WELCOME TO MY HALF HOUSE!!! [CHAPTER 2]

Author : Nanairu (Jin Hyun)

Title: Welcome To My Half House!!!

Main Cast : Kim Sera (OC), Byun Baek Hyun (EXO-K), Oh Sehun (EXO-K)

Length: Chaptered (On-Going)

Genre : Romance, Comedy (maybe, tergantung selera org lucu ato gak)

Rating/Pairing: Teenager

Disclaimer: All the casts are from God except the OC is my imagination and the storyline too.

PROLOG | Part 1

 

Suasana di ruang makan itu tidak terlalu ramai. Mrs.Byun dan Mr.Kim saling berbicara dan membuka berbagai macam topik. Berbeda dengan Baek hyun dan Sera yang saat ini sedang duduk berhadapan. Mereka menyantap makanan mereka tanpa saling berbicara satu sama lain. Sesekali Sera melirik Baek hyun yang sedang menyantap makan malamnya tanpa menoleh sedikitpun. Sera sangat yakin namja dihadapannya inilah yang dilihatnya di kelas tadi. Dirinya masih tidak percaya dia bertetangga dengan teman sekelasnya. Tapi Sera tidak ingat nama namja ini. Dia memang tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya.

“Baek yeol…baek chol…baek woo…,” gumam Sera sambil menggembungkan pipinya. Dia berusaha keras mengingat nama namja dihadapannya ini.

“Siapa namamu, nak?” tanya Mrs.Byun berusaha membuka topik.

“De?” Sera tersadar dari dunianya sendiri.

“Namamu, nak,” tanya Mrs.Byun sekali lagi sambil tersenyum.

“Kim Sera imnida,” jawab Sera sambil menunduk sedikit.

“Neomu yeopposeo .”

“Dia mirip dengan mendiang ommanya,” kata Mr.Kim.

“Baek hyunnie juga mirip dengan appanya,” kata Mrs.Byun sembari menepuk kecil pundak anaknya.

Baek hyun? Itukah namanya? pikir Sera dalam hatinya. Seingatnya memang ada seseorang yang bernama Baek hyun di kelasnya. Dan kalau tidak salah marganya adalah Byun. Namun hal itu jauh dari ingatan Sera. Dia memang tidak terlalu memperhatikan sekelilingnya.

“Berapa umurmu?” tanya Mrs.Byun.

“De? 17, ahjumma,” jawab Sera.

“17? Sama dengan Baek hyun. Sekolahmu?”

“Chung Dam High School.”

“Jeongmalyo? Baek hyun juga sekolah di sana. Apakah kalian saling kenal?” tanya Mrs.Byun antusias.

“De, tapi kami gak begitu dekat,” jawab Sera sambil tersenyum simpul. Bahkan mungkin Baek hyun tidak mengenal dirinya, pikir Sera. Mereka memang tidak pernah berbicara sama sekali di sekolah. Bahkan saling menyapa pun tidak. Rasanya sangat aneh makan malam bersama dengan orang yang tidak pernah kau ajak bicara.

Sera melirik Baek hyun yang masih menyantap makanannya. Baek hyun mendongak dan menatap Sera. Dengan buru-buru Sera mengalihkan pandangannya dan kembali menyantap makanannya.

“Kalian harus berteman, baek hyun-ah,” kata Mrs.Byun sambil menepuk pundak anaknya.

Sera yang sedang makan itu tersedak mendengar perkataan Mrs.Byun.

“Omo! Gwenchana?” seru Mrs.Byun terkejut.

“Uhuk! Huk! Gwen…Gwencha…nayo,” jawab Sera sambil terbatuk-batuk dan segera meneguk jus di sebelahnya. Mr.Kim yang berada disamping Sera menepuk pundak anaknya itu, mencoba untuk meredakan sedakan anaknya.

Berteman? Tidak pernah terpikirkan oleh Sera untuk memulai hubungan pertemanan dengan Baek hyun. Melihatnya di kelas saja baru tadi pagi.

“Jeongmalyo?” tanya Mrs.Byun khawatir.

