[FREELANCE] Love Is – Chapter 2

Love Is... chapter1 dan 2

Title                     : Love Is… (Chapter 2)

Author                : EShyun

Genre                  : Friendship, Romance, Sad, Tragedy

Length                 : Chaptered

Rating                 : PG – 15

Main cast            :

  • ·         Kim Jonghyun
  • ·         Hwang Rara
  • ·         Kang Jihwa

Other cast      : *temukan sendiri, heh

Cover              :  allthingsiwannapost.wordpress.com

               

Yeyeye, chapter 2 is here….

Happy Reading ^^

 

Terdengar suara pintu yang terbuka, dengan segera Rara menyeka air matanya dan kembali memasang wajah senang. Dilihatnya Jihwa sudah memakai pakaian lengkap. Rara melihat mata sahabatnya itu agak sembab, ia rasa sahabatnya itu baru saja menangis. Hatinya merasa sakit melihat sahabatnya itu, namun ia juga tak ingin kebahagiaannya sirna begitu saja. Rara memilih untuk diam dan tak menanyakan tentang kebenaran dari apa yang baru saja ia ketahui.

“Jihwa-ah, kenapa kau lama sekali? Aku kan belum menceritakan semuanya padaku.” Ia memasang wajah bahagia dihadapannya, ia tak mau sahabatnya itu mengetahui hal yang baru dialaminya. “Jihwa-ah…. kau tidak penasaran?”

“Hwang Rara tanpa kau beritahu pun aku sudah mengetahuinya. Akhirnya setelah sekian lama kau menunggu.”Jihwa tersenyum, tapi Rara tahu itu adalah senyum yang dipaksakan. “Semoga kau bisa bertahan lama denganya. Jika aku melihatmu bahagia, akupun akan bahagia. Karena kita…. sahabat.”lanjutnya lalu memeluk Rara erat.

“Jihwa, gomawoyo kau memang sahabat terbaikku.”ujar Rara sambil membalas pelukannya. “Jihwa-ah, ini sudah malam, aku akan pulang. Kau beristirahatlah. Besok pagi aku akan menjemputmu.”

“Oke, kau juga beristirahatlah. Dan jangan lupa mimpikan namjachingumu itu.”

“Arra, itu sudah pasti. Annyeong Jihwa.”

“Annyeong Rara.”

Sepulangnya Rara, Jihwa mengunci pintu kamarnya. Ia terduduk lemas dibelakang pintu. Matanya mulai berkaca-kaca. Sekarang ia sudah tak mampu lagi menahan semuanya. Hatinya terlalu sakit.

Ditempat lain, Rara pun merasakan hal yang sama. Ia sebenarnya tak tega melihat sahabatnya seperti itu. Hatinya pun terasa amat sakit, namun ia tak berani menanyakan kebenaran tentang hal itu, karena ia belum siap untuk kehilangan semua kebahagiaannya saat ini.

Pagi ini seperti biasanya, Rara dan Jihwa pergi kesekolah bersama. Namun mereka tak satupun membuka suara, seakan sedang larut dalam fikiran masing-masing.

Jam istirahat Rara menghabiskannya bersama Jonghyun. Sedangkan Jihwa memilih untuk tetap tinggal di kelas.

Dan jam pulang sekolah, Jihwa memilih untuk pergi terlebih dahulu saat ia melihat Jonghyun di depan pintu kelasnya. Rara sadar Jihwa mulai menjauhinya. Iapun memutuskan untuk pulang bersama Jonghyun, namun sebelumnya ia meminta Jonghyun untuk singgah disuatu tempat. Dan akhirnya mereka pergi ke sebuah taman kecil yang tak jauh dari sekolah mereka.

Disana mereka duduk berdua, terlihat sangat serasi. Tak jarang beberapa pasang mata melihat iri ke arah mereka. Raut wajah Rara terlihat sangat serius membuat Jonghyun penasaran dengan apa yang tengah terjadi pada yeojanya itu.

“Rara, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan? Wajahmu terlihat berbeda.”Jonghyun bertanya pada yeojanya itu.

“Oppa…. seandainya ada orang yang menyukai dan mencintaimu lebih dariku, apa kau akan menerimanya dan meninggalkanku?”tanya Rara yang membuat Jonghyun terkejut.

“Rara, apa maksudmu berkata seperti itu? Apa ada sesuatu yang salah dariku?”tanya Jonghyun sambil membelai rambutnya.

“Aniyo oppa. Aku hanya ingin tau saja, seberapa besar perasaanmu terhadapku. Apa kau akan mudah berpaling dariku?”ia berkata sambil menunduk, tak berani memandang Jonghyun.

“Chagiya, kau tak perlu khawatir. Aku tak akan meninggalkanmu hanya karena ada orang yang lebih mencintaiku darimu. Karena aku hanya menginginkanmu. Dan aku juga yakin kaupun begitu. Bahkan aku lebih percaya cintamu itu melebihi dari siapapun.”jawabnya mantap.

“Benarkah? Kau tak akan meniggalkanku oppa?”

