Remember Me… (1st)

Remember Me..

Super Junior’s Lee Sungmin – SNSD’s Sunny

Romance, Fantasy, PG-15, Series

Happy Reading and I Need Your Comment.

Beautiful Poster from : Nada

            Sungmin melangkahkan kaki nya selebar mungkin dan berharap bisa lebih cepat untuk melewati wanita atau lebih tepatnya mahluk tidak hidup berbentuk seperti wanita atau lebih singkatnya lagi seorang hantu wanita. Ya , seorang hantu wanita yang sedang menatap dirinya tajam dengan kedua bola mata kosongnya. Saat dia berjalan tepat di depan hantu wanita itu , seluruh bulu kuduknya berdiri dan hawa dingin dia rasakan menjalari seluruh tubuhnya. Walaupun Sungmin sudah melewati hantu wanita paruh baya yang memiliki mata kosong tersebut tapi mata kosong wanita itu masih terus mengikuti seluruh gerak – gerik Sungmin. Kejadian seperti ini bukanlah merupakan yang pertama atau kedua kali bagi Sungmin yang memang dianugerahi indra ke-enam yang kuat sejak lahir. Hampir setiap hari setidaknya 1 sampai 5 hantu yang dia temui.

Ketika Sungmin menemukan sebuah belokan gang yang tak jauh dari tempatnya saat itu dia semakin melangkahkan kakinya lebih cepat. Dia tidak ingin berurusan dengan dunia lain. Karena itu merepotkan.

Tanpa sadar Sungmin menghela nafas lega ketika dia tidak lagi merasakan hawa dingin serta tatapan tajam hantu tadi. Dia bersandar pelan pada dinding gang kecil tersebut untuk sekedar menarik nafas yang sedari tadi tanpa ia sadari sudah ia tahan karena takut mengganggu atau menarik rasa penasaran dari hantu wanita itu. Setelah sedikit tenang , Sungmin kembali melangkahkan kaki nya menuju rumah putih yang tak jauh dari gang tersebut.

“Aku—aku sudah mati.” seorang wanita sedang meraba seluruh tubuhnya yang terlihat transparan sehingga dapat ditembus oleh cahaya matahari. Kali ini dia mengepalkan tangannya dan memukul tembok bata yang berada di sebelahnya. Tapi , itu semua sia – sia belaka. Karena tangan kecil miliknya justru menembus tembok bata kokoh tersebut. Dia menjatuhkan badan nya secara perlahan lalu mulai meringkuk di atas tanah dan menangis. Kematian ini sungguh tiba – tiba ia rasakan. Dan entah kenapa ada suatu perasaan sedih yang mengganjal di hatinya. Dia merasa bahwa dia memiliki suatu hal yang tertinggal di hidupnya. Suatu hal yang sangat menyedihkan.

Kaki kecil yang transparan itu dia langkahkan dengan tenang di tengah – tengah jalan pusat Seoul yang saat ini sangat padat akan kendaraan. Beberapa mobil dengan mulus nya dapat melewati tubuh mungil gadis itu. Bahkan berkali – kali gadis itu sengaja menghentikan langkahnya tiba – tiba lalu merentangkan tangannya untuk menyambut sebuah mobil yang akan menerjangnya. Gadis itu bergumam tidak jelas ketika mobil yang baru saja dia tantang untuk menabrak dirinya berhasil berjalan mulus melewatinya. Di saat dia sudah mencapai seberang jalan , dia berhenti dan menatap seluruh orang – orang yang berjalan di dekat nya. Matanya menerawang jauh memperhatikan orang orang tersebut. Dan , ketika seorang laki – laki melewati tubuh nya secara mulus , dia mulai meringkuk kembali dan menangis sembari memeluk lututnya.

Suara tangisan ? Tangisan siapa ?

