[FREELANCE] The Last Hope Project

The Last Hope

The Last Hope Project

Cast           : Choi Siwon, Choi Sooyoung

Other Cast: Tiffany Hwang, Lee Minho, and find by your self

Genre        : Romance

Rating       : biar reader yang menentukannya

Author      : Lee Hyohee (@Lousey_Han)

Note:

Siwon dan Sooyoung bukanlah member Super Junior dan SNSD yang kita kenal. Siwon di sini adalah seorang aktor handal. Sedang Sooyoung adalah seorang aktris baru yang bercita-cita menjadi penulis film. Mereka sudah saling mengenal sejak mereka trainee, bukan trainee SM melainkan lulusan suatu SMA art, Gahyang Art High School.

Prolog

Mulanya Siwon suka menjahili Sooyoung yang termasuk anak lugu saat itu. Tapi lama-lama Siwon malah suka membantu Sooyoung. Sooyoung yang bercita-cita sebagai penulis film harus bersekolah di sekolah seni jika ia ingin mewujudkan impiannya. Ia sangat asing tentang cara bernyanyi, menari, maupun akting. Tapi secara suka rela Siwon si anak tengil itu mau mengajarinya dari nol. Sampai suatu saat Sooyoung menemukan bakat aktingnya.

Hari-hari mereka lalui bersama. Tak sampai hanya di situ ada cerita cinta yang membuat semuanya semakin rumit. Dan juga banyak masalah mewarnai perjuangan mereka selama trainee. Di masa-masa itu juga mereka mendapat sahabat-sahabat yang baik, seperti Hyunmi, Donghae, Eunhyuk, dan Hyo In.

Setelah masa trainee yang panjang. Tibalah saat mereka debut. Tak disangka Siwon debut terlebih dahulu. Ini karena bakat yang ia miliki. Sooyoung tak patah arang akan hal itu, mati-matian ia ikut bekerja dibelakang layar agar ia bisa tetap bersama Siwon. Tapi Siwon menjadi berubah karena ia lebih terkenal sekarang. Sooyoung ingin berdiri sejajar dengan Siwon karena itu ia mengasah bakat aktingnya. Kemampuannya dilihat oleh Presdir agency tempat Siwon bernaung. Ia diberi tawaran bermain film. Ia menerimanya tanpa tahu kalau Siwon yang menjadi pemeran utama dalam film itu. Kesalahpahaman mulai terjadi.

***


The story begin here…

Hari pertama syuting, Sooyoung masih bertengkar dengan Siwon. Hanya karena masalah yang lalu, Sooyoung kesal setengah mati. Perkataan Siwon yang menyebutkan dirinya yang suka mencampuri urusan orang lain dan berniat menusuknya dari belakang benar-benar membuatnya sakit hati. Ia ingin Siwon minta maaf atas tuduhannya yang tak terbukti itu. Ia bisa bermain dalam film ini karena Presdir melihat kemampuannya bukan seperti dugaan Siwon kalau dia sengaja menghasut Presdir. Tapi lagi-lagi Siwon membuatnya tambah kesal dengan mengejek aktingnya setara kualitas pemain kelas tiga yang sama sekali tidak bagus. Perang dingin tak terhindarkan. Sampai akhirnya mereka tak mau memandang satu sama lain. Satu akan buang muka bila bertemu, dan satunya akan acuh seakan tidak melihat  siapapun. Suasana tegang  jadi meliputi seluruh kru.

Pertengkaran mereka telah membawa dampak yang besar. Manager mereka masing-masing jadi pusing tujuh keliling. Manager Lee adalah  Manager Sooyoung dan Manager Kim adalah Manager Siwon. Mereka sependapat kalau artisnya itu harus bersikap profesional bukannya kekanakan seperti ini. Semua orang di sana juga berharap mereka segera berbaikan agar dapat melanjutkan syuting. Sebenarnya saat mereka beradegan solo semua baik-baik saja, tapi setelah dipertemukan tak ada yang mau berakting sesuai alur cerita. Mereka mematung. Malah saling lempar pandangan mencela lalu saling adu mulut.

Syuting dihentikan sementara, karena situasi belum juga membaik. Manager mereka menasehati artisnya masing-masing.

“ Young, kau harusnya mengalah saja, jangan keras kepala. Dengan kau tetap bersikeras agar dia mau minta maaf padamu akan membuat semua berantakan.”

“ Tak mungkin segampang itu, dia sudah kelewatan, aku tidak akan memaafkan dia begitu saja.”

“ Setidaknya kau harus profesional, jangan bawa-bawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan. Bisa kacau semuanya nanti.”

Berpikir sejenak, lalu ia menjawab, “ hm, mungkin ada benarnya juga.”

“ Berbaikanlah dengannya.”

“ Ouh, buat berbaikan aku pikir-pikir dulu. Aku hanya bisa tolelir saat akting, selebihnya tak akan!”

Di sisi lain, Siwon juga tengah dinasehati sang Manager.

“ Aku tahu aku harus bersikap profesional. Oke fine, aku akan lanjutkan syuting.”

“ Selesaikan masalahmu sekarang. Harusnya kau mau minta maaf.”

“ Dia seharusnya bisa terima. Itu tidak akan menjatuhkan harga dirinya kan? Aku tak akan minta maaf. Titik!”

“ Kau kan  laki-laki,  jadilah seorang yang gentle. Masa minta maaf saja tidak mampu. Apa kata dunia?”

“ Bukan masalah gentle atau tidak, masalahnya dia yang keras kepala.”

“ Kau yang sudah menyakiti hatinya. Gila benar kalau kau benar-benar mengucapkan kata-kata itu. Dia hanya seorang perempuan, hatinya sangat sensitif.”

“ Sikapnya yang mencampuri urusan orang lain itu tidak bisa dibenarkan.”

“ Dia teman dekatmu bukan? Wajar kalau dia peduli dan membantu kamu.”

“ Membantu? Bukannya membantu. Itu namanya menjatuhkan. Apalagi di depan Presdir.”

“ Sudahlah urus urusanmu sendiri. Kalau masalah ini masih dibawa-bawa saat syuting nanti, aku tidak akan memaafkanmu. Kau sebagai laki-laki harus bertanggung jawab harus profesional.”

“ Nde nde, ah kau mulai berkhutbah.”

***

Flashback sejenak.

Sooyoung tengah berbicara dengan Presdir di ruangan Presdir.

“ Aku tahu Presdir. Tapi akan berusaha. Aku tak mungkin selamanya berdiri dalam bayang-bayang Siwon. Aku ingin berdiri sejajar dengannya,” ucap Sooyoung.

“ Nah, itu baru benar. Kulihat kemampuanmu juga lumayan. Bagaimana dengan tawaranku?”

“ Tentu aku bersedia bermain di The Last Hope, aku akan berusaha semaksimal mungkin.”

“ Hebat hebat! Aku yakin kau pasti bisa. Kulihat kau ini memang seorang yang unik. Tak seperti banyak bintang lain. Seperti Siwon, ya Siwon itu masih baru tapi dia suka bertingkah seenaknya.”

“ Siwon memang begitu, dia suka melakukan segala hal sesuai keinginannya sendiri. Dia agak manja, keras kepala, menyebalkan. Sulit dipercaya ia bisa bertahan di dunia hiburan ini,” tutur Sooyoung panjang lebar.

Tapi saat itu di luar ruangan Siwon mendengar percakapan antara Presdir dan Sooyoung. Mulanya dia ingin ke ruang Presdir untuk membicarakan proyek syutingnya untuk The Last Hope. Ia sudah menerima peran itu. Tapi kini ia berubah pikiran. Mendengar Sooyoung bicara seperti itu, ia jadi marah. Bisa-bisanya Sooyoung melakukan itu padanya. Ia tak menyangka Sooyoung yang selama ini berdiri di belakangnya hanya ingin menusuknya dari belakang. Apalagi ia sedang menghasut Presdir. Siwon secepatnya pergi dari tempat itu.

“ Tapi itu semua tak benar. Ia sudah berubah. Sifatnya jauh lebih baik. Dia suka membantu, ramah, pekerja keras, dan dia sekarang tak lagi keras kepala. Aku yakin sekarang dia mampu bertahan di dunia ini dan terus bersinar.”

“ Apa itu benar? Kulihat tempramennya juga sangat buruk,” sahut Presdir.

“ Sekarang ia tak seperti itu lagi. Aku jamin. Ia begitu mungkin hanya karena ia terlalu lelah.”

Tak disangka Sooyoung bukannya menjatuhkan Siwon di depan Presdir, dia membelanya dan menepis keraguan Presdir. Tapi Siwon telah salah paham akan hal ini. Siwon tidak mendengarnya sampai selesai. Ia salah mengambil kesimpulan.

***

Syuting kembali dimulai. Pertama, adegan Siwon bicara dengan mawar yang ia rawat. Kemudian, Sooyoung datang memberitahunya bahwa Jenna, pacar Siwon, sudah meninggal dua minggu yang lalu. Siwon sangat terpukul, padahal ia pergi sementara hanya untuk memenuhi keinginan terakhir Jenna yaitu melihat 101 jenis bunga di taman bersama Siwon. Dan Siwon bersusah payah memenuhi keinginannya, ia mencari berbagai bunga di berbagai tempat, membuat taman, dan merawat sendiri bunga-bunga itu. Sampai akhirnya bunga terakhir adalah bunga mawar yang masih kuncup, ia menunggunya sampai mekar dulu lalu berniat membawa Jenna ke sini. Suasana haru menyelimuti mereka. Akting mereka begitu memukau hingga membuat siapa saja terbawa.

“ Cut! Yak, bagus. Kenapa tidak  dari tadi kalian seperti ini?”

Semua sangat puas dengan kinerja dua artis muda ini. Tapi dalam hati mereka berdua menganggap cerita ini begitu konyol. Mana ada film yang di episode pertamanya ada seorang tokoh penting yang meninggal. Tapi setelah ini, Siwon dan Sooyoung disatukan dengan cerita yang romantis, tetap saja pada akhirnya hubungan mereka tak akan berhasil. Dalam cerita setelah Jenna meninggal, Siwon semakin dekat dengan tokoh sahabatnya yang diperankan Sooyoung. Mereka sempat pacaran sampai akhirnya Sooyoung pergi mencari kakaknya yang selama ini hilang. Karena ini keinginan terakhir ibunya. Siwon yang ditinggalkan tentunya tidak tinggal diam. Ia berjuang sendiri mencari Sooyoung. Tapi kecelakaan merenggut nyawanya. Keinginan terakhirnya ialah bisa membuat Sooyoung kembali ke sisinya. Tapi percuma saja, Sooyoung tak pernah terlihat kembali.

Setelah menyelesaikan bagian itu, Sooyoung bergegas menuju ruangnya. Jangan sampai ia lama-lama melihat Siwon. Bisa-bisa ia mati kesal. Cukup bertemu saat pengambilan gambar. Selebihnya tidak usah. Siwon sendiri tak terlalu mempedulikan Sooyoung. Sooyoung mau ini itu bukan urusannya. Ia tak mau menjilat lagi ludahnya. Dulu ia pernah mengatakan kalau Sooyoung tidak boleh mencampuri urusannya lagi, dan otomatis itu juga berlaku padanya. Dengan kata lain, Siwon tak akan mencampuri segala urusan Sooyoung. Baginya apa yang sudah ia katakan adalah yang paling benar. Ia memang suka menomor satukan harga dirinya sendiri dan mudah menganggap orang lain lebih rendah darinya.

***

Keesokan harinya, mereka syuting di dua lokasi yang berbeda. Sooyoung pergi ke pantai untuk beradegan sedang mencari kakaknya yang telah lama hilang dan baru saja ditemukan jejaknya. Sedangkan Siwon ada di sebuah resort bersama Tiffany pemeran Jenna untuk mengambil adegan dimana Jenna belum meninggal. Sungguh tidak adil memang, Sooyoung harus berjuang sendirian. Siwon malah bersama Tiffany beradegan romantis. Hanya saja dengan begini mereka tak perlu memiliki beban pikiran saat bertemu satu sama lain. Tapi sebenarnya untung bagi Sooyoung dan sebaliknya bagi Siwon. Sooyoung bisa menyelesaikan adegannya dengan cepat dan tepat, sementara Siwon harus mengulang terus karena ia tidak bisa fokus. Di pikirannya hanya tertuju pada Sooyoung, ia merindukan kehadiran gadis itu. Ia tak bisa menghayati perannya karena hatinya sedang tak karuan. Siwon memang munafik.

***

Sooyoung terduduk melamun saat menatap laut yang luas. Harusnya ia memasang ekspresi terkesima lalu mendadak ia menangis bahagia sekaligus sedih karena belum menemukan kakaknya sesuai dengan naskah yang ada. Sekarang ia malah melamun, tatapannya kosong, tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Anehnya Sutradara Shin tidak menghentikan pengambilan gambar. Ia berkata pada Kameramen untuk tetap mengambil gambar.

“ Sutradara, bagaimana ini?”

“ Lanjutkan.”

“Apakah tidak sebaiknya cut saja?”

“ Tidak. Terus ambil gambarnya.”

“ Baiklah.”

Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah sang Sutradara menghentikan pengambilan gambar.

“ Yak, cut!”

Sooyoung kontan terkaget. Ia baru sadar ia tadi harusnya berakting sesuai naskah, bukannya melamun tidak jelas. Yang di pikirannya hanya ada Siwon pantas saja ia melamun. Menurutnya Siwon sungguh menjengkelkan. Kalau saja negara ini bukan negara hukum, pastilah dia sudah mencekik Siwon sampai mati. Kesal rasanya, hatinya telah dibuat begitu dongkol. Perbuatan Siwon sepertinya tak termaafkan.

“ Maaf, Sutradara. Apa aku harus mengulang adegan tadi? Aku sungguh kehilangan kendali pikiranku. Entah kenapa aku justru melamun.”

“ Tidak, tak perlu diulang. Aktingmu luar biasa. Seperti yang kuharapkan.”

“ Bagaimana bisa? Tadi aku hanya melamun, melalaikan peran dalam naskah.”

“ Itu justru yang kuharapkan, akting yang natural. Menggunakan perasaan sepenuhnya. Bukankah tadi kau memikirkan seseorang.”

“ Hm,…”

“ Orang itu telah membuatmu benci tapi kau tetap memikirkannya. Hatimu sedang galau karenanya. Ini sudah sesuai dengan naskah. Dalam naskah kau membenci kakakmu yang telah meninggalkanmu tapi kau harus mencarinya. Bukankah sama saja? Kerjamu bagus, bersiaplah adegan selanjutnya.”

