[FREELANCE] Love Is – Chapter 4 End

Love Is... Chapter3 dan 4

Title                     : Love Is… (Chapter 4 –END-)

Author                : EShyun

Genre                  : Friendship, Romance, Sad

Length                 : Chaptered

Rating                 : PG – 15

Main cast            :

  • ·         Kim Jonghyun
  • ·         Kang Jihwa
  • ·         Lee Donghae

Other cast           : *temukan sendiri, hehe

Cover                  :  allthingsiwannapost.wordpress.com

 

 

“Ne, aku akan menikah Jonghyun-ssi.”jawabnya yang berhasil membuat Jonghyun semakin terpaku. “Kebetulan sekali kau ada disini, ini untukmu. Semalam aku lupa memberikannya padamu.”lanjutnya sambil menyodorkan sebuah undangan.

“Go..gomawo.”hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya, sembari mengambil undangan itu.

“Ah, mian Jonghyun-ssi sepertinya kami harus pergi. Masih ada hal lain yang harus kami urus. Aku harap kau bisa datang.”pamit Donghae.

“Ne, aku usahakan.”jawabnya sambil melihat kepergian mereka berdua.

Waktu seakan berhenti, fikirannya masih tak bisa mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Matanya melihat ke arah undangan namun dengan tatapan kosong. Kenyataan yang terlalu menyakitkan baginya.

Di penginapan ia terus berfikir, mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang menimpanya. Ia berusaha mengumpulkan semua kekuatannya dan akhirnya memutuskan untuk menemui Jihwa. Saat ini ia telah berada di depan rumah Jihwa, setelah memencet bel beberapa kali akhirnya orang yang ia cari membukakan pintu.

“Kau? Ada perlu apa lagi kesini? Bukannya kau sudah tau bahwa aku akan segera menikah, jadi sudah tak ada harapan lagi untuk kita bersama.”

“Tapi… aku mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu Kang Jihwa. Memang mungkin ini sudah terlambat, aku yang salah.”

“Kau tahu bahwa kau sudah terlambat, tapi mengapa kau masih disini? Tak ada alasan lagi untuk aku kembali padamu. Sekarang aku sudah bahagia, aku sudah nyaman bersamanya dan yang paling penting aku… aku sudah melupakanmu.”ujarnya.

“Kau melupakanku? Kau bohong Jihwa-ah. Aku tahu kau itu seperti apa dan aku yakin hingga saat ini kau masih memiliki rasa itu untukku.”

“Apa yang kau tahu dariku itu juga tak akan mengubah semuanya Jonghyun-ssi. Sekarang pergilah. Tak ada gunanya lagi kau berada disini, sampai kapanpun kau memohon itu tak akan mengubah semuanya.”dengan berat hati ia berkata.

“Kumohon, beri aku kesempatan lagi. Aku berjanji kali ini tak akan menyia-nyiakanmu lagi aku berjanji akan menjadi yang terbaik untukmu. Aku berjanji…”

“Simpan saja janjimu Jonghyun-ssi, itu tetap tak akan mengubah semuanya. Pergilah, biarkan aku menjalani kehidupanku saat ini, dan begitu pula denganmu. Sekarang semua sudah jelas, tak ada yang harus dibicarakan lagi, aku akan masuk.”pamitnya.

“Tunggu…”Jonghyun menahan tangannya.

“Lepaskan, semua sudah jelas. Jadi berhenti menahanku seperti ini.”ia berkata dengan mata berkaca-kaca.

Melihat ekspresi Jihwa, perlahan ia melepaskan tangannya dan membiarkannya masuk. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Perasaannya bercampur aduk, dia sendiri tak bisa menggambarkan seperti apa yang ia rasakan saat ini.

Sementara itu, di dalam Jihwa menangis menumpahkan segala emosinya. Bertemu dengannya lagi hanya membuatnya mengingat masa lalu yang selama ini sudah ia coba untuk lupakan. Saat ini kenangan itu bermain-main di fikirannya seakan enggan untuk enyah dari sana. Perasaannya tak bisa berbohong, jauh di dalam hatinya ia masih sangat mencintai namja itu.