Sungmin merasakan dirinya terombang – ambing dalam dunia yang tak ia kenal. Lalu tiba – tiba ada cahaya yang berpusat di suatu tempat yang tak jauh darinya. Dia menemukan seorang wanita sedang menangis sembari memeluk lututnya. Pundak wanita itu terlihat bergetar akibat sesenggukan yang begitu keras dari tangisan nya.

Kaki Sungmin terasa tertarik untuk mendekati wanita itu. Dia merasa bahwa dia harus menghapus kesedihan gadis itu. Wanita itu mengangkat lalu membalikan kepala nya berkat tepukan tangan Sungmin pada pundak wanita itu. Mata besar yang dihiasi air mata itu menatap Sungmin.

Dan saat itu lah , Sungmin terbangun dari tidur nya. Mata Sungmin menerawang jauh menuju langit-langit kamar nya. Lalu dia mendesah pelan. Dia merasakan pertanda yang sangat buruk dari mimpinya tersebut.

Setelah beberapa lama Sungmin mengawang mimpinya tersebut , akhirnya dia memutus kan untuk bangun. Dengan satu gerakan mulus Sungmin mendudukan dirinya di atas tempat tidur. Setelah dia berdiam diri selama beberapa menit untuk bergulat dengan pikiran buruk yang mengawang di otak nya , dia mulai menuruni tempat tidur nya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setengah jam kemudian, Sungmin sudah memakai seragam sekolah nya dengan rapi. Dia lalu membalikan badan dan berjalan menuruni tangga rumahnya sembari bersiul pelan. Menuju pintu depan rumah lalu memakai sepatu dan melangkah keluar rumah ber-cat putih tersebut.

Dalam satu lompatan kecil , Laki – laki itu sudah duduk rapi di atas kendaraan beroda dua yang terparkir rapi di dalam garasi rumahnya. Setelah memutar kunci dan menyalakan mesin motor nya. Dia mulai menjalankan motor itu dengan kecepatan diatas rata – rata.

“Kenapa aku tetap berada di dunia ?” gumam gadis itu pelan.

“Apa raga ku belum mati ? Jangan – jangan aku memang belum mati ?” Dia mulai berpikiran positif.

“Lalu , apa yang harus ku lakukan agar aku bisa hidup lagi ?” Dia bertanya pada dirinya sendiri.

Tangan kurus milik nya terus mengetuk pelan kepala nya dengan harapan dia dapat mendapatkan sedikit ingatan tentang kehidupan yang pernah ia rasakan. Tapi , apa yang ia harapkan sama sekali tidak terkabul. Tidak ada sedikitpun ingatan yang datang ke kepalanya.

“Jika ada orang yang hilang ingatan karena terjatuh lalu mendapatkan kembali ingatan nya dengan terjatuh lagi. Maka aku bisa hidup jika aku mati untuk kedua kali nya lagi, bukan ?” Ya , itulah pikiran terlogis yang ia dapat kan sejauh ini. Dan dia sudah mencoba mempraktekan teori nya tersebut dengan cara menabrakan tubuhnya pada mobil agar dia bisa merasakan kematian untuk kedua kali nya yang mungkin saja bisa membuat tubuh nya kembali bangun dan hidup kembali. Bukan hanya sekali atau dua kali tapi berkali – kali. Catat itu , Dia sudah mencoba nya ber–ka–li–ka–li. Tapi pikiran logis nya itu belum berhasil. Karena mobil – mobil yang menerjang tubuh nya selalu melewati nya dengan mulus tanpa halangan seperti menembus cahaya.

“Aku hanya belum berhasil bukan berarti aku tidak akan berhasil, kan ? Ya , aku harus mencoba lagi. Harus.”

Dengan seluruh pikiran positif yang sengaja ia paksa kan untuk menutupi semua pemikiran negatif yang sudah mulai meresahkan dirinya , gadis transparan itu melangkahkan kakinya kembali menuju jalan raya lebar dan padat untuk kembali menerjang semua mobil.

