[FREELANCE] Just Let Me Love You, Noona

justletmeloveyounoonacvr

Tittle : Just Let Me Love You, Noona

Author : Diani K (@diani3007)

Main Cast :

~ Kwon BoA

~ Lee Taemin (SHINee)

~Lee Jae Sik (OC’s) [anggap umurnya sekitar 30an]

~ Choi Jinri/Sulli (F(x))

Genre : Romance, Angst (mungkin?)

Rating : Teen

Length : Oneshot

Disclaimer : jujur, aku bikin ff ini karna dapet cast dari MV BoA – Disturbance, tapi kalo ceritanya terinspirasi dari film Thailand, mudah2an readers suka._.v Ceritanya emang aku ambil dari film, tapi bukan berarti aku plagiat yah. Cuma temanya doang yang mirip sama filmnya. Intinya, cerita ini PURE karya aku sendiri! penasaran ceritanya? #krikrikrik. Buat silent reader? Aduh, pliss banget! Aku masih butuh komentar, kritikan dan masukkan dari kalian buat ff aku selanjutnya, jadi… HARUS comment yah!!

 

Let’s Read!

 

~This is a little Story about a Love that Never Should Happened~

 

>>><<< 

     Gemerlap cahaya lampu panggung menyinari seorang yeoja yang sedang menggerakkan badannya begitu lincah diiringi suara musik dengan suaranya yang begitu merdu. Sesekali dia tersenyum pada para penonton yang menyorakinya begitu histeris.

“Kamsahamnida, saranghaeyo!” ucap yeoja itu seraya melambaikan tangan pada fans setianya.

>>><<< 

     Yeoja itu mendudukkan pantatnya di kursi sofa ruangannya dengan kasar. Sesekali dia memijati penggungnya yang terasa begitu pegal. Dia meraik segelas air mineral yang berada di atas meja lalu meneguknya sampai habis. Nafasnya terengah – engah. Dari luar, dia mendengar suara beberapa orang namja, dan yang ia yakini salah satunya adalah security.

“Maaf nak, anda dilarang masuk! Ini ruangan pribadi nona BoA! Tidak boleh ada sembarang orang masuk!”

BRAKK

Beberapa saar setelah suara itu, pintu ruangan pun terbuka lebar. Yeoja itu pun menolahkan kepalanya bersamaan dengan suara pintu. Terpampanglah seorang namja berseragam sekolah dengan wajah sumringah menatapnya.

“Ya…” yeoja itu menggantungkan ucapannya lalu bangkir dari duduknya.

“Ah… omo… bob…bebb…b..bb..BOA NOONA!!!” namja berseragam sekolah itu berteriak histeris sebelum akhirnya memeluk erat yeoja yang bernama BoA itu.

“Ya! lepaskan aku! Ya!” bentak BoA.

Para petugas yang mendengar suara BoA segera masuk dan perlahan pelukan namja sekolahan itu melonggar karna namja itu sudah diseret oleh para petugas. Anehnya, namja itu justru tersenyum sambil melambaikan tangannya pada BoA.

“Cih! Menyebalkan!”

>>><<< 

     Taemin duduk di bangkunya sambil menggumam lagu – lagu BoA yang berasal dari headsetnya. Seorang yeoja berambut panjang dan berponi menghampirinya.

BAKK

Yeoja itu memukul meja Taemin. Taemin mendongak, dia hanya mencibir lalu kembali asyik menyanyikan lagu – lagu BoA.

“Ya, Lee Taemin-ssi!”

“Mwo?” Taemin membalas ucapan yeoja itu tanpa menatapnya.

“Apa maksud semua ini?” yeoja itu menaruh sebuah koran terbaru.

Tamin meraih koran itu. Dia menatap yeoja itu sekilas lalu mulai membuka halaman demi halaman koran tersebut. Dia terhenti di satu halaman. Matanya menatap lekat berita tentang BoA tersebut, artis yeoja idamannya.

“Kau melihatnya? Apa maksudnya itu semua?”

