[FREELANCE] I Hate Love

Poster I Hate Love

 

Author  : YeminsGirlfriend | Twitter : @yeminslove_ | Cast : Wulan Lee [OC], Lee Donghae [Just Name] ^^ | Genre : Sad, Angst | Rating : General | Length : Ficlet, maybe. | Website : www.cutiebabo.wordpress.com

 

Ini sebelumnya pernah ku post diblogku sendiri. Maaf jikalau jelek—Happy Reading ^^

 

YeminsGirlfriend®

 

                Cinta? Apa itu cinta? Aku sama sekali tidak tahu apa arti cinta yang sebenarnya. Mungkinkah cinta itu adalah rasa saling menyukai antara dua insan manusia? Ataukah sebuah perasaan tulus mencintai seseorang walaupun ia tahu bahkan sangat tahu bahwa perasaannya tidak akan pernah terbalas? Apakah itu arti dari kata cinta? Apa arti cinta yang sebenarnya hanyalah sebuah perlakuan untuk menyakiti diri sendiri? Apa itu cinta? Sungguh, andai aku bisa. Aku tidak ingin mengenal apa yang namanya itu “Cinta”. Andai aku bisa mengulang waktu, akan ku hindari apa yang dimaksud dengan cinta. Cinta hanya membawa takdir yang menyakitkan untukku. Cinta jugalah yang dapat membuat hatiku hancur lebur dengan mudahnya. Cih.

                Aku benci yang namanya cinta. Sungguh, aku sangat membencinya. Bagaimana bisa cinta membuatku terjerat dan terjebak dalam kenangan masa lalu begitu lamanya? Hampir lima tahun, yah—hampir lima tahun aku berusaha untuk melupakan sosok tersebut. Tapi selalu tidak bisa. Dia selalu datang menghantui hari-hariku dan selalu datang untuk mengacaukan hidupku. Tapi—apakah aku sendiri yang begitu bodoh hingga tidak dapat melupakan dirinya? Oh, tidak—bukan aku yang bodoh. Tapi perasaan ini yang bodoh, kenapa ia seenaknya sendiri muncul didalam hidupku saat itu, membuat aku terjerumus ke dalamnya tanpa ampun. Cih, aku dan yang namanya cinta itu memang sangat-sangat bodoh. Yah—cinta itu sangat bodoh. Apa? Kalian tidak setuju dengan pendapatku? Terserah—aku sama sekali tidak peduli dengan omongan tidak penting dari mulut kalian. Ini hidupku dan jangan pernah sekalipun mengganggu hidupku ataupun menyangkal semua ucapan yang keluar dari mulutku.

                Kenapa? Kenapa cerita cinta yang indah hanya terdapat dalam sebuah drama-drama di televisi? Oh, Tuhan. Cerita tersebut sungguh menjijikan. Sudah ku bilang, aku sangat membenci yang namanya cinta. Aku sering kali membuang air mataku dengan sia-sia hanya karena hal yang disebut dengan cinta. Tapi, semua air mata yang ku jatuhkan sama sekali tidak ada harganya. Air mata yang ku jatuhkan untuk orang yang sangat ku cintai ternyata tidak berarti apa-apa, lihat? Dia tidak kembali lagi ke dalam lingkar hidupku, bukan? Percuma. Andai aku bisa, aku ingin menghilangkan rasa cinta dari muka bumi ini. Atau—aku ingin menjadikan semua orang yang jatuh cinta akan merasakan bahagia sampai akhir hidupnya. Tidak seperti ini. Banyak orang yang sakit hati hanya karena cinta. Tidak sedikit orang-orang yang sering kali ku temui bahkan sampai menjadi gila hanya karena yang namanya cinta. Bodoh? Mereka memang bodoh. Sama sepertiku.

                Aku menyesal telah merasakan apa yang namanya cinta. Kadang aku merindukan indahnya masa anak-anak yang masih sangat polos dan sama sekali tidak mengenal cinta. Mereka berbuat sesuka hatinya, tidak pernah merasakan yang namanya patah hati. Masih bisa tertawa ceria dengan bebas dan indahnya. Tidak perlu memikirkan bagaimana dunia menjadi kejam saat kita memasuki lingkaran itu. Tapi, aku juga tahu—bahkan sangat tahu, ini semua memang sudah dikehendaki. Semua orang berhak merasakan apa yang namanya cinta. Biar mereka dapat merasakan bagaimana lika-liku dunia percintaan. Entah itu keadaan suka ataupun duka. Hmm—begitukah? Entahlah, aku sendiri tidak percaya dengan kata-kata yang ku ucapkan. Terlalu munafik, maybe. Karena semua orang ingin merasakan bahagia saat mengenal cinta, bukan malah sebaliknya!

 

 

 

                Aku merogoh sebuah kertas berlapis plastik transparan dari tas cokelatku. Aku mulai membuka bungkus plastiknya dan mulai membaca tulisan-tulisan yang tertera disana. Sebuah senyuman tersungging dibibir tipisku, oh, bukan—bukan sebuah senyuman tulus. Tapi lebih tepat dikatakan sebagai sebuah seringaian. Haha. Aku mendapatkan kertas ini beberapa jam yang lalu, saat aku tidak sengaja bertemu dengan orang yang ku cintai. Dan—lebih menyakitkannya lagi, dia memberikanku sebuah undangan pernikahan dirinya lusa nanti. Oh, Tuhan—apa salahku sehingga semuanya harus menjadi begini?

