[FREELANCE] This is Real Life

Author                  :         Rezky Wulandary [YeminsGirlfriend]

Cast                       :

–          Clara Hwang [Original Cast]

–          Marcus Cho “Cho Kyuhyun”

–          Nadine Hwang [Original Cast]

–          Aiden Lee “Lee Donghae”

–          Casey Kim “Kim Heechul”

Genre                   :               Angst, Family, Life.

Length                  :               Oneshot

Rating                   :               PG-10

a/p                         :               FF ku ini pernah dipost dibeberapa blog, yang utama diblogku sendiri www.gueyesungminfans.wordpress.com Jadi, kalau ada yang pernah merasa membacanya. Hal itu bukan sama sekali plagiat. Kalian tinggal melihat nama authornya, sama atau tidak :))

 

***

“Aku merindukanmu.”

Aku hanya tersenyum tipis mendengar ucapan dari mulutnya. Sebuah kalimat bernada manja yang sudah hampir satu minggu ini tak kudengar, karena banyaknya pasien yang harus ku tangani dalam satu bulan ini. Aku meliriknya yang memangkukan kepalanya diatas bahuku, “Kau selalu berkata begitu, Marcus Cho. Sebuah hal yang sangat basi, kau tahu?”

“Aku tidak sedang berbohong.” Ucapnya. “Aku benar – benar merindukanmu. Kau selalu sibuk dengan semua pasienmu, dan membiarkanku sendirian disini.”

Aku terkekeh kecil mendengarnya lalu menariknya untuk duduk didepanku dan melepaskan tautan tangannya dari leherku. “Aku tidak melupakanmu. Kau tahu kan bahwa pasien yang masuk dalam satu bulan ini begitu banyak. Entah apa sebabnya, akupun tidak tau. Dan, apa kau bilang tadi? Kau sendirian? Hey—bukankah kau telah mempunyai Nadine, lalu bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?”

“Nadine? Mengapa kau sebut nama itu didepanku? Aku lebih baik membiarkan diriku sendiri daripada harus bersamanya, dia terlalu membosankan, dan dia sama sekali tidak sepertimu.”

“Tapi ingatlah, dia itu wanita yang sekarang telah berstatus sebagai kekasihmu. Dan—apabila ia mendengar ucapan yang baru saja kau lontarkan, mungkin ia sangat sakit hati ketika mendengarnya.” Ucapku berusaha bijak. Well, ku akui, aku bisa dianggap adalah seorang wanita ketiga yang masuk dalam hubungan orang lain. Aku tidak tahu, mengapa aku bisa masuk dalam masalah yang rumit seperti ini.

“Mengapa kau selalu membelanya, huh?”

“Aku tidak membelanya. Aku dan dia adalah sama – sama seorang wanita. Tidak akan ada wanita yang ingin diduakan, begitu pula denganku.” Ia memicingkan matanya. “Jangan salah tanggap dengan ucapanku. Pikiranmu itu sangat sempit, Marcus Cho.”

“Aku dapat menangkap sesuatu dari ucapanmu. Wanita tidak ingin diduakan? Baiklah, aku akan memutuskan wanita itu dan menyerahkan diriku padamu sepenuhnya.”

Aku membulatkan mataku. “Sudah ku katakan jangan salah tanggap dengan ucapanku! Bukan itu yang ingin ku tujukan padamu!”

“Lalu apa kalau bukan itu?”

Aku mendengus pelan. Memang perlu ekstra sabar menghadapi makhluk yang sekarang sedang berada didepanku. “Kau tau? Diduakan itu adalah sebuah hal yang menyakitkan. Jangan pernah sekali – kali kau menyakiti hati seorang wanita. Mereka memiliki perasaan yang halus yang mudah sakit. Apalagi kalau hal itu telah menyangkut tentang masalah percintaan. Aku ingin, mulailah kau mencintainya dengan tulus sepenuh hatimu, Tuan Marcus.”

“Apa kau tidak mencintaiku?” Tanya Marcus tajam sembari menatapku intens.

“Aku mencintaimu, sangat – sangat mencintaimu. Namun, Nadine telah mengenalmu lebih dulu daripada aku dan dia sangat mencintaimu, mencintaimu dengan tulus dan aku masih mempunyai perasaan, aku tidak ingin menyakitinya. Aku merasa sangat bersalah telah masuk kedalam hubungan percintaan kalian.”

“Percintaan? Aku sama sekali tidak mencintainya. Aku menjadikannya kekasihku hanya karena desakan darimu, karena saat itu kau tau kalau ia mencintaiku. Dan satu hal yang perlu kau ingat! Aku hanya mencintaimu, Clara Hwang!” Marcus sedikit membentak. Aku hanya menghela napas dan tersenyum tipis padanya, ia orang yang terlalu keras kepala.

“Apakah aku menggangu kalian?”

Sebuah suara membuat kami menolehkan kepala pada pintu ruanganku yang sedikit terbuka. Kulihat, seorang namja berdiri didepan pintu sambil memasukkan kepalanya sedikit kedalam ruangan, Casey Kim. Rekan kerjaku. “Ada apa?” Tanyaku.

“Ada seorang pasien yang harus segera diperiksa.” Jawabnya. “Pasien itu berada diruang 108. Aku tidak bisa mengurusnya karena aku harus mengoperasi korban tabrakan yang baru saja masuk.”

Aku beranjak berdiri. “Ya—aku akan segera kesana.” Ucapku dan melangkah mengambil peralatan. Kulihat Casey tersenyum dan mengangguk, selang beberapa detik, ia telah menghilang dari balik pintu ruanganku. Terlihat sekali ia sangat tergesa – gesa. Aku melirik kearah Marcus yang hanya berdiam menatapku. “Kau boleh pulang karena mungkin aku akan lama.” Ucapku datar dan setengah berlari menuju pintu, dan menghilang dibaliknya. Membiarkan Marcus sendirian didalam ruanganku karena ada hal yang lebih penting daripada harus meladeni sikap keras kepala dan manjanya.

***

Seorang gadis baru saja keluar dari rumah kecil dipinggiran jalan. Ia keluar bersama sebuah sepeda berkeranjang yang berwarna biru tosca. Dikeranjang sepedanya terlihat beberapa buah yang terbungkus dalam kantung plastic berwarna putih. Wajahnya terlihat ceria dan mulai mengayuh sepedanya untuk keluar dari halaman rumahnya.