“Tentu saja Rara, tak ada alasanku untuk meninggalkanmu.”Jonghyun menggenggam tangan Rara untuk lebih meyakinkan yeojanya itu. “Aku tau sekarang kau sedang merahasiakan sesuatu dariku.”ucapannya mengagetkan Rara.

“Oppa, bagaimana kau….?”

“Apa yang tak aku ketahui darimu Rara? Aku memaklumi hal ini, tapi aku harap suatu saat nanti kau akan lebih mempercayaiku dan mau berbagi denganku.”potongnya.

“Oppa, mianhae. untuk saat ini aku belum bisa.”

“Ne, gwaenchana. Aku mengerti keadaanmu saat ini. Kau tenangkanlah dulu fikiranmu itu.”Jonghyun meletakkan kepala Rara di atas bahunya. Ia membelai rambutnya.

“Gomawo oppa.”

Mereka terdiam sejenak. Jonghyun masih tetap membelai rambut Rara berusaha untuk memberikan ketenangan pada yeojanya itu. Rara memejamkan matanya, merasakan kenyaman yang tengah ia dapatkan saat itu.

“Oppa, jika suatu hari nanti aku harus pergi sangat jauh… berjanjilah padaku kau tetap tak akan melupankanku.”kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Rara.

“Rara, apa maksudmu berkata seperti itu? Kau masih tak mempercayaiku?”

“Aniyo. Aku juga tak tau kenapa aku mengatakan hal ini padamu oppa.”

“Chagiya, kau tak seharusnya berkata seperti itu. Kau percayalah padaku.”

“Aku memang mempercayaimu oppa. Tapi… jika hal itu memang terjadi. Kau harus berjanji satu hal lagi padaku.”ia terdiam. “Oppa, jika aku memang harus pergi, jagalah Jihwa untukku. Jangan biarkan ia merasa sedih sedikitpun, aku tak ingin melihatnya bersedih apalagi sampai ia menangis.”

“Hwang Rara. Aku tak tau maksudmu berkata seperti ini. Aku tak suka kau berkata seperti itu. Aku tak mau kalau kau…..”

“Oppa, berjanjilah. Hanya itu yang aku inginkan darimu.”Rara memotong perkataan Jonghyun lalu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kau kenapa menangis Rara?”Jonghyun meneka air matanya. “Baiklah, aku berjanji padamu. Tapi kau harus berjanji padaku tak akan menagis lagi. Aku akan merasa sedih kalau kau seperti ini chagiya.”

“Tenanglah oppa, aku janji ini terakhir kalinya kau melihatku seperti ini. Oppa…. saranghaeyo….”

“Nado chagi”Jonghyun mengecup keningnya.

“Oppa, ayo kita pulang.”Rara berdiri dengan tiba-tiba namun kali ini dengan ekspresi cerah. Tak terlihat sedikitpun ada raut sedih diwajahnya.”Oppa, ayo. Tapi sebelumnya aku mau ice cream. Oppa, kau belikan ya.”bujuknya,

“Hey, aku lebih suka melihatmu yang seperti ini. Oke, aku akan membelikanmu ice cream. Ayo.”Jonghyun menggenggam tangan yeojanya lalu mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.

Hari-hari mereka lewati dengan bahagia. Canda dan tawa selalu menghiasi kebersamaan mereka. Rara lebih memilih untuk tetap bersama Jonghyun selagi ia masih mempunyai kesempatan itu. Karena ia tak tau sampai kapan ia bisa menikmati kebahagiaanya itu.

Lain dengan Jihwa, dia merasa hari-harinya terasa semakin menyiksa. Apalagi setiap melihat kemesraan sahabatnya dengan namja yang ia cintai. Namun ia tak pernah sekalipun ingin menunjukkan kesedihannya itu dihadapan orang lain. Di depan mereka dia selalu terlihat sangat bahagia, tapi nyatanya itu hanyalah sebuah topeng saja. Rara menyadari akan hal itu, namun ia tak pernah menanyakannya sekalipun, ia masih takut untuk mendengarkan kenyataan itu dari sahabatnya sendiri. Dan memutuskan untuk bersikap seperti biasanya.

Pagi ini Rara pergi ke rumah Jihwa. Diwajahnya terlukis senyum yang sangat indah.

“Jihwa-ah… kau sedang sibuk tidak?”Rara menghampiri Jihwa yang terlihat sedang melamun di teras rumahnya.

“Ah, Rara. Sejak kapan kau disini?”Jihwa kaget melihat sahabatnya telah ada di hadapannya. “Aku sedang tidak sibuk kok, ada apa? “

“Dari tadi, kau sih melamun saja. Karena kau sedang tidak sibuk, sekarang kau harus ikut denganku.”

“Kemana?”Jihwa terlihat enggan.

“Sudah, ikut saja. ayo.”Rara menarik tangannya.

Rara membawa Jihwa ke sebuah cafe, ternyata sebelumnya dia telah membuat janji dengan Jonghyun untuk bertemu disana. Saat melihat keberadaan Jonghyun, Jihwa terlihat saat enggan untuk masuk. Tapi kali ini dia tak bisa menghindar lagi. Mau tak mau dia mengikutinya masuk kedalam.

