[Oneshoot] En Hiver

en hiver

Tittle      : En Hiver

Author  : Quin & BabyLu

Casts     :

–          EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol

–          Imaginary Cast as Miyuki Ando

Genre   : Romance, AU, Sad, Gaje, Typo(s), etc

Rating   : PG-15

Type      : Oneshoot

Length  : 2777 words

Disclaimer           : Cast yang ada di dalam cerita ini kecuali OC bukanlah milik kami. Cerita ini hanyalah fiksi belaka yang murni berasal dari pikiran absurd kami. So, if you a plagiator, please go away!!

Udah berapa lama ya Betty gak nge-post FF? Hohohoho~ Maafkan aku karena jarang online >_< Ini adalah FF duet dari Betty dan temanku, BabyLu :D Hope you like this story ;)

********

Tuhan memang memperintahkanmu untuk menikah denganku. Tapi mungkin tidak untuk sekarang. Mungkin di kehidupan selanjutnya kita bisa bersatu. Sampai saat itu tiba, maukah kau menungguku?

..

..

..

Salju turun seiring dengan pergantian bulan. Hari pertama di bulan Desember, seorang namja duduk gelisah di dalam sebuah cafe sambil mengaduk mocha yang dipesannya 30 menit yang lalu. Sudah satu jam ia terus duduk seorang diri. Sesekali dia juga mengedarkan matanya ke seluruh penjuru cafe seperti sedang mencari seseorang.

Merasa jenuh karena orang yang ditunggunya tak kunjung menampakkan batang hidungnya, namja itu pun memutuskan untuk segera beranjak pergi dari cafe tersebut. Tak ada gunanya lagi ia menunggu di sana. Mungkin dia lupa, pikir namja itu.

Namun ia segera mengurungkan niatnya ketika ia mendengar bel pintu cafe itu berbunyi-tanda ada orang yang masuk ke cafe tersebut. Lalu tampaklah sesosok gadis yang berdiri di ambang pintu sambil celingukan mencari keberadaan seseorang.

Namja itu pun menarik kedua sudut bibirnya hingga membuat sebuah senyum mengembang di wajahnya. Ia kemudian melambaikan tangannya agar gadis itu tahu keberadaan dirinya-yang kebetulan berada lumayan jauh dari pintu masuk.

Senyumnya pun semakin terkembang sempurna ketika yeoja itu membalas lambaian tangannya dan segera berlari kecil ke arahnya. Penantian panjangnya ternyata tidaklah sia-sia. Yeoja itu benar-benar menepati janjinya walau meleset jauh dari waktu yang telah mereka sepakati. Walaupun begitu, namja itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi marah karena sudah dibuat menunggu satu jam lamanya. Ya, namja itu sangat mengerti kebiasaan buruk yeoja yang sekarang tengah berlari kecil ke arahnya tersebut.

“Kau sengaja menyiksaku, huh?” omel yeoja itu ketika sudah duduk berhadapan dengan namja yang sedari tadi sudah menanti-nantikan kedatangannya.

“Bukankah kau yang ingin membuatku mati kedinginan? Suhunya sudah turun beberapa derajat sejak aku menunggumu,” timpal namja itu sambil mengacak poni yeoja-nya.

Gadis itu pun mengerucutkan bibirnya. “Lalu apa maksudmu mengajakku bertemu di tempat bersuhu rendah ini, hah?” sungut si gadis, “bukankah kita bisa berbicara di depan perapian yang hangat?”

“Kau tahu? Aku ingin hari pertama musim salju tahun ini menjadi spesial,” ujar namja itu sambil menerawang keluar jendela, memandangi  hamparan salju putih yang menyelimuti permukaan bumi.

“Spesial?!” cibir si gadis, “apa yang spesial dari musim yang… ERGH!! Dingin, merepotkan, dan membuatku serasa membeku. Brr!!”

Namja itu hanya tertawa geli mendengar penuturun gadis itu. Ia sangat mengerti betapa yeoja itu sangat membenci salju. Di saat semua orang tengah asyik bermain salju, yeoja itu justru mengurung dirinya di rumah lalu duduk manis di depan perapian sambil menyesap kopi panasnya.

Ya! Jangan tertawa! Apanya yang lucu, hah?” semprot yeoja itu ketika mendapati namja-nya tengah menertawakan dirinya.

