[FREELANCE] Love Is – Chapter 1

Love Is... chapter1 dan 2

Title                     : Love Is… (Chapter 1)

Author                : EShyun

Genre                  : Friendship, Romance, Sad, Tragedy

Length                 : Chaptered

Rating                 : PG – 15

Main cast            :

  • ·         Kim Jonghyun
  • ·         Hwang Rara
  • ·         Kang Jihwa

Other cast           : *temukan sendiri, hehe

Cover                  :   allthingsiwannapost.wordpress.com

 

                Annyeong chigudeul, author ES datang lagi dengan karya gajenya, haha. Setelah baca jangan lupa RCL ya chingu ^^

 

Happy reading….

 

LOVE IS…

 

“Jihwa-ah, palli… Ini hari pertama kita masuk sekolah, kenapa kau lambat sekali sih? Apa kau mau kita telat? Kalau kau masih lama lagi, aku akan meninggalkanmu.”suara Rara mengagetkan Jihwa yang sedang memasang sepatunya.

“Rara-ah, bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Aku ada dihadapanmu”ia mengeluh sambil mengusap telingannya.

“Ahaha, mian. Habis kau ini lama sekali. Aku tak mau hari pertamaku malah kena hukum gara-gara telat.”

“Ya, siapa juga yang mau dihukum? Kau saja yang tidak sabaran, ini aku juga sudah siap. Ayo kita pergi.”ujar Jihwa sembari mengandeng tangan sahabatnya itu.

Rara dan Jihwa adalah sahabat. Sejak kecil mereka selalu bersama, selain karena rumah mereka bersebelahan, mereka juga selalu satu sekolah sehingga membuat mereka semakin dekat. Bahkan orang tua mereka sudah menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Rara adalah sosok yeoja yang ceria, blak-blakan dan ia juga sangat berani sedangkan Jihwa sosok yeoja yang lemah lembut, penuh sopan santun dan sangat penyayang. Dua pribadi yang berbeda. Namun karena perbedaan itulah yang membuat keduanya semakin akrab.

Hari ini adalah hari pertama mereka menjejakkan kakinya di Genie high school. Dengan langkah riang keduanya berjalan menuju halte bus. Sambil menunggu, keduanya tampak bercanda. Dan tak lama bus yang mereka tunggu datang dan segera membawa mereka ke tujuannya.

At Genie High School. Keduanya tampak sangat senang seperti kebanyakan teman-teman mereka yang sama-sama baru masuk juga. Sekolah itu sangat luas. Mereka terlihat kebingungan, dan memutuskan untuk bertanya pada salah salah satu siswa.

“Annyeong sunbae.”Rara memberanikan diri mendekati seorang namja yang tak jauh dari tempat mereka.

“Annyeong. Hmm.. Kalian anak yang baru masuk tahun ajaran ini ya?”jawab namja itu sambil mengamati keduanya.

Keduanya terdiam sejenak. Namja yang berada dihadapan mereka seakan menghipnotis. Mereka sama-sama terpesona dengan ketampanan namja itu. Karena menyadari apa tujuan mereka sebenarnya. Akhirnya Jihwa memutuskan untuk membuka suaranya.

“Ah, ne sunbae. Maaf kalau kami menganggu. Kami ingin ke kelas, tapi kami tak mengetahui dimana letaknya, bisakah sunbae memberitahu arahnya pada kami?”

“Oh, iya tentu saja. Kalian sudah tau akan masuk kelas mana?”tanyanya sembari tersenyum.

“Ne, kami masuk kelas 10-4.”ujar Rara kemudian.

“10-4, berarti… Kebetulan sekali, kelasku berada di sebelah kelas kalian. Bagaimana kalau kita berjalan bersama?”tawar namja itu.

“Tapi apa kami tak merepotkanmu sunbae?”tanya Jihwa sembari memandang Rara, yang dipandang hanya tersenyum seakan mengiyakan tawaran namja itu.

“Tentu saja tidak. Kita satu arah kok. Dan kalian jangan panggil aku sunbae, agak aneh kedengarannya. Panggil saja aku Jonghyun. Dan kalian?”

“Ne, Jonghyun-ssi. Aku Rara dan ini Jihwa sahabatku.”

“Rara dan Jihwa. Baiklah, ayo.”

Mereka berjalan menuju kelas yang ternyata tak terlalu jauh dengan tempat mereka berdiri tadi. Setelah Rara dan Jihwa berterima kasih pada Jonghyun, mereka segera masuk ke kelas dan begitu pula dengan Jonghyun.

Suasana kelas terlihat sangat tenang, mungkin karena kebanyakan dari mereka belum saling mengenal. Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk berdua. Dilihatnya kelas masih belum terlalu ramai. Merekapun mengobrol sambil menunggu bel masuk berbunyi.

“Jihwa-ah, apa kau merasakan hal yang sama denganku? Aku sangaaaat senang”

“Tentu saja, aku juga senang karena kita sudah menemukan letak kelas kita.”jawab Jihwa.

“Bukan itu maksudku. Jihwa, apa kau tak menyadari kalau namja tadi itu sangat…. keren?”

