WELCOME TO MY HALF HOUSE!!! [CHAPTER 3]

poster_-_nana_-_smthff

Author : Nanairu (Jin Hyun)

Title: Welcome To My Half House!!!

Main Cast : Kim Sera (OC), Byun Baek Hyun (EXO-K), Oh Sehun (EXO-K)

Length: Chaptered (On-Going)

Genre : Romance, Comedy (maybe, tergantung selera org lucu ato gak)

Rating/Pairing: Teenager

Disclaimer: All the casts are from God except the OC is my imagination and the storyline too.

PROLOG | Part 1 | Part 2

Baek hyun membuka keran shower. Air dingin langsung keluar membasahi tubuhnya. Membuat kepenatan dan rasa lelah di tubuhnya menghilang. Setelah selesai, dia mengambil handuk dan melilitkannya pada pinggangnya. Kemudian dia berjalan keluar dari kamar mandi. Diambilnya sehelai pakaian dalam dari lemarinya dan hendak memakainya. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Dia terkejut dan menoleh. Dilihatnya sebuah papan yang jatuh dengan seorang yeoja diatasnya. Yeoja itu mengerang pelan sembari hendak mengangkat tubuhnya. Tiba-tiba yeoja itu berhenti dan memandang kakinya. Tatapan yeoja itu terus menyusuri lekuk tubuhnya dan akhirnya bertatapan mata dengan dirinya. Baek hyun membelalakkan mata. Dia  terkejut melihat yeoja itu, Kim Sera yang kini sedang menatapnya

“AAAAAHHHHH!!!!!” teriak Sera.

“Baek hyun-ah!!! Ada apa ribut-ribut di atas?!!” teriak Mrs.Byun begitu dia mendengar teriakan dari kamar anaknya.

“A-a…ani…aniyo, omma!” teriak Baek hyun dari dalam kamar.

“Baek hyun-ah!! Gwenchana? Ada apa di dalam?!”

Terdengar suara langkah kaki seseorang yang sedang menaiki tangga dengan buru-buru.

“Gwen-gwenchanayo, omma!”

“Baek hyun-ah!! Suara apa itu tadi?! Biarkan omma masuk!” seru ommanya sambil mengetuk pintu.

Baek hyun menoleh ke arah pintu kamarnya.

“Andwe!!! A-aniyo! Keu-keugae…,” Baek hyun melihat kamarnya, mencari-cari alasan. “Aku tadi menyalakan TV! Suaranya kebesaran!”

“Jeongmalyo? Hanya suara TV?”

“Ye! Tadi volumenya kebesaran. Sekarang udah dikecilkan.”

“Jinjja? Kalo gitu omma turun ya! Jaljayo!”

“De…”

Baek hyun menghela napas lega. Dia menoleh, menatap tajam Sera yang masih dalam posisi hendak mendirikan tubuhnya itu. Dilihatnya yeoja itu perlahan-lahan menundukkan kepalanya. Dia mengerang kecil ketika berusaha mendirikan tubuhnya. Baek hyun lalu melipat tangannya.