“Tunggu aku, Nadine!”

Teriakan seseorang yang begitu melengking dari belakangnya membuat Nadine menghentikan sepedanya secara mendadak dan hampir saja membuatnya jatuh ke atas aspal jalan karena dikagetkan oleh suara dari sosok yang berada dibelakangnya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati seorang pemuda yang tengah berlari kearahnya dengan napas yang tidak beraturan.

“Kau kenapa?” Tanya Nadine ketika pemuda itu telah sampai berada disampingnya. Pemuda itu membungkukkan badannya dan mengatur napasnya agar kembali normal.

“Aku ingin ikut denganmu.” Ucap Aiden –pemuda tadi– setelah merasakan napasnya mulai kembali beraturan. Aiden menangkap tatapan bingung dari Nadine. “Keberatan? Tenang saja. Aku yang akan membawa sepedanya dan kau akan duduk dikursi boncengan.”

“Kau tidak salah kan?” Nadine memastikan. “Kau tahu bahwa aku harus menjual buah – buah yang berada dikeranjangku ini. Pasti hal itu sangat melelahkan dan tentu saja bukan hal biasa bagi orang sepertimu.”

Hey! Kau meremehkanku?” Teriak Aiden tidak terima. “Aku juga ingin merasakan hal – hal baru yang tidak pernah ku lakukan sebelumnya. Hanya kau yang bisa memberikan pengalaman itu padaku! Jadi, kau sama sekali tidak boleh menolaknya. Cepat turun ke kursi boncengan, biarkan aku yang membawa sepedamu.” Perintahnya dan langsung menarik Nadine untuk segera turun dari sepeda. Nadine hanya mengusap tangannya dan menuruti perintah Aiden tanpa banyak bicara.

“Kalau kau kelelahan, aku tak mau bertanggung jawab.” Ucap Nadine memperingatkan. Aiden hanya mengangguk dan mengacungkan jempol tangannya. Lalu dengan sigap ia segera mengayuh sepeda Nadine untuk membantu gadis itu berjualan buah.

***

“Apakah kau mempunyai hubungan special dengan pemuda tadi?” Tanya Casey pada Clara. Mereka kini sedang berada disebuah café dipusat kota.

Clara hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. “Tidak ada. Hanya saja, dia terlalu terobsesi ingin memilikiku. Well, aku memang sedikit mencintainya. Namun, aku bukan seseorang yang egois yang ingin merebutnya dari pemiliknya.”

“Kau memang tidak pernah berubah, Clara. Sama halnya dengan dia.”

Hahaha, yeah. Aku memang memiliki sifat yang tidak jauh dengannya.”

“Bagaimana awal pertemuan kalian? Kau sama sekali tidak pernah menceritakan hal itu padaku.” Ucap Casey yang membuat Clara berdehem pelan. Mata cokelat gadis itu menatap Casey dengan hangat.

“Tidak ada yang special. Hanya pertemuan singkat antara aku dengannya dan aku juga tak berpikiran bahwa karena kejadian itu, semua hal akan menjadi serumit ini. Rencana Tuhan memang tidak pernah terduga.”

“Apa jadinya kalau Marcus mengetahui bahwa kau tidak benar – benar mencintainya?”

“Sebenarnya aku sama sekali tidak peduli apabila ia membenciku setelah mengetahui semuanya. Aku hanya mencoba ingin menyadarkannya. Aku masih punya perasaan dan tidak mungkin akan tega menghancurkan hubungan seseorang. Apalagi, gadis itu sangat mencintai Marcus. Dari tatapannya untuk Marcus, aku sudah bisa menangkap bahwa gadis itu memang tulus mencintainya. Namun, Marcus terlalu bodoh karena tidak menyadari hal itu, dan ia lebih memilih untuk menjalankan napsunya daripada kata hatinya. Ia sama sekali tidak bisa berfikir dewasa.”

“Ku do’akan semoga pemuda itu cepat sadar.” Ucap Casey lalu tertawa pelan. “Aku selalu ada didekatmu, untuk mendukung semua usahamu.”

Yeah, aku tau itu. Dan akupun begitu padamu.”

***

“Akhirnya semua buahnya terjual habis!” Teriak Aiden gembira. Ia menghitung penghasilan mereka dari menjual buah, Nadine hanya tersenyum simpul menanggapi kegembiraan Aiden. Ia meluruskan kakinya kearah jalanan yang sangat sepi. Hanya sepoi – sepoi angin yang terdengar, dan hanya ada mereka berdua yang berada disana. “Penghasilan kali ini lebih banyak dari hasil yang kau dapat biasanya.”

Nadine menerima uang yang diulurkan oleh Aiden. “Ternyata tidak ada salahnya juga kau ikut denganku. Thank you so much.” Ucap Nadine tulus. Ia memasukkan uang – uang itu kedalam kantong jaketnya yang lumayan dalam.

Hahaha, kau baru sadar akan hal itu?” Tanya Aiden setengah mengejek. Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon yang besar dan berdaun rimbun. Memejamkan matanya dan membiarkan angin lembut membelai wajahnya yang tampan.

Nadine tidak menanggapinya. Pikirannya melayang jauh, ia mengingat kekasihnya, Marcus. Sudah beberapa minggu ini ia tidak bertemu dengan pemuda itu. Ia sangat merindukannya. Walaupun ia tahu, bahwa Marcus tidak pernah berlaku romantis padanya. Hanya ucapan datar dan dingin yang selalu ia dapatkan dari pemuda itu ketika mereka bertemu. Namun, karena hal itulah Marcus berhasil mencuri hatinya.

Ia tak tau bahwa Marcus benar – benar mencintainya atau tidak. Yang jelas bahwa ada cinta yang sangat tulus dari lubuk hatinya untuk pemuda itu. “Hey—kau sedang memikirkan sesuatu?” Tepukan tangan Aiden dibahunya membuat gadis itu tersadar. Nadine menggelengkan kepalanya kecil.

“Memangnya aku terlihat seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu?”  Tanya Nadine, ia mengikuti apa yang dilakukan Aiden sebelumnya pada pohon yang berada dibelakang mereka.