“Oppa… kami sudah datang. Apa kau menunggu terlalu lama?”Rara berkata kemudian duduk di samping Jonghyun dan Jihwa duduk di hadapan mereka. “Oppa, kenapa kau diam saja? Pasti kau kesal padaku kan?”

“Huh, apa kau tau sudah berapa lama aku menunggumu Rara? Lihat, sudah berapa minuman yang aku pesan.”ujarnya sambil melipat kedua tangannya di atas dadanya. “Ya Jihwa-ah, kau lihat kelakuan sahabatmu ini?”kali ini Jonghyun mengalihkan pertanyaannya pada Jihwa yang sedari tadi hanya tersenyum melihat kelakuan Rara.

“Ya, dia memang seperti itu Jonghyun-ssi. Kau seperti baru mengenalnya saja. Tadi dia malah menculikku, memaksaku untuk ikut kesini.”Jihwa menjawab namun tak berani memandang Jonghyun, dia berusaha untuk menjauhkan pandangannya dari namja itu, takut dia menyadari perasaannya.

“Hey, kau kenapa? Sepertinya kau merasa tak nyaman Jihwa-ah?”Jonghyun menyadari ada yang berbeda dari Jihwa.

“Aku? Ani… aku merasa nyaman kok.”

“Tapi sepertinya….”

“Sudahlah oppa, kau jangan seperti itu padanya. Mungkin dia hanya masih sedikit kesal padaku karena tadi memaksanya untuk ikut kesini.”potong Rara.

Setelah itu mereka bertiga saling bercanda. Tawa terlukis di wajah mereka, walaupun itu tak selamanya tawa yang tulus.

“Oppa, bolehkah aku memelukmu?”tanya Rara tiba-tiba.

“Tentu saja boleh chagiya.”Jawab Jonghyun lalu memeluk erat Rara. Jihwa yang melihat hanya bisa menahan agar air matanya tak jatuh saat itu.

Sesaat Rara dan Jonghyun masih tetap berpelukan. Pemandangan yang tak ingin dilihat oleh Jihwa. Ia merasa tak bisa lagi menahan rasa sakit itu dan memutuskan untuk pergi.

“Rara, Jonghyun-ssi, mian aku harus pergi.”Jihwa berdiri kemudian hendak pergi.

“Ani, kau jangan pergi Jihwa-ah.”Rara berdiri lalu menahan tangan Jihwa agar dia tak beranjak dari tempatnya. Ia berjalan mendekati Jihwa. “Kau jangan pergi Jihwa-ah, aku tak ingin kehilanganmu.”kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. “Hanya kau sahabat terbaikku yang bisa menerima aku apa adanya, aku sangat menyayangimu Kang Jihwa.”iakemudian memeluk Jihwa, lalu menangis.

“Rara, apa yang kau lakukan?”Jihwa berusaha melepaskan pelukannya. Jonghyun yang melihat hanya bisa memandang keduanya dengan penuh tanda tanya.

“Jihwa, biarkan seperti ini. Sebentar saja.”Rara mempererat pelukannya. “Jihwa-ah, gomawo. Kau telah menjadi salah satu yang terbaik dalam hidupku. Dan mianhae, kalau selama ini tanpa sepengetahuanku aku membuatmu…. merasa sakit, mianhae Kang Jihwa.”ujarnya terisak.

“Hwang Rara, apa maksudmu berkata seperti itu. Aku tak pernah sekalipun merasa sakit karenamu. Kau tak perlu berkata seperti ini. Kau menakutkanku Rara.”ujar Jihwa terkejut, dan tentu saja perkataanya itu tak semuanya benar.

“Aku juga manusia biasa Jihwa-ah, pastilah aku ada berbuat salah padamu walau kau tak menganggap itu sebuah kesalahan. Aku mohon, kau jangan pernah melupakanku, aku masih ingin tetap menjadi sahabatmu, sahabat seorang Kang Jihwa.”

“Rara, sudahlah. Kau jangan menangis lagi. Kau pasti tau kalau aku tidak akan pernah melupankanmu dan kau sampai kapanpun tetap sahabatku.”Jihwa menenangkan Rara, melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya. “Sekarang kau jangan menangis lagi, tersenyumlah untukku.”

“Gomawo Kang Jihwa.”ujarnya sembari tersenyum. “Oppa….”kali ini Rara mendekati Jonghyun dan kembali memeluknya. “Gomawo. Aku harap kau tak melupakanku dan janjimu padaku.”ujar Rara lalu melepas pelukannya.

“Rara, kenapa kau bersikap seperti ini? Kau membuatku takut chagiya.”Jonghyun khawatir melihat kelakuan yeojanya itu.

“Aku tidak tau oppa. Tiba-tiba saja hatiku menyuruhku untuk melakukan hal ini.”ujar Rara. “Tapi, sekarang aku merasa sangat lega oppa, sepertinya semua bebanku telah hilang.”

“Hmm…. aku masih tak mengerti denganmu chagi. Tapi kalau itu bisa membuatmu senang, aku jadi ikut senang Rara.”Jonghyun membelai rambut Rara.