Di saat sebuah mobil putih berbadan besar akan menerjang tubuh nya. Dia memejamkan mata nya. Bagaimana pun memang ada setitik rasa takut di dalam diri nya saat mobil – mobil itu akan menyerang tubuh nya. Tapi dia hanya ingin hidup. Dia tidak ingin mati dan kesepian seorang diri.

Moncong milik mobil putih tadi sekarang hanya berjarak 1 meter lagi di depan tubuh nya. Dan saat jarak tersebut semakin menipis. Gadis itu merasakan sesuatu yang hangat membelit pinggang nya. Lalu badan nya serasa tertarik dan membentur tanah dengan kecepatan tinggi.

Sungmin masih memasang kecepatan tinggi pada motor besarnya. Tanpa ragu dia menyalip kendaraan lain yang melaju lambat di depannya. Hingga motornya berdecit keras saat dia menarik rem tepat di depan garis lampu lalu lintas. Mulutnya bersenandung kecil sambil menunggu lampu berubah warna menjadi hijau. Tapi tiba – tiba matanya menangkap seorang yeoja yang berjalan tanpa ragu membelah jalanan di depannya. Sungmin mengerutkan dahinya dan tetap menatap gadis itu. Ketika nomor yang terpampang di atas lampu merah sudah memasuki angka 5 , Sungmin memekik keras memperingatkan gadis yang masih dengan santai berjalan tepat di tengah zebracross. Saat dia merasa telinga gadis itu tidak bisa menangkap suaranya , Sungmin melompat dari motornya dan tanpa peduli dia membanting motornya di atas aspal. Dia berlari sekuat tenaga dan menangkap pinggang gadis itu tepat di saat sebuah mobil putih hendak menabrak tubuh gadis tanpa rasa takut tersebut. Dipeluknya sekencang mungkin tubuh gadis itu. Tangan Sungmin memeluk erat kepala gadis yang berada di atas tubuhnya tersebut. Pundak lebarnya terasa perih karena langsung bergesekan dengan aspal panas. Dan tubuh mereka akhirnya berhenti bergerak saat Sungmin berhasil menstabil kan kembali tubuhnya dengan memegang tiang lampu jalan.

Dia mengangkat kepalanya untuk sekedar memastikan keadaan gadis yang masih berada di pelukannya tersebut. Gadis itu masih meringkuk di dada Sungmin. Terdengar helaan nafas berat milik Sungmin. Dia merasa lega karena berhasil menyelamatkan gadis itu.

Beberapa saat kemudian , sekelompok orang mulai berjalan mendekati Sungmin.  Dalam satu gerakan mulus , Sungmin menduduk kan dirinya serta gadis yang masih berada di dalam pelukannya tersebut. Gadis itu duduk di hadapan Sungmin sambil menundukkan kepalanya. Dan dalam posisi menunduk seperti itu mengakibat kan wajah gadis tersebut tertutup oleh rambut sehingga Sungmin tidak dapat melihat wajah gadis yang telah ia selamatkan.

Tiba – tiba terdengar suara yang sangat keras berasal dari tempat yang tak jauh dari Sungmin. Sungmin menolehkan kepalanya dan matanya membelalak lebar. Di ujung sana tepatnya di samping lampu lalu lintas , seonggok motor besar yang tadinya masih baik – baik saja sekarang sudah dalam kondisi hancur berantakan karena terlindas oleh bus besar yang baru saja melintas tanpa memperhatikan bahwa ada sebuah motor besar berwarna hitam mengkilap yang baru saja dibanting begitu saja oleh pemiliknya yang bermaksud untuk menyelamat kan seorang gadis.

Melihat motor besar miliknya tersebut sudah hampir tak berbentuk lagi , Sungmin hanya dapat menghela nafasnya lalu kembali memutar kepalanya untuk melihat gadis yang masih terdiam di pelukannya. Badan gadis itu terasa sangat dingin menusuk kulit Sungmin.

Gwenchanayo ?” tanya Sungmin pelan. Dengan pelan gadis itu menganggukan kepalanya.

