[FREELANCE] Gomawo

GOMAWO

    -Untuk akhir yang bahagia-

Title: Gomawo
Author: @naui_sesang_
Main Cast:
-Tiffany Hwang (SNSD)
-Sulli a.k.a Choi Jin Ri (f(x))
Genre: Friendship, Angst, AU
Rating: General
Length: Oneshoot
                                                          ##############
-Tak perlu sesuatu yang beharga
Hal sepelepun bisa menjadi jauh lebih berharga
Jika dikemas dengan ketulusan.
Walau hanya berbentuk traktiran, misalnya?-
Hari ini entah kenapa cuaca sangat panas. Peluh tak hentinya bercucuran dari keningku. Gerah. Apalagi pengunjung cafe tempatku bekerja ini mendadak ramai. Agak kewalahan juga karena pekerja disini tak banyak. Siapa yang tahan menghadapi bos segarang itu.
“Tiffany-ssi
Aku menoleh kearah pintu dapur. Ternyata Sulli menemuiku. Aku mengenalnya tak lebih dari seminggu yang lalu. Itupun karena salahku yang tak sengaja menumpahkan minuman pesanannya saat ia berkunjung ke cafe ini.
“Kau ada waktu? Ahh… Tapi sepertinya tidak. Lihat saja, cafe ini ramai sekali.”
Kulihat Sulli mengibaskan tangannya. Aku hanya mengangguk menanggapi. Aku masih lelah.
Sulli mendekatiku. Menarik kusi tak jauh darinya lalu duduk didekatku.
“Ada apa Sulli-ssi?” Tanyaku disela-sela aktifitas berkipas-kipas yang sejak beberapa detik lalu kulakoni. Sulli menatapku. Lalu tersenyum simpul.
“Ani. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan, geundae…”
Ia mengedarkan pandangannya sejenak, kemudian melanjutkan
“Ahh… apa ada yang bisa kubantu?”
Aku menggeleng yakin. Shift-ku hari ini sebentar lagi habis. Aku hanya tinggal mengganti seragam, lalu pulang.
“Tidak ada. Sebentar lagi jam kerjaku habis. Jadi kita bisa jalan-jalan” Ya sekalian refreshing otak, badan juga fikianku yang mulai lelah ini.
“Tapi… apa kau tidak lelah? Lebih baik kau istirahat saja”, saran Sulli. Ia menatapku meyakinkan. Aku tersenyum padanya.
“Lelah itu kan resiko bekerja. Jadi… Chakkaman. Aku ganti baju dulu”
Aku beranjak meninggalkan Sulli menuju uang khusus pekerja. Mengganti seragamku dengan baju yang tadi kugunakan ketika berangkat kesini. Aku menyisir rambutku dan mengikatnya asal. Menyambar tas lalu kembali ke dapur.
Kajja !!!” Aku menarik tangan Sulli dan ia menurut. Setelah pamit pada bos, kami berdua pun meninggalkan Cafe.
“Mau kemana kita?” Tanyaku pada Sulli yang berjalan disebelahku. Ia nampak berfikir.
“Bagaimana kalau kita beli Es Krim saja. Panas-panas begini pasti tambah nikmat. Eotte?”
KajjaKajja…!!!”
Aku mengangguk antusias. Tak tahan ingin segera merasakan benda lembut itu melewati tenggorokanku. Huwah, pasti segar.
Kita sudah sampai. Aku dan Sulli kini sedang menunggu pesanan datang. Aku asyik membolak-balik buku menu yang menampilkan berbagai macam Es Krim.
“Silahkan”
Seorang pelayan membawakan pesanan kami. Huaaahh, Es Krim nya terlihat segar. Tanpa menunggu lagi, langsung saja ku sendok Es Krim tersebut. Begitu juga dengan Sulli, meski tak se-antusias aku. Ia sesekali tertawa kecil melihat cara makanku yang seperti orang baru pertama kali memakan Es Krim. Ahh, biar saja.