Taemin tertawa mendengar pertanyaan yeoja itu.

“Kau tidak bisa baca? Ini bertuliskan ‘seorang fanboy bernama Lee Taemin menerobos masuk  sembarangan ke backstage dan memeluk BoA secara tiba – tiba.’ Keren bukan?” ucap Taemin merasa bangga.

“Mwo? Neo Michoseo? Kau tidak malu, huh? Namamu terpampang jelas di situ!”

“Kenapa harus malu? Itu tandanya aku adalah fanboy yang pemberani!”

“Pemberani?”

“Nde! Jarang – jarang ada fanboy yang berani menerobos backstage!”

“Kau pikir perbuatan seperti itu pantas untuk dibanggakan? Aku sebagai yeojaching–“

“Kita sudah selesai!” potong Taemin dengan cepat.

“Taemin-ah…”

“Pergilah Choi Jinri, jangan ganggu aku.”

Beberapa detik kemudian, mata yeoja yang bernama Jinri itu mulai basah karna digenangi air mata.

“Arrasseo, aku pergi.”

>>><<< 

     BoA membaringkan tubuhnya keras ke lantai ruang dancenya. Nafasnya terengah – engah karna baru saja berlatih dance. Seketika dia merasakan sesuatu yang dingin di keningnya. Dia pun mendongak, ternyata ada seorang namja -berusia sekitar tiga puluh- yang sedang berjongkok sambil menempelkan minuman kaleng dingin di keningnya.

“Oppa!” ucap BoA gembira.

“Annyeong!” balas namja yang dia panggil oppa itu.

BoA pun bangkit lalu duduk. Namja itu pun juga duduk berhadapan dengan BoA. BoA terus memperhatikan namja itu.

“Oppa!”

“Wae?”

“Lee Jae Sik-ssi!”

“Mwo?!”

BoA terkekeh melihat ekspresi wajah namja yang bernama lengkap Lee Jae Sik itu. Ekspresi ketika dia memanggil ‘oppa’ dan ‘Lee Jae Sik-ssi’ sungguh berbeda.

“Mwoya?” Tanya Jae Sik bingung.

“Oppa, kau benar – benar lucu!”

“Lucu?”

“Nde. Tadi, keika aku memanggilmu ‘oppa’ kau hanya menjawab ‘wae?’ dengan ekspresi yang semestinya. Keunde, ketika aku memanggilmu dengan ‘Lee Jae Sik-ssi’ ekspresimu langsung berubah! Matamu membulat, lucu sekali!”

“Cih! Lucu apanya? Aku hanya kaget saja, tidak biasanya kau memanggilku seformal itu! Itu membuatku tidak nyaman, arra? Ini minumlah.” Jae Sik menyerahkan salah satu minumman kaleng yang ia pegang dan meminum yang satunya.

“Gomawo.”

Mereka berdua terdiam sejenak dalam keheningan. Mereka sibuk dengan pikiran masing – masing. Hingga salah satu dari mereka berniat untuk mengawali pembicaraan.

“Oppa, kapan kita menikah?”

Jae Sik terdiam mendengar pertanyaan BoA. Dia menatap BoA penuh arti lalu menundukkan kepalanya. Dia menghembuskan nafasnya begitu berat.

“Jika aku menikahimu, apa kau masih bisa meneruskan karirmu sebagai penyanyi?”

Kali ini BoA yang terpaku. Yap… inilah hal satu – satunya hal yang menunda keinginan mereka berdua. BoA sangat mencintai profesinya, begitu juga dengan Jae Sik yang tidak mungkin membuat BoA meninggalkan profesi yang amat dicintainya.

“Sudah kuduga, kau pasti diam.” Jae Sik tersenyum melihat BoA.

“Oppa, apa kau benar – benar mencintaiku?”

“Keurom. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Gwenchana, hanya itu yang kubutuhkan saat ini.” Ucap BoA sambil membaringkan tubuhnya di atas lantai.

