[Ficlet] Appa “When I know how it feels?”

Title     : Appa, “When I know how it feels?”

Author : Jisankey

Cast     : Oh Sehun [EXO-K], Xi Luhan [EXO-M], Appa [OC], others.

Genre  : Angst, Family, little bit Fantasy

Rate    : PG-13

Lenght : Ficlet

Note    : Kalo di pikir-pikir lagi sih, ada scene yang mirip sama K-Drama City Hunter, tapi nggak sama-sama juga sih.. =o=// *tapi bukan plagiat loh*  hahaha.. Happy Reading aja yaa 😀

PLAGIATOR GO OUT NOW!

SILENT READER BERTOBATLAH NOW!

***

            Sehun POV

Apa membentak-bentak itu perlu? Apa dengan cara memaki-maki kau bisa mendapatkan semua keinginanmu? Apa dengan cara membentaku kau akan bisa membuatku tunduk? Tidak akan pernah, hal itu hanya membuat aku menyimpan bongkahan dendam di dalam sini.

“Kau itu tidak berguna, kerjaanmu hanya bisa melawan! Kau bukan anak kandungku, lalu apa maumu sekarang?!”

Bukankah tidak terbalik? Bukankah seharusnya aku yang bertanya “apa maumu sekarang?” Bukankah dia yang mengadopsiku? Bukankah dia yang membuat garis takdirku berubah? Apa maumu mengadopsiku? Menjadikan aku sebagai boneka maki-maki mu? Begitu? Lalu, apa sebenarnya kemauanku?

“Dengar, kau itu bukan siapa-siapa di dunia ini. Kau tidak punya posisi dan kekuasaan, maka menurutlah jika kau tidak ingin hidupmu sengsara!”

            Aku memandang ke bawah, ke arah lantai yang sekarang ini dengan sukarela aku injak. Aku mengangkat bibirku membuat gurat senyum terpaksa. Gampang sekali dia bicara seperti itu! Seolah-olah aku adalah sampah, seolah-olah aku memang terlahir untuk menurutinya. Sengasara, silahkan! Aku tidak takut!

“Kau sama sekali tidak tahu malu. Bahkan kau tidak mengucapkan terimakasih padaku? Aku telah membuatmu terlahir kembali di dunia ini!”

Benarkah? Bukankah itu yang dilakukan oleh anak buahmu? Bukan kau! Siapa kau? Kau hanyalah pemimpin yang menguras hasil kerja anak buahmu. Kau bahkan membuatku hidup kembali dengan alat-alat bodoh ini, ini sungguh menyiksaku!

“Kenapa kau diam, hah? Kau memang tidak berguna!”

Ya, sedari tadi aku diam. Batinku melonjak dan balik memaki-makinya. Tapi aku diam. Aku sama sekali tidak bersuara. Kukeluarkan pistol yang telah aku siapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Aku benci kau, Appa.

“Sehun-ah, turunkan itu! Darimana kau mendapatkan benda itu? Kau belum dewasa, lepaskan! Berikan pistol itu pada Appa, itu berbahaya!”

Aku tersenyum, sungguh aku senang melihat gurat cemas di wajahnya. Oh, bukan, gurat takut akan kehilangan nyawanya. Nyawanya yang berharga yang menganggap bahwa nyawa orang lain itu adalah sampah.

DOR !

Aku merasa sangat lemas. Sungguh, aku bahkan tak pernah membayangkan apa yang terjadi saat ini. Apa yang aku lihat kini? Luhan-hyung yang aku tembak, dia yang mengenai tembakanku. Dia melindunginya. Melindungi Appa.

 

Flashback

            Aku memperhatikan Luhan-hyung yang sedang bermain bola, aku heran kenapa dia tidak pernah terlihat kelelahan.

            “Sehunnie!!” dia menendang bola yang sedang dimainkannya ke arahku. Aku tidak berhasil menangkapnya. Akhirnya Luhan-hyung membawa bola oleh dirinya lagi.

            “Astaga, kau bahkan tidak bisa mendapatkannya!” gerutunya pura-pura kesal.

            “Haaah…” aku hanya mendesah, bahkan aku lelah memperhatikan Luhan-hyung bermain. Apalagi ikut bermain dengannya.

            “Kau kenapa?” Luhan-hyung bertanya.

            “Tidak apa-apa,”

            “Kau jangan bohong!”

            “Ehm.. aku hanya heran kenapa kau tidak pernah terlihat capek!”

