Heart of Possession -Part 1

Altrisesilver and Chorionstar Storyline

Main Cast: Lee Sungmin, Ahn Hyemi (OC), Go Namhee (OC) | Genre: Horror, Romance | Rating: NC 15 | Length: Two Shots

Disclaimer: Lee Sungmin bukan milik kami. Plot sepenuhnya dikembangkan oleh kami dan poster adalah hasil kerja Altrisesilver. Ahn Hyemi, Go Namhee, dan keseluruhan cerita ini adalah fiksional. Perhatian: Tidak ada toleransi untuk plagiatisme. Dilarang keras memposting ulang fic ini dimana pun tanpa izin dari author. Hargai author sebagai pemilik cerita.

Read more Chorionstar stories here pw: starchorion and Altrisesilver stories here.

Chorionstar’s Author Note: Heunggg.. makasih buat Altha udah sharing ide cerita ini sama aku, akhirnya kesampean juga bikin fic yang genrenya beda. Makasih buat posternya juga ;;A;; dan pastinya makasih banget buat students yang men-support fic ini :3

Altrisesilver’s Author Note: Hmm… ini ff duet pertamaku dan aku percayain ff ini sama Choe, makasih banget buat Choe yang mau aku ajak duet bareng /jgn kapok ya/ dan buat students yang baca dan meninggalkan review di fanfict ini… Makasih banget^^

First Possession

kau harus mati Ahn Hyemi

Namhee mengepalkan tangannya melihat sosok Sungmin menyenderkan kepalanya ke bahu seorang gadis. Ahn Hyemi. Namhee tahu betul itu nama gadis itu. Kedua mata Sungmin menutup perlahan dan Hyemi pun tersenyum kecil melihat wajah terlelap Sungmin.

Berani-beraninya kau Lee Sungmin.

“Hey,” panggil Hyemi lembut, “Apa yang kau lakukan? Orang-orang melihat kita!”

Sungmin hanya memiringkan kepalanya sedikit ke arah Hyemi sampai batang hidungnya hampir menyentuh pipi Hyemi. Terlalu dekat.

“Biarkan mereka melihat,” sahut Sungmin sambil tersenyum iseng, “Biar mereka tahu seberapa beruntungnya aku memiliki pacar sepertimu.”

Wajah Hyemi memerah tersipu mendengarnya. Kepalan tangan Namhee semakin mengencang sampai kuku jarinya menusuk ke kulitnya. Jadi begitu, Lee Sungmin-ssi? Namhee mendecak kesal, jijik melihat pasangan namja dan yeoja itu. Bukankah Sungmin pernah bilang dia adalah satu-satunya yeoja yang ada di hatinya? Kenapa sekarang dia bergelayut ke Ahn Hyemi itu? Sial. Namhee tidak akan pernah memaafkannya.

“Kau harus pulang,” sahut Hyemi akhirnya. Sungmin menolak seperti anak kecil.

“Tapi aku ngantuk,” gumamnya manja.

“Yah! Justru karena itu kau harus pulang!” bantah Hyemi sambil mendorong Sungmin dari bahunya. Sungmin tertawa ketika Hyemi kesulitan mendorongnya. Hyemi pura-pura kesal sambil memukul perlahan lengan Sungmin.

“Hyemi-ya,” Sungmin memulai aegyonya.

“Tidak,” sahut Hyemi tegas sambil menutup wajah Sungmin dengan tangannya, “Aku kebal dari aegyomu.”

“Baiklah, baiklah,” Sungmin mengalah sambil menarik tangan Hyemi dari wajahnya. Sungmin menguap lebar dan membuat Hyemi tertawa kecil melihat wajah imutnya yang natural itu. Ya, natural. Sungmin terlahir imut, aegyo adalah bagian dari genetiknya.

“Apa yang kau lakukan kemarin hah? Baru jam segini sudah ngantuk begitu,” gumam Hyemi.

“Latihan,” jawab Sungmin sambil mengucek matanya, “Kau ingat kan musikal kampus kita tinggal satu bulan lagi.”

“Kau akan baik-baik saja Ming. Astaga, kau kan aktor musikal yang paling berpengalaman di kampus ini,” sahut Hyemi sambil memutar bola matanya.