“Tunggu di sini!” katanya dengan nada memerintah yang membuat Sera takut melihatnya

~~~

Baek hyun menatap tajam yeoja yang ada di hadapannya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Kini dia sudah berpakaian. Sera hanya bisa menunduk sedalam-dalamnya sambil duduk di pinggir tempat tidurnya.

Apa yang ada dipikirkan yeoja ini? pikir Baek hyun. Setelah mengajaknya bicara tadi siang, sekarang yeoja ini menghancurkan dinding kamarnya? Baek hyun mengarahkan pandangannya ke dinding yang tergeletak di depannya itu. Dinding itu kelihatan kuat dan kokoh di matanya. Rasanya tidak mungkin seorang yeoja bisa menghancurkannya. Atau jangan-jangan selama ini yeoja itu telah mengintainya dan membolongi dindingnya sehingga dinding itu roboh?

Sera menengadahkan kepalanya pelan-pelan. Dilihatnya Baek hyun yang sekarang sudah kembali menatapnya. Tatapan mata Baek hyun yang sangat tajam itu membuatnya takut dan kembali menundukkan kepalanya. Belum lagi pose Baek hyun yang dilihatnya tadi membuatnya salah tingkah. Pertama kalinya dia melihat seorang namja bertelanjang dada selain appanya. Sera mengerucutkan bibir, mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

“Cho-chogi…,”  kata Sera sembari menengadahkan kepalanya perlahan-lahan.

“Ya!” teriak Baek hyun yang membuat Sera berjengit dan segera menundukkan kepalanya kembali. “Kenapa seharian ini kau terus menggangguku?! Mengintip dan sekarang menghancurkan tembokku?!!”

Mengganggu? pikir Sera. Kalau dia merasa terganggu tadi siang, mungkin saja itu memang salahnya. Menghancurkan tembok? Ya, dia memang menghancurkannya. Tapi dia tidak tahu kalau tembok itu sangat rapuh dan mudah hancur. Jadi itu hanya setengah kesalahannya. Tapi kalau mengintip? Dia tidak bisa menerimanya. Sejak kapan dia berubah menjadi stalker dan mempunyai hobi mengintip?!

“Ani kotun! Sejak kapan aku mengintipmu?!” seru Sera setelah menengadahkan kepalanya sehingga membuat dirinya bertatapan dengan Baek hyun. “Tembok itu jatuh sendiri!”

“Jangan bohong! Pasti selama ini kau mengintipku, stalker!!”

“Aku bukan stalker! Aku baru pindah 2 hari yang lalu!! Aku gak tau apa-apa soal rumah ini! Aku hanya bersandar dan tembok itu jatuh sendiri!!!”

Baek hyun terdiam dan menatap Sera tajam. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan berjongkok di hadapan Sera. Dia mengangkat sedikit dinding yang terjatuh itu dan mengamatinya. Dinding itu ternyata tidak sekokoh yang dilihatnya. Dinding itu hanya sebuah triplek tipis yang membatasi kamarnya dan kamar Sera. Wajar saja kalau hanya bersandar saja dinding itu sudah roboh. Kemudian dia berdiri dan menghela napas.

“Ck!” decaknya kesal sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

Seharusnya aku curiga kenapa harga rumah ini begitu murah, pikir Baek hyun. Apa aku harus memberitahu omma? Tidak, aku tidak suka orang lain mencampuri urusanku. Selain itu, omma tidak punya uang untuk memperbaiki dinding. Biaya bahan bangunan itu tidak murah.

“Mmm…jadi sekarang kita napain?” tanya Sera.

“Kita coba berdirikan dinding ini,” jawab Baek hyun.

Kini Baek hyun berjongkok dan mengangkat dinding yang hanya berupa triplek tipis itu. Sedangkan Sera menahan dinding itu di sisi lainnya.

“Tahan! Jangan sampai jatuh,” seru Baek hyun sambil menahan dinding yang kini sudah berdiri. “Sudah kau tahan? “

“De!” jawab Sera dari sisi kamarnya.

“Sekarang lepaskan pelan-pelan.”

Mereka melepaskan tangan mereka dari dinding itu perlahan-lahan. Sedetik kemudian, dinding itu hampir terjatuh. Namun secara refleks Sera dan Baek hyun menahannya. Sehingga dinding itu tidak terjatuh dan menimbulkan bunyi berdebam yang keras.

“Ada barang yang bisa dipakai buat menahannya?” tanya Baek hyun dari sisi kamarnya.

Sera menoleh dengan keadaan masih menahan dinding itu. Dia mengamati kamarnya. Mencari-cari apakah ada barang yang bisa dipakai untuk menahan dinding itu. Dilihatnya nakas yang berada di samping tempat tidurnya.

“Mungkin nakas bisa,” jawab Sera. “Kau tahan ya!”

Baek hyun menahan dinding yang perlahan-lahan dilepaskan oleh Sera. Dia berjalan dan mendorong nakas yang berada di samping tempat tidurnya hingga menempel pada dinding itu.

“Sudah!” seru Sera.

“Tahan!” kata Baek hyun dengan nada memerintah.

