WELCOME TO MY HALF HOUSE!!! [CHAPTER 4]

Poster by: Art Factory

Author : Nanairu (Jin Hyun)

Title: Welcome To My Half House!!!

Main Cast : Kim Sera (OC), Byun Baek Hyun (EXO-K), Oh Sehun (EXO-K)

Length: Chaptered (On-Going)

Genre : Romance, Comedy (maybe, tergantung selera org lucu ato gak)

Rating/Pairing: Teenager

Disclaimer: All the casts are from God except the OC is my imagination and the storyline too.

PROLOG | Part 1 | Part 2 | Part 3

Sera menaruh tas di atas meja belajar dan meregangkan tubuhnya. Senyumannya berkembang ketika dia mengingat kejadian tadi siang. Kejadian itu berputar di benaknya seperti sebuah film yang ditayangkan di layar bioskop.

Oh Sehun, kata Sera dalam hati.

Nama itu terus terngiang di kepalanya. Seperti ada angin yang menggelitik wajahnya ketika dia terus menerus mengulang nama itu. Tanpa dia sadari, kini dia sudah memegang kedua pipinya. Tersenyum-senyum sendiri. Sera menggeleng kecil untuk menyadarkan dirinya ke dunia nyata.

Lebih baik aku mandi dulu, kata Sera dalam hati.

Setelah 10 menit, Sera keluar dari kamar mandinya. Dia mengeluarkan pakaian tidur dari lemari baju dan melemparkannya ke atas tempat tidur. Baru sesaat dia berjalan menuju tempat tidur, tiba-tiba dinding kamarnya roboh. Sera terkejut dan menoleh. Dilihatnya seorang namja dari balik dinding itu dengan pose sedang memotret. Kini dirinya menjadi shock melihat pose namja itu.

“KYAAAAAA!!!!” teriaknya.

Dengan spontan Sera melemparkan segala barang yang dilihatnya. Bantal, guling, buku, kotak pensil, bahkan tasnya sendiri dilemparnya ke namja yang dianggapnya mesum itu. Baek hyun menahan semua barang-barang yang dilempar ke arahnya dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangan lainnya memegang kamera.

“Ya!…Ya!…Ya!” teriak Baek hyun sambil terus mengelak.

“Mesum! Mesum! Yadong! Orang mesum!” Sera terus melempar barang-barang di dekatnya. Bahkan tumpukan baju tidur yang diambilnya pun dia lempar.

“Ya! Y-“ perkataannya terputus ketika setumpuk pakaian mengenai wajahnya. Dia mengambil baju yang menutupi wajahnya itu dan melihat sebuah bra di depannya. Baek hyun menaikkan sebelah alisnya, menatap Sera.

“Y-YA! Yadong!” teriak Sera sambil buru-buru mengambil bra yang dipegang Baek hyun.

Baek hyun mendengus. “Seleramu kekanak-kanakan.”

“YA! KAU SENDIRI YANG MESUM! YADONG!!!” kini Sera benar-benar kesal. Sudah diintip, dipotret, dan sekarang dikatai pakaian dalamnya kekanak-kanakan? Yeoja mana yang tidak kesal diperlakukan seperti itu oleh namja.

“Sera ya, ada apa? Kenapa dari tadi kau berteriak mesum?” terdengar suara Mr.Kim dari luar pintu kamar Sera. Saking shocknya, dia bahkan tidak mendengar suara appanya menaiki tangga.

“A-a-aniyo, appa!” teriak Sera.

Baek hyun yang kini berada di hadapan Sera tersenyum miring dan berbalik. Dia berjalan menuju kursi belajarnya dan duduk.

“Ada orang mesumkah?!” tanya Mr.Kim khawatir.

“A-ani, appa!” Sera kini membentuk mulutnya mengucapkan kata ‘ohtokke’ ke Baek hyun. Namun Baek hyun hanya cuek dan melihat-lihat gambar di kameranya.

“Sera! Ada apa! Cepat kasi tau appa!”