Namhee tertawa menyindir mendengarnya.

“Tentu saja aktor paling berpengalaman itu kau, Lee Sungmin. Kau membuat Hyemi percaya semua omongan gombalmu itu. Kau membuatku percaya kalau kau tidak akan pernah meninggalkanku. Tentu saja, kau aktor hebat,” gumam Namhee pada dirinya sendiri.

Sungmin mengangkat tasnya dari lantai dan mengenakan jaketnya, “Tidak ada salahnya latihan kan?”

“Dasar perfeksionis,” cibir Hyemi.

“Tapi kau mencintai perfeksionis ini,” balas Sungmin.

Hyemi mengangkat bahu, pura-pura tidak tertarik. Namhee semakin kesal melihatnya. Keduanya sama menjijikkan. Bisa-bisanya Ahn Hyemi itu merebut Sungmin darinya. Berani-beraninya Sungmin mengingkari janjinya. Tidak bisa dibiarkan. Sungmin akan membayarnya. Hyemi harus menderita.

“Hati-hati di jalan,” sahut Hyemi pada akhirnya.

“Tentu saja,” sahut Sungmin sambil tersenyum manis, “Jangan pulang terlalu malam.”

Hyemi mengangguk dan Sungmin melangkahkan kaki meninggalkan area kampus mereka. Begitu sosok Sungmin menghilang dari jarak pandang Namhee, gadis itu kembali menatap Hyemi dengan tatapan tajamnya. Tentu saja Hyemi tidak menyadarinya, Namhee hanya mengawasi gadis itu dari jauh.

“Kau harus menderita.”

 

***

 

Hyemi menutup pintu kamarnya dan menarik napas lega. Satu hari melelahkan akhirnya terlewati. Sejak dipilih menjadi lightning artist untuk pertunjukan musikal tahunan kampus mereka, hampir setiap hari Hyemi pulang malam. Walaupun pertunjukan mereka masih satu bulan lagi, semua persiapan harus dibuat sematang mungkin dan secepat mungkin.

Tepat setelah Hyemi selesai berganti baju, dia mendengar handphonenya berdering. Hyemi melompat ke kasurnya dan menyambar handphonenya yang bergetar. Dahi Hyemi mengerut melihat nomor yang tidak dikenal menghubunginya. Awalnya Hyemi tidak ingin mengangkatnya, tapi bagaimana kalau itu telepon penting?

Yoboseo?” sahut Hyemi perlahan.

Tidak ada respon.

“Halo?” ulang Hyemi.

“Ahn Hyemi?” terdengar suara yeoja dari ujung telepon.

“Y-ya, maaf ini siapa?” sahut Hyemi takut-takut.

Yeoja itu tertawa kecil, “Kau ingin tahu aku siapa?”

Hyemi tidak berani menjawab.

“Kalau aku bilang, aku adalah tunangan Sungmin. Apa kau akan mempercayaiku?” tanyanya dingin.

Detak jantung Hyemi berhenti sekilas. Mempercayai seorang penelepon tak dikenal terdengar bodoh, tapi Hyemi tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak merasa terintimidasi.

“Ah, tentu saja kau tidak mungkin mempercayaiku. Ming-ah tidak mungkin berbohong, iya kan?” pancing yeoja itu sarkatis.

Hyemi menggigit bibirnya marah, “Kenapa aku harus percaya padamu?”

“Kenapa kau harus percaya pada Sungmin?” tanyanya balik, “Dia kan aktor. Dari mana kau tahu dia tidak sedang berlatih akting denganmu?”

“Sungmin tidak akan melakukan itu. Dia mencintaiku,” bantah Hyemi cepat.

Yeoja itu meledak tertawa dan membuat Hyemi takut, “Dulu juga Sungmin bilang dia mencintaiku.”

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Hyemi lagi, perlahan.

“Go Namhee,” sahut yeoja itu dingin, “Tanyakan saja pada Ming-ah. Dia pasti ingat.”

Hyemi menggeleng menolak, “Aku percaya pada Sungmin.”

Namhee tertawa meledek, “Aku perjelas untukmu Hyemi-ssi. Aku bukan orang ketiga dalam hubungan kalian. Kau-lah orang ketiga dalam hubungan kami.”