“Yahh, habis”, rengutku menatap nanar mangkuk dihadapanku. Aku lalu membuka dompetku, isinya hanya cukup untuk membayar satu Es Krim ini. Aku belum gajian.
“Pesan saja lagi. Biar nanti aku yang bayar”
Aku mengangkat kepalaku. Sulli menampilkan senyum sumingahnya setelah berkata tadi. Melihatku yang bergeming, ia mengangguk meyakinkan. Aku tersenyum.
Gomawo
-Bukankah tak perlu waktu bertahun-tahun
Untuk menemukan kebaikan hati seseorang?-
***
-Hidup ini akan jauh lebih indah,
Jika seseorang telah menasbihkan dirinya
Untuk menjadi ‘Sahabat’ kita-
6 Bulan berlalu.
Waktu terus bertalu-talu.
Mengabadikan Bahagia serta Pilu.
Pagi ini aku ada kuliah akutansi. Aku harus bergegas jika tak mau di strap oleh dosen yang terkenal killer di fakultas ku.
Kakiku pegal sekali. Gedung fakultasku masih lumayan jauh. Ini semua salahku sendiri. Karena asyik menonton film kesukaanku, aku jadi terlambat bangun.
TIIINNN… TIIINNNN…
Aduhh… dasar orang kaya. Tidak tahu aku sedang buru-buru apa? Kan masih ada jalan selebar itu disampingku. Sebesar apa sih mobilnya? Sombong sekali.
TIIINNNN… TIIINNN…
“Tiffany-ah
Aku berhenti berlari. Aku menoleh pada mobil yang berhenti tepat disampingku. Kaca mobilnya mulai turun dan menampilkan… Sulli?
“Ayo naik. Biar kuantar.”
Aku masih melongo. Belum bisa mencerna apa yang terjadi.
Kajja. Nanti kau terlambat”
Aku tersadar. Kutatap Sulli dan jam tanganku bergantian. Aku menjerit kemudian kembali berlari.
Ya~! Tiffany-ah. Ppalli
Tanpa berfikir apa-apa lagi, aku segera masuk kedalam mobil yang dikendarai sendiri oleh Sulli.
Hening.
“Kita sudah sampai Fany-ah
Aku turun lalu menutup pintu mobil. “Aku akan meneleponmu nanti. Ada yang ingin kubicarakan”
***
Taman kampusku mulai sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sekedar lewat didekat taman. Saat ini akau sedang duduk disalah satu bangku ditaman ini. Bersama Sulli disebelahku.
“Ada yang ingin kau jelaskan?” Tanyaku dingin pada Sulli. Ia menatapku bingung. Aku menghela nafas kalut. Menahan letupan emosi yang kapan saja bisa meledak.
“Apa maksud semua ini Sulli-ah? Mobil yang kau kendarai? Apa maksudnya?”
Aku berusaha bertanya setenang mungkin. Aku tahu gadis disebelahku ini mudah sekali tersentuh dan menangis.
Ia tetap bergeming. Aku meliriknya dengan ekor mataku. Bibirnya tetap terkatup. Tak ada tanda-tanda akan berucap walau satu patah kata.
Aku membuang nafasku keras. Aku berdiri lalu menudingnya. Tak mampu lagi kutahan emosi ini. Kuakui aku memang belum pandai mengolah emosiku.
“Jadi selama ini kau membohongiku tentang identitasmu, huh? Baru saja kemarin kau mengikrarkan bahwa kita adalah sahabat. Tapi Sahabat MACAM apa yang tega membohongi sahabatnya sendiri?”
Airmataku mulai bergumul. Sesaat kemudian jatuh satu per satu merembes menciptak riak-riak kecil dipipiku.