>>><<< 

     Hari minggu pagi – pagi sekali, Taemin sudah berada di depan apartement BoA. Dia berniat untuk mengajak idolanya itu berkencan. Kemungkinan keberhasilannya sebesar 1 %, menurutnya. Tak lama kemudian, BoA keluar dari apartementnya. Mulutnya seolah mengucapkan huruf ‘A’ ketika melihat Taemin.

“BoA noona, annyeonghaseyo!” sapa Taemin sopan dan penuh ceria sambil membungkuk.

“Mwoya ige? Apa – apaan kau di sini? Jangan ganggu aku!”

“Noona, aku ingin mengajakmu jalan – jalan. Aku ingin meringankan pikiranmu dari segala aktivitasmu sebagai penyanyi yang begitu melelahkan. Kajja…”

“Maldo andwae! Baru kali ini ada fanboy yang tidak tahu malu sepertimu!”

“Tidak tahu malu? Maksudmu?”

“Apa kau tidak ada kerjaan lain? Apa kau tidak sekolah? Jangan – jangan hobimu memang membolos lagi…”

“Andwaeyo noona! Mana mungkin aku hobi membolos, mianhe kalau aku menganggumu. Keunde noona, ini hari minnggu.”

Seperti ada sengatan yang membuat BoA terdiam. Dia merasa kikuk di hadapan namja ingusan ini. Yah, dia memang lupa kalau ini hari minggu.

“Arrasseo! Noona mau kemana? Boleh kuantar?”

“Aku tidak butuh kau, pulang sana!”

Baru saja BoA melangkahkan kaki tapi Taemin sudah menahannya. BoA memutar bola matanya kesal, dia benar – benar ingin menendang bocah ini sekarang juga.

“Kajja noona, jebal!”

“Shireo.”

“Noona…”

“Mwo?”

“Ayolah noona, sekali ini saja! Pergilah denganku!”

“Michoseo!”

“Keurae, arrasseo! Nae michoseo!”

“Huh! Jinjja!”

Taemin pun merasa greget (?) dan akhirnya dia menarik lengan BoA tanpa izin. BoA sempat berontak, namun dia kalah kuat dengan namja ingusan ini. Dia menyeret BoA ke trotoar lalu memaksanya untuk masuk ke bus yang baru berhenti. Taemin hanya tersenyum melihat BoA yang duduk di sebelahnya. Bus masih kosong, mungkin karna masih pagi.

“Tenanglah noona, aku tidak akan menyakitimu!”

“Ah, benar! Kau memerlukan ini, noona.” Taemin lalu memasangkan kaca mata hitan dan topi hitam pada BoA.

BoA hanya mencibir kesal lalu melipat kedua tangannya sambil membuang pandangan keluar jendela.

“Ayolah noona, jangan cemberut seperti itu!” jari telunjuk Taemin menyentuh ujung kanan dan kiri bibir BoA, mencoba membuat senyuman.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN!” BoA justru membentak. Sementara Taemin langsung menyingkirkan tangannya lalu mengunci mulut dan geraknya.

Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat tujuan mereka. BoA terdiam di tempatnya. Dia menatap Taemin dengan tatapan aneh. Taemin memandang kedai di depannya dengan wajah sumringah.

“Ini kan hanya kedai ramen?” BoA bergumam.

“Kajja kita masuk noona!” Taemin berjalan medahului BoA.

“Jadi kau menyeretku secara paksa pergi denganmu hanya untuk makan ramen?”

“Nde, noona. Keunde, ramen di sini berbeda! Pemiliknya adalah orang tuaku.”

“Jinjja?”

Mereka berdua pun memasuki kedai ramen tersebut lalu duduk di meja yang menempel pada jendela. BoA terlihat sedang memandangi jalanan yang padat oleh kendaraan.

“Seoul selalu padat oleh kendaraan yah?” Tanya BoA.

“Nde, ingin sekali aku merasakan bagaimana hidup di desa yang bebas dari kepadatan, polusi, dan sebagainya.”

