It’s You (OneShoot)

Untitled-1 copy

It’s You

 

Author : erlyRine

 

Main Cast :

  • Choi Minho ‘SHINee’
  • Choi Jinri ‘f(x)’

 

Support Cast :

  • Will be find in the story

 

Genre : Romance

 

Length : Oneshoot

 

Rating : PG-13

 

Disclaimer :

Ide cerita adalah hasil pemikiran saya 100% yang terinspirasi dari berbagai drama yang saya lihat.

 

 

 

 

***

 

Sore itu di balkon rumahnya, yeoja itu merentangkan kedua tangannya, menutup matanya dan menikmati angin pantai yang berhembus dengan sangat sejuknya. Ia membiarkan angin itu menerpa wajah dan rambutnya.

 

“CHOI JINRI!” seru seseorang dari luar kamarnya dan membuatnya menghentikan kesenangannya lalu berbalik menatap ke arah pintu kamarnya.

 

Aish, eomma, kenapa eomma senang sekali menganggu kesenanganku?” gerutunya namun ia tetap berjalan menuju ke arah pintu kamarnya dan membukanya lalu berjalan menemui eommanya.

 

“Jinri, cepat kemari. Ada berita penting untukmu,” kata eommanya itu dengan raut wajah berseri-seri.

 

“Benarkah?” jawab Jinri dan seketika raut wajahnya yang tadinya cemberut berubah menjadi serius dan ia semakin mempercepat langkahnya untuk mendekati eommanya.

 

“Besok ada seorang tamu yang akan datang dari Seoul dan dia menyewamu untuk menjadi tour guide-nya selama ia berada di Pulau Jeju,”

 

Jinjjayo? Apa dia akan tinggal disini?”

 

Ne, selama 6 hari dan dia akan tinggal di kamarmu,” jawab Eommanya yang spontan membuat Jinri langsung menatap eommanya dengan kedua bola matanya yang dibesarkan.

 

“Jangan menatap eomma seperti itu, dia membayar biaya yang cukup besar dan itu berarti kita harus memberikan pelayanan yang terbaik padanya,” tambah eommanya lagi.

 

“Terbaik bukan berarti dengan memberikan kamarku padanya,” jawab Jinri dengan sikapnya yang dengan jelas sangat menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan perbuatan eommanya itu.

 

“Kau tidur di sebelah kamarmu saja,” jawab eommanya lalu berjalan pergi meninggalkannya.

 

Eomma,”

 

Aa, 1 lagi. Eomma mengikuti tour ke HongKong selama 1 minggu dan selama eomma tidak ada berarti kau yang harus melayani tamu itu. Arasso?”

 

Ne,” jawab Jinri lemas sambil menganggukkan kepalanya.

 

***

 

Eomma, jahat sekali, batin Jinri dalam hati sambil membereskan dan merapikan kamar yang akan ditempatinya selama beberapa hari.

 

Ia memindahkan beberapa pakainnya dari kamarnya untuk dimasukkan ke dalam lemari kamarnya yang baru sambil membersihkan debu-debu yang ada di lemari.

 

***

Keesokan paginya,

 

Jinri dengan sigap langsung berlari keluar dari rumahnya sambil berulang kali menatap jam tangan yang ia pakai di pergelangannya. Ia sudah terlambat hampir sekitar 20 menit untuk menjemput tamu yang dimaksud oleh eommanya semalam.

 

Ini semua gara-gara eomma yang memintaku pindah di kamar yang tidak nyaman sehingga aku bisa bangun setelat ini, omelnya dalam hati sambil berlari secepat mungkin.

 

Ketika ia sudah sampai, ia segera menyelinapkan tubuhnya yang mungil itu di antara kerumunan orang-orang yang terlihat tengah menunggu kedatangan pesawat dari Seoul dan tersenyum lega ketika ia mendengar beberapa orang yang mulai mengeluh “Kenapa lama sekali? Sampai kapan kita harus menunggu?”