“Hmm—dari yang kulihat, memang kau terlihat seperti memikirkan sesuatu. Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu? Ceritakahlah, siapa tahu, aku dapat membantumu.”

Nadine tak menjawab perkataan Aiden. Ia tak mungkin menceritakan hal ini kepadanya, apalagi ini masalah yang menyangkutkan Marcus didalamnya. Ia tahu betul, kalau saja ia menceritakan masalah ini pada Aiden, ia tidak tau apa yang akan terjadi. Karena, Aiden sangat membenci Marcus sejak kejadian beberapa bulan yang lalu.

Saat itu, Nadine diturunkan oleh Marcus dari mobil Marcus yang mereka tumpangi. Marcus meninggalkannya ditengah jalan yang sepi, tanpa banyak bicara Marcus meninggalkannya sendirian dan melajukan mobilnya kencang. Marcus tidak mempedulikan teriakan – teriakan Nadine memanggil dirinya, bahkan ia semakin mempercepat laju mobilnya. Karena kejadian itu, Nadine sakit parah selama dua minggu, bahkan pemuda itu tidak ada menjenguknya. Hanya Aiden yang setia merawatnya sampai sembuh.

”Kuperingatkan padamu, Marcus sama sekali bukan orang yang cocok denganmu! Kau telah dibutakan oleh cinta. Kau harus sadar dan buka matamu, dia sosok Iblis yang hadir dihidupmu! Jauhi dia, dan tinggalkan dia! Karena aku yakin, setelah kejadian ini, semakin banyak masalah yang akan menimpamu karena pemuda brengsek itu!” – Aiden Lee.

“Aku tidak apa – apa.” Ucap Nadine setelah lama terdiam. Aiden menarik kepala Nadine lembut untuk bersandar dibahu kekar pemuda itu. Nadine tidak menolak, hal ini sudah biasa dilakukan oleh Aiden padanya. Karena hanya dengan hal ini, ia dapat melupakan masalahnya untuk sejenak. Nadine merasakan arti sahabat sesungguhnya yang ia dapatkan dari seorang, Aiden Lee.

***

Marcus meniup asap yang mengepul dari secangkir kopi yang tengah dipegangnya. Ia menatap warna kopi yang hitam pekat. Asap mengepul dari atas kopi tersebut menandakan bahwa air kopi itu masih panas.

Matanya menerawang kearah jendela besar yang terbuka lebar. Angin menerobos masuk kedalam apartemennya dan membelai lembut wajahnya. Wajahnya tanpa ekspresi, namun kali ini bukan wajah tanpa ekspresi yang dimaksudkan adalah bukan wajah yang terlihat datar, namun wajah tanpa ekspresi yang terlihat lebih lembut. Bukan wajah yang ia tunjukkan seperti sebelumnya.

“Apakah ini benar – benar yang dimaksudkan kesendirian?”

Ia bergumam. Sesekali menghirup kopinya pelan. Mengecap rasa kopi yang menelusuri lidahnya dengan nikmat.

“Aku tak mengerti dengan apa yang sedang aku rasakan sekarang.” Ucapnya masih terdengar sebuah gumam-an. Matanya masih menatap lekat kearah jendela.

Terdengar derap langkah kaki yang menuju kearahnya. Namun, ia sama sekali tidak bergeming dan tetap menatap lurus. Langkah kaki tersebut terdengar semakin dekat, dan tak berapa lama, langkah kaki itu tak lagi terdengar ketika sosok itu telah sampai berada dan berdiri tidak jauh darinya.

“Aku merindukanmu.” Ucap sosok itu pelan. Marcus tidak menjawabnya dan tetap berdiam diri. Ia sudah tau siapa yang akan datang menemuinya saat ini. Siapa lagi kalau bukan gadis itu, Nadine –kekasihnya. “Maaf kalau aku telah mengganggu acara siangmu saat ini. Namun, aku hanya ingin bertemu denganmu dan melihat wajahmu.”

Marcus terdengar menghela napasnya pelan. Ia tak menolehkan kepalanya pada gadis itu, hal kecil seperti menyuruhnya untuk duduk pun tidak dilakukannya. Karena gadis itu bisa melakukan hal itu dengan sendirinya tanpa perlu disuruh olehnya, begitu pikirnya.

“Sepertinya aku memang menggangu acaramu untuk bersantai.” Kata Nadine lembut, ia masih tetap memandang lekat wajah Marcus yang tampan.

Pasti kalian bertanya kenapa Nadine bisa memasuki apartemen Marcus, bukan? Marcus memang sengaja memberikan kode apartemennya kepada Nadine, karena ia berfikir, gadis itu juga tidak mungkin melakukan hal macam – macam pada Apartemennya. Dan juga mungkin hanya ini yang bisa ia berikan kepada gadis itu.

“Berhentilah mengoceh. Kau tidak mengganggu acara istirahatku,” Ucap Marcus datar. Terlihat Nadine mulai mendudukkan tubuhnya diatas sofa yang tidak berada jauh dari mereka berdua.

Sampai kapan kau terus begitu padaku, Marcus? Yeah, mungkin cinta ini memang benar – benar telah membutakan hidupku dan membiarkan diriku terus masuk kedalam kehidupanmu yang sama sekali tak kau izinkan aku untuk masuk kedalamnya. – Nadine Hwang.

 

Hanya keheningan yang terjadi diantara mereka berdua. Tidak ada satupun yang mau untuk memulai sebuah pembicaraan. Keduanya hanyut dalam pikiran masing – masing. Hanya terdengar desahan napas yang teratur diantara mereka.

Marcus segera beranjak berdiri dan menghampiri Nadine yang tengah tertunduk, menatap lantai yang berpetak. Dalam hitungan detik, tubuh mungil Nadine terengkuh kedalam pelukan Marcus. Membuat Nadine membulatkan matanya dan hampir saja ia tak mempercayai yang tengah terjadi.

Nadine dapat merasakan kehangatan yang terpancar dari tubuh Marcus dalam beberapa saat. “Pulanglah.” Bisik pemuda itu lembut tepat ditelinganya. Marcus melepaskan pelukannya dan segera berlalu dari hadapan Nadine. Gadis itu masih mematung dan membeku ditempat. Matanya masih saja menunjukkan seolah – olah semua ini tak dipercayai olehnya.

