. Tapi ia juga mempunyai kekuatan untuk mengeluarkan api, sama seperti Chanyeol. Dia bisa melakukannya karena ia berteman dengan naga. Baiklah. Karena aku tidak terlalu bisa menjelaskan kekuatan Kris (yang pasti dia sangat hebat dalam terbang, memimpin, dan berurusan dengan naga), kita lanjut ke anggota berikutnya.

Lay memiliki kekuatan untuk menghidupkan/menyembuhkan. Tapi ada pengecualian untuk kekuatannya dalam menghidupkan. Ia hanya bisa melakukannya pada hewan dan tumbuhan. Sedangkan untuk menyembuhkan, ia bisa melakukannya pada setiap makhluk.

Kekuatan yang dimiliki Chen adalah petir. Untung saja Chen ini orangnya sangat baik dan pengertian, meskipun terkadang dia keras kepala. Kalau saja ia memiliki sifat keras kepala secara permanen, entah bagaimana nasib manusia bumi (planet lain tidak kusebutkan karena di sana tidak ada kehidupan) yang selalu melihat petir menyambar saat Chen marah atau berdebat dengan seseorang.

Tao memiliki kekuatan yang cukup menakutkan, yaitu pengendalian waktu. Bagaimana tidak mengerikan. Coba saja bayangkan saja jika ia membolak-balikkan waktu saat kalian mengalami kejadian memalukan. Misalnya celana kalian melorot di depan umum. Itu benar-benar mengerikan, bukan? Tapi, yah, karena dia anak yang imut dan sangat baik, kurasa ia tidak akan melakukan itu.

Pembahasan kekuatan mereka cukup sampai di sini. Kita akan beralih pada apa yang sedang mereka lakukan.

Saat ini, kedua kubu sedang mengadakan pertemuan di perbatasan. Xiumin sudah membuatkan mereka ruangan luas yang cukup ditempati dua belas orang menggunakan kekuatan esnya. Tentu saja suhu di sana tidak rendah, tapi biasa-biasa saja. Meskipun Chanyeol sempat beberapa kali hampir membuat ruang jadi-jadian itu meleleh, sepertinya tidak ada masalah lain yang bisa membuat pertemuan mereka terganggu.

Yang pertama angkat bicara setelah sunyi beberapa saat adalah Suho dari EXO-K. “Aku mendengar suara manusia yang meminta tolong pada kita. Sudah lama sejak terakhir kali ada manusia yang melakukannya. Sekitar pertengahan generasi yang lalu, mungkin?”

Anggota yang lain berbisik-bisik setelah mendengar informasi dari Suho. Ada yang memasang ekspresi senang, ada yang memasang ekspresi khawatir, dan ada juga yang memasang ekspresi tak bisa ditebak.

Kris mengangkat tangan, membuat suasana kembali tenang. “Siapa manusia itu?”, tanya Kris. “Seorang yeoja berumur enam belas tahun. Murid kelas tiga di HannyoungHigh School, bernama Zen Sang Hi. Putri dari Zen Jin Kyu dan Shin Hae Mi”, jelas Suho secara mendetail.

Bisik-bisik mulai terdengar lagi di ruang pertemuan ini. “Lalu, apakah kita akan benar-benar pergi ke bumi?”, tanya Kai. Suho mengangguk. Senyuman terpampang di wajahnya. Sepertinya dia senang sekali dengan keadaan ini.

“Aku tidak sabar untuk ke bumi lagi”, gumam Sehun dan Lay bersamaan. Tao yang duduk di samping mereka berdua menggumam setuju.

Mendadak, Baekhyun mengangkat tangan, dan perhatian yang lain tertuju padanya. “Kapan kita berangkat ke bumi?”, tanyanya. Sebelum Suho menjawab, DO menyela, “Sebaiknya kita awasi dulu manusia itu. Setelah kita mengetahui tentangnya, baru kita ke sana.”

