Almost Forever {Part 2-END}

By : MissFishyJazz

Two-Shoot | Hurt, Painful, ROMANCE | PG-17

Cast : Super Junior’s Eunhyuk & OC’s Park Jae Rim

Notes : Inspired by Linda Howard’s “Almost Forever” , Xia Junsu’s “Love is Like Snow” and Taylor Swift’s “Last Kiss

I cry out and call you but it doesn’t reach you I love you, I love you

 

***

 

The sad longing builds up

It feels like my breath will stop

 

IU dengan gemetar duduk berlutut di hadapan Eunhyuk, di belakang Eunhyuk ada sederet pria yang menatap gadis itu dengan tajam. Eunhyuk menatapnya dalam kebingungan dan ingin tahu yang membuncah.

“Ada apa Ji Eun-ssi?” IU merunduk dan meneteskan juntaian bening air matanya, ia tidak lagi bisa bertahan dalam kekuatan yang sudah ia bangun sebelum pergi ke tempat ini.

“Maafkan aku. Maafkan aku. Cheosanghamnida.” IU meraih kedua kaki Eunhyuk dan menangis di sana, ia sadar betul, setelah pengakuannya nanti ia bahkan tak lagi pantas menyentuh ujung sepatu pria itu.

“Ada apa sebenarnya Ji Eun, cepat katakan.” Kyuhyun menimpali dengan ketus ketika melihat gadis yang menghambat jadwal mereka hari itu tak kunjung menuturkan maksudnya.

“Maafkan aku. Hari itu.. Hari itu, sebenarnya tidak ada apapun yang terjadi di antara aku dan Eunhyuk oppa. Hari itu aku yang sengaja membuat Eunhyuk oppa mabuk, mengambil gambar bersamanya dan berbuat seolah-olah kami baru melakuakn suatu hal menjijikkan. .. Maafkan aku. Maafkan aku, Eunhyuk oppa.” Semua mata melebar saat itu, Eunhyuk sudah mengepalkan tangannya erat, membuat urat-urat hijau kebiruannya timbul dan menakutkan. IU kembali bergetar dan meledakkan tangisnya.

“Kamu! DASAR GILA! Demi apa kau berani melakukan hal itu pada Eunhyuk?! HAH! Apa masih kurang popularitas yang selama ini kamu dapatkan?! Apa sensasi eksistensi yang ingin kamu kejar, hah?!” Donghae menggeram kesal, dan jika IU bukan perempuan, mungkin gadis itu sudah habis di tangannya.

 

Aniya! Aku tidak melakukan ini atas kemauanku dan untuk keuntunganku sendiri.” IU mengusap air matanya, menatap Eunhyuk dengan takut-takut. Sementara Eunhyuk hanya bisa memalingkan wajahnya, enggan menatap gadis ini.

 

“Lalu siapa yang menyuruhmu?!” Donghae menggebrak meja di sampignnya dengan kasar, membuat IU terlonjak. Ia belum pernah disudutkan dan diintimidasi seperti ini, tapi memang ini harga yang harus ia bayar untuk menolong orang itu.

“Seorang gadis..”

Ssaeng fans? Kau melakukannya untuk—” Donghae ingin meledak lagi tapi Yesung keburu menahannya dan memberikan isyarat agar IU melanjutkan ceritanya.

“Seorang gadis yang keluarganya dulu membantu keluarga yang bukan apa-apa hingga menjadi sukses seperti sekarang. Seorang gadis yang sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri.”

“Siapa gadis itu?” Eunhyuk buka suara ketika gejolak dalam dirinya dengan mati-matian ia kontrol, ia menatap IU yang tengah menatapnya dengan raut sendu dan prihatin. Ia bisa merasakan ada luka yang IU rasakan ketika gadis itu menyebutkan tentang gadis yang sangat berharga untuknya.

“Dia.. Park Jae Rim..”

 

I follow the faint light

And now I go to you

 

Eunhyuk berdiri di tepi pantai, angin hari itu tidak cukup kencang tapi sanggup membuatnya membeku dalam hati yang kian menyerpih menjadi debu kecil.