Sooyoung hanya tercengang, “ baik Sutradara.”

Ia kehabisan kata-kata. Ia masih mencerna kata-kata Sutradara. Menurutnya Sutradara bisa membaca pikiran seperti mentalist atau bahkan cenayang. Haha, sebenarnya Sutradara hanya bisa membaca ekspresi. Tentu ia berpengalaman dalam hal ini, kalau tidak ya kenapa dia bisa jadi Sutradara kan?

Waktu yang ia miliki masih banyak tersisa. Waktunya tak lagi tersita untuk syuting. Dia sudah menyelesaikan sebagian dari semua bagiannya tadi. Kini ia boleh bersantai sambil menunggu lawan mainnya datang. Setelah memeras tenaga memang lebih enak kalau istirahat apalagi ditemani tempat yang nyaman, pemandangan yang indah, makanan yang enak dan pelayanan kelas satu. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Ini membuatnya tidak bisa menikmati liburannya. Sepertinya ada sesuatu hal yang terlupakan. Apa itu? Dia belum tahu. Apakah ada hubungannya dengan Siwon? Dia tak yakin.

***

Pikiran Siwon sedang kacau, sepertinya ia merasa bersalah dan ingin segera mengakui kesalahannya pada Sooyoung. Masalahnya Sooyoung sekarang tidak di sini, ini yang membuatnya terus gusar. Ia yakin jauh dalam hatinya ia sangat membutuhkan Sooyoung. Hanya saja di luar ia tak mau menunjukannya. Terjadilah pergolakkan batin tanpa henti dalam dirinya. Ia tak bisa fokus pada aktingnya. Sebenarnya ia bukan tipe orang yang tidak profesional. Ia telah berpengalaman dan memiliki banyak pelajaran di bidang ini. Tapi dia merindukan Sooyoung dan dia tak bisa memungkiri hal ini. Kalau perasaan tidak bisa diajak kompromi beginilah jadinya.

“ Maaf, tapi kali ini. Aktingmu tak bisa membuat hatiku tersentuh. Bahkan kukira tadi sungguh hambar, tak ada perasaan yang dapat tersampaikan. Harusnya kau berlatih lebih keras lagi.”

“ Maaf Sutradara, aku akan berusaha lagi.”

“ Tidak tidak, cukup dulu. Sepertinya kau butuh waktu untuk mendalami karakter dalam film ini. Kau boleh istirahat. Ini penting untuk pemulihanmu.”

“ Apa? Apakah ada kesalahan? Maafkan aku, aku akan terus mengulanginya sampai Sutradara bilang OK.”

“ Tidak perlu kau lakukan itu, akan percuma nanti. Lebih baik pulihkan keadaanmu dulu.”

“ Baik, aku mengerti.”

Siwon berjalan meningggalkan lokasi menuju ruangnya. Ia terlihat linglung dan hilang arah. Ia berjalan dengan menyeret kakinya, sungguh tak bertenaga.

“ Apa kau baik-baik saja?” tanya Manager Kim.

“ Auaikaikaja,” Siwon mengguman tak jelas.

“ Ha? Kau bilang apa?”

“ Aku baik-baik saja!” Siwon membentak.

“ Ada apa denganmu? Tak biasanya kau seperti ini. Kenapa sudah kembali? Kau gagal melakukan adegan itu?”

Siwon tak menjawabnya, ia melirik tajam. Manager Kim tahu artinya. Pikiran Siwon sedang kacau sekarang. Siwon kini hanya memberi tatapan kosong di depan kaca. Ia merasa menjadi orang yang paling tidak mampu sekarang. Ia tak berdaya, tak mampu lakukan apapun lagi semenjak Sooyoung pergi.

Di saat yang sama Sooyoung masih berpikir. Lama Sooyoung  berpikir, akhirnya ia menemukan jawabannya. Itu ada hubungannya dengan Siwon. Ternyata ia memiliki firasat yang buruk, ia khawatir kalau ada apa-apa dengan Siwon. Ia orang yang paling memahami Siwon, bahkan ia lebih memahami Siwon daripada Manager Kim atau orang tuanya sekalipun. Semarah atau sekesal apapun ia harus mengesampingkannya demi Siwon. Sooyoung memutuskan kembali ke lokasi syuting semula dan meninggalkan di lokasi syuting saat ini. Toh, si pemeran Kakaknya yang misterius itu belum datang. Kata para kru dia datang dua hari lagi. Jadi Sooyoung bisa mengambil kesempatan dua hari ini.

Ia pergi demi Siwon. Sampai di lokasi ternyata semua telah pindah lokasi sementara ke resort. Ia lantas menyusul ke resort. Tapi di resort Sutradara Yang justru bilang ia memberi Siwon jeda dan Siwon malah pergi ke lokasi awal. Sooyoung langsung kembali ke lokasi awal untuk mencari Siwon.

Siwon menghilang entah kemana. Sebagian kru juga mencarinya. Siwon gagal melakukan aktingnya. Ia telah mengulang berkali-kali tapi tak berhasil. Sutradara memberinya jeda agar ia bisa mendalami perannya, tapi disela-sela jedanya ia belum juga menemukan apa yang harus dilakukannya, karena frustasi Siwon pergi dan bersembunyi.

***

Siwon tengah duduk di batu dekat taman. Banyak yang mencarinya, tapi pohon di belakang batu yang ia duduki membuatnya tak terlihat. Kabur saat syuting seperti ini adalah sikapnya yang sangat kekanakkan. Ia kesulitan memahami naskah. Ia harus mengulang-ulang adegan itu tapi tetap tak berhasil.

Sooyoung terus mencari Siwon. Walaupun selama ini ia sengaja menghindar agar tak bertemu dengan Siwon, tapi sekarang ia ingin membantu Siwon mengatasi masalahnya. Saat ini Siwon butuh seseorang yang harus membantunya. Dan secara suka rela Sooyoung mau melakukan hal itu. Sooyoung mencari ke segala penjuru tempat yang biasa dihampiri Siwon tapi tak menemukannya. Ia mencoba untuk menyusuri taman, di sana akhirnya ia bisa menemukan Siwon.

Sooyoung berjalan menghampirinya. Byan yang menyadari kedatangan Sooyoung segera memasang muka masam.

“ Kau sedang dicari-cari.”

“ Kau ke sini hanya mau menghina kan?”

“ Anni, hanya saja aku mau membantumu.”

“ Puih! Tidak mungkin.”

“ Kenapa tidak? Aku tahu kalau kita sekarang tidak akur. Tapi aku bukan berarti itu akan membuatku untuk berhenti membantumu. Aku bukan tipe orang yang ingin memanfaatkan kelemahan orang lain. Kalau lawan main punya kelemahan, aku harus membantunya. Demi profesionalisme.”

“ You’re right,” katanya pelan.

“ Apa? Apa yang kau bilang?”

“ Tidak, aku tidak bilang apa-apa.”

“ Alah, ayo mengakulah!”

“ Aku bilang banyak nyamuk, ayo kembali ke sana.”

Sooyoung tersenyum simpul begitu pula Siwon. Mereka berjalan bersama.

“ Ngomong-ngomong apa yang membuatmu  susah buat berakting adegan itu. Menurutku ya, dialognya pendek, gerakannya mudah, dan,…” kalimat Sooyoung terputus saat Siwon menggandeng tangan Sooyoung. Dipegangnya tangan Sooyoung erat.

“ Hanya saja saat melakukan adegan itu dengan Tiffany, aku tidak bisa mendapat feeling.”

“ Kenapa begitu?”

“ Aku sendiri juga tidak tahu.”

“ Sebelum-sebelumnya kau selalu baik-baik saja di film-film yang lalu. Belum pernahkan sampai seperti ini kan?”

“ Nde, tapi kali ini beda.”

“ Apanya yang beda?”

“ Pokoknya beda.”

“ Ih, lalu apa? Kau masih tak mau bilang. Siapa tahu aku bantu kan?”

“ Yakin mau bantu?”

“ Memangnya kenapa? Kau masih tak percaya aku? Ya sudah, aku pergi saja kalau begitu.”

“ Eh, eh, jangan. Ok ok. Begini, rasanya aku tidak bisa mendapat feeling karena ada yang beda. Karena tadi kau tak ada di sini. Tanpa kau aku leluasa berakting. Kali ini, di film yang sama ada kau. Aku jadi canggung.”

“ Canggung? Santai sajalah. Aku? I’m fine. Aku tak akan mengganggumu. Aku di sini juga bekerja untuk diriku sendiri. Bukannya mau mengganggumu.”

“ Bukan itu maksudku. Sebelumnya kau hanya menyemangatiku di belakang layar. Aku canggung karena kau jadi lawan mainku. Aku nggak bisa leluasa melakukan itu dengan Tiffany. Dan malah ingin melakukan adegan denganmu saat kau ada di sini.”

“ Hah?” Sooyoung tercengang. “ Kenapa begitu?”

“ Aku takkan bisa  melakukan itu dengan tulus kalau aku memang tidak menyukai orangnya.”

“ Tulus? Suka?” tanya Sooyoung dalam hati.

“ Jangan bercanda. Aku sekarang bukan yang dulu lagi. Bukan anak lugu, jadi jangan gampang bercanda seperti itu.”

“ Aku tidak bercanda. Aku jujur.”

“ Ihh….”

“ Sungguh. Rasanya berbeda seperti kemarin saat aku bersamamu. Saat itu aku bisa terbawa dalam karakter yang aku perankan, karena kau juga berakting dengan hebat.”

Siwon melempar pujian yang menyatakan akting Sooyoung “hebat”. Bukannya kemarin Siwon masih menilai akting Sooyoung setara artis kelas tiga? Hal ini membuat Sooyoung sedikit tersanjung. Rasa kesalnya seperti meleleh hilang.

“ Apa itu pujian?”

“ Ya iyalah, hebat itu memangnya bukan pujian ya?”

“ Kau ternyata baik juga, tidak hanya menyebalkan.”

“ Kapan aku menyebalkan?”

“ All the time.”

“ Benarkah?”

“ Nde, sangat menyebalkan. Sampai-sampai aku pernah berpikir untuk mencekikmu.”

“ Mencekikku? Teganya. Iya Aku memang menyebalkan bagimu. Tapi entah kenapa aku malah pernah merasa kalau aku suka padamu.”

Sooyoung merasa disambar petir. Apa dia salah dengar? Sampai-sampai ia membatu dan mulutnya rasanya seperti dilem. Pengakuan Siwon sangat mengejutkan baginya. Sekuat tenaga ia kembali bertanya pada Siwon.

“ Maksudmu?”

“ Apa aku benar-benar telah jatuh cinta? Kadang-kadang berpikir tentang perasaanku ini. Tadi aku sampai gila rasanya terus-menerus memikirkanmu.”

Sebelum Sooyoung sempat berkata-kata. Dengan mudahnya Siwon mengganti topik pembicaraan. Siwon agak malu setelah membuat pernyataan tadi. Pikirnya ini bukan saat yang tepat, belum saatnya ia menyatakan perasaannya karena itu sendiri belum yakin apa itu rasa cinta. Sooyoung hanya bisa menelan ludahnya. Sepertinya hari ini adalah hari yang paling mengejutkan bagi Sooyoung.

Mereka berdua terus bergandengan tangan sampai di lokasi. Lalu mereka melepas pegangan tangan itu saat mendekati keramaian orang-orang. Dalam hati masing-masing, mereka berharap takkan bisa melepas pegangan tangan masing-masing. Karena dengan itu mereka bisa bersama lebih lama lagi. Mereka merasa nyaman satu sama lain sekarang. Tapi Siwon yang dulu pernah membuat peraturan bodoh ini. Mau tidak mau ia harus menaatinya karena dia sendiri yang sudah membuatnya.

Dalam hati Siwon membodoh-bodohkan dirinya karena telah membuat peraturan bodoh itu. Ia tak ingin melepas pegangannya. Tapi Sooyoung tahu ia harus melakukannya. Lagi-lagi semua demi Siwon. Sooyoung rela. Siwon jadi sangat kesal pada dirinya sendiri.

“ Cukup di sini. Aku harus pergi. Aku tak ingin yang lain tahu dan aku akan malu nantinya.”

Sooyoung terpana, apa Siwon harus mengatakan kata-kata itu. Malu? Selama ini hanya karena malu? Siwon memang tak pernah mau serius dengan dirinya. Jadi selama ini yang ia kerjakan demi Siwon hanya dianggap sebagai angin lalu. Tadi ia berkata-kata manis, hanya untuk menjatuhkannya. Ia merasa dipermainkan sekarang. Tak bisa ditahan lagi. Matanya berkaca-kaca. Percuma saja, Siwon berjalan menjauh tanpa berpaling pada Sooyoung.

Siwon berjalan tanpa berpaling karena hatinya selalu ingin merasa di dekat Sooyoung. Tak ia sangka mulutnya tadi tak bisa bekerja sama dengan baik. Ia selalu mengatakan hal-hal yang menyakitkan pada Sooyoung. Membuatnya memasang tembok tinggi antara mereka berdua. Siwon tak ingin Sooyoung menderita karenanya. Nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terlanjur. Ia tak bisa memutar waktu kembali.

Sooyoung kembali merasa sedih dan benci. Ia merasa sangat rendah sekarang. Tak akan lagi ia mau membantu Siwon. Ia sungguh menyesal. Sekarang justru ia ingin membalas perlakuan Siwon yang membuatnya patah hati.

***

Karena sedih, ia kembali ke pantai. Menurutnya lebih baik ia menghabiskan waktu di sana, berharap bisa melupakan semua kejadian dengan Siwon tadi. Di perjalanan menuju pantai, Sooyoung terus-menerus menangis. Ia masih tak percaya yang terjadi hari ini. Siwon yang ia kenal bukannya seperti ini. Ia sangat amat sedih sekarang.

Sampai di lokasi di pantai. Ia langsung masuk penginapan dan tidur di kamarnya. Pikirnya dengan tidur bisa meringankan beban hatinya. Tapi ia salah, sampai mimpipun rasa itu terus mengikutinya. Ia bermimpi terus mengulangi kejadian tadi dan malah jadi lebih buruk.

Managernya datang dan menanyakan keadaan Sooyoung sekarang. Tapi kala itu Sooyoung masih tidur, ia kelihatan lelah sekali. Si Manager tak tega membangunkannya. Saat makan malam tiba, semua berkumpul untuk makan bersama tak terkecuali Sooyoung. Tapi ada yang aneh dengan Sooyoung. Matanya sembab, bengkak, dan memerah sepertinya ia terlalu banyak menangis. Penampilannya terlihat kusut tak seperti biasanya yang terlihat segar. Banyak yang berbisik membicarakannya. Mendengar hal ini Sutradara Shin tak tinggal diam. Selesai makan malam, ia memanggil Sooyoung.