“Jeongmal Gwenchanayo, ahjumma,” jawab Sera sambil tersenyum.

Setelah insiden terdesak itu, Mr.Kim dan Mrs.Byun kembali menyantap makan malam mereka. Sera dengan canggung menyantap makanannya dan melirik Baek hyun. Kali ini dia terkejut karena Baek hyun menatapnya. Dia bahkan tidak sadar bahwa selama dirinya tersedak tadi Baek hyun hanya menatapnya tanpa berbuat apa pun. Sera menundukkan kepalanya perlahan-lahan. Dia sangat malu dengan insiden tadi. Selain itu, kenapa namja ini terus menatapnya? Bahkan dengan tatapan yang tidak bisa dibilang tajam ataupun lembut.

Baek hyun yang sembari tadi menatap Sera kembali menyantap makanannya tanpa berkata apa pun. Begitulah suasana makan malam itu. Hanya terdengar suara dentang peralatan makan yang menggema di ruangan itu. Sesekali Mrs.Byun dan Mr.Kim berbicara untuk mencairkan suasana. Berbeda dengan Sera dan Baek hyun yang tidak berbicara sama sekali.

~~~

“Gamsahamnida untuk makan malamnya,” kata Mr.Kim sambil membungkuk sedikit.

Sera juga membungkuk dan tersenyum. “Gamsahamnida, ahjumma.”

“Sering-sering datang ke sini ya,” kata Mrs.Byun sambil tersenyum.

“De, ahjumma,” jawab Sera sambil membungkuk.

“Kami pulang dulu. Selamat malam,” kata Mr.Kim sambil membungkuk sedikit diikuti oleh Sera.

“De, josimhaseyo. Selamat malam,” balas Mrs.Byun sambil melambaikan tangan.

Sera dan appanya berjalan menuju rumah mereka. Mrs.Byun menutup pintu rumahnya ketika mereka sudah tidak terlihat lagi. Dia berbalik dan melihat anaknya sedang membawa peralatan makan ke wastafel. Mrs.Byun menghela napas. Dia tahu anaknya tidak berbicara sama sekali selama acara makan malam itu. Sifat coolnya benar-benar tak terkendali.

“Kau seharusnya ngobrol juga. Sera seumuran denganmu,” katanya.

Baek hyun hanya diam dan membawa peralatan makan lainnya ke wastafel. Dia memang tidak suka dengan acara-acara seperti itu. Dan dia tidak suka bicara basa basi apalagi dengan orang yang baru dikenalnya.

“Anaknya cantik. Dangsin yeoppo da. Kau seharusnya berteman dengannya. Kau tidak pernah membawa teman ke rumah. Bahkan untuk sekedar kerja kelompok pun tidak,” kata Mrs.Byun sambil berjalan mendekati meja makan.

Baek hyun meletakkan piring-piring di atas watafel dan menatap ommanya.

“Omma, aku hanya tidak suka seperti itu,” katanya dingin. Kemudian dia berjalan naik menuju kamarnya.

Mrs.Byun menghela napasnya. Lagi-lagi sikap anaknya harus membuatnya menggelengkan kepala. Benar-benar terlalu dingin, pikirnya.

~~~

Baek hyun menutup pintu kamarnya. Dia berjalan menuju meja belajarnya dan mengambil sebuah kamera DXLR. Diusap-usapnya lensa kamera itu dengan sapu tangannya dan dia mencoba memutar zoom kameranya. Memeriksa apakah kamera itu berfungsi dengan baik atau tidak. Satu-satunya benda yang paling disayanginya adalah kamera itu. Dia bahkan bisa berjam-jam membersihkan kamera itu. Baginya kamera itu adalah sesuatu yang penting dan memotret adalah satu-satunya hal yang paling dia sukai. Setidaknya hanya dengan membersihkan kamera itu bisa menghilangkan kepenatannya.