“DO benar. Kita harus berhati-hati, mengingat sekarang ini banyak sekali manusia yang tidak bisa dipercaya”, timpal Chen. Penghuni Planet EXO yang semula sangat senang karena mereka bisa datang ke bumi lagi –Baekhyun, Lay, Tao, Suho, dan Sehun–, merasa sedikit kecewa dengan usulan Chen. Tapi mereka tidak bisa berbuat sesuka hati, terutama Suho. Perkataan Chen dan DO ada benarnya.

“Baiklah. Dengan begini, diputuskan bahwa kita akan pergi ke bumi setelah mengetahui gerak-gerik para manusia sekarang ini”, kata Kris. Yang lain menggumam setuju. Dengan begini, pertemuan mereka selesai. EXO-K kembali ke kubunya yang berada di sisi kanan Planet EXO, dan EXO-M kembali ke kubunya yang berada di sisi kiri Planet EXO.

~EXO~

Zen Sang Hi, seorang yeoja yang merupakan murid tingkat dua HannyoungHigh School, sedang menatap keluar jendela dengan bosan. Berkali-kali dia menghela napas, mengerlingkan mata ke kanan-kiri, dan mengetuk-ketukkan jarinya di meja. Belum cukup dengan itu, dia ganti memegang tengkuknya dan menggigit bibirnya. “Kenapa aku merasa ada yang mengawasiku?”, gumamnya.

Tentu saja dia tidak mendapat jawaban apa-apa. Selain karena dia sedang berbisik, semua temannya sedang berada di kantin sekarang. Hanya dia yang ada di kelas. Sanghi menghela napas, berusaha menenangkan dirinya.

Dia membuka tasnya, merogoh-rogoh isinya, dan mengeluarkan sebuah novel tebal. Mumpung teman-temannya sedang tidak ada, dia memanfaatkan suasana tenang ini untuk membaca novel. Dan kejadian aneh pun terjadi.

Jendela yang ada di sampingnya terbuka, perlahan-lahan. Sanghi melihatnya dari sudut matanya. Awalnya ia mengira itu terjadi karena ia lupa mengunci jendelanya. Tapi sebagian dari dirinya menyangkal teori itu. Tadi sewaktu dia melihat keluar jendela, dia sama sekali tidak membuka kunci jendela, dan ia yakin seratus persen jendelanya tertutup rapat.

Oke, dia mulai takut sekarang. Dia memang bukan tipe yang percaya hantu. Tapi siapa yang tidak takut jika mendadak mengalami kejadian seperti ini? “Apa mungkin ada seseorang sepertiku?”, gumamnya. Dia memajukan kepalanya, berusaha melihat apakah ada seseorang yang melakukan tindakan aneh. Tapi dia tidak menemukan apa yang dicarinya.

Sepertinya aku perlu menjelaskan sedikit tentang ini. Sanghi memiliki kekuatan mistis yang bisa membuatnya bebas mengeluarkan tulang sesuka hatinya. Ini memang menguntungkan karena bisa melindungi diri, meskipun ia tidak memiliki kemampuan bela diri. Tapi dia sering merasa kalau dia adalah monster yang menyusup ke kehidupan manusia, dan dia tidak suka perasaan seperti itu.

Jendela terbuka beberapa senti dengan suara keras. Semilir angin masuk ke kelas, dan udara berdenyar di hadapannya. Dia mengira ini semacam pesan iris seperti yang ada di novel yang sedang dibacanya, Percy Jackson and the Olympians. Tidak mungkin. Pikirkan sesuatu yang lebih keren, katanya dalam hati.

Wajah seseorang mulai terbentuk. Awalnya, Sanghi mengira itu wajah seorang yeoja, karena wajahnya imut sekali. Tapi setelah dilihat secara seksama, ternyata itu adalah wajah seorang namja.

Kening namja itu –Luhan dari Planet EXO bagian EXO-M– mengerut saat melihat reaksi Sanghi, melongo menatapnya, tapi tanpa menjerit-jerit dan terkejut berlebihan. Tidak menyadari ekspresi Luhan, dengan polosnya Sanghi bertanya, “Siapa kamu?” Kerutan di kening Luhan menghilang, digantikan dengan ekspresi terkejut.

