WELCOME TO MY HALF HOUSE!!! [CHAPTER 5]

Poster by: Art Factory

Author : Nana

Genre : Romance, Comedy (maybe, tergantung selera org lucu ato gak)

Length: Chaptered (On-Going)

Cast :

Kim Sera (OC)

Byun Baek Hyun (EXO-K)

Oh Sehun (EXO-K)

“Ya! Sudah berapa kali kubilang dikalikan dengan gaya!” teriak namja itu.

Sera menghela napasnya. Entah sudah keberapa kalinya dia dibentak seperti ini. Dirinya berusaha untuk mencerna apa yang diajarkan Baek hyun. Namun apa daya, otaknya memang tidak dirancang untuk hitung-hitungan. Untuk kesekian kalinya dia mencoba bersabar dan menulis rumus-rumus yang diajarkan Baekhyun.

“Ck! Ya! Rumusnya salah! Hukum Newton I! Rumus Newton I!”

Akhirnya Sera sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia menghentakkan pensilnya dan menatap Baekhyun tajam.

“Ya! Tidak bisakah kau ajari dengan cara yang lebih halus?!” bentak Sera.

“Halus?! Aku sudah mengajarimu dengan cara halus!”

“Tapi gak perlu teriak-teriak gitu!”

“Dengan otakmu yang kayak gitu, gimana aku gak teriak?!” Baekhyun menghela napas. “Apa yang ada di otakmu?! Diajarin ratusan kali gak ngerti-ngerti!”

“Bukan salahku kalo aku gak bisa hitung-hitungan!”

Sera mengerucutkan bibir sambil memutar-mutar pensilnya.

“Jadi kau mau kuajari atau tidak?” kata Baekhyun ketus.

“De! Tapi tidak pakai teriak!”

“Tergantung kaunya,” Baekhyun menutup bukunya.

“Kau sudah selesai?” tanya Sera sambil melihat buku yang ditutup Baekhyun.

“Dari tadi. Kau saja yang kelamaan. ”

Sera menatap Baekhyun tajam. Namja dihadapannya ini benar-benar menyebalkan! pikirnya.

“Ya! Apa lihat-lihat?! Kau mau diajari atau tidak?!”

Sera menghela napas. Mau tidak mau dia harus menuruti Baekhyun jika dia ingin tugasnya selesai.

~~~

Setelah 2 jam berlalu, akhirnya penderitaan yang dialami Baekhyun selesai. Dirinya tidak habis pikir, manusia mana yang mengerjakan 1 soal fisika dalam waktu 2 jam? Baginya mengajari orang selama itu sangatlah menyiksa. Belum lagi kadar otak orang yang diajarinya.

“Akhirnya selesai juga,” kata Sera sambil menghela napas. Dia membaringkan kepalanya di atas meja. “Ini menyiksaku.”

Baekhyun yang mendengar itu memutar bola matanya, menatap Sera.

“Tersiksa?!” serunya. “Harusnya aku yang tersiksa karena mengajarimu hal yang sama berulang kali!”

Sera balik menatap Baekhyun tajam. “Ya! bukan salahku kalo aku gak ngerti!”

Baekhyun mendengus dan berdiri. Dirinya tidak mau terlibat lagi dalam adu mulut dengan Sera.

“Kembalilah ke kamarmu. Aku capek,” katanya sembari berjalan menuju tempat tidurnya.

“Gomawo,” kata Sera sambil tersenyum.

Baekhyun berbalik dan menatapnya tajam. ”Jangan kira aku rela melakukan ini.”

Sera mengerucutkan bibir sambil membereskan buku-bukunya. Dia menengadah. Dilihatnya jam dinding yang terpampang di atas meja belajar itu.

“Omo! Sudah jam 12?!” serunya terkejut.

“Ya! Jangan lupa kursimu,” kata Baekhyun yang kini sudah berbaring di atas tempat tidur.

“De…,” jawab Sera malas sembari menarik kursi menuju kamarnya.