 

Ia mengelus dadanya karena meskipun ia terlambat, ternyata pesawatnya juga belum tiba-tiba sampai detik ini. Selang beberapa menit kemudian, segerombolan orang keluar dari pintu sambil membawa tas koper yang besar.

 

Ia mengeluarkan karton panjang yang bertuliskan nama Choi Minho karena ia tidak tau dengan jelas bagaimana tampang dari seorang Choi Minho. Lama ia berdiri mematung sambil mengangkat tinggi karton itu, sampai pada akhirnya seorang namja yang berpakaian rapi dan memakai kacamata melihat ke arahnya lalu mendekatinya.

 

“Choii’s Inn?” tanya namja itu padanya,

 

Ne, Choi Minho?” tanya Jinri balik untuk memastikan bahwa namja yang ada dihadapannya ini adalah tamu yang nantinya akan menginap di rumahnya.

 

Namja itu mengangguk lalu menyerahkan koper bawaannya itu pada Jinri dan berjalan keluar meninggalkannya.

 

Mwoya? Dia pikir siapa dia?” gerutu Jinri sambil mengangkat koper milik Minho dan mengikutinya.

 

***

 

Sesuai dengan perintah eommanya, Jinri mengantar Minho sampai ke rumah mereka dengan selamat dan melakukan apa yang diperintah Minho.

 

“Minho ssi, apa kau sedang menikmati liburan di Pulau Jeju?” tanya Jinri untuk memecah suasana hening sejak ia tiba di rumah bersama dengan Minho.

 

“Bukan urusanmu,” jawab Minho dingin dan singkat.

 

Mwoya?” kata Jinri dengan suara yang cukup pelan namun masih bisa di dengar oleh Minho.

 

“Apa kau sudah makan? Apa kau ingin mandi? Atau kau ingin keluar?” tanya Jinri panjang lebar dan berusaha melayani Minho dengan baik.

 

“Bisakah kau berhenti untuk berbicara? Kau terlalu berisik,” jawab Minho lalu bangkit berdiri meninggalkan Jinri yang menatapnya dengan raut wajah yang serius.

 

Jinri  berhenti untuk berbicara lalu mengangguk tanda mengerti.

 

“Di mana kamarku?” tanya Minho dan membalikkn badannya untuk menatap Jinri.

 

Jinri teringat bahwa kamarnya akan digunakan oleh Minho dan ia sangat tidak setuju akan hal itu. “Apa kau yakin kau ingin tidur di kamarmu? Kamarmu adalah bekas kamarku,” kata Jinri berusaha untuk membujuk Minho agar ia tidak mau tidur di kamarnya.

 

“Kamar siapa itu tidak penting,”

 

“Tapi kamarku dipenuhi dengan nuansa yang aneh,” tambah Jinri lagi.

 

“Mengapa kau terlalu berisik? Beritahu saja aku di mana kamarku,” bentak Minho yang membuat Jinri mengelus dadanya karena terkejut.

 

“No 2 dari tangga sebelah kanan, no 1 adalah kamarku. Jika kau butuh apa-apa dapat memanggilku,” kata Jinri tanpa berani menatap kedua mata Minho yang terlihat seperti harimau yang ingin menerkamnya.

 

***

 

Minho berjalan menuju balkon kamarnya dan melihat pemandangan pantai yang menyejukkan mata. Sudah lama ia menginginkan waktu untuk beristirahat sejenak dari kepenatannya selama di kantor juga mengenai masalah Krystal.

 

“Minho ssi,” seru suara seseorang dari balik pintu kamarnya.

 

Minho menghiraukan panggilan itu karena ia merasa bahwa yeoja itu sangat menganggu dirinya dan banyak hal yang tidak ia sukai dari yeoja itu. Yang pertama, yeoja itu terlalu berisik, kedua, yeoja itu sepertinya sangat tidak menyukainya.

