[Ficlet] Arco Iris

Author             : Nissa Tria

Poster by         : Apreel Kwon @ LuminoSKY

Cast                 : Super Junior Kyuhyun as Cho Kyuhyun

Raverainy Cho Miyoung (OC)

Naverainy Cho Youngmi (OC)

Genre              : AU, romance, family ^^

Length             : Ficlet (2012 words)

Rate                 : G (General)

Disclaimer       : Apologize me about the OOC (Out Of Character), typo(s), and mistake(s). I not owned the canon, they’re God’s, their family’s, and their fans’, but plot dan OC is mine. Thanks for not copy-paste my plot (plagiarism), and don’t bash me.

~.~

Arco Iris

A Ficlet by. Nissa Tria © 2012, All Rights Reserved.

~.~

Lekukan tubuhnya menempel sempurna pada sandaran kursi taman. Guratan wajahnya memperlihatkan sebuah ketenangan yang tidak terbatas. Angin sore berhembus menyapu setiap inchi kulit wajahnya, membuatnya tersenyum semakin lebar dan tampak sangat menikmati sentuhan angin itu. Matahari senja masih bersinar lembut menyinari kulit putihnya yang jadi terlihat kian bersinar.

Tangannya meraba tempat kosong di sampingnya, dan tak seberapa lama, dia menemukannya, alat-alat menyulam.

Sebuah senyuman bahagia terlukis manis di wajahnya. Gadis itu segera mengambil seutas benang jahit biasa dan sebuah jarum. Dirabanya ujung benang jahit tersebut, sedikit dikulum—agar memudahkan proses selanjutnya—lalu secara perlahan memasukkannya pada lubang jarum. Berhasil, bisiknya dalam hati kegirangan seraya memperlebar senyuman di wajahnya. Dia lalu meraih seutas pita berukuran 2 inchi, mengelus permukaan pita tersebut, mendekatkan pita itu ke arah indera penciumannya. Sebuah senyuman mengembang di wajahnya, merah muda, bisik hatinya lembut.

Gadis itu menghembuskan napasnya perlahan sebelum mulai membuat sulaman yang telah terancang di otaknya, dan memanjatkan doa-doa pada Tuhan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkannya, dia tidak ingin salah satu jarinya tertusuk jarum lagi seperti kemarin, satu plester luka di jarinya sudah cukup menghambat hobi menyulannya, apalagi jika bertambah satu lagi? Membayangkannya saja sudah membuatnya meringis.

Tanpa banyak berpikir lagi, gadis itu segera menjelujur salah satu sisi pita tersebut dengan benang jahit tadi. Tak lama kemudian, jari-jari lentiknya bergerak menarik benang yang telah dijelujur, sehingga pita itu menjadi mengerut.

Gadis itu mengulum senyum saat meraba pita yang mengerut tadi. Tidak buruk, gumamnya dalam hati. Tangannya, lalu kembali mengambil jarum dengan benang yang menjuntai, dan segera menjahit kedua ujung pita itu agar menjadi satu. Kini tampaklah sebuah bunga hasil sulamannya.

Bunga itu ditaruhnya ke atas pangkuan, lalu diraihnya selembar kain dan sebuah pembidang. Dijepitnya kain itu pada pembidang agar memudahkan proses menyulamnya. Perlahan jari-jarinya menelusuri lembut permukaan kain itu. Dan dia mencium aroma kain itu. Cinnamon, tanpa sadar senyumannya kian merekah ketika hatinya berbisik seperti itu.

Wangi kayu manis (cinnamon) adalah wangi favoritnya, dan dia tidak bisa menyangkal jika seseoranglah yang telah membuatnya tergila-gila pada wangi kayu manis. Wangi itu sangatlah khas, dan tentu saja mengingatkannya pada seseorang yang telah mengisi seluruh ruang di hatinya.

Dan dia yakin, orang itulah yang telah membuat kain ini memiliki wangi kayu manis.

Dia tertawa kecil membayangkannya, lalu tiba-tiba muncullah sebuah ide yang akan membuat orang itu terkejut, bangga, tapi sekaligus khawatir padanya.

Tanpa ba-bi-bu lagi—karena takut orang itu akan segera pulang—jari-jarinya telah bergerak lincah menjahit bunga yang tadi dibuatnya pada kain, membuat bunga yang serupa dengan warna yang sama lalu kembali menjahitkannya pada kain secara beraturan, dan menambahkan french knot1 berwarna kuning di setiap bunga.

Setelah dikiranya indah dan jumlah bunganya cukup, dia menambahkan rajutan tangkai dan juga daun sebagai hiasan. Tak berapa lama kemudian, semuanya telah siap, tinggal sebuah sulaman spesial untuk orang itu.