“Noona ingin pergi ke desa?” BoA mengangguk.

“Aku ingin merasakan lingkungan yang berbeda.”

Beberapa saat kemudian dua porsi ramen pesanan mereka datang. Yang mengantarkannya adalah seorang yeoja cantik yang sepertinya seusia dengan Taemin.

“Gomawo Sujin-ah.” Ucap Taemin. Sujin tersenyum lalu meninggalkan BoA dan Taemin.

“Silakan dicoba, noona.”

BoA pun meraih umpit yang tergeletak di samping mangkuk. Dia menyaupkan suapan pertama.

“Enak!”

“Jinjjayo?”

“Nde, benar – benar enak!”

“Kalau begitu, habiskan yah! Jangan tersisa sedikitpun.” Taemin tersenyum kea rah BoA.

‘Ternyata anak sekolahan ini tidak seburuk yang aku kira. Dia orangnya baik. Menyenangkan. Dia juga lucu, aku… menyukai sifatnya.’ Ucap BoA dalam hati. Tanpa sadar dia terus memperhatikan Taemin.

“Noona, waeyo?”

“Ah, gwenchana.”

>>><<< 

     Hari sudah sore, Taemin dan BoA memutuskan untuk pulang. Di dalam bus Taemin hanya memperhatikan BoA. Dia merasa benar – benar jatuh cinta dengan idolanya itu.

“Taemin-ssi, aku tidak suka diperhatikan seerti itu.”

“Ah, mianhe, noona.”

“Err, noona! Bisa kupinjam handphonemu sebentar?”

“Untuk apa?”

“Sebentar saja, jebal.”

BoA pun merogoh isi tasnya. Dia menyerahlan handphonenya pada Taemin. Taemin segera mengetik nomor handphonenya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya BoA.

“Menyimpan nomorku.”

Tak lama kemudian, handphone Taemin berbunyi.

“Gomawo, noona.” Taemin menyerahkan kembali Handphone BoA.

“Sekarang, aku sudah punya nomormu, dan kau juga punya nomorku.” Taemin memperlihatkan senyum manisnya. Dan tanpa sadar, BoA membalas senyuman Taemin.

“Ah, noona! Sudah sampai, turunlah!” ucapan Taemin menyadarkan BoA.

“Eoh, keuraeyo? Baiklah, Taemin-ssi, aku duluan! Semoga kita bertemu lagi!”

“Nde, noona. Hati – hati ya!”

Mereka berdua pun saling melambaikan tangan sebelum BoA turun dari bus. Setelah bus itu pergi, BoA berjalan pelan menuju apartemennya. Sesampainya di dalam, dia membantingkan tubuhnya di atas kasur. Dia benar – benar lelah.

“Eoh, keuraeyo? Baiklah, Taemin-ssi, aku duluan! Semoga kita bertemu lagi!”

Dia mengingat kata – kata terakhir yang dia ucapkan pada Taemin sebelum turun dari bus.

‘semoga kita bertemu lagi’

‘Apa itu artinya aku ingin bertemu denannya lagi? Maldo andwae! Nae michoseo? Aish, jinjja!’

BoA mengacak – acak rambutnya. Dia merasa tidak menyesal telah mengucapkan kata – kata itu. Yah, benar, tidak menyesal. Dia merasa sudah gila hanya karna seorang anak sekolahan seperti Lee Taemin.

>>><<< 

     Sesampai di depan rumah, dia mendapati Jinri sedang berdiri membelakanginya, tepatnya, yeoja itu menghadap pintu rumah Taemin. Taemin mengendus kesal sebelum akhirnya berjalan menuju pintu rumahnya.

“Pulanglah, sudah hampir malam.”

Jinri berbalik, dia menatap Taemin dengan mata yang sembab karna, menangis.

“Lee Taemin, akhirnya kau pulang juga.” Dia mulai membentuk senyuman, sedetik setelah itu, dia terjatuh. Taemin segera berlari menghampirinya, lalu menggendongnya masuk ke dalam rumah.