“M-Marcus…” Ucapnya terbata dan bergetar. Ia tetap terdiam ditempat. Bulir air mata jatuh tepat diatas pipinya, membuat genangan kecil seperti anak sungai. Mengalir deras. Mengeluarkan semua perasaan yang ada didalam hatinya sekarang. Perasaan yang begitu bahagia. “T-terima kasih.” Gumam Nadine sesaat sebelum ia melangkahkan kakinya keluar apartemen Marcus. Marcus menghela napas dibalik pintu kamarnya, mendengar ucapan gadis itu.

“Maaf.” Gumamnya singkat.

Mungkin hanya ini yang dapat aku lakukan padamu, karena aku sama sekali tidak bisa membalas perasaan tulusmu padaku. – Marcus Cho.

***

“Untuk apa kau memintaku datang kemari?” Tanya Clara sesaat sebelum ia menghempaskan tubuhnya diatas kursi café dimana ia diminta datang oleh Marcus. Marcus menatap lekat gadis yang berada didepannya, gadis itu semakin cantik saat mengenakan dress hitam selutut dan wajahnya yang dipolesi make up tipis. “Hey—jangan melamun!” Teriak Clara pelan sembari memukul tangan Marcus yang terletak diatas meja membuat pemuda itu terperanjat kaget.

“Kau—terlihat sangat cantik malam ini.” Puji Marcus yang hanya membuat gadis itu tersenyum tipis menanggapi ucapannya.

“Kau juga terlihat sangat tampan.” Ucap Clara. “Untuk apa kau memintaku datang kemari? Aku terpaksa meminta Casey untuk menggantikanku di Rumah Sakit dan membiarkannya sendirian disana. Padahal, hari ini jadwalku lembur bersamanya untuk mengurus pasien.”

“Bersamanya? Cuma berdua?” Teriak Marcus kaget. Clara hanya mengangguk pelan tanpa wajah berdosa dan tidak mengerti mengapa Marcus berteriak seperti itu padanya. “Hey—apa kau tak memikirkan perasaanku, huh?”

Clara berdehem mendengarnya. Ia tertawa kecil lalu meletakkan tangan hangat gadis itu diatas tangan Marcus. “Aku selalu memikirkannya.”

“Kau tak pernah mengerti tentangku.” Ucap Marcus lalu menatap tajam gadis didepannya. Hatinya terbakar api cemburu yang begitu ganasnya membakar hatinya sampai hangus, disaat ia bertemu dengan Clara, pasti Casey itu selalu muncul diantara mereka. Entah hanya namanya yang selalu disebutkan oleh Clara setiap kali mereka bertemu, ataupun memang sosok itu benar – benar hadir.

“Kau yang tidak pernah mengerti tentangku, Mr. Cho.” Clara hanya tersenyum lembut menanggapi tatapan tajam dari Marcus. Yeah, ia tahu kalau pemuda itu sedang cemburu kepadanya. “Jangan bertingkah seperti anak kecil.” Lanjutnya.

Sebenarnya, Clara lebih tua tiga tahun dari Marcus. Makanya ia terlihat sangat dan lebih dewasa dari pemuda itu, hanya saja, wajahnya sama sekali tidak mendukung kenyataan itu, baby face. Namun, sepertinya cinta memang membutakan semua orang yang sedang merasakannya, Yup, Marcus telah dibutakan oleh cintanya kepada Clara hingga membiarkannya menyakiti gadis lain yang tulus mencintainya.

“Apa yang tidak ku mengerti dari dirimu? Aku mengetahui semua tentangmu, lalu apalagi? Aku sudah sangat mengerti dirimu, Clara. Namun, kau berbuat sebaliknya kepadaku.”

Kau belum sepenuhnya mengetahui tentangku, Marcus Cho – Clara Hwang.

“Kau tak pernah mengerti tentangku dan kau belum sepenuhnya mengetahui tentangku.” Ucap Clara yang membuat pemuda itu berdesis tajam. “Buktinya? Kau selalu bertingkah seperti anak kecil ketika melihatku dengan pemuda lain.” Clara tersenyum sangat lembut. Mencoba memberikan pengertian kepada pemuda yang masih tidak bisa mengontrol emosinya.

“Sudahlah—aku tidak ingin membuat masalah mala mini denganmu.” Ucap Marcus pada akhirnya. Ia menatap gadis yang dicintainya. “Kau ingin memesan apa? Perutku sudah berdendang sejak tadi.”

“Hmm—aku hanya ingin memesan, Fried Rice.

***

“Apa yang membuatmu hingga memasak sebanyak ini?” Tanya Aiden pada Nadine yang tengah sibuk mengolah barbeque dan memanggang daging. “Kau juga terlihat bahagia saat ini.” Lanjut Aiden bingung, ia juga sibuk memotong sayur – sayuran yang diperintahkan oleh Nadine kepadanya.

Nadine berbalik dan menghadap kearah Aiden. “Apakah kau tidak suka kalau aku seperti ini?” Tanya gadis itu polos. Aiden segera melambai – lambaikan tangannya diatas dada, bergerak kekanan kekiri seolah mengatakan ‘tidak’.

“Bukan begitu. Hanya saja, moment seperti ini jarang sekali untuk didapatkan.” Ucap Aiden jujur. Nadine hanya tersenyum sambil memunggungi pemuda itu.

Bagaimana ia tidak senang? Ia mendapatkan moment yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Bahwa pemuda tampan yang berstatus kekasihnya itu akan memeluk tubuhnya. Merengkuhnya dan membiarkannya merasakan dada bidang pemuda itu. Walaupun beberapa saat saja, namun, itu sudah cukup dapat membuat hatinya serasa terlonjak keatas mencapai langit ketujuh.

Walaupun masih terasa sedikit kekecewaan dihatinya karena sudah hampir enam bulan lamanya tidak dianggap oleh pemuda itu.

“Sudahkah siap? Aku sudah lapar.” Ucap Aiden membuyarkan lamunannya.

“Sudah siap. Tolong ambilkan piring.” Perintah Nadine, ia mengangkat daging yang sudah matang sambil menunggu Aiden mengambilkan piring untuknya.