 

“Hari itu Jae Rim unnie datang padaku, dia bilang bahwa aku harus membantunya. Saat aku tanya kenapa aku harus membantunya, ia berkata, hidupnya tak lagi cukup panjang untuk aku tidak membantunya. Saat itulah aku sadar Jae Rim unnie sangat membutuhkan aku, saat itu aku juga sadar bahwa inilah saatnya aku membayar hutang budi keluarga ku pada keluarga Park, dan saat itu juga sadar bahwa usia Jae Rim unnie  tak lagi rela memberinya kesempatan untuk bahagia.” IU menghela nafasnya sekilas, “Ia bilang, aku hanya perlu membuat sebuah skandal atau apapun denganmu agar ia punya alasan untuk memutuskan hubungan kalian. Awalnya aku tidak setuju, hal itu bisa merusak citramu dan membuat kalian berakhir. Tapi mengingat hal-hal yang baru aku sadari, aku dengan berat hati menyadarinya. Akhirnya aku membuat skandal itu, dan dia memutuskan hubungan kalian. Dan setiap aku bertanya kenapa ia ingin hubungan kalian berakhir, ia hanya akan menjawab bahwa ini demi kebahagianmu, oppa. Agar kamu bisa terlepas darinya dan menemukan gadis lain yang lebih pantas untuk kamu cintai, bukan gadis penderita Leukimia seperti dirinya. Bodoh kan?

 

“Jae Rim-aa… Kenapa kamu tega padaku? Kenapa kamu meninggalkan aku?” Hari itu IU tidak datang hanya dengan pengakuan, tapi juga dengan tujuan menyampaikan sebuah kartu kaku besar, ada foto Jae Rim di sana, gadis itu tengah tersenyum hangat, dan di bawah foto gadis itu terpajang tulisan besar,

 

50 Days of losing

Our lovely princess,

Park Jae Rim

1989 – 2013

We think of her still as the same and say :

“She isn’t dead, She just away.”

 

Kenapa ia baru sadar sekarang jika semuanya hampir saja menjadi selamanya ketika ia mulai lengah dan jengah dengan hubungannya. Jika ia tak mulai lelah dengan hubungannya, ia pasti akan lebih memiliki perhatian untuk mengawasi kondisi Jae Rim, dan jika ia lebih memiliki perhatian untuk itu, setidaknya ia masih bisa di sisi gadis itu ketika Tuhan memanggilnya kembali. Setidaknya ia bisa melakukan adegan di film seperti menikahi Jae Rim, menikmati selamanya yang hanya sececap namun mengerak seumur hidup, dan pada akhirnya jika Jae Rim harus pergi, setidaknya ia bisa melepas gadis itu dalam hantaran palungan cinta. Bukannya kesendirian dalam tangis sedih orang tua dan keluarganya. Eunhyuk semakin jatuh dalam rasa bersalah. Andai saja waktu bisa diulang, dan membiarkan ia tak pernah lelah untuk berlari menyusuri jalanan penuh cerita bersama Jae Rim, ia pasti tak akan terseok sendiri dalam luka memori sekaran gini. Andai saja…

 

“Jae Rim.. Bukankah selama kita masih bersama, kamu selalu ingin mendengar suaraku sebelum kamu tidur, dan pada akhirnya aku juga ikut tertidur di sampingmu? Maka sekarang dengarkanlah aku bernyanyi untukmu.” Eunhyuk tersenyum sekilas, harapan ada dalam matanya, tapi hati yang hancur mengendalikan seluruh pikirannya. Eunhyuk meraih sepatunya, melepas kedua alas kaki dan kaos kaki putihnya perlahan, menanggalkannya di atas pasir yang menghangat.

 

I still remember the look on your face

Lit through the darkness at 1:58

The words that you whispered

For just us to know.”

 

Tangannya bergerak melepaskan kancing kemeja di pergelangannya, perlahan membuka dua kancing paling atas kemeja hitam yang ia pakai dalam duka yang tak berkesudahan dalma kehidupan yang semakin membawanya terseok dalam penyesalan dan luka menganga.

 

You told me you loved me

So why did you go away?

Away.