            “Hahaha.. itu karena alat yang diberikan Appa ini. Di dalam tubuhku sudah terprogram alat yang membuat staminaku tetap stabil dan tentunya tidak akan membuatku merasakan lelah. Tapi, aku pikir bukan itu yang membuatmu¾

            “Baiklah, hyung…” Aku tahu Luhan-hyung masih curiga padaku.

“Aku merindukan orang tuaku. Aku ingin tahu rupa mereka. Aku juga ingin tahu bagaimana cinta mereka. Apa, mereka mencintaiku, hyung?” tanyaku tiba-tiba. Astaga, apa yang aku tanyakan? Bahkan aku tidak mengerti kenapa aku bisa menanyakannya.

            “Tentu saja! Mereka pasti mencintaimu,”

            “Kenapa kau begitu yakin?”

            “Kalau tidak ada mereka, kau tidak akan terlahir di dunia ini.”

            “Apa itu termasuk tanda cinta, hyung? Lalu kenapa mereka tidak tinggal bersamaku? Kenapa sekarang aku tinggal bersama orang yang bahkan bukan Appa-ku tapi harus aku panggil Appa. Kenapa hyung?”

            “Kau tahu mereka sudah tidak ada di dunia ini, mereka juga ingin tinggal bersamamu Hun. Tapi mereka sudah seharusnya tinggal di atas sana, bukan di sini. Sama seperti orang tuaku.” Luhan-hyung menunjuk ke atas langit. Aku pun ikut memandang langit yang gelap, tidak seperti di buku dongeng. Aku belum pernah melihat langit yang cerah.

            “Orang itu, pasti akan memberikan kita cinta seperti seorang Appa. Untuk itu kita sudah seharusnya memanggil dia Appa.” Lanjut Luhan-hyung sambil memandang seseorang.

            Aku tersenyum melihat seorang lelaki yang datang ke arah kami. Lelaki yang aku dan Luhan-hyung harap bisa menjadi pengganti Appa kami yang sudah tiada. Orang yang sampai saat ini kami panggil, Appa.

Flashback off

 

Aku masih menatap tak percaya, menatap kepergian Luhan-hyung yang terjadi karena perbuatanku. Menatap darah yang terus mengucur dari tubuh orang yang tidak pernah lelah itu! Aku merasa menyesal dan tidak menyesal.

Lalu pandanganku kini tertuju pada orang yang tengah menatapku dengan cemas, menatap kepergian Luhan-hyung dengan tatapan ‘tidak-tahu-harus-berbuat-apa’. Aku kesal melihat tatapan orang itu. Luhan-hyung telah menyelamatkannya, tapi kenapa tatapannya hanya seperti itu? Apa Luhan-hyung benar-benar tidak berharga baginya?

Tess..

            Aku rasa aku melihatnya, sorot mata bersalahnya. Kini aku berjalan menghampirinya, membuat jarakku dan dia tidak begitu jauh. Walaupun anak-anaknya, terus menembakiku seperti akulah terdakwa pada malam ini¾Hm, mungkin memang benar aku adalah terdakwanya. Anak-anak itu, anak-anak yang sama sepertiku. Anak-anak yang mengabdi dan memanggil orang di depanku ini dengan sebutan Appa.

“Kau tahu Appa, aku ingin merasakan cinta darimu. Cinta seorang Appa yang sebenarnya. Cinta yang aku harap bisa menggantikan cinta yang telah lama orang tuaku tinggalkan. Aku tak butuh alat-alat yang hanya membuat kau terlihat sebagai pengendali bagiku. Appa, aku sungguh ingin merasakan menjadi seorang anak yang disayangi oleh orang tuanya. Itu saja.”

Aku sudah tidak kuat lagi, tubuhku sudah mengeluarkan banyak darah. Aku hanya mengatakan semua yang aku harapkan, dan mungkin juga harapan Luhan-hyung dan anak-anak yang lain. Dan akhirnya…

 

aku bisa melihat air mata Appa.

 

END

Wakakakak, ancur banget kaaaan XD makannya, udah baca jangan langsung pergi gitu aja #tarikbaju#

Kasih kritik dan sarannya juga doong, kesannya juga booleh//yok, diborong-diborong// ini FF Ficlet pertama aku loh.. makasih banget buat Hun ama Han yang  mau jadi tumbal (nah loh) jujur aja aku gabisa buat yang pendeknya pendek banget(?) jadi kayaknya bener-bener gantung gitu yaah.. huwaaah o.o

Tapi gapapa.. buat semuanya, KATAKAN TIDAK UNTUK SIDERS dan KATAKAN IYA UNTUK RCL *?

tambahan : Ini FF debutku di blog SMTOWN HOUSE FF loh //krik-krik//

Annyeong!!

 

Advertisements

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s