Sebuah piring tersulur padanya. “Thank you!” Nadine segera meletakkan daging tersebut keatas piring dan membawa keatas meja. Matanya membulat ketika mendapati meja yang sudah siap dan tersusun dengan indah. “Bagaimana kau bisa melakukan ini semua?” Tanya Nadine masih sedikit kaget dan ia lalu duduk ditempatnya. Ia menangkap sesuatu yang aneh berada didalam piringnya, sebuah potongan tipis buah tomat berbentuk, love? Apa maksudnya?

“Ayo cepat makan!” Celetuk Aiden yang membuat lamunan Nadine terhenyak. Nadine mengangguk dan segera meletakkan makanan keatas piring makanannya.

Pikirannya kembali berkecamuk, apakah….Aiden mencintainya? Ah, ah, sudahlah. Untuk apa ia memikirkan sebuah hal konyol? Ia tau bahwa Aiden sahabat terbaiknya, tidak mungkin hal itu terjadi diantara mereka. Nadine hanya tersenyum tipis menanggapi sebuah pikiran konyol menelusup otaknya. Mungkin potongan tomat berbentuk love itu hanya menunjukkan bahwa cinta dari pemuda itu untuknya sebagai tanda persahabatan.

Apa kau tak mengerti juga? – Aiden Lee.

“Kau kenapa?”

Nadine mengangkat kepalanya lalu menggeleng dan tersenyum lebar. “Tidak kenapa – napa.”

“Emm—“ Dehem Aiden yang membuat gadis itu menatap kearahnya. “Bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tentu saja boleh. Memangnya kau ingin bertanya apa?”

Aiden menghela napasnya dan menatap lurus gadis yang berada didepannya.  “Bagaimana hubunganmu dengan, Marcus?”

“Hubunganku dengan Marcus? Sampai saat ini baik – baik saja. Tumben sekali kau menanyakan tentang dia, bukankah kau sangat membencinya?”

Aiden hanya tersenyum menanggapinya. “Tumben sekali kau membolos kerja malam ini.” Ucap Aiden yang membuat gadis itu terkikik kecil. Nadine memang bekerja paruh waktu, saat pagi hari ia bekerja sebagai penjual buah, buah yang dihasilkan dari kebun dibelakang rumahnya. Dan pada malam harinya, ia bekerja sebagai pekerja disebuah restoran mewah.

“Aku malam kemarin sudah menerima gajihku dan bukankah setiap kali setelah gajihan, aku dibolehkan untuk libur sehari?” Tanya Nadine yang membuat Aiden menepuk pelan dahinya. Kenapa ia bisa lupa akan hal ini. “hahaha, sudahlah. Itu sangat tidak penting.”

“Kau sangat cantik malam ini.”

Aiden Lee……..

***

Marcus melajukan mobilnya santai menuju rumah sakit. Menemui orang yang dicintainya. Yeah, ia tidak mungkin bisa meliburkan diri sehari saja untuk tidak melihat Clara. Mobilnya telah sampai pada gedung rumah sakit yang mewah, lampu – lampu dari rumah sakit menyala terang benderang. Rumah sakit yang sangat elite dan nyaman.

Ia memakirkan mobilnya diparkiran. Mobil – mobil mewah berjejer rapi disana. Marcus hanya berdecak dan menggeleng pelan, mengapa banyak orang yang rela dirinya sakit? Cih, ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk memasuki rumah sakit hanya untuk dirawat. Makanya, ia selalu ketat menjaga kesehatannya agar tidak sampai ia mempunyai sakit yang parah.

Ia melenggang masuk kedalam dan berjalan pelan dikoridor Rumah Sakit. Ia sesekali bersiul, entah kenapa perasaannya terlalu bahagia malam ini.

Sebuah pintu ruangan yang sangat besar terpampang didepannya. Bertuliskan sebuah tulisan yang menggantung ‘Mrs. Clara Hwang.’ Marcus tersenyum kemudian memutar knop pintu, membuat decitan kecil terdengar.

Matanya terbelalak kaget dan hatinya serasa dibakar diatas bara api yang menyala. Sebuah adegan yang tidak pantas disuguhkan didepan matanya. Sebuah adegan dimana dua sosok insan manusia berpagutan dengan indah dengan bibir mereka. What the hell? Apa maksud dari semua ini? Marcus mendorong pintu ruangan dengan kasar sehingga membuat bunyi dentuman yang keras disaat pintu bertubrukan dengan dinding ruangan.

Clara dan Casey segera menoleh kearah pintu dan betapa terkejutnya mereka mendapati Marcus berdiri disana dengan wajah yang merah padam karena marah. Casey segera menjauhkan tubuhnya dan segera pergi dari sana, “I’m sorry.” Ucapnya sebelum benar – benar melewati Marcus.

“Hey—sudah lamakah kau datang?” Tanya Clara ramah. Ia memutar kursinya agar menghadap kearah Marcus berdiri. Masih mematung ditempat dengan kedua tangan yang mengepal erat. “Duduklah, tidak baik seorang tamu berdiri didepan pintu.” Lanjutnya seolah tidak terjadi apa – apa. Clara masih dengan senyuman lembutnya.

“Maksudmu apa?” Tanya Marcus datar dan dingin. Clara memandangnya bingung.

“Maksudmu?”

“TIDAK USAH BERLAGAK BODOH DIDEPANKU! KAU KIRA AKU BUTA?” Bentak Marcus nyaring membuat Clara terkesiap. Seperti inikah bentuk kalau Marcus sedang marah?

“Lebih baik kau duduk. Tenangkan dirimu daripada kau harus berteriak dan membuat keributan di Rumah Sakit ini.”

“Kau ternyata sosok seorang wanita yang munafik!” Desis Marcus tajam. “Semua yang kau katakan hanya omong kosong belaka.” Lanjutnya dingin.

Clara beranjak dari tempat duduknya dan menarik Marcus agar duduk disofa yang berada didekat mereka. Ia memeluk tubuh pemuda itu dan meletakkan kepalanya diatas dada bidang Marcus. “Jangan marah. Kau salah paham.” Ucap Clara lembut.

Baru kali ini aku merasakan sakit yang sesungguhnya. – Marcus Cho.

 

Pemuda itu mulai kembali melunak. Mengapa ia sebegitu mudahnya melunakkan diri dihadapan Clara? Mana dirinya yang begitu angkuh? Mana?