Seketika itu juga namja itu menghentikan tawanya. Dia belum cukup berani membalas perkataan yeoja yang termasuk ganas itu. “Minumlah dulu,” namja itu kemudian menyodorkan mocha miliknya yang-tentunya-sudah mulai dingin.

Ya! Park Chanyeol babo! Apa maksudmu memberiku mocha dingin, hah?!” bentak gadis itu lalu menjitak namja yang notabene adalah kekasihnya tersebut.

Namja itu hanya bisa meringis sambil memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Niat baiknya justru dibalas dengan jitakan dari yeojachingu-nya sendiri. Tetapi ia sendiri sudah maklum, ini merupakan kesalahannya karena mencintai gadis yang agak sentimen.

“Sudahlah, lebih baik aku pulang. Lebih nyaman di rumah sambil memeluk boneka Teddy-ku yang besar dan hangat,” kata yeoja yang telah siap meninggalkan namja-nya sendirian.

“Tunggu!” seru namja yang bernama Chanyeol tadi, membuat yeoja itu berdiri mematung kemudian berbalik menatapnya.

“Kau tahu apa yang membuat hari ini spesial?” tanya Chanyeol sambil mencoba meraih dagu yeoja-nya.

“Apa?” tanya gadis itu sambil menepis tangan Chanyeol. Entah mengapa dia merasa malu dan seluruh darahnya berdesir ketika salah satu anggota tubuh Chanyeol menyentuh miliknya. Tapi sepertinya Chanyeol tak pernah menyadari betapa gadis itu sangat gugup ketika mendapat  rayuan manis darinya.

Namja itu kemudian berlutut di hadapan gadisnya dan merogoh saku celananya. Diambilnya sebuah kotak bening yang berisikan cincin emas. “Aku tidak akan beranjak sebelum kau menjawabku,” kata Chanyeol dengan santainya.

Ya! Menjawab pertanyaan apa? Cepat berdiri!” perintah yeoja itu kesal.

Chanyeol sama sekali tak mengindahkan perintah yeoja itu. Dia justru meraih tangan yeoja-nya lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Diraihnya tangan gadis itu lembut dan bertanya, “Miyuki Ando, would you marry me?”

Gadis bernama Miyuki itu membelalakkan matanya, terkejut dengan perbuatan Chanyeol yang tiba-tiba melamarnya. “Ya! Park Chanyeol! Neomu baboya! Apa yang kau lakukan? Jangan bercanda!” omel Miyuki yang wajahnya sudah berubah menjadi merah padam.

“Untuk apa aku bercanda? Aku sangat mencintaimu. Tidak mungkin aku membohongimu begitu saja,” kata Chanyeol yang kemudian mendongak untuk melihat wajah dari yeoja yang ia cintai.

“Tapi apa kau tak bisa mencari momen yang lebih hangat? Musim semi, musim panas, kenapa harus musim salju? Musim yang sangat kubenci,” ujar Miyuki mulai berkelit.

“Karena aku berjanji akan membuatmu menyukai musim salju. Dan aku akan membuatmu mengakui bahwa musim inilah yang terindah.”

“Musim salju musim yang teridah? Lihat, di musim ini bunga-bunga pada layu. Pohon-pohon berdiri tanpa ada sehelai daun pun yang menghangatkannya,” balas Miyuki lalu menghempaskan tangan Chanyeol yang sedari tadi memegang tangannya. Ia sekarang sungguh muak dengan tingkah kekasihnya. Dia merasa aneh. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta dengan namja yang memiliki karakter berbanding terbalik dengan karakternya?

“Miyuki, apa yang telah aku katakan pasti akan aku buktikan,” kata Chanyeol mantap.

“Baiklah, kita buktikan. Berapa lama kau akan menjadikanku menyukai musim salju?” tantang Miyuki.

Chanyeol tampak berpikir sejenak sambil mengelus-elus dagunya. “Dua minggu,” jawab Chanyeol, “jika dalam dua minggu itu aku berhasil, maka kau harus menerima lamaranku.”

“Kalau tidak?” tanya Miyuki sambil mengangkat sebelah alisnya, sanksi apakah Chnayeol bisa menaklukkan tantangan tersebut.

“Kalau tidak…” Chanyeol kembali berpikir keras. “Aku akan terima apapun jawabanmu terhadap lamaranku,” jawab Chanyeol dengan sedikit tidak ikhlas.