~~~

“Aish! Ini gara-gara aku tidur telat semalam,” gerutu seorang yeoja sambil berlari sekuat tenaga.

Yeoja itu, Sera berlari sebisanya untuk mencapai garis finish didepan matanya. Garis finish yang berupa sebuah gerbang yang hendak tertutup itu. Kini dirinya merasa sedang dalam turnamen lari jarak jauh yang diadakan untuk wanita. Sedikit lagi, pikirnya. Hampir saja dia mencapainya ketika gerbang itu tiba-tiba tertutup rapat tepat dihadapannya. Dia membelalakkan matanya, terkejut.

Sedikit lagi! Sedikit lagi gerbang itu… Ck!, pikir Sera kecewa.

“Ahjussi! Buka pagarnya!” serunya sambil menggoyang-goyangkan pagar tersebut. Berharap dengan begitu pagarnya bisa terbuka.

“Sudah jam masuk! Terpaksa kau harus mengikuti anak lain yang terlambat,” kata ahjussi yang merupakan satpam sekolah itu.

Sera menolehkan kepalanya. Dilihatnya beberapa namja dan yeoja yang memakai seragam sekolah sama sepertinya sedang berlutut dengan kedua tangan dibelakang mereka. Seorang songsengnim bertubuh besar menatap semua murid dihadapannya dengan garang sambil membawa rotan. Sera melihat pemandangan itu dengan tatapan ngeri. Apa yang akan terjadi pada dirinya jika dia berada diantara murid-murid itu? tanyanya dalam hati. Apakah dirinya masih bisa hidup setelah mendapat hukuman dari songsengnim yang mengerikan itu?

“Andwe! Ahjussi, biarkan aku masuk, ya? ya?” mohonnya sambil memasang wajah memelas.

“Peraturan tetap peraturan! Terpaksa kau harus menjalani hukuman,” kata ahjussi itu tegas.

“Ahjus-,” tiba-tiba perkataannya terpotong oleh seorang namja.

“Ahjussi! Buka pagarnya!” seru namja itu.

Sera menoleh dan melihat namja yang telah berdiri di sampingnya itu. Seorang namja yang berkulit putih bagaikan patung berseni kelas tinggi itu memegang pagar sama seperti dirinya. Napas namja itu terengah-engah menunjukkan bahwa namja itu baru saja berlari estafet sedari tadi.

Sera membelalakkan matanya terkejut. Dirinya mematung melihat namja dihadapannya. Tanpa disadarinya, namja itu, Oh Sehun menoleh dan menatapnya.

“Kau terlambat juga?” tanyanya.

Sera tersadar dari lamunannya. “D-de…”

“Ahjussi! Beri kami keringanan, Ahjussi kan tau betapa sibuknya kami,” mohon Sehun.

“Tak peduli kalian siapa, peraturan tetaplah peraturan!”

Sehun menghela napas. “Ck! Ahjussi itu tidak bisa diajak kompromi.”

Sera mengangguk kecil.

Sehun berpikir sebentar kemudian mendecakkan lidahnya. “Tidak ada jalan lain. Kajja! Ikut aku!” seru Sehun sembari berjalan ke bagian belakang sekolah.

“De? Kau mau kemana?” tanya Sera sambil berjalan mengikuti Sehun.

“Kita masuk lewat halaman belakang,” jawab Sehun.

“Mwo?”

Mereka berjalan hingga sampai ke bagian belakang sekolah. Kini tampak dihadapan mereka sebuah pagar tinggi yang terbuat dari jaring-jaring kawat.

“Gimana caranya kita masuk?” tanya Sera.

“Lewat sini,” jawab Sehun sambil berjalan mendekati ujung pagar itu.

Tampak sebuah lubang pada sudut pagar tersebut. Sehun membungkuk dan masuk melewati lubang itu.

“Kau tidak mau masuk?” tanya Sehun ketika dirinya telah berada dibalik pagar.