Mianhae  Fany-ahJeongmal Mianhae
Aku membuang pandangan. Tak sanggup menyaksikan tatapan memohon serta tangisnya. Aku tak peduli lagi padanya. Berani-beraninya ia berbohong padaku.
Kurasakan tangannya menggenggam erat kakiku saat aku hendak beranjak meninggalkannya.
Jebal Fany-ah. Maafkan aku”
Aku menggeleng menahan agar tak meledak lagi.
“Kau lupa Sulli-ssi? Kau lupa bahwa aku pernah bilang kalau aku paling tidak suka dibohongi? Kau lupa, hah?” Sudahlah.
Masih dengan tidak mau menatapnya, aku melepas cengkraman tangannya dari kakiku. Lalu aku berlari meninggalkannya yang terus meneriakkan namaku meminta maaf. Sudah kubilang aku tak perduli.
***
Sejak hari itu Sulli terus-terusan meneleponku. Mengirimiku sms, bahkan datang kerumah, kampus, serta tempat kerjaku. Aku sampai bosan mendengar ia mengucapkan kata aaf berulang-ulang.
Seperti hari ini, Sulli duduk bersimpuh meminta maaf didepan pintu rumahku. Yang akhirnya entah mengapa membuatku akhirnya luluh dan mau memaafkannya. Aku memang seperti itu. Mudah sekali memaafkan dan menyayangi seseorang.
-Seberapapun besar kesalahanmu
Meski setinggi gunung
Seluas Lautan
Atau bahkan Sedalam Samudra
Seorang sahabat sejati pasti akan memaafkannya-
Setahun terlewati
Dengan hari yang terus berganti
“Kau yang bernama Tiffany?”
Tiga orang gadis tak dikenal mencegatku dan menarikku kedalam sebuah gudang tak jauh dari kampus.
“I… iya”
Aku mengangguk takut-takut. Seseorang dari mereka tiba-tiba menarik kerah bajuku.
“Tolong jauhi Sulli, oke?” Sulli? Apa mereka teman-teman Sulli?
“JAWAB !!!” Teriak seorang lagi.
“Kau telah membuat Sulli berani menentang kami, kau tahu?”
Gadis yang kutebak adalah pimpinan dari mereka menatapku tajam. Kilat matanya terlihat sangat marah. Aku bergidik saat gadis yang sedang menarik kerah bajuku semakin memperkuat teriakannya. Aku sulit bernafas.
“Kalau kau masih tetap nekat berhubungan dengan Sulli, lihat saja kami juga akan nekat memberimu yang lebih daripada ini”
PLAKK
Pipiku memanas. ‘Aww’, jeritku. Mereka menjambak rambutku bergantian. Ahh, perih.
“Awas kau” Ancam mereka lalu beranjak pergi.
-Bagaimanapun coba kau pura-pura membenci sahabatmu
Yakinlah semuanya takkan berhasil.
Ancaman apapun yang kau dapatkan pasti berani kau hadapi
Hanya demi Sahabatmu.
Percayalah-
Aku takut juga dengan ancaman tiga gadis kemarin. Maka dari itu aku sudah berusaha untuk mulai menghindari Sulli, seperti keinginan mereka. ‘Mianhae, Sulli-ah’
Saengil Chukka Hamnida
Saengil Chukka Hamnida
Saranghaneun uri Sulli
Saengil Chukka Hamnida
Aku terkejut ketika membuka pintu. Dihadapanku sudah ada Sulli dengan kue tart dai tangannya. Ia tersenyum ceria. ‘Ahh jangan buat aku bimbang begini, Sulli-ah’, batinku.
“Ayo tiup lilinnya. Apa lgi yang kau tunggu?”
Aku menarik nafas. Berusaha terlihat se-emosi mungkin.
“Apa-apaan ini. Aku tak perlu. Lebih baik kau pulang saja sana !”, hardikku.