Yeah, mungkin aku hanya salah paham. Aku yakin kau tidak mungkin membohongiku.” Ucap Marcus pelan kemudian membalas pelukan Clara. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meredam sakit hatinya untuk sementara karena ia tidak ingin kehilangan Clara.

Aku yakin kau telah merasakannya. – Clara Hwang.

***

Marcus melajukan mobilnya kencang dan tanpa terkendali. Saat ini ia tengah dikendalikan oleh alcohol yang bersarang ditubuhnya. Ia baru saja meminum hampir enam botol wine, rekor terbanyak yang pernah ia lakukan. Otaknya tidak bisa berpikir jernih ketika bayangan gadis yang dicintainya tengah berpagutan dengan lelaki lain!

Argh! Ia mengerang. Bayangan kejadian itu selalu saja berputar diotaknya, bagaikan sebuah film yang terus – menerus ditekan oleh seseorang pada tombol ‘Play’. Marcus semakin melajukan mobilnya tanpa terkendali. Ia merasa dirinya mala mini benar – benar hancur hanya karena seorang gadis.

“Jalanan sudah sunyi senyap, lengang. Tidak ada seorangpun yang melewati jalanan ini. Ini jalanan milikku! Hahahaha.”

Marcus bergumam tidak jelas. Sesekali ia tertawa melengking tanpa sebab. Tubuhnya memang dipengaruhi oleh alcohol hingga membuatnya kehilangan akal sehat dan kesadarannya. Disaat ia lengah, tiba – tiba…

BRAK!

Ia menghentikan mobilnya mendadak hingga membuat kepalanya sendiri terbentur dashboard. Tubuhnya tiba – tiba menggigil ketika melihat seseorang telah tergeletak didepan mobilnya. Pakaian putihnya tercampur dengan noda darah. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Marcus menggeleng kuat – kuat, mencoba meyakinkan dirinya bahwa didepannya ini hanya halusinasi semata. Namun, beberapa kali ia mencoba untuk menghindari kenyataan ini, ia tidak bisa. Ia telah benar – benar menabrak seseorang!

“Tuhan…”

Desis Marcus tertahan. Ia segera menghindarkan mobilnya dan melajukannya. Ia tak mempedulikan orang yang tergeletak karena ulahnya. Karena pikiran tidak waras memasuki otaknya ia membuat seseorang hampir meregang nyawa. Pengecut? Ini perkataan yang cocok untuknya. Tidak mau bertanggung jawab.

“Semoga kau selamat.” Ia berdo’a dan semakin melajukan mobilnya walaupun tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.

***

1 Month Later.

 

“Apakah kau sama sekali tidak merindukan, Nadine?” Tanya Clara pada Marcus yang berada didepannya. Mereka kini tengah duduk santai disebuah pondok diujung pantai. Marcus melepaskan kacamata hitamnya lalu menggeleng.

“Tidak. Aku merasa bahagia ketika aku tidak melihatnya lagi. Mungkin ia benar – benar telah memutuskan satu hal yang terbaik bagiku, yaitu meninggalkanku. Ahh, kebahagiaan ini tidak bisa diucapkan dengan kata – kata.”

Clara tersenyum menanggapinya. “Apa kau sama sekali tidak ingin mengetahui tentangnya? Aku khawatir kalau ada sesuatu yang terjadi padanya. Aku takut kalau ada hal buruk yang menimpa dirinya.”

 

“Kau memang wanita yang sangat baik hati. Tidak salah kalau Tuhan mengirimkanmu padaku,” Ucap Marcus lalu mengusap kepala Clara pelan. “Kau tidak usah khawatir. Firasatku, ia akan baik – baik saja.”

Yeah, semoga saja.” Ucap Clara pelan dan berusaha menikmati pemandangan pantai yang memang benar – benar sangat menakjubkan. Ia menghela napas berat dan melirik kearah Marcus sekilas, hatinya mencelos pelan. Sakit hati? Tentu saja.

“Ohya—aku hampir melupakan sesuatu.” Clara menjentikkan jarinya dan membuat Marcus menoleh. “Aku ingin menunjukkan sesuatu yang sangat special untukmu! Kau harus datang, Okay?”

“Apasih yang tidak ku lakukan untukmu, honey? Pasti aku akan datang.” Ucap Marcus. Honey? Hanya panggilan yang dibuat Marcus untuk Clara walaupun mereka belum mempunyai hubungan yang benar – benar special. Masih sebatas teman –yang mungkin sangat tidak bisa juga disebut sebagai teman.

“Baguslah.” Ucap Clara tersenyum tenang. Hatinya bahagia mendengar perkataan Marcus.

Sebentar lagi. – Clara Hwang.

***

“Kau ingin membawaku kemana?” Tanya Marcus pada Clara yang menutupi matanya dan kain hitam dan menuntunnya menuju suatu tempat. “Kau tidak ingin berbuat macam – macam padaku, kan?”

“Tentu saja tidak! Buang semua pikiran burukmu. Aku ingin menunjukkan sesuatu yang special.” Ucap Clara dan terus saja menuntun Marcus.

“Semoga.”

Marcus terus saja melanjutkan langkahnya yang masih dituntun oleh Clara. Jalan yang mereka tempuh sudah cukup jauh. Sampai akhirnya, Clara tiba – tiba menghentikan langkahnya dan otomatis membuat pemuda itu juga ikut berhenti.

“Sudah sampai.” Ucap Clara pelan. Marcus tersenyum dan tangannya bergerak keatas untuk membuka kain hitam yang menutup kepalanya. “Hey—tidak boleh dibuka! Kau tidak boleh membukanya sebelum aku yang memperintahkannya.”

Marcus mendengus pelan dan membatalkan niatnya untuk membuka penutup matanya. Terdengar Clara menepuk kedua tangannya beberapa kali sehingga menimbulkan bunyi yang beraturan. Marcus masih terdiam ditempat tanpa melakukan apapun sampai mendengar aba – aba dari Clara.

“Sekarang bukalah penutup matamu.” Perintah Clara. Marcus mengangguk dan tidak sabar apa yang ingin ditunjukkan oleh orang yang dicintainya, ia membuka penutup matanya dan mendapatkan sebuah pemandangan danau yang sangat indah, airnya gemerlapan diterpa cahaya bulan purnama.

