Silent Confession

sc-minsul

Tittle      : Silent Confession

Author  : Quin

Cast(s)  :

–          f(x)’s Sulli as Choi Sulli

–          SHINee’s Minho as Choi Minho

Genre   : Romance, fluff, life, AU, geje (?)

Rating   : [G]eneral

Type      : Vignette

Discalimer           : I don’t own the characters. They’re belong to God, their Families, also their fans. But the story and plot are mine. Forgive me about the mistake(s), typo(s), and OOC.

HEEII-Yo!!! Quin is back!!! Udah berapa lama ya gak nge-post FF? wkwkwkwkwkwk~ tapi kayaknya gak ada yg kangen FF aku ._. *abaikan*

Kali ini aku mau bawa FF MinSul #horreee \^^/ Kenapa? Karena anggota SHINee yg blm kubikin FF-nya tinggal Minho sama Jonghyun ._. Tapi sekarang Minho dulu deh. Jjong kapan2 ya ;)

..

..

..

…Sorry, I can’t say that I love you…

..

..

Minho membaringkan tubuhnya di atas rerumputan hijau sambil bermandikan cahaya matahari. Matanya menatap tajam ke arah langit biru dan sesekali bola matanya bergerak mengikuti awan putih yang berarak.

Pemuda berumur 18 tahun itu kemudian menghela napas, meluapkan emosinya yang sempat tertahan di dada. Dimiringkan tubuhnya ke kanan, beralih mencium bau tanah yang dihiasi rumput segar kemudian memejamkan matanya. Seketika memorinya berputar ke masa lampau. Mengingatkannya pada kejadian kemarin siang. Satu-satunya gadis yang selalu melekat dalam pikirannya memberi surat cinta untuknya.

..

Pemuda berwajah tampan namun terkesan dingin itu berjalan di koridor sekolah dengan tak acuh. Sepertinya ia tidak menyadari kalau hampir seluruh pasang mata yang ada di koridor itu terarah padanya, kagum akan ketampanan seorang Choi Minho. Tapi ia tak peduli. Ia terus melenggang pergi dengan langkah panjang. Hingga siluet kecil di tikungan koridor membuatnya berhenti melangkah.

Gadis yang semula bersandar pada tembok itu langsung menegakkan badannya ketika menyadari Minho sudah berdiri di depannya. Gadis itu tersenyum ramah, walau ia tahu selama ini Minho belum pernah sekali pun tersenyum padanya. Tangan gadis itu kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah jambu yang berhiaskan pita biru. Dengan takut-takut ia menyerahkan surat itu sambil mengatupkan kedua kelopak matanya.

Minho menerima surat itu dengan alis yang terangkat sebelah. Ia hendak bertanya, tapi gadis tadi sudah pergi dari hadapannya. Minho hanya bisa tersenyum, senyum yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Kemudian memasukkan surat tersebut ke dalam saku celananya.

..

Minho kembali menghela napas panjang dan memiringkan badannya ke kiri. Baru kali ini ia dirundung resah dan gelisah saat seorang gadis menyatakan cinta padanya. Biasanya dia akan langsung menolak sodoran surat cinta dari gadis lain. Tapi tidak sama halnya dengan gadis itu-Sulli. Ia diperlakukan berbeda oleh MInho.

Minho mendengus kesal, membuat rumput yang berada tepat di depan lubang hidungnya bergoyang. Dengan labilnya, Minho memutar badannya kembali menantang langit. Dan tepat saat itu, lensa matanya menangkap seekor kupu-kupu yang nampak terbang dengan susah payah. Sepertinya kupu-kupu itu baru saja selesai bermetamorfosis.

Spontan, tangannya terangkat naik dan mendekatkannya pada kupu-kupu tersebut. Memberi isyarat agar kupu-kupu tadi mau hinggap di jari telunjuknya. Pemuda berambut kecoklatan itu tersenyum ketika kupu-kupu itu kini tengah bertengger pada jari telunjuknya dengan elok. Binatang bersayap itu benar-benar mengingatkannya pada Sulli.