Taemin menidurkan Jinri di sofa ruang tengah rumahnya. Orang tua Taemin berada di kedai, mereka hanya pulang seminggu sekali. Yah, kedai ramen itu memang bukan milik orang tuanya. Taemin tinggal berdua dengan pamannya, dia tidak ikut orang tua karna jarak ke sekolah sangat jauh. Tapi, pamannya sedang pergi ke luar kota. Jadi hanya ada Taemin sendiri.

Tangan Taemin menyentuh dahi Jinri. panas. Dia pun segera mengambil baskom berisi handuk kecil yang direndam air hangat. Dia mengompres dahi Jinri.

‘Apa dia belum makan seharian? Wajahnya pucat.’

>>><<< 

     Sejak saat itu, BoA dan Taemin sering berjalan – jalan bersama. Kadang Taemin mengajaknya ke taman bermain, makan bersama di kedai atau restoran, kebun binatang, dan lain – lain. Taemin selalu berhasi membuat BoA tersenyum lebar. Lama kelamaan, BoA mulai merasa nyaman berada di sisi Taemin. Apa sebenarnya maksud perasaan BoA?

>>><<< 

     BoA duduk di atas lantai ruang latihan dancenya. Dia mengamati bayangannya di depan cermin. Tiba – tiba terlintas di pikirannya untuk segera menikah.

‘Apa seharusnya yeoja seusiaku sudah menikah? Apa aku ini sudah tua?’

     Pintu ruangan nampak terbuka dari kaca. BoA pun menoleh. Ternyata yang masuk adalah Lee Jae Sik. Dia membawa kantung yang berisi makanan.

“Oppa?”

“Annyeong! Kau lapar?” tanyanya lalu duduk di samping BoA. BoA hanya tersenyum menanggapinya.

“Kau tidak latihan?”

“Aniyo oppa, aku hanya iseng duduk – duduk di sini.”

“Kemarin seharian kau ke mana?”

“Eoh? Aku…”

“Kau pasti heran kenapa aku bertanya seperti ini? Aku kemarin melihatmu bersama seorang namja yang sepertinya masih muda. Kau naik bus berdua dengannya. Kalian ke mana?”

‘Sebenarnya bukan hanya kemarin aku melihatmu, aku sudah melihatnya berkali – kali.’ Ucap Jae Sik dalam hati.

“Ah, dia. Dia hanya fanboyku. Kemarin dia mengajakku makan ramen di kedai milik orang tuanya. Hanya fanboy biasa.”

‘Yah, aku memang merasa hanya fanboy biasa. Mungkin?’ ucap BoA dalam hati.

“Bisa saja jadi fanboy yang special kan?”

     Pertanyaan Jae Sik membuat BoA terdiam. Perasaannya aneh. Apa Taemin merupakan fanboy yang special baginya?

“Ya, kenapa diam saja?”

“Aniyo oppa! Gwenchana. Dia memang hanya fanboy biasa, oppa. Satu – satunya namja yang special dalam hidupku hanya kau.”

    Jae Sik tersenyum dia mencondongkan tubuhnya lalu mencium dalam bibir BoA. BoA memejamkan matanya. Mereka pun saling mencurahkan perasaan masing – masing.

>>><<< 

     Bel pulang sekolah berbunyi. Taemin segera berlari meninggalkan sekolahnya. Dia menaikki bus lalu turun di depan rumahnya. Dia memasuki rumahnya lalu buru – buru mengganti pakaian di dalam kamarnya. Dia membawa ransel yang berisi beberapa pakaian. Besok adalah hari minggu, Taemin berniat untuk mengajak BoA pergi ke rumah neneknya yang berada di sebuah desa, di Seoul.

     setelah selesai memasukkan beberapa pakaian ke dalam ransel, Taemin pun segera keluar, mengunci rumah, kemudian naik bus menuju apartement BoA.