Baek hyun tersenyum simpul sambil terus membersihkan dan mengecek keadaan kameranya itu. Tidak terasa hari sudah larut malam. Dia meletakkan kamera itu perlahan di atas meja belajarnya dan berjalan menuju tempat tidur. Direbahkannya tubuhnya yang sudah lelah itu dan dia memejamkan matanya.

~~~

Bel berbunyi menandakan jam istirahat telah dimulai. Semua murid berhamburan keluar dari kelasnya menuju ke kantin. Beberapa ada yang tinggal untuk menyantap bekal atau sekedar berbicara dengan teman-temannnya saja. Sera berjalan menuju kantin. Seperti biasa semua siswa dan siswi menatapnya. Well, hal itu sudah biasa baginya. Beberapa saat kemudian, dia memasuki sebuah ruangan yang luas dengan banyak meja dan kursi makan. Diujung ruangan itu terdapat sederet counter makanan. Beberapa murid ada yang berebutan di salah satu counter dan ada yang mengantri di counter lainnya.

Sera mengantri makanan di salah satu counter. Seorang ahjumma meletakkan semangkuk sup di atas nampannya.

“Gamsahamnida, ahjumma,” kata Sera sambil tersenyum dan berbalik.

Diedarkannya pandangan matanya ke seluruh ruangan itu. Mencari-cari apakah ada kursi yang kosong. Tiba-tiba tatapan matanya tertuju pada seorang namja yang sedang menyantap makanannya di pojok ruangan itu. Namja itu tampak santai menyantap makanannya sekalipun banyak sekali yeoja yang melihatnya. Beberapa bahkan ada yang tertewa cekikikan dengan temannya.

Sekedar untuk berbicara sepertinya tidak masalah, pikir Sera. Dia kemudian memantapkan langkahnya menuju meja makan yang hanya diduduki oleh namja itu.

“Byun…baek…hyun?” sapanya.

Baek hyun yang merasa namanya dipanggil itu menghentikan aktivitasnya. Dia menengadah, mencari sumber suara yang memanggilnya itu.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Sera.

Baek hyun hanya diam dan menundukkan kepalanya. Dia kembali menyantap makan siangnya.

Sera yang tidak mendapat respon dari Baek hyun itu meletakkan nampannya dan duduk di hadapan Baek hyun. Diam berarti dia tidak mempermasalahkannya kan? pikir Sera dalam hati.

“Kantin ini ramai sekali. Susah cari tempat duduk,” kata Sera mencoba untuk membuka topik pembicaraan.

Baek hyun tidak menjawab dan tetap menyantap makanannya. Hening sesaat diantara mereka berdua. Kemudian Sera kembali mencoba membuka pembicaraan lain

“Untuk yang semalam sekali lagi terima kasih,” katanya sambil tersenyum. “Ommamu memintaku untuk sering-sering datang ke rumahmu. Mungkin kita bisa makan malam bersama lagi di rumahku. Aku akan bertanya pada appaku. Dia pasti setuju.”

Baek hyun meletakkan sendoknya dengan keras sehingga membuat Sera terkesiap. Dia berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan makanannya yang belum habis.

Sera bingung dengan sikap Baek hyun. Apakah ada sesuatu yang salah? Atau dia mengatakan sesuatu yang membuatnya marah? Seingatnya dia tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah dihadapan Baek hyun. Sera menggeleng kecil dan kembali menyantap makan siangnya.

~~~

Sera berlari-lari kecil menuju perpustakaan. Tinggal 10 menit lagi perpustakaan tutup dan dia harus meminjam buku itu hari ini. 2 hari lagi tugas matematikanya harus dikumpul dan dia tidak yakin bisa menyelesaikannya dalam waktu 1 hari jika dia meminjam bukunya besok.

“Ini gara-gara Lee sonsaengnim! Napa juga dia harus kasi jam tambahan hari ini?!” rutuk Sera.

Akhirnya sampai juga dia di perpustakaan, pikirnya dalam hati. Sera membungkuk, berusaha mengambil kembali napasnya. Dilihatnya suasana perpustakaan itu sudah sepi. Tampak seorang pustakawan sedang menyusun buku-buku yang dikembalikan oleh para murid ke rak-rak. Sera berjalan menyusuri sisi-sisi rak buku itu sambil mencari buku yang diinginkannya.