BRAKK
Suara kue yang kubanting bersamaan dengan pintu yang kututup keras. Aku mengintip dari sela tirai jendela. Sulli terdiam memandangi kue yang hancur didekat kakinya. Ia tampak kaget, kecewa, juga bingung. ‘Mianhae, Sulli-ah,” lirihku.
Keesokan paginya Sulli datang lagi. Ia kembali membawa kue tart.
“Aku tahu kemarin kau pasti lelah bekerja, sehingga kau mudah marah. Ayo tiup lilinnya. Nanti meleleh”
Ia dengan ekspresi antusias da ceria menyodorkan kue itu untuk kutiup lilinnya. Aku benar-benar tak tahan jika harus berpura-pura membencinya. Biarkan saja tiga gadis tak jelas itu dengan ancamannya. Aku tak mau perduli.
-Apapun bentuk kemarahan atau kebencian yang kau tujukan pada sahabatmu
Ia pasti akan berfikiran positif menaggapinya-
Aku tersenyum setelah meniup lilin berbentuk angka 19 itu. Lalu dengan cepat ku oleskan sedikit kue dengan jari telunjuk ke pipi Sulli. Haha dan seterusnya kami saling berkejaran layaknya anak kecil.
-Tak ada satupun hal yang mampu memutus persahabatan
Kecuali… kematian???-
Tiba-tiba Sulli berteriak seperti sedang menahan sakit ketika hubungan via telepon kami masih aktif. Lalu selanjutnya ia tak lagi bersuara ketika kupanggil.
***
Kesunyian memenuhi atmosfir disekitarku. Sepi. Hanya ada aku dan Sulli disini. Namun dengan dunia yang tak lagi sama.
Beberapa saat yang lalu pemakaman Sullitelah selesai dilaksanakan. Ternyata setelah mengobrol via telepn denganku tadi malam, Sulli mendadak pingsan dan akhirnya meninggal beberapa menit kemudian. Kini aku masih enggan meninggalkannya sendirian. AKU INGIN MENEMANINYA. Mengganti saat-saat terakhirnya yang tak bisa kutemani. Karena saat aku datang kerumah sakit, ia telah tiada.
Aku tak bisa lagi menangis. Itu membuatku sesak.
“Sulli-ahMianhae
Masih ditempat yang sama, aku membuka surat yang sedari tadi kugenggam. Surat ini diberikan orang tua Sulli saat tadi kami bertemu. Eomma nya bilang Sulli menitip ini beberapa saat sebelum ia akhirnya benar-benar pergi untuk selamanya.
“Dear Tiffany.
Aku menulis ini sambil menahan sakit yang sedari tadi menyerang kepalaku. Sakit sekali. Maafkan akau Fany-ah. Selama ini aku tak memberitahumu tentang penyakitku ini. Karena aku tak ingin dikasihani. Aku ingin hidup seperti yang lain. Menjalani hari-hariku layaknya orang sehat pada umumnya. Maafkan aku.
Aku mengidap Leukimia sejak kecil. Dan aku baru bersedia melakukan kemoteraphy sejak sebulan lalu. Apa yang kutakutkan selama ini akhirnya menimpaku juga. Rambutku rontok helai demi helai. Itu sebabnya akhir-akhir ini aku sering memakai topi rajut. Aku malu padamu dan yang lain.:)
‘Kau bodoh Sulli-ah. Kenapa kau bohong lagi?’
Aku kembali membaca surat itu. Ada banyak noda darah disana.
“Aku sering sekali berniat memberitahumu tentang penyakitku maupun tentang alasanku menyembunyikan identitasku. Tapi aku juga sering takut jika tiba-tiba saat kau tahu semuanya kau akan meninggalkanku seperti tiga temanku yang lain.