“A…a…a…aniyo, appa. Cho-cho-chogi…Ah! Tadi ada yang telepon! Iya, iya! Tadi ada yang telepon. Biasa, orang iseng.”

“Gurae? Tidak ada apa-apa?”

“De! Gurae!”

“Kau harus hati-hati. Banyak stalker yang berkeliaran.”

“Ne!”

Setelah memastikan bahwa appanya tidak ada lagi di sana, Sera langsung menghampiri Baek hyun.

“Ya! Beraninya kau memotretku, yadong!” kata Sera sambil menunjuk Baek hyun.

Baek hyun menghela napas dan menatap Sera. “Kau mau bicara dengan keadaan seperti itu?”

Sera menundukkan kepala melihat keadaannya yang hanya memakai sehelai handuk. Kini dia merasa salah tingkah.

“Tung-tung-tunggu di sini!” kata Sera dan dia segera berlari ke kamar mandi sambil membawa baju tidurnya.

~~~

Sera melipat tangannya dan menatap namja dihadapannya dengan kesal. Namja yang ada dihadapannya kini sedari tadi duduk di kursinya sambil melihat-lihat gambar di kameranya tanpa mempedulikan Sera yang sudah 5 menit berdiri dihadapannya. Bisa-bisanya namja ini memasang wajah tak bersalah setelah memotret dirinya, pikir Sera.

“Ck! Ya! Beraninya kau memotretku!” kata Sera akhirnya.

“Aku tidak memotretmu,” kata Baek hyun tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

“Terus yang tadi itu apa? Sudah jelas kau memotretku ketika aku ganti baju. Kalau bukan motret, terus namanya apa?!”

Baek hyun kini menatap Sera tajam. “Aku benar-benar tidak memotretmu. Aku hanya mengecek kameraku dan dinding itu jatuh sendiri. Aku bahkan tidak tahu kau lagi pakai baju.”

“Mana bisa aku percaya kata-katamu?! Jelas-jelas kau memotretku!”

“Ck! Sudah berapa kali kubilang aku tidak memotretmu!”

“Kalo gitu, sini kameranya! Biar kuhapus semua foto tadi!” kini Sera menengadahkan tangannya, meminta kamera yang dipegang Baek hyun.

“Shireo! Tidak ada fotomu disini!”

“Kalau tidak ada, kenapa kau tidak mau memberikannya?!”

Baek hyun hanya diam. Wajar saja jika dirinya tidak mau memberikan kamera itu pada Sera. Dia sangat menyayangi kamera itu dan dia tidak mengijinkan siapa pun menyentuhnya.

“Cepat berikan kamera itu! Palli!”

“Ck! Shireo!”

“Terus kenapa kau tak mau memberikannya?! Dasar yadong!”

“SHIREO! SUDAH KUBILANG TIDAK ADA! DAN AKU TIDAK BERMAKSUD MEMOTRET ATAU MENGINTIPMU! DINDING ITU JATUH DENGAN SENDIRINYA!” teriak Baek hyun sambil menatap Sera tajam. Dia benar-benar sudah marah.

Baru pertama kalinya Sera ditatap setajam itu oleh Baek hyun. Walaupun Baek hyun sering menatapnya tajam, tapi tatapannya tidak pernah setajam sekarang. Sera bisa melihat keseriusan dan kejujuran dari tatapan itu. Berarti Baek hyun benar-benar tidak bermaksud untuk memotret atau mengintipnya. Dia terdiam dan menundukkan kepalanya, takut dengan Baek hyun yang ada di hadapannya sekarang.

Baek hyun menghela napas dan meletakkan kameranya di atas meja. Kemudian dia berjalan keluar dari kamar dan membanting pintunya. Sera yang mendengar suara bantingan yang keras itu berjengit. Dia berjalan menuju dinding yang tergeletak di lantai itu. Dilihatnya dinding itu sekarang sudah terbelah dua. Dia berjongkok dan menghela napas.

“Apa yang harus kulakukan dengan ini?” gumamnya.

