[Chapter 1] I’m Not Him

Author : AltRiseSilver

Cast : Kim Kibum Shinee, Ahn Min Hye, Shinee’s member

Genre : Romance, Sad, Friendship, Family

Rating : PG17

Wangi bunga musim semi menyeruak kedalam rongga hidungku sesaat setelah aku menginjakkan kaki di Seoul. Aku menatap sekitarku, lahir di kota ini namun tidak pernah menikmati indahnya kota ini. Seorang pria setengah baya menghampiriku sambil tersenyum.

“Kim Kibum?” tanyanya ramah. Aku mengangguk sambil membalas senyumannya.

“Ah, aku Park Migyong supir pribadi ayahmu, aku ditugaskan untuk menjemputmu tuan Kibum.” Dia memperkenalkan dirinya sambil membungkuk padaku. “Aku Kim Kibum,” ucapku juga memperkenalkan diriku sambil membungkuk.

“Aku sudah mengenal tuan, mari kubawakan tasmu,” katanya sambil meraih tas yang kubawa, aku ingin melarangnya namun tangannya meraih lebih cepat dibanding diriku. “Kita pulang sekarang tuan?” tanyanya masih ramah. Aku hanya mengangguk kemudian mengikuti langkahnya menuju mobil mewah milik ayahku.

“Ayah itu seperti apa?” tanyaku memulai pembicaraan saat ia mulai menjalankan mobilnya. “Maksudnya ayah tuan?” tanyanya berhati-hati sambil terus memperhatikan jalan. “Tentu saja,” jawabku sambil terus memandang supir yang kira-kira umurnya sekitaran ayahku.

“Beliau orang yang baik, keliatannya pemarah tapi sebenarnya beliau adalah orang yang tegas,” jawabnya tanpa memalingkan wajah kearahku. Aku menatapnya. Baik? Benarkah dia pria yang baik?

“Kenapa dia membuangku kalau menurutmu dia itu baik?” tanyaku tiba-tiba. Entah kenapa aku berani menanyakan hal yang seharusnya aku pendam sendirian saja. Dia berdehem namun tidak menjawab apapun. Kupalingkan wajahku ke luar jendela, memandang langit biru kota Seoul dan mengingat semua memori kehidupan pahitku selama ini.

Aku memang lahir di Seoul namun aku dibesarkan oleh halmeoni di pulau kecil yang jauh dari Seoul. Menurutku kedua orangtuaku itu tidak menginginkanku dan dari cerita nenek mereka sepertinya memang sengaja membuangku. Aku mendesah pelan, kedatanganku ke Seoul juga bukan tanpa maksud. Mereka memintaku lebih tepatnya membujukku untuk ‘pulang’ ke rumah mereka untuk melakukan sesuatu yang tidak kusukai.

“Aku yakin beliau punya alasan sendiri telah memisahkan tuan dengan tuan Key,” jawabnya kemudian memecahkan lamunanku yang sudah jauh diatas langit. Aku memalingkan wajahku kearahnya. Dia tersenyum sambil terus menyetir.

“Tuan Key juga tidak sebahagia apa yang tuan bayangkan,” ucapnya lagi.

“Jangan sebut nama Key lagi, aku tidak suka,” kataku lalu membuang mukaku ke jendela. Kenapa dia harus menyebut nama Key? Orang yang selama ini membuatku iri. Kalau aku ini anak yang dibuang mungkin Key-lah yang menjadi anak terpilih diantara kami. Jujur bukan dia yang aku benci namun aku tetap tidak suka siapapun menyebut nama Key dihadapanku.

“Masih lama?” tanyaku, aku mengatur nada bicaraku agar tidak terdengar membentak atau marah. “Sebentar lagi,” ujarnya cepat, kemudian dia membelokkan mobil kesalah satu gang komplek dan berhenti di depan rumah besar dengan pintu pagar yang megah.

“Jadi ini rumahnya?” gumamku lirih. Kupandangi pagar yang perlahan terbuka dengan sendirinya, mobil berjalan masuk. Terparkir rapi di garasi mobil. Aku segera keluar dari mobil kemudian mengambil tasku dari dalam bagasi.