“Namja tadi? Jonghyun sunbae maksudmu?”

“Iya, siapa lagi namja yang kita temui selain dia? Sepertinya aku menyukainya Jihwa-ah.”perkataan Rara membuat Jihwa terkejut. “Jihwa-ah, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyapanya lagi agar kami bisa dekat? Jihwa, ayo bantu aku.”

“Rara-ah, kau baru saja bertemu denganya, bagaimana bisa kau menyukainya? Memang dia terlihat sangat keren, tapi kau belum tahukan bagaimana dia sebenarnya?”

“Iya sih, tapi mau gimana lagi. Aku terlanjur jatuh dalam pesonanya. Ayolah Jihwa-ah, bantu aku…. Kau kan sahabat terbaikku.”pintanya sedikit memaksa.

“Arasseo, aku akan membantumu. Ah… kenapa aku susah sekali untuk menolak permintaanmu. Kau juga kenapa minta yang aneh-aneh sih?”ia terlihat sebal melihat kelakuan sahabatnya itu.

“Biarlah, rasa suka siapa yang bisa menolak?”

Kedua sahabat itu kemudian tertawa. Tak lama bel berbunyi tanda kelas pertama mereka akan segera dimulai.

Saat jam istirahat kedua sahabat itu memutuskan untuk ke kantin. Saat sedang asik melahap makanan, tiba-tiba mata Rara menangkap sosok orang yang ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Jonghyun? Tapi kali ini ia tak sendirian. Rara mencuri pandang ke arah Jonghyun kemudian tersenyum saat melihat namja itu tertawa bersama teman-temannya.

“Ya, Rara. Kenapa kau tersenyum seperti itu? Kau membuatku takut saja.”Jihwa heran melihat kelakuan sahabatnya itu yang ditanya malah menancungkan jari telunjuknya dan mengarahkannya kearah Jonghyun yang berada di belakang Jihwa. “Hmm… pantas saja kau seperti itu. Ternyata sahabatku sedang melihat pangerannya.”ejeknya.

“Jihwa-ah… bisakah kau geser sedikit? Badanmu menghalangi pandanganku.”

“Ne, tentu saja. Ternyata kau sangat aneh jika sedang kasmaran ya.”ia berkata sambil sedikit tertawa. “Rara-ah, ini pertama kalinya bukan? Ah, akhirnya sahabatku menyukai seorang namja juga. Terima kasih Tuhan, ternyata sahabatku normal juga.”kali ini iaberkata sambil tertawa lepas.

“Kang Jihwa, berhenti mengejekku. Kau ingin aku pukul ha?”Rara menampakkan genggaman tangannya dihadapan Jihwa. “Kau, mau ini?”

“Ne ne, aku tak akan mengejekmu lagi. Sekarang turunkan tanganmu itu. Kau tak ingin kan namja itu melihatmu seperti ini? Bisa-bisa kau dianggapnya yeoja sadis yang suka nge-bully orang lain.”

“Jihwa-ah….”kali ini jitakan Rara dengan mulus mendarat dikepalanya.

“Aduh, apo… Rara , kau…. lihat saja aku tak akan membantumu kalau kau terus-terusan menyiksaku seperti ini.”ancamnya sambil mengusap-usap kepalanya.

“Huh, kalau kau tak membantuku, siap-siap saja kau menerima siksaan yang lebih kejam dariku.”kali ini Rara yang mengancamnya.

“Ah, kenapa sih aku punya sahabat sepertimu? Menyebalkan sekali.”

“Kau juga kenapa mau bersahabat denganku?”Rara membalikkan perkataannya. “Eh, Jonghyun sunbae sepertinya mau pergi. Tapi kenapa hanya dia sendiri? Jam istirahat bukannya masih lama ya?”Rara mengalihkan pembicaraan ketika matanya menangkap sosok Jonghyun yang berdiri.

“Mana?”Jihwa membalikkan badannya. “Rara-ah, sepertinya dia tak pergi tapi dia….”

“Annyeong… Jihwa dan Rara kan?”Jonghyun yang sedari tadi mereka bicarakan ternyata sudah berada di dekat mereka. “Apa aku boleh gabung disini?”tanya Jonghyun.

“Sunbae? Ah, A…nnyeong. Ten.. tentu saja boleh sun eh Jonghyun-ssi.”Rara yang masih tak percaya menjawab dengan terbata-bata. Jantungnya berdetak semakin cepat. Matanya tak lepas memandangi wajah namja itu. “Jihwa-ah, kau… bisa pindah disampingku”lanjutnya.

“Ani, sepertinya aku harus segera ke toilet. Kalian tak apa kan aku tinggal berdua?”pamit Jihwa lalu berdiri dan bergegas meninggalkan kedua orang itu

“Ne? Jihwa-ah kau jangan pergi. Aku.. aku akan menemanimu.”Rara kemudian berdiri bermaksud untuk menyusulnya. Namun dari jauh Jihwa terlihat menyuruhnya untuk kembali duduk lagi dan iapun menurut.

“Sunbae..”

“Sudah kubilang, panggil saja aku Jonghyun. Aku tak terlalu terbiasa dengan panggilan itu.”potong Jonghyun.