 

“Aku mengantarkan vitamin untukmu. Aku akan meletakkannya di depan kamarmu, jangan lupa meminumnya,”

***

 

Baru saja Jinri ingin merilekskan dirinya dengan merebahkan dirinya ke atas kasur, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang yang sudah bisa ia pastikan siapa pengetuk pintu tersebut –Choi Minho—

 

Meskipun dirinya malas untuk melayani Minho, ia tetap bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu untuk Minho. “Ada yang bisa dibantu?” tanya Jinri sambil memasang senyuman terpaksa ketika pintu sudah terbuka dan Minho berdiri di depannya.

 

“Aku lapar,” jawab Minho singkat.

 

“Baiklah, aku akan membuatkan makanan untukmu. Kau boleh turun ke bawah terlebih dahulu,” jawab Jinri dan tanpa anggukan dari Minho maupun jawaban, Minho sudah berjalan terlebih dahulu menuruni tangga tersebut.

 

Huft, Jinri menghela nafasnya sambil menutup pintu lalu memperagakan cara berbicara Minho yang terkesan memerintahnya. “Aku lapar?, apa dia dilahirkan seperti itu? Tidak punya sopan santun? Huh,” kata Jinri yang kesal dengan sikap Minho.

 

***

 

Jinri menuruni tangga lalu berjalan menuju dapur rumahnya untuk membuatkan makanan untuk Minho. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan sebungkus daging sapi yang masih segar lalu membukanya. Ia berencana membuatkan daging sapi asap untuk makan malam Minho dan dirinya.

 

Ketika ia sudah selesai membuat daging sapi asap dan membuat beberapa omelet, ia berjalan ke ruang keluarga dan memanggil Minho yang tengah melihat lurus ke luar jendela. Jinri merasa penasaran dengan apa yang dilihat oleh Minho sehingga ia berjalan mendekati Minho dan berdiri di sampingnya.

 

Lama ia berdiri di samping Minho dan menatap ke arah luar jendela, ia tidak menemukan apapun yang dilihat oleh Minho sehingga ia menolehkan kepalanya untuk menatap Minho dan bertanya padanya “Apa yang kau lihat?”

 

Minho sedikit terkejut ketika mendapati Jinri berada di sampingnya, dari tadi ia memang tidak menyadari bahwa ada seseorang di sampingnya karena pikirannya menerawang jauh ke suatu tempat. “Bukan urusanmu,” jawab Minho dan menatap Jinri dengan dingin.

 

Jinri menatap Minho dengan aneh lalu menggelengkan kepalanya. Ia merasa bahwa Minho sangatlah aneh karena setiap ia berbicara dengan Minho, tak jarang Minho akan menjawabnya dengan dingin.

 

***

 

Suara desiran ombak pantai di malam hari, dapat terdengar dan terlihat dengan cukup jelas dari balkon kamar Jinri. Minho merogoh isi kopernya dan mengeluarkan sebotol wine yang dibelinya tadi saat berada di bandara. Ia berencana untuk menikmati wine ini sambil merasakan suasana pantai di malam hari, juga bermaksud untuk melepaskan semua hal yang sangat menganggu pikirannya.

 

***

 

Malam itu, Jinri benar-benar gelisah. Dalam hidupnya, ia tidak pernah ditinggal berduaan di rumah dengan seorang pria. Bagaimana bila tiba-tiba saja Minho masuk ke dalam kamarnya dengan alasan salah masuk kamar?, “Ah, itu benar-benar gila,” serunya dengan frustasi.

 

Ia menarik nafasnya dalam dan melakukan hal yang sama untuk beberapa kali. “Baiklah, waktunya tidur,” katanya pada dirinya sendiri. Ia memeluk bantalnya dengan erat sambil memejamkan matanya. Hasilnya nihil, ia tetap saja tidak bisa tidur.

 

“Ah, apa yang harus kulakukan?” tanyanya sambil bangkit berdiri dari tidurnya. Ia melangkahkan kakinya dan memutar knop pintunya lalu keluar dari kamarnya.

 

Ia duduk di sofa yang ada di ruang keluarga dan menyalakan TV, tak lupa ia mengecilkan volumenya agar tidak menganggu Minho yang mungkin saat ini sedang tidur.

