EXO Helping Earth | Chapter 2a

Author : Rei a.k.a reiplanet
Title : EXO Helping Earth | Chapter 2a
Main Cast :

  • Baekhyun (EXO-K)
  • Kai (EXO-K)
  • Sehun (EXO-K)
  • Luhan (EXO-M)
  • Sanghi (OC)

Length : Multichapter (2/5. Hanya prediksi ^_^)
Genre : Fantasy, Friendship, little bit Adventure
Rating : PG-13
Cover by :
Karra@chocolatevanillalate.wordpress.com
Note : Pernah di-publish di blog pribadi, disini (dengan penambahan cast. Semula empat member EXO jadi lima member EXO) dan beberapa blog.

Happy Reading!!

 

~EXO~

Hari Minggu berakhir sangat cepat. Sanghi yang biasanya menghabiskan hari Minggu dengan bermalas-malasan, terpaksa harus merubah kebiasaannya itu. Selama satu hari, dia menjadi guru bagi keempat namja dari Planet EXO yang tersasar ke rumahnya. Pelajaran yang ia berikan sangat mudah. Hanya penjelasan singkat mengenai hal-hal umum yang berada di bumi.

Tapi karena mereka benar-benar tidak tahu tentang segala sesuatu yang ada di bumi jadinya mereka banyak bertanya ini dan itu. Bahkan sampai ada yang melenceng dari topik. Pelajaran yang seharusnya bisa selesai dalam beberapa jam menjadi memakan waktu dari siang (jam dua belas) sampai malam (jam delapan). Karena itu, Sanghi menjadi lupa mengerjakan tugasnya. Berhubung tugasnya sulit, jadilah ia bergadang untuk mengerjakannya. Akhirnya, Sanghi terserang kantuk berat sekarang.

Entah sudah keberapa kalinya Sanghi menguap. Kai yang saat ini diserang rasa bosan tingkat akut, karena sarapan mereka belum matang juga, berusaha menghilangkannya dengan menghitung berapa kali Sanghi menguap. “Sebelas, du–”

Perkataan Kai terhenti saat Sehun menggebrak meja makan dengan keras. Gelombang angin kecil membuat ujung taplak meja berkibar, dan peralatan makan berdenting. Serta yang paling penting, hampir membuat Sanghi dan Kai terjengkang. Kai menghentikan kegiatan menghitungnya, kemudian, kemudian menunjukkan tatapan marah pada Sehun. “Apa yang kamu lakukan, Sehun bodoh?” geramnya dengan nada kesal.

Bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, Sehun malah mendengus. Dia kembali duduk, kemudian membuang muka. “Ada apa, Sehunnie?” tanya Luhan. Kepalanya menyembul dari balik tirai yang memisahkan ruang makan dengan dapur. Sebelah tangannya terangkat, menunjukkan spatula yang diujungnya terdapat air –lebih tepatnya minyak– yang menetes. “Apa yang Hyung lakukan? Kenapa sarapannya belum matang juga? Kita akan terlambat!”

Luhan menunjukkan wajah innocentnya, kemudian nyengir. Merasa dipermainkan, Sehun mengerucutkan bibirnya. Kepala Baekhyun ikut menyembul dari balik tirai, di samping kepala Luhan. Wajahnya tercoreng tepung, sambal, saus, dan kecap di sana-sini. Untung saja tidak sampai seluruh wajah. Jadi apa wajah Baekhyun nanti?

Melihat wajah Baekhyun yang belepotan, Sehun, Sanghi, dan Kai tertawa serentak. Kai, yang dibalik sifat dinginnya ternyata memiliki sisi yang tak terduga, tertawa paling keras sampai ia terjatuh dari kursinya. Pasti di Planet EXO, dialah yang paling ingin melihat Baekhyun tampil seperti badut (Err, bukannya Baekhyun sering jadi badut di sana?). Benar-benar menunjukkan ciri-ciri junior yang tidak baik.

Sanghi menghentikan tawanya secara mendadak, seakan-akan baru menyadari sesuatu yang penting. Dia menoleh ke samping dengan cepat, sampai-sampai lehernya terasa sakit, untuk melihat jam dinding. Jarum pendek berhenti dengan manisnya di dekat angka tujuh, sedangkan jarum panjang berhenti di angka sepuluh. Mata Sanghi membelalak ngeri. “Tidak!!” jeritnya seketika.

“Ada apa?” tanya Baekhyun. Wajahnya sudah tidak belepotan lagi, dan sekarang air menetes-netes dari wajahnya. Mungkin tadi dia meminta Luhan untuk memanggil air dari keran.