“Ne oppa.”Rara tersenyum lalu matanya melihat sesuatu di luar sana. “Oppa, lihat itu disana ada toko bunga. Aku akan kesana sebentar, kalian tunggu disini ya.”ujar Rara kemudian.

“Aku ikut Rara, aku juga ingin membeli bunga.”ujar Jihwa.

“Ani, tidak boleh. Kau harus tetap tinggal disini. Dan aku yang akan membelikanmu bunga. Ara?”ujarnya. “Oppa, kau jagalah dia untukku ya.”kali ini Rara berkata pada Jonghyun.

“Baiklah, aku akan menjaga Jihwa untukmu. Kau jangan lama-lama dan berhati-hatilah.”

“Tenang saja oppa, kau kan bisa melihatku dari sini.”ujarnya lalu melangkah keluar, namun ketika baru sampai di depan pintu, tiba-tiba ia berlari menuju Jonghyun lalu mencium bibirnya. Jonghyun sangat terkejut, karena tak biasanya Rara yang melakukan hal itu di tempat umum pula. Sedangkan Jihwa memalingkan wajahnya, tak ingin melihat adegan itu.

“Rara, gwaenchanayo?”tanyanya setelah Rara melepas ciumannya itu.

“Ne, gwaenchanayo oppa.”

“Benarkah? Tapi kau…. membuatku sedikit khawatir…”

“Benar oppa, sudahlah aku pergi dulu ya.”ia meninggalkannya dengan senyuman manis.

Rara melangkahkan kakinya dengan riang. Entah kenapa saat itu hatinya terasa sangat lega, dan merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia membeli 3 tangkai lily ungu, bunga kesukaannya. Lalu setelahnya ia kembali menuju cafe tadi.

Rara menyebrang jalan sambil melihat-lihat bunga yang ia pegang. Kemudian pandangannya mengarah pada Jonghyun dan Jihwa yang sedari tadi melihatnya dari jendela cafe itu. Ia terlihat tersenyum kearah mereka, senyum yang sangat manis dan menghentikan langkahnya padahal dia masih berada ditengah jalan.

.Jonghyun dan Jihwa tentu saja merasa heran, mereka melihat Rara memejamkan matanya dan setetes air mata jatuh membasahi pipi Rara bersamaan dengan suara dentuman keras. Sebuah mobil menghantam tubuh Rara hingga terpelanting jauh. Jonghyun dan Jihwa yang melihat kejadian itu sangat terkejut dan berlari keluar. Fikiran mereka sama kacaunya, apalagi saat menyadari keadaannya sangat mengkhawatirkan.

“Hwang Rara…”Jonghyun berteriak lalu berlari menghampirinya. Ia mengangkat tubuh Rara lalu meletakkannya diatas pengkuannya. “Rara, kau…. kenapa bisa seperti ini? Apa kau tidak melihatku tadi? Aku sudah memberitahumu, tapi kau seperti tak menghiraukan kami.”Jonghyun menangis. “Pabo!”

“Oppa….. Mian….hae. ah, sa…kit….”Rara mencoba berbicara

“Aku tau ini sakit, kau bertahanlah. Sebentar lagi ambulance akan datang. Kau jangan banyak bergerak dan berbicara. Aku disini, aku tak akan kemana-mana.”ujarnya berusaha menenangkan.

“Opp..aa. Jihwa.. di..mana..?”

“Aku disini Rara-ah… kau, kenapa seperti ini?”Jihwa menggenggam tangan Rara. Air matanya mengalir melihat keadaan sahabatnya yang sangat mengenaskan.

“Jihwa-ah… ak.. aku….”ia terdiam, berusaha mencari oksigen. “Mian…hae… Kang.. Ji.. Jihwa… jeongmal…”Air matapun mengalir dari sudut matanya.

“Tidak, kau tidak bersalah padaku. Akulah yang bersalah, karena tak bisa menjagamu dan membiarkanmu seperti ini. Aku yang mempunyai banyak dosa padamu.. aku….”Jihwa menangis. “Hwang Rara, aku tau kau orang yang kuat. Bertahanlah. Kau harus sembuh, kau tahu di dunia ini banyak yang menyayangimu. Kau sahabat terbaikku Hwang Rara…”Jihwa terisak.

“Aku..ing..ingin… ta..pi tak bi..sa Jihwa.. kau ju…ga saha…bat terbaik…ku. goma…wo.”

“Tidak, kau tidak boleh berbicara seperti itu, kau pasti bisa bertahan Hwang Rara.”Jihwa sangat kaget mendengar perkataannya.

“Andwae, kau tidak boleh seperti ini Hwang Rara, aku tak ingin kehilanganmu.”Kali ini Jonghyun yang berbicara. “Rara, aku sangat mencintaimu. Kau tak boleh meninggalkanku seperti ini. Kumohon, bertahanlah Hwang Rara.”ia memeluk erat tubuh lemah Rara, air matanya mengalir.

“Oppa….. Mian….hae, aku su..dah tak bisa…. bert…tahan.. lagi. Jihwa… aku…” ucapan Rara terpotong. “Aku… sayang kali..an. sa..ranghae oppa…. sarang…hae Jihwa.”Rara terdiam, dia mengenggam erat tangan Jonghyun sambil menatap lekat mata kekasihnya itu. Lalu perlahan, genggamannya mulai melonggar dan matanya tertutup perlahan.