“Ne, Jonghyun-ssi.”Rara berkata dengan canggung. “Hmm… kenapa sunbae, ah ani Jonghyun-ssi kesini? Apa ada sesuatu?”ia kembali merasa canggung.

“Ani. Tadi aku melihat kalian berdua, jadi aku memutuskan untuk kesini. Apa aku menggangu kalian?”

“Aniyo. Tentu saja tidak Jonghyun-ssi.”ia terdiam, tak tahu harus mengatakan apa lagi.

“Rara, bagaimana dengan kelas tadi? Apa menurutmu menyenangkan?”

“Ne, tentu saja. Park seongsaenim sangat ramah, dan teman-teman yang lainpun begitu. Sepertinya aku akan betah bersekolah disini.”kali ini rasa canggungnya berkurang dan dia mulai bisa menikmati suasana. “Jonghyun-ssi, kau kelas 12-1 kan?”

“Ne, kenapa?”

“Ani, aku hanya bertanya saja.”ia terdiam. “Hmm.. yang disana. Itu semua teman sekelasmu?”tanyanya sambil menunjuk beberapa orang yang tadi terlihat bersama Jonghyun.

“Ne, mereka temanku tapi kami semua tak sekelas. Apa kau ingin berkenalan dengan mereka?”tawar Jonghyun.

“Ah, tidak perlu Jonghyun-ssi. Kelihatannya mereka sedang asik berbicara. Aku tak mau mengganggu mereka.”jawabnya.

“Baiklah. Sepertinya sebentar lagi bel masuk berbunyi. Ayo kita kembali ke kelas.”ajak Jonghyun.

“Benarkah? Baiklah, tapi… apa aku tak akan merepotkanmu? Nanti teman-temanmu menganggap aku….”

“Kau tak perlu khawatirkan mereka. Lagian kita juga searah kan? Ayo, nanti kita telat.” Ujar Jonghyun sambil menarik tangannya.

Rara diam. Tak tau harus berbuat apa. Ia hanya menurut dengan Jonghyun. Hatinya terasa berbunga-bunga. Ia tak menyangka kalau Jonghyun akan melakukan hal itu padanya. Ia merasa sepertinya ada harapan.

Sepanjang jalan, Jonghyun tetap memegang tangannya. Ia merasa senang sekaligus malu, semua orang yang mereka lewati melihat kearah mereka dan tak jarang pula beberapa yeoja sepertinya terlihat jealous. Diliriknya Jonghyun sesaat, lalu kembali menundukkan kepala berusaha menyembunyikan senyumannya.

Tak lama mereka telah sampai didepan kelas, dan berpamitan sembari masuk ke kelas masing-masing.

Jihwa yang sedari tadi sudah berada didalam melihat kedatangan sahabatnya. Setelah Rara duduk, dengan segera ia mengajukan pertanyaan padanya.

“Sepertinya ada yang sedang berbahagia nih. Hey, ayo ceritakan apa saja yang kalian lakukan.” Tak ada jawaban darinya. Hanya senyuman misterius yang ia perlihatkankan pada Jihwa. “Rara-ah, kenapa kau terus-terusan tersenyum. Ceritakan padaku, apa yang kalian lakukan.”

“Jihwa-ah… Aku pasti akan menceritakan semuanya padamu. Kau tak perlu histeris seperti itu. Seperti melihat artis saja.”ledeknya.

“Aku bukannya histeris, hanya penasaran. Habis kau masuk sambil senyum-senyum sih.”

“Jihwa, ini semua berkatmu. Karena kau pergi, aku jadi bisa sedikit lebih dekat dengannya, kalau tidak mungkin saja aku tak kan bisa sedekat tadi dengan dia.”

“Iya dong. Sebagai sahabat yang baik hati dan tidak sombong, tentu saja aku mengerti dengan situasi tadi. Terus, apa saja yang kalian lakukan?”

“Tapi tetap saja awalnya kau membuatku panik. Kau tau tidak, tadi aku nyaris seperti orang bodoh dihadapannya. Tapi karena dia terlihat baik, aku mulai bisa mengontrol diri.”Rara terdiam lalu melanjutkan ceritanya lagi. “Dan kau pasti tak menyangka, tadi dia mengajakku untuk kembali kekelas bersama dan…”ia menggantungkan perkataanya, membuat Jihwa semakin penasaran.

“Dan apa Rara? Berhenti membuatku penasaran Hwang Rara! Lanjutkan ceritamu, mumpung seongsaenim belum masuk.”

“Hahaha, kau jangan terlalu serius seperti itu Jihwa-ah, itu membuatmu telihat lucu.”ujar Rara kemudian tertawa. “Ah iya, aku belum menyelesaikan ucapanku. Dan….”ucapan Rara kembali menggantung, kali ini bukan karena ia sengaja, tapi karena guru mereka sudah masuk dan bersiap untuk mengajar. “Jihwa, pulang nanti aku akan menceritakannya, sekarang kau simpan saja dulu rasa penasaranmu itu.”bisiknya dan Jihwa hanya bisa mengganguk pasrah.