Kembali dirabanya tempat kosong di sampingnya, dan tersenyum menemukan seutas benang wol. Setelah mencium harum dari benang tersebut dan memastikan jika itu benar berwarna hijau, gadis itu mulai merajut menggunakan teknik stem stitch2sebagai tangkainya, dan membuat daun dengan pita berwarna hijau, sebagai pemanis pada beberapa bunga, sementara bunga lain dibiarkan begitu saja.

Jari-jari lentiknya kembali menelusuri permukaan kain yang kini tidak rata karena dihiasi bunga-bunga sulamannya. Keningnya agak mengerut karena tidak menemukan ruang kosong yang cukup untuk merajutkan nama spesial itu.

Gadis itu mendesah, apa mungkin terlalu banyak bunga yang aku bubuhkan di sini? hatinya bertanya putus asa, namun tiba-tiba, dia merasakan jari-jarinya menyentuh lahan kosong itu. Dan sesegera mungkin senyumannya mengembang sempurna di bibirnya.

Jari-jarinya kembali mengambil seutas benang wol, dan seperti biasa, dia mencium aroma benang itu untuk memastikan jika itu berwarna merah. Menggunakan sebuah teknik yang telah dikuasainya, dia kembali menyulam sebuah nama yang sangat membekas dan selalu diingatnya sampai kapan pun.

Tangannya terus bergerak lincah menyulam sebuah ukiran nama. Sesekali jari-jarinya bergerak mendekatkan benang baru untuk memastikan jika itulah warna yang diinginkannya. Namun ketika dia akan menusukkan jarum pada kain untuk membuat satu huruf terakhir, kelopak matanya merasakan adanya dua telapak tangan besar yang menutupi matanya, sehingga secara tidak langsung membuatnya salah menggerakkan jarum hingga jarum itu tak sengaja menusuk  jari telunjuknya.

Awww …!” bibir gadis itu meringis spontan, membuat sang pemilik tangan terkejut dan segera melongokkan kepalanya agar dapat melihat apa yang membuat sebuah ringisan lolos dari mulut gadis itu.

Mata pria itu terbelalak melihat ada darah segar yang keluar dari sebuah lubang kecil di jari telunjuk gadis itu, dan ketika matanya menangkap alat-alat rajut, dia mengetahui apa penyebabnya.

“NAVE! Sekarang kau mengerti kenapa aku melarangmu bermain dengan alat sulaman?!” seru sebuah suara dengan nada yang berapi-api, membuat kedua orang itu terkejut.

“Ave, habisnya aku bosan jika menunggumu dan Kyuhyun Oppa seharian pada hari kerja, jadi, daripada aku melamun tanpa melakukan apapun, aku lebih senang menyulam.” gadis yang dipanggil “Nave” tadi memberikan sebuah pembelaan diri yang diharapkannya bisa membuat gadis yang dipanggilnya “Ave” itu bisa luluh dan berhenti memberikan sebuah ocehan panjang-lebar tentang betapa bahayanya kegiatan menyulam baginya.

Ave menghela napas. Hari ini pikirannya cukup ruwet dan dia malas menyeramahi Nave. Jadi, tanpa pikir panjang lagi, dia menyerahkan sebuah kotak P3K pada pria yang masih berdiri di belakang Nave, menyaksikan sebuah dialog kecil yang dapat memicu sebuah pertengkaran di antara dua gadis kembar itu.

“Tolong obati dia, aku lelah dan ingin tidur setelah membersihkan diri, terima kasih dan maaf karena aku telah menyuruhmu. Selamat malam, Tuan dan nona Cho.” Ave berkata dengan raut wajah putus asa, lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu di mana ada nama ‘Raverainy Cho’ dari kain spons warna abu-abu tergantung di pintu.

Nave menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya, “Ave pasti marah padaku karena aku kembali menyakiti jariku dengan jarum.” ucapnya frustasi lengkap dengan sebelah telapak tangan yang mengusap keningnya. Dia yakin jika Ave akan mendiamkannya setelah ini, dan dia tidak dapat menyangkal jika dia benci saat-saat itu.

“Sudahlah, dia hanya lelah, nanti juga biasa lagi kok~ jangan khawatir,” Cho Kyuhyun, pria itu berucap menenangkan pada Nave dengan senyumannya yang terlihat tulus sekaligus menenangkan, “mari kuobati lukamu.” tambah pria itu lagi begitu mengingat pesan Ave sebelum gadis itu menghilang di balik pintu kamarnya.