Kini giliran Baek hyun yang mencari-cari barang untuk menahan dinding itu. Dilihatnya seluruh isi kamarnya. Matanya terpaku pada sebuah lemari baju miliknya. Dia mendorong lemari itu. Untung saja lemari itu beroda jadi dia tidak perlu susah payah mendorongnya. Dirapatkannya lemari itu ke dinding yang sedang ditahan Sera.

“Sudah! Kau sudah bisa melepaskannnya,” seru Baek hyun.

Perlahan-lahan Sera melepaskan tangannya dari dinding itu. Namun hasilnya sama saja. Dinding itu melengkung ke arah Sera dan menampakkan kamar Baek hyun sekali lagi.

“Apa kau tidak bisa pakai lemari?” tanya Baek hyun.

“Lemariku nempel dengan dinding. Tidak bisa digeser,” jawab Sera.

Baek hyun dan Sera menghela napas. Mereka bingung. Apakah mereka harus berbagi kamar malam ini? Mungkin hal itu tidak masalah. Toh mereka tidur di kasur mereka masing-masing. Tapi bagaimana dengan sekolah nanti? Ketika mereka hendak berpakaian? Tidak mungkin seorang pria dan wanita mengganti pakaian bersama kan? Selain itu, Baek hyun juga tidak suka berbagi kamar dengan orang lain apalagi yeoja. Itu akan sangat merepotkan dan mengganggu.

Apa boleh buat, tidak ada cara lain, pikir Baek hyun.

“Besok aku akan memaku dinding ini. Untuk malam ini kita biarkan saja dulu,” kata Baek hyun akhirnya.

“Tak bisakah kau memakunya sekarang?” tanya Sera.

“Kau gila! Memaku dinding di malam hari gini?! Ommaku bisa terbangun. Dan lagi oppamu. Apa yang mau kau jelaskan pada mereka saat ini?!”

Sera terdiam. Benar apa yang dikatakan Baek hyun. Bagaimana jika omma Baek hyun dan appanya tahu dan bertanya? Dia tidak tahu apa yang harus dijelaskannya pada mereka. Bisa-bisa mereka berpikir yang tidak-tidak tentang Baek hyun dan dirinya.

“Sekarang kita pinggirkan dulu dinding ini,” kata Baek hyun yang memecahkan lamunan Sera.

“D-de,” jawab Sera.

Baek hyun mendorong lemarinya kembali ke tempat semula dan meletakkan dinding yang roboh itu ke lantai kamarnya. Sedangkan Sera mendorong kembali nakasnya. Kini mereka berdua kembali berhadapan dan memandang dinding yang tergeletak itu.

“Sekarang dinding ini mau kita taruh dimana?” tanya Sera sembari menggembungkan pipinya. Dia mencoba untuk berpikir dimana tempat yang pas untuk meletakkan dinding itu.

“Kita sandarkan di belakang tempat tidurmu,” jawab Baek hyun enteng.

“Mw-mwo?”

“Ck! Kita sandarkan di belakang tempat tidurmu. Sekarang angkat kasurnya.”

Baek hyun berjalan melewati Sera dan berdiri di depan kaki tempat tidur Sera. Dia membungkuk dan menarik tempat tidur itu sedikit. Memberi ruang untuk Sera.

“Ck! Palli!” serunya kesal sembari menatap Sera.

“O..O,” jawab Sera. Dengan buru-buru dia berjalan ke kepala tempat tidurnya. Bersiap untuk mengangkatnya.

“Hana…dul…set,” kata Baek hyun dan Sera bersamaan dan mengangkat tempat tidur itu.

Mereka meletakkan tempat tidur itu di tengah-tengah kamar Sera dan memberi jarak sedikit untuk meletakkan dinding yang roboh. Setelah itu, Baek hyun berjalan menuju dinding yang tergeletak di lantai kamarnya dan membungkuk. Membuat posisi seakan hendak mengangkatnya. Sedangkan Sera merapatkan nakas ke tempat tidurnya dan buru-buru ke hadapan Baek hyun. Mengangkat dinding itu. Mereka memindahkan dinding tipis itu ke belakang tempat tidur Sera dan menyandarkannya.

“Malam ini kita istirahat dulu. Kunci kamarmu ketika kau keluar maupun berada di ruangan ini. Jangan sampai ada orang yang tahu soal ini,” kata Baek hyun dengan tegas dan dia berjalan menuju tempat tidurnya.

Tiba-tiba langkahnya terhenti dan dia berbalik.

“Dan jangan menggangguku!” tegasnya sambil menatap Sera dengan tajam dan dia merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.

“Siapa juga yang mau mengganggumu,” gerutu Sera sambil mengerucutkan bibirnya.

Sera berjalan mengitari tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya. Dia melihat langit-langit kamarnya. Hari ini sangat melelahkan, pikirnya. Pertama, dirinya menghancurkan dinding. Kedua, melihat Baek hyun bertelanjang dada. Ketiga, dia harus berbagi kamar dengannya malam ini! Walaupun cuma 1 malam, tapi rasanya sangat tidak enak baginya. Bagaimana jika appanya tahu? Tidak! Appanya tidak boleh tahu. Mereka baru pindah rumah. Uang appanya sudah habis untuk membayar hutang. Beruntung mereka bisa menemukan rumah yang murah. Kalau tidak, saat ini mereka mungkin sedang tidur di jalanan. Sera menggelengkan kepala dan menutup matanya. Berharap bahwa kejadian hari ini hanyalah mimpi.

