(4/?) A Fortunate Coincidence

tumblr_lfhoxivvpz1qcntwzo1_500

Title     :  A Fortunate Coincidence

Author : Summercat

Cast     :  Kris Wu , Jung Soojung

Genre  : Romance , Humor

Rating  : PG

Type : Chaptered

Length : 1.153 words

Author’s note : What will happen to kris and krys? 😉

 

*Soojung

 

“Datang ke apartemenku. Sekarang juga.” Suara berat dari calon boss ku menghancurkan rencana hari mingguku yang cantik. Ayolah, kami saja belum mendiskusikan soal gaji, boleh kan aku belum menganggapnya “calon boss” bukan “boss”.

Aku menghela nafas begitu mengingat apa saja yang akan kulakukan hari ini. Hari ini hari minggu, wajar kan jika aku ingin menghabiskan waktu luangku sepuas-puasnya tanpa diusik orang lain? Kuulangi, tanpa diusik orang lain sekalipun dia adalah bossku. Ugh, menjadi boss secara resmi saja tidak dan dia sudah memerintah seenaknya.

“Diam berarti tidak. Yasudah, kau ditolak untuk bekerja dengan–”

“Beritahu alamatmu dan aku akan datang.” Aku memotong kalimat penolakan darinya.

“Tapi boss..”

“Ya?” Ujarnya dengan nada riang. Sialan.Aku memang belum melihatnya, tapi aku yakin sekarang dia sedang tersenyum penuh kemenangan.

“Lain kali biarkan anak buahmu libur. Hari minggu itu hari libur.”

“Whatever.” Ujarnya singkat.

Aku membelalakkan mata mendengar responnya. Aku memejamkan mata berharap agar aku cukup kuat menahan emosi. Aku benar benar berharap calon boss ku ini berwajah tampan. Benar benar tampan sampai aku tidak merasa menyesal telah bekerja dengannya.

“Datanglah ke star sharp city apartment no 505. Kau tahu kan apartment itu?”

Aku langsung membeku mendengar alamat yang ia beri.

Apartment star sharp city apartment no. 505

Dan aku mengingat ulang alamat rumahku.

Apartment  star sharp city apartment  no. 504

Seketika emosiku memuncak.

Seseorang pasti mengacaukan sambungan teleponku.

Dan aku tau pasti itu siapa.

—-

*Kris

” Datanglah ke star sharp city apartment no 505. Kau tahu kan apartment itu?”

“Hmm..”Gumam gadis itu pelan. Aku mengernyit begitu mendengar suara sambungan telepon kami terputus. Dia memutus telepon. Tidak sopan sekali dia, aku kan bossnya.

Aku menggedikkan bahu. Yang penting hari ini gadis itu akan menuruti perintahku. Semua perintahku. Ahh keputusan untuk mencari asisten di koran memang tidak salah.

Aku melepas white plain t-shirt ku dan sweat pants yang basah karena kegiatan mencuci besar besaran tadi seraya melemparkannya ke tumpukan bedcover basah di pojok kamar mandiku. Aku tersenyum senang, hari minggu yang indah sudah terbayang di otakku.

Tepat setelah aku mengganti baju suara gedoran di pintuku terdengar.Suara gedorannya begitu keras sampai aku merasa agak takut. Apakah ada polisi yang datang? Rasanya aku tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aku bergegas memakai pakaianku yang kering seraya berlari kecil menuju pintu. Kubuka pintu apartmentku dan tepat di depan pintu berdiri gadis yang membawa sial itu.

“Mau apa kau dii–”

“BERANI BERANINYA KAU MENGACAUKAN SALURAN TELEPONKU.”

Gadis itu masuk tanpa izin dan langsung menuju diriku. Belum sempat aku membalas ucapannya tangan gadis itu sudah mencengkram leherku. Nafasku tertahan begitu merasakan cengkramannya yang makin lama semakin kencang.

“Kau tidak tau aku susah mencari pekerjaan. Saat tadi aku menelepon untuk menawarkan diri untuk menjadi asisten seorang photographer tak terbayang betapa bahagianya aku. Tapi aku sudah curiga begitu dia menyuruhku untuk bekerja di hari minggu. Dan ternyata aku benar, kau ternyata menyadap teleponku dan berpura pura menjadi kris wu.”

Mata gadis itu menusuk mataku dengan tajam. Aku mulai merasa nyeri dengan cengkramannya berusaha melepaskan tangannya dariku. Tapi semakin kuat aku berusaha melepaskan jarinya semakin kuat kukunya menancap di leherku.

“Ya.. Kau.. Uhuk le-lepasss.”Ujarku tersengal sengal.

Cengkramannya melonggar.

“Sebelum aku membunuhmu. Jelaskan bagaimana kau bisa menyadap teleponku dan apa motifmu melakukan hal itu?” Gadis itu mendesis kesal. Aku meringis , dia terdengar seperti medusa.

“Aku kris wu.”

Mata gadis itu membulat sesaat, tapi kemudian dia menggelengkan kepala tidak percaya. Perlahan cengkramannya lepas dari leherku.

“Psycho.” Gumamku pelan

Gadis itu mendengus dan tersenyum sinis. Tangannya kini menyilang di depan dada. Mata tajamnya tak sedetikpun lengah dan terus menatapku.

“Tidak mungkin.”

“Mungkin”

“T-t-tapi photographer itu pasti berumur 20 akhir atau diatasnya. Mana ada photographer professinal seumurmu.”

“Memang kau kira aku umur berapa?”

“18.”