 

Lee Donghae

&

Lee Hye Hyo

 

                Aku terkikik pelan saat membaca nama yang tertera dikertas undangan tersebut. Astaga? Ternyata dia menikah dengan—sahabatku saat di Sekolah Menengah Atas dulu? Ini benar-benar sebuah kejutan. Sebuah kejutan yang hampir membuatku terkena serangan jantung mendadak. “Brengsek!” Umpatku geram. Aku meremas kertas tersebut dengan sekuat tenagaku membuatnya tidak lagi terlihat berbentuk rapi. Entahlah—umpatanku ditujukan untuk siapa. Yang jelas kedua orang itu sudah membuat hidupku terlihat sangat hancur!

                “Salahku padamu apa, Lee Donghae? Salahku apa?” Aku bertanya lirih. Sungguh, hatiku sangat sakit mengingat semua kenangan tentang kami berdua. Aku mengeluarkan selembar photo yang sudah hampir rusak karena seringkali ku remas dan ku perbaiki lagi. Ini photoku bersama dengan Lee Donghae—coba lihat, kami sangat serasi bukan? Dia tertawa lebar dan merangkulku dengan kasih sayang. “Apa ini semua cuma pura-pura?” Aku kembali bertanya lirih. Yah—aku tahu, aku sangat tahu, cinta dan kasih yang Donghae berikan padaku dulu hanya sebuah pura-pura. Dia menjadikanku sebagai kekasihnya hanya faktor karena dia kasihan padaku. Sangat malang, bukan? Dan bodohnya aku tetap mengharapkan dia kembali. Bodoh. Bodoh. Sangat bodoh.

                Aku meremas kembali photo yang berada digenggamanku dan melemparnya secara sembarangan. Mataku terasa memanas seketika. Dadaku terasa sangat sesak. “Sakit! Sakit!” Aku menepuk-nepuk dadaku keras. Air mataku kembali mengalir dengan deras. Menganak sungai diwajahku. Sungguh, aku sangat terlihat sangat berantakan sekarang. Apartemen yang ku tinggali terlihat layaknya kapal pecah, semua barang-barang diapartemenku tidak tertata apik ditempatnya. Semua ini gara-gara Lee Donghae, yah—gara-gara pemuda itu yang membuatku hampir gila, atau mungkin sudah gila? Ya, aku gila, hahahaha.

                Aku beranjak dari tempat dudukku. Seringaian kecil terlihat sangat jelas tercetak diwajahku ketika aku melihat sebuah benda yang mungkin dapat menyelamatkanku sekarang. Yah, benda yang dapat menyelamatkanku dari rasa sakit hatiku karena hal bodoh yang bernama cinta. Cinta memang buta, hanya karena cinta, orang-orang yang akal pikirannya jernih dapat menjadi suram. Begitukah? Setidaknya itu yang terjadi padaku sekarang.

                Aku memungut benda kecil tersebut, bentuknya tidak teratur. Ada yang terlihat runcing dan ada yang terlihat rata dan rapi. Air mataku kembali mengalir deras ketika melihat pantulan wajahku dibenda tersebut. Aku terlihat sangat berantakan dan kacau. Aku memejamkan mataku, memantapkan hatiku untuk melakukan hal ini. “Sudah saatnya—maafkan aku, Lee Donghae. Saranghae, Jeongmal saranghae. Semoga kau bahagia bersamanya, ini adalah doa terakhirku untukmu. Sekali lagi, aku ingin kau terlihat bahagia. Maafkan selama ini aku merebut dan membiarkanmu berada dalam keadaan yang menyulitkanmu, yaitu memaksakan hidupmu untuk bersamaku, menjadi kekasihku. Maafkan aku, Lee Donghae, maafkan aku—dan sekarang, Selamat Tinggal.”

 

Aku terlahir untukmu, dan juga aku mati untukmu.

Begitulah aku mengekspresikan cintaku padamu, maafkan aku.

Aku memang bodoh,

Bodoh karena aku harus mencintaimu.

Bodoh karena aku tidak pernah bisa mencegah rasa ini. – Wulan Lee.

 

 

                Darah mengalir deras dari luka terbuka yang menganga lebar ditangan kanan gadis yang kini telah tergeletak tak berdaya dengan pakaian yang kini telah bersimbah darah. Pakaian yang putih bersih kini telah berubah warna menjadi merah pekat, merah darah, saat cairan kental tersebut mengenai pakaian yang tengah dipakainya dan juga benda yang kini masih dipegang olehnya, sebuah kepingan pecahan cermin.

 

                Damai. Wajah cantik dan putih bersih bak pualam itu kini terlihat sangat damai. Wajahnya menunjukkan ketenangan yang dapat membuat siapapun melihatnya juga dapat ikut merasakan ketenangan yang kini tengah dirasakan gadis itu. Beban yang lima tahun terakhir dipikulnya kini terasa menguap begitu saja seiring dengan jantungnya yang tidak berdetak lagi. Rohnya telah terpisah dari raganya. Tubuh itu—tampak seperti putri tidur dalam dongeng anak-anak, jikalau tidak ada yang melihat detak jantungnya dan darah yang bersimbah disekitarnya, tidak ada yang akan percaya jikalau tubuh itu sudah tidak bernyawa. Apa ini disebut cinta yang sangat tragis?

 .

—The End—

 .

♥Thank You Readers

_YeminsGirlfriend [YsG04]

 

Advertisements

2 thoughts on “[FREELANCE] I Hate Love

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s