[FREELANCE] Absurd Wedding

Absurd Wedding

Tittle  : Absurd Wedding

Author : Hikari Kim

Cast  :

  • ·         Kim Jungmo (TRAX)
  • Oh Jimin (J-MIN)

Genre  : Humor, Romance 

Rate : Teenage

Disclaimer : Para cast disini bukan punya saya >.< mereka milik SM Entertainment dan diri mereka sendiri

“***”

Alunan hymne pernikahan mengalun lembut. Taburan kelopak bunga mawar yang berserakan berterbangan tertiup angin. Bau asin air laut, bunyi nyanyian burung camar, serta deburan ombak yang menabrak karang makin membuat pemberkatan pagi itu terasa begitu meriah.

Seorang pemuda berambut coklat berdiri gagah di depan altar. Altar yang kecil dan sangat sederhana. Bibirnya terus saja menyunggingkan senyuman lebar menunggu mempelai wanitanya yang mungkin sebentar lagi akan datang.

Jujur saja ia gugup! Saking groginya dia hampir pingsan. Jika saja dia tidak ada di keramaian, dia pasti sudah berteriak histeris saking kalutnya. Dia hampir gila.

Ha! Untung saja semua itu ia urungkan. Sangat tidak elit sekali jika besok koran pagi memuat berita seorang calon mempelai pria berteriak-teriak histeris dan menjadi gila di hari pernikahannya sendiri. Tindakan idiot.

Pemuda itu sedikit melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Itu terlalu kencang, dia hampir mati tercekik. Tangannya yang gemetar dan terus-terusan basah oleh keringat sengaja ia sembunyikan di balik saku celananya.

“Tenang Jungmo, ini hanya sebentar. Sebentar lagi wanita cantik itu akan jadi milikmu, hohoho…. Hah! Hah!!!!!” Jungmo sengaja memelankan sedikit volume suaranya.

Sepertinya menasehati diri sendiri saat ini cukup berhasil mengurangi rasa gugup.

Bunyi alunan piano yang mengiringi langkah kaki seseorang kini makin mengeras. Jungmo terkesiap, ia pun menolehkan kepalanya ke belakang.

Matanya terbuka lebar saat melihat sosok cantik nan rupawan yang kini terbalut gaun putih sederhana dengan tudung kepala satin di kepalanya, kedua tangannya menggenggam sebuah buket bunga mawar merah yang cantik, secantik dirinya. Bibirnya terus mengembangkan senyum manis. Astaga Jungmo benar-benar hampir mimisan melihatnya.

“Cantik sekali!! Cantik sekali!! Cantik sekali!!!!!!” Batin Jungmo menerit-jerit histeris. Jikalau ini bukan upacara pemberkatannya ia ingin sekali berlari ke arah wanita itu dan lalu membawanya kabur dari sana.

Oh yeah, Satu lagi tindakan konyol yang ingin ia lakukan.

Jungmo berusaha menahan rasa gugupnya. Jujur saja kakinya ikut gemetaran.

“Aku ingin pingsan, astaga!” Lagi-lagi batinnya berteriak hiteris.

Wanita itu tersenyum menatap Jungmo. Entah disengaja atau tidak, langkah kakinya seirama dengan dentingan piano. Sesekali matanya melirik sekilas ke arah lelaki tua yang berjalan tepat di sampingnya. Ayahnya. Lebih tepatnya ayah angkatnya.

Dan kini, ia telah berdiri tepat di depan pemuda itu, menunggu uluran tangannya untuk membawanya ke atas altar.

Sesaat Jungmo terpaku memandangi wajah wanita di hadapannya. Ia sama sekali tak melakukan apapun. Bahkan ia memandang tanpa berkedip. Lama. Lama sekali. Sunyi, hanya suara-suara deburan ombak dan sahutan burung camar yang terdengar.

Merasa aneh wanita itu mengerutkan dahinya, bibirnya mengerucut heran, pipinya membulat lucu, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Ia menarik napas pelan, sedikit terasa frustasi, “Ck! Kebiasaan.”