Bel tanda pulang sudah berbunyi. Rara dan Jihwa segera mengemasi barang-barangnya begitu juga dengan teman-teman mereka yang lain. Setelah itu mereka berdua segera menuju halte untuk pulang ke rumah.

Besok paginya mereka kembali melakukan aktivitas yang sama. Berjalan bersama menuju halte bus dan kemudian sampai disekolah. Kali ini Rara terlihat lebih semangat dari semalam. Jihwa yang melihat hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum. Memang dia sudah biasa melihat sahabatnya itu bersemangat, namun kali ini tampak sangat berbeda baginya. Dia berharap, sahabatnya itu bisa selalu bahagia seperti saat ini.

Hari ini berjalan seperti biasanya, namun saat Rara diajak ke kantin ia menolak dengan alasan takut bertemu dengan Jonghyun. Jihwa hanya bisa tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu.

“Rara, bukannya kau tadi sangat bersemangat karena ingin bertemu dengan Jonghyun lagi?”

“Iya, tapi entah kenapa sekarang aku malah takut bertemu dengannya dan aku … malu.”

“Hey, kenapa harus malu? Kau tak seperti Rara yang biasanya. Rara yang aku kenal tak pernah merasa malu, apalagi takut.”ledek Jihwa “Ah, cinta ternyata bisa mengubah orang secara instan.”

“Jihwa-ah, aku benar-benar tak tau kenapa jadi seperti ini. Jihwa, apa kau bisa mendengar detak jantungku? Sepertinya jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Apa aku sedang mengidap penyakit jantung?”ia dengan tampang bingung memegangi dadanya.

“Rara, itu tandanya kau sudah jatuh cinta padanya. Bahkan hanya dengan mendengar namanya saja sudah membuatmu seperti itu. Ternyata sahabatku ini masih sangat polos. Kelihatannya saja dewasa, tapi itu saja kau tidak tau.”

“Benarkah?. Kau memang lebih berpengalaman soal “cinta”. Sudahlah, kau pergi saja sana sendiri. Aku akan tetap berada dikelas.”

“Aku mana berani pergi sendirian. Ya sudahlah, terpaksa aku harus menahan laparku sampai pulang.”ujar Jihwa sambil mengusap perutnya yang sedari tadi berbunyi. “Karena kau telah membuatku menahan lapar, malam nanti kau harus mentraktirku.”

“Baiklah.”

“Hey, kau masih berhutang cerita padaku. Semalam kau tak meneruskan perkataanmu. Jadi sekarang kau harus melunasi utangmu itu.”

“Oh iya, aku lupa. tapi apa kau benar-benar ingin tahu? Aku rasa ini tak terlalu penting.”ujarnya sambil tersenyum, berusaha menggoda Jihwa.

“Hwang Rara, ayolah ceritakan padaku. Apa ada sesuatu yang terjadi antara kalian? Mmm… dari tingkahmu semalam, sepertinya kau dan dia…..”ia menghentikan perkataannya kemudian menatap sahabatnya itu dengan penuh selidik.

“Jihwa, berhenti menatapku seperti itu, kau menakutiku saja. Baiklah, aku akan menceritakannya. Semalam…. eh cerita semalam sampai mana ya? Aku lupa.”ujar Rara sambil terkekeh. Jihwa yang melihatnya kemudian mendelikkan matanya dan berhasil membuat Rara menyerah. “Oke, kau memang tahu kelemahanku. Semalam dia mengajakku untuk kembali kekelas bersama, dan dengan bodohnya aku hanya diam tak bergerak. Dan kau tau apa yang dia lakukan padaku? Dia menarik tanganku Jihwa.”

“Jeongmal? Ah, kau sangat beruntung Rara-ah. Terus apa yang kau lakukan?”

“Aku cuma bisa menurut saja. Sepanjang jalan, dia tak melepaskan tanganku. Awalnya aku sempat merasa malu karena setiap orang yang kami lewati pasti memandang kami dengan penuh selidik, membuat nyaliku menjadi ciut. Tapi sepertinya tidak dengan dia. Aku sempat memandangnya, senyumannya tak lepas dari wajah malaikatnya itu.”

“Sepertinya kau benar-benar sudah jatuh dalam pesonanya Rara-ah. Semoga saja ini awal yang baik.”ujarnya sambil tersenyum. “Fighting Rara-ah.”

Tak lama bel masuk kembali berbunyi, mereka berdua segera duduk dengan rapi. Wali kelas mereka Park seongsaenim masuk ke dalam kelas.

“Annyeonghaseo. Anak-anak, hari ini kalian semua akan dipulangkan lebih awal, dikarenakan para guru akan mengadakan rapat bulanan. Jadi setelah ini kalian semua bisa kembali ke rumah masing-masing. Arasseo?”

“Ne, arasseo seongsaenim,”jawab semua siswa kompak.

Setelah Park seongsaenim keluar dari kelas, para siswa bergegas mengemasi barang mereka kemudian berebutan keluar kelas. Rara dan Jihwa memilih untuk tetap diam ditempat karena tak ingin ikut berdesak-desakan dengan siswa lainnya. Setelah agak sepi, merekapun segera keluar dari kelas.