Tangan Sanghi menunjuk jam dinding dengan gemetar. Pandangan keempat namja di hadapannya tertuju ke sana. “Sekarang jam tujuh kurang sepuluh. Apa yang salah?” tanya Kai. Sanghi menepuk dahinya. Terlalu keras sampai terdengar bunyi ‘plak’. Tapi sepertinya, Sanghi tidak terlalu ambil pusing. “Apa kita terlambat, Sanghi-ya?” timpal Sehun.

“Sebenarnya tidak, untuk sekarang. Tapi nanti, sepuluh menit kemudian, kita terlambat. Kita akan dihukum membersihkan seluruh halaman sekolah. Betapa menyenangkan.”

Butuh beberapa saat bagi Sehun, Kai, dan Baekhyun untuk mencerna perkataan Sanghi. Terlalu berbelit-belit, menurut mereka. Ketika mereka sudah menyerap semuanya, “Tidak!” Jeritan mereka menggema di seluruh rumah.

Keempat namja itu segera bertindak. Sehun dan Kai membawa tas mereka masing-masing, Baekhyun membawa tasnya sendiri kemudian memasangkan tas Sanghi ke bahu yang bersangkutan, sedangkan Luhan  menggunakan kekuatannya untuk mempercepat pematangan makanan, kemudian membawa makanan tersebut ke meja makan.

Baekhyun, Kai, Sehun, dan Sanghi memakan makanan tersebut dengan kecepatan di atas rata-rata. “Selesai. Kami pergi dulu, Hyung,” kata Baekhyun. Dia, Kai, Sehun, dan Sanghi bangkit dari tempat duduk mereka. “Pegang tanganku,” kata Kai.

Tanpa diulang lagi, Baekhyun dan Sehun mencengkeram tangan Kai –meskipun sepertinya Sehun terlihat jijik, jika dilihat dari ekspresi wajahnya–. Mereka bertiga menoleh ke arah Sanghi, yang menatap Kai dengan pandangan tidak yakin. “Memangnya apa yang akan terjadi jika aku memegang tanganmu? Dan apa yang akan terjadi jika aku tidak memegang tanganmu?” tanyanya.

“Kalau kamu memegang tanganku, kita akan sampai di sekolah dengan cepat, meskipun kamu akan mengalami rasa pusing sebagai efek samping. Tapi jika kamu tidak memegang tanganku, kata-katamu tadi yang bagian ‘dihukum membersihkan semua halaman yang ada di sekolah’ akan menjadi kenyataan,” balas Kai, sambil tersenyum tenang.

Masih dengan ragu-ragu, Sanghi mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Kai. Padat, sama seperti makhluk hidup. “Baiklah”, gumamnya. Sanghi meletakkan telapak tangannya di bahu Kai. Tak sampai sepuluh detik, tubuh mereka menghilang dari ruang makan, terpecah menjadi debu berwarna kelabu.

 ~EXO~

Bel tanda istirahat berbunyi. Murid-murid tingkat dua Hannyoung High School berhamburan keluar kelas. Ada  yang  langsung  pergi  ke  kantin,  ada  yang  pergi  ke  lapangan, ada yang ke toilet, dan lain-lain. Tapi Baekhyun, Kai, Sehun, dan Sanghi, serta  beberapa  murid  di  kelas XI-A melakukan hal lain daripada yang lain. Murid-murid duduk mengelilingi mereka berempat, memasang ekspresi menyelidik. Pulpen dan lembaran kertas siap di tangan masing-masing murid. Ckck, mereka berempat serasa menjadi artis dadakan.

“Kai-ssi, apa kamu warga Korea asli? Kalau begitu, kenapa kulitmu coklat?” tanya seorang murid yeoja pada Kai. Karena yang ditanya terlalu fokus dengan pertanyaan yang diajukan murid lain pada Baekhyun, ia tidak mendengar pertanyaan yeoja di hadapannya.

“Jawablah pertanyaanku, Kai-ssi.” Murid yeoja itu mendengus kesal. Tapi percuma saja. Kai masih fokus membantu Baekhyun menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya.

Murid yang letak duduknya paling jauh mengangkat tangan. Baekhyun, Kai, Sehun, dan Sanghi melihat ke arahnya. Dia membetulkan kacamatanya yang melorot, kemudian bertanya, “Bagaimana kalian bertiga bisa mengenal Sanghi? Setahuku, meskipun ia ceria dan banyak bicara, dia tidak terlalu senang bergaul.”