~~~

Sera terbangun dan melihat kamarnya yang kini sudah bergabung dengan kamar lainnya tanpa penyekat apapun diantaranya. Dinding yang terbelah dua itu masih tergeletak di lantai. Tidak berpindah sama sekali dari tempatnya semalam. Sera menghela napas melihatnya.

Sepertinya Baek hyun benar-benar marah semalam, pikirnya.

Sera beranjak dari tempat tidurnya. Diintipnya kamar yang bersebelahan dengannya itu. Mencari-cari pemilik kamar tersebut. Tidak ada jejak ataupun keberadaan pemilik kamar itu. Melihat dia tidak menemukan hasil, akhirnya Sera beranjak ke kamar mandi.

Mungkin di sekolah saja, pikirnya.

~~~

Sera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang disebut kantin itu. Sesekali dia berjinjit untuk melihat apakah namja itu ada di tengah kerumunan yang sedang mengantri.

Kali ini harus berhasil, kata Sera dalam hati.

Pandangannya terhenti pada sosok seorang namja yang berjalan keluar dari kantin. Kedua tangan namja itu dimasukkan ke dalam saku celananya. Seperti biasa, banyak cewek yang menatapnya namun tidak ada satupun yang berani menyapanya. Dengan cepat Sera langsung mengejar namja itu hingga ke lorong sekolah.

“Baek hyun ah!” seru Sera sambil berlari kecil mengejar namja dihadapannya.

Melihat orang yang dipanggilnya tidak merespon, Sera menyamakan langkah kakinya hingga sejajar dengan namja itu.

“Byun baek hyun!” panggil Sera. Kali ini lebih keras.

Baek hyun tidak menghiraukan panggilan itu dan terus berjalan dengan langkah yang lebar.

“Baek hyun, apa yang sebaiknya kita lakukan dengan dinding itu? Tidak mungkin kan kita berbagi ka-“, perkataan Sera terpotong ketika Baek hyun menoleh dan menatapnya tajam.

“A-aku rasa kita harus melakukan sesuatu dengan dinding i-“

Tiba-tiba Sera merasa tangannya tertarik. Apakah ini mimpi? pikir Sera. Tidak! Tentu saja dia tidak bermimpi. Saat ini Baek hyun sedang menarik tangannya dan membawanya ke suatu tempat. Rasanya aneh bagi Sera ketika Baek hyun menarik tangannya. Biasanya dia akan membentak atau mengusirnya.

Baek hyun melepaskan pegangannya ketika mereka telah sampai di halaman belakang sekolah yang sepi. Sera mengerucutkan bibirnya sambil mengelus pergelangan tangan yang ditarik Baek hyun tadi. Dia ragu memulai perkataannya.

“Baek-“

“Jangan membawa masalah itu ke sekolah!” kata Baek hyun tanpa membalikkan badannya.

“Tapi kurasa din-“

“Soal itu bisa kita bicarakan di rumah!” kini Baek hyun berbalik dan menatap Sera.

“Tapi tadi kau tidak ada di rumah.”

“Jangan…pernah…mengungkit…masalah ini di sekolah!,” perlahan-lahan Baek hyun mendekati Sera.

“Dan jangan pernah mengajakku bicara atau menyapaku, arra?!” kata Baek hyun tegas sambil menunjuk Sera tepat di wajahnya.

“Wae?” tanya Sera. Apa salahnya jika dia menyapanya? Toh mereka sudah kenal ditambah lagi mereka sekelas.

“Aku tidak suka ada orang yang mencampuri urusanku. Terutama kau,” kata Baek hyun sembari berjalan meninggalkan Sera.

Sera memutar bola matanya. Dia berbalik dan melihat punggung Baek hyun yang semakin menjauh itu.

Sejak kapan aku mencampuri urusannya? pikir Sera.

~~~

“Ohtokke?” tanya Sera sambil menunduk. Dia melihat punggung namja yang ada dihadapannya.