“Syukur lah kalau begitu.” gumam Sungmin. Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan dan kedua mata bulatnya memberi Sungmin tatapan yang tak bisa dibaca oleh Sungmin.

“Err—bisa berdiri ?” tanya Sungmin pelan sambil menunjuk posisi badan gadis itu yang masih berada di atas Sungmin.

Saat menyadarinya posisi tidak wajar tersebut , gadis itu langsung melompat berdiri dari tubuh Sungmin.

Sungmin yang melihat kelakuan polos gadis aneh tersebut hanya dapat menahan tawanya.

“Apa Anda baik – baik saja ?” tanya seorang wanita paruh baya pada Sungmin yang masih duduk di atas aspal jalanan.

“Ahh—aku baik – baik saja.” dalam satu gerakan mulus , Sungmin mengubah posisi tubuhnya menjadi berdiri.

Beberapa bisikan aneh terdengar di sekitar Sungmin dan itu menimbulkan tanda tanya besar di kepala Sungmin.

“Kenapa dia melompat tiba – tiba ?”

“Dengan siapa dia bicara tadi ?”

“Apa namja itu gila ?”

Dahi Sungmin berkerut setelah dapat menangkap pembicaraan atau lebih tepatnya bisikan orang – orang di sekitarnya.

“Emm—anak muda , kenapa kamu melompat tiba – tiba ?” wanita paruh baya yang baru saja menanyakan keadaan Sungmin akhirnya membuka mulutnya untuk menanyakan sesuatu yang janggal menurutnya.

“Aku menyelamatkan wanita ini.” Sungmin mengangkat salah satu alisnya sembari tangannya menunjuk ke arah wanita mungil yang baru saja dia selamatkan. Mata namja itu menatap gadis mungil tersebut dengan tatapan bingung. Sedangkan wanita tersebut hanya bisa tersenyum kecil sambil mengangkat kedua bahunya. Saat Sungmin membalikkan badannya untuk kembali menatap wanita yang baru saja menanyai dirinya tersebut , justru yang dia dapatkan adalah tatapan aneh dan janggal.

“Ada apa ?” tanya Sungmin.

Sungmin tidak mendapatkan jawaban dari orang orang yang berkerumun di depannya. Orang – orang tersebut hanya saling bertukar tatapan dengan mulut masih membisu. Hingga salah seorang dari mereka mengeluarkan ponsel dan menelpon ke suatu tempat.

“Emm—polisi ?”

“Ya , disini ada orang yang sedang mencoba bunuh diri.”

“Baiklah , kami akan menahannya. Ya ,Ya. Mohon secepatnya.”

Dahi Sungmin berkerut semakit dalam mendengar percakapan sepihak barusan.

“Yaa—apa apaan itu ?” Sungmin mencekal tangan namja yang baru saja menelpon tersebut.

“Aku tidak ingin bunuh diri.” namja itu menggelengkan kepalanya sekuat mungkin tapi tatapan tidak percayalah yang ia dapatkan dari orang orang di sekitarnya. “Aku hanya ingin menyelamatkan gadis ini.” Sungmin kembali menunjuk ke arah gadis mungil yang sedang mencengkram erat rok putih yang dipakai oleh gadis tersebut.

Kembali orang – orang di sekitar Sungmin saling bertatapan. Dan kembali berbisik , “Seharusnya bukan polisi yang kita telepon tapi rumah sakit jiwa.”

“Aku tidak gila !” Sungmin membentak salah seorang wanita yang baru saja mengatai Sungmin gila.

Bentakan Sungmin barusan justru mengundang rasa tidak percaya yang lebih besar dari orang – orang yang mengerumuninya. Dan salah seorang dari mereka langsung memegangi kedua lengan Sungmin untuk mengantisipasi amukan Sungmin yang mereka kira sebagai orang tidak waras.