 

Angin berhembus tak terlalu menggetarkan, tapi menyeret tetesan-tetesan air mata langit yang menghujatnya hingga menjadi begitu deras menerpa dirinya. Mengingatkannya pada memori tak berakhir dalam otaknya tentang gemarnya gadisnya tertawa cerah setiap hujan turun dan menghabiskan waktu bermain di bawah rentetan air hujan yang terasa begitu manis hingga harus terbaring sakit esoknya. Hujan bahkan telah mendustainya dengan kembali membuka pandora berpaku baja itu dalam otaknya. Ia yakin jika ia bertahan lebih lama lagi, seluruh dunia akan ikut mengkhianatinya dan hanya akan memutar-mutar memori tentang gadis itu dalam benaknya.

 

I do recall now the smell of the rain

Fresh on the pavement

I ran off the plane

That July 9th

The beat of your heart

It jumps through your dress

I can still feel your arms.

 

Eunhyuk kembali mengingat ketika ia dengan seenaknya menerobos penumpang pesawat yang seharusnya ia tumpangi untuk menuju Paris, hanya ketika Jae Rim menyempatkan diri di sela seluruh jadwal penyusunan skripsinya untuk berbagi pelukan hangat sebelum Eunhyuk perangkat SM Town World Concert. Ia bahkan masih bisa merasakan kedua tangan mungil gadis itu yang selalu bangga ketika bisa saling bertaut saat memeluk tubuhnya walau tak setiap kali bisa. Ia juga masih bisa merasakan air mata haru ketika gadis itu menangis dalam pelukannya ketika ia lolos dengan gelar cumlaude. Itu membuat ia kembali tersenyum, membuat ujung deburan di depan matanya kian dekat dalam radius kakinya yang terus melangkah.

 

But now I’ll go sit on the floor

Wearing your clothes

All that I know is

I don’t know how to be something you miss

I never thought we’d have a last kiss

Never imagined we’d end like this

Your name, forever the name on my lips.

 

Ketika air telah menyentuh hampir separuh betisnya, Eunhyuk meraba bibirnya. Merasakan hangatnya pengalaman ciuman pertama mereka. Konyol, saat itu Jae Rim melompat kegirangan karena ibu nya membawakan segudang hadiah untuknya di acara ulang tahunnya yang ke 21 dan itu membuat Jae Rim hampir terpeleset, dan seperti pada kejadian drama, Jae Rim menimpa Eunhyuk yang berada di sampingnya hingga secara tak langsung Jae Rim melepaskan ciuman pertamanya. Eunhyuk tertawa ringan di balik air matanya yang mulai menetes, sebagian otaknya memutar kejadian ketika mereka berdansa di sebuah makan malam anniversary ketiga mereka sekitar tiga hari sebelum skandal itu naik ke publik, Eunhyuk masih merasa bahwa tangan mungil Jae Rim masih dalam genggamannya dan mereka terus menempelkan bibir mereka selama hampir setengah jam berdansa—tentu dengan diselingi gerakan pengambilan nafas—.

 

I do remember the swing of your step

The life of the party, you’re showing off again

And I roll my eyes and then

You pull me in

I’m not much for dancing

But for you I did

 

Because I love your handshake, meeting my father

I love how you walk with your hands in your pockets

How you kissed me when I was in the middle of saying something

There’s not a day I don’t miss those rude interruptions.

 

Bagian ini, seharusnya Jae Rim yang nyanyikan untuknya Bagian ini, harusnya Jae Rim yang tujukan untuknya. Di malam prom nite kampusnya, Jae Rim untuk pertama kalinya berdansa dengan pria lain selain ayah atau sepupunya. Dan itu juga pertama kalinya Eunhyuk melakukan hal itu dengan sepenuh hati dan cinta yang mengembang di kedua matanya. Jae Rim juga pernah bercerita bahwa ia sangat mengagumi Eunhyuk ketika pria itu berjalan dengan lagak sombong—kedua tangan di saku celana—hal itu akan membuat Jewels berteriak, dan membuat Jae Rim bangga menjadi kekasih Eunhyuk. Eunhyuk kembali tertawa putus asa dalam derai air matanya. Rasanya baru kemarin ia datang ke rumah Jae Rim dan bercanda akrab dengan ayah dan ibu gadis itu sebelum akhirnya pergi kencan ke bioskop bersama kekasihnya. Ironis, ia tak akan bisa lagi seperti itu.