Tanpa disadari, ternyata Jonghyun sudah menunggu mereka di luar. Jihwa yang menyadari hal itu kembali mengambil inisiatif untuk pergi duluan dan kembali meninggalkan mereka berdua.

“Rara-ah, sepertinya aku harus pulang cepat. Aku ada janji sama umma. Kau bisakan pulang sendiri nanti?”ia memulai sandiwaranya. “Annyeong Jonghyun sunbae, senang bertemu denganmu lagi. Tapi sekarang aku sangat terburu-buru, bisakah aku menitipkan Rara padamu?”kali ini Jihwa berkata pada Jonghyun.

“Tapi, Jihwa…”

“Kau tidak keberatan kan untuk mengantarkannya pulang?”Jihwa memotong perkataan Rara. Rara pun hanya bisa diam melihat kelakuan sahabatnya itu. “Jonghyun-ssi, please…”

“Tentu saja Jihwa, sahabatmu ini akan aku pastikan sampai dirumah dengan selamat, dan kau berhati-hatilah dijalan.”

“Ne, gomawo Sunbae.”ia membungkukkan badannya kemudian segera pergi dari hadapan mereka berdua.

“Rara, sepertinya sahabatmu itu sangat sibuk ya?”Jonghyun berkata sambil tertawa.

“Ne, seperti itulah dia. Terkadang aku juga tak tau sesibuk apa sebenarnya dia itu.” Jawab Rara sambil menundukkan kepalanya. Malu.

“Hari ini aku membawa motor, kau tidak keberatankan kita menggunakan motor?”

“Ne, tapi apa aku tak merepotkanmu? Rumahku lumayan jauh dari sini.”

“Rara, dari semalam kau selalu berkata seperti itu, dan kali ini kau juga pasti tau jawabanku. Sekarang ayo kita berjalan menuju parkiran.”ujarnya sambil kembali menarik tangan Rara. Kali ini dia tak hanya memegang saja tapi juga mengenggam tangan Rara. Dan hal itu sukses membuatnya diam seakan membeku. “Kenapa? Apa kau berubah fikiran? Atau kau takut naik motor? Kalau iya, sebaiknya kita naik bus saja.”

“Ah, Aniyo. Aku cuma…… lapar.”tanpa sadar ia mengatakan hal itu.

“Hahaha, kau sangat lucu Rara, aku fikir kenapa. Ternyata.. baiklah, nanti kita singgah dulu di cafe dekat sini. Tenang saja, kali ini aku yang akan mentraktirmu. Ayo.”

Kali ini Rara tak bisa menolak, ia merutuki kebodohannya itu. Tapi dia juga merasa beruntung, karena dia bisa lebih lama lagi dengan namja yang disukainya itu.

Sesampainya di tempat parkir, Jonghyun menyerahkan sebuah helm padanya, namun entah apa yang sedang difikirkan yeoja itu sehingga dia hanya diam saja. Jonghyun tertawa dan kemudian memasangkan helm itu. Ia kembali terperanjat. Jantungnya kembali berdetak tak tentu arah. Dia berharap Jonghyun tak mendengar detak jantungnya itu.

Jonghyun menyalakan mesin motornya dan kemudian ia naik dibelakangnya. Tak lama, merekapun sampai di tempat yang dimaksud tadi.

“Kita sudah sampai, ayo turun.”ujar Jonghyun. Kemudian mereka masuk kedalam. Jonghyun memanggil salah satu pelayan. “Kau ingin memesan apa Rara?”tanyanya sambil tetap menunjukkan senyumnya itu.

“Mmm.. apa saja yang penting bisa dimakan.”

“Hahaha, sepertinya kau memang sangat kelaparan Rara.”Jonghyun kembali tersenyum. “Aku pesan seperti biasa, 2 ya.”ujarnya kemudian pada pelayan yang tentu saja sudah ia kenal.

Beberapa saat kemudian, makanan mereka telah siap untuk disantap. Rara memakan makanannya itu dengan sangat lahap, membuat Jonghyun yang melihatnya tersenyum.

“Pelan-pelan, nanti kau bisa tersedak.”ucap Jonghyun. “Ternyata selera makanmu bagus juga Rara, aku fikir semua yeoja akan menjadi anggun saat makan dihadapan seorang namja. Tapi kau tidak, kau apa adanya dan aku suka itu.”

Rara berhenti sejenak, mencoba mencerna perkataan Jonghyun. Dia tersenyum, kemudian kembali melanjutkan makannya tanpa berani melihat ke arah Jonghyun.

Jonghyun tak menyentuh sedikitpun makanannya, ia kagum melihat yeoja didepannya itu. Jonghyun terus memperhatikan Rara sambil sesekali tersenyum.

“Apa kau masih lapar? Kau bisa memakan punyaku juga.”ujarnya sambil menyodorkan piringnya ke hadapan Rara.

“Aniyo, ini sudah cukup kok. Kau kan juga harus makan Jonghyun-ssi.”tolaknya. “Kau, makanlah Jonghyun-ssi, mmm.. dan jangan menatapku seperti itu terus.”

“Mian, kalau aku membuatmu tak nyaman, aku tak bermaksud….”