“Kibum!” pekik suara perempuan dari belakangku. Aku mendongakkan kepalaku, kulihat wajah ibuku dengan senyum bahagianya. Aku tidak tahu itu kepura-puraan atau memang tulus dari hatinya. Aku hanya menatapnya tanpa bergeming.

Dia melangkahkan kakinya mendekat kearahku kemudian membentangkan tangannya hendak memelukku. Namun, aku mencegahnya. “Aku tidak suka dipeluk,” kataku. Kulihat wajahnya terkejut bercampur kecewa. “Jaga sikapmu Kibum-ssi!” bentak seorang pria dengan suara beratnya dari belakang ibu.

Aku menoleh kearah lain, aku tidak mau melihat wajahnya. “Tatap lawan bicaramu saat dia sedang berbicara padamu, Kibum-ssi!” bentaknya lagi. Aku menatapnya lalu menghempaskan nafasku kasar. “Sikapmu itu berbeda sekali dengan Key,” kata ayah masih dengan suara beratnya.

“Aku bukan dia,” kataku cepat. Aku tidak suka disamakan dengan saudara kembarku itu.

“Kibum.” Ibuku menatapku, mencoba menengahkan perdebatan kami agar tidak menjadi pertengkaran hebat.

“Aku masuk dulu,” ucapku kemudian melangkah melewati mereka tanpa memperdulikan ekspresi wajah yang mereka tunjukkan padaku. “Aku harap dia segera berubah,” kata ayah samar-samar kudengar sebelum aku menutup pintu kamar.

Aku melempar tasku ke sembarang tempat, membuka sepatu, jaket dan topi yang kukenakan dan memperlakukan hal yang sama seperti tasku kemudian aku merebahkan tubuhku diatas kasur besar dan empuk.

“Apa dia bilang? Berubah? Dia pikir semudah itu membuatku berubah? Halmeoni yang membesarkanku saja tidak pernah bisa membuatku berubah apalagi dia,” gumamku tak jelas. Aku menatap langit-langit kamar berwarna biru dihadapanku. Tenang. Aku merasakan ketenangan saat menatap langit-langit itu.

Aku dan Key, lahir dari rahim yang sama tapi takdir kami benar-benar berbeda. Begitu beruntungnya dia menjadi anak yang terpilih.

Suara pintu diketuk membuatku kembali ke alam sadarku. Aku bangkit kemudian membukakan pintu. Wajah ibu dengan senyumannya tadi berada dibalik pintu saat aku membukanya. “Wae?” tanyaku datar lalu berbalik dan duduk disebuah bangku.

“Aku hanya ingin mengobrol denganmu,” jawabnya sambil mendekatiku. Aku membuang mukaku. “Bagaimana kabarmu selama ini?” tanyanya lembut sambil tetap memperhatikanku. “Aku kesepian,” ucapku sinis. Tak kudengar ia menjawab, hanya hembusan nafas kami yang terdengar.

“Maafkan ibu Kibum-a maafkan juga ayahmu,” pintanya dengan nada memelas. Aku menatap wajahnya. “Apa meminta maaf dapat merubah kehidupanku yang sebelumnya?” tanyaku makin sinis. Aku memandang wajahnya yang sendu, ada raut penyesalan di kedua matanya namun tak lantas membuatku luluh dan memaafkan mereka.

“Hampir dua puluh tahun aku tidak mendapatkan rasa sayang kalian apa aku harus memaafkan kalian segampang itu?!” seruku membuatnya menangis. “Kami menyadari kesalahan kami Kibum-a, untuk itu aku membujukmu untuk datang kemari,” jawabnya sambil terisak. Aku menghela nafas dan membuang muka. Menatap pigura foto Key yang tersenyum bahagia.

“Aku bukan Key yang gampang memaafkan oranglain bu,” ucapku lirih.

**

“Key Oppa!!” seru seorang gadis yang baru saja keluar dari pintu kedatangan bandara. Aku menoleh, menatap sosok gadis yang berlari menghampiriku dengan senyum bahagianya. Aku tersenyum, gadisku sudah datang.