Ia mengangkat buket bunganya dan dengan sadar dan sangat cepat ia memukul kepala Jungmo yang tengah menatapnya dengan tampang bodoh.

PLUK

“Ya! Ya? Ya ada apa?” Jungmo akhirnya kembali dari alam bawah sadarnya.

“Bawa aku naik,” gadis itu cemberut.

“Ha…ha…ha… Aku lupa,” Jungmo tertawa kikuk sambil mengusap-usap tengkuknya sesekali.

Dengan menggunakan tangan kanannya ia meraih tangan kiri wanita itu dan lalu membimbingnya ke atas altar.

“Welcome my princess, Oh Jimin,” ucap Jungmo lembut.

“Hai my sassy,” sahut Jimin riang.

Ekspresi bahagia keterlaluan Jungmo akhirnya menghilang seketika saat mendengar ucapan wanita itu. Mukanya ditekuk berkali-kali, bibir bawahnya dimajukan, dahinya berkerut-kerut sebal.

“Please, jangan panggil aku begitu lagi.”

“Loh kenapa?” Jimin berkata polos.

“Pokoknya jangan,”

“Tapi aku ingin,”

“Please jangan,”

“Tapi kau lebih cantik dariku,”

“Apanya?”

“Wajahmu saat memakai pakaian maid,”

“Please jangan diungkit,”

“Tapi itu lucu,”

“Bagiku itu memalukan, astaga,”

“Tapi aku menyukainya,”

“Aku tidak,”

“Tapi aku suka, kau bilang apapun yang aku suka kau akan menyukainya,” Jimin kini memamerkan kitty eyes yang ia bisa.

“Baiklah aku menyerah,” Jungmo berkata pasrah.

“Kau cantik,”

“Iya,”

“Aku suka saat kau memakai pakaian wanita,”

“Iya,”

“Kau lucu,”

“Iya, aku tahu,”

“Dan seharusnya yang memakai gaun pengantin ini itu kamu,”

“I-ya…..APA??!!!!”

Dan tiba-tiba saja tawa dari deretan tamu undangan terdengar. Tawa beberapa orang teman-teman Jungmo yang terdengar sangat nyaring akhirnya meruntuhkan keheningan upacara pernikahan itu kini.

“BUAHAHAHAHA……”

Jungmo mengusap wajahnya frustasi, “Oh tidak, ini memalukan.”

Jimin yang kini berdiri di sampingnya terkikik geli, ia menyampirkan tangannya ke pundak Jungmo dan berniat untuk merangkulnya, “Mau dilanjutkan?” tanyanya polos.

“TENTU SAJA!” Jawab Jungmo berapi-api, “Pak pendeta cepat kelarkan urusan ini, aku sudah tidak sabar ingin bermain dengan gadis di sebelahku ini,”

Pendeta tua itu mengangguk, sepertinya ia sama sekali tidak terganggu dengan membuyarnya suasana khidmat yang dibuat oleh sebagian kecil tamu undangan dan tentu saja percakapan bodoh kedua mempelai tadi. Dengan penuh perasaan ia mulai membacakan sumpah.

“Apa kau, Tuan Kim Jungmo bersedia?” pendeta itu bertanya dengan penuh keseriusan.

Jungmo mengangguk mantap, “Aku bersedia.”

Pendeta itu kini beralih pada Jimin yang memakai gaun pengantin putih di hadapannya. Ia membacakan sumpahnya dan kembali bertanya, “Apakah kau bersedia nona Oh Jimin?”

Jimin tersenyum, ia tampak berpikir sebentar. Sedetik, dua detik. Lama sekali gadis itu untuk mengungkapkan jawabannya, dan hal ini membuat pemuda di sampingnya gugup bermandikan keringat yang kini membasahi pelipisnya.