“ Sooyoung, apa kau baik-baik saja?”

“ Hm, nde tentu aku baik-baik saja,” katanya sambil memaksakan senyum.

“ Jangan bohong. Ini sudah terlihat jelas.”

Sooyoung tertunduk lesu. Sutradara menghela nafas panjang.

“ Hm, sudahlah. Apapun yang terjadi padamu jangan sedih. Ingat lusa juga ada adegan sedih. Jangan sampai air matamu habis.”

Kata-kata Sutradara membuat Sooyoung tersenyum.

“ Terima kasih sarannya, aku pamit Sutradara. Selamat malam.”

***

Selama ia pergi ke lokasi awal ternyata semua kru telah bersenang-senang menikmati semua permainan air di sini. Walau ia agak kecewa karena tidak bisa bermain-main, ia masih bisa memakluminya. Salahnya sendiri kemarin pergi. Dan akhirnya malah jadi sakit hati sendiri. Hari ini rencananya kru akan pergi ke pulau di seberang pantai ini. Jaraknya tak terlalu jauh, naik speedboat mungkin hanya memakan waktu 15 menit. Sooyoung tidak ikut pergi. Ia beralasan sedang merasa tidak enak badan. Jadi ia memilih tinggal di penginapan atau melakukan spa di sini.

Manager Lee berusaha meyakinkannya agar mau ikut. Tapi Sooyoung tetap menolak. Keputusannya sudah bulat. Akhirnya berangkatlah semua kru. Tinggal ia sendirian. Baginya sendirian itu lebih asyik. Ia tak terlalu suka keramaian. Pilihan yang salah memang kalau ia memutuskan terjun ke dunia hiburan. Di sini tak ada kata sendiri, karena pasti ada Manager Lee, Presdir, Produser, kru, juga para penggemar di sekelilingnya. Tapi terjun ke dunia hiburan adalah impiannya dari dulu. Sekuat tenaga ia bisa masuk ke dunia ini, ia tak mau usahanya percuma. Apalagi kalau ia mengingat masa traineenya yang tak mudah. Juga berat hati meninggalkan kakaknya sendirian, karena di dunia ini hanyalah kakaknya satu-satunya keluarganya yang masih hidup.

Hari masih pagi, ia mau berjalan-jalan santai di sekitar pantai. Pasti ia akan merasa rileks pastinya. Ia berjalan dan terus berjalan. Tak ia sangka ia berjalan terlalu jauh. Ia hendak kembali tapi ada yang menahannya. Kakinya terlalu lelah. Ia putuskan untuk istirahat sebentar. Ia duduk bersandar di bawah pohon kelapa. Angin sepoi-sepoi membuatnya mengantuk, lalu tanpa sadar ia jadi tertidur.

Para kru sudah pulang dari wisatanya. Mereka tak menjumpai Sooyoung. Mereka kira Sooyoung ada di tempat spa, jadi mereka menyuruh Manager Lee menghampirinya untuk makan siang bersama. Sampai di tempat spa Sooyoung tak ada di sana. Ia mencari ke penginapan tapi Sooyoung juga tidak ada. Ia coba menelefonnya tapi ponselnya sengaja ditinggal di penginapan. Manager Lee khawatir. Manager Lee bilang ke semua orang kalau Sooyoung menghilang. Ia tak ada di tempat spa maupun di penginapan. Semua jadi panik. Mereka mengira Sooyoung tenggelam, diculik, atau perkiraan terburuk lainnya. Mereka memanggil 911, dan terus mencari keberadaan Sooyoung.

Tapi di sisi lain Sooyoung baru bangun dari tidurnya. Badannya terasa pegal, kakinya apalagi. Ia merentangkan tangannya dan menguap.

“ Baru bangun?” ada suara laki-laki yang mengagetkannya.

“ Siapa kau?”

“ Kau tak mengenaliku? Benarkah?”

Sooyoung jadi bingung, sepertinya ia benar-benar tak pernah kenal.

“ Aku tak mengenalmu. Cepat katakan kau ini siapa?”

“ Ok ok, jangan kaget ya? Aku Lee Minho. Sekarang kau ingat?”

“ Hah! Minho? Ini benar kau?”

Lee Minho adalah pemeran tokoh kakak Sooyoung dalam film ini. Ia bintang terkenal. Penggemarnya menggunung. Tak ada seorangpun yang tak kenal Minho di negara ini. Ternyata benar juga apa kata orang-orang dan dari foto yang pernah dilihatnya. Minho benar-benar tampan. Walau menurut Sooyoung yang paling tampan itu Siwon. Kalau boleh membandingkan dengan skala angka sih perbandingannya 2:3 untuk Siwon dan Minho. Beda-beda tipislah. Minho berperawakan tinggi, kulitnya putih bersih, pokoknya bisa dilihat kalau dia nyaris sempurna. Sooyoung sekarang bahkan masih tercengang melihat kalau itu benar-benar Minho.

“ Hei!,” Minho membuyarkan lamunan Sooyoung.

“ Sebegitunya ya kau terpesona mengagumi wajah tampanku ini. Sampai-sampai tak berkedip sedikitpun.”

Sooyoung sadar, “ sombong sekali kau. Hanya saja aku tak percaya kau ada di sini. Kenapa kau bisa ada di sini? Inikan jauh dari lokasi. Harusnya juga kau belum sampai di sini.”

“ Kenapa? Memang aku tidak boleh ada di sini? Memangnya ini tempat privasi milikmu? Bukan kan?”

Sooyoung tergagap, “ bukannya begitu, hanya saja aku masih belum bisa percaya.”

“ Memang kau harus percaya?”

“ Ih, menyebalkan.”

“ Menyebalkan sama sepertimu. Wah, kita sama ya?” kini Minho meledek Sooyoung.

Sooyoung diam. Sepertinya ia ngambek. Minho sadar itu lalu dia jadi bersikap serius.

“ Aku ke sini cuma karena ingin sendiri. Tak sangka malah bertemu denganmu. Ini kebetulan sekali ya? Aku sampai duluan dari jadwal karena aku memang orang yang ingin datang lebih awal. Aku juga tidak  salah kan?”

Sooyoung kini dapat menerimanya.

“ Bukannya dari tadi bilang. Tak perlu buang tenaga dan waktu kan?”

“ iya iya, sory ya?”

“ Hm,…” Sooyoung hanya membalasnya dengan gumaman.

Minho melangkah maju mendekati Sooyoung dan duduk di sampingnya.

“ Kau sendiri, kenapa bisa ada di sini?”

“ Oh, aku suka sendiri. Apalagi kalau sedih.”

“ Jadi sekarang bersedih? Pasti karena pacar?”

Sooyoung tadi keceplosan. Entah kenapa ia bisa mengatakannya begitu saja di hadapan Minho. Padahal ia baru mengenalnya. Biasanya Sooyoung takkan bercerita semudah itu pada orang baru. Tapi ada sesuatu yang menariknya. Seperti ada kedekatan khusus antara mereka. Ini tak bisa terjadi. Belum tentu Minho itu orang yang baik.

“ Bukan pacar, hanya teman.”

“ Kalau teman tidak seperti inikan kau menanggapinya. Jangan bohong, pasti lebih dari sekedar teman kan?”

“ Mulai deh, kau jadi sok tahu.”

“ Aku memang tahu. Apalagi kalau gadis sepertimu, aku paling tahu itu.”

“ Ih, dasar playboy.”

“ Kau bilang aku playboy?”

“ Bukan, aku tadi bilang Pinkyboy.”

“ Apa? Awas ya kau.”

Sooyoung berdiri lalu ingin berlari. Tapi tak ia sangka kakinya malah tersandung kaki satunya. Ia kehilangan keseimbangan lalu jatuh menindih Minho.

“ Aduh!!!!!” teriak Minho yang tertindih.

Sooyoung segera berdiri, ia malu kalau ternyata ia jatuh menindih Minho.

“ Gwencana?” Minho malah bertanya.

“ Nde, aku tak apa-apa, maaf  ya?” Sooyoung mengatakannya dengan muka memerah. Ia sangat malu sekarang.

“ Uh, ternyata kau berat sekali. Rasanya seperti tertimpa badak.”

“ Apa kau bilang? Aku jadi malu tahu. Sudah jangan bahas lagi ya? Maaf ya?”

“ Nde Nona Choi…”

Choi? Bagaimana ia bisa tahu nama depan Sooyoung? Sooyoung curiga. Tadi ia merasa ada kedekatan dengan Minho. Sekarang Minho memanggilnya dengan nama belakang. Apa ia pernah mengenal Minho sebelumnya? Ah, mungkin perasaannya saja. Wajar saja seseorang mengetahui nama belakang orang lain. Itu sangat wajar. Ia tak boleh berprasangka lagi.

Kalau mereka lagi asyik bercanda sambil main-main. Semua kru saat ini sedang panik. Hari mulai sore tapi Sooyoung belum juga muncul. Sudah diputuskan Sutradara Shin akan menelefon Sutradara  Yang yang ada di lokasi pertama (lokasi syuting Siwon) dan Produser.

“ Apa? Sooyoung hilang. Tenggelam? Diculik? Bagaimana bisa?”, Sutradara Yang tengah melakukan pengambilan gambar saat menerima telfon yang memberitahukan bahwa Sooyoung hilang.

Kebetulan Siwon ada di situ, ia mendengarnya. Ia syok berat. Sooyoung tenggelam atau diculik. Syuting dihentikan sementara. Tapi Siwon terlalu panik, tanpa pikir panjang ia berlari ke ruangan mengambil kunci mobil lalu pergi ke lokasi syuting Sooyoung. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Sooyoung. Ia akan menyalahkan dirinya sendiri kalau itu sampai terjadi. Kata-katanya yang mungkin membuat Sooyoung jadi seperti ini. Tanpa ia sadari tujuannya kali ini adalah pantai. Siwon sungguh benci tempat ini. Ada kepiting, kerang, siput, dan hewan laut lainnya. Ia paling takut dengan hewan-hewan seperti itu. Ia bahkan tak ingat traumanya akan pantai dan laut. Ia terus menambah kecepatan mobilnya.

Sampai di lokasi itu hari sudah sore. Siwon langsung mencari Managernya Sooyoung, Manager Lee.

“ Manager Lee, dimana Sooyoung?”

“ Aku juga belum tahu. Kalau aku sudah tahu, pastinya Sooyoung ada di sini sekarang.”

Siwon makin panik sekarang. Siwon lantas pergi begitu saja. Sejauh ia melihat semua orang juga sama paniknya di sana. Di pantai tengah diadakan patroli pencarian. Siwon ikut menyusuri pantai untuk mencari Sooyoung. Kemudian ia putuskan pergi sendiri lebih jauh agar dapat menemukan Sooyoung. Ia berjalan makin jauh dari penginapan. Ia menahan diri saat melihat kepiting atau kerang berserakan di sana-sini sepanjang pantai.

Sooyoung tengah bercanda dengan Minho. Tak pernah mengira bintang seperti Minho kelihatan dingin dan kurang peduli dengan orang lain bisa sehangat dan sangat bersahabat seperti sekarang.

“ Sudah-sudah mainnya. Aku lelah.” Sooyoung berhenti.

Sooyoung menghempaskan tubuhnya ke pasir yang putih. Minho yang bermain air di pinggiran mengikuti Sooyoung dan berbaring di sampingnya. Mereka berdua menatap langit biru yang luas.

“ Aku senang sekali,” kata Minho.

“ Aku juga senang sekali, terimakasih Minho,” jawab Sooyoung

“ Tidak, harusnya aku yang berterima kasih. Jarang sekali aku bertemu orang yang sepertimu. Membuatku bisa menikmati ini semua. Sebelumnya aku bosan dengan kehidupanku. Sekarang ia baru mengerti sisi lain kehidupan yang indah. Menikmati hidup yang sekarang ini. Ini semua karenamu. Terima kasih Sooyoung.”

“ Itu tidak perlu, aku memang harus berterima kasih. Sekarang rasa sedih itu hilang. Dan rasanya lucu sekali bisa bermain dengan bintang sepertimu. Ada yang bisa aku jadikan pelajaran, kalau nantinya aku juga bisa jadi bintang sepertimu aku tak akan lupa untuk bermain seperti ini agar aku tak merasa bosan,” pernyataan aneh itu membuat Minho tertawa, terbahak-bahak malah.

Hari mulai gelap, mereka harus bergegas menuju penginapan. Sebelum kembali Minho ingin mengatakan sesuatu.

“ Sooyoung, bukankah kau belum mengenal aku?”

“ Maksudmu apa?” Sooyoung jadi heran.

“ Kita kan belum kenalan. Ayo kita kenalan! Namaku Lee Minho.”

Walaupun agak terkesan konyol Sooyoung mau saja berkenalan dengannya.

“ Namaku Choi Sooyoung.”

“ Senang berkenalan denganmu.”

“ Nde aku juga.”

“ Maukah kau berteman denganku?”

“ Tentu, dengan senang hati.”

“ Kita teman?”

“ Nde, kita teman.”

“ Hm, sebentar. Aku punya sesuatu.” Minho mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Lalu ia berikan pada Sooyoung.

“ Ini kerang untukmu. Aku tadi tak sengaja menemukannya saat bermain. Kukira ini cukup bagus, bukan begitu?”

“ Nde,  ini bagus sekali. Terima kasih, Minho.”

“ Sama-sama,” sambil merangkul Sooyoung.

Mereka berjalan pulang. Tapi lagi-lagi kaki Sooyoung lelah. Ia tak sanggup lagi berjalan. Minho menawarkan bantuan. Sooyoung menolaknya. Tapi si Minho bersikeras, ia menggendong Sooyoung langsung. Sooyoung malu, tak seharusnya ia melakukannya. Sooyoung bukan anak kecil. Tapi protesnya diabaikan Minho. Baginya tak ada yang bisa menghalanginya untuk menolong seorang teman.

Celaka! Setelah Siwon berjalan jauh menyusuri pantai, akhirnya menemukan Sooyoung tapi dalam keadaan bersama pria lain. Malahan sedang digendong. Siwon sangat kesal. Dia menghampiri mereka. Ia menatap tajam mereka berdua. Sooyoung takut dan hanya menyembunyikan wajahnya di balik bahu Minho.