 

Dan yang paling mengena untuknya adalah ketika, gadisnya itu selalu berkutat dengan kecerewetannya dan ketika ia bosan mendengar busa-busa udara berisi kata-kata cibiran gadis itu, ia akan memotongnya dengan mengecup bibir gadis itu setiap lima kata yang ia ucapkan. Membuat Jae Rim akhirnya berhenti berbicara dan memulai ciuman hangatnya degnan Eunhyuk. Eunhyuk menghentikan rabaannya pada bibirnya. Eunhyuk kembali menyanyi dalam debur ombak hari itu yang semakin kencang, menerpa dan dengan gigih berupaya mengikis karang.

 

“EUNHYUK!!” Dia bisa mendengar teriakan sahabatnya, dia bisa mendengar teriakan Donghae sekarang. Rasanya ingin sekali menoleh pada sahabat terbaiknya itu dan mengatakan, “Aku akan baik-baik saja.” Tapi kenyataannya dia jauh dari kata baik-baik saja.

 

“LEE HYUKJAE HENTIKAN TINDAKAN GILAMU! KAU BISA MATI!” Air telah mencapai dadanya dan riak riak kecilnya dengan nakal membelai Eunhyuk dan menghanyutkannya pada tangisan yang bercampur dalam larutan garam. Inilah akhir dari segala corat coret penanya pada buku kehidupan, ia siap menghadapi segalanya. Termasuk neraka yang mungkin telah membuka pintu lebar untuknya, berderet kesalahan telah mengalasinya. Mengakhiri hidup tanpa kehendak Tuhan, mengingkari janji kekasih, dan yang terparah membuat kekasihnya meninggal secara tidak langsung. Neraka bahkan ia rasa masih terlalu layak untuk segala kesalahannya untuk pemilik senyum terindah di dunianya, Park Jae Rim.

 

“Setelah menikah nanti kamu ingin punya anak berapa Jae Rimaa?”

Tentu saja dua! Satu laki-laki yang akan tumbuh penjadi pria tangguh, dan satu lagi gadis yang akan tumbuh menjadi wanita anggun.”

“Seperti kita berdua kan?”

Aigoo.. Kalau sepertimu anakku jadi perayu wanita ulung, bahkan anak Donghae oppa saja pasti kalah nantinya. Hahahaha..”

Aihh.. Kau ini.. Sudahlah terserah apa katamu, melihatmu tertawa dan tersenyum hari ini saja aku sudah bahagia.”

“Jinjja?”

Ne.. Karena selamanya senyum mu adalah senyum terindah, jadi mau seperti apapun dan berapapun anak kita nanti, asalkan si gadis pemilik senyum terindah ini masih ada di sekitarku aku pasti akan bahagia. Selalu bahagia dan akan selalu hidup.”

“Gombal..”

 

Eunhyuk tersenyum sekali lagi, merasakan air yang merendam lehernya dan melayangkan kedua kakinya. Bukankah ia sendiri yang bilang ia akan hidup dan bahagia bila melihat senyum itu di dunia? Jadi sekarang ketika senyum itu tak mampu lagi ia lihat di dunia ia sudah seharusnya tidak hidup apalagi bahagia. Sekarang yang bisa dilakukan Eunhyuk adalah mengulum senyum terakhir yang mampu ia buat sebelum air meredam senyumnya dan berdoa pada Tuhan, jika Tuhan masih mendengar doanya, “Ijinkan aku dan Jae Rim bertemu di kehidupan selanjutnya, ijinkan aku meminta maaf dan memperbaiki semuanya dari awal. Ijinkan aku dan dia memiliki kehidupan yang normal hingga bisa saling mencintai dengan normal dan pada akhirnya memiliki hari-hari yang normal seperti sepasang jodoh pada umumnya yang sama-sama orang biasa, bukan idola yang sibuk dengan kegiatannya. Agar kami lebih memiliki banyak waktu untuk bersama dan merajut kisah-kisah indah. Agar jika ia sewaktu-waktu kembali diambil paksa dariku, aku masih memiliki memori tentangnya yang tak sanggup siapapun kalkulasi.

 

Air mulai menyentuh ujung bibirnya, pintunya menuju akhir segalanya telah terbuka begitu lebar, dan ia semakin tidak sabar untuk menjemputnya. Entah kenapa.

 

And I hope the sun shines

And it’s a beautiful day

And something reminds you

You wish you had stayed

You can plan for a change in weather and time

But I never planned on you changing your mind.

