Teardrops On My Guitar

Title : Teardrops On My Guitar

Author : ditjao 

Cast :

  • Park Chanyeol [EXO-K]
  • Byun Baekhyun [EXO-K]
  • Yong Yoonka [OC], Yoo Nayeon [OC] dan silakan temukan sendiri sisa figuran lainnya~

Rating : Teen

Genre : Angst(?)

Length : Songfic | Oneshot

Disclaimer : Inspired from Taylor Swift’s song with the same title. Plot, Nayeon, nor EXO-K’s member are mine ( ื▿ ืʃƪ) *dilempar wajan*

Note : FF pertama yang di-post di SMTHFF setelah hiatus panjaaang. Maaf ya baru bergentayangan(?) di sini lagi T^T Maklumin, namanya juga maba *kibasin kartu mahasiswa* *diinjek* Sebenernya agak kurang yakin juga mau post ff ini di sini dikarenakan genre-nya yang nyerempet *ehem* yaoi. Maaf ya untuk para staff SMTHFF, khususnya buat Eomma yang udah bikin rule kalau yaoi/yuri gak boleh publish di sini m(_ _)m Tapi karena saya pikir unsur yaoi-nya gak terlalu gimana-gimana(?), jadi bolehlah daripada gak post ff sama sekali, huhuhu. Oh iya, ff ini juga spesial buat teman saya, Wenny, yang udah request BaekYeol 😀 Maafin ya Wen kalo ff-nya ancur dan feel-nya gak dapet 😦 Hepi riding semua dan minal aidin wal faidzin! <— telat

Teardrops On My Guitar

“Ini, aku bawakan cake untuk Oppa.”

Chanyeol hanya melirik sekilas gadis yang ada di hadapannya sekarang dengan tatapan risih. Tak mau dibilang sebagai lelaki tak berperasaan, akhirnya ia pun dengan terpaksa menerima sebuah bingkisan kue yang sedang diulurkan kepadanya saat itu. 

“Gomapta. Sekarang kau bisa pulang.” balas Chanyeol, terkesan tak acuh.

Sementara gadis yang masih berdiri di hadapannya kini hanya diam terpaku. Meski tak diungkapkan secara langsung, ia dapat dengan jelas menangkap adanya makna pengusiran secara halus yang terselip dari ucapan Chanyeol barusan. Dengan sedikit berat hati gadis itu lantas tersenyum tipis dan segera berlalu meninggalkan halaman rumah Chanyeol setelah sebelumnya membungkukkan badan sebagai salam perpisahan.

Tinggalah Chanyeol yang kini terlihat menghembuskan napas lega. Ditutupnya pintu rumahnya kini lantas beranjak melangkah menuju dapur. Ia kemudian melirik bingkisan kue yang masih berada dalam genggamannya sekarang dengan perasaan tak tertarik. Ada secarik kertas yang terlihat menempel menghiasi bagian atas kotak bingkisan tersebut.

Untuk Chanyeol Oppa

Dari Nayeon ^^

“Berusaha mengambil hatiku dengan mengirimkan cake lagi? Aish… come on!” Chanyeol menaruh bingkisan tersebut ke atas meja makan dengan gerakan setengah melempar. Raut wajahnya dipenuhi oleh kesan jijik.

“Payah.. apa dia pikir aku akan tertarik padanya, huh?”

TING TONG!

Dentingan bel kedua yang didengar Chanyeol untuk hari ini. Lelaki itu lantas kembali beranjak menghampiri pintu dengan wajah merengut. Suasana hatinya benar-benar tergambar jelas dari ekspresi wajahnya saat itu.

Kesal. Muak.

Chanyeol lantas kembali membuka pintu rumahnya dengan sedikit kasar.

YA! Ada perlu ap—“

Chanyeol mendadak bungkam. Sosok yang sedang berdiri di ambang pintu masuk rumahnya kini nayatanya adalah sosok yang berbeda. Bukan gadis bernama Nayeon seperti yang ia duga sebelumnya.

YA! Ada apa?? Kenapa aku baru bertamu langsung disambut dengan marah-marah seperti ini, sih??” tanya sosok yang ada di hadapanya itu dengan ekspresi heran bersampur kesal.

Chanyeol masih diam. Air mukanya langsung berubah seketika. Walaupun lelaki itu masih enggan menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya barusan, nyatanya kini batinnya seolah sedang menjerit akibat diliputi oleh rasa bahagia.