Baek hyun yang berjongkok membelakangi Sera sedang berkutat dengan sesuatu di depannya. Dia mencoba menyambungkan dinding atau lebih tepatnya triplek yang terbelah dua itu seperti sedang menyusun puzzle. Akhirnya Baek hyun menghela napas.

“Tidak ada cara lain. Dinding ini gak bisa disambung,” kata Baek hyun.

“Jadi gimana? Masa kita harus berbagi kamar?” bahu Sera merosot.

Berbagi kamar lagi? pikirnya. Dan hal itu bukan untuk semalam melainkan untuk seterusnya selama dia tinggal di rumah ini. Oh, tidak! Itu akan sangat berbahaya. Baru semalam Baek hyun melihatnya sedang memakai baju. Jika terus begini, entah apa yang akan terjadi padanya.

“Apa kau tidak bisa pikirkan cara lain?” tanya Sera.

“Ck! Kalau sudah, aku tak perlu susah-susah begini!” jawab Baek hyun.

“Ohtokke…”

“Ada barang yang bisa dijadikan penyekat atau pembatas?”

Sera menghela napas dan melihat jendela.

“Mana mungkin a-,” perkataan Sera terputus. Matanya membesar ketika melihat jendela dihadapannya. Dia segera menoleh dan menatap Baek hyun.

“Gorden!” serunya.

“Mwo?” tanya Baek hyun malas sambil menoleh, menatap Sera.

“Kau ada penggantung gorden?”

“Penggantung gorden? Sepertinya ada.”

“Bagus! Gorden tak terpakai ada?”

“Aku gak yakin…,” Baek hyun berpikir. “Jangan-jangan kau…”

“Ya, kita pakai gorden buat jadi penyekat. Aku tidak terpikir cara lain, cuma ini.”

“Nado. Kalau gitu aku ambil penggantung gorden. Kau tunggu di sini dan jangan keluar dari kamarku!” kata Baek hyun sambil berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya.

“Ck! Ommamu tak ada di rumah bah,” gumam Sera sembari mengerucutkan bibirnya.

Beberapa saat kemudian, Baek hyun datang dengan membawa sebuah tangga dan penggantung gorden berwarna kuning keemasan. Dia meletakkan penggantung gorden itu di lantai dan membuka tangga yang terlipat itu.

“Aku tidak ada gorden, kau?” tanya Baek hyun.

“Sepertinya aku ada. Aku cek dulu,” jawab Sera seraya berjalan keluar kamarnya.

“Kunci kamarmu ketika kau keluar,” kata Baek hyun.

Sera membuka pintu kamar dan memasukkan kepalanya.

“Appaku tidak ada di rumah,” kata Sera sembari menjulurkan lidahnya. Kemudian dia menutup pintu.

Aku tidak mau appamu tiba-tiba pulang dan masuk ke kamarmu, babo! kata Baek hyun dalam hati.

Sera menuruni tangga dan berlari kecil menuju gudang di bawah tangganya. Dia membuka pintu gudang yang hanya berukuran setengah badannya itu dan mencari-cari barang yang diperlukannya. Diambilnya setumpuk kain yang tidak terlalu berdebu itu. Ditepuk-tepuknya kain itu.

Rasanya sudah lama ketika gorden ini dipakai, kata Sera dalam hati. Gorden itu adalah jahitan ommanya sendiri. Namun sejak ommanya meninggal, gorden itu sudah tidak dipakai lagi karena appanya selalu sedih ketika melihat gorden itu. Rasa kangen menyelimuti Sera. Dia tersenyum melihat gorden itu.