“Biologi…sejarah…matematika…,” gumamnya.

Jarinya menyusuri setiap buku yang terlihat di depan matanya. “Aljabar…peluang…logaritma!” serunya kecil ketika menemukan buku yang dicarinya.

Sera menarik buku yang berisi rumus-rumus logaritma itu dari raknya. Dari ekor matanya, dia merasa ada sesuatu di ujung rak itu. Dia menoleh dan melihat seorang namja sedang duduk bersandar pada dinding dan rak buku. Matanya terpejam. Sesaat Sera terpesona melihat namja itu. Kulitnya putih seperti porselin dan sangat kontras dengan rambut pirangnya yang pendek. Namja itu terlihat seperti patung yang terukir rapi apalagi cahaya matahari sore menimpa kulitnya sehingga namja itu tampak semakin tampan.

Sera berjalan dengan pelan mendekati namja itu.

“Chogi…,” panggilnya namun namja itu tetap tidak bergeming.

Sera berlutut dan mengguncang kecil tubuh namja itu.

“Chogi…,” panggilnya lagi. Namun namja itu tetap tidak bergeming.

Apakah dia mati? tanya Sera dalam hati. Kali ini ketakutan mulai merasuki dirinya jika orang yang ada dihadapannya ini adalah mayat. Perlahan Sera meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung namja itu, mengecek apakah namja itu bernapas atau tidak. Betapa leganya dia ketika dia merasakan ada napas yang berhembus mengenai jarinya. Sera menurunkan tangannya dan mengguncang tubuh namja itu, kali ini lebih keras.

Namja itu terbangun dan mengerjapkan matanya berkali-kali, menyesuaikan dengan cahaya yang menerangi matanya. Alisnya berkerut ketika melihat seorang yeoja yang berlutut dihadapannya. Ekspresinya menunjukkan kebingungan, bertanya-tanya apa yang terjadi selama dia tidur.

“Cho-chogi…perpustakaan sudah mau tutup,” kata Sera.

Namja itu menaikkan alisnya dan meregangkan tubuhnya. Terdengar suara-suara tulang yang menunjukkan bahwa namja itu sudah lama tidur di sana. Dia melihat handphonenya dan terkejut.

“Sudah jam segini?!” serunya kecil.

Sera berdiri, begitu juga dengan namja itu. Dia menatap namja itu. Namja itu adalah namja pertama yang sempat membuat dirinya terpesona. Sera merasa seolah dia sedang melihat sebuah patung berseni yang hidup.

“Gomawoyo,” kata namja itu sambil tersenyum yang membuat namja itu semakin tampan dan dia berjalan meninggalkan Sera.

“Memangnya ada murid seperti itu di sekolah ini?” tanya Sera pada dirinya sendiri.

~~~

 

Baek hyun berjalan memasuki pagar rumahnya. Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya. Lee sonsaengnim memberikan jam tambahan yang membuatnya harus pulang semalam ini. Belum lagi yeoja yang diundang ommanya makan semalam mengajaknya bicara. Cerewet sekali yeoja itu, pikirnya. Hanya karena semalam dia diundang makan malam, sekarang dia merasa sudah mengenal dirinya? Tidak mungkin. Byun baek hyun tidak menyukai orang yang banyak bicara seperti itu. Cukup ommanya saja yang cerewet. Dia tidak mau ambil pusing menambah 1 orang lagi.

“Aku pulang,” kata Baek hyun ketika dia sudah memasuki rumahnya.

“Sudah pulang?” terdengar suara Mrs.Byun dari dapur. “Omma panaskan sayurnya ya.”

“Tidak perlu, omma. Aku capek,” kata Baek hyun sambil berjalan menaiki tangga.

“Jeongmal? Kalau begitu istirahatlah,” kata Mrs.Byun sambil mencuci piring.

Baek hyun memasuki kamarnya. Diletakkannya tas ransel miliknya di atas kursi. Dia melepaskan blazer biru tua yang dikenakannya sembari berjalan menuju kamar mandi.

~~~

“Aku pulang!” seru Sera ketika dia membuka pintu rumahnya.