Bodoh, bodoh! Sembunyikan rasa gugupmu di hadapannya, Chanyeol bodoh! pekiknya dalam hati.

“Heh, tiang listrik! Kau ini melamun, ya? Kau bahkan tidak mau mempersilakan tamumu ini untuk masuk terlebih dahulu, huh?”

Suara yang sudah terasa begitu familiar itu kembali menyapa indera pendengaran Chanyeol. Menghantarkan lelaki tersebut kembali pada dunia nyata.

“Ohaha.. mianhae! Mianhae! Kupikir kau adalah orang yang tadi!” ujar Chanyeol dengan tawanya yang terkesan dibuat-buat.

“Orang yang tadi?” sosok di hadapan Chanyeol kini mulai menatap yang bersangkutan dengan tatapan menyelidik.

“Ah… aku tahu! Pasti gadis yang tadi kulihat berkunjung kemari, kan? Kalau aku tak salah ingat, dia Yoo Nayeon, hoobae kita di sekolah yang masih duduk di tingkat 2, benar? Aigoo… rupanya kalian bertetangga? Atau jangan-jangan kalian malah sudah menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku, huh?”

Sosok itu langsung tergelak sementara Chanyeol hanya bisa membalasnya dengan senyuman risih. Tentu saja ia dan Nayeon sama sekali tidak mempunyai hubungan spesial. Lagipula bagaimana mungkin Chanyeol bisa menjalin hubungan dengan gadis itu bila nyatanya perasaannya kini hanya tertambat pada satu orang?

Yakni pada orang yang sedang menertawainya kini.

Drew looks at me

I fake a smile so he won’t see

What I want and I need

And everything that we should be

“Kami ini bukan kekasih, kok!” Chanyeol berusaha mengelak dengan wajahnya yang terlihat memerah.

“Bukan? Maksudmu belum? Hahaha… lantas kenapa mukamu memerah seperti itu? Tebakanku pasti benar, bahwa kau… menyukainya? Iya, kan?”

Chanyeol langsung merengut. Pertanyaan bodoh, pikirnya. Jelas-jelas wajahnya memerah kini akibat sedang menahan amarah, bukan karena malu, tersipu, atau apapun.

“Sudahlah, aku malas membahasnya. Cepat masuk!” sahut Chanyeol ketus sembari membukakan pintu masuk rumahnya sedikit lebih lebar. Membiarkan tamunya tersebut kini melangkah masuk ke dalam dan mengikutinya menuju ke ruang tengah.

“Jadi, ada perlu apa kau bertandang kemari…,” tanya Chanyeol sembari mengambil posisi duduk di atas sofa dengan matanya yang masih tak lepas memandangi tamunya saat ini. “…Byun Baekhyun?”

Sementara sosok yang dipanggil dengan nama Baekhyun itu hanya tersenyum simpul. Membuat Chanyeol lagi-lagi harus menahan gugup hanya dengan melihatnya.

Ia selalu menyukainya. Senyuman dari sosok yang selalu berhasil membuat jantungnya berdegup tak karuan.

“Ajari aku bermain gitar!” seru Baekhyun ceria seraya mengambil tempat duduk tak jauh dari samping Chanyeol.

N…ne?” tanya Chanyeol gugup. Pasalnya jarak mereka berdua kini cukup dekat. Bahkan Chanyeol berani bersumpah bahwa debaran jantungnya kini telah berpacu dua kali lebih cepat dari sebelumnya.

“Ayolah.., kau ini kan merupakan gitaris band paling hebat di sekolah. Izinkan aku berguru padamu, ya?” pinta Baekhyun penuh harap.

Wajah memelas yang sedang ditunjukkan oleh Baekhyun saat ini sontak langsung membuat Chanyeol tertawa. Refleks, tangan kanannya mendarat pada kepala milik lelaki yang masih berada di sampingnya itu. Ia menghadiahkan Baekhyun sebuah jitakan pelan.

“Sedang berusaha menjilatku, huh?” tanya Chanyeol di sela-sela tawanya. “Lagipula ada angin apa yang membuatmu tiba-tiba ingin belajar bermain gitar?”

Baekhyun masih terlihat meringis akibat hadiah kecil yang baru diberikan Chanyeol kepadanya beberapa detik yang lalu tersebut. Namun meski begitu, ia tetap menjawab tanpa mengajukan banyak protes.