Hyemi menggertakkan gigi marah, “Diam kau. Jangan ganggu aku!”

“Jauhi Sungmin, Hyemi-ssi. Jauhi Sungmin karena dia milikku,” sahut Namhee perlahan, “Sungmin milikku. Aku tidak suka berbagi dengan orang lain.”

Hyemi tidak ingin mendengar lagi kata-kata Namhee. Hanya beberapa saat setelah Hyemi menjauhkan handphone dari telinganya, suara Namhee sayup-sayup terdengar lagi. Lebih perlahan, lebih dingin, dan jauh lebih serius.

“Dan jauhi dia sebelum aku menyakitimu,” tambah Namhee mengancam.

***

Kata-kata terakhir Go Namhee terus mengalun dalam benak Hyemi. Tidak sedikit pun dia memejamkan matanya malam itu. Perasaannya kacau. Macam-macam perasaan takut bercampur aduk menjadi satu. Takut semua yang dikatakan Namhee benar, takut ditelepon lagi, takut Sungmin benar-benar seperti yang dikatakan Namhee, dan takut akan ancaman Namhee.

Hyemi muncul di kampus dengan wajah kusut kurang tidur. Sepanjang hari dia mematikan handphonenya. Kalau bukan karena persiapan musikal, dia tidak akan tinggal lebih lama di kampus. Dalam hati Hyemi berharap Sungmin tidak menemuinya di auditorium nanti. Tapi sepertinya tidak mungkin karena Sungmin selalu mampir ke auditorium untuk latihan.

“Hyemi-ya!” panggil Sungmin.

Hyemi menarik napas berat dan tidak menjawab.

“Yah kemana saja kau?” tanya Sungmin sambil bergegas mendekatinya.

Hyemi membuang muka dan menggigit bibir bawahnya khawatir. Bagaimana kalau Namhee benar? Bagaimana kalau Namhee juga mahasiswa di kampus ini? Bagaimana kalau Namhee melihat? Takut. Hanya ketakutan yang dirasakan Hyemi.

“Hyemi-ya, dasar kau –“ Sungmin terkejut melihat wajah kusut Hyemi, “Apa kau sakit?”

Hyemi menggeleng cepat dan merundukkan kepalanya.

“Hey… hey, Hyemi-ya,” sahut Sungmin perhatian. Dia meraih kedua bahu Hyemi dan menarik gadis itu ke arahnya, “Kau tidak terlihat sakit. Kau … tertekan. Apa yang terjadi?”

Tepat. Sungmin selalu tahu apa yang sedang Hyemi rasakan hanya dengan melihat ekspresinya. Hyemi sedikit menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada siapapun yang memperhatikan arah mereka. Atau lebih tepatnya, tidak ada sosok yeoja yang memperhatikan mereka. Setelah merasa sedikit lebih aman, Hyemi menubrukkan dirinya ke pelukan Sungmin. Hyemi menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Sungmin.

“Jangan tinggalkan aku,” gumam Hyemi bergetar.

“Astaga Ahn Hyemi,” sahut Sungmin sambil tersenyum kecil, “Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Apa yang kau bicarakan?”

Hyemi mengencangkan pelukannya, “Aku mencintaimu Min. Sangat.”

Sungmin mengusap belakang kepala Hyemi, “Apa yang terjadi Hyemi-ya? Kau aneh hari ini.”

Hyemi mendongakkan kepalanya dan menatap kedua mata Sungmin, “Katakan kau mencintaiku juga. Tolonglah. Tapi hanya katakan kalau kau benar-benar serius. Karena kalau kau bercanda, aku akan melakukan hal bodoh seperti mempercayainya.”

Awalnya Sungmin mengangkat alis bingung. Tapi melihat kedua mata Hyemi mulai berair, Sungmin merasa Hyemi tidak main-main.

“Tentu saja aku mencintaimu Hyemi-ya,” sahut Sungmin perlahan, dia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Hyemi dan mengecup lembut kening gadis itu, “Aku tidak mungkin membohongimu. Kau sangat berarti untukku dan tidak ada yang bisa merubahnya.”