“Makanlah, sebelum aku merubah fikiranku untuk tidak menghabiskan makananmu juga.”potongnya setengah bercanda.

“Hahaha, arasseo. Kau sangat lucu Rara.”Jonghyun berkata sambil mengusap kepala Rara, dan kembali ia menunjukkan ekspresi terkejutnya. “Kau juga, lanjutkanlah makanmu itu.”lanjutnya.

Setelah selesai menikmati makan siang, mereka segera kembali menuju motor Jonghyun yang terparkir di depan cafe tersebut. Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Rara. Selama perjalanan mereka saling bercanda, hingga tanpa disadari mereka telah sampai di depan rumah Rara.

“Gomawo Jonghyun-ssi.”ujarnya setelah turun dari motor sembari menyerahkan helm.

“Ne. Sepertinya aku tak bisa berlama-lama disini, aku juga harus pulang kerumah. Kau, masuklah sana. Annyeong Rara.”setelah berkata, Jonghyun menyalakan mesin motornya dan mulai melajukannya.

“Ne, berhati-hatilah dijalan Jonghyun-ssi.”ujarnya setengah menjerit.

Setelah memastikan Jonghyun telah hilang dari pandangannya, Rarapun meloncat kegirangan. Ia memasuki rumah sambil setengah berlari. Masuk kekamarnya kemudian menghempaskan tubuhnya diatas ranjangnya yang empuk. Dia mengambil handphonenya di dalam tas kemudian mengirimkan sebuah pesan pada Jihwa.

To : Jihwa

Jihwa-ah, kau dimana? Ah, sepertinya hari ini hari terbaikku. Meskipun awalnya aku sempat kesal karena kau meninggalkanku, tapi akhirnya aku bersyukur. Karenamu aku bisa berdekatan dengan Jonghyun sunbae. Ahh… aku tak menyangka bisa sedekat ini dengannya 😀

Tak lama datang balasan dari sahabatnya itu.

From : Jihwa

Jinja? Omo…. kau harus menceritakan semuanya padaku. Nanti malam aku akan kerumahmu sambil menagih janjimu. Hey, aku harap kau tak melupakannya.

 

Rara tersenyum kemudian kembali membalas pesan itu.

To : Jihwa

Ne, aku tunggu. Tenang saja, aku tak kan pernah melupakan janjiku. Sampai jumpa nanti malam Jihwa-ah…

Setelah mengirim pesannya itu, Rara segera mengganti pakaiannya kemudian ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Malam harinya seperti yang telah dijanjikan, Jihwa datang ke rumah Rara. Mereka pergi keluar untuk makan, tentu saja Rara yang mentraktir karena dia sudah berjanji pada sahabatnya itu. Ia menceritakan semuanya pada Jihwa, sesekali kedua sahabat itu tampak tertawa bersama. Kebahagianan tampaknya sedang berpihak pada kedua sahabat itu.

Hari-hari berlalu, hubungan Rara dengan Jonghyun semakin dekat. Mereka semakin sering bersama. Walaupun belum ada ikatan yang menyatukan keduanya. Hanya dengan melihat keduanya, semua orang pasti tau kalau mereka sedang saling jatuh cinta. Kedekatan mereka tak menjadi halangan untuk Rara tetap dekat dengan Jihwa. Rara juga sering membawa serta Jihwa pergi bersama. Terkadang mereka bertiga pergi ke suatu tempat untuk sekedar menghabiskan akhir pekan.

Pagi minggu yang cerah. Jonghyun mengajak Rara pergi ke taman bermain. Awalnya ia ingin mengajak Jihwa juga namun Jihwa menolak dengan alasan tak ingin menganggu kencan mereka.

Jam 10 pagi, Jonghyun sudah berada di rumah Rara. Setelah meminta izin pada orangtua Rara, merekapun segera pergi. Dengan mengendarai motor, mereka menuju taman bermain. Tak lama mereka telah sampai ke tempat yang mereka tuju. Setelah memarkirkan motor, mereka berjalan menuju tempat pembelian tiket masuk dan setelah mendapatkannya mereka kembali melangkahkan kaki dengan riang memasuki taman bermain itu.

Mereka mencoba semua wahana permainan yang ada, keduanya sama-sama merasa senang, tawa mereka tak pernah lepas menghiasi wajah mereka.

“Rara, apa kau senang?”tanya Jonghyun saat mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. “Dari dulu aku ingin pergi ke tempat semacam ini, tapi aku belum menemukan waktu dan teman yang tepat untuk mengajaknya kesini. Untung saja ada kau, aku sangat senang bisa bersamamu disini.”lanjutnya sambil memainkan rambut Rara.

“Ne, tentu saja aku senang Jonghyun-ssi. Benarkah? Wah, berarti aku orang yang sangat beruntung. Setelah ini, apa lagi yang akan kita lakukan?”tanyanya.

“Terserah kau saja, apapun akan aku turuti. Rara, hari ini kau….. neomu yeppeo.”kali ini ia membelai rambut Rara sedangkan Rara hanya terdiam.