“Kamu … tidak terkejut melihatku?”, tanyanya. Dari buku yang ia baca, manusia memang sangat suka dengan sesuatu yang berbau fantasi. Tapi jika mereka mengalaminya secara langsung, misalnya ketika berjalan sendirian saat gelap dan tiba-tiba ada bayangan yang lewat, mereka selalu merasa terkejut atau ketakutan.

Fakta itu sungguh berlainan dengan yang dilakukan Sanghi saat ini. Dia sama sekali tidak terkejut berlebihan alias heboh saat Luhan muncul di hadapannya. “Tentu saja aku tidak terkejut. Aku sudah banyak melihat kejadian aneh sebelum ini”, balas Sanghi.

Satu lagi yang perlu kalian tahu. Selama beberapa bulan terakhir ini, banyak sekali orang-orang aneh yang menemui Sanghi. Dan yang menakutkan adalah mereka bisa berganti wujud dari manusia menjadi hewan, dan hal-hal semacam itu. Tapi untung saja ia bisa melindungi dirinya dari mereka, meskipun harus menggunakan kekuatan anehnya yang sangat ia benci.

Luhan menghela napas. “Namaku Luhan. Aku berasal dari Planet EXO”, katanya.

Luhan berpikir kalau reaksi Sanghi sama seperti tadi, tidak terkejut sama sekali. Dan Luhan juga berpikir kalau Sanghi pasti tidak akan mempercayai perkataannya, bahwa ia berasal dari Planet EXO, dengan mudah. Bisa saja ia beranggapan kalau pantulan wajah Luhan ini merupakan hasil dari wajah seseorang yang dipantulkan dengan cermin dan cahaya. Ia bahkan bisa membayangkan reaksi Sanghi yang tertawa terpingkal-pingkal.

Tapi dugaannya meleset. Sanghi menjatuhkan novelnya sehingga menyebabkan bunyi berdebum di lantai, mulutnya menganga, matanya membelalak, dan menatap Luhan dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. “Kamu … kamu pahlawan dari Planet EXO?”, bisik Sanghi setelah beberapa saat suasana hening. Pahlawan? Luhan terlihat ragu-ragu sebentar, kemudian mengangguk.

Sanghi segera membuka risleting tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah buku tebal yang sampulnya sudah sobek di sana sini, tapi masih bisa dibilang bagus untuk ukuran buku setua itu.

Dia membuka lembaran buku itu dengan hati-hati, takut kalau dia akan membuat lembarannya sobek karena terlalu keras membaliknya. Dan ia pun berhenti di lembaran yang terdapat tulisan ‘Xi Lu Han EXO-M’. “Wajahmu lebih tampan dari gambar ini”, katanya.

Jarinya menyusuri permukaan kertas yang berisi gambar seorang namja yang mirip dengan Luhan. Dia melirik Luhan melalui sudut matanya, melihat reaksi Luhan akan perkataannya tadi. Mungkin saja ia marah dan akan meledakkan Sanghi menjadi berjuta keping. Tapi yang ia lihat adalah wajah datar Luhan. Syukurlah kamu selamat, nak.

Suasana kembali hening. Baik Luhan maupun Sanghi, tidak ada yang berbicara. Luhan masih sibuk memikirkan apa yang akan dibicarakannya, sedangkan Sanghi masih sibuk membandingkan wajah Luhan dengan gambar yang ada di buku miliknya. “Kenapa kamu memanggil kami?”, tanya Luhan memecah keheningan.

Perhatian Sanghi teralih dari bukunya. Dia menggembungkan dan mengempiskan pipinya sebelum menjawab, “Aku ingin menjadi manusia biasa.” Dia mendongak menatap pesan udara yang menampakkan wajah Luhan. Matanya tetap menampakkan tatapan jenaka, tapi ada air mata yang menggenang di sana. “Bisakah kalian mengambil kekuatanku?”

“Kekuatanmu?”, tanya Luhan. Sanghi mengangguk. Dia mengangkat tangannya ke depan, ke arah Luhan. Kulit ujung jarinya sobek secara perlahan, tapi tidak mengeluarkan darah, dan tulang jarinya pun mencuat keluar.