Sejak kejadian itu, Jonghyun hanya berdiam diri di penginapannya, liburan yang seharusnya menyenangkan malah membuatnya mengalami kenyataan pahit. Seberapapun dia berusaha untuk melupakannya namun hati dan fikirannya tak bisa melakukan itu.

Tak terasa hari ini adalah hari pernikahan Jihwa, karena tak mau mengambil resiko Jonghyun memutuskan untuk kembali ke Seoul dan mencoba mulai melupakannya disana. Pagi-pagi sekali sebelum dia pergi ke airport, ia menyempatkan diri untuk singgah sebentar dirumah Jihwa. Dengan ragu ia menyelipkan secarik surat di depan pintu.

“Selamat tinggal Jihwa-ah… Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, berbahagialah bersamanya.”ucapnya lirih lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Ketika Jihwa hendak keluar rumah, tak sengaja matanya melihat sesuatu. Perasaannya tak enak, lalu dengan rasa penasaran ia memungut surat itu lalu membacanya.

“Kang Jihwa-ah.. Mianhae, aku tak bisa datang di hari bahagiamu ini. Aku masih tak bisa menerima kenyataan pahit ini bahwa yeoja yang aku cintai harus menikah dengan namja lain. aku sadar ini semua terjadi karenaku, aku memang pantas mendapatkan ini. Tapi… hatiku tak bisa dibohongi, aku mencintaimu Jihwa-ah.

Kebodohanku karena saat itu membiarkanmu pergi dan sedikitpun tak mencegahmu, saat itu aku belum menyadari perasaan ini. Tapi setelah kepergianmu akupun sadar, bahwa aku membutuhkanmu. Aku membutuhkan kasih sayangmu, perhatianmu dan segalanya darimu. Ini memang salahku. Aku tak pantas untukmu, aku hanya bisa menyakitimu, aku namja bodoh Jihwa-ah…..

Hanya saja aku mempunyai sebuah permintaan, aku ingin kau memaafkan segala kebodohanku, memaafkanku yang tak bisa menjagamu dan telah menyia-nyiakanmu saat itu. Mianhae Jihwa, jeongmal mianhae…

Pagi ini aku akan kembali ke Seoul. Aku harap kau selalu bahagia, karena bagiku bahagiamu adalah bahagiaku juga. Aku berjanji setelah ini tak akan mengganggu dan mengusik kehidupanmu lagi. Selamat tinggal Kang Jihwa… Saranghaeyo…”

 

-Kim Jonghyun-

 

Airmatanya jatuh mengalir, diremasnya surat itu sembari meletakkannya di atas dadanya. Matanya perlahan tertutup seakan mengingat kembali kenangannya dulu. Sebenarnya hatinya tak tega membiarkan Jonghyun seperti itu, tapi disisi lain ia juga tak ingin disakiti lagi olehnya. Ia mencoba untuk memantapkan hatinya agar teguh pada pendirian. Di buangnya bayangan namja itu jauh-jauh.

“Ayo Jihwa, kau pasti bisa! Ingatlah hanya dalam hitungan jam kau akan resmi menjadi istri Donghae oppa. Kau jangan kacaukan ini semua Jihwa..”ucapnya mantap.

Dentingan piano terdengar menggema keseluruh ruangan. Jihwa melangkah perlahan menuruni anak tangga, balutan gaun putih yang dihiasi manik-manik berkilauan membuatnya menjadi sangat anggun. Semua pasang mata melihat kearahnya. Senyuman terukir diwajahnya, namun ada sesuatu yang ia sembunyikan. Dan Donghae menyadari hal itu.

“Jihwa-ah, gwaenchanayo?”tanyanya setengah berbisik.