~~~

Suara alarm memenuhi ruangan itu. Seorang yeoja dengan badan menelungkup meraba-raba nakasnya, mencari benda yang bernama jam weker itu. Dimatikannya jam weker itu dan diambilnya. Yeoja yang bernama Kim Sera itu mendongakkan kepalanya sedikit dan melihat jam itu.

07.50, pikirnya.

Sera merebahkan tubuhnya kembali dengan mata yang terbuka setengah sebelum dia menutupnya sempurna. Belum sempat dia menutup matanya, tiba-tiba dia tersadar dan membelalakkan matanya. Pemandangan di depan matanya kini berbeda dari biasanya. Jika biasanya dia akan melihat tembok putih di sisi ini, sekarang yang dilihatnya adalah sebuah kamar lain yang sangat berbeda dengan kamarnya. Kamar itu penuh dengan nuansa biru gelap dan minimalis. Berbeda dengan kamarnya yang bernuansa putih pink dan terkesan feminin.

Jadi yang semalam bukan mimpi, pikirnya.

Sera bangkit dari tidurnya. Perlahan-lahan dia berjalan menuju kamar yang berada di hadapannya itu. Ketika dia telah sampai di perbatasan antara kamar itu dengan kamarnya, dia melongokkan kepalanya. Melihat apakah pemilik kamar itu ada di sana. Tampak sebuah tempat tidur yang tertata rapi di matanya.

Sepertinya namja itu sudah bangun, pikir Sera. Tunggu! Mungkin saja dia sedang mandi. Oh, jangan sampai kejadian semalam terulang lagi.

Sera melihat kamar mandi yang terletak di samping tempat tidur itu. Pintunya terbuka dan tidak ada orang di dalamnya. Mungkin saja dia sudah berangkat atau sedang sarapan, pikirnya lagi. Kini Sera mengamati seluruh ruangan itu. Ternyata kamar itu berbeda dengan miliknya. Dari luar, rumahnya dengan rumah Baek hyun sangat mirip, bahkan bisa dibilang kembar. Namun di dalamnya sangat berbeda, terutama kamar Baek hyun. Kamar Sera hanya berbentuk persegi. Sedangkan Kamar Baek hyun bisa dikatakan berbentuk segi lima. Atau lebih tepatnya, persegi dengan salah satu sudutnya dipotong miring. Bagian yang dipotong miring itulah yang merupakan kamar mandi. Di samping kiri kamar mandi itu ada sebuah pintu yang menandakan ada ruangan lain di kamar itu.

Seberapa besar kamarnya? tanya Sera dalam hati.

Kemudian Sera mengedarkan pandangannya ke dinding di hadapannya. Terdapat sebuah rak dengan buku-buku dan televisi di atasnya. Di samping rak itu terdapat sebuah pintu yang dia yakini adalah pintu kamar ini. Dan di samping pintu itu terdapat sebuah meja belajar dengan laptop di atasnya. Dia menoleh dan melihat sebuah lemari besar yang didorong Baek hyun kemarin dan di samping lemari itu terdapat jendela yang sama persis dengan jendela kamarnya. Perlu diakuinya pemilik kamar ini memiliki selera yang berkelas.