Hyemi kembali menyembunyikan wajahnya di pelukan Sungmin dan Sungmin terus berusaha menenangkan Hyemi. Tidak satupun diantara mereka menyadari sosok Namhee memperhatikan setiap gerak gerik mereka dengan penuh amarah.

***

Sungmin dan teman-teman aktor lainnya memutuskan untuk istirahat dan mampir ke coffee shop untuk menyegarkan pikiran mereka. Hyemi hanya tersenyum pias saat Sungmin melambai ke arahnya, membuat Sungmin semakin khawatir melihat sikap anehnya. Hyemi menarik napas berat dan mengusap wajahnya lelah. Setiap hari duduk di depan komputer dan merencanakan pengaturan cahaya untuk musikal mereka benar-benar membuat matanya lelah.

Hyemi melepas earphone yang dikenakannya dan menutup laptop yang diletakkan di meja depannya. Dia merundukkan kepalanya sampai dahinya menyender sempurna ke meja. Telepon ancaman Namhee sama sekali menyita perhatiannya. Sebagian hatinya tidak ingin percaya. Tapi untuk menanyakannya langsung pada Sungmin, keberaniannya tidak cukup.

Tunggu dulu, pikir Hyemi, apa aku meragukan Sungmin?

“Wah wah wah Ahn Hyemi,” suara dingin yang terus menghantui Hyemi kembali terdengar. Begitu dekat, begitu nyata, dan kali ini tanpa melalui telepon. Hyemi membeku di tempatnya sebelum akhirnya dengan jantung berdetak kelewat kencang dia mengangkat kepalanya.

Sosok seorang yeoja duduk manis di salah satu kursi kosong auditorium menyambut mata Hyemi. Walaupun lelah, Hyemi yakin dia tidak sedang berhalusinasi. Yeoja itu terlihat dingin, sedingin sikapnya. Rambutnya tidak sepanjang Hyemi dan lebih ikal. Dia tersenyum, sebuah senyum meledek tepatnya. Setiap inci sosok gadis itu membuat tubuh Hyemi merinding.

“Masih percaya pada Sungmin-ah ternyata,” sahut Namhee dari tempatnya duduk. Walaupun mereka terpisah beberapa meter, Hyemi dapat mendengar suara Namhee begitu jelas.

“Apa maumu?” tanya Hyemi dingin.

“Sungmin,” jawab Namhee tanpa basa basi, “Aku ingin Lee Sungmin-ku kembali.”

“Dengar, aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Sungmin –“

“Dia tunanganku, Hyemi-ssi. Dia tunanganku sebelum kau datang dan merusak hubungan kita,” potong Namhee kasar, “Semua baik-baik saja sampai kau datang. Aku kemari untuk mengambil kembali apa yang kau rebut dariku.”

“Bohong!” bantah Hyemi keras.

Namhee akhirnya berdiri dari tempatnya duduk dan menatap tajam ke arah Hyemi. Sebuah senyum meledek tertempel di sudut bibir Namhee dan yeoja misterius itu tampak puas melihat Hyemi ketakutan.

“Kau bahkan belum tanya ke Sungmin,” sahutnya menantang.

Hyemi menahan napas. Walaupun tatapan mata Namhee begitu mengintimidasi, Hyemi berusaha keras untuk tidak terlihat lemah. Hyemi menggigit bibir bawahnya yang bergetar hebat.

“Ini peringatan terakhirku, Hyemi-ssi. Aku bukan orang yang sabar dan kau tidak akan suka kalau aku kehilangan kesabaran,” ancam Namhee terakhir kalinya sebelum dia melangkah pergi meninggalkan auditorium. Meninggalkan Hyemi terlarut dalam ketakutannya.

***

Hanya Sungmin yang memutuskan untuk tidak duduk-duduk di coffee shop dan langsung membawa dua gelas penuh macchiato kembali ke auditorium. Sungmin tahu kerjaan Hyemi masih menumpuk. Dan fakta bahwa gadis itu tampak tertekan secara psikis benar-benar membuat Sungmin khawatir. Setiap kali Sungmin mencuri pandang, Hyemi tampak hilang dalam pikirannya sendiri.