Bogoshipoyo!” ujarnya sambil menghamburkan dirinya pada pelukanku. Aku tertawa. “Dasar manja,” ucapku sambil mengusap rambut pendek sebahunya. Dia melepaskan pelukannya dan mengerucutkan bibirnya. “Harusnya kau mengatakan Na Do bogoshipo, Oppa,” katanya dengan manja. Aku mengacak-acak rambutnya.

“Tidak perlu aku katakan kau sebenarnya sudah tahu ‘kan?” tanyaku. Dia mengangguk. Senyumnya masih terkembang diwajahnya. “Aku masih ingin memelukmu Oppa,” katanya lagi saat aku mulai menarik kopernya.

“Jangan disini, Minnie-ya,” kataku sambil menggenggam tangannya dan memanggilnya dengan panggilan kesayanganku. “Kau masih ingat panggilan kecilku?” tanyanya senang sambil mengimbangi jalanku, aku hanya mengangguk.

“Kau ‘kan kekasihku, tentu saja aku mengingatnya,” jawabku akhirnya.

“Setahun berlalu ternyata kau semakin tampan Oppa,” kata Min Hye membuatku tersenyum. Kami akhirnya sampai di parkiran, aku membuka bagasi mobil dan memasukkan kopernya. “Jadi aku yang dulu tidak terlalu tampan?” tanyaku mengundang tawanya. Aku menutup bagasi lalu masuk kedalam mobil.

“Tentu saja tampan, tapi kau lebih tampan sekarang Oppa,” pujinya saat memasuki mobil. “Kau juga semakin cantik sayang,” ucapku. Kulihat wajahnya memerah kemudian kulajukan mobilku meninggalkan bandara.

“Sejak kapan rambutmu pendek?” tanyaku membuka pembicaraan, aku baru menyadari kalau sepanjang perjalanan ini dia tidak mengeluarkan suara. Min Hye yang sedang memperhatikan jalan menoleh kearahku dan memandangku heran. Aku hanya meliriknya sekilas karena memfokuskan pandanganku ke jalan.

“Bukankah sebelum aku berangkat setahun yang lalu aku sudah memotong pendek rambutku dan kau menyukainya, Oppa?” tanyanya dengan nada keheranan, aku membelalakkan mataku kemudian meliriknya sekilas.

“Benarkah? Aigoo, aku lupa Minnie-ya, hehehe,” jawabku sambil tertawa dipaksakan. Min Hye ikut tertawa, mungkin menurutnya aku benar-benar lupa padahal sebenarnya aku tidak tahu.

“Umurmu itu sebenarnya berapa Oppa? Kenapa sudah pikun sih?” tanya Min Hye ditengah tawanya. Aku tidak menjawab, hanya ikut tertawa bersamanya. “Apa perlu aku memanjangkan lagi rambutku?” tanyanya kemudian sambil memegang rambutnya. Aku berdehem.

“Ehm, begitu saja dulu kalau aku menyuruh panjangkan baru kau panjangkan ya,” ucapku lembut sambil membelai kepalanya yang di balas dengan anggukan kepalanya. Aku tersenyum, betapa beruntungnya Key mendapatkan gadis seperti Min Hye, batinku.

“Kita pulang ke rumahmu dulu Oppa?” tanyanya sambil terus menatapku yang sedang berkonsentrasi dengan jalanan. Aku hanya mengangguk. Sebenarnya aku sedikit risih terus dipandang seperti itu oleh seorang gadis.

Eomma dan Appa merindukanmu,” ucapku lirih ketika menyebut mereka. Dia tidak menjawab, kulirik dirinya yang sekarang tengah memandang keluar jendela lagi.

 

EOMMA!! APPA!!” pekiknya saat memasuki rumah orangtuaku. Dia memang seperti itu,  saking akrabnya dengan keluargaku dia menganggap kedua orangtuaku sebagai orangtuanya sendiri. Aku yang dibantu Pak Migyoung membawakan koper Min Hye saling bertatapan dan menggelengkan kepala.