“Pffft..” Aku terkikik geli mendengar pernyataanya. Bibir gadis itu melengkung ke bawah, tidak suka dengan reaksiku. Aku berdehem untuk meredakan tawa dan langsung menatapnya (lebih tepatnya menunduk untuk menatapnya).

“Salah. Umurku 22. Dan kau juga salah. Tidak semua photographer professional itu tua.”

Lengkungan di mulutnya semakin ke bawah. Dan kini ditambah dengan alisnya yang menyatu karena dahinya mengerut. Aku menggigit bibir untuk menahan tawa. Dia terlihat menggelikan.

“Mana tanda pengenalmu.”

Segera aku mengambil dompet dan mengeluarkan tanda pengenalku. Disana terdapat fotoku disertai data diriku. Hanya orang bodoh yang tidak bisa menerima bahwa aku bukan kris wu. Kuserahkan tanda pengenalku kepada gadis itu. Dan kau tau? Melihat reaksi gadis itu adalah tontonan yang amat sangat menyenangkan.

Mulutnya membuka lebar. Sangat amat lebar,mungkin sekepal tanganku bisa masuk ke dalam mulutnya.Matanya menatapku kemudian menatap kartu yang ada di tangannya berulang kali. Aku menyilangkan tangan seraya menampilkan senyumku yang paling lebar.

“Senang bertemu dengan anda, asisten baru.”

“…”

Senyumku makin melebar, mataku sampai menyipit saking lebarnya senyumku sekarang.

“Bisakah anda bekerjaa sekarang, nona….”

“J-j-ung. Na-namaku Jung Soojung.” Ujarnya tergugup. Aku menggedikkan bahu dan berjalan meninggalkannya menuju kamar mandi.

Terdengar suara langkah kaki terburu buru di belakangku. Dia mengikutiku.

Haahh.. Betapa indahnya hari minggu ini..

*Soojung

“M-maafkan soal yang tadi. Aku benar benar tidak menyangka. Kau tau kan karena insiden semalam aku berpiki–” ujarku sambil berlari kecil mengikutinya. Langkahnya yang panjang dan cepat membuatku sulit mengimbanginy.

“Lupakan kejadian semalam. Bisa?” Laki laki itu (yang baru saja kuketahui bernama kris) berhenti mendadak dan langsung berbalik. Aku yang tidak menyangka dengan berhentinya dia langsung menabrak tubuhnya. Aku merutuki diriku sendiri yang terlalu ceroboh.

“M-m-maaf. Baiklah tuan.. Maksudku boss.. Maksudku..”

“Panggil aku kris. Gampang kan?”

Aku mendongak menatapnya dan terkejut begitu menyadari bahwah tubuhku dengannya terlalu dekat. Aku mundur beberapa langkah. Begitu melihat memar merah di sekitar lehernya aku meringis. gadis bodoh.

“Maafkan aku soal yang tadi.” Guimamku sambil menggigit bibir.

Kris yang menyadari maksudku langsung meraba lehernya. Dia menggedikan bahu seraya kembali memunggungiku dan berjalan menuju suatu ruangan.

“Soal memar di leherku itu urusan nanti. Yang penting sekarang kau lakukan tugas pertamamu.” Ujarnya seraya membuka pintu sebuah ruangan yang aku tak tau itu ruangan apa.

Begitu pintu itu terbuka terlihat setumpuk kain putih, sebuah baju, dan sweat pants. Terdapat noda kuning pudar yang besar di kain putih tersebut. Aku langsung mendengus begitu mengingat mengapa warna kuning itu bisa mengotori kain putih itu.

“Tak usah tertawa dan bersihkan kain itu.”

Tawaku langsung mereda mendengar perintahnya. Aku menghela nafas, kenapa harus aku yang mencucinya? Tapi begitu mengingat bagaimana aku hampir membunuhnya tadi rasa bersalah langsung menghantuiku. Aku mengangguk pelan dan menunduk.

“B-baik.”Ujarku lirih. Kuintip ekspresi wajah lelaki itu dengan ujung mataku. Ia tersenyum. Sangat lebar.

“Bagus.”

“Dan satu lagi nona jung.”

“Ya?”

“Berbicaralah dengan jelas dan lantang. Jangan menggumam seperti itu.”

“Eh?”

“Karena ..”

Kris berjalan mendekatiku dan memainkan ujung rambutku.Ia mengelilingiku dan menatapku dengan senyumannya yang memuakkan. Aku menelan ludah dan menahan nafas. Dia menunduk dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Bau tajam parfum bvlgari memenuhi rongga hidungku. Nafasnya yang hangat menggelitiki pipiku. Matilah aku.

“.. jika kau berbicara lirih dan terus bergumam seperti itu aku jadi harus sedekat ini untuk mendengar ucapanmu.” Bisiknya seraya meniup lubang telingaku. Aku memejamkan mataku karena terkejut, tawa darinya membahana seketika.

Laki laki ini benar benar gila.

Advertisements

3 thoughts on “(4/?) A Fortunate Coincidence

  1. hyahahahaha..
    Poor krys.. Kebayang bagaimana reaksinya pas tau kris wu itu tetangganya.. Hahaha..
    Kerja di hari minggu, nyuci bekas ompol pula.. Mending ompol bayi, ini ompol……
    Wkwkk..
    Next..

  2. jujur, bingung mau comment apa. yang jelas ini ngocak min, tapi agar meringis dikit sih pas adegan dicekek dan kuku…yeah you know. jangan ada kekerasan lagi please 😦 wkwk, tapi secara keseluruhan bagus kok min. HWAITING ketoc!

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s