“Gomawo Jonghyun-ssi. Dan kau juga sangat tampan hari ini.”jawab Rara malu. “Kau semakin….. mempesonaku.”ia mengecilkan volume suaranya berharap Jonghyun tak mendengarnya.

“Hey, aku bisa mendengarnya Hwang Rara”ujarnya setengah menggoda dan blush, seketika itu pula wajanya memerah.

“Kau terlihat berbeda Jonghyun-ssi, tadi saja kau sempat tak mengenalimu.”ujar Rara. “Kau memang sangat tampan.”lanjutnya.

“Apa kau baru menyadarinya?”

“Ani, dari awal aku juga sudah tau kalau kau itu sangat tampan Jonghyun-ssi.”ujar Rara sambil tertawa, dan Jonghyun juga ikut tertawa.

“Rara, aku ingin ke toilet sebentar, kau tunggu disini dan jangan kemana-mana. Arraseo?”

“Ne, Jonghyun-ssi. Kau jangan lama-lama.”

Tak berapa lama,ia datang lagi namun kali ini ia menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.

“Jonghyun-ssi, kenapa kau lama sekali? Aku….”ucapannya terhenti ketika ia melihat Jonghyun berlutut dihadapannya. “Jonghyun-ssi, apa yang kau lakukan? Berdirilah, semua orang melihat ke arah kita.”

“Hwang Rara. Saranghaeyo….”ujar Bakhyun sembari menyodorkan sebuket bunga lily ungu dihadapannya.

“Jonghyun-ssi, kau…”Rara terkejut. Ia tak menyangka akan mendapatkan pengakuan cinta ditempat seperti itu. “Nado saranghaeyo” Ia mengambil bunga yang diberikan Jonghyun, tanpa disadarinya air mata jatuh di kedua pipinya.

“Kenapa kau mengangis? Kau tidak suka?”Jonghyun berdiri kemudian menyeka air matanya.

“Aniyo Jonghyun-ssi, aku bukan menangis karena tidak suka. Aku terharu. Ini pertama kalinya seorang namja menyatakan perasaannya padaku dan dengan cara yang seperti ini pula. Aku tak menyangka kau seromantis ini Jonghyun-ssi.”

“Benarkah? Berarti aku namja pertamamu?”ia sangat senang mendengar perkataan Rara. “Berarti kau menerimaku sebagai namjachingumu?”

“Ne, tentu saja, dari awal aku memang sudah mempunyai rasa padamu. Gomawo Jonghyun-ssi, bunga ini sangat indah.”ujarnya kemudian mencium bunga ditangannya itu. “Hari ini terasa sangat indah.”Rara tersenyum kearah Jonghyun.

“Ne, setelah ini hari-harimu akan lebih indah dari saat ini, karena aku akan selalu berusaha membahagiakanmu, apapun akan aku lakukan untukmu, chagiya.”Jonghyun memeluknya. “Jeongmal saranghae Rara-ah.”ujarnya sambil mengecup puncak kepala Rara.

“Nado.”Riaara membalas pelukan Jonghyun.

“Rara, aku mempunyai sesuatu lagi untukmu.”Jonghyun melepas pelukannya lalu merogoh kantung celananya. Dikeluarkannya sebuah kotak mungil yang ternyata berisi sepasang cincin. “Sebenarnya sudah lama aku membeli ini untukmu. Tapi baru sekarang aku bisa memberikannya padamu. Kau mau kan? Ini adalah tanda bahwa sekarang kita adalah sepasang kekasih.”Jonghyun mengambil sebuah cicin dan memakaikannya di jari manis Rara.

“Jonghyun-ssi, ini pas. Bagaimana bisa kau mengetahui ukuran jariku?”tanya Rara.

“Aku sebenarnya tak pernah tau ukuran jarimu. Saat aku membeli ini, aku sempat bertanya pada penjualnya. Dia bilang ukuran jari manis yeoja akan sama dengan jari kelingking namja jika memang kedua orang itu berjodoh. Dan aku mencobanya, ternyata sangat pas. Aku harap kita memang berjodoh Rara.”

“Benarkah? Kau mempercayainya begitu saja Jonghyun-ssi? Ya, untung saja ini pas, jika tidak…?”

“Hey, sudahlah yang penting ini muat di jarimu. Kau suka kan? Tanganmu terlihat sangat manis karena benda itu. Berjanjilah padaku kau tak akan menghilangkannya. Yaksok?”Jonghyun menyodorkan jari kelingkingnya.

“Ne, yaksok”ia menyambut jari kelingkingnya itu. “Dan.. bagaimana dengan punyamu? Kau tak ingin memakainya?”tanya Rara sambil melirik cincin yang masih berada di tempatnya itu.

“Tentu saja aku akan memakainya, tapi disini.”Jonghyun mengeluarkan sebuah kalung dan menjadikan cincin itu sebagai mainan kalung itu. “Ini akan lebih aman jika disini.”ujarnya setelah memakai kalung itu.

“Jonghyun-ssi, kau terlihat keren.”ujarnya sambil tertawa.

“Ya Hwang Rara, berhenti memanggil namjamu dengan embel-embel “ssi”. Sekarang kau harus memanggilku “oppa”. Arrachi?”