“ Sooyoung!! Turun sekarang.” perintah Siwon. Sooyoung menurut saja. Ia turun. Ia menatap Minho. Tapi Minho sepertinya mengerti isyarat dari Sooyoung. Ia tahu keadaan mereka sekarang.

Siwon menarik Sooyoung dari samping Minho, “ ayo ikut!”

“ Tidak! Ia akan tetap bersamaku,” Minho kembali menarik Sooyoung.

“ Hei! Siapa kau ini? Kau bukan siapa-siapa dalam urusan kami.”

“ Urusan? Urus di sini sekarang juga!”

Ketegangan terjadi di antara mereka. Sooyoung hilang nyali. Dua orang yang dekat dengannya sedang bersitegang karenanya. Ia jadi takut. Jangan sampai mereka bertengkar.

“ Jangan ikut campur! Memang kau ini pacarnya?”

“ Nde, aku pacarnya. Urusannya urusanku juga. Kau ini temannya? Oh, teman yang tadi  membuatnya sedih. Memangnya dia punya salah apa?”

“ Hah! Tak mungkin. Sooyoung takkan pernah memiliki pacar sepertimu.” ( “Karena selama ini ia adalah pacarku. Dan aku satu-satunya miliknya,” katanya dalam hati) “Ia sedih ia marah itu tak ada kaitannya denganku. Lebih baik kau menjauh.”

“ Tak akan aku biarkan kau membawa Sooyoung, coba saja kalau berani.”

Siwon tertantang. “ Sooyoung, ayo pergi!” kini tangannya menarik Sooyoung dengan kuat.

“ Siwon cukup, aku akan pergi. Tapi tak bersamamu. Aku akan pergi dengan Minho.”

Sooyoung kembali ke sisi Minho dan menggandengnya pergi. Meninggalkan Siwon yang tercengang. Siwon tak habis pikir, kenapa Sooyoung bisa begitu. Siwon hanya berniat membawa Sooyoung kembali. Semua orang telah dibuatnya cemas tak terkecuali dirinya saat ini. Ternyata ia pergi bersama pacarnya. Dan apakah itu pacarnya? Kenapa selama ini Sooyoung tak bilang kalau dia telah memiliki pacar semenjak dekat dengannya. Hatinya begitu terpukul melihat Sooyoung bersama orang lain.

***

Sooyoung tiba di lokasi bersama Minho dan mereka masih bergandengan. Membuat yang lain terheran-heran. Mana bisa Sooyoung kenal dengan Minho? Tapi semua rasa penasaran segera tersingkir melihat Sooyoung benar-benar telah tiba. Orang yang selama ini mereka khawatirkan dan cari-cari sudah ketemu. Mereka segera berhamburan menyambutnya. Siwon yang berjalan belakangan juga sudah tiba. Ia merasa sangat cemburu melihat Sooyoung ada di samping Minho. Ia pergi ke mobil dan tidak berkumpul dengan yang lain. Ia melampiaskan kekesalannya di mobil. Ia memukul-mukul setir kemudi.

Setelah kejadian itu Sooyoung tak bisa tidur dengan tenang. Banyak pertanyaan yang ada dalam pikirannya. Kenapa Siwon bisa ada di situ dan kenapa ia marah-marah seperti itu? Kenapa sekarang ada Minho di sampingnya? Kenapa Minho mengaku jadi pacarnya di depan Siwon? Dan KENAPA SEMUA INI TERJADI???

***

Sudah larut, karena tetap tak bisa tidur. Sooyoung ingin keluar mencari udara segar. Saat ini bulan sedang bersinar terang. Tak terlalu gelap untuk berjalan di pinggir pantai. Angin dingin bagi Sooyoung tak ada apa-apanya. Tubuhnya serasa mati rasa. Tak ada yang dapat ia rasakan selain rasa sedih. Ia berdiri di pinggir pantai tepat di depan penginapannya. Ia sendirian. Bias-bias cahaya bulan yang terpantul di air laut sangat indah. Membuatnya hanya berdiri terkagum. Di tangannya ada kerang pemberian Minho. Digenggamnya kerang itu dengan erat.

Tiba-tiba ada suara langkah kaki di belakangnya. Ia tak mampu menoleh, dirinya sedang was-was sekarang. Ada yang menggapai pundaknya sekarang. Tangan itu terasa dingin. Saat ini ia mengira pasti sedang bertemu dengan hantu.

“ Sooyoung?” tanya hantu itu pelan.

“ Kenapa?” tanya hantu itu lagi.

“ Dia?” kini suaranya sedikit mendesis.

Sooyoung masih ketakutan, tubuhnya bergetar. Hantu ini bahkan tahu namanya. Suara ini tak asing baginya. Ia berbalik. Dan terbelalak melihat siapa yang ada di belakangnya.

“ Siwon?” ia terkejut.

“ Sooyoung kenapa kau bisa bersama dia?”

“ Minho, maksudmu?”

“ Aku tak peduli namanya. Jawablah kenapa?”

“ Aku tak tahu, hanya saja terjadi begitu saja.”

“ Apakah benar? Ada sesuatu di antara kalian?”

“ Mana mungkin. Aku baru mengenalnya.”

“ Tak terjadi apa-apa antara kalian?”

“ Siwon cukup! Buat apa kau bertanya seperti itu. Bukan urusanmu,” amarah Sooyoung meledak.

“ Kau tidak ingat?”

“ Apa?” Sooyoung berusaha mengingat. Oh, janjinya pada Siwon. Ia akan terus setia pada Siwon. Buat apa lagi janji itu? Sooyoung menganggapnya hilang seiring langkah Siwon yang jauh.

“ Itu semua tak ada artinya lagi,” kata Sooyoung.

“ Young?”

“ Kau sendiri yang membuatnya lenyap.”

“ Tidak. Kau tidak terlalu sabar. Aku mohon tunggu, tapi kau tak bisa menungguku.”

“ Sabar kau bilang! Kau tahu selama ini apa? Cukup sabar aku menerima perlakuanmu. Cukup sabar untuk mengesampingkan diriku. Cukup sabar bila kau mulai mengabaikanku. Cukup sabar Siwon, kau tahu itu?” Air matanya berlinang sekarang.

“ Kalau maksudmu begitu, aku tahu Sooyoung. Sungguh aku tahu. Hanya saja aku tak bisa mengatakannya. Setiap kali aku melihatmu, terlebih saat sedih, aku tak bisa bergerak, tak ada yang bisa aku lakukan untukmu. Apa yang ada dihatiku tak bisa aku ungkapkan dengan sikapku. Sepertinya tidak bisa. Mengertilah, aku mohon.”

“ Begitukah? Harapan yang kau beri sampai sekarang ini apa artinya? Dan satu hal lagi. Selama ini kau menganggap aku apa?”

Siwon membatu. Ia tak bergerak sedikitpun. Dan tak bisa berkata apa-apa.

“ Bagus. Kalau itu jawabanmu,” Sooyoung kecewa Siwon tak mengatakan sepatah katapun.

“ Kau tak mencegahku pergi sekarang. Aku akan pergi dari diriku yang dulu. Yang dengan  bodohnya mencintaimu.”

Sooyoung terisak, ia hendak kembali ke dalam. Saat ia mulai berjalan Siwon menariknya dan memeluknya. Dalam pelukan Siwon tangisnya semakin menjadi. Ia merasa hati Siwon masih saja tetap dingin padanya. Tak ada gunanya terus mencintainya, karena Siwon tak memberi kepastian. Hanya satu kata yang harus dikatakan Siwon, “ ya” atau “tidak”. Apakah cukup sulit? Ia tak meminta lebih dari jawaban itu. Ia tak mengharap terus di sisinya ataupun dilindunginya.

“ Jangan pergi dariku. Aku mohon.”

“ Kau mencegahku pergi, apakah ini sungguhan?”

Saat Siwon meraih tangan Sooyoung, ada kerang di genggaman Sooyoung. Ini membuat satu lagi yang membuat hati Siwon mengganjal. Terlebih ia benci kerang ataupun hewan laut sejenisnya.

“ Ini darinya?” mengambil kerang itu.

“ Lupakan dia.” Dibuang kerang itu kembali ke laut.

Sooyoung marah melihatnya.

“ Apa yang kau lakukan?”

“ Tentu saja membuangnya. Lupakan dia, Young?”

“ Kau tak tahu apa-apa tentang dia. Dia terlalu baik.”

“ Lagi-lagi dia, ha?”

“ Siapa yang kau panggil dia? Namanya MINHO. APA KAU MENGERTI?”

“ Kau ini,…. Ah! Percuma saja aku meyakinkanmu! Sial!” Siwon sangat kesal.

“ Terserah apa katamu. Kenapa kau terus bicara ini itu, melarangku ini itu, memintaku ini itu. Ini bukan hanya karena kau Siwon, ada juga hatiku dan perasaanku. Apa kau tak tahu itu?”

“ Jadi kau lebih memilih dia daripada aku?” Siwon melotot.

“ Bukan masalah memilih, apa aku tak boleh berteman? Kulihat kau berteman dengan gadis-gadis bodoh itu. Kau pikir aku tak tahu itu?”

“ Aaarrrghhh! Terserah. Aku tak peduli.” Siwon pergi begitu saja.

Sooyoung sendiri langsung meringkuk duduk dan menangis. Baru saja harapan itu muncul tapi sifat posesif Siwon merusak segalanya. Tak bisakah ia menerima Minho sebagai teman Sooyoung.

***

Fajar telah muncul. Sooyoung baru bisa tidur beberapa menit, ia sudah terbangun. Rasanya sangat malas untuk bangun. Pagi ini syuting sudah di mulai kembali. Ia harus bersiap. Manager membawakan sarapan khusus untuk Sooyoung. Sepertinya Manager Lee bisa menebak kalau Sooyoung pagi ini tak mau turun untuk makan pagi bersama. Setelah mandi dan bersiap, Sooyoung menghampiri Manager untuk makan paginya.

“ Terima kasih Manager,” ia tersenyum tipis.

“ Sama-sama. Kau masih tampak lelah. Apa kau baik-baik saja?”

“ Hm,.. tentu,” jawabnya sambil mengunyah sereal.

“ Aku tidak percaya. Sini kulihat,” tangannya meraih dahi Sooyoung. Dan terkejut mengetahui kalau ternyata Sooyoung agak panas.

“ Kau demam?”

“ Ah, sudahlah aku tak apa-apa. Hanya terlalu lelah.”

“ Aku buatkan madu hangat untukmu. Hari ini kau tidak boleh sakit. Ingat, jaga kesehatan ya?”

Manager Lee pergi hendak menyiapkan madu hangat untuk Sooyoung. Tapi Sooyoung mencegahnya dan meminta ice cream sebagai gantinya.

“ Manager, tunggu. Jangan madu hangat. Lebih baik ice cream, begitu terkena es panasku akan hilang.”

“ Kau ini. Teori dari mana itu? Hust! Sudah, harus madu hangat titik.”

Sooyoung akhirnya menurut.

Saat jam menunjukkan pukul 9, semua telah siap syuting akan dimulai. Tapi Sooyoung tak juga melihat Minho. Ia bertanya pada Sutradara Shin.

“ Sutradara, dimana Minho?”

“ Oh, Minho. Ia belum selesai. Masih memakai make up. Ia agak terlambat bangun pagi ini. Tunggulah kalau ingin melihat dia karena kamu terlebih dulu melakukan pengambilan gambar. Ayo siap-siap.”

“ Aku? Aku dulu?”

“ Nde, tentu. Siapa lagi?”

“ Baiklah. Hm, boleh aku bertanya?”

“ Apa? Katakan saja.”

“ Dimana Siwon?”

“ Ia di penginapan. Kelihatannya ia lelah sekali. Kemarin ia ke sini hanya untuk membantu mencarimu. Jadi jangan menghilang lagi ya?

“ Ok,” jawab Sooyoung.

Sooyoung melakukan pengambilan gambar dulu. Dan tak seberapa lama kemudian selesai. Ia melihat kembali hasil kerjanya. Sutradara cukup puas. Tapi Sooyoung masih belum puas. Ia harus berusaha lebih baik, ia tak ingin terlihat biasa saja di mata Minho. Ia minta diulangi dan diijinkan.

Saat Sooyoung mengulangi pengambilan gambar, Minho sudah selesai dan melihat aksinya. Begitu Sutradara kembali bilang ok, bagiannya berarti selesai. Minho tersenyum dan mengacungkan jempol padanya.

“ Kau hebat.”

“ Terima kasih. Sudah sana, giliranmu sekarang,” Sooyoung mendorong Minho pergi dan tersenyum-senyum.

Giliran Minho mengambil gambar, Sooyoung menontonnya sambil melongo. Minho begitu memukau. Dalam ekspresi sedihpun setampan ini. Apalagi melihat dia tersenyum, rasanya seperti melihat senyuman malaikat. Sooyoung menjadi sangat mengagumi Minho. Ia ingin seperti Minho. Menjadi bintang yang begitu bersinar saat meraih puncak popularitas. Ia tak ingin lagi berusaha hanya demi sejajar dengan Siwon. Ia akan berusaha untuk dirinya sendiri.

Tiba saatnya melakukan akting bersama Minho. Ia sedikit gugup. Tapi ia segera menyingkirkan perasaan gugup itu. Kalau ia gugup segalanya akan kacau, ia tak ingin itu terjadi. Syuting dimulai, awalnya akting mereka bagus. Sampai Minho mempengaruhi akting Sooyoung. Ia membawanya masuk ke ekspresi yang salah. Sutradara bilang cut.

“ Cut!”

“ Maaf-maaf,” kata Sooyoung meminta maaf.

“ Sooyoung, seharusnya kamu ini berekspresi senang bisa bersama-sama kakaknya. Bukannya seperti bersama kekasihmu. Ingat, itu kakakmu. Ayo ulangi.”

Sooyoung malu setengah mati. Seperti bersama kekasih? Ucapan Sutradara membuatnya kehilangan muka di hadapan Minho. Ia lalu sadar. Minho terlalu membawanya ke arah cinta, perhatiannya berlebihan. Ia harus bisa memposisikan diri sekarang. ia harus mencari feel seperti saat bahagianya bersama kakaknya sendiri.

Hidup berjuang seorang diri bersama kakak memang tak mudah. Suka duka mereka lalui berdua. Sooyoung ingat saat hari-hari sebelum ulang tahunnya kakaknya sering tak pulang. Katanya banyak pekerjaan, ternyata semua itu kakaknya kerjakan agar bisa membelikan kado untuk Sooyoung. Ia begitu bahagia sekaligus terharu saat itu. “Terharu”, yak betul ia juga harus menunjukkan kebahagiaannya dengan terharu. Dan akhirnya berhasil. Ekspresinya tepat. Minho bahkan sangat memuji Sooyoung. Ia berhasil memasuki karakternya.