“Ne, gwaenchanayo oppa. Hmm aku hanya sedikit gugup.”

“Gugup? Ani, tapi dari yang aku lihat kau sangat gelisah. Apa ada sesuatu?”

“Ani oppa, aku memang hanya sedikit gugup.”ujarnya berusaha meyakinkan. “Kau tak usah khawatir.”

“Ne, baiklah.”

Kegelisahan Jihwa semakin tampak jelas saat pernikahan akan dimulai. Berkali-kali matanya melihat kearah jam yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Namja yang berdiri disampingnya, kembali menyadari hal itu. ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.

“Chagiya…. katakanlah apa yang terjadi padamu? Aku memperhatikanmu dari tadi, kau tampak sangat gelisah.”tanyanya namun tak ada jawaban darinya. Ia melihat mata yeoja itu berkaca-kaca seakan menahan tangisnya. “Hey, jawab aku. Apa kau sakit chagi?”kembali ia tak mendapatkan jawaban. “Bicaralah Kang Jihwa, kenapa kau malah menangis? Kau jangan membuatku takut seperti ini..”ia menjadi panik melihat yeojanya seperti itu.

“Mianhae….”tiba-tiba Jihwa membuka suaranya. “Mianhae oppa, aku… huh.. aku tak bisa melanjutkan ini semua.”ujarnya yang sontak membuat Donghae terkejut.

“Jihwa, apa maksudmu….?”

“Aku benar-benar tak bisa oppa, mianhae. Aku harus pergi sekarang..”ujarnya sambil melangkah pergi namun ditahan oleh Donghae.

“Apa maksudmu Jihwa-ah? Kita sudah sejauh ini, tapi kau….?”ucapan terhenti.

“Mianhae oppa, tak ada waktu lagi untuk menjelaskan ini semua. Aku harap kau bisa mengerti, lepaskan aku oppa. Kumohon biarkan aku pergi aku tak ingin kehilangannya lagi..”pintanya.

“Kehilangan siapa?”tanyanya lalu seketika itu ia teringat sesuatu. “Namja itu… Jonghyun maksudmu? Sudah kuduga ada sesuatu diantara kalian”perlahan genggamannya melemah.

“Jadi kau tahu oppa?”

“Tentu saja, dari cara kalian bertatapan aku tahu semuanya. Kita sudah lama bersama Jihwa-ah, apa yang tak aku ketahui darimu?”

“Mianhae oppa, aku tahu ini salah. Tapi aku benar-benar tak bisa….”

“Pergilah Jihwa…”ujarnya tiba-tiba. “Tapi kau jangan pergi sendirian, aku yang akan mengantarkanmu.”lanjutnya.

“Oppa…?”ia terdiam mencoba mencerna perkataan Donghae.

“Ya, kenapa kau malah diam? Kaja.”merekapun berjalan keluar.

Semua yang hadir, melihat kepergian mereka dengan tatapan bingung. Acara akan segera dimulai, tapi mereka malah pergi dari tempat itu.

“Ya, bilang ke umma acara ini batal! Sekarang aku tak ada waktu untuk menjelaskannya, aku harus pergi ke suatu tempat.”ujar Donghae pada seseorang yang berada di dekat mobil pernikahan mereka.

“Tapi tuan…”

“Sudahlah, lakukan saja apa yang aku katakan. Aku harus pergi sekarang.”ia membuka pintu dan menyuruh Jihwa masuk lalu ia segera berlari menuju kursi kemudi.

“Jihwa-ah, kemana harusnya kita pergi?”

“Airport. Palli oppa…”

“Ne? Itukan jauh kali dari sini? Aku tak yakin kita bisa sampai….”

“Palli oppa, waktu kita tak banyak”

“Ne…”jawabnya lalu menancapkan gas.

Sepanjang jalan kegelisahan menghinggapi keduanya, terutama Jihwa. Berkali-kali ia melirik jam yang tertera di layar handphonenya. Beberapa saat lagi mereka akan tiba di airport, namun tiba-tiba Donghae menurunkan kecepatan dan akhirnya menghentikan mobilnya.