“Ingat acara pentas seni yang akan diselenggarakan minggu depan? Aku punya sebuah rencana untuk hari itu.”

Mwo? Rencana apa?” tanya Chanyeol penasaran.

“Sebenarnya ini rahasia, tapi berhubung kau adalah sahabat merangkap calon guruku, jadi aku akan berbaik hati memberitahukannya. Asal jangan ceritakan hal ini pada siapa-siapa, janji? Aku ingin membuat sebuah kejutan!” jelas Baekhyun dengan mimik wajah serius.

“Hmm..,” Chanyeol mengangguk, mendengarkan penjelasan dari lelaki yang duduk di sampingnya ini dengan penuh antusias. “Memang rencana apa dan untuk siapa?”

“Untuk Yong Yoonka, siswi dari kelas 1-1. Minggu depan, kebetulan acara pentas seni akan diselenggarakan bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Aku ingin memberinya kejutan dengan menyanyi di hadapannya lalu disusul dengan mengungkapkan perasaanku padanya. Bagaimana? Sahabatmu ini cukup pantas diberi gelar pria romantis, bukan?” Baekhyun terkekeh. Sementara Chanyeol yang mendengarnya langsung membisu.

Kenapa tiba-tiba seperti ada sebilah jarum yang menancap tepat di jantungnya?

“Kau tahu? Aku sudah menyukainya sejak penerimaan siswa baru tahun kemarin. Dia gadis yang cantik. Apalagi ia juga didaulat sebagai kapten tim basket putri di sekolah. Kau tahu kan, bahwa tipikal gadis yang aku suka adalah gadis yang pintar berolahraga? Di mataku, rasanya sosok Yoonka itu begitu sempurna.” jelas Baekhyun lagi masih sambil tertawa kecil.

“Oh, ya?”

Chanyeol memaksakan bibirnya untuk mengulas sebuah senyum. Ada kepahitan yang terlukis samar di sana, seolah mewakili kesakitan yang masih menghinggapi dirinya saat ini. Rasa sakit di dadanya juga kian bertambah, seakan jumlah jarum yang menancap di jantungnya pun ikut melipatgandakan diri.

Aneh, pikirnya. Perasaan apa ini?

I’ll bet she’s beautiful

That girl he talks about

And she’s got everything

That I have to live without

“Sudah terpikir ingin menyanyikan lagu apa?”

Baekhyun hanya menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Chanyeol tersebut. Sekarang keduanya tengah berdiam diri di dalam kamar Chanyeol dengan dua buah gitar. Satu yang sedang dipegang oleh Chanyeol, satunya lagi hanya dibiarkan tergeletak begitu saja. Milik Baekhyun.

“Pengetahuanku benar-benar payah untuk lagu-lagu romantis. Kau ada ide?” tanya Baekhyun, terlihat kehabisan akal.

“Hmm.. sebagian besar lagu yang kutahu juga tidak semua aku ingat kord-nya.” Chanyeol menyengir, sedikit merasa bersalah.

“Errr… ottokhae??” Baekhyun bergumam kesal sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Rasa panik dan bingung betul-betul sedang menguasai dirinya saat ini.

“Hmm.. begini saja. Aku pernah menciptakan satu buah lagu yang kord-nya tidak terlalu susah dan mudah diingat. Ingin dengar aku menyanyikannya? Siapa tahu bisa jadi referensi untukmu.” tawar Chanyeol yang langsung disambut dengan tatapan tak yakin dari Baekhyun. Namun karena merasa tak punya banyak pilihan, lelaki itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa arti. Seolah terlihat menyetujui usulan Chanyeol.

“Maaf kalau aku terlihat gugup. Ini pertama kalinya aku menyanyikan lagu ciptaanku sendiri di depan orang lain.” ujar Chanyeol sedikit ragu.

“Iya, tak apa..,” tanggap Baekhyun singkat.

Chanyeol menelan ludah. Rasa gugupnya semakin dirasa naik ke level yang paling tinggi. Ia merasa gugup bukan hanya karena lagu ini adalah ciptaannya semata, melainkan karena lagu yang akan ia nyanyikan pun tercipta dari orang yang sedang berada di hadapannya sekarang.

Baekhyun.

Ya, ia memang menulis lagu ini berlandaskan perasaannya pada seorang Byun Baekhyun.

Satu pertanyaan pun lantas mendadak muncul di benak lelaki itu. Apa Baekhyun akan sadar bahwa lagu yang akan ia nyanyikan ini tercipta untuknya?