Sungmin lantas memberontak dan berusaha melepaskan cengkraman tangan tersebut. Semakin Sungmin meronta maka semakin banyak pula orang – orang yang berusaha memegangi tangan Sungmin. Sudut mata Sungmin akhirnya menatap tempat dimana gadis tadi berdiri untuk meminta pertolongan agar gadis tadi dapat menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi. Tapi mata Sungmin justru membulat lebih besar karena tempat itu kosong. Gadis berkulit putih dan berbadan mungil yang baru saja dia selamatkan menghilang tanpa jejak dan meninggalkan Sungmin sendirian dengan serentetan masalah yang berhubungan dengan polisi serta rumah sakit jiwa.

Mata gadis itu terus menatap namja tersebut. Namja yang telah menyelamatkannya dan telah dia berikan tumpukan masalah. Terlihat dari balik kaca bening jendela rumah sakit ketika lelaki itu berusaha menjelaskan kepada para petugas rumah sakit bahwa dia masih normal dan tidak mempunyai keinginan bunuh diri. Ia juga mengatakan bahwa ia hanya ingin menyelamatkan seorang gadis yang nyaris tertabrak. Senyuman kosong terlukis di wajah gadis itu saat mendengar laki – laki itu begitu berusaha meyakinkan bahwa ia hanya ingin menyelamatkan seorang gadis.
Mianhaeyo.” gumamnya.

Satu jam kemudian akhirnya namja tadi keluar dari rumah sakit jiwa tersebut dengan wajah suntuk dan kelelahan. Di depan pintu rumah sakit terlihat beberapa petugas dari rumah sakit membungkukan badan dan mengucapkan kata maaf berkali – kali.

Namja yang baru saja menyelamatkan gadis tersebut hanya menggumam tidak jelas untuk menanggapinya. Dan , karena ada perasaan bersalah pada hati gadis tersebut yang merasa bahwa dirinyalah penyebab masalah tersebut. Gadis itu memutuskan untuk meminta maaf.

Dengan langkah perlahan , dia mendekati Sungmin. Lelaki itu lalu berbalik saat merasakan ada tepukan ringan di punggungnya. Yang dia temukan adalah gadis berkulit putih dan berbadan mungil yang baru saja dia selamatkan dan baru saja membawa masalah untuk dirinya.

Seperti tersihir , gadis tadi hanya terpaku menatap tangannya.

“Kamu—” geram Sungmin. Tangan Sungmin langsung mencengkram lengan kurus gadis itu.

Gadis tersebut kembali terpaku menatap lengannya yang kini tengah dicengkram Sungmin. Badan gadis itu terasa lemas seketika. Kakinya tidak lagi dapat menopang tubuhnya karena rasa lemas yang tiba tiba menyerang tersebut. Dengan sigap Sungmin langsung menopang tubuh gadis tersebut.

Butiran hangat mulai terasa mengalir di pipi gadis itu. Dia menangis tertahankan. Sungmin yang tak tahu harus berbuat apa akhirnya hanya bisa memeluk tubuh gadis mungil tersebut. Tangan Sungmin mengelus pelan rambut gadis tersebut untuk sekedar memberikan gadis itu ketenangan.

Tapi tiba – tiba , Sungmin tercekat akan kejanggalan yang ia rasakan. Hawa dingin menusuk permukaan kulitnya dan seketika dia merasa merinding. Tanpa sadar dia langsung menjauhkan tubuh gadis itu dari tubuhnya. Dia mencengkram erat pundak gadis di depannya tersebut. Tatapan tajam diberikan langsung ke arah mata gadis itu.

Sedangkan gadis itu sendiri hanya menghela nafas panjang karena dia sendiri sudah menyadari bahwa laki – laki di depannya ini sudah mengetahui tentang dirinya.

“Ya. Aku bukan manusia. Aku hanya arwah,” satu kalimat yang terucap dari bibir gadis itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan seluruh masalah yang Sungmin dapatkan hari ini.

“Jangan berpikiran buruk tentangku ! Aku tidak akan berbuat jahat !” sergah gadis itu.

