[Drable] Merindu

 

Merindu

Author : Quin

Casts :

– Sulli Choi

– Henry Lau

Genre : Romance

Rating : [G]eneral

Type : Drable

Play : S.M The Ballad – Missing You

Aloha Semers semuanya *peluk satu2(?)*. Huwaa!! Maaf bgt ya semuanya, betty gak ngasih kabar apapun dan tiba2 ngilang bagai ditelan bumi(?). Betty sebel (?) harus ngerjain tugas dan ikut ulangan semester selama 9 hari T^T

Dan ini FF yang Betty buat di sela kesibukanku. Pendek sih, kan drable #plak. Oke dari pada baca ocehan Betty yang gaje ini, mending baca FF Betty yang juga tak kalah gaje (?) #eh?

****

Seorang gadis terlihat sedang gelisah di atas tempat tidurnya. Ia tampak duduk sambil menekuk kakinya dengan posisi lutut yang menantang langit. Dagu lancipnya juga dengan eloknya tertopang di atas lututnya. Gadis itu juga menggembungkan pipinya yang chubby dan mengerucutkan bibirnya sehingga membuat wajahnya yang semula cantik kini menjadi tak enak dipandang.

Kedua tangannya yang sedang melingkar di kedua kakinya juga terlihat sibuk memutar-mutar sebuahhandphone berwarna hitam. Terkadang ia juga menekan sederet nomor, tapi kemudian dihapusnya lagi dan ia kembali memutar handphone-nya. Kegiatan itu dilakukannya terus menerus hingga ia tak sadar bahwa ia sudah memasuki jam tidur.

Malam semakin larut dan langit telah berubah menjadi gelap. Di kamar itu pun hanya terdengar detak jarum jam dan  decakan halus yang sesekali keluar dari mulut gadis itu.

Ya, gadis itu sedang dirundung gelisah dan bimbang untuk menelepon kekasihnya yang sedang menuntut ilmu di negara asalnya, Kanada. Tapi di samping itu, rasa rindunya yang semakin menggebu sudah menyerang seluruh syaraf otak gadis iitu. Rasa itu seolah-olah sudah tak tertahankan lagi dan meluap melalui desahan-desahan halusnya.

Tak tahan lagi dengan rasa rindu yang terus menyakitinya, ia pun segera mengetik nomor kekasihnya –yang sudah dihapalnya di luar kepala-. Wajar kalau gadis itu tak sabar mendengar suara kekasihnya, Korea dan Kanada bukanlah jarak yang dekat. Jangankan bertemu, berhubungan lewat telepon pun jarang mereka lakukan. Karena nenek borokan juga tahu kalau telepon internasional itu sangat mahal.

Gadis itu masih menempelkan ponselnya di telinga kanannya sambil menunggu sang kekasih menjawab panggilannya. Tapi operator terus mengatakan bahwa orang yang ditelepon gadis itu sedang berada di luar jangkuan. Gadis itu pun kemudian menekan tombol dial dan kembali menunggu jawaban dari kekasihnya. Tapi seberapapun lamanya ia menunggu, hasilnya tetap sama, tak ada jawaban.

Oppa, dimana dirimu sekarang?” tanya gadis itu entah pada siapa. Ia sudah benar-benar frustasi karena tak dapat menahan kerinduannya pada namja yang sangat dicintainya itu. Setidaknya ia ingin mendengar kekasihnya berkata, Sulli-ah, aku merindukanmu.

Ya, gadis itu Choi Sulli, gadis yang selalu sabar menunggu kekasihnya menyelesaikan studinya di Kanada. Gadis tabah yang rela menjalin hubungan jarak jauh walau ia tahu resikonya akan sangat besar. Tapi Sulli tetap percaya bahwa hati milik kekasihnya masih tetap untuknya.

“Henry Oppa, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu,” bisik Sulli pada dirinya sendiri. Sulli terus memanggil kekasihnya –yang seterusnya akan disebut Henry- sampai ia menitikkan air mata yang kemudian mengalir membasahi pipinya. Rasa rindunya pada Henry benar-benar sudah menyiksa batinnya.

What do you know? I really miss you, baby. But when I want to hear your voice, where are you now?

Ddrtt.. drrtt… drtt..

Dapat dirasakannya ponsel yang berada dalam genggamannya bergetar cukup lama pertanda ada sebuah panggilan masuk ke nomornya. Dilihatnya layar ponselnya dan tampak sederet nomor yang sangat asing baginya.

Ia mengerutkan keningnya karena merasa heran ada orang yang meneleponnya selarut ini. Sulli pun menghapus air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya lalu menjawab panggilan dari nomor misterius itu. “Yeoboseyo?” sapa Sulli dengan suara parau.