“Oppa, waeyo? Kenapa kau berhenti?”tanyanya panik.

“Lihatlah Jihwa, semua mobil di depan berhenti, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di depan sana.”

“Aish! Eotte? Jika seperti ini kita akan terlambat oppa, padahal airport sudah tak jauh lagi.”ia semakin panik.

“Molla, aku juga tak tahu.”jawabnya bingung. “Hmm, begini saja aku akan keluar untuk melihat apa yang terjadi disana, dan kau tunggu disini sebentar.”ujarnya lalu hendak turun.

“Chankamanyo, aku ikut oppa.”tahannya.

“Ne? Dengan gaun itu? Kau bercanda? Semua orang akan melihat aneh kearahmu.”

“Aku tak peduli, ayo oppa.”ujarnya lalu turun, Donghae yang melihat itu hanya bisa menurut saja.

Mereka berdua jalan tergesa-gesa mencoba mencari tahu penyebab kemacetan itu. semua pasang mata memandang heran ke arah keduanya, namun itu tak digubris oleh mereka. Ternyata di depan sana telah terjadi sebuah kecelakaan, polisi masih mengevakuasi tapi tentu saja itu membutuhkan waktu yang tak sebentar.

“Oppa, aku tak bisa diam menunggu seperti ini.”

“Jadi mau gimana lagi? Kita tak bisa berbuat apa-apa.”

“Kau tunggu disini, aku yang akan pergi kesana.”

“Maksudmu?”

“Airport sudah tak jauh lagi oppa, aku rasa dengan berlari itu tak terlalu membutuhkan waktu lama daripada aku menunggu dan tak tahu sampai kapan.”

“Neo? Dengan gaun dan high heels?”tanyanya tak percaya.

“Ne, hanya ini caranya supaya aku tak terlambat. Tapi…”ia melepas high heelsnya lalu menyodorkan itu pada Donghae. “Lebih nyaman seperti ini, aku titip ini ya oppa. Jika kau mau, kau bisa menyusulku nanti. Aku pergi oppa.”ujarnya lalu berlari.

“Ya Kang Jihwa.”jerit Donghae berusaha menahannya, namun hal itu tak berhasil, ia kemudian menghela nafas. “Jika memang itu yang terbaik untukmu… pergilah Kang Jihwa.”ujranya lirih.

Jihwa berlari dan terus berlari. Ia tak peduli berlari dengan tanpa menggunkan alas kaki. Tak jarang pula ia terjatuh karena gaunnya itu, namun kembali ia tak memperdulikannya. Yang ada di dalam fikirannya saat ini hanyalah Jonghyun. Apapun itu, kali ini ia tak mau kehilangan namja yang sangat ia cintai.

Airport sudah di depan mata, ia berhenti sejenak mengatur nafas lalu kembali berlari memasukinya. Matanya melihat sekeliling, mencoba mencari sosok namja itu. Dilihatnya jadwal penerbangan dan hanya ada satu penerbangan menuju Seoul pagi ini jam 10.15. Ia malihat handphone yang sedari tadi ia genggam, 10.55. Da terlambat.

Jihwa berjalan perlahan menuju kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Tubuhnya jatuh terduduk dan seketika itu pula air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia mengangis, menyesal. Ia membuka handphone lalu menghubungi sebuah nomor.

“Aku terlambat oppa, dia sudah pergi.”ujarnya pada seseorang di seberang sana lalu mematikan sambungan itu.

Tak lama terlihat seorang namja berlari menghampiri Jihwa, ia lalu duduk disampingnya dan memeluknya erat.

“Uljimayo… ada aku disini.”ia berusaha menenangkannya.

“Aku kehilangan dia oppa, lagi…”

“Tidak Jihwa, kau tak kehilangannya. Kau masih bisa menyusulnya kesana. Sstt, kumohon berhentilah menangis.”