Luhan terkejut, bayangan dirinya berdenyar sejenak, kemudian jernih kembali. Dia memang sudah diberitahu oleh Suho bahwa Sanghi mempunyai kekuatan aneh. Tapi dia tidak menyangka kalau ini benar-benar nyata.

Terdengar jeritan dari luar keras. Sanghi menoleh ke sumber jeritan dengan tatapan horor, dan ia segera membuat tulang jarinya kembali masuk. Di luar kelas, tepatnya di depan jendela, seorang murid yeoja melihat ke arahnya dengan mata terbelalak.

Menyadari bahwa akan ada bahaya jika murid itu dibiarkan lari, dia bangkit, berusaha mencegah murid itu. Setidaknya, ia bisa membuat murid itu mengira bahwa ia hanya berhalusinasi. Tapi terlambat. Murid itu sudah berlari dan menghilang di balik tikungan. Sanghi hanya bisa duduk dengan lesu di kursinya, membenamkan wajahnya di telapak tangannya.

“Hancur sudah”, bisiknya merana. Luhan hanya bisa melihatnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan keluar dari bayangan itu, dan menolong Sanghi. Dia masih ada di Planet EXO, dan belum ada izin dari pemimpin. Luhan sama sekali tidak bisa membantu.

Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki yang menuju kelas Sanghi. Bayangan Luhan pun berdenyar, dan perlahan-lahan menghilang. Sesaat sebelum Luhan menghilang, Sanghi mendongakkan wajahnya dan memandang Luhan dengan tatapan memohon. Tapi tentu saja itu tidak akan memberi efek apapun.

Rombongan warga sekolah yang sudah diberitahu oleh murid yeoja itu muncul di hadapannya. Seorang guru maju dan menghampiri Sanghi. “Apa itu benar?”, tanyanya. “Apanya yang benar, Seonsaengnim?”, kata Sanghi, balas bertanya. Genangan air di matanya menghilang, dan kilat jail nan jenaka ala Sanghi muncul kembali.

“Kamu bisa mengeluarkan tulang jarimu”, balas guru itu. Sanghi tersenyum, kemudian terkekeh. Guru dan warga sekolah yang ada di belakangnya ngeri melihatnya. “Mengeluarkan tulang? Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri? Lihat. Tanganku tidak apa-apa, Jung Seonsaengnim.” Sanghi mengangkat tangannya, dan membolak-balikkan telapak tangannya. “Lagipula, itu, kan, hanya dongeng.”

Rombongan guru dan murid itu bubar setelah Sanghi menjelaskan bahwa murid yeoja itu pasti sedang mengalami masalah sehingga berhalusinasi, dan betapa tidak mungkinnya hal yang dikatakannya. Sanghi pun menghela napas lega. Dalam hati ia berkata, Untuk apa aku meminta bantuan alien dari EXO? Aku bahkan bisa melindungi diriku meskipun tidak ada mereka.

~EXO~

Sudah seminggu sejak saat Luhan menemui Sanghi melalui pesan iris (Sanghi memutuskan untuk menyebutnya begitu). Dan selama itu, Luhan, maupun kesebelas penghuni Planet EXO lainnya, tidak pernah satu kali pun menampakkan wajah mereka di hadapan Sanghi. Jujur saja, Sanghi merasa sedikit kesepian karenanya.

Berhubung sekarang adalah hari Minggu, Sanghi bisa bermalas-malasan di kamarnya sekaligus menghilangkan beban pikirannya. Baik tentang pelajaran, teman-temannya yang selalu mendesaknya untuk membantu mereka menyelesaikan masalah, dan tentu saja tentang kekuatan anehnya.

Setelah mandi dan berpakaian rapi, dia segera kembali ke kamarnya. Dia sengaja menutup rapat semua jendela, menutup tirai, mengunci semua pintu rumahnya, dan mengisi kulkasnya dengan banyak makanan, supaya ia bisa berada di kamarnya selama seharian penuh. Ah, dan ia juga membawa novel serta buku pelajaran miliknya ke kamar.