Cukup nostalgianya, Sera! Kau harus kembali atau Baek hyun akan membentakmu karena kelamaan, pikir Sera. Kemudian dia kembali ke kamarnya.

~~~

Baek hyun menunduk ketika pintu kamar itu terbuka. Tampak seorang yeoja masuk dengan membawa gorden berwarna kuning dengan motif kupu-kupu di tangannya. Setelah memastikan orang yang masuk ke kamar itu adalah orang yang ditunggunya, Baek hyun kembali melanjutkan aktivitasnya memasang penggantung gorden.

“Aku cuma ada gorden ini,” kata Sera ketika dia sudah berada di dekat Baek hyun.

Sera menengadahkan kepalanya. Bisa dilihatnya posisi Baek hyun sekarang bisa membuat yeoja manapun mati telak dihadapannya. Baek hyun berdiri diatas tangga sambil memasang penggantung gorden dengan serius. Well, bukan itu yang dilihat Sera. Melainkan leher jenjang dan bahu Baek hyun yang lebar itu. Selama ini Sera tidak pernah memperhatikannya. Namun kepala Baek hyun yang menengadah itu menampakkan seluruh lehernya.

Sera menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tidak pernah merasa seperti ini terhadap namja manapun. Seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya dan membuatnya susah bernapas. Apakah saat ini dirinya berpikiran yadong? Jangan, Sera! Kamu bukan orang mesum! teriak Sera dalam hati.

Dengan keras Sera menggelengkan kepalanya. Berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran tersebut.

“Ya! Kau napain di situ? Sini gordennya!” seru Baek hyun seraya menatap Sera.

Sera tersentak dari lamunannya. Dengan canggung dia menyerahkan gorden yang dipegangnya sedari tadi ke Baek hyun. Pikiran-pikiran tadi masih menghantuinya.

Baek hyun mengambil gorden itu dan memasangnya. Sedangkan Sera duduk di pinggir tempat tidurnya, melihat gorden itu terpasang. Kenangan-kenangan yang terbenam di benaknya kini menyeruak ketika melihat gorden itu. Sera tersenyum melihatnya.

Setelah selesai, Baek hyun mengembalikan tangga ke gudang dan kembali ke kamarnya. Sedangkan Sera menarik gorden itu hingga kamar Baek hyun tidak terlihat lagi didepan matanya. Kini tampak didepannya sebuah siluet seorang namja yang sedang berdiri di balik gorden itu.

“Ya! Kunci pintu kamarmu sebelum dan sesudah kau keluar dari kamar! Jangan sampai ada orang yang tahu soal ini!” kata namja itu dari balik gorden.

“Arraseo…,” jawab Sera.

Keduanya mematikan lampu kamar dan berjalan ke tempat tidur masing-masing. Sera memandang langit-langit kamarnya.

“Baek hyun…,” panggilnya.

“Mmm…,” jawab Baek hyun dari kamarnya.

“Jaljayo…,” kata Sera tanpa dibalas Baek hyun.

~~~

Sera menatap dinding dihadapannya dengan tatapan kosong. Saat ini jiwanya seperti tidak berada di dalam tubuhnya. Untuk kesekian kalinya dia menghela napas dan menunduk. Dia menatap buku yang terbuka dihadapannya, berharap jika dia bisa menemukan jawabannya. Sudah sejam dia berada di perpustakaan itu hanya untuk memecahkan 1 soal yang susahnya minta ampun. Segala rumus dan cara dia keluarkan, namun tetap tidak ada jawabannya.

“Arrgh!!! Kenapa soal ini sulit sekali?!! Mana beranak lagi soalnya,” kata Sera.

Sera menjambak rambutnya sendiri, frustasi. Tiba-tiba seseorang duduk didepannya. Menghalangi pandangan matanya terhadap tembok perpustakaan itu. Dia membelalakkan matanya, melihat namja yang bersinar bagai malaikat dihadapannya. Seperti biasa, sinar matahari yang menimpa kulit namja itu membuatnya semakin tampan.

Oh Sehun…,bisik Sera dalam hati.

Sehun tersenyum melihat Sera. “Kita ketemu lagi.”

Sera mengerjapkan matanya. Perlahan dia turunkan tangan yang menjambak rambutnya dan menyisir rambut dengan jari-jarinya. Dia menundukkan kepalanya, malu dengan posisinya tadi.

“Kau tampak…sangat…berantakan…,” ucap Sehun sambil mengamati Sera.

Sera mendongakkan kepalanya. Dia menaikkan kedua alisnya, bingung dengan ucapan Sehun.

