Almost Forever {Part 1}

By : MissFishyJazz

Two-Shoot | Hurt, Painful, ROMANCE | PG-17

Cast : Super Junior’s Eunhyuk & OC’s Park Jae Rim

Notes : Inspired by Linda Howard’s “Almost Forever” & Xia Junsu’s “Love is Like Snow”

I cry out and call you but it doesn’t reach you I love you, I love you

 

***

 

I smile again like I did yesterday

I hide it as if nothing happened

Without permission, I looked into your heart

I guess it’s my part to take your heart

Now I want you

Eunhyuk berdiri di tempatnya. Tempat dimana seharusnya ia tak berada di sana. Bukan karena dia tidak pantas, karena untuk ukuran idola sepertinya, kemanapun ia mau pergi, setiap pintu akan mudah terbuka untuknya. Eunhyuk tersenyum cerah ketika mendapati gadis bersurai kecoklatan itu keluar dari balik pagar hitam tinggi yang membatasi mereka. Ia dengan langkah lebarnya mendekati gadis itu, melihatnya dengan nyata dan dekat, hingga gadis itu memutar kepalanya, membuat dua pasang mata itu beradu.

Eunhyuk sadar betul saat itu, semakin ia berusaha meredamnya, gadis itu bahkan tak bisa bergeser semili pun dari hatinya. Dari posisi khusus yang selama tiga tahun Eunhyuk siapkan untuk gadis di hadapannya ini.

“Berhenti menggangguku, aku sudah bilang kan, kita tidak perlu bertemu lagi,” kedua bola mata gadis itu berkaca-kaca. Ini baru dua minggu sejak mereka berpisah, jadi wajar saja jika luka yang ditutup itu mudah terbuka dan menyakiti pemiliknya. Ia benci luka ini, Ia benci menjadi orang bodoh karena luka ini.

“Jae Rim-aa kamu harus mendengarkanku dulu. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu.” Eunhyuk berusaha meraih kedua pundak Jae Rim, kekasihnya yang memilih mengakhiri hubungan mereka dua minggu yang lalu. Karena skandal paling besar yang pernah melanda Super Junior. Foto dengan penyanyi muda, IU. Ouhh.. Jae Rim melangkah mundur seiring dengan langkah pria dihadapannya yang merengsek maju dan ingin meraih kedua pundaknya. Rasanya ia ingin segera melepaskan wedges-nya dan berlari secepat mungkin meninggalkan pria itu.

“Jae Rim-aa, ini tidak seperti yang kamu bayangkan.”

“Cukup. Aku tidak ingin mendengarkan apapun itu. Aku benci kamu. Kamu adalah pengkhianat paling busuk.” Jae Rim menghempaskan tangan mungilnya yang sempat digenggam erat oleh Eunhyuk. Ia ingin segera menyumpal telinganya dengan sepasang kapas besar dan mengambil headphone-nya. Volume up, ignore Eunhyuk. Kelabu di matanya tak hilang, walaupun angin dingin di pagi musim dingin yang cukup hangat hari ini telah diterpanya.

“Aku tidak akan pernah menyerah, Jae Rim-aa. Kamu yang membuatku terlalu jatuh dalam pesonamu, kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus tetap menjadi milikku.” Eunhyuk kembali tersenyum. Ia tersenyum, senyum samar, antara keraguan, harapan, hancur, dan obsesi. Ia bahkan tidak tahu apakah ia bisa tersenyum pada kenyataannya, karena pada dasarnya ia terlanjur kehilangan kemampuan-hidup-bahagia-nya semenjak Jae Rim mengakhiri tiga tahun kebersamaan mereka.

Have you ever loved to death?

Just once, just once, please look back

I cry out and call you but it doesn’t reach you

I love you, I love you

Words I repeat by myself

I love you

Siwon, Donghae dan Sungmin berdiri di depan pintu putih berlapis kaca kelam. Langit hari ini mendung, hujan mungkin akan turun dan suhu Seoul akan semakin membeku malam ini, tapi tiga pria itu bahkan tak sanggup membekukan air matanya. Di dalam sana, ada seorang diantara ‘saudara’ mereka yang terbaring mempertahankan hidupnya dalam peluh orang-orang berjas putih yang turut memperjuangkan nyawanya. Beberapa jam yang lalu, Sungmin mendapatkan telepon dadakan dari nomor Eunhyuk, tapi suara di ujung sana bukan suara monyet gunung itu, tapi suara yang lebih berat dan dihantui kekhawatiran. Suara itu adalah suara seorang pria yang mengaku bertanggung jawab atas terbaringnya Eunhyuk sekarang.