Dia menatap kamarnya dengan puas. “Dengan begini, aku bisa merasakan tenangnya hari libur”, gumamnya. Dia merebahkan dirinya di ranjang, kemudian memainkan ponselnya. Sudah ada enam panggilan tak terjawab dan tujuh SMS dari temannya. Pasti mereka ingin mengajak Sanghi jalan-jalan. Tanpa terlebih dahulu melihat pesannya, Sanghi menon-aktifkan ponselnya.

“Fiuuh …, rasanya benar-benar lega seperti ini. Tenang, dan damai”, gumamnya. Dia menaikkan selimutnya dan memeluk gulingnya. Angin sepoi-sepoi yang berasal dari lubang ventilasi mini di atas jendela membuatnya mengantuk. Perlahan-lahan, matanya tertutup, dan ia pun tertidur.

Sementara itu, di Planet EXO, Baekhyun sedang membuat kebisingan dengan berteriak-teriak kegirangan. “Yeey!! Kita akan ke bumi! Kita akan pergi ke bumi! Earth! I am coming!”, serunya. Beberapa saat kemudian, dia terkapar di tanah. Xiumin memukulnya tepat di tengkuk. “Berisik!”, geram Xiumin. Yang lainnya pun hanya bisa memandang ini sambil menggelengkan kepala.

Kris memberi isyarat pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk, dan menyulut api. Api itu membentuk sebuah pintu di udara. “Jalan masuk sudah siap”, katanya. Baekhyun masih saja menelungkup di tanah. Tao menariknya, dan Baekhyun pun kembali ke alam sadar.

Suho dan Kris memberi isyarat agar kesembilan anak buah mereka masuk ke pintu. Mereka mengangguk, merapatkan jubah mereka, kemudian melangkah masuk ke pintu itu satu persatu. Setelah kesembilan namja itu masuk, Suho dan Kris menyusul.

Perjalanan mereka ke bumi menggunakan pintu api ajaib buatan Chanyeol menghabiskan cukup banyak waktu –menurut perasaan para namja penghuni Planet EXO ini–. Tapi ternyata, mereka sampai di bumi, tepat di kamar Sanghi, pada jam sebelas pagi. Karena Sanghi tadi tidur pada jam delapan, perjalanan mereka ke bumi hanya memakan waktu tiga jam. Wow, sungguh luar biasa, saudara-saudara!

Kedua belas namja penghuni Planet EXO ini menatap Sanghi dengan pandangan heran. Mereka penasaran kenapa Sanghi masih saja menutup matanya. Padahal, menurut perasaan mereka, tadi mereka muncul di kamar Sanghi dengan efek suara ‘Duaar’ yang cukup keras. Bukan karena mereka mereka meledakkan sesuatu atau apa, tapi itu karena efek perjalanan kilat mereka. Sanghi sama sekali tidak bergeming mendengarnya.

Dia masih saja tertidur, bernafas dengan teratur seakan-akan tidak terjadi apa-apa, dan sesekali tersenyum sehingga membuat kedua belas namja di hadapannya mengerutkan kening. Ada apa dengan orang ini? Itulah yang dipikirkan mereka. Kai maju, mendekat ke tempat Sanghi berada. Dia menjulurkan tangannya, ragu-ragu, ke lengan Sanghi.

“Apa yang akan kamu lakukan?”, tanya Xiumin. ”Aku hanya ingin membangunkannya”, balas Kai.

”Jangan aneh-aneh.”

Yang lainnya mulai memberikan tatapan melarang padanya. ”Tolong nyalakan lampunya”, kata Kai, tidak peduli pada deathglare yang diarahkan padanya. Tidak sampai lima detik setelah Kai mengatakannya, lampu kamar menyala. Luhan yang menyalakannya. ”Terima kasih”, kata Kai. Dengan begini, suasana kamar Sanghi yang sebelumnya remang-remang menjadi terang.

Kai menepuk bahu Sanghi. Lebih keras dari yang diniatkannya, tapi memberi efek. Sanghi langsung terbangun karenanya. Dia mengucek matanya, berusaha melihat orang yang membangunkannya, Kai.

Sekarang, Sanghi sudah bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Kenapa … ada banyak orang di kamarku?, pikirnya. Satu detik, dia masih tidak bereaksi. Dua detik, dia melongo memandang para namja Planet EXO yang ada di hadapannya. Dan di detik ketiga, dia menjerit sekeras-kerasnya.