Sungmin mendorong pintu auditorium dengan bahu karena dua tangannya memegang gelas macchiato. Segelas kafein tidak pernah gagal membangkitkan kembali semangat mereka. Tapi begitu Sungmin melangkahkan kaki ke dalam auditorium, dia hanya menemukan sosok Hyemi di meja tempatnya biasa mengerjakan pencahayaan, tanpa senyum, tanpa cahaya kehidupan.

“Hyemi-ya!” panggil Sungmin khawatir. Dengan cepat Sungmin berlari ke arah Hyemi.

“Hey,” sahut Sungmin lagi. Tapi Hyemi hanya menoleh lemah dengan mata basah dan bekas aliran air mata terlihat jelas di sudut pipinya.

“Hyemi-ya,” gumam Sungmin lirih. Dia menarik napas berat dan mengusap pipi Hyemi, “Tolong katakan apa yang membebanimu. Aku sangat, sangat khawatir, tolonglah.”

Hyemi masih diam dan tangannya perlahan mengusap wajahnya sendiri.

“Aku mencintai senyummu, bukan airmatamu. Tolonglah, kau menyakitiku,” pinta Sungmin lagi.

Hyemi terisak perlahan sebelum akhirnya menoleh ke arah Sungmin, “Min-ah … Katakan, siapa itu Go Namhee?”

Hening. Sungmin menelan ludahnya sendiri dan Hyemi bisa melihat tenggorokannya bergerak. Awalnya warna wajah Sungmin tidak berubah tapi beberapa saat kemudian Sungmin tidak bisa lagi menyembunyikan perubahan ekspresi wajahnya. Hyemi menggigit bibir bawahnya khawatir. Apakah mungkin semua yang dikatakan Namhee itu benar? Hyemi tidak ingin mempercayainya, Sungmin tidak mungkin melakukan itu. Tapi … kenapa dia diam begini?

“Apakah –“ tanya Hyemi parau, “Apakah aku orang ketiga diantara kalian?”

Hyemi merundukkan kepalanya, tidak sanggup lagi melihat ke arah kedua mata Sungmin. Dengan cepat Sungmin menggeleng dan meraih bahu Hyemi.

“Tidak. Itu tidak benar!” bantahnya.

Hyemi menarik napas berat, “Lalu siapa aku dan siapa dia?”

Sungmin meraih tangan Hyemi dan menggenggamnya erat. Tangan Hyemi terasa dingin, entah karena ketakutan atau karena kelelahan.

“Go Namhee,” mulai Sungmin sambil menatap kedua mata Hyemi untuk menunjukkan keseriusannya, “Adalah masa laluku. Kau, Ahn Hyemi, adalah masa depanku. Dengar, aku … minta maaf karena tidak pernah menceritakannya sendiri padamu. Aku melakukannya karena aku sama sekali ingin melupakannya.”

Hyemi menarik napas berat. Hatinya terasa berat melihat Sungmin seperti menahan luapan emosi dalam benaknya.

“Apa yang terjadi saat itu?” tanya Hyemi perlahan.

Sungmin akhirnya mengalihkan pandangannya dan menarik napas dalam-dalam.

“Tapi kalau kau tidak nyaman menceritakannya Min… aku tidak akan memaksa. Tidak sekarang,” tambah Hyemi. Sungmin tersenyum lemah mendengarnya. Hyemi selalu perhatian, selalu mengerti apa yang sedang dilaluinya. Itulah yang membuat Sungmin begitu mencintainya.

“Ada saatnya realita tidak berjalan seperti yang kau harapkan,” gumam Sungmin, “Aku harap aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama padamu, sebagaimana yang terjadi pada Namhee.”

“Apa benar dia tunanganmu?” tanya Hyemi perlahan.

Sungmin tampak terkejut mendengarnya, “Kau tahu?”

“Dia mengatakannya padaku,” gumam Hyemi tidak nyaman.

Sungmin kehilangan kata-kata beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap ke arah Hyemi, “Namhee?”

Hyemi mengangguk, “Ya, Namhee. Dia meneleponku semalam, makanya aku tidak bisa tidur. Aku takut mendengarnya, takut kehilanganmu juga. Entahlah dari mana dia mendapat nomor handphoneku.”