“Rara. Hwang Rara… Bangun, bangun…. ayo buka kembali matamu, kau jangan pergi seperti ini. Hwang Rara,, Rara…..”Jonghyun menguncang-guncang tubuh lemah kekasihnya itu. Berharap, yeoja yang dicintainya itu dapat membuka matanya kembali. “Andwae, Rara. Kau tidak bisa meninggalkan kami seperti ini. Rara, Hwang Rara….”Jonghyun memeluk erat jasad Rara yang berlumuran darah.

“Jonghyun, sudahlah… kau jangan seperti ini. Aku tau ini menyakitkan, tapi…”dengan terisak Jihwa menenangkan Jonghyun.

“Ya! Diamlah, kau jangan mengaturku. Kau tau, ini semua karenamu. Sebelumnya Rara pernah berkata padaku untuk menjagamu jika ia pergi. dan kau lihat sekarang? Dia benar-benar pergi, bahkan dia tak akan pernah kembali lagi.”Jonghyun meluapkan emosinya pada Jihwa. “Aku… aku tak ingin kehilangannya, aku tak ingin kau pergi seperti ini Rara, bangunlah… kenapa kau tega meninggalkanku seperti ini, Hwang Rara..”suara Jonghyun melemah, ditatapnya wajah Rara. “Biarkan aku seperti ini sesaat, untuk terakhir kalinya.”ujarnya pada Jihwa tanpa mengalihkan pandangannya.

Mendengar hal itu, perlahan Jihwa berjalan menjauh. Ia masih belum mengerti maksud dari perkataan Jonghyun. Dari kejauhan, dilihatnya Jonghyun masih menangis diatas jasad Rara sampai tak lama para petugas medis membawanya pergi bersama dengan Jonghyun. Jihwa hanya bisa melihat dari kejauhan, hingga mobil itu menghilang dari pandangnya.

Jihwa pulang kerumah. Sesampainya, dilihatnya orang tua Rara sedang menangis, sepertinya ia telah mengetahui kabar kematian anaknya. Jihwa kemudian menghampiri mereka lalu memeluk umma Rara.

“Umma, Mianhae… aku tak bisa menjaga Rara.”Jihwa menangis dipelukan umma Rara. “Rara seperti ini karenaku, umma. Aku yang bersalah, aku tak bisa mencegah itu semua terjadi. Maafkan aku umma.”

“Sudahlah Jihwa, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Ini semua sudah menjadi jalannya. Kau bersabarlah nak, ini memang kenyataan yang pahit. Tapi kita tetap harus menjalaninya.”umma Rara menghibur Jihwa meskipun dengan air mata yang berlinang.

“Ne umma, mianhae…”

“Kau pulanglah nak, tenangkan fikiranmu dulu. Umma akan mengurus pemakamannya besok. Kau boleh bersedih tapi jangan berlarut-larut.”ujar umma lalu pergi.

Jihwa melangkahkan kaki menuju rumahnya. Setelah membersihkan diri, ia pergi ke rumah Rara. Dilihatnya tubuh tak bernyawa Rara telah berada di sebuah peti, seluruh keluarga berkumpul dan meratapi kepergian Rara. Jonghyun pun ada diantara mereka. Dia duduk di sebelah peti Rara dan memandanginya dengan tatapan kosong. Jihwa tahu itu adalah tatapan penyesalan, melihat Jonghyun seperti itu membuat Jihwa merasa sakit. Sebelumnya ia tak pernah melihat Jonghyun bersedih seperti itu. Didekatinya Jonghyun perlahan, lalu ia mengelus punggung Jonghyun.

“Jonghyun-ssi…. Aku tahu ini sangat sulit bagimu. Tapi kau tak boleh bersedih seperti ini terus. Kau tahu, Rara pasti sangat sedih jika mengetahui kau seperti ini.”ujar Jihwa.

“Bisakah kau meninggalkanku? Aku ingin menikmati masa-masa terakhirku bersama Rara. Tolong, biarkan aku berdua dengannya, untuk yang terakhir kali..”jawab Jonghyun.

Jihwa terdiam lalu menjauh dari mereka. Dia menangis dalam diam. Sebenarnya dialah orang yang paling terpukul atas kepergian Rara. Malam itu ia menginap di rumah Rara, bermaksud untuk sedikit menghibur keluarga Rara. Jonghyun juga ikut menginap disana, di saat-saat terakhir ini, ia tak mau jauh dari Rara karena ia tahu setelah ini dia tak akan pernah bertemu dengannya lagi, selamanya.

Pemakaman Rara dilakukan dengan hening. Isakan tangis terdengar dari teman-teman dan keluarganya, tak terkecuali Jonghyun. Di saat semua orang telah pergi, Jonghyun masih berada disana, duduk disebelah makamnya. Ia seakan enggan untuk meninggalkannya begitu saja. Semua kenangannya bersama Rara bermain-main didalam fikirannya. Tak jarang bibirnya membentuk sebuah senyuman saat ia mengingat hal-hal manis bersama yeojanya itu dan seketika itu pula senyumannya lenyap dan berganti dengan wajah murung dan isakan kecil saat ia tersadar dan mendapati kenyataan pahit bahwa Rara telah pergi menghadap Yang Kuasa.