“Tapi… aku bodoh oppa. Kenapa saat itu aku tak mencegahnya? Kenapa aku tidak…”

“Hey, tenanglah.”Donghae memotong ucapannya. “Tenangkan dirimu, emosi tak akan menyelesaikan masalah. Sekarang lebih baik kita pulang, aku rasa kau butuh istirahat. Nanti aku kan mencari jalan keluarnya. Jebal… jangan menangis, Jihwa-ah.”ia menyeka air mata Jihwa lalu membantunya berdiri. “Kaja…”

Baru beberapa langkah, ketika melewati sebuah layar TV sebuah berita mengejutkan terdengar oleh mereka.

“Sebuah pesawat menuju Seoul yang berangkat jam 10.15 tadi, mengalami kecelakaan. Tiba-tiba pihak airport kehilangan komunikasi dengan mereka. Diperkirakan pesawat mengalami kerusakan mesin dan terjatuh. Hingga saat ini Tim SAR masih mencari keberadaannya. Sementara hanya ini yang kami dapat beritahukan dan ini daftar nama penumpang pesawat tersebut…..”

 

Jihwa berjalan mendekati layar itu, dilihatnya dengan seksama nama-nama yang tertera disana. Tubuhnya lemas saat melihat nama Kim Jonghyun berada dalam daftar tersebut. Jika saja Donghae tak cepat menahan tubuhnya, mungkin saja saat ini yeoja itu telah terduduk lemah.

“Oppa… Andwae!! Ini tidak mungkin, aku tak percaya oppa. Jonghyun… dia tak mungkin…”tangisnya kembali pecah.

“Sstt, tenanglah…”Donghae mendekap tubuh yeoja itu. “Aku juga tak percaya, kau jangan berfikiran negatif dulu bisa saja itu bukanlah Jonghyunmu.”

“Ani oppa, penerbangan ke Seoul hanya ada satu dan itu… Aku.. aku…”ia tak melanjutkan ucapannya, hanya tangisan yang keluar dari bibirnya.

“Uljimayo Jihwa-ah.. kau tak boleh seperti ini.”ia mempererat pelukannya. “Dengarkan aku, tenangkan dirimu kau jangan seperti ini. Aku tahu ini sulit untukmu bahkan untukku juga.. tapi.. mau gimana lagi kita tak bisa berbuat apa-apa.”

Jihwa terdiam mencoba mengatur emosinya. Airmatanya tak dapat ia tahan, jatuh begitu saja.

“Jihwa-ah, sudahlah. Aku sedih jika melihatmu seperti ini. Ini bukanlah kesalahanmu, ini juga bukan karenamu. Ini adalah takdir Jihwa-ah, siapapun tak akan bisa lari dari takdir-NYA.”

“Tapi… aku masih sangat mencintainya oppa. Aku… tak tahu harus bagaimana aku tak menyangka akhirnya akan seperti ini.” Ujarnya masih dengan terisak, Donghae yang melihat itu hanya bisa diam. Suasapun menjadi hening.

“Oppa.. Gomawo..”ujar Jihwa tiba-tiba.

“Ne?”Donghae terkejut. “Untuk apa Jihwa-ah?”

“Gomawo.. karena oppa masih peduli padaku, padahal aku sudah mengacaukan semuanya. Mengacaukan pernikahan kita yang sudah di depan mata.. hanya karena aku…”

“Sstt… kau tak perlu memikirkan hal itu. Aku akn bahagia jika bisa melihatmu bahagia walaupun kebahagiaanmu itu bukanlah bersamaku. Kau tahukan cinta itu tak harus saling memiliki? Jadi, apapun itu kau harus tetap tersenyum ne?”

Jihwa hanya menganggukan kepalanya sebagai jawabannya. Walaupun dalam hati ia tak mungkin bisa tersenyum jika keadaan menjadi seperti ini.