 

Baru saja ia ingin mengisi waktunya dengan menonton TV di larut malam, ia dikejutkan oleh Minho yang tiba-tiba muncul dan berjalan turun ke bawah. “Apa yang kau lakukan?” tanya Minho.

 

“Aku? Aku tidak bisa tidur dan aku hanya ingin menonton serial drama di tengah malam. Apakah aku menganggumu?” tanya Jinri tanpa mengalihkan pandangannya dari TV saat serial drama sudah mulai tayang.

 

Minho menggelengkan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam dapur dan mengeluarkan sebotol air dingin yang ada di dalam lemari pendingin dan mengambil gelas lalu menuangkannya dan meneguknya dalam sekali teguk. Setelah ia selesai melepas dahaganya, ia berjalan menuju ruang keluarga dan menghampiri Jinri dan duduk bersama yeoja itu untuk menonton TV bersama-sama.

 

Jinri menatap Minho dengan saksama ketika namja itu duduk di sebelahnya. Namun ketika namja itu menatapnya, ia segera menatap lurus ke depan. Meskipun begitu, beberapa kali ia mencoba untuk melirik namja di sebelahnya ini. “Apa kau baru saja meminum wine?” tanya Jinri ketika ia mencium bau wine yang begitu kuat.

 

Minho tidak menjawab Jinri. Ia menatap Jinri sekilas lalu bangkit dari duduknya dan menaiki tangga tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” bisik Jinri sambil menatap Minho yang menaiki anak tangga dengan ekspresi wajah yang datar.

 

***

 

Matahari menampakkan wajahnya dan burung-burung gereja berkicau dengan merdunya menyadarkan Jinri dari tidurnya. Ia menggerakkan badannya dengan mata yang masih terpejam, lehernya terasa sedikit kaku dan badannya terasa pegal.  Ia membuka matanya dengan perlahan dan baru menyadari bahwa ia tertidur di ruang keluarga dengan posisi terduduk.

 

Ia segera bangkit berdiri dari duduknya ketika ia mendengar pintu rumahnya terbuka dan Minho masuk ke dalam rumah dengan dirinya yang segar bugar. “Mian, apa kau pergi sarapan di luar hari ini? Maafkan aku, aku kesiangan,”

 

Minho hanya menatapnya sekilas, lalu berjalan pergi meninggalkannya. Sebelum Minho masuk ke dalam kamarnya, ia berlari dan mencegat langkah Minho dengan berdiri di hadapannya. “Bisakah kau tidak bersikap seperti ini padaku? Bila aku menyinggungmu, katakan saja padaku. Jangan tidak memperdulikanku.”

 

Minho menatap wajah Jinri dalam dan terpancar ketulusan hati Jinri dalam perkatannya melalui sorot matanya. Jinri berbeda jauh dengan Krystal, ketika ia menatap mata Krystal, ia tidak pernah melihat adanya ketulusan dari sorot matanya. Ia menyadarkan dirinya dan berusaha mengalihkan pandangannya dari wajah Jinri dan berkata “Aku hanya ingin menenangkan diriku,”

 

***

 

Minho menatap lurus ke depan dari balkon kamarnya, saat ini ia benar-benar kacau. Ia juga mulai sedikit ragu apakah ia harus menikahi Krystal hanya karena penyakitnya? Ia benar-benar tidak dapat memutuskannya.

 

Krystal memang kekasihnya namun beberapa bulan terakhir ini ia menyadari bahwa perasaannya terhadap Krystal hanya sebatas perasaan kasihan. Janjinya untuk menikahi Krystal juga ia lakukan agar yeoja itu bersemangat menjalani hidupnya dalam menghadapi penyakitnya. Krystal menderita penyakit jantung sejak ia kecil dan hal itulah yang membuat Minho selalu menemaninya.