“D-de!” jawab Sera dan dia membungkuk, melewati lubang tersebut.

Setelah Sera melewati pagar tersebut, mereka berdua berjalan menyusuri halaman belakang sekolah menuju koridor dimana kelas mereka berada.

“Darimana kau tahu ada lubang seperti itu di sekolah?” tanya Sera.

“Itu karena aku yang membuatnya,” jawab Sehun enteng.

“Mwo?”

“Tanpa sengaja aku melubanginya ketika bermain sepak bola. Aku melubanginya dalam sekali tendangan.”

Sera membelalakkan matanya. “Kuat sekali kau,” katanya.

“Aku terlalu bersemangat waktu itu. Ketika aku mau mencetak gol, bolanya melewati gawang dan mengenai pagar itu. Aku sendiri terkejut dengan tenagaku.”

Sera mengangguk-angguk kecil.”Apa yang membuatmu bersemangat waktu itu?”

“Hmm…,” tampak Sehun sedang berpikir.

Tanpa terasa mereka telah berjalan hingga ke koridor dimana kelas mereka berada. Sehun berbalik dan melihat Sera.

“Aku masuk dulu ya,” kata Sehun tanpa melanjutkan kata-katanya tadi dan meninggalkan Sera yang masih bertanya-tanya.

~~~

Bel sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Satu persatu murid mulai meninggalkan kelas. Namun ada beberapa yang masih berada dikelas tersebut walaupun sebenarnya mereka enggan untuk berada disana saat itu juga. Mereka terpaksa berada di kelas itu karena peraturan dan jadwal yang mengharuskan mereka untuk berada di sana dan membersihkan kelas tersebut. Salah satu dari yeoja itu, Sera sedang menyapu di sudut kelas. Sesekali dia mengecek laci-laci meja, melihat apakah ada sampah didalamnya.

“Piket lagi, piket lagi,” gerutunya.

Sera membungkuk ketika dirinya mencapai meja terakhir di kelas itu. Dia mengecek laci meja tersebut dan melihat sebuah headset berwarna hitam disana. Diambilnya headset itu dan diamatinya.

Milik siapa ini? tanyanya dalam hati.

Dia mengangkat headset itu dan bertanya,”Punya siapa ini?”

Semua murid yang berada di kelas itu memandangnya dan menggeleng. Salah satu dari mereka bertanya,”Ketemu dimana?”

“Disini,” jawab Sera sembari menunjuk meja dihadapannya.

“Kurasa punya Baekhyun. Itukan tempat duduknya.”

“Baekhyun?” Sera menaikkan alisnya.

Dia melihat meja dihadapannya dan mengingat-ingat kejadian ketika pertama kali dia menyadari keberadaan Baekhyun di kelasnya. Jika dirinya tidak salah ingat, memang inilah tempat duduknya.

Kukembalikan saja di rumah, pikir Sera.

Sera memasukkan headset itu kedalam tas dan kembali melanjutkan aktivitas piketnya yang tertunda.

~~~

Baekhyun melemparkan tasnya ke atas tempat tidur. Dia melepaskan blazer sekolahnya sambil berjalan mendekati gorden yang memisahkan kamarnya dengan kamar yeoja itu. Disingkapnya sedikit gorden itu sambil mengamati seluruh ruangan yang berada di depan matanya. Memastikan bahwa pemilik kamar itu sedang tidak berada disana. Dirinya sangat tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi. Kejadian dimana pertama kalinya tembok kamarnya dirobohkan oleh seorang yeoja. Setelah memastikan bahwa pemilik kamar itu tidak berada disana, dia segera mengganti seragamnya dengan pakaian rumah.Setelah mengganti pakaiannya, Baekhyun meraih kameranya yang terletak di atas rak.

Baekhyun tersenyum tipis sambil melihat kamera itu.”Lebih baik aku mencuci ini dulu,” gumamnya.