Siwon mengamati kerja mereka lewat jendela kamarnya. Ia sangat cemburu melihat mereka berdua. Setelah pengambilan ini, ada jeda sedikit untuk mengumpulkan tenaga. Sooyoung sempat bicara pada Siwon yang keluar saat itu.

“ Cari kerang itu atau aku tak akan mau bicara denganmu lagi.”

“ Aku tidak butuh bicara denganmu. Ancamanmu tak akan berpengaruh.”

Padahal di sini Sooyoung berharap Siwon mau melakukannya dan dapat melihat kesungguhan Siwon. Sayang Siwon tak mau, karena ia menganggap hal itu berhubungan dengan Minho.

“Kau masih tak mau mencarinya? Ok, akan aku cari sendiri.”

Sooyoung berpaling dan pergi. Siwon menatapnya kesal. Sooyoung masih saja bersikeras. Siwon tak suka cara Sooyoung yang seperti ini. Siwon memutuskan untuk segera pergi dari sini. Ia sendiri tak mau lebih kena marah dari pihak syuting yang ada di lokasi satunya.

Saat Siwon pergi ternyata Sooyoung nekad mencari kerang itu. Ia mencari tepat di tempat Siwon melemparnya. Tapi ia tak menemukannya, ia menyelam lagi. Ia tak bisa melihatnya dimana-mana. Ia lagi-lagi mengambil nafas panjang dan menyelam berkali-kali. Tak terasa ia terlalu lama menyelam. Kakinya tiba-tiba tak bisa digerakkan. Kakinya akhir-akhir ini sedikit bermasalah. Tapi karena kakinya kram, ia jadi tenggelam. Saat muncul ke permukaan ia berteriak minta tolong sambil melambaikan tangan. Tapi tak seorangpun mendengarnya. Semua ada di lokasi yang lumayan jaraknya dari sana. Sooyoung putus asa, mungkin  ini takdirnya untuk mati di sini. Ia mejamkan matanya dan mulai kehilangan kesadaran.

“ Ottokhe? Tuhan, apakah aku akan mati?” batinnya.

Saat terbangun matahari menyilaukan matanya. Ia terbatuk-batuk. Di sampingnya ada Minho. Minho yang telah menolongnya. Syukurlah ada Minho, kalau tidak ia tak tahu akan bagaimana jadinya. Ia terlalu lemah. Minho membawanya pergi dari situ agar segera mendapat pertolongan. Setelah keadaannya membaik, di sana ia melihat kru berkumpul. Mereka prihatin atas kejadian yang menimpa Sooyoung. Tapi Sutradara malah marah-marah. Dia bilang tindakan Sooyoung sangat tidak rasional.

“ Tindakanmu itu sangat tidak rasional, jauh dari kode etik profesional. Sebagai artis kau harus menjaga diri agar tidak sakit atau mengalami kejadian seperti itu. Kemarin kau juga menghilang begitu saja. Kau pikir ini permainanmu. Kau pikir tak ada yang mengkhawatirkanmu?”

Manager Lee berusaha menenangkan Sutradara Shin. Sebagian juga adalah salahnya. Ia kurang baik dalam mengurus artisnya. Kemarin Manager Lee malah ikut wisata padahal artisnya tidak ikut. Artisnya demam, tapi ia hanya diam saja. Dan saat artisnya tenggelam ia bukan orang pertama yang tahu. Ia menyalahkan dirinya sendiri.

Sutradara diam saja menanggapinya.

“ Aku tak mau hal ini terulang kembali.”

Ia lalu mundur membiarkan Sooyoung istirahat. Sebelum itu, Minho juga menanyakan keadaannya.

“ Bagaimana keadaanmu?”

“ Bisa kau lihat sendiri, aku seperti bayi. Tak bisa apa-apa selain menyusahkan kalian semua. Terimakasih Minho, kau mau menolongku. Kita tak sempat bicara setelah kejadian itu ( saat Minho dan Sooyoung bertemu Siwon). Maafkan aku. Dan…”

“ Sudah beristirahatlah. Cepat sembuh. Agar dapat segera kembali syuting.”

“ Hm, Nde. Tunggu Minho, ada satu hal lagi. Kenapa ?” ( Maksudnya kenapa Minho mengaku sebagai pacarnya saat di depan Siwon, ia hanya mengisyaratkan kenapa karena tak ingin Managernya tahu masalah itu).

“ Hanya ingin melindungi dan menolong teman. Aku pergi dulu, daaa…”

Sooyoung masih memikirkan Siwon, kenapa Siwon tak menolongnya. Siwon kan tahu kalau Sooyoung pergi mencari kerang itu. Sampai saat ini Siwon juga tak muncul. Sooyoung belum tahu kalau saat itu ternyata Siwon langsung pulang.

Setelah beberapa hari, keadaan Sooyoung membaik. Ini berkat Manager Lee dan Minho yang bersedia merawatnya. Hal ini membuat Sooyoung semakin dekat dengan Minho. Minho mengembalikan kerang itu. Ia bilang kalau ia mencarinya lagi setelah menyelamatkan Sooyoung. Syuting kembali dilanjutkan dan kali ini semuanya berjalan dengan lancar.

***

Sooyoung harus kembali ke lokasi awal. Ia harus berpisah dengan Minho. Minho akan memulai kesibukannya sendiri. Tapi sebelumnya mereka sudah berpamitan baik-baik. Jadi diharapkan komunikasi mereka tetap berjalan sebagai teman. Di lokasi ini Sooyoung kembali dipusingkan oleh Siwon.

Banyak adegan yang sudah terselesaikan, tiba saatnya Sooyoung beradegan kissing dengan Siwon. Tentu sebelumnya ia menolak. Tapi ini sudah tertulis di kontrak, ia harus melakukannya. Sebenarnya ia belum tahu kalau Siwon yang akan menjadi lawan mainnya saat ia menerima tawaran itu. Walaupun itu bukan Siwon sekalipun ia harus benar-benar melakukannya. Demi profesionalisme. Mulanya ia begitu kesal, tapi lama-kelamaan ia bisa menenangkan diri. Hanya sekali ini, ia harus melakukan yang terbaik agar ia tak harus mengulanginya.

Pengambilan gambar dimulai, diawali dengan dialog pendek. Dan yak Siwon melakukannya begitu saja. Sebenarnya Siwon tidak bisa menahan dirinya sendiri dan akting adalah alasannya melakukan itu. Kadang Siwon ini gila juga. Sooyoung hanya menyesuaikan akting Siwon, ia tak mau terlalu terbawa. Dan cut! Mereka berhasil. Siwon tersenyum penuh kemenangan, kalau tak ada kru di situ Sooyoung pasti langsung menamparnya di situ.

Seperti semula, Siwon lagi-lagi membuat masalah dengan bertengkar dengan Sooyoung selama syuting selanjutnya berlangsung. Emosi masing-masing dapat turun, konflik dapat diredam. Kini  Siwon mencari masalah dengan tak mau pergi ke pantai untuk mengambil gambar di sana. Sooyoung mulai lelah melihat sikap Siwon dan pergi mencari udara segar.

Tiba-tiba kru variety show datang. Ketika itu Sooyoung sedang berjalan-jalan di taman sekitar lokasi syuting. Ia mendengar bahwa besok di selenggelarakan syuting variety show di sana, dan ternyata tema kali ini adalah mengungkap sisi lain Siwon sang tokoh utama film ini. Dalam perannya karakternya begitu pendiam tapi keren dan romantis. Padahal yang seperti Sooyoung tahu, sebenarnya Siwon begitu menjengkelkan, suka mencampuri urusan orang lain dan juga sangat tempramental.

Ide jahil Sooyoung muncul seketika itu. Ia berniat membongkar image buruk si Siwon itu. Agar semua orang tahu sifat aslinya. Sifat yang jauh dari kesan yang ia tinggalkan di dunia hiburan selama ini. Pertanyaan besok harus dibuat oleh kru yang selama ini terlibat  syuting bersama Siwon. Itu adalah salah satu peluru jitu yang siap diluncurkan Sooyoung.

Setelah beberapa lama produser berbicara dengan pihak variety show, akhirnya pihak variety show pamit. Produser berjalan menuju tangga untuk kembali ke lokasi. Kesempatan ini dimanfaatkan Sooyoung.

“ Produser?”, panggil Sooyoung.

Produser menoleh,” Nde, Young. Ada apa?”, dia balik bertanya.

“ Ouh, produser. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan.”

“ Tumben sekali, biasanya kau tanya pada Sutradara. Apa ini penting?”

“ Tentunya sangat penting,” kata Sooyoung keceplosan.

“Uhm, maaf. Maksudku begini. Boleh tidak aku ikut pada acara besok itu?”

“ O itu, tentu saja kau boleh. Kau kan salah satu pemain  film ini. Kau dan pemain lain memang wajib mengikuti acara ini.”

“ Benarkah?” ia terkejut.

“ Terima kasih atas waktunya, maaf mengganggu. Aku pamit Produser. Selamat siang.”

“ Nde,” Produser meneruskan langkah, tapi ia langsung berbalik dan memanggil Sooyoung.

“ Sooyoung?”

“ Ya?”

“ Satu hal lagi. Aku berharap kau besok membantu yang lain dalam acara ini. Aku percaya kemampuanmu. Jangan sampai kita terlihat buruk. Meriahkan suasana, berusahalah untuk melakukan yang terbaik.”

“ Siap!” Sooyoung tersenyum bangga. Ia bangga akan perkataan Produser. Akhirnya ia bisa memegang situasi. Kini tangannya bisa merencanakan rencana jitu untuk balas dendam pada Siwon. Sudah lama ia menanti saat-saat seperti ini.

Ia berjalan ke ruangannya. Di sana ada Managernya yang sedang sibuk menatap laptopnya. Ada juga Make up Artist dan Assistentnya.

“ Hore!!!!!!!!!!” ia berteriak riang.

Semua menoleh keheranan.

“Apa kau sakit Sooyoung?” tanya Manager.

Si Assistent berusaha memastikannya dengan berusaha memegang jidat artisnya itu. Tapi keduluan ditampik oleh Sooyoung.

“ Aku sehat,” jawabnya dengan mata berbinar dan senyum merekah.

Manager Lee terheran-heran, tak biasanya Sooyoung begini. Saat di lokasi seperti sekarang ini biasanya dia murung, melamun, sedih, marah, mengomel, ataupun galau. Tapi kini kenapa ia begitu riang gembira? Ada sesuatu yang membuat Manager Lee curiga. Lalu Manager Lee memasang ekspresi yang menakutkan yang tak bisa ditolak maksudnya oleh Sooyoung.

Seakan mengerti maksudnya, Sooyoung berkilah.

“ Tidak! Tidak ada apa-apa sungguh.”

“ Kau bohong. Kau menyembunyikan sesuatu.”

“ Uhm, tidak.”

Manager berpikir keras. Tapi ia asal menebak.

“ Aha! Kau makan coklat lagi kan? Ayo mengaku? Kau tak boleh makan coklat, kau sedang menjalani program diet.”

Sooyoung tersentak. Hehe, sang Manager salah tebak. Ia jadi kegirangan setengah mati. Ia hanya melempar senyum pada Manager.

“ Nde,” ia mengucapnya sambil terkikih.

“ Nah, sudah kuduga. Sekarang mana coklatnya! Ayo, masihkan? Jangan bilang kalau sudah kau makan semuanya.”

“ Hehehe, sudah habis.”

“ Apa?” si Manager terkejut.

Sooyoung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Managernya. Ia puas bisa mengerjai Manager Lee. Besok tinggal waktunya mengerjai Siwon. Sementara ia terus tertawa, si kru Make up Artist hanya bisa bengong melihat tingkah dua manusia yang ada di hadapannya.

Ternyata di luar kebetulan Siwon melintas. Ia mendengar Sooyoung tertawa lepas. Ia curiga, tapi ia segera membuang kecurigaannya dan malah tersenyum simpul. Dalam hatinya, ia senang mendengar Sooyoung tertawa seperti ini. Lama ia tak mendengar suara tawa Sooyoung sejak syuting ini dimulai. Ia berlalu.

Tibalah saat esok hari yang sangat dinantikan Sooyoung. Ia ingat semalam ia menyusun rencana. Misinya hanyalah untuk mempermalukan Siwon dengan menunjukkan sifat aslinya. Pertanyaan yang akan diajukan harus dibuat kru syuting sendiri. Kesempatan ini yang ia ambil untuk mengerjai Siwon. Secara sengaja menjilat teman krunya yang bertugas memampung pertanyaan dari semua kru. Sooyoung bersedia menangani urusan pertanyaaan ini sendiri. Temannya itu terlena, ia pikir tugasnya akan selesai begitu saja. Ia salah, Sooyoung tentu akan merubah isi semua pertanyaan itu.

Di sesi pertama, hanya ada pengenalan. Jadi sejauh ini Siwon masih aman.

“ Selamat pagi, selamat datang kembali di acara kami, The Fun Show,…..,” riuh tepuk tangan penonton terlihat di lokasi maupun oleh penonton di rumah.

“ Baiklah, pada episode kali ini kita diberi kehormatan untuk mengunjungi lokasi syuting The Last Hope yang fenomenal. Walaupun filmnya belum tayang, tapi pembuatan filmnya begitu fenomenal. Film ini dimainkan oleh sederet artis muda berbakat kita. Mereka adalah Choi Siwon,…!!!!!” sambut si Host.

“ hai, apa kabar? Saya Choi Siwon bersama anda,” di melempar senyum maut yang membuat penonton histeris. Dalam hati, Sooyoung sedang muntah-muntah karenanya.

“ Anda sepertinya memang cocok sebagai pemeran utama pria di film ini, anda begitu tampan,” puji Host

“ Berikutnya ada Nona muda Tiffany Hwang, yang menjadi tokoh kunci. Apa kabar Nona?”

“ Nde, baik. Apa kabar juga Tuan Changmin,” jawabnya ramah.

“ Baik, terima kasih. Anda baik sekali Nona. O ya, kabarnya anda mendapat peran sebagai tokoh kunci dalam cerita ini?”

“ Benar sekali, tuan,” nadanya terdengar agak sombong.

“ Tapi benarkah bila katanya anda akan meninggal di episode pertama?” tanya Host.

Tiffany agak tersentak tapi ia berusaha tersenyum dan meng-iya-kan pertanyaan itu. Kali ini dalam hati Sooyoung terbahak-bahak. Sepertinya Host ini satu misi dengannya. Pekerjaannya akan lebih mudah.