 

***

Sore harinya, cuaca berubah dengan sangat cepat. Tadi masih bisa terlihat matahari bersinar dengan teriknya, namun saat ini awan gelap dan kilatan cahaya mulai menghiasi langit dan angin pantai yang kuat mulai terasa.

 

Jinri mulai sedikit ketakutan, saat itu ia tengah menyiapkan makan malam. Ia takut dengan hujan dan ia sangat membenci hujan. Ketika suara petir menggelegar, ia menjerit dan bersembunyi di bawah kolong meja dengan memeluk kedua lututnya.

 

Minho segera berlari menuruni tangga ketika ia mendengar suara teriakan Jinri. Ia berjalan menuju dapur dan menemukan kompor yang masih menyala namun tidak ada orang disana. Ia segera mematikan api kompor dan melihat keseliling untuk menemukan Jinri.

 

Karena hujan yang terlalu deras, pemadaman listrikpun terjadi. Jinri langsung menjerit dan menangis ketakutan.

 

Mendengar suara seorang yeoja yang menjerit dan tengah menangis ketakutan, membuat Minho langsung menatap ke bawah kolong meja makan dan ternyata benar, Jinri berada disana dengan ketakutannya. Ia segera mengulurkan tangannya pada yeoja itu dan menarik yeoja itu.

 

Jinri langsung memberikan tangannya, tanpa peduli siapa orang itu dan langsung memeluknya. “Aku takut,” jawabnya.

 

Minho terdiam sejenak, lalu berkata “Beritahu aku dimana ada lampu yang memakai baterai atau sejenisnya,”

 

Jinri menjauhkan dirinya dari Minho lalu menunjuk ke arah lemari yang tepat berada di samping lemari pendingin.

 

Minho berjalan menuju lemari itu dengan bantuan cahaya dari ponselnya. Setelah ia berhasil menemukannya, ia segera menghidupkannya dan membuat Jinri sedikit bernafas lega.

 

“Maafkan aku karena telah menganggumu dan merepotkanmu,”

 

Minho menggelengkan kepalanya lalu menarik tangan Jinri untuk duduk di ruang keluarga. Suasana tetap hening, sehingga masih terdengar dengat sangat jelas suara petir yang membuat Jinri beberapa kali menjerit ketakutan.

 

“Aku benci hujan,” kata Jinri yang menjadi awal pembicaraan mereka. “Appaku kecelakaan ketika hujan turun dan ia melihat petir menyambar tanah sehingga ia berusaha untuk mengelak dari petir itu namun sayangnya mobilnya tergelincir jatuh ke dalam jurang,”

 

Minho mendengar cerita Jinri dengan saksama sambil terus menatap ke arah yeoja itu tanpa ia sadari. “Lalu bagaimana dengan harimu sebelumnya?”

 

“Ketika hujan deras turun dan ada petir, aku akan berada di samping eomma, aku akan memeluknya,”

Jawab Jinri dengan menatap Minho. Ketakutan pada dirinya masih terlihat dengan tangannya yang masih bergetar.

 

Minho meraih tangan Jinri lalu mengenggamnya. “Jangan takut, aku akan menjagamu,”

 

Jinri membalas Minho dengan senyuman lalu berkata “apa kau lapar? Tadi aku sudah membuatkan ramen untuk makan malam kita berdua,”

 

“Itu pasti sudah dingin,” jawab Minho yang diikuti tawa oleh Jinri.

 

***

 

Pagi itu, Minho dibangunkan oleh bunyi ponsel miliknya. Ia meraih ponselnya yang tepat berada di sebelah kanan tempat tidurnya lalu mengangkatnya dengan malas.

 

“Minho, cepatlah kembali, pernikahanmu harus segera dilaksanakan,”

 

Minho langsung mendapatkan kesadarannya danbangkit dari tidurnya, “Waeyo eomma? Apa sesuatu telah terjadi pada Krystal?”

 

Ne, dia masuk rumah sakit lagi hari ini,”

 

“Baiklah, sebisa mungkin aku akan kembali awal esok hari,”

 

Sesuatu telah terjadi pada Krystal, itu artinya bahwa aku harus segera menikahinya bukan?, batinku dengan lemas.