“Aku tahu.” gumam Sungmin, Dia mulai melangkahkan kakinya mendahului gadis itu.

“Apa kamu mau membantuku ?” tanya gadis itu pelan dan tiba – tiba.

Sungmin langsung memutar kepalanya dan menatap wanita itu tajam.

“Aku mohon. Bantulah aku mencari cara untuk kembali ke tubuhku.”

“Kembali ke tubuhmu ?” tanya Sungmin.

“Aku yakin , aku masih hidup. Aku belum meninggal karena arwahku masih di dunia dan belum ke surga.”

Sungmin menghela nafasnya pelan.

“Dengarkan aku. Seumur hidupku aku belum pernah menemui arwah yang belum meninggal,” Sungmin menghela nafasnya kembali lalu menatap gadis yang sedang memberikan tatapan tajam padanya. Sebelum melanjutkan perkataannya tanpa sadar Sungmin menelan ludah untuk sekedar membasahi kerongkongan yang tiba tiba terasa kering, “Terimalah kenyataan bahwa kamu sudah meninggal.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat – kuat, “Tidak mungkin aku sudah meninggal. Buktinya aku masih ada di dunia ini bukan ke dunia orang – orang yang sudah meninggal.”

Sungmin menatap lurus ke arah gadis yang sudah mulai menangis tersebut. Dimasukan kedua tangannya yang mengepal kencang ke dalam saku jaketnya.

“Maaf , aku tidak bisa membantumu.” ucapan Sungmin barusan langsung membuat gadis itu tercekat. Bagi gadis itu hanya Sungminlah satu satunya orang yang dia yakini bisa membantunya. Dengan cepat dicekalnya tangan Sungmin sebelum laki – laki itu membalikan badan.

“Kumohon.” mata gadis itu sudah mulai dilapisi oleh cairan bening.

Namja tersebut menggertakan giginya sebelum melepas cengkraman tangan gadis itu di lengannya.

“Maaf.” gumam Sungmin sebelum akhirnya benar benar melangkah pergi meninggalkan gadis mungil tersebut seorang diri.

“Aissh—bagaimana aku bisa sekolah ? Tidak ada kendaraan.” Sungmin mengacak rambutnya pelan.

“Ini semua karena wanita itu,” gumamnya sembari menjatuhkan diri di atas sofa ruang tamu.

“Jadi ini rumahmu ? Wah , besar sekali.” seorang gadis tiba – tiba muncul dari balik punggung Sungmin.

Sungmin membalikan badannya dan menatap gadis itu tajam. “Kenapa kamu belum pergi ?” tanya Sungmin hambar saat mengingat janji gadis yang mengikutinya tadi malam yang mengatakan bahwa dia akan pergi keesokan harinya.

“Aku tidak punya tempat untuk pergi. Oh iya , aku mau menunjukan sesuatu padamu. Lihatlah !” gadis itu menunjuk ke arah kakinya yang saat ini melayang bebas sekitar 30 centi dari lantai.

“Hebat.” sahut Sungmin datar tanpa sedikit pun melihat ke arah gadis itu.

“YAA—coba lihat dulu !” bentak gadis itu sambil mengguncangkan pundak Sungmin.

“Aku sudah pernah melihat hantu yang terbang sampai 3 meter tingginya. Lagipula hal itu tidak penting, Yang lebih penting saat ini adalah kapan kamu mau menjauh dariku ?” gerutu Sungmin.

“Sampai kamu mau mengatakan bahwa kamu akan membantuku.”

“Kalau aku mau membantumu. Kamu bersumpah akan menjauh dariku ?” tanya Sungmin.

Gadis itu mengangguk dan memberikan bentuk V dari jari jarinya.

Sungmin terlihat menimbang – nimbang seluruh keuntungan dan kerugian yang akan ia dapatkan.

“Apa yang membuatmu yakin kalau aku bisa membantumu ?” Sungmin mengangkat kedua alisnya.