Kemudian dia berjalan menuju pintu yang berada di samping kamar mandi dan membukanya.

~~~

Sera menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia meregangkan tubuhnya hingga terdengar suara-suara tulang dari tubuhnya.

“Akhirnya selesai juga,” katanya pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara ringtone keluar dari handphone pink miliknya. Sera melihat nama seorang namja yang tertera di sana dan mengerutkan keningnya.

“Ahjussi?” gumamnya.

“Yeoboseyo?” kata Sera begitu dia menjawab panggilan itu.

Terdengar suara seorang ahjussi dari seberang.

“Jadwalnya berubah? Jadi 3 hari?!” seru Sera terkejut. “Gimana bisa?!”

Ahjussi yang menelepon Sera itu menjawab dan menjelaskan sesuatu padanya.

Sera menghela napas. “Baiklah. Beritahu pihak sekolah aku absen selama 3 hari. Kapan pemotretannya dimulai?”

Hening sesaat kemudian Sera menjawab,”Baik. Lusa pagi kutunggu. Bye.”

Terdengar suara bahwa sambungan telepon itu telah diputus. Sera merebahkan tubuhnya dan menghela napas. Aku harus mengepak baju, katanya dalam hati. Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Dibukanya lemari pakaian itu sehingga menampilkan sederet baju-baju miliknya. Sera memegang dagunya sambil menelaah baju-baju yang tergantung itu.

“Baju apa yang sebaiknya kubawa ya? Bentar lagi musim dingin. Apa kubawa yang tebal saja ya?” gumam Sera.

Sera mengeluarkan beberapa helai baju musim dingin dan musim gugurnya kemudian melemparkannya ke atas ranjang. Ditariknya kursi rias miliknya dan dia berdiri diatasnya. Dia mengambil sebuah koper berwarna hitam di atas lemari. Kemudian dia turun dan meletakkan koper itu di atas lantai. Dibukanya reseleting koper itu.

Sera berdiri dan menatap pakaian-pakaian yang ditaruhnya tadi. Diambilnya salah satu pakaian tersebut. Dia berjalan menuju cermin yang terpasang di lemari dan menempelkan pakaian itu pada tubuhnya. Sera mengerucutkan bibirnya, melihat-lihat apakah pakaian itu cocok untuknya. Beberapa saat kemudian dia menggeleng dan mengambil pakaian lainnya.

Setelah memutuskan baju mana yang akan dibawanya, Sera memasukkan pakaian-pakaian itu kedalam koper dan menutupnya. Kemudian dia mengambil sebuah buku note kecil berwarna pink di atas meja rias. Dibukanya buku itu dan dia melihat langit-langit kamarnya, berpikir.

Apa yang selanjutnya kubawa ya? pikirnya.

“Ah! Handuk, sabun, shampoo, conditioner, sikat gigi, odol, facial wash, masker, pembalut…,” serunya sambil menuliskan satu persatu barang-barang yang hendak dibawanya itu.

Tiba-tiba dirinya teringat pada kejadian di kelas tadi. Diambilnya tas dan dikeluarkannya headset berwarna hitam itu dari dalam tasnya. Dia berjalan menuju gorden pembatas di kamar dan membukanya. Sera melongokkan kepalanya dan mencari-cari pemilik kamar minimalis dihadapannya. Dilihatnya tas yang tergeletak di atas tempat tidur dan seragam yang berada di keranjang pakaian kotor.

Sepertinya dia sudah pulang, pikir Sera. Tapi dimana? Apakah di bawah?

Kemudian matanya tertuju pada sebuah pintu yang berada disebelah kamar mandi.

Apakah dia di dalam? Tidak ada salahnya mengecek bukan? pikirnya.