Ma..chi, amugeotdo moreuneun airo geureoke da..shi.., taeeonan sungan gachi. Jam..shi, kkumilkabwa han beon deo nun gamatda tteo boni yok..shi, neomu ganjeolhaetdeon ne ape gidohadeut seo isseo..

This moment feels like I was born as a child who knew nothing. I closed my eyes again in case it would be a dream. You were standing in front of my desperate self and praying..

Chanyeol menghentikan permainan gitarnya sejenak. Ditatapnya Baekhyun yang saat itu juga sedang memandangnya lamat-lamat. Lelaki itu gugup. Bahkan terlalu gugup mengira Baekhyun akan menyadari perasaannya yang sesungguhnya yang mungkin saja dapat tersampaikan lewat lagu yang baru saja dimainkan olehnya barusan.

“Kenapa berhenti?” tanya Baekhyun heran.

“Errr…suaraku pasti jelek,” dusta Chanyeol, masih berusaha menutupi rasa gugupnya.

“Tidak, kok!” Baekhyun cepat-cepat menggeleng. “Suaramu bagus. Lagunya juga. Aku suka liriknya, seperti mempunyai arti yang dalam. Ayo, nyanyikan lagi!”

Kedua mata Chanyeol berbinar. Ia lantas tertegun sejenak. Benarkah Baekhyun menyukai lagu yang memang ia ciptakan khusus untuk lelaki itu?

Seketika hatinya terasa diliputi oleh buncahan rasa bahagia.

“Hahaha… baiklah! Tunggu sebentar!”

Chanyeol kemudian kembali bersiap memainkan gitarnya. Raut wajahnya kini benar-benar terlihat berseri. Seperti ada semangat yang ikut menyusup masuk kala dirinya mendengar ucapan Baekhyun barusan.

Drew talks to me

I laugh ‘cause it’s so damn funny

But I can’t even see

Anyone when he’s with me

YA! Chanyeol-ah! Kau tahu? Lagumu tadi berhasil membuatku terpukau! Kau beri judul apa untuk lagi ini?” tanya Baekhyun bersemangat saat Chanyeol baru saja mengakhiri permainan gitar beserta lagunya.

Chanyeol tersenyum tipis.

“Angel.” jawabnya singkat.

Judul yang memang ia dapat dari malaikat yang kini sedang menjadi lawan bicaranya. Sungguh, ia tak bohong. Baginya, lelaki yang sedang duduk di hadapannya kini memang tak ubahnya seperti malaikat di matanya. Semua yang ia tuangkan pada lirik lagu yang dinyanyikannya tadi memang benar adanya. Baekhyun adalah malaikatnya, sosok di balik terciptanya semua kebahagiaannya selama ini.

“Ajari aku lagu itu, ya? Aku ingin menyanyikannya untuk Yoonka nanti. Aku yakin, gadis itu pasti akan sangat menyukai lagumu tadi, Chanyeol-ah! Boleh, kan?”

DEG!

Senyum yang tadi sempat menghiasi wajah Chanyeol kini telah memudar sempurna. Apa yang didengarnya tadi? Baekhyun ingin menyanyikan lagu ciptaannya itu untuk… gadis lain?

He says he’s so in love

He’s finally got it right

I wonder if he knows he’s all I think about at night

 

He’s the reason for the teardrops on my guitar

The only thing that keeps me wishing on a wishing star

He’s the song in the car I keep singing

Don’t know why I do

“Boleh..,” jawab Chanyeol akhirnya. Nuansa duka terlihat mewarnai raut wajahnya kini. Namun sayang, lelaki yang masih duduk di hadapannya itu sepertinya sama sekali tak bisa menangkap adanya kesedihan yang sedang terpancar dari sana.

Jinjja?? Gomawo, Chanyeol-ah! Kapan-kapan nanti kau akan kutraktir, deh! Hehehe… sekali lagi gomawo, ya!” seru Baekhyun senang.

Lelaki itu tampaknya sama sekali tak menghiraukan ekspresi sedih milik Chanyeol dan langsung saja mengambil gitarnya yang tadi sempat terbengkalai.

“Jadi, kita harus mulai dari mana?” tanyanya lagi, terlihat begitu antusias.