Namhee meneleponmu?” Sungmin berusaha meyakinkan.

Hyemi mengangguk. Sungmin menarik napas berat dan dia terlihat merasa bersalah. Hyemi tersenyum menghibur dan mengusap lembut sisi wajah Sungmin. Sungmin menutup matanya dan menggenggam tangan Hyemi di sisi wajahnya, “Aku sangat mencintaimu, kau tahu itu?”

“Aku tahu Min-ah. Tentu saja aku tahu,” sahut Hyemi, “Aku juga mencintaimu.”

“Tolong jangan pergi meninggalkanku seperti Namhee,” pinta Sungmin parau.

“Tentu saja tidak,” jawab Hyemi meyakinkan.

“Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang sekarang?” tawar Sungmin, “Kau tidak tidur semalam. Aku akan mengantarmu, oke?”

Hyemi mengangguk menyetujui, “Baiklah.”

“Dan jangan khawatirkan Namhee,” sahut Sungmin meyakinkan, “Aku akan melindungimu.”

***

Sungmin menghirup udara malam sebanyak yang bisa ditampung paru-parunya. Dia membenarkan posisi ransel di punggungnya dan melanjutkan langkah kakinya ke halte bus terdekat. Rumah Hyemi terletak tidak jauh dari kampus, tapi untuk pulang ke rumahnya sendiri dia harus naik bus dan melanjutkan dengan kereta bawah tanah. Sungmin menahan ujung jaketnya ketika angin kencang bertiup.

“Sungmin-ah.”

Spontan Sungmin menghentikan langkah kakinya mendengar suara yang begitu dikenalnya. Atmosfer sekitarnya berubah drastis, tapi Sungmin tetap mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah sumber suara.

“Namhee,” gumam Sungmin.

Namhee tersenyum kecil mendengar Sungmin menyebut namanya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sungmin datar.

“Kenapa Min? Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanya Namhee balik.

Sungmin memalingkan wajahnya dan mulai melanjutkan langkah kakinya.

“Kalau kau mengabaikanku sekarang Sungmin-ah, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menyakiti Ahn Hyemi,” ancam Namhee.

Mendengar Namhee menyebut nama Hyemi, Sungmin menghentikan langkah kakinya. Namhee tersenyum puas melihatnya. Tapi senyumnya menghilang begitu dia menyadari satu-satunya alasan Sungmin melakukannya adalah untuk melindungi Hyemi. Dan Namhee tidak suka mengetahuinya.

“Kau tahu kita tidak bisa bersama,” sahut Sungmin tanpa menoleh sedikitpun ke arah Namhee, “Kita tidak akan pernah bisa bersama lagi.”

“Kau meninggalkanku … demi Ahn Hyemi itu?” tanya Namhee perih.

Sungmin menggeleng, “Aku tidak pernah meninggalkanmu Namhee. Kaulah yang meninggalkanku, ingat?”

“Aku tunanganmu Min. Kita terikat, jangan lupa itu. Kau milikku dan aku milikmu,” sahut Namhee memaksa. Sungmin membalikkan badan dan menghadap ke arah Namhee.

“Kau masa laluku,” tegas Sungmin, “Tolonglah. Kalau kau memang mencintaiku, biarkan aku pergi.”

“Semua karena gadis itu kan? Ahn Hyemi sial itu,” geram Namhee.

“Kalau kau menyakitinya aku tidak akan memaafkanmu,” ancam Sungmin.

“Kau milikku Sungmin-ah. Kau milikku,” tegas Namhee, “Dan aku akan memastikan kau kembali menjadi milikku.”

“Kita pernah bersama. Kau pernah menjadi milikku dan aku pernah menjadi milikmu. Kita pernah saling mencintai. Tapi itu semua masa lalu, Namhee-ya,” sahut Sungmin perlahan, “Jalan kita berbeda.”

Namhee menatap Sungmin hampa dan Sungmin diam menunggu Namhee mengatakan sesuatu. Tapi Namhee tidak mengatakan apapun. Tatapan hampanya berubah perlahan menjadi sorotan dingin, tajam, dan mengancam.