Miyuki menghela nafasnya panjang lalu berkata, “Aku tidak berharap kau gagal. Tapi aku juga berpikir, persentase kau akan berhasil sangatlah kecil, mengingat aku yang sudah sangat anti dengan yang namanya salju.”

“Kalaupun aku gagal, aku yakin kau tidak akan mau menolak lamaran dari namja tampan sepertiku,” timpal Chanyeol penuh percaya diri sambil menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.

“Ck, percaya diri sekali kau ini,” cibir Miyuki lagi.

Tapi tiba tiba Miyuki sadar bahwa seluruh pengunjung cafe tengah memperhatika tingkah konyol mereka. Hal itu membuat wajah Miyuki berubah menjadi merah padam. Ditariknya tangan Chanyeol dan mengajaknya segera pergi dari cafe tersebut. Ia sangat tak suka dengan tatapan pengunjung cafe yang memperhatikan mereka seolah-olah sedang menonton drama murahan. Itu membuatnya sangat malu.

Mereka berdua pun segera keluar dari cafe tersebut, berjalan menembus dinginnya angin musim dingin bulan Desember. Hari semakin larut, Miyuki mulai kedinginan dan berulang kali bersin. Chanyeol yang menyadari hal itu segera melepas mantel bulunya yang hangat lalu ia pasangkan ke pundak kekasihnya.

“Jadi, bagaimana dengan tawaranku?” tanya Chanyeol antusias.

“Kau harus berhasil dalam waktu dua minggu.”

.

.

Seminggu sudah Chanyeol terus gencar melancarkan taktiknya agar Miyuki dapat menyukai salju. Namun tampaknya Miyuki belum memperlihatkan perbedaan yang significant. Ia masih saja enggan bila diajak pergi bermain bola salju bersama kekasihnya, Chanyeol. Ya, Miyuki memang gadis bertampang es yang-entah mengapa-paling anti dengan yang namanya salju.

.

.

Hari ini hari kesepuluh. Kesempatan Chanyeol tinggal empat hari lagi. Kali ini ia sudah bertekad agar dapat merubah kekasihnya menjadi pecinta salju. Tapi hari ini dia terlihat sangat gelisah. Entah mengapa, yang dia lakukan saat ini hanya mondar-mandir di depan rumah kekasihnya.

Rasanya ragu ingin mengetuk daun pintu itu. Tapi perasaan menggebu ingin bertemu kekasihnya sudah tak tertahankan lagi. Ini merupakan sebuah dilema baginya. Hingga tiba-tiba suara pintu yang terbuka membuatnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pintu rumah kekasihnya.

Oppa?”

Suara yang dikenalnya itu membuatnya semakin gelisah. Dia merasa semakin hari kekasihnya itu semakin sulit untuk dirayu dan dibujuk. Sama seperti udara yang mereka rasakan saat ini. Semakin hari semakin dingin. “Oppa!” seru Miyuki yang berhasil membuat Chanyeol terlonjak kaget.

Chanyeol pun menoleh dan mendapati sang kekasih sudah berdiri di ambang pintu. Seketika itu juga bayangan buruk terus menghantui pikirannya. Ia terlalu takut andai ia gagal dalam tantangan ini maka kemungkinan besar Miyuki akan menolak pinangannya. Walau ia tahu Miyuki juga sangat mencintainya seperti ia mencintai Miyuki.

Oppa, kau tak ingin masuk ke dalam?” tanya Miyuki yang herankarena namjachingu-nya tak segera masuk ke dalam rumahnya.

Chanyeol tetap diam tak menjawab. Ia masih kalut dalam pikirannya sendiri. Ia tak tahu apalagi yang harus dilakukannya untuk merayu gadis yang dicintainya. Dia mulai putus asa dalam membujuknya.

Oppa, kenapa kau diam? Kau tidak kedinginan, hah? Masuklah, aku buatkan secangkir kopi untuk menghangatkanmu,” kata Miyuki sambil menarik tangan Chanyeol agar namja itu segera masuk ke dalam rumahnya.

Tapi tiba-tiba Chanyeol melepaskan genggaman tangan Miyuki dan merengkuh tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapan hangatnya. “Miyuki-ya, katakan padaku kalau kau mencintaiku,” perintah Chanyeol dan berhasil membuat yeojachingu-nya terheran-heran.