Telinga Sanghi memanas. Hidungnya mengembang dan mengempis. Apa-apaan mereka?!, pekiknya kesal dalam hati.

Mendadak, jendela kelas menjeblak terbuka. Angin dingin berhembus masuk ke ruang kelas. Murid-murid memeluk tubuh mereka masing-masing, mencoba menghangatkan diri. “Sebaiknya kita ke kantin saja. Di sana mungkin lebih hangat”, ucap salah satu dari mereka, yang segera disetujui oleh yang lain.

“Kami pergi dulu.”

Setelah murid terakhir menghilang di balik pintu, Baekhyun, Kai, Sehun, dan Sanghi menghela napas. Tak ada lagi pertanyaan dan ocehan tidak penting yang menghujani mereka. Suasana kelas menjadi hening. “Huft, akhirnya mereka pergi juga. Terima kasih, Sehun,” celetuk Baekhyun, memecahkan keheningan. Dia meregangkan tubuhnya, kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Kita ke kantin?” ajaknya. Kai, Sehun, dan Sanghi mengangguk setuju.

Ketika di dalam kelas mereka dihujani pertanyaan beruntun oleh teman sekelas mereka. Sedangkan ketika mereka dalam perjalanan menuju kantin, mereka dihujani tatapan penasaran oleh seluruh murid yang mereka lewati.

Baekhyun, Kai, dan Sehun tampaknya sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Mungkin mereka sudah pernah, dan sering tampil di depan umum. Tapi tidak untuk Sanghi. Meskipun dia mendapat cukup banyak perhatian dengan sifat ceria overdosisnya, tapi tetap saja dia tidak pernah diperhatikan se-intens ini. Sekilas, dia bahkan melihat ada murid yang memandangnya dengan tatapan benci dan tidak suka.

Sehun berhenti mendadak. Sanghi, yang berjalan di belakangnya dan tidak tahu kalau Sehun berhenti, menabrak punggungnya. “Hidungku~,” desis Sanghi sambil mengusap-usap hidungnya. Sehun berbalik. “Maafkan aku, Sanghi-ya. Aku tidak tahu kalau kamu ada di belakangku.”

Sanghi mengangguk, masih sambil mengusap hidungnya.

“Ada apa, Sehun?”, tanya Kai. “Entahlah, aku merasa ada hawa aneh dari belakang.”

Baekhyun memasang ekspresi terkejut. Dia memandang Sanghi dengan ngeri. Yang dipandang hanya mengangkat bahu sambil melempar tatapan aku-tak-tahu-apa-apa. “Bukan dari Sanghi”, kata Sehun.

“Lalu siapa? Ada banyak orang di belakang”, ujar Baekhyun.

“Sanghi-ya!” Mendadak, sebuah suara melengking –suara yeoja– terdengar dari belakang mereka. Mereka berempat serentak berbalik, dan menemukan seorang yeoja berambut panjang dan berwajah innocent sedang berlari ke arah mereka, sambil melambaikan tangan. “Temanmu?”, tanya Baekhyun. Tidak ada jawaban dari Sanghi. Dia masih fokus melihat wajah yeoja itu –yang sekarang sudah berhenti di hadapan mereka–.

Yeoja itu membungkuk sopan pada Baekhyun, Kai, dan Sehun, kemudian memeluk Sanghi dan mengguncang-guncangkannya. Mereka terlihat seperti sepasang sahabat. Tapi pemikiran itu pasti segera menghilang dari pikiranmu ketika melihat ekspresi Sanghi yang terlihat sangat kebingungan dengan keadaan ini, dan err … sedikit risih, mungkin? Dengan cara sehalus mungkin, Sanghi melepas pelukan si yeoja. “Hmm, entah kemarin aku terbentur atau apa, tapi aku tidak ingat siapa dirimu,” kata Sanghi.

Kikik geli keluar dari mulut si yeoja. “Ya ampun, kepalamu pasti terbentur sangat keras. Masa kamu tidak ingat temanmu yang pintar, cantik, dan keren ini? Baiklah, jika kamu memang tidak ingat siapa diriku, akan kujelaskan kembali. Namaku Im Yoon Ah. Biasanya kamu memanggilku Yoona atau Yoona-ya, ketika dalam situasi biasa, Im Yoon Ah-ssi ketika kamu sedang bad mood, dan Yoona Eonnie ketika berada di hadapan keluargaku. Ingat?”