“Jihwa-ah, kita pulang saja ya. Aku rasa keluarga pasti mengkhawatirkan kita.”

“Tapi oppa…”

“Untuk kali ini menurutlah. Tak ada gunanya juga kita berdiam disini. Aku akan menghubungi pihak airport dan meminta mereka untuk segera mengirim kabar saat semuanya sudah jelas. Dan aku rasa kau juga butuh istirahat.”

“Baiklah oppa..”ujarnya akhirnya.

Donghae membantu Jihwa berjalan dan merekapun meninggalkan tempat itu. Namun saat berada dekat pintu keluar, langkah Jihwa kembali terhenti.

“Waeyo? Kenapa kau berhenti Jihwa-ah?”tanya Donghae bingung.

“Baek.. Jonghyun….”ucapnya lirih.

“Ne?”Donghae bingung.

“Oppa, itu.. dia Jonghyun.”seketika itu ia berlari menuju orang itu. “Jonghyun…”jeritnya.

Seorang namja yang berdiri membelakanginya langsung membalikkan badan saat mendengar seseorang memanggil namanya. Ketika ia melihat pemilik suara itu, bertambahlan keterkejutannya. Dilihatnya Jihwa tengah berlari mendekat masih dengan balutan gaun pengantin. Setelah sampai dihadapnnya dengan sekali gerakan yeoja itu memeluknya erat. Seakan enggan untuk melepaskannya.

“Jonghyun… oppa. Kau masih hidup?”tanyanya disela-selan pelukan.

“Ne, tentu saja. Hey, apa yang terjadi? mengapa tiba-tiba kau berada disini? Bukannya ini adalah hari pernikahanmu? Kau…”ucapannya terpotong.

“Aku membatalkannya.”

“Mwo? Kau?”ia terkejut.

“Ne oppa, aku membatalkannya. Karena.. karena aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku.. aku masih mencintaimu oppa.”ujarnya terisak. “Aku.. aku sengaja menyusulmu kesini, tapi yang aku dapat malah kabar bahwa pesawatmu mengalami kecelakaan. Aku takut oppa.. takut kehilanganmu..”

“Hey kenapa kau menangis?”Jonghyun melepas pelukannya, ditatapnya yeoja itu lalu tangannya terangkat menghapus airmatanya. “Aku juga mencintaimu Jihwa-ah.. sangat mencintaimu..”peluknya kemudian. “Tenanglah aku disini sekarang. Aku juga tak tahu pesawatnya akan mengalami kecelakaan. Entah kenapa saat aku hendak masuk tiketku hilang, akhirnya aku membatalkannya.”jelasnya.

“Untunglah, kalau tidak aku pasti sudah kehilanganmu.. untuk selamanya.”ujarnya tertunduk.

“Lihatlah aku disini sekarang, dan aku tak kenapa-kenapa. Jadi berhentilah menangis”

“Ne oppa, tapi kau harus berjanji padaku kau tak akan meninggalkanku lagi.”pintanya.

“Apapun yang kau pinta, pasti akan aku lakukan. Hanya saja… bagaimana dengan tunanganmu itu?”

“Gwaenchana.”tiba-tiba suara seseorang mengagetkannya.

“Donghae-ssi? Kau disini juga?”Jonghyun terkejut.

“Ne, dan aku yang mengantarkannya kesini. Kau tak perlu terkejut, aku sudah memutuskan untuk melepasnya. Aku tahu, yang ia cintai adalah kau bukan aku.”ia berjalan mendekat lalu mengambil tangan kedua orang itu dan menyatukannya. “Bahagiakan dia Jonghyun-ssi. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua.”ujarnya tersenyum.

“Benarkah…?”

“Ne, Jihwa mungkin bukanlah jodohku. Huh, berat memang tapi inilah jalannya. Berbahagialah.”

“Gomawo oppa.”Jihwa memelukanya tiba-tiba.