“Sangat indah sekali.” Gumam Marcus masih terpana akan keindahan yang didepannya. Ia merasakan tepukan tangan Clara dibahu kanannya.

“Apakah kau masih mengenalinya?” Ucap Clara pelan yang membuat Marcus berbalik. Betapa terkejutnya ia mendapati sosok yang sudah satu bulan lamanya menghilang dari kehidupannya, kini gadis itu berada dijarak seratus meter dari tempatnya berdiri sekarang. Marcus masih terdiam ditempat. Ia masih memandang Nadine –yah gadis itu adalah Nadine, dengan keadaan membeku. Entah mengapa ada perasaan yang seperti mendorongnya untuk berlari dan memeluk gadis itu, apa ia tidak menyadari bahwa dirinya merindukan sosok yang selalu diabaikannya?

“Apakah ini yang kau sebutkan kejutan special untukku?” Tanya Marcus dingin. Clara hanya mengangguk dan menarik tangan Marcus untuk mendekati Nadine.

“Nadine…”

Marcus bergumam dan entah mengapa perasaan bersalah menyelimutinya ketika melihat keadaan Nadine sekarang. Gadis itu terduduk lemah diatas kursi roda. Ia memakai dress merah muda dan wajahnya dihiasi make up tipis, namun masih dapat menunjukkan betapa pucatnya wajahnya sekarang. Mata Nadine mengerjap beberapa kali, Nadine menatap lurus kedepan.

“Nadine, kau masih ingat dengan Marcus?” Tanya Clara lalu duduk bersimpuh disamping kursi roda Nadine. Nadine mengangguk pelan. “Apa kau merindukannya?” Lanjutnya bertanya. Lagi – lagi gadis itu hanya mengangguk.

Clara berdiri dan kembali menempatkan tubuhnya disamping tubuh Marcus yang masih mematung. Clara menghela napasnya, “Nadine mengalami tabrak lari sebulan yang lalu.”

Marcus sontak terkejut, ia menoleh kearah Clara. Kecelakaan? Satu bulan yang lalu? Tabrak lari?

“Mobil yang menabraknya lari begitu saja tanpa memperdulikannya yang terletak tak berdaya dijalanan yang sangat sepi dengan keadaan mengenaskan. Saat itu, ia bergegas untuk pulang dari bekerja karena hari mulai larut malam. Ia bergegas untuk pulang karena ia ingin membuatkan kue ulang tahun bagi orang yang dicintainya, namun keadaan naas menimpanya.”

Marcus membeku.

“Casey yang memang sengaja mengikuti orang yang menabraknya pun menemukan Nadine terletak tak berdaya dengan baju yang dipenuhi oleh darah. Ia segera menolong Nadine dan membawanya kerumah sakit. Casey mengetahui tentang sosok yang menabrak Nadine dan menceritakan hal itu padaku. Aku terkejut? Tentu saja..

“Nadine segera diberi pertolongan karena banyak sekali mengeluarkan darah. Kepalanya bocor, darah tidak henti – hentinya mengalir. Untung kami bergerak cepat, namun ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri…

“Tim Dokter tidak bisa menyelamatkan kedua bola mata indahnya. Ia menderita buta permanen.”

Marcus tertohok. Ia tidak bisa berkata apa – apa. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya ketika mendengar semua penjelasan dari Clara. Ia masih menatap Clara dengan tatapan tidak percaya. Berarti, orang yang ia tabrak sebulan yang lalu adalah Nadine? Oh, Tuhan…

Marcus tak mampu lagi menopang tubuhnya hingga ia terjerembab keatas rerumputan. Matanya beralih menatap Nadine yang masih duduk ditempatnya –kursi roda. Ia tidak sanggup melihat keadaan Nadine sekarang. Keadaan Nadine sekarang membuat hatinya benar – benar hancur. Betapa jahatnya ia, betapa tak bergunanya ia, betapa pengecutnya ia sebagai seorang lelaki. Tubuhnya bergetar hebat, tanpa sadar krystal bening mengaliri wajahnya yang tampan.

“Apa kau masih ingat pertemuan pertama kita?” Tanya Clara, namun Marcus tidak bisa menjawabnya. Mulutnya seperti dijahit, tidak mampu membukanya. Matanya masih menatap lekat pada Nadine yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya dan tidak mengetahui ada dirinya didekat gadis itu. “Kita bertemu didepan sebuah restoran mewah ketika kau baru saja keluar dari hotel yang berada disamping restoran itu…

“Apa kau tidak tau mengapa aku berada didepan restoran itu? Ohya—kau sama sekali tidak pernah menanyakan tentang hal itu. Tentu saja kau tidak tau.” Clara terkekeh pelan. “Aku bisa berada disana karena aku mengantarkan adikku bekerja, adikku yang mandiri, adikku yang baik hati, dan adikku yang….ahh, adikku yang bernama Nadine Hwang.”

Dua kali. Dua kali Marcus dikejutkan oleh ucapan yang dilontarkan oleh Clara. Kenyataan yang tidak pernah ia duga. “Adikku bernama Nadine Hwang. Pasti kau terkejut, bukan? Yeah, apakah kau mulai merasa tidak benar ketika kau melontarkan kata ‘aku mengetahui semua tentangmu’ apa kau masih ingat mengenai kata itu? Apa kau masih yakin? Buktinya saja, kau tidak mengetahui hal sekecil ini, bahwa aku memiliki seorang adik, dan dia adalah kekasihmu sendiri…

“Pasti kau sekarang bertanya, mengapa aku, seorang kakak mencintai kekasih adiknya sendiri, bukan? Hahaha, kau itu sebenarnya terlalu bodoh, Marcus Cho. Apakah kau masih ingat, mengapa aku selalu khawatir dengan Nadine? Apa kau masih ingat mengapa aku mengetahui bahwa Nadine mencintaimu dengan tulus? Apa kau masih ingat ketika aku mengatakan bahwa wanita itu mempunyai perasaan? Apa kau masih ingat ketika aku mengatakan itu semua? Apa kau sama sekali tidak berpikir mengapa aku selalu mengetahui tentang Nadine, sedangkan kau tak pernah memperkenalkan kekasihmu itu padaku? Apa kau masih ingat?