Hal pertama yang dilakukannya adalah melempar novelnya, mengarah ke wajah Kai. Tapi karena Kai bisa berteleport, tindakan Sanghi itu tentu saja sia-sia. Kai sudah menghilang ke sisi lain ruangan, dan novel yang dilempar Sanghi pun jatuh berdebum ke lantai.

“Kalian ini siapa?! Bagaimana kalian bisa masuk?! Aku sudah mengunci semua pintu!”, jerit Sanghi. Matanya membelalak liar, dan tangannya masih saja bergerak-gerak untuk mencari barang yang berbobot dan memberi efek saat dilempar.

Kedua belas namja yang ada di depannya tentu saja bisa menghindar dari badai lemparan Sanghi dengan mudah. Sanghi benar-benar takut sekarang. Dia selalu bertemu dengan makhluk-makhluk aneh yang menganggunya di ruang yang luas dan terbuka. Itu membuatnya memiliki kesempatan untuk berlari. Tapi saat ini, mereka bertemu di kamar Sanghi yang luas tapi tidak terbuka. Ini benar-benar mimpi buruk baginya.

Memang mudah baginya untuk menyerang mereka dengan kekuatan yang dimilikinya. Tapi dia tidak mau merusak kamarnya dan membuat tetangga tahu tentang kekuatan anehnya. Jadi, ia hanya bisa melakukan sesuatu yang wajah dilakukan manusia saat ada bahaya mengancam. Seperti yang ia lakukan sekarang.

Tapi tekadnya untuk tidak menggunakan kekuatannya itu tidak bertahan lama. Sanghi mulai kesal karena dari tadi serangannya tidak mengenai salah seorang dari kedua belas namja itu. Apalagi, para namja di hadapannya ini tetap memasang wajah tenang dan datar, bukannya merasa ketakutan atau apa.

Dengan sekali loncat, Sanghi turun dari tempat tidurnya dan menerjang Baekhyun, penghuni Planet EXO yang berdiri paling dekat dengannya. Tulang lengannya mencuat, membuat lengannya terlihat seperti gada kerempeng dengan tulang sebagai durinya. Sebelum bisa mencapai Baekhyun, waktu melambat, dan gerakan Sanghi pun terhenti di udara. Baekhyun menghela napas lega. “Hampir saja”, katanya.

Aissh, kamu ini bagaimana. Seharusnya, kamu menyilaukannya dengan cahayamu”, komentar Chen. “Mianhae”, balas Baekhyun, nyengir. Dia menyingkir dari hadapan Sanghi, berjalan sejauh mungkin dari dirinya.

Tao menghentikan pemberhentian waktu, dan tubuh Sanghi mulai bergerak. Kalau saja Luhan tidak menggunakan psikokinesisnya untuk mengentikan gerakan Sanghi –ini berbeda dengan time control Tao–, pasti sekarang ini para tetangga sudah datang berbondong-bondong ke rumah Sanghi karena kaca jendela kamarnya pecah mendadak.

Tubuh Sanghi berbalik ke arah kedua belas namja dari Planet EXO itu dengan kaku. Tulangnya yang mencuat perlahan-lahan masuk kembali ke lengannya. “Luhan-ssi?”, katanya. Dia menatap Luhan yang berada di barisan depan, melongo. Tapi itu tak lama. Dia segera tersenyum lebar. “Jadi kalian benar-benar akan membantuku?”, tanyanya. Tak ada jawaban dari kedua belas orang di hadapannya.

Karena bosan tidak ada yang menjawab pertanyaannya (Sanghi : Kenapa mereka begitu dingin?), dia mengambil satu-satunya buku yang tidak ia lempar, buku tebal yang berisi tentang Planet EXO, pemberian dari mendiang kakeknya. Dia segera membukanya, dan berhenti pada sebuah halaman.

“Apa kamu Kim Joon Myeon, pemimpin EXO-K? Ah, maksudku Suho?”, kata Sanghi sambil menunjuk, tepat ke tempat Suho berdiri.