Chanyeol tersenyum miris. Ironis sekali rasanya melihat kebahagiaan Baekhyun kini yang malah terasa menjadi bumerang baginya. Lagi, untuk yang kesekian kalinya Chanyeol pun merasakan jantungnya seakan dipenuhi oleh jumlah jarum yang semakin bertambah.

Dalam hatinya, lelaki itu menyimpan sebuah pertanyaan.

Inikah yang selalu dirasakan oleh setiap orang ketika mengalami apa itu yang dinamakan patah hati?

**~*****~**

“…marhejwo nege what is love…”

Suara riuh tepuk tangan membahana memenuhi gedung aula SMA Haesan tepat ketika Kyungsoo mengambil nada tinggi di akhir lagu. Meski nafasnya sedikit tersengal, lelaki itu menampakkan senyuman puas. Ia lantas melemparkan pandangannya menuju kawan-kawan satu band-nya. Sehun yang bertugas memainkan keyboard, Chanyeol di gitar, Suho di bass, dan Kai pada drum. Tak jauh berbeda dengannya, raut penuh kepuasan pun terlihat menghiasi wajah mereka. Untuk yang kesekian kalinya grup mereka tampil sukses mengisi acara pentas seni sekolah.

“Yup! Itu tadi penampilan dari grup band sekolah kebanggaan kita, EXOTIC! Sekarang, mari kita beralih pada penampil berikutnya! Okay, sebenarnya ini sedikit di luar rencana. Ada seseorang yang ingin bernyanyi untuk kita semua di sini. Penasaran siapa orangnya? Baiklah, ini dia… Byun Baekhyun!” seru Nayeon selaku pembawa acara.

Tak lama, sosok Baekhyun pun hadir dengan naik ke atas panggung. EXOTIC sudah dipersilakan turun hingga kini hanya tersisa Nayeon dan Baekhyun berdua yang tampak berdiri di atas sana.

“Lagu ini aku persembahkan untuk seseorang yang tengah merayakan hari ulang tahunnya yang jatuh tepat pada hari ini,” ucap Baekhyun sok misterius yang langsung membuat seisi aula berseru riuh.

“Dan untuk Park Chanyeol, sahabat yang telah berbaik hati mengizinkanku untuk menyanyikan lagu ciptaannya ini. Thanks for your help, bro!”

Chanyeol yang saat itu tengah ikut menonton di dekat panggung hanya balas tersenyum tipis melihat Baekhyun yang kini sedang melambaikan tangan ke arahnya. Kembali, suara riuh pun terdengar memenuhi aula.

“Baiklah, tanpa berlama-lama lagi kita langsung sambut saja, ini dia… Baekhyun!”

Baekhyun pun mulai duduk di kursi yang telah disediakan sembari bersiap memainkan gitarnya. Untuk sesaat rasa gugup begitu kental terasa menghinggapi dirinya. Berusaha mengumpulkan keberanian, lelaki itu pun berusaha berkonsentrasi. Tanpa sadar pandangannya beradu dengan mata Chanyeol. Lelaki itu tengah tersenyum ke arahnya, seolah ikut menyemangatinya.

Baekhyun balas tersenyum. Senyuman Chanyeol seperti memberinya kekuatan.

Diawali dengan helaan nafas, akhirnya lelaki itu pun memberanikan diri mulai memetik senar gitarnya. Berusaha mengingat kord yang Chanyeol ajarkan padanya saat tempo hari.

Ma..chi, amugeotdo moreuneun airo geureoke da..shi.., taeeonan sungan gachi. Jam..shi, kkumilkabwa han beon deo nun gamatda tteo boni yok..shi, neomu ganjeolhaetdeon ne ape gidohadeut seo isseo..

Suara Baekhyun mulai mengalun merdu seiring dengan permainan gitar yang tengah dibawakannya. Menciptakan harmonisasi tersendiri yang dapat membuat siapapun ikut terlarut menikmati lagunya. Chanyeol sedikit terpana. Ia tak percaya bahwa Baekhyun bisa menyanyikan lagu ciptaannya dengan penuh penghayatan. Seakan lelaki itu bernyanyi dengan sepenuh hatinya.

Dan han beonman ne yeopeseo, bareul matchwo georeo bogopa han beon.., ttak han beon manyo… Neoui sesangeuro.., yeorin barameul tago. Ne gyeoteuro.., eodieseo wannyago. Haemarkge mutneun nege, bimirira malhaesseo.. Manyang idaero…, hamkke georeumyeon, eodideun cheongugilteni..