 

***

 

“Pagi, Minho ssi, bagaimana dengan tidurmu? Nyenyak?” tanya Jinri sambil mengoleskan selai ke atas roti tawar dan meletakkannya di atas piring.

 

“Senyenyak dirimu,” jawab Minho dengan senyuman yang dibalas oleh Jinri.

 

“Baiklah, setelah kau selesai menikmati makananmu, aku akan mengajakmu berkeliling pantai ini,” jawab Jinri sambil memberikan segelas susu segar pada Minho.

 

***

 

Minho menatap Jinri yang tengah berbicara padanya dari kejauhan dan terlihat cukup senang berada di pantai ini. Ia tidak mendengar apa perkataan Jinri, ia hanya menatap yeoja itu. Ia mulai merasakan bahwa ia telah menaruh hatinya pada Jinri.

 

“Ya, apa kau mendengarkanku?” tanya Jinri yang tiba-tiba berada di sampingnya dan mengejutkannya. “Kau sedang memikirkan apa?”

 

Dengan gerakan cepat, Minho langsung menggelengkan kepalanya dan bertanya “Apa yang tadi kau katakan?”

 

“Aku suka dengan pasir dan ombak pantai, bagaimana kalau kita bermain?” tanya Jinri dan tanpa aba-aba dari Minho ia langsung menarik Minho untuk merasakan air pantai.

 

Awalnya Minho terkejut ketika Jinri tiba-tiba saja melempar pasir ke arahnya. Namun, akhirnya ia tersenyum dan membalas yeoja itu dengan melempar pasir ke arahnya.

 

Mereka berdua terlihat bahagia dengan permainan mereka dan tak jarang terlihat senyuman terukir di wajah mereka masing-masing. Setelah lelah bermain, mereka merebahkan tubuh mereka di atas pasir di dekat pantai, membiarkan air pantai membasahi tubuh mereka.

 

“Minho ssi, apakah kau bahagia?” tanya Jinri.

 

Ne,” jawab Minho sambil melirik sekilas ke arah Jinri.

 

“Tentu saja, aku juga sangat bahagia hari ini,” jawab Jinri.

 

“Bagaimana kalau aku pergi besok? Apakah kau akan sedih?” tanya Minho yang tiba-tiba membuat Jinri menatapnya tanpa berkata apa-apa. Tapi tak lama kemudian Minho tertawa dan membuat Jinri ikut tertawa tanpa mengetahui apa hal yang sedang mereka tertawakan tersebut.

 

Tentu saja aku akan sedih, batin Jinri.

 

***

 

Malam harinya, setelah menyelesaikan makan malam mereka, baik Minho dan Jinri berada di ruang keluarga dan menonton TV bersama-sama. Suasana hening, masing-masing terlarut dengan setiap adegan drama yang ditayangkan.

 

“Jinri,” panggil Minho yang hanya dijawab oleh  Jinri dengan “Uh,”

 

“Maafkan aku karena telah menyakitimu di awal pertemuanku denganmu,” kata Minho yang langsung membuat Jinri mengalihkan pandangannya dan menatap Minho dengan saksama.

 

Waeyo? Apa kau mau pergi?” tanya Jinri dan raut wajah khawatir mulai terlihat di wajahnya.

 

Anni, hanya ingin meminta maaf saja,” jawab Minho singkat lalu tertawa.

 

“Aku kira..” Jinri bernafas lega lalu melanjutkan perkataannya “Kau membuatku ingin menangis di awal pertemuan kita, kau menatapku seperti seakan-akan ingin memakanku,” jawab Jinri dan memperagakan gaya Harimau yang sedang menerkam mangsanya.

 

“Jinri, mungkin ini terkesan tidak masuk akal namun aku benar-benar mencintaimu. Saranghaeyo,” kata Minho dan langsung bangkit berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Jinri.