Sementara itu, semburat merah menghiasi kedua pipi Nave ketika Kyuhyun meraih tangannya untuk mengobati luka di jari telunjuknya. Jantungnya berdegup kencang dan tidak dapat disangkalnya jika perutnya mulai tergelitik bagai ada jutaan kupu-kupu yang menggelitiki perutnya ketika sebuah tiupan dirasakannya di jari telunjuknya. Dia merasa aneh dengan reaksinya yang begitu berlebihan pada sentuhan kecil dari Kyuhyun. Apakah mungkin …? Ah tidak, itu tidak boleh terjadi Cho Youngmi

“Apa yang kau buat tadi?”

Suara Kyuhyun membuatnya tersentak kembali ke dalam dunia nyata. Gadis itu segera menyunggingkan seulas senyuman manis seraya menunjukkan hasil sulamannya yang tinggal ditambahkan satu huruf lagi.

“Ini, tapi belum selesai, tinggal huruf ‘s’ yang harus aku tambahkan di sini, sebentar …” ucap Nave tersenyum. Jari-jari lentiknya segera mengambil sebuah benang wol yang telah dicium baunya setelah menolak benang wol pemberian Kyuhyun, karena warnanya tidak sesuai dengan keinginan hatinya.

Satu menit kemudian, sulaman itu akhirnya selesai. Dengan bangga dia menunjukkan hasilnya pada Kyuhyun, masih dengan senyumannya yang merekah. Dan Kyuhyun tentu saja menerimanya dengan senang hati.

Senyuman pria itu mengembang otomatis melihat sulaman yang dibuat gadis itu. Begitu rapi dan sangat menyenangkan untuk dilihat, dan setiap orang yang melihatnya akan mengira itu adalah karya tangan seorang manusia yang dapat melihat padahal, Nave adalah seorang tuna netra. Berbeda dengan Ave—kembaran Nave—yang sempurna, gadis itu menjadi seorang tuna netra karena sebuah kecelakaan yang membuatnya mengalami kebutaan permanen. Pada awal gadis itu mengetahui kenyataan pahit itu, dia sempat menolak mati-matian,  dan sampai menuntut Tuhan atas apa yang terjadi, tapi seiring berjalannya waktu, gadis itu mulai menerima dirinya apa adanya.

“Toh, aku percaya semua orang yang benar-benar menyayangiku akan terus berada bersamaku, di sampingku, dan membimbingku untuk menjalani hari seperti orang normal, jadi, apa gunanya aku menuntut Tuhan lagi?” kata gadis itu pada suatu malam, dan Kyuhyun selalu saja berdecak kagum ketika mengingat bagaimana gadis itu dengan senang hati menerima kenyataan meskipun itu—pada awalnya—sangat berat.

Dan hobi gadis itu adalah menyulam. Dia memiliki sebuah slogan yang sampai saat ini masih digunakannya sebagai senjata untuk melawan Ave yang mati-matian menolak hobi Nave yang—dinilainya—sangat berbahaya bagi Nave; “no day without embroidery.”

Dan untuk memudahkan kegiatan menyulam Nave, Kyuhyun membantu gadis itu dengan cara menyemprotkan parfum yang berbeda pada setiap warna. Sementara untuk kerapihan sulaman dan juga ketepatan letaknya yang simetris, Kyuhyun yakin, gadis itu menggunakan instingnya yang kuat.

“Bagaimana? Rapi tidak? Apakah hiasannya terlalu overloaded?” tanya Nave beruntun dengan nada yang sangat antusias, membuat Kyuhyun mengangkat kepalanya menatap Nave yang tampak senang sekaligus bangga dengan hasil sulamannya.

Arco iris?” tanya Kyuhyun yang terdengar diajukan untuk dirinya sendiri. Dua buah kata kata asing itu membuatnya mengerutkan kening. Tidak ada yang salah dengan kata itu memang, tapi entah kenapa, Kyuhyun yakin jika Nave memiliki suatu alasan yang sanggup membuatnya berdecak kagum, belum lagi dia rindu akan suara jernih nan ekspresif dari Nave—yang terakhir dilihatnya, beberapa minggu lalu.

“Hum, arco iris sebetulnya berasal dari kata Spanyol yang berarti pelangi, dan seperti yang kau tahu Oppa, aku, kau, dan Ave adalah tiga orang berbeda dengan tiga kepribadian yang jelas berbeda jauh. Ave yang sangat dingin, cuek, dan penuh rahasia yang misterius, kau yang luar biasa jail dan sangat menyebalkan, sedangkan aku sendiri lebih pada honesty.

“Momen saat kita bersama itu aku gambarkan pada sebuah pelangi yang indah, tapi setiap orang memiliki warna tersendiri yang menggambarkan kepribadiannya. Aku memberikan warna hitam untuk Ave, karena dia terlalu misterius, apalagi setelah dia memilih untuk menjadi ghost writer sampai karya-karyanya tidak menjadi best seller lagi atau sampai dia bosan menulis, selain itu, menurutku, kemisteriusannya melebihi kemisteriusan apapun di dunia ini.