Just once, I want to walk side by side with you. Taken by the soft wind to your world. You asked me brightly where I came from to your side. And I told you it was a secret. Wherever we walk together, will be paradise..

Chanyeol kembali mengulas senyum. Perasaannya kini diliputi oleh kehangatan. Lelaki itu benar-benar merasa… senang.

Drew walks by me

Can he tell that I can’t breathe?

And there he goes, so perfectly

The kind of flawless I wish I could be

“…eodideun cheongugilteni..”

Baekhyun mengakhiri lagunya dengan sentuhan manis sembari memberikan sedikit improvisasi pada permainan gitarnya. Lagi, gedung aula pun dipenuhi oleh suara riuh tepuk tangan para audience.

Lelaki itu lantas tersenyum senang. Ia berhasil.

Matanya kembali mencari sosok Chanyeol yang sebenarnya tak pernah lepas memandangi dirinya sedari tadi. Pandangan keduanya kemudian lagi-lagi bersirobok. Baekhyun mengacungkan sebelah jempol ke arahnya tepat saat Chanyeol baru tersadar akan suatu hal.

Bahwa nyanyian Baekhyun tadi bukanlah untuknya.

“Untuk seseorang yang di sana, selamat ulang tahun, Yong Yoonka! Aku menyukaimu! Would you be my girl??” seru Baekhyun lantang yang langsung disambut suara riuh dari para audience.

Dan untuk yang kesekian kalinya, Chanyeol merasa jarum-jarum kepiluan semakin dalam menancap di jantungnya..

She better hold him tight

Give him all her love

Look in those beautiful eyes

And know she’s lucky cause

 

He’s the reason for the teardrops on my guitar

The only thing that keeps me wishing on a wishing star

He’s the song in the car I keep singing

Don’t know why I do

**~*****~**

Malam itu Chanyeol menangis. Gitar yang sedang berada dalam pelukannya kini seolah menjadi saksi bisu atas kesedihannya. Hatinya sakit, bahkan terlampau pedih. Mengingat cinta pertamanya yang kini telah resmi menjalin hubungan dengan gadis lain membuat dadanya terasa sesak.

Byun Baekhyun.., ia mencintainya.

Mendadak pikiran lelaki itu menerawang menelusuri setiap memori masa lalu yang masih tersimpan jelas di benaknya. Bagaimana pertemua pertamanya dengan Baekhyun ketika baru memasuki SMP, bagaimana keduanya sering menghabiskan waktu bersama, dan berbagai kenangan lainnya bersama Baekhyun yang kini hanya makin membuatnya berderai air mata hanya dengan mengingatnya.

Salahkah ia jika mencintai seorang Byun Baekhyun? Salahkah jika orang yang dicintainya adalah sosok yang sama sepertinya, yakni sama-sama berasal dari kaum Adam? Apa Tuhan bahkan tidak merestuinya untuk sekedar menaruh rasa terhadap lelaki yang sudah menjadi sahabatnya semenjak sekian lama itu?

Chanyeol mengusap air mata yang sedari tadi mengalir melewati pipinya. Tidak, suara hatinya mulai berbisik. Perasaannya ini tak salah. Yang membuatnya salah adalah kepada siapa rasa cintanya ini ia berikan.

Dan meski samar, Chanyeol dapat mendengar jelas bahwa suara hatinya kini kembali berbisik.

Baekhyun bukanlah orang yang tepat..

Ddeona oneul bame, ddeona oneul bame, ddeona oneul bame, dashin ojianhge..

Ponsel miliknya berdering, menandakan adanya satu buah pesan yang masuk. Dengan sedikit tak besemangat, lelaki itu pun meraih ponsel yang tergeletak tak jauh di dekatnya tersebut.

From : Yoo Nayeon

Oppa, kau ada masalah? Seharian tadi saat acara pentas berlangsung kulihat wajahmu sedikit pucat. Apa kau sakit? Makan dan istirahat yang cukup, oppa. Jangan tidur terlalu malam.

Chanyeol hanya membaca pesan tersebut sekilas lantas kembali menaruh ponselnya di tempat semula. Tatapan matanya kosong. Pesan Nayeon yang baru dibacanya tadi tak ubahnya bak seperti angin lalu baginya.

So I drive home alone

As I turn out the light

I’ll put his picture down

And maybe get some sleep tonight

TOK TOK!