Sera menghela napas dan berbalik. Dia berjalan menuju kamar mandinya. Sudah cukup dia melihat-lihat kamar namja itu, sekarang waktunya untuk sekolah.

~~~

“Ouch!” Baek hyun meringis untuk ke sekian kalinya. Sudah beberapa kali jarinya terkena palu.

“Sebenarnya kau bisa maku gak, sih?” protes Sera sembari berkacak pinggang. Kepalanya menengadah. Ditatapnya Baek hyun yang sedang duduk di atas tangga sambil mengelus jarinya.

“Ya! Diam!” balas Baek hyun sambil menatapnya tajam.

Sera melipat tangannya dan duduk di kursi rias miliknya. Hari ini dia dan Baek hyun cukup beruntung karena kedua orang tua mereka sedang bekerja. Jadi mereka bisa memperbaiki dinding yang roboh itu. Tapi sudah hampir 2 jam Baek hyun memaku dinding itu dan belum ada hasil yang nampak.

Sera berdecak kesal. Kini dirinya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu. Untuk kesekian kalinya dia menghela napas dan melihat Baek hyun yang sekarang sedang menuruni tangga.

“Ya, kau mau kemana?” tanya Sera bingung.

“Sudah selesai,” jawab Baek hyun sambil melempar paku dan palu ke dalam kotak perkakas.

Sera menengadahkan kepalanya melihat dinding yang sudah berdiri itu. Terdapat beberapa paku yang tertancap berantakan di sudut-sudutnya. Dia berjalan maju dan menekan sedikit dinding itu. Memastikan dinding itu berdiri kokoh.

“Ya! Jangan ditekan! Kau mau dindingnya jatuh lagi?!” seru Baek hyun.

Sera menurunkan tangannya. “Ck! Aku cuma ngecek kuat atau gak,” katanya sambil mengerucutkan bibir.

“Sekarang aku pulang dulu,” kata Baek hyun sambil berjalan keluar dari kamar Sera.

“De,” kata Sera sambil mengikuti Baek hyun.

Baek hyun menruni tangga rumah itu. Suasana dan interior rumah itu memang berbeda dengan rumahnya. Perletakan dapur, ruang tamu, kamar, dan ruang makan sama persis dengan rumah miliknya. Berbeda dengan rumahnya yang memiliki konsep minimalis klasik, rumah ini justru memiliki konsep minimalis modern namun sederhana. Hampir seluruh perabotnya berwarna putih bersih dengan sedikit warna krem di beberapa bagian. Sekalipun begitu, dirinya tidak peduli dan berjalan menuju pintu depan rumah itu.

“Gomawo,” kata Sera sambil membukakan pintu untuk Baek hyun.

Baek hyun mengganti sandal rumah itu dengan sepatunya. Dia berjalan keluar rumah itu dan tidak menghiraukan Sera.

“Sombong sekali,”gerutu Sera sambil menutup pintu.

~~~

“Yoeboseyo?” jawab seorang yeoja ketika dia mengangkat handphone miliknya.

Tampak ada suara seseorang yang berada di seberang telepon sedang memberitahu yeoja itu sesuatu. Yeoja itu, Kim Sera yang saat ini sedang duduk di kursi riasnya berdiri dan duduk di pinggir tempat tidurnya dengan handphone masih menempel di telinganya.

“De, aku bisa. Jam 8 pagi? Aku rasa pihak manajemen harus memberitahu pihak sekolah kalau aku absen hari itu,” jawab Sera.

Hening sesaat di ruangan itu. Alis Sera bertaut, dengan serius dia mendengarkan seseorang yang sedang berbicara di handphone itu.

“Sepenting apa pemotretan kali ini?” tanyanya.

Sera memutar bola matanya. Dia mengalihkan pandangannya menatap lemari bajunya.

“Sebenarnya seterkenal apa majalah “The Eye” itu? Sampai ahjussi semangat sekali membicarakannya.”

Setelah mendengar jawaban dari orang yang meneleponnya, Sera bangkit berdiri dan berjalan ke jendela kamarnya. Ditaruhnya salah satu tangannya di atas bingkai jendela itu dan menengadah. Melihat langit malam yang indah itu.

“Paling juga aku cuma muncul di halaman-halaman belakang. Itupun gak banyak.”

Sera diam mendengarkan jawaban dari orang yang meneleponnya itu.

“Model terkenal?!” seru Sera terkejut.

Berbeda dengan Sera yang saat ini sedang menerima telepon, Baek hyun yang sedang mengerjakan tugas merasa kesal. Berkali-kali dia mencoba untuk berkonsentrasi mengerjakan tugasnya, namun selalu saja terdengar suara orang yang sedang mengobrol di sebelah kamarnya. Wajar saja jika suara Sera terdengar olehnya, toh kamar mereka hanya dibatasi sebuah triplek tipis.