Sera melangkahkan kakinya perlahan, memasuki kamar milik namja itu. Dia berjalan menuju pintu yang berada di sebelah kamar mandi itu dan membukanya. Dia melongokkan kepalanya ke dalam ruangan di balik pintu itu. Tampak di hadapannya sebuah ruangan dengan pencahayaan remang-remang berwarna merah. Sera memicingkan matanya dan menangkap beberapa siluet perabot yang berada di ruangan itu.

Kenapa disini remang-remang? Mataku sakit melihatnya, kata Sera dalam hati.

Dia mencari-cari benda yang bernama saklar di dinding sebelahnya dan menyalakannya. Seketika itu juga ruangan itu menjadi terang dan menampakkan isi ruangan itu seluruhnya.

Baekhyun yang hendak menggantung foto yang telah dicucinya itu berhenti ketika menyadari ruangan itu terang seketika. Dia menoleh dan melihat Sera berdiri di ambang pintu ruangan itu.

“Y-YA! Apa yang kau lakukan?!” bentaknya.

“Aku cuma nyalakan lampu,” jawab Sera polos.

“Maksudku kenapa kau menyalakannya?!”

“Gelap sekali, aku tidak bisa melihat.”

“Ck! Kau merusak fotoku!” Baekhyun berjalan mendekati Sera.

“Foto?” tanya Sera bingung. “Lalu apa yang kau lakukan di ruangan seremang itu?!”

“Ck! Bukan urusanmu! Sekarang keluar!”

“Wae?”

“Keluar!” seru Baekhyun sembari memutar tubuh Sera dan mendorongnya keluar dari ruangan itu.”Sudah berapa kali kubilang jangan pernah menggangguku!”

“Ya! Aku gak mengganggumu!”

“Masuk ke kamar orang seenaknya apa itu namanya bukan mengganggu?!” Baekhyun menutup pintu dibelakangnya.

“Aku mencarimu karena mau mengembalikan ini!” Sera menyodorkan headset yang sedari tadi dipegangnya.

Baekhyun menatap headset yang disodorkan itu dan mengambilnya. Kemudian dia berjalan menuju meja belajarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Ya! Gak ada ucapan terima kasih?! Aku sudah mengembalikan headsetmu!” teriak Sera begitu melihat sikap Baekhyun.

Baekhyun meletakkan headset itu di atas mejanya. Kemudian dia menatap Sera malas.

“Haruskah aku mengucapkan kata ‘terima kasih’ setelah apa yang telah kau lakukan di ruang gelap tadi?!”

“Ruang gelap?” tanya Sera. Dirinya mengingat kejadian tadi. menurutnya hal itu tidak salah. Dia merasa ruangan itu kurang penerangan dan matanya sakit melihat sesuatu dengan penerangan seperti itu.

“Aku tidak melakukan kesalahan apapun tadi! Aku hanya menyalakan lampu! Dan kau seharusnya berterima kasih ketika seseorang mengembalikan barangmu! Tidakkah kau diajari ommamu sopan santun?!” teriak Sera.

“Ya! Kau berisik sekali!” bentak Baekhyun sambil menatap Sera tajam. Untuk remaja seumurnya, tentu dia tahu bagaimana caranya bertata karma. Tapi dia tidak suka ada orang yang mengganggu ketenangannya terutama ketika dirinya sedang melakukan hal yang disukainya. Ditambah lagi orang itu membawa-bawa ommanya dalam masalah tata krama.

“Sejak kau pindah ke sini, hidupku gak pernah tenang! Tidak bisakah kau menghilang walau hanya sehari saja?!” lanjut Baekhyun.

Sera terkesiap mendengar hal itu. Untuk pertama kalinya selama dia hidup ada orang yang tidak menginginkan keberadaannya, bahkan menyuruhnya menghilang.

Sera menelan ludahnya dengan susah payah. “We-well, keinginanmu akan terwujud sebentar lagi,” katanya.

“Baguslah kalo begitu,” kata Baekhyun sembari berjalan menuju ruang gelap tanpa memandang Sera.

“Kapan? Aku harap secepatnya,” lanjutnya ketika tangannya sudah memegang ganggang pintu.