‘Ketakutanmu tak masuk akal Sulli-ah. Jadi hanya gara-gara penyakit itu temanmu menjauhimu? Lalu untuk apa ancaman itu? Benar-benar tak tau arti sahabat sebenarnya’
“Dan untuk kebohongan mengenai identitasku. Aku minta maaf. Aku melakukan itu karena aku mengira mungkin kau tak akan mau berteman dengan seorang benalu sepertiku. Yang hanya bisa menghamburkan uang hasil kerja keras orang tuanya. Tak ada maksud lain lagi.
‘Apa? Bisa-bisanya kau berfikiran seperti itu. Itu tak mungkin kulakukan. Dan cukup kau meminta maaf padaku. Aku sudah memaafkanmu. Sungguh’
“Kau tahu Fany-ah? Saat kau marah padaku waktu itu, aku sedih sekali. Aku tak mau kehilangan kamu. Aku tak mau dibenci sahabat sebaik kamu. Beberapa hari dirumah aku terus menangis dan tidak mau makan. Menyebabkan orang rumah panik dan khawatir. Takut penyakitku akan kambuh dan semakin parah.
Akhirnya aku mau makan karena tak tega melihat Eomma ku yang teru-terusan menangis memohon didepan pintu kamarku. Ahh anak kecil sekali, kan?:)
Aku mengahapus airmataku dengan punggung tangan. Lalu kembali membacanya.
“Aduhh. Kepalaku semakin sakit Fany-ah… Aku tak tahan. Terima kasih untuk semuanya. Untuk Persahabatan yang telah terjalin. Untuk senyum tulusmu. Untuk nasihat-nasihatmu. Untuk semua tentang kasih dan betapa berharganya hidup ini yang kau ajarkan padaku. Aku bahagia dan bangga pernag mengenalmu apalgi bersahabat denganmu Fany-ah. Itu adalah kado terindah yang diberikan Tuhan untukku selain keluargaku. Akan kuteriakkan sekarang ini:
AKU MENYAYANGIMU TIFFANY HWANG, SAHABATKU.
TERIMA KASIH TELAH MENERIMAKU APA ADANYA.
TERIMA KASIH UNTUK SEGALANYA !!!
NB: Maaf ya tulisannya jelek, karena aku mnulisnya sambil menahan sakit. Dan mengenai bekas tetesan darah itu, itu darah yang mengalir dari hidungku. Maaf ya.”
Sahabatmu
Sulli a.k.a Choi Jin Ri
Aku tak tahu harus bagaimana. Aku menatap nanar pada surat dan gundukan tanah didepanku bergantian. Aku berdiri, lalu berteriak
“AKU JUGA SANGAT MENYAYANGIMU SULLIA-AH.
MAAFKAN AKU UNTUK SELAMA INI.
DAN TERIMA KASIH JUGA UNTUK SEGALANYA.
AKU BANGGA PUNYA SAHABAT SETEGAR DAN SEBAIK DIRIMU.
SEMOGA KAU BAHAGIA DISANA, SAHABAT TERBAIKKU !!!”
Angin tiba-tiba berhembus sedikit kencang. Daun-daun berguguran dari pohon yang menaungi makam Sulli. Aku tahu Sulli pasti mendengar teriakanku tadi.
Aku tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan Sulli.
Gomawo, Sulli-ah
-Saat ucapan maaf dan terima kasih itu tak terucap
Biarkan perbuatan lah yang mewakilinya.
Itupun lebih berharga dari sekedar ucapan-
Catatan Kaki:
Geundae:tapi
Jeongmal:sungguh
Jebal: please/kumohon
Chakkaman: tunggu
Kajja:ayo
Ppalli: cepat
Mianhae:maaf
Eomma:ibu
 
                                                             ~The End~
Ini FF yang berani aku kirim untuk pertama kalinya. Jadi, maaf kalau jelek dan masih berantakan, atau idenya nggak jelas. Mohon komentar, kritik dan sarannya ya^^Gomawo. Oh iya, gomawo juga buat yang sudah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca FF-ku^^ *bow*
Advertisements

3 thoughts on “[FREELANCE] Gomawo

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s