>>><<< 

     BoA terus memperhatikan jam dinding di hadapannya. Dia bosan. Dia bingung mau melakukan apa di hari yang sedang sepi jadwal ini. Tak lama kemudian, bel berbuyi. Dengan malas BoA berjalan menuju pintu. Dia pun melihat intercom untuk tahu siapa yang datang, ternyata, Lee Taemin. Akhirnya, BoA pun membuka pintu apartementnya. Senyum Taemin yang lebar nampak begitu jelas ketika BoA membuka pintu.

“Noona, Kajja kita ke rumah nenekku!”

“Mwo? Untuk apa ke rumah nenekmu?”

“Kau kan pernah bilang ingin pergi ke desa, rumah nenekku ada di desa, noona! Kajja!”

‘Mungkin tidak ada salahnya aku ikut Taemin, aku kan sedang nganggur. Daripada bosan sendirian? Lebih baik, aku ikut saja.’

“Arrasseo, jamsimannyo!”

     BoA pun segera berlari kecil ke kamarnya. Dia membawa barang – barang seperlunya ke dalam tasnya lalu segera pergi bersama Taemin. Tanpa dia sadari, Handphonenya tertinggal.

>>><<< 

“Rumah nenekmu masih jauh?”

“Sebentar lagi sampai!”

     Taemin dan BoA sedang berjalan kaki menyusuri jalan kecil di daerah pedesaan yang tidak jauh dari pantai. Rumah neneknya Taemin memang jauh dari kepadatan kota Seoul. Beberapa menit setelah jalan kaki, akhirnya mereka sampai di rumah nenek Taemin. Taemin segera mengetuk pintu rumah yang masih tradisional itu.

TOK TOK TOK

“Tunggu sebentar.”

     Muncul suara samar – samar dari dalam rumah, suara nenek – nenek tentunya.

“Rumah nenekmu masih tradisional sekali yah?”

“Nde, keunde aku harap, noona bisa betah di sini. Karna, kita akan menginap!”

“Mwo? Menginap? Kenapa kau tidak bilang sih? Aku kan tidak bawa baju ganti!”

“Gwenchana, kau bisa pakai punya nenekku!”

“Nde?”

SREEKK

     Pintu yang tadi diketuk kini sudah digeser terbuka. Memperlihatkan si pemilik rumah.

“Taemin-ah!”

“Halmonie!”

     Nenek dan cucu pun saling berpelukan.

“Halmonie, perkenalkan ini Kwon BoA noona! Dia yang sering aku ceritakan! Seorang penyanyi cantik dan hebat!”

“Keuraeyo?”

“Annyeonghaseyo, halmonie, Kwon BoA imnida. Bangapseumnida!”

“Nado. Masuklah!” neneknya Taemin mempersilakan masuk.

     Setelah dipersilakan masuk, BoA duduk lesehan di ruang tengah rumah neneknya Taemin. Dia merasa nyaman berada di sana, apalagi bangunan rumahnya masih begitu tradisional. Bahkan, tidak ada tv dan radio di sana. Sementara itu, Taemin pergi ke kamar yang biasa ia tempati ketika berkunjung ke rumah neneknya. Sedangkan neneknya Taemin sedang ke dapur untuk menyuguhi BoA minuman, atau yang lainnya.

“Ini agasshi, silakan diminum.” Neneknya Taemin menaruh secangkir teh hangat di atas meja.

“Gamshahamnida.”

“Kau ini siapanya Taemin?”

“Nde? Euhh…”

“Yeojachingu?”

     BoA diam saja. Dia merasa pertanyaan neneknya Taemin itu tidak benar dan tidak salah, entah mengapa.

“Kau jangan main – main ya dengannya. Dia memang masih anak – anak, Keunde dia selalu sungguh – sungguh dalalm menjalin hubungan. Dia itu sangat menyukaimu, BoA-ssi, jangan sakiti dia.”

     Lagi – lagi terdiam, hanya itu yang bisa dilakukannya. BoA tidak yakin kalau dia tidak akan menyakiti Taemin.