Jungmo berkali-kali menyeka keningnya menggunakan punggung tangannya, “Astaga gadis satu ini benar-benar menguji kesabaran,” jerit batinnya frustasi.

“Aku….” Akhirnya Jimin buka suara setelah beberapa saat ditunggu.

“Ya, jawabanmu nona?” tanya pendeta itu ulang.

“Ayolah Jimin,” Jungmo mendesis tak sabar.

“Aku…..”

“Iyahh…” Jungmo kembali mendesis.

“Heung…. Aku….”

“Astaga siapa saja bunuh aku sekarang juga,” Jerit Jungmo frustasi. Saat ini dia sama sekali tidak malu jika suaranya itu terdengar.

“Aku bersedia menjadi bagian dari tuan Kim Jungmo. Selamanya,” jawab Jimin cepat. Ia pun menggigit bibir bawahnya serta menutup matanya rapat.

Akhirnya jawaban yang ditunggu keluar juga. Rasanya Jungmo ingin menangis meraung-raung saking bahagianya. Karena sedari tadi ia sudah punya rencana ingin menceburkan diri ke laut saat itu juga jika Jimin menjawab tidak.

“Nah sekarang waktunya kalian memakaikan cincin dan juga mencium pasangan masing-masing.” Ucap pendeta itu yang entah mengapa kini tengah duduk santai. Mungkin ia lelah harus menunggu dan berdiri lebih lama dari biasanya.

“Hahaha… Wajahmu lucu,” Jimin tertawa melihat wajah Jungmo yang terlihat kusut luar biasa.

“Ini karenamu tahu!” Ia mengambil lembut tangan kanan gadis itu dan perlahan memakaikan cincin emas putih bertahtakan batu berlian biru kecil di atasnya ke jari manisnya.

“Terima kasih,” ucap Jimin saat cincin itu telah melingkar indah di jari manisnya. Kini gilirannya untuk mengambil tangan kanan pemuda di hadapannya.

Dengan perlahan Jimin memasangkan cincin berbentuk sama sepertinya pada jari manis Jungmo, “Pas. Haha….”

“Are you ready baby?” senyum mesum tercetak jelas di wajah Jungmo.

Jimin memiringkan kepalanya sedikit, “Apanya?”

“I wanna kiss you now,”

“Wait! Wait! Kenapa?” Tanya Jimin panik.

“Loh, memangnya itu sudah peraturannya, itu menandakan kalau kita sudah resmi menjadi suami istri,” Jungmo menaik-turunkan kedua alisnya, “ayo kemari baby.”

“Tidak mau,”

“Ini saatnya kita berkiss-kiss kau tahu? Haha!” Jungmo menyeringai senang.

“Tidak mau!” Jimin cemberut.

“Oh ayolah, kita sudah menjadi suami istri, lagi pula tinggal satu tahap lagi dan kita sudah sah,”

“Tetap tidak mauuuuu….”

“Ayolah sayang, ayo mau…. Chuuuuu~….” Jungmo memajukan bibirnya.

Melihat wajah Jungmo yang seakan-akan menyerupai donald bebek Jimin mendaratkan kembali buket bunga di wajahnya.

BUAKK

Jungmo mengaduh sakit, tidak seperti tadi, ujung buket yang terbuat dari rotan sukses mendarat di bibirnya, “Ah! Suakit!”

“Cium! Cium! Cium!”

“Ayo Jimin cium dia!”

“Cium dia! Ayo cepat!”

“Kalau tidak kau cium biar kami yang mencium Jungmo-mu haha…..”

Jimin terlihat panik saat sekumpulan suara-suara mengganggu yang berasal dari deretan tamu undangan paling depan yang membuatnya hampir ingin menangis. Hei! Dia malu jika harus beradegan errr….. mesum di depan orang banyak.

Okeh. Mereka memang sudah sah menjadi pasangan suami istri. Tapi salahkan sifat pemalu dan polos yang dimiliki Jimin hingga ia harus berkali-kali menahan air mata yang hampir keluar. Dia malu!