Ibu yang sedang berada didapur keluar dan memeluk Min Hye erat. “Aigoo, kau tidak pernah berubah Hye-a,” ucapnya sambil tersenyum hangat tak lama ayah keluar dari kamar dan menghampiri Min Hye. Aku hanya memandang mereka bertiga dari jauh, reuni keluarga bahagia, batinku.

“Key-a, kau mau kemana?” tanya ibu lembut saat melihatku berjalan kearah kamarku. Aku menoleh, “Berganti baju sebentar Eomma,” jawabku kemudian masuk kedalam kamar. Mati-matian aku berusaha mengatur caraku berbicara di depan Min Hye, aku tidak mau dia curiga kepadaku.

“Kau menyusahkanku,” gumamku pada pigura foto Key setelah itu aku membuka kausku dan menggantinya dengan kaus yang lebih nyaman untuk dipakai dirumah.

Aku baru saja ingin membuka knop pintu namun seseorang sudah membukanya terlebih dahulu. Kulihat wajah Min Hye melongok menatapku. “Ah, kenapa aku tidak memergokimu sedang berganti pakaian,” ujarnya lemas saat mengetahui aku sudah berganti pakaian.

Aku membuka sedikit bibirku. Apa katanya? Aish, yadong sekali pemikiran gadis ini. Aku mengacak-acak rambutnya. “Kau ingin melihatku telanjang dada? Baiklah aku akan—“

ANDWAE!!” pekiknya saat aku ingin membuka kausku, kedua tangannya sekarang menutupi wajahnya dan matanya kadang mengintip dari celah jarinya, mencari tahu apa aku benar-benar membuka bajuku. Aku tertawa, tadi dia sendiri yang ingin melihatnya sekarang dia pula yang mencegahku. Dasar gadis yadong.

Posisinya masih sama seperti tadi, tidak berubah sedikitpun dan sesentipun. Aku mendekatinya, menjauhkan kedua tangannya dari wajahnya. “Aku tidak membuka bajuku jagiya,” ucapku saat wajahnya terlihat namun matanya masih tertutup.

Setelah aku mengatakan itu salah satu matanya terbuka untuk membuktikan kata-kataku lalu setelah semuanya aman dia membuka kedua matanya. “Ya Oppa kenapa kau mau membuka bajumu tadi?” ujarnya kesal sambil memukul lenganku. “Bukankah tadi kau mau melihatku berganti pakaian?” tanyaku.

Dia mengerucutkan bibirnya. “Aku hanya bercanda Oppa,” gumamnya sambil menyembunyikan kedua tangannya di punggungnya dan menunduk, kebiasaannya saat salah tingkah. Aku tertawa, betapa lucunya kekasih Key ini.

Aku mengacak rambutnya gemas. “Dasar gadis yadong.”

“Ya Oppa! Aku tidak yadong!” pekiknya keras.

**

Aku masih menunggu Min Hye keluar dari sekolahnya. Hari ini hari pertamanya sekolah dan sebagai kekasih yang baik aku harus menjemputnya. “Argh! Apa seperti ini rasanya punya kekasih?” umpatku sambil menendang kerikil di aspal. Aku mengumpat bukan karena tidak suka memiliki kekasih tapi kalau harus menunggu seperti ini aku merasa malas juga.

Aku melirik jam tanganku, sudah setengah jam yang lalu sekolah bubar namun Min Hye belum menampakkan sosoknya. Aku mengacak rambutku sendiri, gemas menunggu Min Hye akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam sekolah dan mencarinya. Perasaanku tidak enak.

Aku berkeliling, sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri mencari Min Hye.

ANDWAE!

Langkahku terhenti. Aku mendengar teriakan Min Hye menggaung lorong ini, perasaanku makin tidak enak. Aku berlari kalut mencarinya. “Pergi!” suara Min Hye terdengar lagi. Aku mempercepat lariku.

Aku berbelok ke tikungan lorong dan menemukan sosok Min Hye tengah dikelilingi tiga orang pria yang berseragam sama dengan kekasihku. Min Hye yang melihat kedatanganku berteriak memanggilku membuat tiga orang pria yang memunggungiku menoleh kebelakang.