Dua belas namja yang ada di hadapan Sanghi terkejut. Anak ini bisa menebak dengan benar. Padahal Suho menggunakan jubah yang bertudung, sehingga wajahnya sedikit tertutup. Apalagi ia belum pernah melihat wajah mereka secara langsung sebelum ini. Kalaupun memang pernah, pasti hanya dari gambar. Tapi, kan, gambar tidak akan bisa persis dengan wajah asli.

Mereka mulai berpikir kalau Sanghi adalah penggemar berat mereka, sampai-sampai ia menghafal setiap wajah petinggi EXO. Siapa lagi kalau bukan kedua belas namja itu. Tidak mungkin, kata mereka bersamaan, dalam hati.

“Tak kusangka ternyata nama kalian mirip dengan nama orang Korea dan nama orang China. Apa kalian pernah ke sana?”, tanya Sanghi lagi, berusaha menutupi kecanggungannya setelah pertanyaannya yang pertama tidak dijawab.

Lagi-lagi, tidak ada yang menjawab pertanyaan Sanghi. Kedua belas namja dari Planet EXO ini malah membentuk sebuah formasi, lalu mereka berdiskusi. Sanghi hanya bisa memandang mereka dengan tatapan tidak suka. Apa-apaan mereka ini? Mereka datang secara tiba-tiba di kamarku, menatapku seolah-olah aku ini seorang pengganggu, dan tidak mempedulikanku. Tidak sopan, batinnya.

Akhirnya, perundingan para namja itu selesai. Mereka berbalik dan memandang Sanghi dengan tatapan tajam. Ditatap seperti itu, keringat dingin mulai muncul di tubuh Sanghi. Dia mundur beberapa langkah dari namja-namja yang ada di hadapannya, membungkukkan badan dalam-dalam, kemudian menangkupkan tangannya, memohon.

“Tolong jangan bunuh aku. Aku bahkan belum berumur tujuh belas tahun dan masuk ke universitas yang kuinginkan. Maafkan ketidaksopananku. Aku mohon”, katanya.

Sehun, Chanyeol, Baekhyun, dan Kai berusaha menahan tawa mereka. Sanghi benar-benar polos. “Kami tidak akan membunuhmu, kok. Tenang saja. Kami tadi hanya berunding tentang siapa yang tinggal di sini”, kata Lay. Nadanya sangat riang sehingga perasaan Sanghi mulai tenang secara perlahan-lahan.

Dari wajah kedua belas orang ini, sepertinya Luhan dan Baekhyun lah yang paling bersahabat. Semoga saja mereka yang tinggal, kata Sanghi dalam hati.

“Aku, Baekhyun, Kai, dan Sehun yang akan tinggal. Untuk yang lain, mereka akan mengawasi keadaan bumi dari EXO”, kata Luhan. Sanghi tentu saja senang mendengarnya. Tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya. Apalagi ketika melihat wajah Suho, Chanyeol, Tao, dan Lay yang terlihat sangat kecewa. “Ah, aku sedih kalian semua tidak bisa tinggal”, katanya sambil menggembungkan pipi dan menghela napas.

“Luhan, laksanakan tugasmu dengan baik. Aku memilihmu sebagai ketua, bukan hanya karena kamu adalah yang tertua di antara mereka”, ujar Suho. Luhan mengangguk. “Baik.”

Mendadak, pintu api buatan Chanyeol kembali muncul. Suho, Kris, Xiumin, Chen, DO, Chanyeol, dan Lay masuk ke pintu itu, satu-persatu. Setelah Lay, yang masuk terakhir, menghilang dibalik pintu, pintu api itu meredup kemudian menghilang. Suasana hening. Tidak ada yang berbicara sekarang. “Apa kalian akan tinggal di rumahku?”, tanya Sanghi, memecah keheningan.

Dia bangkit, memutar kunci, kemudian membuka pintu kamarnya. “Karena kami tidak punya kenalan di sini, kami tinggal di sini”, kata Baekhyun dengan nada ceria. Sanghi nyengir. “Baiklah. Kalau begitu, ikut aku”, katanya. Sanghi berjalan keluar kamar, memimpin keempat namja di belakangnya. Karena kamar Sanghi ada di lantai dua dan di sana tidak ada kamar lain, mereka pun turun ke lantai bawah.