“Harus bagaimanahh???” Jimin bertanya lirih sambil menggigiti kuku jarinya.

Jungmo mendesah frustasi, “Baiklah… Baiklah… Jika kau tidak mau melakukannya.”

Wajah nelangsa yang ditunjukan Jungmo saat ini berhasil membuat tawa teman-temannya yang sedari tadi tertawa makin terpingkal-pingkal.

“Selamat kawan! Hahahahaha…..” ucap salah satu dari mereka.

“Mungkin ia hanya mau melakukannya di rumah, tenang Mo! CCTV sudah kami siapkan untuk malam pertama kalian! Huahahaha…..”

Satu kalimat panjang yang keluar dari mulut teman Jungmo membuat Jimin makin panik. Astaga! Tega sekali teman-temannya. Sedangkan Jungmo sendiri terlihat cengar-cengir penuh kemesuman.

“Sip brotha!” Jungmo mengedipkan sebelah matanya.

Jungmo perlahan mendekati Jimin, Jimin yang agak waspada memundurkan tubuhnya sekali.

“A-ada apa?” tanya Jimin gugup. Baiklah, mungkin virus gugup yang tadi mendera Jungmo sudah berpindah target sepertinya.

Bukannya menjawab, Jungmo malah makin mendekatkan tubuhnya dan dalam sekali gerakan ia sudah mengangkat tubuh Jimin. Tangan kanan Jungmo menyangga punggungnya sedangkan tangan kiri ia gunakan untuk menyangga lututnya.

“Ya! Turunkan aku!” Jimin kembali memukul kepala Jungmo menggunakan buket bunganya.

“Ssttt… Baby, dari pada buket bunga itu kau gunakan untuk memukulku, lebih baik kau lempar agar para wanita-wanita tua di sana cepat menikah,” Jungmo melirik sekumpulan teman-teman wanitanya yang duduk di deretan kanan.

Merasa tersinggung Lina dan Stephany—teman wanita Jungmo—hampir saja melemparkan sepatu hak tinggi mereka ke kepala Jungmo.

“Brengsek!”

“Sial!”

Dua kata itu terdengar dari mulut Lina dan Stephany, dan sepertinya Jungmo menghiraukan begitu saja umpatan dari mereka.

Jimin terpaku sebentar, namun saat Jungmo mulai melangkah dan membuat guncangan kecil yang membuat Jimin merasa hampir terjatuh, ia buru-buru sadar. Ia kemudian dengan cepat melemparkan buket bunganya kedepan seperti yang sudah diperintahkan oleh Jungmo tadi.

PLUKK

Bunga itu jatuh tepat di pangkuan Lina. Jungmo tersenyum aneh saat melihatnya.

“Kekekekeke…. Itu artinya kau harus cepat menikah nenek tua.” Ujar Jungmo.

Jungmo pun kembali melanjutkan langkahnya menuruni altar. Teman-teman Jungmo dan juga para tamu undangan yang melihat berteriak histeris.

“Yah! Yah! Mau kau kemanakan dia?”

“Dia sudah tidak sabar ternyata,”

“Bersiaplah Jimin malam ini! Hahaha….”

“Jimin-san! Fighting!”

Wajah Jimin yang mendengar namanya disebut-sebut mendadak memerah. Ia menyembunyikan wajahnya menggunakan tudung pengantin. Jungmo menunduk sedikit saat merasakan pergerakan dari Jimin.

“Imut sekali!!!” Jerit batin Jungmo. Ingin sekali ia segera sampai rumah dan langsung menciumi wajah gadis ini.

Jungmo makin gemas saat ia melihat wajah memerah Jimin ia sembunyikan di dadanya, “Astaga! Sabar baby.. Haha….”

Jimin makin merasa malu. Tanpa sadar tangannya meninju rahang bawah Jungmo dan berhasil membuat jeritan sakit Jungmo keluar.