“Aku mencintaimu, Oppa. Jeongmal saranghaeyo,” jawab Miyuki menuruti perintah Chanyeol.

“Katakan padaku bahwa kau akan tetap mencintaiku walaupun nantinya aku gagal dalam tantangan ini,” perintah Chanyeol lagi sambil terus memeluk tubuh sang kekasih.

Miyuki terkekeh geli mendengar perintah Chanyeol sangat retoris. “Dasar bodoh. Tuhan telah memperintahkanku untuk menikah dengan seorang Park Chanyeol,” jawab Miyuki dan berhasil membuat Chanyeol bernafas lega.

Walau entah mengapa masih terbesit sedikit rasa gelisah di hati kecil Chanyeol. Namja itu seperti mendapat firasat buruk yang akan menimpanya. Tapi entah apa, gadis yang ada dalam dekapannya itu yang membuatnya makin gelisah. Bagaimana jika aku berhasil dalam tantangan ini, namun apa aku masih bisa bersamanya? Ucap Chanyeol dalam hati.

Chanyeol menatap manik mata gadis yang ada dalam pelukannya itu. Miyuki pun balik menatap Chanyeol dengan bingung. Jantungnya berdebar kencang ketika Chanyeol menatapnya intens seperti itu. “Oppa?”

Chanyeol masih diam dan tetap menatap dalam mata coklat milik Miyuki. Perlahan tapi pasti, Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Miyuki. Dan detiknya berikutnya ia sudah berhasil membunuh jarak antara dirinya dengan Miyuki.

Miyuki hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya ketika mendapat serangan mendadak dari Chanyeol. Wajah Chanyeol yang sangat dekat dengan wajahnya membuatnya gugup setengah mati. Namun akhirnya Miyuki pun menutup matanya. Merasa mendapat lampu hijau dari Miyuki, Chanyeol pun memperdalam ciumannya. Dilumatnya bibir Miyuki seolah-olah ini merupakan kesempatan terakhirnya untuk dapat merasakan bibir Miyuki.

Oppa, sesak..” keluh Miyuki karena Chanyeol belum juga mengakhiri ciumannya.

“Ahhh… Mian. Aku terlalu terbawa suasana.”

Miyuki memicingkan matanya, menulusuri mata kekasihnya itu. Ia merasa Chanyeol bersikap sangat aneh hari ini. Tetapi Miyuki kemudian tersenyum dan meraih kerah kemeja Chanyeol dan mencium bibirnya kilat.

Kini giliran Chanyeol yang membelalakkan matanya karena sikap Miyuki yang ternyata sudah berani menciumnya duluan. Satu detik kemudian sebuah senyum licik sudah tersungging di wajah Chanyeol. “Dasar setan kecil,” bisik Chanyeol di telinga Miyuki dan membuat gadis itu bergidik ngeri.

Namja itu kemudian mendorong tubuh mungil Miyuki dan membuatnya terperangkap antara tubuhnya dan tembok. Miyuki yang sudah tak mampu berkutik lagi hanya diam mematung ketika Chanyeol kembali mendekatkan wajahnya.

Oppa, kau datang ke sini bukan untuk melakukan ini, kan?” tanya Miyuki yang sudah tak tahu apalagi yang dikatakannya untuk menghentikan aksi Chanyeol.

Chanyeol yang mendengar pertanyaan Miyuki langsung tersadar akan tujuan utamanya menemui Miyuki. Dijauhkannya wajah Miyuki darinya namun masih terus menatap matanya. “Miyuki, ayo keluar,” ajak Chanyeol akhirnya.

“Untuk apa?”

“Aku akan membuatmu menyukai salju hari ini juga!” seru Chanyeol dengan semangat membahana, menepis segala kegelisahan yang dirasakannya beberapa saat yang lalu.

.

.

Entah mengapa Miyuki tampak bersemangat hari ini. Chanyeol mengajaknya melihat butiran-butiran salju yang berjatuhan, bermain ice skating, bahkan bermain perang bola salju. Miyuki sepertinya menikmati sekali. Chanyeol yang melihat perubahan yeoja-nya itu semakin bersemangat untuk membuatnya semakin menyukai musim salju.

“Chanyeol Oppa!! Rasakan!!” teriak Miyuki lalu melempari Chanyeol dengan bola salju buatannya.