“ Selanjutnya ada Choi Sooyoung, artis pendatang baru yang sangat cantik ini,… silahkan nona perkenalkan diri anda,…”

“ Hai, nama saya Choi Sooyoung. Mohon bantuannya?” sapanya pada penonton dengan ramah. Ia tampak sangat percaya diri.

“ Haha, anda sangat ramah. Ini bagus bagi pendatang baru seperti anda untuk mendapat fans ya?” kata Host

“ Ehm,..,” Sooyoung terkaget, tak ia sangka si Host juga menggodanya dengan pertanyaan menjurus, “ Nde benar. Aku harap penonton menyukai saya,” ucapnya dengan wajah yang polos.

“ Di sini anda berperan sebagai kekasih Siwon, betul itu?”

“Kekasih? Puiihhh, tak akan ya.” Katanya dalam hati. “ Jangan begitu, lebih tepatnya lawan main. Dalam cerita pada akhirnya hubungan kami tidak akan berhasil.”

Pernyataannya membuat penonton tersentak. Si Host kembali memegang kendali.

“ Wow! Pernyataan yang mengejutkan. Sayang sekali, sepertinya penonton akan mengharapkan kalian bersama. Itu tadi bocoran kecil yang sangat membuat penasaran.”

Sesi selanjutnya masih tentang film yang dibahas bersama antara pemain dengan sutradara, penulis, juga produser. Pembicaraan mulai dari proses penulisan cerita, casting pemain, pemilihan lokasi, proses syuting dan lain-lain. Sooyoung bicara sesuai porsinya dengan mahir. Begitu mahirnya hingga berulang kali ia mendapat pujian. Pemain lain juga begitu, mereka menjawab apa saja yang ditanyakan Host dengan tepat hingga semua berjalan lancar dan baik. Siwon mendengar sendiri bagaimana Sooyoung terpilih menjadi pemeran wanita di sini. Ia baru sadar kalau selama ini dia salah.

“ Kabarnya ada bintang misterius yang berperan sebagai tokoh yang ada hubungannya dengan Nona Sooyoung?”

“ Ya, itu benar. Bintang itu adalah bintang terkenal sekarang ini. Kalian pasti sudah bisa menebak siapa orangnya. Aku harap aktingnya bisa membantu Sooyoung sebagai pemula dalam karirnya. Menurutku jika mereka beradu akting akan sangat mengesankan,” kata Produser.

“ O, hebat sekali anda Nona Sooyoung, untuk memulai debut anda dibantu oleh bintang terkenal. Hebat! Saya salut.” Seketika tepuk tangan penonton begitu riuh.

Pertanyaan demi pertanyaan dilanjutkan. Host kembali bertanya pada Siwon.

“ Di film ini pasti ada adegan anda kissing. Dengan siapa anda melakukan adegan ini? Nona Tiffany atau Sooyoung?”

Siwon cengengesan, sekejap ia melirik Sooyoung. Lirikan itu membuat Sooyoung salah tingkah. Host nampaknya menangkap maksud Siwon. Tapi Siwon menjawab dengan entengnya kalau adegan kissing ini ia lakukan dengan dua pemain wanita sekaligus. Bisa besar kepala dia.

“ Dengan dua-duanya,” katanya tegas tanpa malu apalagi basa-basi.

“ Menyejutkan sekali! Manakah yang paling berkesan dan mengapa?”

Siwon  butuh berpikir panjang. Kali ini ia ingin sedikit mempermalukan Sooyoung.

“ Dengan Tiffany pastinya. Ia lebih senior dariku, dia bisa membawa aku ke dalam karakter itu dengan mudah. Aku harus berterima kasih.”

“ Bagaimana dengan Nona Sooyoung?”

“ Dia masih malu-malu, adegan ini perlu diulang sampai 5 kali. Dia sangat gugup,” kini ia sok tersenyum penuh arti.

“ Tidak, itu bohong. Hanya sekali dan selesai. Siwon, kau jangan melebih-lebihkan.” Bantah Sooyoung.

“ Haha, baiklah. Aku bercanda. Aku tak mau membuatmu diteror fansku nantinya.”

Semua tertawa, hanya Sooyoung yang memerah karena malu setengah mati.

“ Siwon, saat ini anda sebagai idola remaja. Apakah ada yang ingin anda sampaikan pada mereka mengenai film ini?”

“ Saya rasa tidak banyak yang bisa saya sampaikan. Saya harap film ini bisa diterima dengan baik karena saya telah berusaha semaksimal mungkin. Terima kasih.”

Biar saja Siwon berkata begitu, toh pada akhirnya ia akan dipermalukan. Sooyoung bertekad bulat kalau dia harus melakukan hal ini. Perbuatan Siwon tak termaafkan baginya perbuatannya itu telah mencoreng harga dirinya pada debut pertamanya ini. Mempermalukannya di depan artis senior yang sangat diseganinya bukanlah perkara sepele. Maka dari itu ia harus melaksanakan rencana balas dendam.

Akhirnya tiba juga saat yang paling dinanti Sooyoung. Saatnya memulai games. Siwon sebagai target utama acara ini harus diberi  pertanyaan yang diambil secara acak dari bola-bola yang disiapkan oleh kru. Pertanyaan ini diambil langsung oleh suara kru syuting yang selama ini bekerja bersama mereka. Tiffany memperoleh kehormatan untuk mengambil pertanyaan pertama. Ia memilih bola ungu. Host mengambil kertas pertanyaan itu dan membacakannya.

“ Pertanyaan pertama dari bola yang diambil Nona Tiffany, bagaimana sikap anda saat mengetahui bahwa Nona Sooyoung tenggelam saat itu? Silahkan dijawab,…..”

Mata Siwon menyipit bagai setan saat itu, tapi gaya bicaranya menyerupai malaikat, “Aku terkejut dan begitu prihatin. Sayang saat itu aku sedang berada di perjalanan. Jadi aku tak tahu apa yang terjadi dan rupanya Sooyoung tenggelam di laut.”

“ Bohong! Jelas dia yang membuatku pergi ke laut. Hei, Siwon! Kamu yang membuang kerangku. Aku hanya pergi mengambilnya. Huh, berengsek!” kata Sooyoung dalam hati.

“ Bagaimana tanggapanmu Nona Sooyoung, ia sungguh perhatian, betapa baiknya dia. Lalu sebenarnya bagaimana insiden itu berlangsung?”

Sooyoung memelas, ia tak mau mengingat kejadian itu. Menanggapi kebohongan Siwon, ia berpura-pura berterima kasih.

“ Aku ucapkan terima kasih atas perhatian Siwon, dan untuk insiden itu aku hanya ingin melupakannya. Karena ada campur tangan orang dalam insiden itu. Aku bukannya tenggelam tanpa sebab. Tapi aku sudah memaafkan orang itu,” lagi-lagi Sooyoung juga berbohong. Ia mengucapkan kata-kata itu sambil tersenyum tipis pada Siwon agar ia cepat sadar.

Bukannya sadar, Siwon malah. Memasang ekspresi meledek. Tunggulah pembalasan Sooyoung.

“ Nona Sooyoung, silahkan mengambil bola.”

Dia tahu dimana ia menyimpan pertanyaan serangan yang ia buat untuk Siwon. Ia memilih bola warna kuning. Warna yang Siwon benci.

“ Bagaimana kalau anda bacakan sendiri Nona?”

“ Baiklah, yak ini dia.” Ia mengeluarkan kertasnya.” Saat syuting Siwon tidak suka makan kimchi, ia suka makan roti. Jadi telah disiapkan sayur kimchi Siwon mau mencoba memakannya.”

Sooyoung melempar pandangan puas, Siwon tersudutkan. Keringat dinginnya mengucur deras. Sooyoung membuka kelemahannya di muka publik. Sayur dibawa naik ke atas panggung. Ada kimchi sawi dan lobak, mereka yang paling ditakuti Siwon.

“ Silahkan makan,….” kata Host

“ Aku tidak mau.”

“ Ayolah anda tunjukan keberanian anda?”

“ Tidak. Aku menolak untuk memakannya.”

Terjadi aksi lucu kejar-kejaran antara Host dan Siwon. Acara ini disiarkan secara langsung. Entah betapa menggelikan sekali, kalau Siwon yang dikenal sebagai orang yang sempurna malah bertingkah seperti ini. Hal ini membuat hati Sooyoung begitu puas. Ia tahu kalau cara ini memalukan, tapi ini jauh dari apa yang telah Siwon lakukan. Untuk sementara ini cukup bagi Sooyoung. Sooyoung sangat menikmati sepanjang acara ini berlangsung.

Selanjutnya bola terakhir yang akan diambil oleh Host sendiri. Ia mengambil bola biru, lalu langsung membacakannya.

“ Saat syuting Siwon sangat menolak  beradegan di pantai sampai-sampai ia mau pergi saat itu juga saking takutnya melihat kepiting, kerang, siput, dan hewan laut lainnya. Bagaimana kalau dia terdampar di laut?”

Satu lagi fakta menggelikan dari Siwon yang terkuak. Hal ini tentunya membuat Siwon kehilangan muka di hadapan kamera. Dalam hatinya ia ingin menghajar siapapun yang membuatkan pertanyaan konyol ini. Sepanjang pertanyaan yang merendahkan harga dirinya sebagai aktor ini, ia hanya bisa tertunduk malu.

***

Di lorong yang berbelok, tak sengaja mereka berpapasan. Tak saling menatap, malah saling buang muka. Dalam hati Siwon berpikir, dia memang tak seharusnya melakukan semua hal itu pada Sooyoung. Terlebih Sooyoung juga sering menolongnya. Sepersekian detik ia berbalik dan memanggil Sooyoung. Tapi Sooyoung tak menghiraukannya dan justru mempercepat langkah.

“ Young, tunggu Young.”

“ Sudahlah, aku hanya mau minta maaf. Sooyoung!”

“ Sooyoung please berhenti, mianhe Young.”

Tapi nampaknya Sooyoung tak ada niat untuk berhenti. Ia terus saja berjalan menuju ruangannya sendiri. Dia masuk lalu menutup pintu itu, dia juga menguncinya.

Tok, tok, tok. Siwon mencoba mengetuk pintu.

“ Kenapa kau mengikutiku terus. Bukannya kau membenciku?”

“ Benci? Bukan begitu. Maaf, aku memang salah kemarin, sekarang aku mau minta maaf.”

“ Maaf? Hah, apa aku tidak salah dengar. Kau ingin minta maaf? Kerasukan setan apa kau?”

“ Please? Aku mengaku salah, aku salah menilaimu. Apalagi selama ini kau ternyata malah menolongku. Maafkan aku ya?”

“ Mimpi saja sana, aku tidak akan memaafkanm. Sudah, pergi sana! Aku tak mau bicara denganmu pergi!”

“ Young, please? Maaf,” kini suaranya lebih memelas.

“ Tak akan. Pergi sana!”

Dalam ruangan, Sooyoung sebenarnya menangis. Jauh dalam hatinya ia sudah memaafkan Siwon. Hanya saja ia tak mau lagi berurusan dengan Siwon. Karena itu membuatnya jadi semakin menyiksa diri sendiri juga membuat hatinya semakin sakit. Sekitar sejam di dalam ruangan, akhirnya ia ingin keluar. Ia mengusap air matanya. Ia menghadap ke cermin dan mencoba tersenyum seolah-olah tak terjadi apa-apa.

Ia membuka pintu lalu menengok kanan kiri untuk melihat situasi. Ia harus memastikan Siwon tak ada dijalur yang akan dilaluinya. Keadaan aman, Sooyoung mulai berjalan. Sepanjang jalannya Sooyoung menyapa para kru, tak terkecuali Manager Siwon. Saat berpapasan dengan Manager itu, mereka sedikit berbicara. Manager menanyakan keadaan Sooyoung pasca kejadian itu. Sooyoung bilang ia baik-baik saja. Dan Manager bilang Siwon sungguh menyesal atas kejadian itu. Manager sudah menyuruhnya minta maaf tapi entah sekarang Siwon ada dimana. Sooyoung terkejut mendengarnya. Bukankah tadi Siwon berusaha meminta maaf dan sekarang dia menghilang.

Sooyoung menjadi panik sendiri, ia meninggalkan Manager itu sendirian. Ia berpikir ini semua salahnya, membuat Siwon merasa bersalah. Kini ia tak tahu Siwon ada dimana. Mungkin dia nekad melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya atau dia benar-benar menghukum diri sendiri. Sooyoung sangat kebingungan.

Sooyoung mencari Siwon kemana-mana sambil terus menyalahkan diri sendiri. Kalau terjadi sesuatu pada Siwon ini semua salahnya. Tiba-tiba Siwon melintas, ia berjalan sangat cepat, kakinya panjang hingga membuat jarak yang jauh dengan langkah kecil Sooyoung. Sooyoung berusaha mengejarnya, namun naas. Karena kurang hati-hati saat berlari menggunakan high heels Sooyoung keseleo. Ia menjerit kesakitan. Jatuh dengan posisi yang salah, badannya menumpu pada kakinya yang sakit. Ia meronta kesakitan.

Siwon yang ada jauh di depannya mendengar suara itu. Ia berbalik dan menolong Sooyoung. Tapi Sooyoung malah mengomel sambil kesakitan.

“ Sooyoung, kau kenapa? Mana yang sakit?”

“ Kau jahat. Kenapa tadi kau tidak melihat aku? Mati-matian aku mengejarmu. Masih saja tak mendengarku. Kau membuat aku merasa bersalah tahu? Menghilang dari lokasi syuting. Kau pikir kau itu siapa?” Sooyoung memukul bahu Siwon pelan.

Walaupun marah-marah Sooyoung tetap meringis  kesakitan. Ini membuat Siwon tertawa melihat tingkah Sooyoung yang lucu.

“ Maaf maaf, aku tadi dipanggil Produser,” jawabnya tersenyum.

“ Bisa-bisanya tertawa ya. Sakit ini akibat ulahmu tahu.”

“ Ulahku? Ulahmu sendiri tahu?” malah saling menyalahkan.

Sooyoung tak bisa berkata-kata. Kata-kata Siwon memang benar.

“ Uh, apa kau senang sekarang?” tanya Sooyoung

“ Belum, sebelum kau memaafkan aku,” Siwon menatap Sooyoung.

Dengan malu-malu, akhirnya Sooyoung mengangguk.

“ Nah, begitu kan enak. Ayo, aku bantu berdiri,” Siwon mengulurkan tangannya.