Eunhyuk menyebrang jalan ketika lampu pejalan kaki berubah merah, dan berlari cukup kencang secara tiba-tiba. Hal itu membuat Dong Hyun—nama orang yang menabrak Eunhyuk—belum siap untuk menghindari Eunhyuk yang tiba-tiba melintas. Eunhyuk terpelanting cukup jauh, mengingat Dong Hyun bukan mengemudikan sedan atau city car melainkan mobil jenis family car—lebih orang kenal dengan mini bus—yang cukup lebar.

Donghae tak habis pikir, kenapa Eunhyuk bisa seperti itu. Sedikit banyak, Donghae yakin hal ini karena Park Jae Rim. Seorang gadis cerdas yang dengan cerdasnya mengikat hati Eunhyuk dan memberi label atas namanya selama tiga tahun ini. Semenjak hubungan mereka berdua berakhir sejak dua minggu lalu, Donghae sudah merasa bahwa Eunhyuk, sahabat yang ia kenal telah berubah. Eunhyuk lebih pendiam, tidak ada lagi cerita panjang yang ia selalu dengar dari Eunhyuk, tidak ada lagi semangat pagi hari yang mereka gunakan untuk menyemarakan dorm, dan tidak ada lagi senyum cerah pria itu. Semua buram, samar, dan menghilang. Setiap hari Eunhyuk pergi pagi-pagi sekali, menunggu Jae Rim di depan rumahnya dalam jarak 300 meter, pulang di siang hari ketika hingga makan siang Jae Rim tidak mempedulikannya, meratapi foto gadis itu, mengirimkan pesan dan direct message untuk gadis itu, selalu berusaha menelpon gadis itu apapun yang terjadi dan yang paling parah adalah selalu menyebut nama Park Jae Rim dalam setiap mimpinya yang berpeluh dan penuh air mata.

Lampu merah di atas ruangan itu meredup, tiga orang perempuan berbaju suster keluar dengan mendorong ranjang putih rumah sakit tempat seorang pemuda berbaring di sana. Siwon mendesah lega dan berulang kali mengucapkan syukurnya kepada Tuhan ketika temannya tidak tertutup kain putih mencekam ketika keluar dari ruang operasi. Eunhyuk hanya bertelanjang dada dengan beberapa jahitan di bagian dada dan kepalanya, bekas tusukan palang pembatas jalan dan gerigi di sekitar tempat parkir sepeda tempat Eunhyuk mendarat setelah tertabrak mobil.

“Keadannya akan membaik. Percayalah.” Seorang dokter yang keluar setelah tiga orang suster itu menepuk pundak Donghae yang nampak berguncang hebat. Donghae mengangguk lega dan prihatin. Dalam hatinya ia sudah merutuki betapa bodohnya Eunhyuk, kenapa ia nekad melakukan hal ini. Ia juga merutuk pada member lain yang tak kunjung datang dari Macau.

“Hae, lebih baik kamu yang temani Eunhyuk, aku akan menghubungi yang lainnya dan Siwon akan menjemput member lain di bandara.” Sungmin menunjukkan sisinya yang lain, sisi yang hanya akan timbul ketika keadaan menuntutnya, ketika ia secara tak langsung dianggap sebagai yang paling bisa memberi kekuatan. Donghae mengangguk lagi. Sungmin dan Siwon meninggalkannya dengan cepat, ia sendiri hanya mampu terseok mencari kamar Eunhyuk.

Tangannya membuka dan menutup pintu dengan lemas. Ini menyedihkan ketika harus menunggui sahabatmu yang hampir meregang nyawanya. Rasanya kamu lebih ingin menukarkan keselamatanmu dengan sahabatmu itu, tapi Donghae sadar ia tidak akan se-picisan itu. Nyawanya juga berharga, dan nyawa seseorang dengan orang lain juga tidak mungkin ditukar.