“Maafkan aku Namhee,” gumam Sungmin sambil akhirnya membalikkan badannya lagi dan meninggalkan Namhee.

“Sungmin-ah,” panggil Namhee parau. Tapi Sungmin tidak menyahut dan terus melangkah pergi.

“Yah!” bentak Namhee marah. Figur Sungmin semakin mengecil sampai akhirnya menghilang dari jarak pandang Namhee. Gadis itu mengepalkan tangannya marah sambil mengutuki sosok seorang yeoja dalam benaknya. Ahn Hyemi.

***

Hyemi mengucek matanya dan menguap seiring langkahnya melintasi kampus. Akhirnya dia bisa sedikit memejamkan mata. Walaupun tidak lama, paling tidak dia dapat tidur beberapa jam. Hyemi  menyimpan handphonenya di kantong. Sebagian hatinya ingin mematikan saja handphonenya tapi sebagian lagi tidak ingin. Dia takut Namhee menerornya lagi, tapi kalau handphonenya mati bagaimana dia bisa menghubungi Sungmin dan sebaliknya?

Sebelum melangkah ke kelasnya, Hyemi menyempatkan diri membaca papan informasi kampusnya. Setiap pengumuman penting akan ditempet di bulletin itu. Hyemi menggumam kecil melihat kertas perubahan jadwal persiapan musikal tertera di bulletin.

“Oh,” sahutnya pendek, “Semua pemain musikal ada fitting costume hari ini.”

Berarti auditorium akan kosong sore nanti. Kecuali para pemain itu masih sempat latihan beberapa babak setelah fitting costume. Hyemi mengangkat bahu dan memutuskan untuk menanyakan pada Sungmin nanti saja. Begitu Hyemi mengambil langkah pergi, seseorang menepuknya dari belakang.

“Hyemi-ya!”

Hyemi menoleh kaget dan menemukan salah satu rekan panitia musikalnya berdiri dengan napas tersengal-sengal.

“Ah, Micha unnie,” gumam Hyemi bingung. Yeoja yang dipanggil Micha itu berusaha mengatur napasnya. Hyemi tidak mengerti apa yang membuat seniornya itu bersikap seperti ini. Sebelum Hyemi mendapat jawabannya, Micha meraih lengan Hyemi dan menariknya pergi.

Unnie, aku ada kelas sebentar lagi,” protes Hyemi.

“Ikut aku, sebentar. Ayolah Hyemi-ya,” sahut Micha tersengal sambil menarik Hyemi.

Awalnya kedua yeoja itu hanya berjalan cepat. Kemudian Micha mempercepat langkahnya dan Hyemi harus berlari kecil untuk bisa menyeimbangi kecepatan seniornya itu. Micha tidak pernah melepaskan tangan Hyemi dan itu membuatnya gelisah. Mereka terus berjalan melalui kerumunan orang sampai akhirnya Hyemi menyadari Micha membawanya ke arah auditorium.

“Astaga, Micha unnie –“

“Hyemi-ya,” potong Micha cepat, tepat sebelum mereka memasuki pintu backstage auditorium, “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi menurutku ini masalah serius.”

Hyemi mengangkat satu alis bingung.

“Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Hyemi tidak mengerti.

Micha mengabaikan pertanyaannya dan mendorong pintu auditorium terbuka. Hampir semua staff artistik musikal mereka berkumpul di belakang panggung auditorium. Hyemi tidak heran, mereka pasti sedang mempersiapkan properti untuk musikal mereka. Saat Hyemi dan Micha melangkah masuk, semua kepala menoleh ke arah mereka. Hyemi tidak nyaman dengan semua perhatian yang tiba-tiba diarahkan padanya tapi dia merasa semakin tidak nyaman saat menyadari ‘masalah’ serius yang dimaksud Micha.

“K-kami menemukannya tadi pagi,” sahut Micha gugup, “Selain staff belakang panggung, tidak ada yang tahu soal ini.”

Hyemi merasakan ketakutan besar menguasai seluruh tubuhnya saat dia melihat tulisan besar di tembok auditorium.

KAU PANTAS MATI, AHN HYEMI!

To Be Continued

Advertisements

One thought on “Heart of Possession -Part 1

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s