“Rara-ah, kenapa kau harus pergi secepat ini? Dan dengan cara yang seperti ini? Aku benar-benar terpukul akan kepergianmua dan hal ini membuatku sangat kehilangan sosok yang sangat aku cintai. Bukankah ini terlalu cepat chagiya?”Jonghyun meluapkan emosinya di depan makam Rara. “Seandainya saat itu aku tak membiarkanmu pergi sendiri, aku yakin saat ini aku masih bisa melihat senyumanmu.”ia terdiam, hening sesaaat.

Air mata yang sedari tadi jatuh membasahi pipinya ia biarkan begitu saja. Matanya hanya terpaku pada nisan yang terukir nama yeoja yang sangat ia cintai. Perlahan ia mengelus nisan itu dengan penuh kasih sayang, seakan itu memang benar-benar yeojanya.

“Rara-ah, aku tahu tak seharusnya aku menjadi seperti ini. Kepergianmu membuatku menjadi namja yang sangat lemah. Tak seharusnya pula aku berlarut-larut dalam kesedihan ini. Tapi untuk kali ini biarkanlah aku seperti ini untuk terkahir kalinya. Setelah aku merasa lebih baik, aku akan berjanji padamu tak akan ada lagi air mata yang jatuh dan tak kan ada lagi kesediahan yang membayangiku.”Jonghyun menyeka air matanya. “Dan tentang permintaanmu saat itu, agar aku menjaga Jihwa jika kau pergi aku akan memenuhi permintaanmu itu. Walaupun berat, aku akan selalu berusaha membahagiakanmu walau aku tak bisa melihat sosokmu lagi. Tapi aku yakin dari sana kau pasti bisa melihatku. Besok aku akan membicarakan hal ini padanya, aku harap ia mau menerimaku.”Jonghyun menengadahkan kepalanya sambil memejamkan matanya. “Chagiya, sekarang aku ingin berpamitan padamu. Aku tahu kau akan merasa sepi disini sendirian, karena itu aku berjanji akan sering menjengukmu disini. Aku harap kau bahagia di alam sana, Hwang Rara.”Jonghyun mengelus nisan Rara untuk yang terakhir kalinya sebelum ia beranjak meninggalkan makan Rara.

Keesokan harinya, saat Jonghyun sedang berada disebuah cafe, ia memutuskan untuk menghubungi Jihwa dan mengajaknya bertemu disana. Beberapa waktu kemudian, Jihwa telah sampai di cafe tempat Jonghyun menunggunya. Tak ingin membuang waktu, Jonghyun segera mengutarakan semuanya pada Jihwa.

“Jihwa-ah, aku menyuruhmu datang kesini karena ada suatu hal yang harus aku katakan padamu, ini tentang permintaan terakhir Rara padaku.”Jonghyun membuka suara.

“Mengenai apa Jonghyun-ssi? Apa ini ada kaitannya denganku?”tanya Jihwa.

“Tentu saja. Apa kau ingat saat Rara mengalami kecelakaan? Pada saat itu aku sempat emosi padamu dan berkata bahwa kaulah penyebab kematiannya. Itu semua aku katakan karena….”Jonghyun menggantungkan ucapannya lalu menghela nafas, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya. “Karena… sebelumnya Rara pernah berkata padaku, jika suatu hari nanti dia pergi maka aku harus menjagamu untuknya.”sambung Jonghyun.

“Menjagaku? Maksudmu…..?”Jihwa terdiam, namun dari raut wajahnya ia seperti memikirkan sesuatu. “Tunggu… apa Rara tahu tentang rahasiaku? Benarkah…. dia mengetahuinya?”Jihwa berkata dengan suara bergetar, tentu saja hal itu membuat Jonghyun bingung. “Jonghyun-ssi, mianhae aku memang bodoh!”Kali ini Jihwa menangis dan kembali membaut Jonghyun kebingungan.

“Ya! apa maksudmu Jihwa-ah. Jelaskan semua perkataanmu itu, rahasia apa yang kau sembunyikan? Argh… kau jangan membuatku frustasi seperti ini.”Jonghyun mengacak-acak rambutnya.

“Mianhae… jeongmal mianhae.”ia tertunduk. “Sebenarnya…. aku mencintaimu Jonghyun-ssi.”dengan suara bergetar Jihwa berusaha mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya.

“Mencintaiku? Apa maksudmu Jihwa? kau kan tahu aku ini pacar dari sahabatmu, bagaimana bisa hal itu terjadi. Sejak kapan pula kau memiliki perasaan itu padaku? Berarti maksud dari perkataamu tadi, Rara mengetahui perasaanmu dan itulah alasan dia berkata seperti itu?”Jonghyun semakin frustasi mendengar kenyataan itu.