Chanyeol yang terkena lemparan Miyuki pun segera membalasnya dengan melempar bola salju. Tapi sayang, lemparannya tak pernah tepat sasaran. Hal itu tentu saja membuat Miyuki senang dan terus mengejek Chanyeol hingga namja itu merasa dongkol.

Oppa, kurasa sekarang aku sudah menyukai salju. Ternyata sangat menyenangkan!” seru Miyuki sambil berlari-lari kecil.

Chanyeol yang berjalan mengikuti Miyuki pun terus tersenyum memandangi punggung gadisnya. “Jadi kau menerima pinanganku, eoh?” tanya Chanyeol dan berhasil membuat Miyuki menghentikan langkahnya. Tak disangkanya Chanyeol akan menanyakan jawabannya secepat ini.

“Hmmm… Apa aku harus menjawab ‘iya’ untuk pertanyaanmu itu?” Miyuki mulai menggoda namjachingu-nya.

“Tentu saja. Karena aku sudah berhasil membuatmu menyukai salju,” jawab Chanyeol lalu mengeluarkan sebuah cincin dari saku mantelnya. “Jika kau menerimanya, pakailah. Jika tidak, kau boleh membuangnya.”

Hal yang sama dengan apa yang pernah dilakukan Chanyeol di cafe beberapa waktu silam. Tapi kali ini dengan senang hati Miyuki menjulurkan tangannya ke arah Chanyeol agar pria itu dapat dengan mudah menyematkan cincin di jari manisnya.

Will you marry me?”

I will,” jawab Miyuki yang kemudian disambut pelukan hangat dari Chanyeol.

Gomawo,” bisik Chanyeol di telingan gadisnya.

Namun kebahagiaan yang menyelimuti mereka terhapus begitu saja ketika angin dingin musim salju berhembus di belakang tengkuk Chanyeol. Seperti mendapat bisikan bahwa waktunya telah habis. Chanyeol berpikir bahwa perjuangannya selama sepuluh hari ini akan menjadi sia-sia.

Miyuki yang melihat perubahan sikap Chanyeol pun hanya bisa menatapnya bigung. Sang kekasih menatapnya kosong dan sarat akan ketakutan membuat bulu kuduk Miyuki berdiri. Ia seperti melihat aura kegelapan di sekitar Chanyeol. Mungkinkah Chanyeol akan pergi meninggalkannya?

Oppa,” panggil Miyuki lirih. “Apa yang terjadi? Apa kau merubah keputusanmu untuk menikahiku?” tanya Miyuki cemas.

Ani,” jawab Chanyeol singkat.

“Lalu apa?” tanya Miyuki penasaran dengan perubahan sikap Chanyeol.

Belum sempat Chanyeol menjawab, Miyuki langsung menghambur ke pelukan Chanyeol, “Oppa, jebal.  Jangan tinggalkan aku.” Chanyeol semakin mempererat pelukan yeoja-nya. Seperti tahu apa yang ditakutkan yeoja-nya sama seperti dengan apa yang ditakutkannya sekarang.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, “bukankah kau sudah pernah bilang bahwa Tuhan memperintahkanmu untuk menikah dengan seorang Park Chanyeol?”

Miyuki semakin mempererat pelukannya saking takutnya bila namja yang sedang mendekapnya itu hilang dari pandangan matanya. “Oppa, berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah genggam tanganku dan jangan pernah melepaskannya.”

Chanyeol mengangguk mantap sambil tersenyum pada Miyuki. Dia mencoba menyingkirkan hal-hal buruk yang ada di pikirannya. Mungkin itu hanya perasaanku saja, kata Chanyeol dalam hati.

Angin bertiup kencang, menerbangkan sehelai kain yang melingkar di leher Miyuki. “Yah!” pekik Miyuki.

“Biar Oppa yang mengambilkannya untukmu, ne?” ujar Chanyeol lalu segera berlari mengejar syal itu.

Andwae!” seru Miyuki mencoba melarang namjachingu-nya itu sambil menatap punggungnya cemas.

Chanyeol terus mengejar syal milik Miyuki karena tak ingin membuat gadisnya kedinginan. Angin yang berhembus sangat kencang membuat syal itu terbang hingga ke jalan raya. Jalanan yang sepi tanpa ada satu pun kendaraan yang lewat membuat Chanyeol lengah. Dia terus berjalan dengan santainya ke tengah jalan tanpa memperhatikan sebuah mobil sedan yang melaju kencang ke arahnya.