~~~

Bel tanda istirahat berbunyi. Beberapa murid keluar dari kelas 2-3, beberapa ada juga yang tinggal. Salah seorang yeoja yang merupakan murid kelas itu menghela napasnya. Yeoja itu menatap mejanya dan menggerutu tidak jelas sedari tadi.

“Orang itu benar-benar gak tau tata krama ya?” gerutunya. “Aissh, jinjja!”

Tiba-tiba terdengar suara seorang namja. “Kim Sera! Tolong antarkan ini ke meja Lee sonsangenim!” seru namja yang merupakan ketua kelas itu.

Yeoja yang dipanggil Kim Sera itu tersentak dan mendongak. “De…” jawabnya.

~~~

Sera menyusuri koridor dengan susah payah. Tumpukan buku yang dibawanya itu sangatlah berat. Sesekali dia memiringkan kepalanya untuk melihat koridor yang ditutupi tumpukan buku yang dibawanya agar dirinya tidak menabrak sesuatu atau seseorang di koridor itu. Entah mengapa koridor yang dilaluinya saat ini sangat panjang. Tiba-tiba dia menabrak sesuatu yang sangat keras didepannya. Begitu keras tabrakan itu hingga dirinya harus terjengkang kebelakang.

“Aw!” serunya.

Sedetik kemudian Sera tersadar bahwa ada orang lain yang juga mengerang kesakitan. Dia melihat namja dihadapannya yang juga jatuh sama seperti dirinya. Sera terdiam melihat namja dihadapannya. Bahkan rasa sakit yang menyerang pantatnya itu tidak dihiraukannya.

Bahkan dalam keadaan jatuh pun dia tetap tampan, kata Sera dalam hati.

Namja yang berada dihadapannya itu hendak berdiri, namun gerakannya terhenti ketika melihat Sera.

“Kau lagi,” kata namja itu.

“Sehun-ah…,” bisik Sera. Tiba-tiba dirinya tersadar dari lamunannya.”Gwen-gwenchana?”

“Gwenchana,” jawab Sehun sambil berdiri dan menepuk sedikit celananya yang kotor. “Do..gwenchana?”

“Na…gwenchana…,” Sera mendirikan tubuhnya dengan susah payah. Sekarang rasa sakit yang tadi hilang kembali muncul. “Ah…”

Melihat itu, Sehun mengulurkan tangannya untuk membantu Sera untuk berdiri.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya ketika melihat tumpukan buku yang berserakan di lantai.

“Membawa buku ke ruang guru,” jawab Sera sembari berlutut untuk mengumpulkan buku-buku yang jatuh itu.

Melihat itu, Sehun ikut berlutut dan membantunya.”Sebanyak ini?”

Sera mengangguk.

“Sini, biar aku bawa setengah,” tawar Sehun begitu tumpukan buku yang tadi berserakan telah disusun kembali.

“Aniyo. Biar aku sendiri.”

“Gwenchana, biar kubantu. Kebetulan aku juga mau ke ruang guru,” Sehun mengambil setengah tumpukan buku itu dan berjalan, diikuti oleh Sera.

“Ada apa ke ruang guru?” tanya Sera.

“Minta ijin.”

“Ijin? Kau sakit?”

“Tidak. Aku ada urusan,” jawab Sehun sambil membuka pintu yang ada dihadapannya begitu mereka telah sampai ke tempat yang dituju.

“Urusan? Jigeum?”

“Ani. Untuk besok.”

Besok? pikir Sera. Belum sempat Sera bertanya, mereka telah sampai pada meja Lee sonsaengnim. Sehun meletakkan tumpukan buku yang dibawanya di atas meja begitu juga dengan Sera.

“Aku duluan ya,” kata Sehun.

“De,” jawab Sera. Matanya mengikuti gerakan Sehun yang berjalan menuju meja lain di ruangan itu.