Aku mengatur nafasku dan perlahan mendekat.

“Jangan ganggu kekasihku,” ujarku masih bersikap ramah. Salah satu dari mereka maju, mendekatkan jarakku dengannya. “Jadi dia kekasihmu? Bagaimana kalau kau melepaskannya untuk kami saja?” tanyanya penuh kesinisan membuat perutku mual mendengarnya. Aku mendengus.

“Kalian berani bayar berapa?” tanyaku membuat mata Min Hye membulat.

“Semahal yang kami bisa,” jawabnya membuat amarahku makin memuncak. Salah satu diantara mereka tiba-tiba saja menyentuh wajah Min Hye dan mendekatkan wajahnya membuat yang lainnya tertawa.

Aku tidak bisa membiarkannya lagi.

BUK!

Sebuah pukulan keras ku arahkan pada pria dihadapanku, pukulan ringan dan tanpa tenaga itu membuatnya tersungkur jauh. Dua dari mereka yang melihat kejadian itu maju dan siap meninju wajahku namun, bukan Kim Kibum namanya kalau aku sampai ikut tersungkur seperti temannya itu.

Aku menghantam mereka dengan tinju yang lebih keras. Percuma belajar karate selama 6 tahun namun tidak membuahkan hasil sama sekali. Ketiganya tersungkur sambil mengerang kesakitan, aku menghampiri Min Hye. “Kau tidak terluka?” tanyaku cemas, dia hanya menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Aku merangkulnya dan berjalan menjauh dari tempat kejadian.

“Jangan pernah kalian ganggu kekasihku lagi,” ucapku pada ketiganya sebelum menjauhi mereka.

Oppa,” panggil Min Hye dengan suara bergetar. Aku mengeratkan rangkulan tanganku pada pundaknya. “Tenanglah, mereka tidak akan mengganggumu lagi,” ucapku menenangkannya.

“Mereka sebenarnya ingin apa darimu?” tanyaku saat kami keluar gerbang sekolah. Dia menggeleng, aku tahu dia masih ketakutan sehingga aku tidak menanyai lagi dan cepat-cepat membawanya pulang.

**

Oppa, apa sakit?” tanya Min Hye saat kami bertemu di taman yang ‘katanya’ selalu menjadi tempat pertemuan kami. Aku memandangnya yang tengah menunjuk tangan kananku yang membiru sejak insiden disekolahnya kemarin.

Aku mengepalkan tanganku dan mengangkatnya sejajar wajahku. “Tidak, sudah biasa,” jawabku sambil tersenyum padanya namun kali ini ia tidak membalas senyumanku.

“Tatapan matamu kemarin…” Dia menghentikan pembicaraannya. Aku  menanti kalimat selanjutnya,

“Tidak seperti dirimu yang biasanya Oppa,” lanjutnya. Aku terhenyak. Kemarin karena kesal aku melupakan sisiku sebagai Key. Aku membuang mukaku, tak berani menatapnya. Masih sunyi diantara kami, hanya desir angin yang pelan yang menemani.

“Aku merasa ada sedikit yang berubah padamu Oppa,” ucapnya kemudian. Aku menelan air liurku sendiri dengan susah payah. Apa aku akan ketahuan sekarang?

Oppa mianhe kalau aku mengatakan hal yang tidak-tidak,” katanya lagi membuatku menoleh. Dia tengah menunduk dan memainkan kedua jari telunjuknya. “Aku tidak suka kau memainkan telunjukmu itu,” ucapku membuat kepalanya terangkat.

“Berhentilah memikirkan hal itu, aku masih Key yang sama,” ucapku menghiburnya namun tak ada senyum yang terkembang diwajahnya. Aku mendesah pelan. “Kalaupun aku berubah, aku tidak akan berhenti mencintaimu,” ucapku lagi.

Kedua bola matanya menatap mataku lekat-lekat, mencari kejujuran disana.

Jeongmal?” tanya Min Hye. Aku mengangguk yakin, berusaha supaya dia tidak curiga. Dia mulai tersenyum lalu memelukku erat.

Key, maafkan aku….

To Be Continued

Advertisements

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s