Miyuki yang melihat mobil sedan itu akan menghantam tubuh kekasihnya pun segera mempercepat gerak kakinya. “OPPA!! OPPAA!! AWASS!!”

Chanyeol yang sedang mebungkuk mengambil syal sama sekali tidak menghiraukan panggilan yeoja-nya. Saat dia kembali menegakkan badannya, sebuah mobil sedan yang melaju kencang sudah berada tiga meter di depannya. Orang yang mengendarai mobil itu sudah tak kuasa mengendalikan laju mobilnya. Sedangkan Chanyeol sudah tak memiliki kesempatan untuk menghindar.

OPPA!!!”

Sepersekian detik berikutnya terlihat jelas di mata Miyuki, sedan itu menghempaskan tubuh namjachingu-nya dan membuatnya terpental kira-kira 20 meter jauhnya. Matanya membelalak lebar menyaksikan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Kemudian dengan secepat kilat gadis malang itu berlari ke tempat Chanyeol terbaring tak berdaya.

Hamparan salju putih berubah menjadi hamparan salju merah di sekeliling Chanyeol, namja yang sangat ia sayangi. Air matanya sudah tak dapat dibendung lagi. Miyuki pun menghampiri tubuh namja-nya yang tergeletak tak berdaya. Tangan kanannya masih menggenggam erat syal milik Miyuki dan seulas senyum mengembang di bibir namja itu.

Oppa, bertahanlah. Jebal, kau janji akan menikahiku. Oppa…” kata Miyuki di tengah isak tangisnya.

Chanyeol tersenyum lemah di tengah sakratul mautnya. Tubuhnya terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Sungguh mukjizat para malaikat tak segera membawanya ke surga dan masih memberinya kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal pada gadis yang paling dicintainya, Miyuki.

“Miyuki-ya,” panggil Chanyeol lirih sambil berusaha menggapai wajah Miyuki, “jangan menangis. Tuhan memang memperintahkanmu untuk menikah denganku. Tapi mungkin tidak untuk sekarang. Mungkin di kehidupan selanjutnya kita bisa bersatu. Sampai saat itu tiba, maukah kau menungguku?” Nafas Chanyeol sudah mulai terengah-engah dan detak jantungnya mulai melemah. Darah terus mengalir deras dari tubuhnya hingga menodai baju Miyuki yang kini sedang memeluknya.

Oppa, apa yang kau katakan? Kau akan baik-baik saja, Oppa. Bertahanlah,” tangis Miyuki semakin menjadi-jadi saat menyadari bahwa keadaan namja yang ada di dekapannya itu mulai melemah.

“Jangan menangis, Miyuki. Lihat, Oppa berhasil mengambil syalmu,” kata namja itu dengan nafas memburu lalu memasangkan syal yang sudah berlumuran darah itu ke leher jenjang gadisnya. “Saranghaeyo, chagiya.”

“Park Chanyeol,” Miyuki terus memanggil nama Chanyeol di sela isak tangisnya. Ia kemudian menggigit bibir bawahnya ketika ia sudah tak mendengar deru nafas Chanyeol. Ini merupakan mimpi buruk baginya. Sungguh, ia tak menginginkan hal ini terjadi. Ketika sang kekasih sudah berhasil membuatnya menyukai salju, kenapa ia harus pergi meninggalkannya?

Miyuki terus menangis sambil mendekap tubuh Chanyeol tanpa memperdulikan hujan salju yang turun semakin deras. Ia bahkan mulai menangis meraung-raung ketika orang-orang membawa mayat Chanyeol untuk dievakuasi.

Sekarang dia sudah tak memiliki siapa pun di dunia ini. Hidupnya terasa hampa ketika namja-nya telah pergi dari sisinya. Yang dia miliki tinggalah cincin pemberian Chanyeol. Cincin itulah yang akan selalu mengingatkannya pada janji mereka berdua untuk menikah di masa yang akan datang.

THE END

Ehemm!! Ini adalah FF duetku yang pertama dengan author BabyLu. Hohohohoho~ Gimana? gajekah? Anehkah?

#emang

Emm.. aku rasa alurnya agak terburu, ya? Soalnya kita emang pengen cerita ini cepet-cepet kelar #pletak

Okay. Aku akan senang kalau kalian mau memberikan kritik pada FF kami yang super gaje ini. KKKK~ :D

Advertisements

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s