Setelah menyusuri beberapa ruangan, sampailah mereka di sebuah kamar. Pintu kamar ini sedikit lebih tinggi dari pintu lain yang ada di rumah Sanghi. Sanghi membukanya, dan terlihatlah ruangan kamar yang luas dan bersih. Ah, dan juga dilengkapi beberapa perlengkapan seperti lemari, rak buku, televisi, dan juga kulkas.

Baekhyun, Kai, dan Sehun menatap kamar ini dengan kagum. Sehun berbalik menghadap Sanghi, kemudian bertanya, “Siapa yang tidur di sini?”

“Yang tidur di sini … hmm, Baekhyun-ssi, dan Kai-ssi. Untukmu, dan Luhan-ssi, kalian akan tidur di kamar atas”, balas Sanghi.

“Maksudku bukan kami. Tapi, siapa keluargamu yang tidur di sini.”

Ekspresi Sanghi menjadi tegang. Dia menelan ludah. Kilatan jail dan jenaka di matanya meredup. Hancur sudah topeng ceria yang dibuatnya. Dia berbalik, berjalan meninggalkan kamar sambil menutup matanya. Setelah melewati pintu, dia membuka matanya dan berkata, “Mereka sudah meninggal. Jangan tanya-tanya lagi. Itu, kan, bukan urusan kalian.”

Keempat namja itu terdiam. Mendadak, mereka menjadi merasa bersalah, terutama Sehun. Dari buku yang pernah mereka baca, manusia akan menjadi sensitif jika mengungkit masa lalu mereka yang buruk. ”Sebaiknya kalian di sini saja”, kata Luhan, saat Baekhyun, dan Kai akan mengikuti Sanghi keluar kamar.

Mereka mengangguk. Luhan, dan Sehun segera keluar kamar dan mengikuti Sanghi. Selama perjalanan menuju lantai tiga, tidak ada salah satu dari mereka yang bicara. Bahkan Sanghi, yang sebelumnya sangat ceria dan selalu berusaha mencairkan suasana dengan ocehan-ocehannya, menjadi pendiam sekarang. Dalam hati, Sehun merutuki perkataannya tadi. Kenapa aku bisa sebodoh ini?!

”Ini kamar kalian.” Sanghi berhenti di depan sebuah ruangan, dan dua namja di belakangnya juga ikut berhenti. Ia membuka pintu.

Kamar di lantai tiga ini berbentuk sama persis dengan kamar Sanghi. Hanya saja, ukurannya sedikit lebih besar, dan terlihat lebih suram. ”Mianhaeyo. Aku lupa membersihkankannya. Jadi kamar ini agak kotor”, kata Sanghi lirih. Luhan, dan Sehun berpandangan sejenak.

”Ah, tidak apa-apa. Kalau kamu memberi kami peralatan untuk bersih-bersih, kami pasti bisa membuat kamar ini kembali berkilau”, kata Luhan. Sanghi hanya mengangguk, kemudian berbalik.

”Ano, kamu … sama sekali tidak takut pada kami?”, tanya Sehun. Pertanyaan itu membuat langkah Sanghi terhenti. ”Tentu saja tidak. Kalian, kan, orang baik. Lagipula, aku punya kekuatan. Jadi, aku bisa melindungi diri jika terjadi apa-apa”, balasnya. Sikap cerianya kembali lagi.

Sebelum berbalik dan meneruskan perjalanan, dia mengeluarkan cengiran lebar khasnya. Dua namja itu merasa lega, karena Sanghi kembali ceria. Tapi dalam hati, Luhan merasa ada sesuatu yang aneh dari Sanghi. Pikirannya berkabut. Aku tidak bisa membacanya.

 

To Be Continued

A/N : Bagaimana FF saya ini, readers? Bagus atau jelek? Yah, pokoknya makasih dah baca. Hehehe ^__^ Jangan lupa kasih review kalian, ya.

Advertisements

3 thoughts on “EXO Helping Earth (Chapter 1)

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s