“Maksudku, kau tampak frustasi.” Sehun tersenyum simpul.

“Aku sedang mengerjakan tugasku. Daripada itu, apa yang kau lakukan disini? Kau berniat tidur lagi?”

Sehun tertawa. Sesaat Sera serasa ingin terbang melihat namja itu tertawa.

“Aniyo, aku mencari buku dan melihatmu. Kau lucu sekali.”

Mendengar itu Sera merasa pipinya memanas. Dia menundukkan kepalanya. Berusaha agar Sehun tidak melihatnya.

“Kau seperti mayat tak bernyawa. Lalu sedetik kemudian, kau berbicara sendiri dan menjambak rambutmu. Beberapa orang tadi mengiramu gila,” lanjutnya sambil tertawa.

Jadi, dari tadi Sehun melihat semuanya?! pekik Sera dalam hati.

Sera merasa sangat malu dan semakin menundukkan kepalanya. Dia mencengkeram ujung rambutnya.

“Ohtokke…???” bisik Sera pada dirinya sendiri.

Tanpa sepengetahuan Sera, Sehun menatapnya sedari tadi. Dia tersenyum melihat tingkah yeoja dihadapannya ini. Menurutnya itu sangat lucu.

“Tugas apa yang kau kerjakan?” tanya Sehun sembari menarik buku Sera dan memutarnya sehingga dia bisa melihat tulisan-tulisan dan rumus-rumus yang tertulis di sana.

Sera mendongakkan kepalanya. Dia melihat buku yang kini telah berada di depan Sehun.

“Fisika”, jawabnya.

Sehun melihat seluruh isi buku itu. Membaca bahkan mulutnya berkomat kamit sedikit membaca soal di dalamnya. Kemudian dia meletakkan buku itu dan melihat Sera.

“Ini gampang sekali. Apa yang membuatmu tidak bisa mengerjakannya?” tanya Sehun
sembari menaikkan salah satu alisnya.

Sera terbelalak mendengarnya.

Gampang?!!! teriaknya dalam hati. Sudah sejam dia memandang soal itu dan dia tidak bisa mengerjakannya. Sekarang Sehun mengatakan bahwa soal itu gampang?! dirinya benar-benar shock saat ini.

“Perlu kuajari?” tanya Sehun sambil mengamati wajah Sera yang diam mematung itu. Dia tidak mengetahui kalau Sera saat ini sedang shock.

“M-mwo?” Sera tersadar dari keterkejutannya. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap buku yang kini sudah disodorkan kehadapannya. “De…”

Sehun tersenyum. Dia memiringkan buku yang ada dihadapan Sera sehingga mereka berdua bisa melihat isi buku itu.

~~~

“Maaf, tapi perpustakaan akan tutup,” kata seorang pustakawan.

Sera memandang Sehun kemudian melihat bukunya. Mereka baru mengerjakan setengah dari 1 soal itu.

“Ohtokke?” tanya Sera sambil melihat Sehun.

“Aku mau mengajarimu. Tetapi malam ini aku ada janji,” jawab Sehun.

Sera menghela napas. Dengan berat hati dia membereskan buku-bukunya.

“Bian…,” kata Sehun sambil membantu Sera.

Sera menggelengkan kepalanya sedikit. “…Gwenchana…”

Setelah selesai membereskan barang-barang Sera, mereka berjalan keluar menuju gerbang sekolah.

“Perlu kuantar?” tanya Sehun begitu mereka berada di depan gerbang.

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri,” jawab Sera. Dirinya tidak mau merepotkan Sehun.

“Jinjja?” tanya Sehun meyakinkan.

“De,” jawab Sera yakin, walaupun sebenarnya ada sedikit keinginan dirinya diantar Sehun.

“Ok. Aku pulang dulu. Josimhaseyo!” Sehun melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan Sera.

Sera melambaikan tangan dan berbalik. Dia menghela napas.

Aku harus mengerjakannya sendiri, pikirnya.

~~~

“Ohtokke~?!” kata Sera putus asa.