Tidak bisakah dia tenang sedikit? pikir Baek hyun.

Diletakkan pennya dengan kasar ke atas meja dan menaruh wajahnya di salah satu tangannya. Sekarang kesabarannya sudah habis. Baek hyun menghela napas untuk meredakan sedikit amarahnya. Dia menoleh menatap dinding yang sudah diperbaikinya itu.

“YA! Tidak bisakah kau diam sedikit?!!!” teriaknya.

Sera yang sedang berbicara dengan seseorang di handphonenya itu terkejut. Ada apa dengan orang itu? pikirnya. Sudah berapa kali dia diteriaki terus oleh namja itu hari ini.

“Yoeboseyo? De? Tidak ada apa-apa. Aku akan datang nanti. Ok. Bye,” kata Sera dan menutup sambungan telepon itu.

Sera berjalan mendekati dinding kamarnya.

“Ya! Ada apa lagi?! Kau mau membuat masalah?” teriak Sera.

“Tidak bisakah kau tenang?! Aku sedang mengerjakan tugas!” balas Baek hyun dari seberang.

“Aku sedang menerima telepon! Aku tidak mengganggumu!”

“Tapi suaramu kedengaran! Aku tidak suka ada suara berisik di kamarku!”

“Well, itu bukan salahku! Dindingnya aja yang terlalu tipis!”

Kini Baek hyun sudah berjalan mendekati dinding itu.

“Jadi kau bilang ini salahku?!”

“Aku tidak bilang begitu! Kau benar-benar menyebalkan!”

Sera berjalan ke samping tempat tidurnya. Dengan kesal dia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Benar-benar menyebalkan! gerutunya dalam hati.

“Jika kau menggangguku lagi, kau akan tahu akibatnya!” kata Baek hyun tegas dari balik dinding.

“Siapa juga yang mau mengganggumu,” gumam Sera kesal.

Dia benar-benar tidak habis pikir ada namja seperti itu di kelasnya. Wajahnya memang lumayan tampan dan banyak yeoja di sekolah yang menyukainya. Namun sifatnya itu benar-benar menyebalkan. Yeoja-yeoja yang menyukainya benar-benar buta! pikirnya.

Setelah mengatakan itu, Baek hyun menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia sudah tidak mood untuk mengerjakan tugas. Besok pagi sebelum pelajaran dimulai saja baru dia kerjakan, pikirnya. Baek hyun menghela napas panjang, meredakan amarahnya dan kemudian tidur.

~~~

Sera berjalan menyusuri halaman belakang sekolah sambil menggigit roti yang dibelinya tadi. Tiba-tiba dia berhenti. Matanya menangkap sebuah sosok seseorang di taman sekolah. Namja itu sedang duduk bersandar pada sebuah pohon. Matanya tertutup. Beberapa bagian tubuhnya tertimpa sinar matahari yang masuk dari sela-sela dedaunan pohon tempatnya bersandar. Pemandangan itu persis sekali dengan yang pernah dilihatnya di perpustakaan. Hanya saja kali ini angin sedang berhembus. Sehingga rambut namja itu tertiup sedikit dan membuatnya tampak semakin tampan.

Tanpa Sera sadari, kakinya sudah berjalan membawanya ke hadapan namja itu. Dia berlutut ketika namja itu sudah berada di hadapannya. Kini dia bisa melihat wajah namja itu dengan jelas. Wajahnya terlihat sangat damai ketika sedang tertidur. Tiba-tiba namja itu membuka matanya perlahan.

Omo! Namja itu terbangun! kata Sera dalam hatinya. Dia panik ketika namja itu menatapnya bingung.

“Kau yang membangunkanku waktu itu,” kata namja itu.

“Mianhae, aku tidak bermaksud membangunkanmu,” kata Sera sambil membungkukkan badannya.

“Gwenchana. Tapi kenapa setiap kali aku selalu melihatmu ketika aku terbangun?”

Sera menggelengkan kepalanya. Benar juga kata namja ini. Kenapa juga dia selalu melihat namja ini tertidur?

“Tapi, kenapa kau selalu tertidur?”

“Aku selalu mengantuk di sekolah. Jadi aku mencari tempat yang tenang untuk tidur.”

“Well, kau bisa tidur di klinik.”

“Hanya orang sakit yang bisa ke sana.”

“Kau bisa berbohong kalau kau sakit.”

“Tidak bisa, aku bisa ketahuan oleh guru kesehatan. Kau kan tahu bagaimana guru kesehatan di sekolah kita.”

Benar juga, pikir Sera. Guru kesehatan di sekolahnya benar-benar ahli dalam mendeteksi kebohongan para murid di sekolahnya. Perlu keahlian khusus untuk membohongi guru itu.

“Siapa namamu?”

“Choneun Kim Sera imnida,” jawab Sera sembari membungkukkan badannya. “Namamu?”

“Sehun. Oh Sehun.”

“Apakah kau sunbae di sini?”

“Apa aku kelihatan setua itu sampai kau mengiraku sunbae di sekolah ini?”

“A-aniyo…,” jawab Sera panik.

“Aku bercanda,” kata Sehun sambil tersenyum simpul. “Aku kelas 2-3”

Sesaat Sera merasa dirinya melayang ketika melihat senyuman namja itu.

“Gurae? Aku kelas 2-2. Ternyata kita seumuran ya.”

“Jadi kau masih berpikir aku lebih tua darimu?”

“A-aniyo…Aku cuma…”

Bel tanda istirahat selesai berbunyi. Namja yang bernama Oh Sehun itu berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celananya untuk membersihkan dedaunan atau tanah yang menempel.

“Cha…Waktunya masuk kelas. Kau tidak masuk?”

“De? Y-ye,” Sera tersentak dari lamunannya dan berdiri.

“Aku duluan ya. Sampai ketemu lagi,” kata Sehun sembari berlari kecil meninggalkan Sera.

“De,” jawab Sera. Dia menatap punggung Sehun hingga namja itu tidak tampak lagi di matanya.

Jadi namanya Oh Sehun, kata Sera dalam hati. Kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan halaman sekolah.