“Jae Rim.. Jae Rim-aa..” Donghae meringis ngilu. Ia kembali mendapati Eunhyuk yang masih larut dalam kesedihannya. Eunhyuk tanpa sadar menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara ringan, seperti berusaha menghapus bayangan kepergiaan Jae Rim dari hidupnya.

Hajima.. Hajima.. Uri Jae Rim..” Oh betapa menyedihkannya sahabat Donghae itu. Ia jadi merasa bahwa Jae Rim lah yang hanya akan menjadi penawar segala kesakitan Eunhyuk sekarang.

Mian-e, Mianhaeyo..” Donghae kembali menangis. Ia kembali merasa tidak berguna sekarang, sudah tidak bisa melindungi Eunhyuk, sekarang ia juga tidak bisa memberikan apa yang diinginkan Eunhyuk. Ia sudah berulang kali membujuk Jae Rim memaafkan Eunhyuk, tapi Jae Rim bahkan sama sekali tak meresponnya.

Sekali lagi ia menatap Eunhyuk, pria itu telah kembali tenang dengan air mata yang masih mengalir dari kedua sudut matanya.

I try to live each day well

So that I can endure through little by little

Because without you, there is no tomorrow

There is no hope, just like today

Now I want you

Rombongan yang mengapit pemilik nama Lee Hyukjae itu telah membubarkan diri di depan pintu apartment orang yang baru saja mereka jaga dengan mengitarkan diri di sekitarnya. Hari ini Eunhyuk mengklarifikasi gosip yang kian tidak sedap dan menyudutkan IU dan dirinya. Ia bisa terima jika ada Eun-jinyo—sebuah komunitas yang dalam konotasi negatifnya menjelek-jelekkan dirinya—tapi tidak bisa terima dengan penambahan I-jinyo bahkan hingga membuat komunitas online itu terpaksa overload. Yang ia akui adalah hari itu ia memang mengambil selca bersama IU di apartment-nya setelah ia pulang dari dance practice dan IU yang menginap di rumahnya bersama dengan Suzy dan Junsu untuk sebuah acara makan-makan tidak penting.

Padahal pada kenyataannya, sebuah hal nista mereka lakukan hari itu dan dengan bodoh—dan nekad—nya mereka mengambil selca bersama. Such an idiot. Eunhyuk terus saja menyalahkan dirinya atas semua kebodohan dan kesalahan fatal yang telah ia lakukan, ia merasa sangat amat bodoh sekarang. Sangat.

Ia membuka ponselnya yang bergetar, sebuah pesan dari Junsu masuk.

Jae Rimssi telah pergi ke Perancis beberapa jam yang lalu, ia akan segera dijodohkan dengan seorang anak jenderal disana.

Ponselnya terlepas begitu saja. Air matanya kembali berderai, ia tidak pernah takut kehilangan apapun hidupnya. Apapun. Apapun kecuali Jae Rim. Ia tidak pernah kehilangan dengan sebegitu sakit dan bodohnya seperti sekarang. Setelah merajut hari-hari indah bersama Jae Rim, satu yang ia yakini bahwa hidupnya memang untuk gadis itu, bahwa nafasnya kini adalah dengan adanya gadis itu dalam jarak pandang yang bisa ia raih. Tapi ketika gadis itu telah ada dalam luar pagar batas dalam hidupnya, ketika ia seharusnya mencari orang lain untuk menggantikan missing space dihatinya, ia justru berlari melewati pagar itu, menerjang semak berduri tajam dan pada akhirnya kembali tertusuk dahan pohon dan terseret kembali dalam lingkup hidupnya yang berupa lubang-lubang bulan yang menganga menyakitkan.

Ia terduduk dengan dua lutut yang menopangnya, ia ingin meluapkan emosinya. Ia pernah berkata bahwa Jae Rim harus tetap menjadi miliknya, tapi ia kini tak lagi mampu bahkan menyentuh ujung surai harum yang dimiliki gadis itu. Eunhyuk telah berulang kali dengan beragam cara berusaha mendapatkan hati gadis itu, membuatnya kembali duduk dalam tahta hatinya yang tanpa perlu ada Jae Rim pun memang selalu terisi oleh nama gadis itu, tapi hasilnya nihil. Dan kini tahta itu takan lagi berpenghuninya. Singgasananya akan menjadi dingin, laba-laba akan merajut sarang di atasnya, dan perlahan-lahan penopangnya akan keropos dan menjadi patah. Seperti hati Eunhyuk yang tak bisa ia rasakan lagi bentuknya.