Suasana hening di dalam rumah itu. Tidak ada salam atau sapaan balasan yang didengar Sera.

“Appa?” panggilnya sembari menutup pintu rumahnya.

Hening. Tidak ada suara sama sekali.

“Appa masih kerja ya,” gumamnya.

Sera berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya itu. Direbahkannya tubuhnya ke atas tempat tidur begitu dia sudah berada di tempat tidur.

“Ah…enaknya…,” katanya sambil memeluk guling.

Sera menatap langit-langit rumahnya. Siapa ya namja di perpustakaan tadi? tanyanya dalam hati. Dia kembali mengingat-ingat kejadian ketika dia melihat namja itu. Betapa terpesonanya dirinya melihat namja itu yang tertidur seperti patung. Bukan patung biasa, tapi melainkan seperti patung berseni kelas tinggi.

Seru bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya. Dipeluknya lututnya itu dengan kedua tangannya. Tiba-tiba dia teringat dengan kejadian di kantin tadi. Sekarang dia merasa kesal dengan sikap namja yang bernama Byun baek hyun itu. Dia merasa tidak melakukan sesuatu yang salah, kenapa baek hyun harus marah? pikirnya.

“Arrgh! Gak usah dipikirkan, Sera!” serunya kepada dirinya sendiri sembari bersandar pada dinding di belakangnya.

Baru sesaat seluruh punggungnya bersandar di dinding itu, Sera merasa dirinya terdorong ke belakang. Perasaannya saja atau dinding yang menempel pada punggungnya memang benar-benar bergerak? Dia menatap langit-langit kamarnya yang menurutnya langit-langit itu bergerak dengan sendirinya. Sedetik kemudian dia sadar, dirinya akan jatuh ke belakang. Secara reflek Sera menyampingkan tubuhnya dan menutup mata. Berharap dengan begitu rasa sakitnya berkurang.

BRUAAKKK!!!

Terdengar suara keras seperti ada benda berat yang terjatuh. Sera membuka matanya perlahan ketika dirinya sudah terjatuh. Lengannya terasa sakit.

“Argh…,” erangnya.

Dia menelungkupkan badannya dan hendak mengangkat tubuhnya pelan-pelan.  Tiba-tiba tampak di depannya kaki seseorang yang memang sejak tadi sudah ada dihadapannya. Kaki? Tapi kok cuma satu? pikirnya. Dia menengadah. Tatapan matanya mengikuti darimana asal kaki itu. Dilihatnya pemilik kaki itu bertelanjang dada dan hanya memakai handuk di pinggang sama seperti namja pada umumnya. Air menetes dari rambut dan ujung kakinya. Tampaknya namja itu baru saja selesai mandi. Namja itu membelalakkan matanya, terkejut melihat Sera.

Sera tahu siapa namja itu. Namja yang diajaknya bicara di kantin tadi siang dan yang membuatnya kesal beberapa saat lalu. Byun baek hyun kini berada dihadapannya dengan pose hendak memakai segitiga bermudanya.

“AAAHHHHH!” teriak Sera.

 

 

……TBC……

ok! akhir na yg chap 2 aku post jg. ini adalah postingan terakhir sblm aku hiatus utk bbrp saat. tp gk smp lm bgt dan tentu saja ff ini akan tetap dilanjutkan dan di posting dikarenakan ada kesibukan dan hal lain. gomawo bagi yg sdh membaca hingga smp sini dan bahkan ada yg berkunjung ke blog pribadi. sx lg gomawo! *bow

untuk selanjut na ntar da posting ff oneshot ttg baekhyun jg. jd bgi penggemar baekhyun, siap2 aj y. tp ini berdasarkan mimpi yg aku alami. ntah np bs mmpi itu aku sendiri jg gk tau. tp ff itu dh jd, hanya saja poster na yg blm jd. maka na lg nunggu poster hingga bs di publish.

jgn lupa utk RCL y. gamsahamnida!

Your comments are my oxygen

Best regards,

Advertisements

4 thoughts on “WELCOME TO MY HALF HOUSE!!! [CHAPTER 2]

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s