“Ya.. ya.. Kang Jihwa. apa yang kau lakukan eoh? Jika seperti ini bagaimana bisa aku melepasmu. Jonghyun-ssi, lihatlah kelakukan yeojamu ini.”ujarnya bercanda.

“Oppa.. biarkan aku seperti ini sebentar saja… Jonghyun oppa…”panggilnya seakan meminta izin padanya.

“Ne, lakukanlah. “jawabnya lalu tersenyum.

“Gomawo oppa..”ujar Jihwa pada Donghae ketika ia telah melepas pelukannya.

“Kau tak perlu berterima kasih padaku karena inilah takdirmu.”ucapnya lalu melihat kearah Jonghyun. “Hmm, apa aku boleh mencium kening yeojamu ini? Eits, tapi kau jangan salah sangka dulu. Anggap saja ini sebagai salam perpisahan.”tanyanya dan dijawab dengan anggukan oleh Jonghyun. “Gomawo.”ujarnya lalu mengecup kening Jihwa. “Selamat tinggal Jihwa-ah”setetes airmata jatuh membasahi pipinya.

“Kau menangis oppa?”

“Aniya.”dengan cepat ia menghapus airmatanya. “Hahaha, aku hanya sedikit terbawa suasana, kau tak perlu khawatir. Pergilah Jihwa, dia sudah menunggumu.”

“Ne oppa.”ujarnya lalu mendekati Jonghyun.

“Gomawo Donghae-ssi. Kau mau memberiku kesempatan untuk bersamanya. Aku berjanji kali ini tak akan menyia-nyiakannya lagi. Aku akan membahagiakannya dan aku tak akan pernah mengulangi kebodohanku dulu.”ujarnya lalu menatap Jihwa. “Percayalah padaku.”ujarnya lalu mengecup kening Jihwa.

Donghae yang melihat hal itu tersenyum. Baginya dengan hanya melihat orang yang ia cintai bahagaia itu sudah lebih dari cukup untuknya.

“Saranghae Kang Jihwa.”

“Nado oppa.”Jihwa memeluknya.

“Chankaman…”Jonghyun menghindari pelukan Jihwa. Ia melirik yeoja itu dan tentu saja yang dilirik hanya bisa terdiam bingung. “Donghae-ssi, lihatlah yeoja ini. Hmm… apa kau berfikiran sama denganku?”tanyanya sembari mengedipkan sebelah mata.

“Hahaha, tentu saja. aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.”jawabnya lalu berjalan mendekat kemudian mengambil koper Jonghyun.

“Hey.. ada apa ini… kyaaaa! Oppa apa yang kau lakukan?”Jihwa kaget saat dengan tiba-tiba Jonghyun mengangkat tubuhnya. “Ya.. turunkan aku.”pintanya.

“Tidak akan.”jawabnya. Donghae-ssi kaja.”serunya lalu merekapun melangkah pergi.

“Ya.. ya! kalian mau membawaku kemana huh? Turunkan aku… semua orang melihat kesini.”

“Ya! diamlah. Kau mau jatuh eoh? Biarkan saja mereka melihat kita, toh aku tak peduli.”

“Tapi kan…”

“Ya! lihatlah gaunmu sudah sangat kotor dan kakimu, kau bahkan tak mengenakan alas kaki. Masih untung aku mau menggendongmu seperti ini. Kau jangan bergerak-gerak terus, apa kau tak tahu eoh tubuhmu ini sangat berat.”ujarnya menggoda.

“Ya! Kim Jonghyun. Apa kau bilang?”pekiknya tepat di telinga Jonghyun.

“Omo! Kau mau membuat calon suamimu ini tuli huh? Diamlah, jika kau ingin selamat.”ia mengeluarkan smirk-nya.

“Ya! apa maksudmu eoh?”

“Hmm, nanti kau juga akan tahu.”

“Ya! Kim Jonghyun… Ya!!”