Sudah berkali-kali dia mencoba untuk mengerjakannya, tetapi hasilnya tetap nihil. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Membenamkan wajahnya di atas tempat tidurnya yang empuk itu sambil menggoyangkan kakinya seperti anak kecil yang sedang merengek.

“Aa…Ohtokke…?!”

“Ya! Kau berisik sekali!” seru Baek hyun sambil menyibakkan gorden yang membatasi kedua kamar mereka.

Sera menoleh dan memandang Baek hyun.

“Bagaimana aku bisa santai kalau tugasku saja belum selesai…,” kata Sera memelas.

“Dikerjakan saja! Beres, kan?”

“Tapi soalnya susah sekali!”

“Babo! Soal itu tidak susah-susah banget. Sama kayak matematika.”

Sera mendongakkan kepalanya. “Tugasmu sudah selesai?”

“Hampir selesai jika kau tidak ribut dari tadi,” jawab Baek hyun kesal.

Mendadak Sera seperti mendapatkan suatu ide. Kini dia telah duduk di atas tempat tidurnya.

“Bantu aku!” serunya semangat.

“Shireo!” jawab Baek hyun singkat.

Baek hyun hendak kembali ke kamarnya ketika Sera memegang tangannya. Dia berhenti seketika dan memandang Sera yang kini berlutut didepannya.

“Bantu aku, please?” kata Sera memelas.

“Shireo!” Baek hyun menghempaskan tangan Sera dari tangannya dan berjalan menuju meja belajar.

Sera menghela napasnya kecewa. Dia tahu tidak segampang itu meminta Baek hyun untuk mengajarinya. Tapi dia tidak menyerah semudah itu. Baginya tugas fisika jauh lebih penting saat ini, karena dia tidak mau dihukum oleh guru fisika yang terkenal killer di sekolahnya.

Begitu Baek hyun duduk untuk melanjutkan tugas yang terpotong tadi, Sera sudah berlutut di samping kursinya. Dirinya dibuat terkejut oleh kemunculan Sera yang tiba-tiba.

“Wae?” tanya Baekhyun tajam.

“Aku mohon bantu tugasku. Jebal…,” mohon Sera.

Baek hyun menatap Sera dengan tajam.

“Please…,” Sera mohon dengan puppy eyesnya.

“Sekali aku bilang tidak ya tidak!” seru Baek hyun, kemudian dia mulai melanjutkan tugasnya.

~~~

“Please…please…Ayolah…”

Sera terus memohon-mohon sambil menggoyangkan tangan Baek hyun. Beberapa kali dia mondar mandir memohon di samping kiri maupun kanan Baek hyun. Baek hyun yang sedari tadi terganggu dengan sikap Sera sudah tidak tahan lagi. Dirinya sudah mencapai batas.

“Tidak bisakah kau diam?!!!” bentak Baek hyun.

“Tidak bisa. Aku akan diam kalau ke mengajariku,” kata Sera enteng.

Baek hyun memutar bola matanya. “Kau mengancamku?”

“Aku tidak mengancam. Aku hanya mengajukan persyaratan.”

Baek hyun menghela napas. Sepertinya tidak ada cara lain untuk membuat yeoja ini diam, pikirnya.

“Arraseo,” kata Baek hyun akhirnya.

“Jinjja?! Kalo gitu aku ambil bukuku,” seru Sera senang.

 

……TBC……

akhir na ku post jg lanjutan na. jujur aja akhir2 ini aku sibuk sx. mo lanjutan chapter 6 na aj dh stgh mti neh. nyari wktu yg sempat. kl buru2 slsi kn tkt na ntar mlh gk kerasa feel na. aku capek secara fisik dan mental saat ini. pgn bgt sehari aja istirahat. sibuk kuliah sih… -.-”

skian aja sih curcol na. menghilang dulu ya. *sembunyi di belakang baekhyun

Your comments are my oxygen

Best regards,

nana

Advertisements

6 thoughts on “WELCOME TO MY HALF HOUSE!!! [CHAPTER 4]

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s