“Oppa? Baiklah Jonghyun-ssi, eh oppa maksudku.”ralatnya sebelum ia melihat Jonghyun marah.

Kedua pasangan yang baru saja jadian itu terlihat sangat bahagia. Mereka saling bercanda hingga tak terasa hari sudah sore dan merekapun memutuskan untuk pulang.

Jonghyun mengantarkan Rara pulang dengan selamat. Sebenarnya ia masih enggan berpisah dengan Jonghyun, dia memaksa Jonghyun agar tinggal sebentar lagi. Namun Jonghyun menolak, karena ia harus segera pulang. Mau tak mau iapun merelakan Jonghyun pulang, dan tentu saja sebelum pulang Jonghyun mengecup keningnya terkebih dahulu. Setelah memastikan Jonghyun telah hilang dari pandangannya, ia masuk kerumah dengan sedikit berlari.

Rara memutuskan untuk membersihkan diri. Setelah makan malam, ia pergi kerumah Jihwa yang berada tepat disebelah rumahnya. Kerena ia telah mengenal seluruh isi rumah itu, Rara masuk begitu saja dan segera ke kamar Jihwa. Dilihatnya Jihwa sedang tidur, Rara segera membangunkan sahabatnya itu.

“Jihwa-ah, ireona. Kau mau tidur sampai kapan?”iameneriaki sahabatnya itu tepat di telinganya. Jihwa kaget kemudian terbangun.

“Ya Hwang Rara, kau ingin membuatku tuli? Kebiasaanmu itu…. ahhhh pergi kau dari kamarku. Menggangguku saja.”

“Shireo. Ireonayo. Apa kau tak ingin mendengarkan ceritaku? Kau tak ingin bertanya bagaimana kencanku dengan Jonghyun tadi?”

“Ah iya, aku hampir saja melupakan kencanmu itu? Eottae? Ayo ceritakan padaku.”

“Kau lihat ini?”Rara mengulurkan tangannya kemudian memain-mainkan jarinya. “Jonghyun oppa memberikan ini padaku, dan sekarang kami telah resmi sebagai sepasang kekasih.”

“Chukkae. Akhirnya kalian telah resmi menjadi sepasang kekasih.”ujar Jihwa. Namun dari wajahnya ada suatu hal yang ia sembunyikan.

“Kang Jihwa, gwaenchana? Kau terlihat….”

“Ne, gwaenchana. Aku hanya masih sedikit mengantuk. Ah, aku lupa kalau aku belum mandi, aku mandi dulu ya. Kau tunggu sebentar, aku tak akan lama.”ujarnya terburu-buru. Ia menyambar handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandinya lalu masuk dan menyalakan shower.

Sambil menunggu, Rara mengelilingi kamar sahabatnya itu. Kemudian matanya tertuju pada beberapa kertas yang berserakan diatas meja belajarnya. Ia berniat untuk membersihkannya.

“Ya Kang Jihwa. Apa kau tak pernah membersihkan mejamu ini? Ah, ini sangat berantakan.”Rara ngedumel sambil membersihkan meja itu.

Saat sedang membersihkan meja itu, sebuah photo terjatuh. Rara segera memungutnya namun setelah melihat siapa yang berada dalam photo itu Rara sedikit terkejut dan ketika ia membalikkan photo itu ia menemukan sebuah kata yang tertulis disana.

“Saranghaeyo”

 

Nafasnya tercekat, ia tak percaya apa yang telah ia dapati. Tanpa sengaja mata Rara melihat sebuah kertas yang dilipat kecil. Karena penasaran iapun membukanya.

Kim Jonghyun, aku tau tak mungkin untukku bisa memilikimu. Walau bagaimanapun aku berusaha, tak akan pernah tercapai. Aku tau ini memang salahku karena telah membiarkan hatiku jatuh padamu, terpesona melihat ketampananmu. Aku salah. Seharusnya ini tak boleh terjadi padaku. Aku memang bukan sahabat yang baik. Hwang Rara, mianhae… aku ternyata tak sebaik yang kau harapkan. Tak sepantasnya aku sebagai sahabatmu menyukai… ani mecintai namja yang kau cintai.  Mianhae Hwang Rara. Aku harap aku bisa menyembunyikan ini darimu selamanya. Walaupun sakit, aku harus tetap berusaha, karena bahagiamu bahagiaku juga. Saranghae Hwang Rara… saranghae Kim Jonghyun….

“Jihwa… jadi kau.”Rara terisak. “Mencintai Jonghyun….?”

-TBC-

Ya.. gimana gimana? Bagus nggak?

Oh iya, sebelumnya ini juga pernah aku post di blog tetangga, jadi kalau ada yg ngerasa udah baca itu pasti karya aku, EShyun.

RCL jangan lupa ya chingu ^^

Advertisements

2 thoughts on “[FREELANCE] Love Is – Chapter 1

  1. Anyeong… Crita Ώyå keren…
    Jihwa J̶̲̅υ̲g̶̲̅ά̲ suka ma jonghyun…
    Gmna Ÿªąº°˚˚°ه persahabatan mrka?
    ϑϊ tgg klanjutan Ώyå…

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s