Hey, do you remeber me?” tanya suara di seberang telepon itu. Suara yang sangat familiar di telinga Sulli. Bukan, bukan familiar lagi, tapi ia sangat mengenal suara itu. Suara yang sudah lama ingin didengarnya hingga ia menangis dan merasakan sesak di dadanya.

Oppa, is this really you?”

Do you still remember my voice, chagi?”

Oppa, kau kemana saja? Tadi aku menghubungi nomormu tapi kenapa nomormu tidak aktif?” tanya Sulli sambil terisak.

“Aku mengganti nomorku. Nomor yang lama sudah tak bisa dipakai di sini lagi,” jawab Henry.

Merasa tak puas dengan jawaban namjachingu-nya, Sulli bertanya lagi, “Wae, Oppa? Kenapa aku tak diberitahu? Tak tahukah kau bahwa aku sangat merindukanmu?”

Henry tertawa mendengar uneg-uneg Sulli, “I miss you too, dear,” balas Henry di sela tawanya yang tak kunjung reda.

Sulli menekuk lehernya dan mengerucutkan dirinya ketika tahu dia justru ditertawakan oleh kekasihnya sendiri. “Oppa, kau jahat. Kapan kau kembali, huh?”

“Lihatlah keluar jendelamu, chagi.”

Sulli mengerutkan keningnya merasa heran dengan perintah Henry. Tapi kemudian ia berjalan menuju jendela kamarnya dan membuka gorden yang menutupi kaca jendelanya. Dapat dilihatnya langit malam berhiaskan seribu bintang serta bulan yang terus bersinar temaram.

“Sulli, lihatlah ke bawah,” perintah Henry lagi.

Gadis itu pun menatap ke bawah seperti yang diperintahkah oleh Henry. Mata Sulli kemudian mencari sesuatu yang menjadi alasan Henry menyuruhnya menatap ke bawah.

Tiba-tiba mata gadis itu mendapati seorang namja tengah berdiri di halaman rumahnya sambil menatap ke arah kamar Sulli. Tangan kanan namja itu tengah memegang sebuah ponsel yang diletakkan di sebelah telinganya. Tangan kiri pria itu juga tampak melambai ke arah Sulli dan seulas senyum secerah mentari terukir indah di wajah pria itu.

Melihat pemandangan itu, Sulli pun ikut menarik bibirnya sehingga membuat kedua mata gadis itu membentuk bulan sabit. “OPPAA!! IS THAT REALLY YOU??” tanya Sulli excited.

Sulli tak dapat menyembunyikan kegembiraannya lagi. Ia pun segera turun dan menemui Henry –orang yang sangat dirindukannya-. Tubuhnya terasa ringan dan kakinya terasa seperti marshmallow. Hatinya juga terasa penuh dengan bunga dan kupu-kupu seperti akan keluar dari perutnya saking bahagianya dengan kedatangan Henry.

OPPAAAA!!” teriak Sulli histeris ketika melihat orang yang disayanginya kini sudah berdiri di depan matanya. Ia pun segera menghambur ke pelukan Henry dan segera disambut oleh dekapan hangat dari Henry.

“Hikss..” terdengar isak tangis Sulli dalam pelukan Henry. Ia sendiri pun tak tahu kenapa dia justru menangis. Entah mengapa semua perasaan bahagia, kesal, khawatir, dan juga rindu telah bercampur aduk dan keluar melalui curahan air matanya.

“Cup.. cup.. cup.. Dont cry, baby. I’ll never let you alone again,” kata Henry berusaha meredakan tangisan Sulli. Henry kemudian mempererat dekapannya dan mengusap kepala Sulli dengan lembut. Tak dapat dipungkiri lagi, Henry juga sebenarnya sangat merindukan yeoja yang sekarang sedang menangis dalam pelukannya itu.

Bintang-bintang dan bulan yang memperhatikan mereka dari atas juga tampak tersenyum bahagia melihat pasangan yang kembali bersatu itu. Semilir angin dan suara gesekan daun semakin menambah romantisme di antara mereka berdua. Suara jangkrik yang biasanya terdengar di setiap malam juga tiba-tiba berhenti bersuara seolah-olah tak ingin mengganggu sepasang kekasih itu.

 “Oppa, I miss you.”

“I miss you too.”

“I love  you.”

“I love you too…”

The shortest word I know is “I”. The sweetest word I know is “LOVE”. And the person I never forget is “YOU”.

***THE END***

Advertisements

2 thoughts on “[Drable] Merindu

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s