Suara ketukan terdengar di balik pintu kamarnya. Chanyeol lantas beringsut sembari menyeka air matanya. Berusaha menghapus jejak-jejak kesedihan yang bisa saja masih terpancar di wajahnya.

“Siapa?” tanya Chanyeol dengan suara parau.

“Aku.., Baekhyun.”

DEG!

Chanyeol terdiam. Mengapa lelaki itu datang kemari? pikirnya.

“Tu..tunggu sebentar!”

Chanyeol lantas cepat-cepat bercermin, memastikan wajahnya agar tak terlihat sembab. Kedua matanya masih memerah akibat menangis tadi. Masa bodoh! pikirnya. Ia bisa berdalih bahwa ia baru saja bangun tidur jika nanti Baekhyun bertanya.

“Eo, hai!” sapa Chanyeol kikuk mendapati Baekhyun yang kini tengah berdiri di ambang pintu masuk kamarnya.

“Errr… apa aku mengganggu? Tadi saat datang kemari, Bibi Park menyuruhku untuk langsung saja menuju kamarmu, hehe..,” ujar Baekhyun sedikit tak enak.

“Tak apa. Oh ya, masuk saja! Maaf ya, seperti biasa kamarku selalu berantakan setiap kau datang kemari, hehe..,” balas Chanyeol sembari menyengir.

Baekhyun tersenyum lantas mengikuti langkah Chanyeol masuk ke dalam. Ia duduk di atas ranjang milik Chanyeol, mengambil tempat yang persis bersebelahan dengan lelaki itu.

“Chanyeol-ah..,” panggilnya pelan.

N..ne?” lelaki di sebelahnya itu menyahut.

“Aku ingin berterima kasih. Berkat kau, aku dan Yoonka kini resmi berpacaran. Kau tahu? Dia begitu manis. Wajah gadis itu tak berhenti memerah ketika aku menyatakan perasaan kepadanya. Ia juga bilang kalau sebenarnya ia pun sudah menyukaiku sejak lama. Hahaha… lucu, ya? Apa menurutmu ini yang dinamakan dengan jodoh?” kata Baekhyun sambil tertawa kecil.

Chanyeol tersenyum miris. Lagi-lagi hanya dengan mendengarkan penuturan Baekhyun barusan sukses membuat dadanya kembali disesaki oleh rasa pilu.

“Selamat, ya..,” ujarnya lirih. Meski sedikit memaksakan, Chanyeol berusaha sebisa mungkin untuk menambahkan kesan ceria pada nada ucapannya barusan.

“Aku doakan semoga hubungan kalian langgeng.”

“Hahaha.. gomawo!” Baekhyun menepuk-nepuk pundak Chanyeol sambil terkekeh. “Kau memang sahabat terbaikku, Chanyeol-ah!”

Chanyeol tertegun. Sahabat terbaik? Tak bisakah ia menjadi sosok yang lebih dari sekedar sahabat bagi lelaki di sampingnya ini?

“Aku benar-benar berhutang budi padamu. Harus dengan cara apa aku membalasnya? Ah! Begini saja, kalau kucarikan kau kekasih bagaimana? Kau belum pernah berpacaran, kan?”

Chanyeol hanya tertawa kecil menanggapinya. Orang yang ia sukai bermaksud untuk mencarikannya kekasih? Kenapa terdengar sedikit ironis di telinganya?

“Bodoh!” Chanyeol lantas menoyor pelan kepala Baekhyun. “Kau pikir aku tak bisa cari kekasih sendiri, huh?”

“Hahaha… aku bercanda! Jadi, harus dengan cara apa aku membalas kebaikanmu? Traktir makan? Jalan-jalan? Kerjakan PR?” Baekhyun terkekeh lagi.

Chanyeol ikut terkekeh. Harapannya sesungguhnya tak muluk, hanya ingin Baekhyun membalas perasaannya, itu saja sudah cukup.

“Hmm.. baiklah. Kalau begitu kabulkan saja 3 permintaanku.” ujar Chanyeol akhirnya.

“Eh? Permintaan apa?”

“Izinkan aku bersandar di pundakmu, boleh?”

Baekhyun mengerutkan dahinya, terlihat bingung. Namun tanpa berpikir panjang, lelaki itu pun akhirnya mengangguk, mengiyakan permohonan lelaki di sampingnya.

“Silakan saja..,” sahutnya tanpa curiga.

Chanyeol tersenyum senang lantas mulai menyandarkan kepalanya pada pundak Baekhyun. Hangat dan tenang, perasaannya begitu nyaman kala itu.