~~~

Baek hyun berjalan ke dapur sambil memegang kameranya. Tampak dia baru saja pulang setelah memotret beberapa pemandangan yang menurutnya patut untuk diabadikan. Tangannya terhenti ketika dia melihat sebuah note yang tertempel di pintu kulkasnya. Dibacanya note itu.

Hari ini omma dapat shift malam. Makan saja makanan yang ada di kulkas. Panaskan dulu sebelum makan!

Baek hyun membuka pintu kulkas setelah membaca note itu dan mengambil sekotak susu cair rasa vanilla. Dia membuka tutup kotak susu itu dan meminumnya. Rasa dahaga yang menyelimutinya menghilang begitu susu itu memasuki kerongkongannya. Baek hyun menaruh kembali susu itu ke kulkas dan berjalan menuju lemari gantung yang berada di atas wastafel. Dikeluarkannya sebuah toples besar berisi makanan ringan. Dia memegang toples itu dengan salah satu tangannya dan kamera di tangan lainnya. Kemudian dia berjalan naik menuju kamarnya.

Sesampainya di kamar, Baek hyun menaruh toples yang berisi makanan ringan itu ke atas meja belajarnya. Sambil berdiri, dia mengecek foto-foto yang dipotretnya tadi di kamera. Setelah beberapa saat, dia merasa ada yang tidak beres dengan zoomer kameranya. Diputar-putarnya zoomer kamera itu sambil mengecek bagian mana yang membuat zoomer itu tidak bekerja. Dia menutup sebelah matanya dan mendekatkan kamera ke matanya yang terbuka. Sekarang posisinya sudah seperti hendak memotret. Padahal sebenarnya dia hanya mengecek apakah zoomernya bisa bekerja atau tidak.

Tiba-tiba dinding yang ada di hadapannya kini terjatuh dan menampakkan seorang yeoja di balik dinding itu. Baek hyun membelalakkan mata. Dia menurunkan tangannya. Dirinya shock dan terpaku melihat pemandangan yang ada di hadapannya kini. Seorang yeoja dengan handuk yang melilit tubuhnya sama shocknya dengan dirinya.

“KYAAAAA!!!!” teriak yeoja itu.

  ……TBC……

RCL please…

gamsahamnida…

Best regards,

nana

Advertisements

8 thoughts on “WELCOME TO MY HALF HOUSE!!! [CHAPTER 3]

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s