Jungmo yang kesakitan tanpa sengaja memengendurkan pegangan kedua tangannya dari tubuh Jimin. Tubuh Jimin pun merosot ke bawah. Panik, Jimin membawa tangannya di leher Jungmo dan mengalungkannya di sana. Jungmo yang keseimbangannya mulai berkurang pun akhirnya oleng, dan……

BRUKK

Mereka berdua terjatuh tepat di tengah-tengah deretan kursi tamu undangan. Tubuh Jungmo jatuh menimpa Jimin namun Jungmo yang lebih sigap menggunakan kedua tangannya untuk menyangga kepala Jimin agar kepalanya tidak sampai terantuk tanah yang dilapisi karpet merah.

Kejadian ekstrim itu berhasil mengundang para tamu undangan untuk berdiri, melihat mereka berdua. Tapi, ternyata ada kejadian yang lebih ekstrim lagi selain bertumpuknya badan mereka berdua. Tapi…..

Bibir mereka bersentuhan!!!

Tepuk tangan meriah, siul-siulan yang bertujuan untuk menggoda, teriakan serta jeritan histeris berkumandang. Akhirnya!!! Mereka berdua berciuman dan telah sah menjadi suami istri!

Walaupun dengan cara yang sangat tidak elit memang.

Heechul—teman Jungmo—mendekati Jungmo dan Jimin yang masi saja tidak menyadari posisi mereka yang sangat tidak strategis dan berbahaya.

“Hei! Hei! Mau sampai kapan kalian beradegan seperti itu?”Heechul menepuk-nepuk pundak Jungmo.

Jungmo yang baru sadar melompat kaget. Ia buru-buru bangun dari atas tubuh Jimin. Sedangkan Jimin sendiri dibantu bangun oleh Stephany.

“Kalian berdua kalau ingin melakukan tindakan asusila lebih baik di rumah baru kalian,” Heechul kembali melanjutkan.

“Ah, anu… Itu… Anu…” Jungmo sepertinya kehabisan kata-kata hingga ia hanya mengeluarkan kata ‘anu’.

Ingin sekali teman-temannya meninju wajah Jungmo yang terlihat bodoh sekarang. Bahkan Lina yang memang sedari tadi ingin memukul kepala Jungmo menggunakan sepatu hak tingginya berniat melakukan hal itu saat ini juga. Namun Simon—teman Jungmo yang lain—akhirnya mengingatkan.

Jimin mendekati Jungmo dengan cepat. Ia menyembunyikan wajahnya yang makin memerah di balik tubuh Jungmo, “Kita pulang saja,”

“Ya, sepertinya princessmu itu sudah tidak sabar, haha….” Heechul lagi-lagi menggodanya.

“Hyung! Ada empat cctv di rumahmu hati-hati!” Hongki, temannya yang paling muda mencoba mengingatkan.

“Ah, baiklah,” Jungmo memutar bola matanya malas. Dia sudah menduganya. Teman-temannya pasti akan berbuat sesuatu yang selalu menyusahkannya, namun siapa kira sesuatu itu berbuah manis, seperti hal saat ini.

Tidak tahukah kalian pertemuan pertama Jungmo dan Jimin itu juga berkat keisengan teman-temannya. Dia, yang harus memakai baju wanita bertemu pertama kali dengan Jimin saat suatu peristiwa yang memalukan terjadi.

Dan Jungmo entah harus berterima kasih atau memaki semua teman-temannya itu. Tapi yang pasti, dia telah memiliki Jimin-nya. Ya! Jimin-nya. Selamanya.

 – THE END –

Advertisements

5 thoughts on “[FREELANCE] Absurd Wedding

  1. LOL *ngakakgulinggulingsambilfacepalm*
    Wedding paling absurd sepanjang masa XD kalo misalkan aku jadi pendetanya mungkin aku bakal getok kepala kedua mempelai pake buku saking keselnya u.u
    Aku sukaaaaa~~~~ bikin ngakak, dan ini kece banget! d^^b

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s