“Permintaan yang kedua..,” kata Chanyeol lagi. “…tolong jawab pertanyaanku.”

“Permintaan apa?”

“Katakan seberapa besar perasaanmu terhadap Yoonka.”

“Eh?” lagi-lagi Baekhyun menggumam bingung.

“Jawab saja.”

“Astaga… pertanyaan macam apa ini, Park Chanyeol??” tanya Baekhyun gemas.

Masih dalam posisi yang tak berubah, Baekhyun dapat merasakan bahwa Chanyeol tengah tertawa pelan sekarang begitu mendengarnya menggerutu.

“Perasaanku terhadap Yoonka? Aku menyukainya. Tidak, aku mencintainya. Aish… mungkin ini jawaban paling bodoh karena bahkan aku sendiri tak paham tentang apa itu arti cinta yang sesungguhnya. Tapi rasa gugup, rasa ingin memiliki, rasa nyaman bila berada di dekatnya, rasa ingin selalu membuatnya bahagia, bukankah itu semua bisa dikategorikan sebagai rasa cinta?”

Chanyeol tertegun. Dalam hatinya, lelaki itu membenarkan jawaban Baekhyun. Apa yang Baekhyun katakan semuanya memang sama persis seperti perasaannya terhadap lelaki itu sekarang. Nyatanya ia memang mencintai Baekhyun. Ia selalu merasa nyaman bila berada di dekatnya, ingin memilikinya, dan ingin selalu membuatnya tersenyum bahagia. Tapi salahkah jika ia tetap menyimpan perasaannya pada lelaki ini?

Bolehkah?

Cinta tak harus memiliki, dan Chanyeol bersyukur akan hal itu. Bukankah dengan begini ia bisa tetap mencintai Baekhyun meski tanpa memilikinya sekalipun?

Chanyeol tersenyum tipis. Tekadnya sudah bulat. Ia akan terus mencintai Baekhyun, selamanya, dan seterusnya.

Dengan berada di sisi lelaki itu sebagai sahabat.

Ini bukan tentang memiliki dan saling mencintai. Bisa membuat Baekhyun tersenyum bahagia baginya sudah cukup. Karena yang namanya rasa cinta selalu bisa diungkapkan dengan berbagai cara, bukan?

‘Cuz he’s the reason for the teardrops on my guitar

The only one who’s got enough of me to break my heart

He’s the song in the car I keep singing

Don’t know why I do

 

He’s the time taken up but there’s never enough

And he’s all that I need to fall into

“Permintaan yang ketiga..,” Chanyeol mengangkat kepalanya lantas menyengir menatap Baekhyun. “Karena suaramu bagus, tolong ajari aku menyanyi.”

“Eh? Mengajarimu menyanyi? Untuk apa?” tanya Baekhyun heran.

“Aku ingin mengikutimu jejakmu, mengungkapkan perasaan kepada seorang gadis lewat sebuah lagu. Nayeon juga pasti akan suka kalau aku bernyanyi untuknya..”

Chanyeol tersenyum lagi. Kali ini benar-benar bermakna tulus dan tanpa paksaan. Karena ia mencintai Baekhyun, ia akan menghapus perasaannya demi lelaki itu..

Drew looks at me

I fake a smile so he won’t see

-END-

Baiklah, saya tau ini cerita gaje -_-

Dan maap juga buat Wenny yang udah dipinjem namanya buat jadi figuran(?) di sini tapi malah gak dapet dialog sama sekali, HAHAHAHAHA /plak

Hai para readers yang beriman, yang udah baca tapi gak komen —> KALIAN GAK KECE BIN GAK ASIK, GUYS.

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Teardrops On My Guitar

  1. #nyasar

    kereeeen XD~
    rada kasian juga nih ama nayeon u.u~ rasanya klo misal si chanchan ntar jadian ama dia, JLEb nya karna ‘agak’ jadi pelampiasan T.T..
    Hoaa.. keren banget nih!
    bahasanya menyayat-nyayat =o=///

    Chanyeool ToT~ maaaaaf(?)*apacoba XD

    terus berkarya ya XD

  2. Baru kali ini nemu FF yaoi yang cintanya bertepuk sebelah tangan 😀 *poor ChanChan
    bahasanya sederhana, jadi gampang ngerti.
    Feelnya juga dapet. Author daebak!! *^^*

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s