“Sentuhan.” gumam gadis tersebut.

“Apa ?”

“Sentuhan. Kamu bisa menyentuhku.”

Salah satu tangan kecil gadis itu memegang telapak tangan Sungmin lalu berpindah menuju sofa dan akhirnya tangan gadis itu menembus sofa tersebut.

“Lihatlah. Tidak ada satu benda pun yang bisa kusentuh tapi aku bisa menyentuhmu. Dan jujur saat kamu menyelamatkanku, aku hanya dapat merasakan takdir. Karena kamu seperti membuatku merasakan hidup kembali,” Senyuman lembut terlukis di wajah gadis itu.

Sungmin tersenyum kecil mendengar penjelasan gadis itu.

“Baiklah. Aku juga tidak mau terus – terusan terganggu olehmu.”

“Jadi kamu mau membantuku ?” senyuman cerah menghiasi wajah gadis itu. Sungmin hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

“Terima kasih.” ucap gadis itu tulus masih dengan senyuman.

“Baiklah , dimana kita akan mulai sekarang ?” tanya Sungmin lebih kepada dirinya sendiri.

Tiba – tiba Sungmin berbalik menatap gadis tersebut.

“Bukankah kita belum mengenal satu sama lain ?” Sungmin mengangkat salah satu alisnya.

“Sungmin imnida.” gumam Sungmin.

Gadis tersebut menatap Sungmin kebingungan.

“Ada apa ?” tanya Sungmin.

“Aku tidak tahu namaku.” gadis tersebut tersenyum kikuk. Sungmin mengerutkan dahinya.

“Jadi hantu tidak memiliki ingatannya saat hidup ya ?” gumam Sungmin.

“Semuanya hilang. Tak ada ingatan yang tersisa.” terang gadis tersebut.

Sungmin menghela nafasnya berat.

“Aku rasa aku mulai menyesal telah setuju untuk membantumu. Bagaimana kita bisa menemukan masalahmu yang belum kamu selesaikan jika namamu saja tak bisa diingat.” sahut Sungmin.

“Masalah yang belum kuselesaikan ?”

“Ya , kebanyakan arwah yang tak bisa ke surga pasti karena belum menyelesaikan masalah di dunia ini.” jelas Sungmin. Gadis itu hanya menganggukan kepalanya. Tiba – tiba gadis itu menjentikan jari – jarinya.

“Kalau begitu sebagai rasa terima kasihku kamu boleh memanggilku dengan nama yang kamu suka.” sahut gadis itu riang.

“Aku suka nama Blacky.” gumam Sungmin. Gadis itu menjitak kepala Sungmin pelan.

“Jangan bercanda !” ucap gadis itu.

“Bagaimana dengan Babo ?” ucap Sungmin dengan wajah riangnya.

Gadis itu memberikan Sungmin tatapan tajam.

“Bercanda.” Sungmin mengangkat kedua tangannya di depan dada tanda menyerah.

“Sunny.” gumam Sungmin.

“Apa ? Sammy ?” tanya gadis itu.

“Bukan Sammy tapi Sunny.”

“Nama apa itu ?” tanya gadis itu.

“Itu dari bahasa inggris yang artinya matahari. Karena bagiku kamu adalah matahari yang selalu membuatku berkeringat dan lelah.” Sungmin langsung beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke kamar tidurnya.

Sedangkan gadis tersebut hanya bisa menggumam tidak jelas.

“Sunny ya ? Lucu juga,” gumam gadis itu tanpa mengetahui bahwa ‘Sunny’ yang dimaksud Sungmin sebenarnya bukanlah matahari yang membuatnya selalu berkeringat dan lelah tapi maksud sebenarnya Sungmin adalah ‘Sunny’ yang melambangkan senyuman lembut dan riang dari gadis itu yang dapat menghangatkan perasaan Sungmin.

TBC

Writen By :

Give Your Comment, Please ^^

Advertisements

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s