Malam harinya…

“Noona, kau boleh tidur di kamar ini.”

“Lalu kau tidur di mana?”

“Aish, gwenchana! Aku bisa tidur di ruang tengah. Err, ngomong – ngomong noona, kau terlihat cantik memakai baju nenekku.”

     BoA memperhatikan baju yang dia pakai. Baju yang biasa di pakai nenek – nenek di desa, tradisional.

“Jangan menghina! Ini semua karna kau tidak memberi tahuku kalau kita akan menginap!”

>>><<< 

     Sudah hampir seharian Jae Sik menunggu di depan apartement BoA. Dia sudah berkali – kali menelpon BoA, tapi tidak juga diangkat.

‘Ada apa ini? Kenapa BoA tidak menjawab telponku sejak kemarin? biasanya hari minggu dia tidak pernah keluar rumah. Kemana dia yah?”

     Karena bingung, akhirnya Jae Sik memutuskan untuk mencari BoA. Dia memang tidak tahu harus mencari ke mana, yang jelas, dia benar – benar khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada BoA.

>>><<< 

     Pukul 6 pagi, BoA baru selesai mandi pagi. Dia keluar rumah dan mendapati Taemin sedang duduk sendirian di halaman rumah neneknya itu.

“Selamat pagi.” Sapa BoA terlebih dahulu.

“Selamat pagi juga, noonaku yang cantik.”

“Bisa tidak sih kau… asih, sudahlah lupakan. Aku tidak suka dibilang seperti itu!”

“Err, noona, kenapa noona memakai bajumu yang kemarin? Kau kan bisa meminjam baju halmonie?”

“Aku sudah cukup merepotkan halmonie, jadi aku pakai saja bajuku, lagipula baju ini sudah dicuci oleh halmonie.”

“Jinjja? Bajumu itu bau, noona!” ledek Taemin sambil menutup hidungnya dan mengibas – ngibaskan tangannya.

“Dasar! Higungmu saja yang tidak normal!”

“Noona, kau memakai baju itu lagi karna takut merepotkan… atau kau malu memakai baju nenek – nenek?”

“Terserah!” balas BoA jutek. Dia melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Arra…arra, noona! Jangan marah seperti itu, aku kan hanya bercanda!”

“Yang masih membuatku bingung adalah, kenapa kau tidak mengsms atau menelponku? Apa gunanya kau punya nomorku?” Tanya BoA mengalihkan pembicaraan.

     Taemin hanya nyengir. BoA baru ingat, sejak kemarin dia tidak memegang handphonenya sama sekali. Dia pun kembali ke kamar, memastikan bawa handphonenya ada, namun ternyata tidak. Dia kembali ke halaman depan.

“Lee Taemin, apa kau melihat handphoneku?”

     Taemin menggeleng pelan. BoA semakin panic. Dia mondar – mandir sambil menggigit bibirnya.

‘Pantas saja selama ini Jae Sik oppa tidak menghubungiku, ternyata selama ini handphonenya tertinggal.

>>><<< 

     Jae Sik membawa mobilnya ke sebuah desa yang entah apa namanya. Dia tidak tahu kenapa bisa sampai ke sini. Dia turun dari mobilnya bertanya pada warga yang tinggal di sana.

“Silyehamnida, apa anda melihat seorang yeoja berambut panjang agak kecoklatan, bergaya seperti artis, berjalan lewat sini?”

“Hmm… ada! Kemarin aku melihatnya, tadi pagi juga aku lihat. Ada apa?” jawab seorang namja paruh baya.

“Aku kehilangan yeojachinguku.”

“Apa dia yeojachingumu? Aku lihat kemarin dia bersama seorang namja juga, tapi sepertinya lebih muda.”

‘Pasti fanboy itu.’ Ucap Jae Sik dalam hati.

     Jae Sik pun akhirnya meminta tolong untuk ditunjukkan di mana tempa BoA berada. Dan sampailah Jae Sik di rumah neneknya Taemin. BoA terkejut, tapi tidak dengan Taemin.