“Warna coklat aku berikan untukmu, karena kau selalu menjadi penghangat di antara kebekuanku dengan Ave. Dan untuk diriku sendiri, aku menggambarkannya dalam warna netral, yaitu putih, karena aku merasa diriku sederhana dalam segi apapun.”

Kyuhyun menatap Nave yang tersenyum dengan tatapan takjub. Tidak pernah terpikir olehnya jika gadis itu bisa berpikir sedemikian luas. Dan apa yang gadis itu pikirkan, memang sesuai dengan realita yang ada di kehidupan mereka bertiga. Sangat berwarna-warni, dan orang-orang sering mengatakan jika mereka adalah tiga bersaudara yang paling berwarna di antara saudara-saudara lainnya.

Ya, mereka bertiga memang bersaudara, tiga bersaudara Cho.

Oppa … kau tahu? Tidak pernah melintas sekali pun di dalam kepalaku jika kita adalah saudara, bahkan saudara kembar yang terpisah oleh jarak ribuan mil selama lebih dari enam belas tahun.” menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun, gadis itu berkata dengan nada mengantuk dan lebih terdengar seperti gumaman.

Kyuhyun tersenyum, dielusnya pelan kepala adik bungsunya itu dengan sangat sayang. Otaknya kembali berputar ke belakang, membawanya pada masa di mana pada saat pertemuan pertamanya di sebuah kafe, lalu berjalan maju menuju masa di mana pada saat itu semua orang yang jika melihat dirinya dengan Ave atau Nave berjalan berdua, akan mengira mereka adalah sepasang kekasih yang begitu romantis dan harmonis, padahal mereka adalah saudara kembar.

Mengingatnya, Kyuhyun tersenyum geli.

“Kau lelah?” tanya Kyuhyun perhatian. Ditengoknya Nave yang ternyata telah terlelap di sampingnya. Terlihat begitu damai dan sarat akan ketenangan yang diperlihatkan raut wajah gadis itu.

Setelah puas menatap wajah damai gadis itu, segera dibopongnya menuju sebuah ruangan di balik sebuah pintu di mana ada nama ‘Naverainy Cho’ dari kain spons warna-warni tergantung di pintu. Kedua tangannya agak kesulitan untuk membuka pintu, karena Kyuhyun menggendong Nave di depan, dan tanpa disangkanya, dua tangan mungil itu membantunya membukakan pintu. Ave, pemilik tangan mungil itu tersenyum melihat Nave di gendongan Kyuhyun.

“Dia tertidur? Pulas sekali …” ujar Ave seraya menarik selimut merah muda itu hingga leher Nave. Dari sorot matanya, terlihat sekali rasa kasih sayang antarsaudara pada Nave.

Sebuah senyuman dilemparkannya pada Kyuhyun yang berdiri di belakangnya seraya memasang sebuah senyum ketenangan. Kaki gadis itu melangkah mendekati pria yang selama ini dikenalnya sebagai Cho Kyuhyun, kakak kembarnya yang begitu memesona dan jail. Tanpa diduga, gadis itu melingkarkan tangannya pada lengan Kyuhyun dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.

“Kau tahu? Kita tampak seperti pasangan suami-istri yang baru saja menidurkan anaknya.” ucap Kyuhyun polos.

Sebuah pukulan mendarat mulus di lengannya, diikuti oleh kikikan manis yang akhirnya lolos dari mulut keduanya.

Oppa … kau ini bisa aja!”

~.~

.:FIN:.

~.~

Glosarium :

French knot1 : Semacam teknik dalam menyulam untuk membuat sebuah titik di tengah bunga, atau mungkin kalo di bunga benerannya itu yang warna kuningnya itu looh …

Stem stitch2     : Teknik dalam menyulam juga. Jadi semacam teknik buat bikin garis, mau melengkung, mau lurus.

~.~

Author’s Note :

Annyeonghaseyo~! Mianhae jadwal comeback-ku rada melenceng(?) dari jadwal yang telah ditetapkan(?). Akhir-akhir ini aku mulai sibuk sama kegiatan sekolah (u,u”)a jadi maaf, benar-benar maaf.

Anyway, apa opini kalian tentang Arco Iris di atas? Kasih opini kalian di kolom komentar ya! RCL-nya sama kritiknya aja deh ya yang aku tunggu … dan juga tentunya, no bash, no plagiarism, HELL NO TO SILENT READER!! Keep support me too …!!! J

Sincerely,

Nissa Tria (Miss Glace)

 

Advertisements

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s