Baekhyun, Kai, dan Sehun menatap Sanghi dan si yeoja, Yoona, secara bergantian. Mereka tidak habis pikir, bagaimana bisa Sanghi yang ingatannya kuat bisa lupa terhadap temannya sendiri? Apalagi, Yoona terlihat sangat mengenal dan dekat dengn Sanghi. Ada yang tidak beres antara mereka berdua.

“Yoona-ssi, sepertinya Sanghi butuh sedikit penyegaran ingatan. Dia mengerjakan tugas sampai bergadang kemarin. Mungkin karena dia mengantuk, Sanghi sampai tidak sadar kalau kepalanya terbentur,” kata Sehun.

Mata Yoona menyipit, kemudian bibirnya membentuk senyuman jahil. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Sanghi, kemudian berbisik, “Namja itu sangat mengetahui apa yang kamu lakukan kemarin. Apa dia namjachingumu?”

Sanghi menjauh beberapa langkah dari Yoona. Dia menggeleng. “Aku tidak punya namjachingu. Dia sepupuku”, katanya. Yoona mengangguk khidmat. “Hmm, waktu istirahatnya hampir habis. Kami harus cepat-cepat ke kantin. Kami pergi dulu, Yoona-ssi.” Baekhyun menarik lengan Sanghi dengan tangan kanannya, kemudian menarik kerah baju Kai dan Sehun dengan tangan kirinya, menggiring mereka menuju kantin.

Mereka berempat memilih meja yang bertempat di pojok belakang kantin. Beberapa saat hening, mereka berempat sibuk dengan makanan masing-masing. “Siapa yeoja tadi? Meskipun dia terlihat seperti teman baikmu, tapi reaksimu benar-benar terbalik. Kamu seakan-akan tidak mengenalnya”, kata Kai, memecah keheningan yang ada. Sanghi mengaduk minumannya, kemudian menjawab, “Entahlah, aku juga tidak tahu. Seingatku, aku tidak pernah punya teman yang bersikap antusias ketika bertemu denganku.”

“Tunggu sebentar”, desis Sehun. “Apa?”, tanya Baekhyun.

“Hawa aneh yang kurasakan … kurasa itu berasal dari Im Yoon Ah.”

Baekhyun, Kai, dan Sanghi saling berpandangan. “Yoona sangat cantik dan innocent, kamu tahu. Sangat tidak mungkin kalau dia merupakan musuh. Dan tadi, sewaktu ia memelukku, aku tidak mencium bau aneh darinya”, ujar Sanghi. Sehun menggeleng. “Bukan itu maksudku. Lagipula, cantik dan innocent? Penampilan bisa menipu. Kamu, sebagai seorang manusia, seharusnya lebih tahu tentang hal itu.”

“Lalu?”

“Aku merasakan kekuatan, dendam yang berlebihan, dan kegelapan dari dirinya. Dia bukan manusia.” Sanghi memutar matanya. “Jadi, kamu mengambil kesimpulan bahwa Yoona bukanlah manusia hanya karena kamu merasakan hawa tidak jelas? Lalu, hawa apa yang kamu rasakan dari diriku? Kekuatan mengerikan yang menyebar kemana-mana?”

Sekarang, gantian Sehun yang memutar matanya. Dia menepuk puncak kepala Sanghi, kemudian mengacak-acak rambutnya. Sanghi mendesis kesal. “Dasar keras kepala! Kalau kubilang aku merasakan hawa aneh dari dirinya, itu artinya memang ada yang salah dengan Yoona. Sebaiknya, kamu mempersiapkan dirimu untuk kehidupan yang berbeda”, kata Sehun.

’Kehidupan berbeda’? Apa aku akan mati?”

Kai mendengus. “Tentu saja tidak, Sanghi kecil. Dia ingin kamu bersiap-siap untuk menghadapi sesuatu yang buruk,” katanya. “Bahasa singkatnya, antisipasi,” Baekhyun menimpali.

“Ya, ya. Aku mengerti, Oppadeul.”

To Be Continued

A/N : Ohoho, saat2 yg menegangkan sewaktu ide saya ngadat xD. Tapi akhirnya, saya bisa jga nyelesein Chapter ini, meskipun baru setngahnya. Kependekan kah? Lebih jelek dari chapter lalu? Saya mohon maap sebesar2nya. Lagi sibuk di duta soalnya. Ehehe ^^

Sekian curcol dari saya. Mohon commentnya ^__^ Don’t be silent reader, please …!

Advertisements

One thought on “EXO Helping Earth | Chapter 2a

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s