“Ya, aku mencintaimu Jonghyun-ssi. Aku tahu kau memang pacar sahabatku bahkan itu sangat jelas kuketahui. Tapi entah hal apa yang membuatku bisa merasakan ini padamu, perasaan itu datang begitu saja tanpa bisa aku tepis. Selama ini aku berusaha untuk merahasiakannya dari siapapun, termasuk Rara. Tapi ternyata pada akhirnya ia mengetahui hal ini.”

“Jika kau memang berusaha merahasiakannya, lalu bagaimana bisa Rara mengetahuinya?”

“Ini memang salahku Jonghyun-ssi. Aku ada menyimpan photomu dan menuliskan perasaanku disecarik kertas. Dan bodohnya aku meletakkan benda itu di atas meja, kemungkinan tanpa sepengatahuanku Rara telah membacanya.”ujarnya merasa bersalah. “Saat itu hari dimana kalian berdua baru menjadi sepasang kekasih, dia mendatangiku. Tak lama aku meninggalkannya sendiri, aku yakin saat itulah dia menemukan benda itu.”

“Jadi maksudmu, tanpa sepengetahuanmu, Rara telah mengetahui perasaanmu itu?”tanya Jonghyun tak percaya.

“Sepertinya begitu. Mianhae, aku memang bukan sahabat yang baik.”ia tak berani menatap Jonghyun.

“Jihwa-ah…”Jonghyun tiba-tiba menggenggam tangan Jihwa dan tentu saja itu membuatnya sedikit terkejut. “Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Sebagai sahabat, aku yakin Rara pasti ingin yang terbaik untukmu meskipun dengan cara seperti ini.”

“Jonghyun-ssi, aku….”

“Sudahlah, aku tak perlu menyalahkan dirimu, ini semua terjadi diluar kehendakmu. Ini sudah ditakdirkan oleh-Nya.”Jonghyun berusaha menenangkan Jihwa. “Beri aku sedikit waktu agar bisa membalas perasaanmu itu, dan sekaligus memenuhi permintaan Rara. Tapi tentunya kau tahu, ini semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Aku butuh waktu untuk bisa sedikit melupakan perasaanku pada Rara.”ucapan Jonghyun membuat Jihwa terkejut.

“Berarti kau… bersedia membalas perasaaanku ini?”tanya Jihwa tak percaya.

“Ya, ini semua kau lakukan juga untuk kebahagiaan Rara. Karena walaupun aku tak dapat melihatnya dari sini, aku yakin dia bisa melihatku disana.”jelas Jonghyun.

“Gomawo Jonghyun-ssi.”Minirn membalas genggaman Jonghyun.

Jihwa merasa sangat senang, karena akhirnya ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan meski dengan cara seperti ini. Walaupun Jihwa tahu, belum tentu ia bisa mendapatkan cinta tulus Jonghyun. Tapi ia tetap berusaha untuk bisa membuat Jonghyun mengalihakan perasaannya itu dan memberikannya cinta tulus.

“Rara-ah, gomawo. Kau memang sahabat terbaikku. Kau telah memberikan kesempatan ini padaku dan aku berjanji aku tak akan menyia-nyiakannya. Gomawo Hwang Rara…”ujar Jihwa dalam hati.

Hari telah semakin sore, merekapun memutuskan untuk pulang dan tentu saja Jonghyun yang mengantarkan Jihwa. Tak berapa lama merekapun telah sampai di depan rumah Jihwa.

“Gomawo Jonghyun-ssi. Aku merasa sangat bahagia saat ini.”

“Ne, hmm mulai sekarang panggillah aku “oppa”, seperti Rara.”

“Ah, baiklah oppa.”jawab Jihwa dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. “Oppa, apa kau mau singgah dulu?”

“Hmm, sepertinya tidak. setelah ini aku ingin mengunjungi makan Rara dulu. Lain kali saja ya, Jihwa-ah.”

“Baiklah oppa. Hati-hati dijalan ya.”ujarnya sambil melambaikan tangan saat Jonghyun berlalu dihadapannya. “Huh, baru hari pertama saja sudah sesulit ini. Apa aku bisa melewati ini semua? Entahlah..”benaknya.

Hari-hari berlalu, mereka sekarang menjalaninya sebagai sepasang kekasih. Namun ada hal yang berbeda dari hubungan keduanya. Jonghyun masih saja menyangkutpautkan Jihwa dengan Rara. Terkadang Jonghyun juga memanggil Jihwa dengan Rara, bahkan bila bukan Jihwa yang mengingatkannya, Jonghyun akan melupakan kencan mereka dan lebih memilih untuk berada di makam Rara.

Hal ini tentu saja membuat Jihwa sedikit tidak nyaman dengan hubungan ini. Namun ia tak terlalu ingin mempermasalahkannya. Bagaimanapun perilaku Jonghyun, ia selalu memberikan yang terbaik pada Jonghyun. Jihwa selalu berusaha ada di dekat Jonghyun, memberikan perhatian-perhatian layaknya sepasang kekasih.

Sampai suatu hari, saat Jonghyun mengajak Jihwa kesebuah taman yang sebelumnya tak pernah mereka kunjungi.