-EPILOG-

 

5 tahun kemudian…

Kini Jonghyun dan Jihwa telah resmi menjadi sepasang suami isteri dan mereka telah dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik. Untuk mengenang Rara, maka mereka memberikan nama itu pada anaknya, Kim Rara.

Hari ini peringatan kematian Rara, Jonghyun dan Jihwa mengajak Rara kecil untuk menjenguknya.

“Rara-ah… Kau lihat sekarang aku telah menepati janjiku itu, dan kau pasti tahu ini aku lakukan bukan sekedar untuk memenuhi permintaamu tapi juga karena aku mencintainya, mencintai Kang Jihwa sahabatmu. Gomawo Rara, kau telah memberikan seorang yeoja yang baik untukku, ternyata dibalik semua kejadian ini aku bisa memetik sebuah hikmah yang sangat berarti bagiku.”Jonghyun mengelus nisan Rara. “Dan ini anakku, Kim Rara. Aku sengaja memberinya nama yang sama denganmu karena aku ingin kelak ia akan menjadi seorang yeoja sepertimu.”ujarnya lagi. “Rara-ah, sapalah Rara ajumma.. dia pasti akan senang bisa melihatmu.”ujarnya pada anaknya.

“Ne appa.. Annyeong Rara Ajumma.. Naneun Rara imnida, senang bisa mengenalmu Rara ajumma.”ujar yeoja kecil itu.

“Lihatlah, dia sekarang sudah bisa berbicara, lucukan? Sama sepertimu dan dia juga sangat cantik.”ujar Jonghyun. “Chagi, kau tak ingin mengatakan sesuatu eoh?”kali ini Jonghyun bertanya pada Jihwa.

“Tentu saja chagiya..”jawabnya. “Rara-ah, sudah lama ya aku tak mengunjungimu, mianhe… aku sebenarnya tak bermaksud untuk meninggalkanmu, tapi karena suatu hal aku harus pergi saat itu. Tapi kau lihatkan sekarang aku telah berada disini dan bersama dengan namja yang aku cintai, Kim Jonghyun. Gomawo, karena kau telah memberikan kesempatan bisa bersamanya dan telah bahagia dengannya. Gomawo Hwang Rara, sampai kapanpun aku tak akan melupakanmu dan semua kebaikanmu padaku. Kau baik-baik disana ya, aku yakin sekarang kau pasti sedang tersenyum melihat kami, karena aku bisa merasakan hal itu. Gomawo…”

“Hmm, sepertinya kami harus berpamitan sekarang. Kau tidak apa-apakan kami tinggal?? Tapi tenang saja kami akan mengunjungimu lagi.”ujar Jonghyun pamit. “Kaja kita pulang, Rara-ah ayo bilang selamat tinggal pada Rara ajumma.”

“Ne… Rara Ajumma, baik-baik disana ya. Rara janji bakal terus datang kesini, biar ajumma nggak kesepian.”ujarnya.

“Gomawo Rara-ah, appa yakin sekarang Rara ajumma sedang tersenyum melihatmu.”

“Jeongmal? Dimana appa??”

“Di atas sana.”ujar Jihwa sembari menengadahkan kepala.

“Disana umma?”yeoja kecil itu mengikuti Jihwa dan menunjuk ke atas.

“Ne, di surga tepatnya..”jawab Jihwa lalu tersenyum.

Mereka bertiga lalu meninggalkan tempat itu dengan senyuman yang terukir indah.

“Love is a pure feeling. Love can’t be forced, but love can make people who are forced to love, can love be genuine. So, learn to love someone with a sincere, because sincerity will make it all ends happily. That is love…”

_END____

Akhirnya kelar juga nih FF 😀 gimana gimana???? Gaje nggak? Atau rada gantung ceritanya? Mian ya kalau gaje dan kalau kebanyakan typo T.T

Tapi buat chingudeul yang udah read jangan lupa coment yak..

Kamsahamnida *bow

Advertisements

2 thoughts on “[FREELANCE] Love Is – Chapter 4 End

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s