 

Jinri seakan tidak percaya dengan apa yang barusan saja ia dengar, Minho mengatakan bahwa dia mencintai dirinya. Aku juga merasakan hal yang demikian, nado saranghae, batinnya.

 

***

Jam sudah menunjukkan pukul 11 pagi dan Minho belum juga keluar dari kamarnya. “Apa dia ketiduran?” bisiknya sambil berjalan menaiki tangga dan mengetuk pintu kamarnya berkali-kali.

 

Hasilnya nihil, tidak terdengar sahutan maupun balasan dari dalam kamar itu. Dengan modal keberanian, Jinri memutar knop pintu kamarnya dan ia sangat terkejut ketika tidak menemukan Minho di dalamnya.

 

Di atas tempat tidurnya, ia melihat selembar kertas yang dilipat dan segera mengambilnya.

 

Jinri,

Gumawo buat semua perhatianmu padaku

Aku harus kembali hari ini,

Maafkan aku, karena pergi tanpa sepengetahuanmu

Aku sangat ingin bisa tinggal disini bersamamu,

Tapi kita tidak bisa

Aku harus segera kembali,

Aku juga harus menikah

Seseorang membutuhkanku

Maafkan aku karena tidak memberitahumu tentang hal ini

 

Choi Minho

 

Jinri memegang surat itu dengan tangan bergetar dan tanpa ia sadari air matanya mulai jatuh membasahi pipinya dan kertas yang ada di tangannya. “Bagaimana kau bisa berbohong kepadaku? Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku dan kau ingin menjagaku, tetapi kau pergi meninggalkanku. Wae?” serunya.

 

***

 

Begitu tiba di Seoul, Minho langsung memanggil taksi dan meminta ahjussi pengemudi taksi itu mengantarnya ke rumah sakit tempat Krystal dirawat.

 

Ketika sampai ia langsung memberikan ahjussi itu beberapa lembar uang won tanpa peduli berapa sebenarnya biaya taksi itu. Ia memasuki rumah sakit itu dengan langkah terburu-buru.

 

Ia menyusuri koridor rumah sakit dan menuju ke ruang UGD. Dari kejauhan, ia bisa melihat eommanya yang tengah berada di depan ruang UGD. Raut wajah eommanya terlihat cemas. Ia segera menghampiri eommanya dan memeluknya. “Nak, segeralah temui Krystal, ia di dalam. Keadaannya bertambah parah,”

 

***

“Minho oppa, kaukah itu?” kata Krystal. Wajahnya terlihat pucat  dan ia sudah sedikit kesulitan dalam berbicara.

 

Minho mengenggam tangan Krystal lalu mulai meneteskan air matanya melihat keadaan Krystal yang sudah bertambah parah.

 

Oppa, uljima,” kata Krystal dan berusaha menghapus air mata Minho dengan sisa tenaganya.

 

Tubuhnya sudah semakin lemah dan beberapa dari sarafnya sudah mulai tidak bekerja, itulah keadaan Krystal sekarang yang cukup memperihatinkan.

 

Oppa, aku ingin membatalkan pernikahan kita,” kata Krystal yang suaranya hampir tidak terdengar lagi karena kekuatannya mulai melemah.

 

Minho menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya “Wae? Bukankah kita sudah mempersiapkan semuanya?”

 

Krystal memaksakan dirinya untuk tersenyum dibalik dukanya lalu berkata “Oppa tidak mencintaiku kan? Aku tidak ingin penyakitku yang mempersatukan kita. Tetapi aku ingin cinta kita,”

 

Minho terdiam. Memang benar semua yang dikatakan oleh Krystal. Ia tidak berani mengelak namun ia juga tidak berani mengiyakan. Ia hanya bisa menangis melihat keadaan Krystal.

 

“Kau tidak terlihat seperti namja ketika kau menangis,” kata Krystal.

 

“Jagalah orang yang kau cintai dengan baik, oppa saranghae..” dan setelah selesai mengatakan hal demikian Krystal mulai menutup matanya dan tertidur untuk selama-lamanya.