Setelah berdiri Sooyoung malah jatuh lagi. Ia tak kuat untuk berdiri apalagi berjalan. Melihat keadaan Sooyoung, Siwon langsung menggendongnya mencari pertolongan. Jadi memang semudah ini mereka berbaikan, padahal mereka berperang begitu lama. Pasangan yang aneh.

Setelah kaki Sooyoung diperban, dengan setia Siwon menungguinya ketika Sooyoung istirahat. Mereka bercanda bersama. Hal ini membuat Tiffany iri. Walaupun mereka bertengkar, Tiffany merasa mereka adalah pasangan. Begitu baikan mereka malah tambah dekat. Tiffany sungguh iri, hingga ia mengutuk diri sendiri. Tak pernah ia punya teman yang bisa diajaknya bercanda, apalagi punya pasangan. Ia sering gonta-ganti pacar tapi semua hanya memanfaatkan ketenarannya atau kalau tidak mereka hanya membuat kesepakatan untuk terlihat bersama di hadapan publik.

***

Tiffany terlihat gusar, entah kenapa ia jadi terganggu dengan kedekatan antara Siwon dan Sooyoung. Ia menggunakan suatu kesempatan untuk membuat Sooyoung dan Siwon bertengkar lagi. Suatu saat mereka sedang dalam pengambilan gambar, Tiffany sengaja membuat kesalahan berulang kali. Suara Sutradara Yang sudah serak karena terus meneriaki Tiffany. Siwon memaklumi kesalahan Tiffany, tapi Sooyoung yang berdiri di belakang Sutradara ubun-ubunnya sudah panas. Tak mungkin Tiffany tak bisa melakukan hal semudah itu. Tiffany mungkin memang sengaja melakukannya. Mendengar Sutradara memarahi Tiffany, Sooyoung ikut terbawa emosi. Itu hanya adegan biasa, tak perlu diulang tanpa melibatkan perasaanpun sudah terlihat natural.

Sooyoung tak tahan melihatnya, ia pergi dari sana. Lima belas menit kemudian, Sooyoung sudah bisa melihat kru mulai bubar dan memasang set baru untuk adegan berikutnya. Ia berusaha mencari Siwon untuk memberi sekaleng softdrink. Siwon berdiri di set lama, tak ada seorangpun di sana. Sooyoung hendak menghampirinya tapi sudah terdahului oleh Tiffany yang datang dari arah depan Siwon. Sooyoung hanya diam di tempat.

“ Hai! Maaf ya tadi,” ujar Tiffany.

“ Tak apa, wajar saja membuat kesalahan,” jawab Siwon.

“ Benarkah tak apa? Kulihat Sooyoung begitu kesal.”

“ Sooyoung? Lalu, apa hubungannya denganku?”

Siwon berusaha menutupinya. Sooyoung tersentak kali ini.

“ Bukankah kalian pacaran?”

“ Mana mungkin?”

Satu jawaban yang lagi-lagi membuat hati Sooyoung mencelos.

“ O, baiklah. Jadi tak ada salahnya.”

“ Salahnya? Maksudmu?”

Tiffany tak menjawab, ia langsung mencium bibir Siwon. Siwon dan Sooyoung sama terkejutnya. Sooyoung menjatuhkan minuman kalengnya. Membuat  kedua orang di hadapannya menyadari keberadaannya. Siwon melepaskan Tiffany.

“ Apa kau sudah gila? Apa yang kau lakukan?”

“ Kau bilang tak apa-apa. Kau tidak sedang berhubungan dengan Sooyoung bukan? Itu menurutku hanya sebagai rasa terima kasihku tadi kau mau bersabar mengulangi adegan karena kesalahanku.”

“ Kau tak punya otak,” Siwon berpaling menghampiri Sooyoung yang terlihat syok.

Sebelum Siwon sempat  menghampirinya, Sooyoung berlari pergi. Tapi Siwon tak menyusulnya

***

“ Mau kemana?” tanya Siwon.

Sooyoung mengabaikannya, berpura-pura tidak mendengar pertanyaan itu, ia terus saja membereskan barang-barangnya.

“ Aku tahu kau marah denganku.”

Baguslah Siwon menyadarinya. Bagi Sooyoung semua sudah terlambat. Ia terlanjur kesal tingkat dewa.

“ Kau bukan manusia yang paling benar di dunia ini.”

Sooyoung melengos. Lagi-lagi Siwon  mengusik kediaman Sooyoung. Sooyoung menatapnya marah.

“ Apa maksudmu?”

“ Karena kau hanya manusia biasa, pasti kau juga pernah berbuat salah. Tak selamanya kau benar. Ada kalanya kau berbuat salah.”

“ Terserah! Buat apa kau menceramahiku. Yang salah itu kau, bukan aku.”

“ Nah, benarkan. Sebenarnya kau hanya ingin membenarkan diri sendiri. Kau paling tidak bisa mendengar penjelasan orang.”

“ Penjelasan? Ini yang kau sebut penjelasan? Ini penghinaan tahu? Aku marah karena kau…. Ah, tindakanmu terlalu menjijikkan. Dengan gadis setan itu?  Mana mungkin aku tak marah.”

“ Baiklah, kau benar. Tapi dengarkan penjelasanku. Dia menciumku duluan…..” “ PLAK!!!” sebuah tamparan mendarat di pipinya.

“ Hei! Apa-apaan kau ini, Sooyoung.”

“ Itu ganjarannya bila kau berani-beraninya mencari alasan untuk membodohiku lagi.”

“ Tapi…. tapi, Sooyoung dengarkan! Itu hampir seperti kecelakaan. Aku tak bisa menghindarinya. Aku juga tak mengambil keuntungan. Sebaiknya kau marah padanya. Jangan padaku.”

“ Marah? Aku tidak marah. Hanya saja,… aku….. aku…”

“ Cemburu? Nde, kau pasti cemburu.”

“ Tak akan! Sudah pergilah!”

“ Kau cemburu makanya kau marah padaku.”

“ Tidak. Aku hanya muak melihat wajahmu. Jangan muncul di hadapanku lagi.”

Siwon jadi naik darah. Sepertinya Siwon benar-benar menyerah bila berhadapan dengan Sooyoung. Batinnya sebenarnya tak tega membuat Sooyoung marah apalagi sedih. Ia hanya ingin membuat Sooyoung mengerti maksudnya. Tapi ia justru memperkeruh suasana. Merasa kalah ia lantas pergi begitu saja.

Ketika Siwon sudah berjalan pergi, Sooyoung mengatakan sesuatu dengan pelan tapi ini membuat Siwon berbalik.

“ Pernahkah kau berpikir, kata-katamu itu terlalu kejam buatku. Aku tahu maksudmu. Tapi kau juga begitu, tak selamanya benar. Setelah semua perbuatan yang kau lakukan masih saja kau pikir itu bukan salahmu. Kau sungguh egois!”

Siwon mendengarnya, ia terpukul. Itu salahnya, andai Sooyoung tahu maksudnya ia tak akan semenderita ini.

Sooyoung sudah selesai membereskan barang-barangnya, dan langsung keluar ruangannya. Syuting benar-benar berakhir. Ia tak tahu apa yang akan ia kerjakan nantinya. Yang jelas ia tambah kesal dengan Siwon. Ia sedang tak ingin melihat Siwon untuk sementara. Ia juga tidak ikut pesta perayaan selesainya The Last Hope.

***

Sampai di apartemen, menaruh barang lalu langsung menuju kamar mandi. Kamar mandi satu-satunya tempat yang memberi Sooyoung ruang, kebebasan, dan kesempatan yang banyak agar dapat menyendiri dan melampiaskan amarah. Di kamar mandi kadang dia marah-marah. Ia bisa menyalakan semua kran air, memutar musik keras-keras, dan bernyanyi juga berteriak-teriak sesuka hati. Di kamar mandi ia juga dapat mencari inspirasi untuk menulis, mencari ekspresi untuk akting, dan memikirkan hal-hal yang menjadi masalahnya. Ia bisa menghabiskan waktu yang sangat lama kalau sedang betah di kamar mandi. Ia juga puas setelah mandi rasanya semua beban menghilang.

Keluar dari kamar mandi, ia mengambil ponselnya. Ternyata ada tiga pesan masuk. Satu, dari Hyo In. Ia mengucapkan selamat atas selesainya film pertama Sooyoung. Ia membalasnya dengan mengucapkan terimakasih kembali. Kedua, kakaknya bilang kalau ia butuh bantuan untuk memakan masakannya. Artinya Kakak Sooyoung mengundangnya makan di rumah. Besok pukul 7 ia harus sudah sampai. Ketiga, ada nomor baru yang tak diketahuinya. Pesan itu bertuliskan kalau ia ingin mengajaknya keluar. Ia sedang menunggu di halaman depan apartemennya sekarang. Karena Sooyoung tak mengetahui pemilik nomor itu, ia mengabaikannya dan segera pergi ke kamar tidur.

Di kamar ia sedang menonton TV karena tak bisa tidur. Ia memencet-mencet semua tombol remotenya tapi tak ada satu saluranpun yang menarik minatnya. Lelah akhirnya ia mematikan TV. Ia mencoba memejamkan mata tapi tak bisa. Ia teringat pesan tadi. Ia membacanya sekali lagi, sepertinya nomor ini tak asing. Seperti nomor yang pernah ia gunakan sebagai password twitternya. Mwo! Benar ini nomor Siwon. Sooyoung sengaja menghapusnya setelah lulus trainee. Ia mau melupakan Siwon tapi ia tak bisa. Justru membuatnya semakin dekat dengan Siwon dalam pekerjaan.

Ia menengok jam dinding, jam dinding menunjukkan pukul 12 malam. Pesan tadi masuk pukul delapan malam. Sudah empat jam. Siwon tak mungkin menunggunya selama empat jam. Hatinya resah, ia ingin memastikannya sendiri. Ia mengambil jacket lalu berlari secepat kilat menuju tempat Siwon menunggu. Liftnya terlalu lama, ia segera memutuskan lewat tangga. Apartemennya ada di lantai sembilan, bayangkan usahanya untuk Siwon.

Lima menit kemudian ia sampai di depan apartemen. Dia berlari ke taman, ada sebuah mobil berwarna hitam di situ. Dia segera mengeceknya tapi tak ada seorangpun di dalam mobil dengan perasaan kecewa ia kembali ke apartemen. Saat berjalan kembali, tiba-tiba di hadapannya ada Siwon. Sooyoung hampir tak mengenalinya karena Siwon memakai jacket lengkap dengan syal, masker dan topi. Nampaknya ia tak mau dikenali orang lain. Sebelum mengucapkan sepatah katapun, Siwon mendekat ke hadapan Sooyoung dan langsung mengeluarkan sapu tangan dan menyeka keringat Sooyoung. Sooyoung sendiri baru sadar kalau ia berkeringat karena tergesa-gesa berlari menuruni tangga.

“ Maafkan aku,” kata Siwon.

Siwon mengajak Sooyoung pergi keluar. Sooyoung sempat menolak sebab ia tak ingin membuat skandal tentang Siwon. Siwon tetap bersikeras mengajaknya keluar. Karena tak bisa menolak, Sooyoung hanya pasrah. Siwon menuntunnya masuk mobil. Siwon sendiri yang menyetir mobil. Sepanjang perjalanan Siwon hanya diam. Ia tak berbicara sepatah katapun bahkan saat Sooyoung bertanya kemana mereka akan pergi.

“ Siwon, kita mau kemana?”

Tapi Siwon tak bergeming sedikitpun.

“ Oke, kau terus diam aku juga akan diam. Jangan harap aku mau bicara denganmu.”

Siwon melirik tajam. Sooyoung menelan ludah. Kalau Siwon sedang marah, Sooyoung jadi kecil nyali. Dan sampailah mereka ke sebuah hotel. Kali ini Siwon mau angkat bicara.

“ Tadi kau lama sekali. Seumur hidupku hanya dua nama yang membuatku menunggu begitu lama.” Ia mau tersenyum.

“ Kenapa senyum-senyum? Aku tak mau bicara denganmu. Kenapa kau membawaku ke sini? Kau punya niat jahat?” tanyanya setengah kesal.

“ Maaf membuatmu lagi-lagi kesal. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam.”

“ Ooooo….” Sooyoung membuat O besar di mulutnya.

Lalu mereka memasuki restoran di hotel itu. Mereka duduk di sudut ruangan yang agak tersembunyi memang.  Siwon tak mau dirinya dikenali orang apalagi sampai tertangkap kamera. Waitrees menghampiri mereka dan memberikan daftar menu. Siwon memesan Black Opera with Cheese Cake hanya makanan penutup dan Cappucino Latte. Sooyoung memesan Blueberry Roll Cake dan Fruity Yoghurt Juice. Siwon mencegahnya dan malah memesan makan malam yang berat untuk Sooyoung. Mulai dari Steak, Salad, Spagheety, Bread, dan banyak makanan asing lain. Sooyoung protes tapi ia tak bisa apa-apa. Posisinya hanya sebagai yang diajak sekarang ini.

“ Kenapa kau pesan sebanyak itu?”

“ Aku sudah makan, aku hanya bisa pesan hidangan penutup. Tapi kau kan belum makan. Jangan menolak.”

“ Kau pikir aku kelaparan atau rakus? Mana mungkin aku makan semua itu sendiri. Kau membuatku kesal.”

Sooyoung kemudian diam dalam waktu yang lama. Siwon mencoba membuka perbincangan. Dengan sedikit basa-basi ia mengajak Sooyoung bicara tapi Sooyoung tetap diam. Lalu ia menjebak Sooyoung dengan percakapan yang menjurus.

“ Tidak tanya siapa dua nama itu?”

“ Aku tak penasaran.”

“ Baiklah, lupakan.”

“ Tidak! Tidak! Siapa dua nama itu?” ia terpancing kata-kata Siwon.

“ Akan kukatakan. Pertama namanya Soo, ia membuatku menunggu di bawah loteng yang dingin malam-malam saat dulu aku masih trainee. Kedua Young, membuatku menunggu di taman selama empat jam dalam udara yang dingin. Puas?”

“ Ooooo….” lagi-lagi membuat pola O besar di mulutnya.

Dalam hati rasanya bangga dan ingin sekali tertawa. Tapi ia ingat ia harus bersikap dingin di  hadapan Siwon. Ia masih marah pada Siwon. Marah itu marah. Jadi tak ada alasan untuk bersikap konyol. Ia harus konsisten.

“ Kenapa mengajakku? Aku tidak lapar.”

“ Jangan bohong. Kalau kau sedang lelah kau tak ingin makan, biasanya sepulang kerja kau mandi lalu tidur dan kau bahkan lupa makan. Benarkan?”