..

Seorang siswa tampak berjalan dengan santainya menyusuri halaman belakang sekolah. Padahal sekarang pelajaran tengah berlangsung. Seperti biasa, ia hendak menjalankan rutinitasnya; membolos. Kedua tangannya telah siap tertanam pada masing-masing saku celananya. Dua ujung earphone yang tersambung pada mp4-nya pun sudah menyumpal kedua lubang telinganya. Jadi percuma saja berteriak pada siswa itu, ia tak akan mendengarnya.

Minho-siswa yang membolos tadi-melepaskan earphone-nya ketika ia telah sampai di atap sekolah dengan selamat. Baginya, lebih asyik memandangi langit yang berwarna biru keputih-putihan daripada memelototi wajah Cho Seonsaengnim yang tak berbentuk sama sekali. Rasanya ingin sekali menyumpal mulut guru menyebalkan yang hobi mengomel itu dengan sol sepatu. Atau memberikan bogem di wajah guru itu sepertinya lebih baik. Agar si tua bangka yang buruk rupa itu memiliki wajah yang tak karuan.

“YA! Kau mendengarku atau tidak?! JAWAB!!” Minho langsung mendudukkan dirinya ketika sebuah suara-yang entah darimana asalnya-berhasil mengusik ketenangannya. Membuat semua rencananya untuk memberi pelajaran pada Cho Seonsaengnim seketika sirna.

Minho bangkit berdiri dan mencari asal suara itu yang diprediksikan berasal dari gudang kecil yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Hei!! Jawab aku!! Atau kau memang sudah bosan hidup, hah?!” Suara itu semakin meninggi yang kemudian disusul oleh suara debuman keras dan berbagai bunyi-bunyian gaduh lainnya. Dan benar saja, suara itu berasal dari arah gudang.

Dengan segera, Minho membuka pintu gudang itu dan mendapati seorang gadis yang sudah babak belur sedang dikelilingi oleh 4 orang gadis bertampang garang. “HENTIKAN!!” seru Minho, membuat kelima pasang mata lainnya mengarah pada namja itu.

“Apa yang sedang kalian lakukan, hah?!” tanya Minho dingin sambil membantu gadis yang tadi terintimidasi.

“Anu… Kami tidak bermaksud-”

“Kalian ini benar-benar bodoh atau pura-pura terlalu bodoh, sih?! Sudah jelas gadis ini bisu! Dan kalian masih terus memaksanya berbicara??!! Sebenarnya ada dimana otak kalian semua? LUTUT??!!” bentak Minho sadis, membuat keempat gadis bertampang garang tadi hanya bisa meneguk ludah.

“Sebaiknya kalian segera pergi dan jangan pernah menggangunya lagi. Atau akan kuadukan kalian pada kepala sekolah atas tuduhan penganiayaan,” lanjut Minho lagi, yang suskses membuat keempat gadis itu lari terbirit-birit.

“Mereka sudah tak akan mengganggumu lagi. Jadi kau tak perlu khawatir, Sulli-ya,” ujar Minho lembut sambil mengacak rambut Sulli, membuat gadis itu hanya bisa tertunduk malu. Sulli kemudian mengangguk kecil sebagai ucapan terima kasih kepada Minho.

..

Minho mengangkat tangannya, membiarkan kupu-kupu tadi terbang bebas di udara. Sayapnya yang cantik terkepak gemulai, membuat Minho mau tak mau mengulum senyum.

Ia kemudian menatap tas yang sedari tadi tergeletak di sampingnya. Dirogohnya tas itu dan mengeluarkan sepucuk surat yang diberikan Sulli padanya. Namja itu kembali tersenyum sambil membuka amplopnya dengan hati-hati lalu membaca surat itu dengan seksama.