 

***

3 bulan kemudian,

 

Jinri berusaha sekuat dirinya untuk melupakan Minho karena kini Minho sudah memiliki kehidupannya yang baru.

 

Jinri berjalan keluar dari rumahnya dan bermain ke tepi pantai berhubung cuaca hari ini sangatlah baik. Saat ia merentangkan tangannya dengan lebar dan membiatkan angin pantai menerpa wajahnya, seseorang memeluknya dari belakang dan berkata “Bogoshipoyo,”

 

“Minho,”gumamnya dan segera berbalik dan ternyata benar orang yang memeluknya adalah Minho. Ia segera melepaskan pelukan Minho dan menjauh darinya. “Apa yang kau lakukan?”

 

“Aku? Tentu saja aku datang mencarimu,” jawab Minho dengan sebuah senyuman yang mengembang di wajahnya.

 

“Aku membencimu. Kau pembohong. Kau sudah menikah. Jadi, jangan pernah mengangguku lagi,” jawab Jinri dan langsung berlari pergi meninggalkan Minho.

 

Sebelum Jinri berlari terlalu jauh, Minho menangkap tangannya dan berkata “Aku belum menikah namun aku akan menikah,”

 

“Menikah atau tidak, itu bukan urusan yang harus kucampuri. Kita tidak mempunyai hubungan apapun,” jawab Jinri dengan tegas.

 

Chakkaman, kenapa kau seperti ini? Apa kau tidak ingin tau dengan siapa aku akan menikah?” tanya Minho berusaha menggoda Jinri.

 

“Tidak!” jawab Jinri ketus.

 

Minho mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya dan memasangkannya di jari manis tangan kirir Jinri.

 

Jinri terkejut dengan perlakuan Minho. “Ya, apa yang kau lakukan?”

 

“Aku akan menikahimu,” jawab Minho sambil tersenyum manis lalu memeluk Jinri dengan erat.

 

Ya, Lepaskan!” berulang kali Jinri memukul punggung Minho. Namun, pada akhirnya ia tersenyum dan berkata “Kau tidak berbohong padaku kan? Kau tidak akan meninggalkanku lagi?”

 

“Aku akan…” jawab Minho sambil melepas pelukannya dan menatap kedua bola mata Jinri “Aku akan pergi kalau kau menolakku,”

 

THE END

 _________________________________________________________________________________________

AN : Hello..

Leave ur comment ya!

Cerita ini aku post di blog tempat aku bekerja..

jadi kalau ada ketemu cerita yang serupa dengan author erlyRine, berarti it’s me..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

22 thoughts on “It’s You (OneShoot)

  1. keren ceritanya….lagi suka banget ama nih couple krn nonton TTBY..
    seneng deh liat mereka berdua..pengennya sih jd real couple ^^

    • ah sama… *high Five*
      aku juga suka sama couple ini..
      Pengen mereka jadi real sih, Cuman katanya dikehidupan nyata mereka hanya kayak kakak adik n pas ada setiap event mereka jarang banget kelihatan bersamanya..
      Huhuhuhu

  2. Hooo daeeebbaakk ‘-‘)b ..aku suka bgt minsul kapell..ciyusan dah(?) *plak* hhaha.. Aku punya rp dan ngerpin sulli dan aku jd pengen bgt punya kapel minho pas ngeliat ini ff.. *plak* *guesarap* *guecurcol* miann bnyk omong gajelas.. Akoh lg galo *plak* *guecurcollagi-_-* ya pokoknya kerenn summpfeehh…

    • ah, sama dong kalau keq gitu *tos*
      awalnya aku biasa saja sama couple ini, tapi gra” nonton To THe Beautiful You, aku jadi ngeship mereka dan berharap mereka bersama.. keke

  3. Ahhh seneng ngeliatt ff minsulll so sweet banget aku Ƙɪ̣̇ƦǍ” bakal sad end ehh ternyata happy end
    Suka-suka DAEBAKK

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s