“Itu karena aku mengenal Nadine yang mencintaimu dengan tulus. Kau tahu? Sebelum dengan kau, Nadine tidak pernah berpacaran dengan siapa – siapa. Ia sangat menutup hatinya terhadap seorang pria. Dan baru kali ini, aku mengetahuinya sangat jatuh cinta pada sosok orang sepertimu. Sosok yang berhasil membuatnya menyerahkan seluruh hatinya padamu. Kau dulu memang mengenalnya, bukan? Karena pertemuan tidak sengaja kalian disebuah pesawat saat Nadine berangkat dari Korea menuju kesini, Canada, untuk tinggal bersamaku dan hidup mandiri, jauh dari orang tua kami yang berada di Seoul…

“Namun kau malah mengabaikan cinta tulus darinya dan malah memilih untuk jatuh cinta padaku, bukan? Kau langsung jatuh cinta padaku dan tidak mempertanyakan bahwa aku ini masih single atau sudah taken. Aku mengikuti permainanmu, mengajarkanmu bagaimana menjadi sosok pria dewasa yang bisa menghargai perasaan seorang wanita. Asal kau tahu, aku sama sekali tidak mencintaimu. Selama ini, aku hanya menganggapmu sebagai adikku, tidak lebih…

“Bagaimana rasanya dipermainkan? Bagaimana rasanya disakiti oleh seseorang yang kita cintai? Apakah sakit? Bagaimana rasanya, Marcus Cho?” Terdengar nada sinis dari Clara. “Pasti sakit bukan? Yeah, tentu saja sakit sekali. Hahahaha, akhirnya kau bisa merasakan bagaimana rasanya sakit hati, Marcus Cho. Aku tau, ini memang terdengar sangat licik. Tapi, ini ku lakukan untuk kebaikanmu…

“Kau selalu cemburu ketika aku berdekatan dengan Casey. Hey—kau tidak pernah menanyakan dia ada hubungan apa denganku, bukan? Kau selalu saja marah – marah tidak jelas ketika melihatnya denganku. Namun, kau tidak mengetahui satu hal lagi tentang diriku, kau tidak tahu bukan bahwa aku ini telah menikah dan mempunyai seorang suami, huh? Yeah—kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Mana mungkin kau tau aku telah menikah dan mempunyai suami, asal kau tahu, suamiku itu Casey Kim! Orang yang selalu kau cemburui, Marcus Cho! Untung saja, aku mempunyai suami yang baik sepertinya, ia sosok pria yang sangat dewasa dan bisa mengerti rencanaku untuk menyadarkanmu, ia setuju, walaupun ia harus menanggung beban cemburu ketika melihatku bermesraan dengan dirimu. Namun, ia selalu mendukungku walau keadaan itu menyakitkan baginya. Karena hal itulah, aku sangat mencintainya dan tidak mungkin berpaling hanya karena bocah ingusan sepertimu…

“Namun aku kali ini sangat bersyukur, karena ada orang yang mencintai Nadine dengan tulus, tidak seperti dirimu. Dan ia akan menikahi Nadine dua hari lagi. Dia Aiden Lee, sahabat Nadine yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Ahh—aku akan segera memiliki adik ipar. Dan kau—kuharap kau akan datang ke pesta pernikahan Nadine.”

Clara berjalan menghampiri Nadine dan melewati Marcus yang masih mematung mendengar semua kenyataan yang diucapkan oleh Clara. “Nadine, kita pulang ya? Angin malam tidak bagus untukmu, apalagi sebentar lagi kau akan menikah, aku tidak ingin kau sakit.” Clara mengecup kening Nadine pelan dan segera berbalik untuk memegang gagang untuk mendorong kursi roda Nadine dan meninggalkan tempat ini.

“Nadine—bisakah kau ucapkan ‘selamat tinggal’?” Pinta Clara lalu melirik kearah Marcus yang bungkam seribu bahasa, menatap mereka dengan nanar, dengan kedua mata yang merah menahan tangis.

“Selamat tinggal.” Ucap Nadine lembut. Nadine sama sekali tidak mengetahui bahwa ada Marcus yang berada diantara mereka berdua. Clara tersenyum manis.

“Sayang—apakah kau bahagia akan menikah dengan Aiden?” Tanya Clara. Nadine mengangguk antusias. “Apakah kau akan melupakan Marcus?”

“Aku akan mencoba melupakannya. Mungkin, aku telah sadar sekarang, Tuhan telah menyadarkanku bahwa jodohku itu bukanlah Marcus, melainkan sosok yang selama ini aku anggap sahabat. Ia selalu merawatku ketika sakit, menghiburku dikala sedih, ia selalu melewati hari – harinya bersamaku. Aku sekarang mencoba mengikhlaskan untuk pergi dari kehidupan Marcus. Karena, aku tau, pemuda itu sama sekali tidak mencintaiku.”

Marcus tertegun ketika mendengar ucapan Nadine. Sedangkan Clara hanya tersenyum tipis lalu melambaikan tangannya pada Marcus untuk mengucapkan ‘selamat tinggal’. “Semoga kau berubah dan semoga kau menemukan jodoh yang tepat untukmu. Aku mendo’akanmu, kau telah aku anggap sebagai adikku sendiri. Bagaimanapun, aku sebagai seorang kakakmu, akan selalu mendo’akan yang terbaik untuk adiknya. Semoga kau bahagia, Marcus Cho. Bye!

***

Setelah sekian lama, aku baru menyadari bahwa ia bukanlah sosok yang ditakdirkan untukku – Nadine Hwang.

 

Aku merasa, aku sosok terjahat yang hidup di dunia. Aku menyesal, sangat – sangat menyesal atas semuanya. Tuhan, terima kasih karena kau telah menyadarkanku bagaimana kehidupan yang sesungguhnya. – Marcus Cho.

 

Akhirnya ia menyadari bahwa memang aku sosok yang ditakdirkan untuknya. Terima kasih, Tuhan. – Aiden Lee.

-The End-

Advertisements

3 thoughts on “[FREELANCE] This is Real Life

  1. ckck… Kyuhyun Oppa bisa sejahat itu??
    Casey emg suami paling pengertian, ngerelain istrinya (Clara) buat “main” sama pria lain!
    Good ff, pelajaran tentang cinta yang bagus.. Laik dis!! 😀

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s