~~~

“Handuk…sudah. Sabun…sudah. Sikat gigi…sudah. Terus…,” gumam Sera sambil mencentang daftar barang yang tertulis di buku notenya. Dia menoleh dan melihat barang-barang di dalam kopernya.

“Perjalanan ke sana cukup panjang. Perlukah aku bawa buku ato headset?” Begitu dia mengatakan kata ‘headset’, dirinya teringat akan kejadian menyebalkan semalam.

Sera menggaruk kepalanya.”Aissh…Napa aku keingat itu lagi?! Benar-benar menyebalkan!”

Sera menghela napas panjang. Seharian ini dia tidak mengobrol sama sekali dengan Baekhyun. Jangankan mengobrol ataupun adu mulut seperti biasanya, saling menyapa pun tidak. Well, mungkin yang saling menyapa itu perlu diralat. Mereka tidak pernah saling menyapa. Bahkan dia merasa bahwa Baekhyun tidak melihat dirinya di kelas.

Sera menoleh, menatap kesal gorden yang berada di tengah ruangan yang besar itu. Apa sih yang dipikirkan namja itu? pikirnya. Tidak bisakah dia mengatakan sesuatu atau mengucapkan kata ‘hati-hati’? Atau setidaknya ucapan ‘selamat tinggal’ aja. Sera memantapkan dirinya. Dia beranjak dari tempat duduknya dan menyibakkan gorden di hadapannya.

Tampak seorang namja yang tengah duduk membelakanginya sambil mengerjakan latihan soal di hadapannya. Namja itu sepertinya tidak tahu keberadaannya, pikir Sera.

Sera mengerucutkan bibir dan berteriak,”Ya!”

Baekhyun, namja yang berada di hadapannya tidak bergeming dari tempat duduknya. Dia mengacuhkan Sera dan terus mengerjakan latihan soal.

“Selamat karna besok keinginanmu terwujud! Tidak hanya sehari, tapi 3 hari!” seru Sera sambil menelan air ludahnya. Dirinya gugup saat ini. Gugup akan reaksi Baekhyun.

“Trus?” kata Baekhyun tanpa menolehkan kepalanya.

“Setidaknya kau bisa mendapatkan ketenanganmu dan aku bisa berpesta di pulau Nami…tanpa kau.”

“Baguslah. Akan jauh lebih bagus kalo kau gak kembali,” sahut Baekhyun ketus.

Sera yang mendengar hal itu menelan ludahnya dengan susah payah. Perkataan Baekhyun menyakitkan baginya. Wajar saja menyakitkan bila ada orang yang menyuruhmu untuk pergi dan tidak kembali. Saat ini dirinya marah, namun entah mengapa jauh di dalam lubuk hatinya ada perasaan sedih walaupun sedikit.

Perlahan Sera menghela napasnya. “Kuucapkan selamat untuk ‘liburan’ mu.”

Sera langsung menarik gorden itu ketika dia menyelesaikan ucapannya. Menariknya hingga kamar Baekhyun tidak lagi tampak di depan matanya. Kemudian Sera menghela napas panjang untuk meredakan amarahnya.

“Namja menyebalkan!” rutuknya.

~~~

Sera memeluk tubuhnya sembari menghentakkan kaki. Berusaha untuk menghangatkan dirinya. Sesekali dia melihat ke arah kiri dan kanan jalan untuk melihat tanda-tanda adanya siluet mobil di jalanan yang sepi itu. Hari ini dia harus bangun jam 5 pagi untuk mempersiapkan diri dan menunggu Choi ahjussi, manajernya.

“Oh….Dingin~nya…,” kata Sera.

Sebuah mobil kapsul hitam berhenti di depannya. Beberapa saat kemudian, seorang ahjussi yang berumur 30an turun dari mobil itu. Sera yang melihat bahwa ahjussi itu adalah orang yang ditunggunya membungkuk.

“Annyeonghaseyo, ahjussi,” sapa Sera.

“Annyeonghaseyo,” balas Mr.Choi sembari membungkuk sedikit dan mengambil koper yang berada di samping Sera kemudian memasukkannya ke dalam bagasi.

Sera membuka pintu mobil dan duduk di dalamnya, menunggu Mr.Choi duduk di kursi kemudi dan menjalankan mobil.

Mobil kapsul itu melaju dan melewati rumah keluarga Byun. Sera menghela napas begitu melihat rumah itu lewat dan tidak terlihat lagi. Kemudian dia mengeluarkan majalah dan membacanya.