Siwon bisa tahu kebiasaannya, kejadian yang sangat langka. Biasanya hanya Sooyoung yang mengingat kebiasaan Siwon. Tak sangka Siwon juga memperhatikannya.

“ Aku marah padamu.”

“ Aku ke sini agar kau memaafkan aku. Jangan bersikap seperti itu.”

“ Kau bicara seolah-olah kita tak ada masalah. Jangan munafik, Siwon.”

“ Di sana (tempat syuting) suasana tidak menguntungkan untuk kita bicara. Sekarang aku ke sini untuk membicarakannya secara leluasa.”

“ Menguntungkan? Leluasa? Kau masih memikirkan hal-hal seperti itu. Kau sekarang ini apa hanya memikirkan bisnis dan hal-hal  yang menguntungkan bagimu. Sayang sekali kau mengajakku. Aku bukan orang yang tepat untuk kau bawa dalam urusan seperti itu. Harusnya aku sedang beristirahat dengan tenang sekarang.”

“ Young, bukan begitu maksudku. Hanya saja di sana bukan tempat yang tepat untuk bicara. Terlalu banyak orang, setiap meternya pasti ada sepasang telinga.”

“ Sifatmu masih sama. Kau tak ingin orang tahu hubungan antara kita. Memangnya hubungan kita itu apa? Kau tak pernah menjelaskannya.”

“ Maaf, tapi situasi,…”

“ Lagi-lagi situasi, apalagi? Tempat? Suasana? Banyak Orang? Waktu? Kalau alasanmu semua tentang itu aku sudah bosan mendengarnya Siwon.”

“ Aku tak ingin ada orang yang tahu, Young.”

“ Kenapa? Kenapa tak ada orang yang boleh tahu? Apa karena kau ingin mempermainkanku?”

“ Kau selalu tanya KENAPA? Apakah tidak ada kata lain? Aku bilang ini kau tanya kenapa? Aku bilang itu kau tanya kenapa. Apa harus kenapa?”

“ Karena aku ingin tahu alasannya Siwon. Aku hanya ingin tahu.” Sooyoung jadi lesu.

“ Apakah alasan itu perlu?”

“ Tentunya, agar semua jelas. Hubungan kita tak jelas, jadi jangan buat semuanya juga jadi tak jelas.”

“ Kau yeojachinguku, kau gadisku, kau harus tahu itu.”

Sooyoung tersentak.

“ Kapan kau bilang cinta, aku tak mau menjalaninya kalau kau sendiri masih ragu.”

“ Aku tidak ragu. Maaf kalau dulu aku masih bimbang. Akan kuperjelas hubungan kita. Hanya saja biarkan kita yang tahu. Jangan sampai orang lain tahu.”

“ Kau malu bila orang lain tahu?”

“  Aku tidak malu, tapi posisiku sekarang serba salah. Aku mencintaimu. Aku tak ingin kau tersakiti hanya karena tidak bisa menempatkanmu. Aku juga tidak bisa mengesampingkan pekerjaanku, yang menjadi impianku dari dulu. Maaf membuatmu jadi begini. Ini bukan mauku keadaanlah yang membuat semua jadi seperti ini.”

Mendengarnya saja membuat Sooyoung berlinangan air mata. Jadi selama ini, Siwon sudah memikirkan semuanya? Hanya saja ia tidak bisa memutuskannya. Sooyoung merasa bersalah. Ia selalu menuntut pada Siwon tanpa tahu keadaan yang sedang Siwon hadapi.

“ Maafkan aku. Selalu menuntutmu untuk mengakui keberadaanku dan membuatmu mengalami situasi yang sulit. Maaf,….” Sooyoung menangis tersedu.

Siwon berpindah tempat duduk di sebelah Sooyoung. Ia menenangkan Sooyoung, memberikan bahunya sebagai sandaran bagi Sooyoung. Ia bisa merasakan ketulusan Sooyoung sekarang. Melihatnya menangis seperti ini membuatnya menyadari sesuatu. Selama ini berdiri di belakangnya memang tak mudah, tapi Sooyoung mampu bertahan. Terkadang ia melakukan hal-hal yang menyakiti Sooyoung, walau Sooyoung marah ataupun kesal saat itu tapi ia tahu Sooyoung mampu memaafkannya. Ia membuat Sooyoung menunggu dirinya selama beberapa tahun terakhir, dan Sooyoung dengan setia mendampinginya. Bukan salah Sooyoung juga bila ingin menuntut kejelasan atas yang telah ia lakukan selama ini. Tak ada satu keraguanpun yang membuatnya berubah pikiran. Cintanya hanya ada pada Sooyoung, ia yakin itu.

“ Tak apalah Sooyoung. Terima kasih atas semua ini. Dan berjanjilah padaku untuk mau menungguku. Hanya sampai aku berdiri di puncak dan saat itu aku akan memberitahu semua orang.”

“ Hm,” Sooyoung menangguk pelan, “tapi aku sendiri juga akan berusaha meraih cita-citaku sebagai bintang. Kita sama-sama akan berusaha kan?”

“ Yak,  kau benar.”

Perdebatan yang panjang dan akhirnya berakhir pada kesepakatan mereka. Siwon kembali ke tempat duduknya begitu pesanan sampai di meja mereka. Siwon menyuruh Sooyoung menghapus air matanya dan tersenyum. Ketika Sooyoung tersenyum Siwon juga tersenyum. Meja itu jadi penuh dengan makanan.

“ Aku tetap tak mau makan semua ini sendirian. Aku juga harus makan. Mau kan?”

“ Tapi aku tadi……” Sooyoung menyuapinya dengan Vegecreamy Soup yang sedang hangat-hangatnya.

“ Nah, enak kan? Ayo coba lagi, temani aku makan.”

Mereka makan sambil bercanda. Lega rasanya dapat melepas rindu. Banyak hal juga mereka bicarakan, mereka memberitahu hal yang tak diketahui masing-masing agar mereka jadi lebih memahami satu sama lain.

“ Young, aku akan pergi,” kata Siwon tiba-tiba dan memecahkan suasana hangat antara mereka.

“ Ada apa ini? Suasana aneh sekali,” Sooyoung mengalihkan perhatian, ia tak mau mendengar berita itu.

“ Aku akan ke Paris. Mungkin beberapa minggu.”

“ Apa aku harus tahu?”

“ Young, serius lah. Kita tak bisa main-main lagi.”

“ Kenapa di saat kita mulai akrab lagi kau akan pergi? Sungguh tak bisa dipercaya.”

“ Ada pekerjaan yang penting. Aku harus pergi. Aku tak bisa menolaknya.”

“ Pergilah. Aku akan baik-baik saja.”

“ Aku akan merindukanmu.”

“ Aku juga.”

“ Kau serius kan? Aku benar-benar akan pergi ke Paris.”

“ Nde nde, tentu aku serius.”

“ Aku harap bisa membawamu. Kita bisa kembali ke masa trainee dulu. Kita jalan-jalan di sana dan tak sengaja bertemu Justin Timberlake yang sedang liburan.”

“ Tak mungkin, Justin Timberlake sedang tour dunia. Dia di sini sekarang.”

“ Kita harus menontonnya.”

“ Mana mungkin dapat tiket?”

“ Aku punya kenalan. Bagaimana?”

“ Bukankah kau harus ke Paris?”

“ O iya, aku lupa.”

Keduanya mengambil nafas panjang.

“ Aku….” mereka hendak bicara tapi ternyata bersamaan.

“ Ladies first,…”

“ Aku merasa waktu tidak berpihak pada kita.”

“ Aku juga ingin mengatakan itu. Bersabarlah Young. Kita harus bertahan.”

“ Kau benar.”

Tiba-tiba ponsel Siwon berdering. Itu dari Manager Kim. Siwon membiarkannya, tapi Sooyoung menyuruhnya mengangkat telfon itu.

“ Angkat saja. Mungkin saja penting. Jangan buat dia khawatir,” kata Sooyoung.

“ Baiklah, tunggu sebentar di sini.”

Siwon pergi ke kamar mandi untuk mengangkat telfon. Sooyoung melanjutkan makannya. Tapi nampaknya ia sudah tak berselera. Siwon akan pergi ke Paris, mereka ingin menonton konser Justin Timberlake tapi tak bisa. Sungguh memusingkan.

Saat tengah santainya menunggu Siwon, ia dikejutkan dengan kehadiran Hyunmi, teman lama mereka saat trainee. Hyunmi sepertinya tidak menyadari kalau yang ada di meja sebelahnya adalah Sooyoung. Jelas saja ini terjadi. Sooyoung banyak berubah dari saat terakhir mereka bertemu. Siwon kembali dari kamar mandi. Manager Kim menelfonnya agar ia cepat pulang. Ia berniat mengajak Sooyoung pulang dan mengantarnya ke apartement. Tapi ia kaget melihat Hyunmi ada di situ. Ia mengirim SMS pada Sooyoung.

Ada Hyunmi di sebelah meja kita. Apa kau tidak tahu?

Sooyoung membalas.

Nde, aku tahu. Tapi dia tidak mengenaliku.

Tak lama setelah SMS balasan Sooyoung masuk Siwon melihat Donghae masuk ke restoran dan menuju meja Hyunmi.

Dia ternyata datang bersama Donghae. Mereka juga kencan diam-diam. Aku pergi dulu, Manager Kim menyuruhku pulang. Bill akan kubayar. Keluarlah saat aku sudah SMS. Naiklah Taxi.

Ha? Siwon pulang duluan. Menyebalkan. Tapi tak apalah. Sooyoung maklum ia karena sudah sering ditinggal seperti ini sebelumnya. Siwon bilang kalau dia sudah dalam perjalanan pulang.

Aku sudah di jalan. SMS aku begitu sampai.

Sooyoung  minum lalu berdiri.  Otomatis ini membuat Hyunmi dan Donghae menengoknya.

“ Hm, aku pergi dulu. Hyunmi, Donghae,” Sooyoung pamit pada mereka.

Hyunmi dan Donghae tercengang. Mereka bertanya-tanya siapa yang tadi menyapa mereka. Sooyoung sudah jauh.

“ Itu… itu Sooyoung. Benar,  itu Sooyoung….” Hyunmi teringat.

“ Itu Sooyoung? Ia banyak berubah,” sahut Donghae.

“ Ia jadi cantik. Apa dia sudah debut?”

“ Tentu saja. Mana mungkin ia bisa jadi seperti itu kalau dia belum debut.”

“ Aku belum pernah melihatnya di TV. Di agency mana ya dia?”

“ Mana kutahu? Entahlah. Tapi dengan siapa dia ke sini? Kau melihatnya bersama seseorang?”

“ Aku tak melihat seorangpun keluar tadi. Tapi ia pesan banyak. Lihat mejanya penuh dengan makanan.”

“ Apa dia masih dengan Siwon?”

“ Siwon sekarang sudah menjadi bintang. Jadi tidak mungkin.”

***

Sooyoung sudah sampai di apartemennya. Ia merasa sudah mengantuk. Tapi ia harus SMS Siwon dan cuci muka dulu.

Aku sudah pulang.

Tak lama setelah SMS terkirim, Siwon memanggil.

“ Nde, yeoboseyo.”

“ Tadi maaf ya? Aku pulang duluan. Manager Kim sedang marah karena keluar tanpa pamit.”

“ Tak apalah, kau sedang apa?”

“ Aku menonton bola. Aku masih tidak bisa tidur.”

“ Aku lelah sekali. Aku pamit. Daaaa…..”

“ Jangan! Jangan tidur dulu. Aku ingin bilang sesuatu.”

“ Katakan, aku sudah mengantuk.”

“ Besok aku berangkat pukul 9. Datanglah ke bandara, kumohon.”

“ Baiklah, cepat tidur. Jangan sampai kau sakit karena terlalu lelah. Sampai jumpa besok.”

“ Saranghae.”

“ Nado saranghae, bye…..”

***

Sekitar  pukul 9 di Bandara Internasional  Howecity.

“ Aku tidak menyangka kau mau datang mengantarku,” kata Siwon yang datang sambil menyeret kopernya.

“ Kapan aku tidak mengantarmu ke bandara. Dulu juga aku selalu mengantarmu,” jawab Sooyoung.

“ Gomawo.”

“ Lupakan, ini bukan hal besar.”

“ Aku sungguh-sungguh. Gomawo….. atas semuanya.”

“ Cheonmaneyo,” Sooyoung tersenyum.

Mereka berjalan ke stasiun pemberangkatan. Di belakang mereka ada Manager Kim yang terkesima melihat mereka begitu dekat.

“ Sejak kapan kalian berbaikan?”

“ Kau seperti tak tahu kami saja. Kami bertengkar takkan pernah lama,” jawab Siwon.

“ Jangan merindukan laki-laki brengsek ini ya Sooyoung. Dia tak pantas dirindukan,” kata Manager Kim bercanda.

“ Hm, tentu. Aku akan cari pacar baru selama dia pergi.”

“ Ya! Kalian berdua menyebalkan,” protes Siwon.

“ Justkidding!” seru Manager Kim.

“ Kau tak akan benar-benar cari pacar lagi kan?”

“ Tidak, aku tak bisa hidup tanpamu.”

“ Aku mencintaimu,” Siwon menatap Sooyoung penuh arti.

“ Ehem,” Manager merusak suasana, “ cepat kita nanti terlambat.”

“ Nde, arraseo. Dua menit lagi ya?”

Siwon memeluk Sooyoung. Waktu seakan berhenti. Dan dunia hanya untuk mereka berdua. Mereka sama-sama berharap kalau semua akan seperti ini selamanya.

“ Two minutes is over. Ayo berangkat.”

“ Sampai jumpa, aku akan merindukanmu,” Siwon menguraikan pelukannya.

“ Nado. Jaga diri di sana, chagi.”

Perlahan uluran tangan mereka terlepas dan menjauh. Siwon terus menengok ke belakang. Sooyoung melambaikan tangannya. Tiba-tiba saja Siwon berbalik dan mencium pipi Sooyoung. HA!!!!!!!

***

FIN

Advertisements

9 thoughts on “[FREELANCE] The Last Hope Project

  1. mian br smpet baca,,kereeeen FF nya, tp kyanya lbih k barsa baca novel d banding FF, bahasa sm diksi nya kya novel, baguuuuuusss…cerita nya jg bagus, tp gtw knp pas baca FF ini jd keinget khuntoria, admin sk bgt sm couple itu dan ko kyanya crita d ff ini bs az trjadi sm mrka, hehe…

    pkonya keren bgt FF nya, dtnggu ya FF lainnya..:)

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s