“Nuguseyo?” Tanya Taemin.

“Akhirnya aku menemukanmu.” Ucap Jae Sik seyara menghampiri BoA lalu memeluknya erat. BoA diam saja. Dia melihat ke arah Taemin yang juga sedang menatapnya.

“Kajja, kita pulang bersama.” Ucap Jae Sik sambil melepaskan pelukannya lalu masuk ke rumah neneknya Taemin.

     BoA dan Taemin masih belum berhenti bertatapan. Mata BoA mulai berair. Tak lama kemudian Jae Sik keluar dengan membawa barang – barang milik BoA. Dia lalu menatap Taemin sekilas.

“Terimakasih sudah menjaga BoA untukku.” Ucap Jae Sik. Setelah itu, dia benar – benar membawa BoA pulang. Dan Taemin masih terdiam di tempat. Itu terakhir kalinya dia melihat BoA.

>>><<< 

1 year later…

     Bel rumah Taemin berbunyi. Dia membuka pintu rumahnya, tetapi tidak ada seorangpun yang datang. Lalu dia melihat ke lantai. Di sana tergeletak sebuah undangan pernikahan. Ya, undangan itu bertuliskan ‘Kwon Boa & Lee Jae Sik ~Wedding~’

     Taemin tersenyum nanar memandangi undangan itu. Dia bahkan masih tidak percaya bahwa benda itu ada di tangannya sekarang. Dia tertawa hambar.  Air mata keluar dari matanya.

>>><<< 

Epilog.

5 years later…

    Taemin yang menggunakan baju santai sedang duduk dihamparan rumput hijau.

BRAAK

     Seorang yeoja kecil terjatuh tepat didepan ia duduk.

“Gwenchana?” Tanya Taemin sambil membantu yeoja kecil itu berdiri.

     Setelah yeoja itu berdiri, Taemin membersihkan pakaian yeoja kecil itu yang sedikit kotor. Taemin memandang yeoja yang masih balita itu, mengingatkannya pada seseorang.

“Younghee-ya!” panggil seorang yeoja yang sepertinya eomma dari si yeoja kecil yang baru ditolong Taemin.

“Eomma!” yeoja kecil itu berlari meninggalkan Taemin menuju eommanya, mereka berpelukan.

     Tanpa sengaja, mata Taemin dan eomma dari yeoja kecil itu bertemu. Taemin tersenyum, begitu juga dengan si yeoja itu yang mulai menghampiri Taemin.

 ‘Kwon BoA noona, ini benar – benar kau.’

“Lee Taemin-ssi? Kaukah itu?” tanyanya.

‘Kau bahkan memanggilku seformal itu. Mungkin kau sudah bahagia dengan keluarga barumu itu, seolah begitu mudah kau melupakan kenangan kita bersama. Aku yakin sesering apapun kita bertemu, walaupun secara kebetulan, kita memang tidak ditakdirkan bersama. Walaupun, rasa cintaku begitu besar untukmu noona. Dan aku tidak yakin dapat melupakannya begitu mudah. Tapi aku mohon, setidaknya… biarkan saja aku mencintaimu, noona.’

“Nde, ini aku, BoA noona.”

Mereka saling bertukar senyum.

“Ini anakku dan Jae Sik, kenalkan, namanya Lee Younghee. Dia cantik kan?”

‘Kau membuatku semakin sakit, noona.’

END

Akhirnya, ff aneh aku selesai…

Sebenernya, aku rada ilfeel sama ff ini, bingung mau aku kirim apa engga… soalnya menurut aku aneh ceritanya -_-

Semoga kalian ngga nyesel ya udah baca ini, kalaupun nyesel kalian tetep harus comment, oke?

 

Advertisements

2 thoughts on “[FREELANCE] Just Let Me Love You, Noona

  1. Merasa kek taemin beruntung banget
    Pengen deh aku yg jd boa
    Ditarik kemana2
    Tp syg boa g sama taemin, malah sama jaesik

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s