~~~

“Akhirnya sampai juga,” kata Sera sambil meregangkan otot-ototnya.

Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tampak beberapa orang yang merupakan kru/staf pemotretan sedang membawa barang-barang di bukit itu. Bahkan ada beberapa yang merupakan staf agensi lain. Sera berjalan mendekati kumpulan orang-orang yang sedang sibuk itu. Dirinya berhenti tepat disamping Mr.Choi, manajernya.

“Seharusnya mereka sudah datang,” kata Mr.Choi sambil mengamati keadaan di sekelilingnya.

“Ada berapa model yang datang?” tanya Sera.

“Tidak banyak. Beberapa ada yang terkenal. Ah! Itu mereka,” seru Mr.Choi ketika menemukan beberapa orang yang berjalan mendekati mereka.

Sera mengikuti arah pandang manajernya. Dilihatnya beberapa orang yang merupakan model pria dan wanita, serta manajer-manajer mereka yang sedang berjalan menuju tempatnya saat ini. Sera mengamati mereka, ketika dirinya bisa melihat dengan jelas wajah mereka. Tampak 2 orang ahjussi dan 1 orang ahjumma yang dia yakini adalah manajer. Kemudian seorang namja yang kurus dengan ekspresi wajah yang aneh menurut Sera dan seorang yeoja yang imut dan cantik dengan rambut panjang yang bergelombang.

“Annyeonghaseyo,” salam mereka begitu juga dengan Sera dan Mr.Choi sambil membungkuk kecil berkali-kali.

“Annyeonghaseyo, choneun Jokwon imnida. Mohon bantuannya,” kata namja yang kurus itu sambil membungkuk.

“Annyeonghaseyo, choneun Kim Sera imnida,” balas Sera sambil membunngkuk.

Kemudian Sera tersenyum ke arah yeoja yang ada dihadapannya.

“Annyeonghaseyo, choneun Kim Sera imnida.”

Yeoja itu mendengus. “Annyeong…Kim Jiwon imnida,” kata yeoja itu ketus sambil membungkuk sedikit.

Mwoya…., kata Sera dalam hati sambil mengerucutkan bibir.

“Choeseungheyo, bentar lagi dia datang,” kata salah seorang ahjussi sembari membungkuk ketika melihat beberapa orang yang menatapnya. Menunggu perkenalan diri dari model asuhannya.

Sera mengedarkan pandangannya asal. Tiba-tiba matanya menangkap sosok seorang namja sedang berlari-lari kecil menuju tempat mereka berdiri saat ini. Namja itu seperti sosok pangeran bagi Sera walaupun hanya memakai kaus abu-abu dengan celana dan blazer putih. Sera tidak menyadari siapa namja itu tapi dirinya terus menatapnya hingga namja itu telah sampai pada tempat mereka berdiri.

“Choeseungheyo…aku telat…,” kata namja itu terengah-engah sambil membungkuk. “Annyeonghaseyo…choneun Oh Sehun imnida.”

Sera yang terlarut dalam lamunannya tersadar. Matanya membelalak ketika mendengar dan melihat namja itu.

Oh Sehun?! pekiknya dalam hati.

…TBC…

annyeong! ku post jg chap 5. gk da curcolan neh. ok d.

don’t forget to comment yo!

Best regards,

nana

Advertisements

2 thoughts on “WELCOME TO MY HALF HOUSE!!! [CHAPTER 5]

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s