“Oppa, indah sekali pemandangan disini.”Jihwa terpesona melihat keindahan taman itu. “Ini pertama kalinya kau membawaku kesini bukan? Mengapa kemarin-kemarin kau tak pernah membawaku kesini oppa?”tanyany sembari meletakkan kepalanya diatas bahu Jonghyun.

“Ne, ini memang pertama kalinya aku membawamu kesini tapi bukan untuk pertama kalinya aku kesini.”jawab Jonghyun lalu menghela nafas. “Kau tahu, dulu aku dan Rara sesalu menghabiskan waktu kami disini. Dan sepertimu, saat pertama kali aku membawanya kesini dia juga menyukai pemandangan disini.”lanjut Jonghyun. “Terlalu banyak kenangan indahku bersama dengannya disini, makanya kau tak pernah membawamu kesini karena kau tak ingin kembali bersedih karena teringat dengannya. Tapi entah mengapa hari ini aku sangat merindukan tempat ini, makanya aku membawamu kesini. Aku ingin kembali mengenang masa-masa indahku bersamanya disini.”

Jihwa merasakan sakit di hatinya. Ia tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti ini, setelah sekian lamapun Jonghyun masih tak bisa melupakan bayang-bayang Rara dari benakknya. Seketika itu pula Jihwa mengangkat kepalanya lalu menatap Jonghyun.

“Jihwa-ah, kenapa kau menatapku sepeti itu? Apa ada yang salah denganku?”tanya Jonghyun bingung.

“Oppa, apa maksudmu mengatakan itu semua padaku? Apa kau tak tahu perkataanmu itu menyakiti hatiku. Selama ini aku selalu menahan emosiku saat kau membandingkanku dengan Rara. Tapi kali ini aku sudah tak bisa lagi menahannya. Ini sudah sangat keterlaluan. Tidak bisakah sehari saja kau tak menyebut nama Rara dihadapanku? Tidak bisakah sehari saja kau hanya memikirkanku dan membuang jauh-jauh kenanganmu bersama Rara?”tangis Jihwa pecah seketika itu juga. “Ya! apa kau tak tahu berapa banyak luka yang kau goreskan dihatiku? Kim Jonghyun, sekarang kau adalah namjachinguku. Namjachingu dari seorang Kang Jihwa bukan Hwang Rara. Sadarlah Rara sudah mati dan ia tak akan kembali lagi padamu.”Jihwa menumpahkan semua emosinya.

“Jihwa-ah.. mengapa kau berkata seperti itu? Apa aku salah jika aku menyebut nama Rara di hadapan sahabatnya sendiri? Hey, Rara memang sudah pergi tapi bukan berarti kita harus melupakannya bukan?”ia sedikit tak terima dengan perkataan Jihwa.

“Sudahlah, aku lelah menjalani semua ini. Aku tahu kebodohanku ini tak akan membuahkan hasil. Aku akan mengalah, aku tak ingin merasa sakit lagi. Jonghyun-ssi, lebih baik kita cukup sampai disini saja, aku sudah tak sanggup lagi jika harus meneruskannya. Mulai sekarang, kita jalani kehidupan kita masing-masing. Aku tak akan memaksamu untuk mecintaiku lagi, kau bebas sekarang.”ucapan Jihwa membuat Jonghyun terkejut.

“Apa maksudmu Jihwa-ah?”

“Semua ini sudah sangat jelas Jonghyun-ssi. Aku dan kau mulai sekarang sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Kau bebas memilih jalanmu dan begitupula denganku. Gomawo, karena selama ini kau selalu bersamaku, walau akhirnya kau pula yang menyakitiku. Ini keputusanku, aku harap kau menghargainya.”

“Tapi  Jihwa, aku sudah terlanjur berjanji pada Rara kalau aku…”

“Lupakanlah janjimu itu. Anggap saja kau tak pernah berjanji apapun dengannya. Mianhae, kali ini aku harus pergi. Aku benar-benar tak sanggup lagi menjalani ini semua. Jonghyun-ssi selamat tinggal…”usai berkata Jihwa melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jonghyun dengan air mata yang membasahi pipinya.

“Jihwa, tunggu… Jebal kau jangan pergi.”Jonghyun menahan tangannya.

“Bisakah kau melepaskan tanganku? Aku harus pergi Jonghyun-ssi. Kumohon jangan menahanku lagi, ini malah akan membuatku semakin terpuruk. Jebal, biarkan aku pergi.”pintanya.

Perlahan tangan Jonghyun melonggarkan cengkramannya. Seiring itu pula Jihwa melangkahkan kakinya menjauhi Jonghyun. Jonghyun yang melihat itu hanya bisa diam mematung, matanya tetap terarah pada Jihwa sampai bayangan yeoja itu hilang dari pandangannya. Terlihat dari raut wajah Jonghyun ada sebuah penyesalan.

“Jihwa… Jebal jangan pergi….”ujar Jonghyun lirih.

-TBC-

Uwaaaah, sepertinya cerita semakin menggaje. Aduh mian ya chingudeul kalau ceritanya jadi kayak gini. Tapi tetep, RCL ya. Kritik dan saran dari kalian akan sangat membatu. Gomawo ^^

Advertisements

One thought on “[FREELANCE] Love Is – Chapter 2

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s