“PARK JAE RIM!!” Ia berteriak, meluapkan kadar emosi hatinya yang tak terbendung di ujung kepala.

Habis sudah hari esoknya, habis sudah usahanya untuk hidup layaknya pria normal yang bahagia dalam kesendiriannya, habis sudah cahaya dalam gelap dihari-hari yang mungkin akan ia lalui dengan bertelanjang kaki di atas pecahan kaca yang menusuk. Ia tidak lagi punya lentera dalam hidupnya, pelitanya telah mati dalam sekam berduri, bohlamnya telah pecah dalam dentuman martil kehilangan.

Berlian tak lagi berharga ketika tahta itu tak lagi berpenghuni. Berlian hanya sampah ketika kamu tak lagi bersamaku di sini.

 

Have you ever loved to death?

Just once, just once, please look back

I cry out and call you but it doesn’t reach you

I love you, I love you

Words I repeat by myself

I love you

Ini sudah lewat enam bulan sejak skandal itu dan empat bulan semenjak Jae Rim menghilang dalam hidup Eunhyuk. Dan enam bulan inilah saat-saat dimana Super Junior harus mengalami uji kesabaran. Ia tetap Eunhyuk yang bersinar di atas panggung, tapi di balik layar, ia hanyalah kapas rapuh yang mudah terhuyung huyung ke sana kemari. Semakin lama kobaran semangat hidup dalam matanya pudar dan lenyap. Hilang dalam gemeruh badai topan kerinduan dan kehilangan.

Bogoshippo.. Jengomal bogoshippo, Jae Rim-aa.” Hari itu Eunhyuk duduk di balkon, bersandar pada kursi kayu yang ada di sana dan menatap langit senja yang menggelap. Hatinya bahkan lebih kelam dari color burn langit senja.

“Hyukkie ayo masuk, sebentar lagi kita akan pergi makan bersama.” Yesung menepuk pundak Eunhyuk dan menyeretnya masuk, tanpa sengaja hal itu membuat foto Jae Rim yang ada dalam genggaman Eunhyuk jatuh, walau tak sampai diterbangkan angin akhir musim semi hari ini, tapi Eunhyuk membalikkan tubuhnya dan menatap Yesung tajam.

Bughh..

Bughh..

“EUNHYUKK!!” Kyuhyun dan Kang In yang melihat Eunhyuk dengan anarkisnya menghajar Yesung tanpa ampun langsung berlari menghampirinya. Kyuhyun menarik Yesung yang sudah ingin membalas perlakuan Eunhyuk yang dengan sembarangan menghajarnya hingga membuat ujung bibirnya sobek, dan Kang In mendorong Eunhyuk hingga pemuda itu tersungkur dengan air mata yang kembali menggenangi matanya.

“AKU MEMBENCIMU HYUNG! Kamu sudah membuat uri Jae Rim jatuh! Aku membencimu!” Eunhyuk berlari dari antara kerumunan orang yang semakin mendekat ke arahnya. Sungmin menatap Kyuhyun, “Apa yang terjadi, Kyu?” Kyuhyun hanya mengedikkan bahu tidak tahu.

“Aku bahkan hanya menyenggol foto gadis itu.” Lirih Yesung perlahan. Inilah saatnya mereka tahu, bahwa Eunhyuk mereka telah hampir sepenuhnya berubah. Akal sehat telah berkurang darinya, dan berganti dengan obsesi tak berkesudahan yang tak tersampaikan untuk Jae Rim. Mereka mendesah sedih.

– TO BE CONTINUE –

Advertisements

7 thoughts on “Almost Forever {Part 1}

  1. idiiiiiih cacaaaaaa,,,,keren bgt sih diksinya,,:( eomma az gx bs ngebayangin diksi” itu,,kereeeeen,,,oalaaahh,,baca ff ini brasa knyataan,,,bguuusss syg,,,itu ksian enhyuknya, gkn gila kan dy?ampe sgtunya bgt sm jae rim,,yesung ampe d pukulin gtu..;( eomma baca lnjutannya dlu deh..:)

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s