(Last Kiss by Taylor Swift)

 

“EUNHYUK!!” Donghae meraung di tempatnya, di ujung pantai dengan pasir yang mendingin tempat sepasang sepatu yang ia kenal pemiliknya tertinggal. Untuk kesekian kalinya, ia telah gagal, dan untuk kesekian kalinya ia telah kehilangan.

 

Love is like a snow

I hold out my hand to catch it but it always melts

From the moment I first saw you, it was always you

I take one step and again another step

Because to me, it needs to be only you

 

Seorang pejalan kaki melewati kios koran cukup besar di ujung jalan dekat rumahnya, seorang pemuda dengan kaus putih mengerak mendatanginya, “Ahjussi, ini koran terbaru, ada berita heboh! Anggota Super Junior ditemukan meninggal.” Orang itu mengambil koran itu dan memberikan sejumlah uang dengan kapasitas di luar biaya makan pemuda itu untuk dua hari kedepan.

 

Ahjussi, gomawo-yo..” Orang itu hanya mengangguk sekilas, berjalan hingga jauh dari kerumunan orang-orang yang pasti akan mudah mengenalinya. Setelah dirasa cukup aman, ia melepaskan avior glasses-nya dan membaca koran yang baru ia beli.

 

Eunhyuk Super Junior Meninggal Dunia

 

Lee Hyukjae atau yang biasa dikenal dengan stage name, Eunhyuk, pengisi posisi rapper pada boyband kelas dunia, Super Junior, ditemukan meninggal dunia pada pagi hari kemarin. Menurut laporan yang disampaikan teman satu grup sekaligus sahabat terdekat Eunhyuk di akhir hidupnya, Lee Donghae, Eunhyuk meninggal dengan cara menenggelamkan dirinya di Dojong-gu, pantai di pesisir Selatan Mokpo. Untuk alasan hal ini, dari pihak keluarga, SM Entertainment, Kepolisian atau Tim Medis belum ada yang bisa memberikan keterangan. Namun menurut kabar yang beredar, Eunhyuk bunuh diri karena merasa bersalah pada kematian kekasihnya, JR, yang tanpa sepengetahuannya menderita penyakit Leukimia. Berita Eunhyuk yang sudah lama memiliki kekasih ini juga sama mencuatnya dengan berita meninggalnya Eunhyuk ……………

 

Orang itu melipat kembali korannya, meletakkannya di bangku taman tempat ia duduk tadi. Ia tersenyum samar dalam jalannya, “Bocah monyet, jika dunia tidak lagi memberikan kebahagiaan, sekalipun cara yang kamu ambil salah, aku akan tetap bahagia. Jagalah gadismu di sana atau dikehidupan selanjutnya. Di sini aku selalu berdoa yang terbaik untuk kalian.” Dua lesung pipinya mengembang, menampilkan lengkungan senyuman indah, he’s dimple is always enchanting.

 

– THE END –

Advertisements

11 thoughts on “Almost Forever {Part 2-END}

  1. Ya Tuhan, aku nangis! Satu lagi FF yg bisa bikin aku nangis, jarang2 lho :O
    Apalagi diselingi sama liriknya last kiss yang….. AAAARRGGHHH!!
    DAMN I HATE YOU! I hate you for makes me crying, I hate you for makes me love with your words!!! And, damn I like you at the first time I read your story -___- *sorry aku lebay*

    • aduh kayanya ff ini salah banget ya bikin orang nangis TT.TT
      Last Kiss memang sesuatu.-. Coba wkt nulis ini udah ada All Too Well nana sebenernya mau pake lagu itu hihihi XD *lebih sesuatu lagi*

      Oke, ada yang benci aku TT.TT
      gpp lebay ^^
      makasih ya udah comment + suka karyaku *dan aku LOL XD*

  2. cacaaaaa,,,,ko eomma baca ff ini kya baca cerita nyata yah?aigoo,,itu enhyuk ampe msuk koran pas mninggalnya n itu siapa yg pas endingnya??IU kah??

    sediiiiiiiiiiiihhh,,baguuuuuuuuussss…itu yg bs eomma blg…T_T

    keep writing ya caa,,,,mian eomma br smpet baca ff nya…

  3. ya ampun ff nya keren bgt
    itu siaapa yg baca koran itu
    ya ampun hyukppa kenapa harus bunuh diri 😦

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s