My dearest Minho,

Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu. Sebuah kalimat yang ingin dikatakan oleh setiap gadis pada pria yang membuat jantungnya berdetak abnormal. Sebuah kalimat sederhana namun sangat sulit untuk diungkapkan. Sebuah kalimat sakral yang mewakili seluruh perasaanku padamu.

Tapi aku sadar, tenggorokanku tak mampu mengeluarkan getaran suara untuk menyampaikan kalimat itu padamu. Terkadang aku kesal pada diriku sendiri yang tak mampu mengungkapkan perasaanku padamu. Karena itulah kutulis surat ini. Agar kau tahu bahwa aku mencintaimu.

With Love,

Choi Sulli

Minho melipat kembali surat itu seiring dengan deru napasnya yang terhempas keluar. Ia tengah berpikir keras. Sulli mencintainya. Ia mencintai Sulli. Kesimpulannya mereka saling mencintai. Tapi… bolehkah?

Keluarga Minho tergolong keluarga konglomerat. Jadi tak heran kalau orang tuanya merupakan orang yang perfeksionis, terlebih dalam memilih pasangan hidup bagi anak-anaknya. Inilah yang ditakutkan oleh Minho. Bisakah kedua orang tuanya menerima Sulli yang notabene adalah gadis tunawicara? Sungguh, ia tak ingin menyakiti perasaan Sulli.

Minho memukul tanah dengan kepalan tangannya. Sesulit inikah rasanya mencintai seseorang? Sesakit inikah rasanya bila tak diperbolehkan mencintai seseorang?

Pemuda bertubuh tinggi itu bangkit berdiri. Ia hendak pulang lalu tidur. Barangkali istirahat sejenak mampu menjernihkan pikirannya.

Namun ketika ia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja berhasil menarik perhatiannya. Si kakek yang jelas-jelas tak lagi kuat tampak mendorong kursi roda yang diduduki oleh si nenek dengan kedua tangannya yang sudah penuh dengan keriput. Karena penasaran, Minho pun berjalan mendekat ke arah pasangan tua tadi. Ternyata sang nenek sudah kehilangan kedua kakinya.

Minho terharu dengan ketulusan si kakek. Dengan senang hati kakek itu mau mengurus istrinya di usia yang tak lagi muda. Minho masih tak mau melepaskan pandangannya dari kakek dan nenek tersebut. Ia masih ingin belajar arti ketulusan dari si kakek.

Namja itu kemudian memutuskan untuk ke rumah Sulli setelah melihat wajah keriput kakek itu tersenyum penuh cinta pada istrinya. Sekarang ia sadar, yang bisa ia lakukan adalah mencintai Sulli serta menerima segala kekurangan gadis itu dengan setulus hati. Karena kelak ia yang akan menjaga dan merawat Sulli di hari tua. Masa bodoh dengan tentangan kedua orang tuanya. Yang ia inginkan menjadi pendamping hidupnya kelak hanyalah Choi Sulli. Lagipula, bila benang merah sudah terikat pada jari kelingking mereka, Minho percaya, pasti mereka dapat menemukan cara untuk hidup bersama lalu membangun bahtera rumah tangga yang bahagia.

*****

Minho memegang kedua lututnya sambil mengatur deru napasnya ketika ia telah sampai di depan rumah Sulli. Pemuda itu menyeka peluh yang bercucuran di dahinya sebelum menghela napas berulang kali dan berseru, “CHOI SULLI!!!”

Tak ada respon sama sekali. Rumah itu masih sunyi tanpa tanda-tanda adanya seseorang yang membuka pintu maupun jendela.

YA! CHOI SULLI!!” teriak Minho lagi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Tak lama kemudian terdengar suara salah satu jendela di lantai dua terbuka. Minho mengalihkan pandangannya pada jendela tersebut dan muncullah sosok gadis yang tak asing baginya.

Gadis itu menatap Minho yang berdiri di depan rumahnya dengan heran. Untuk apa ia di sini? Pikir Sulli.

“Aku… Aku datang ke sini untuk menyampaikan sesuatu padamu,” kata Minho seolah-olah mengerti dengan apa yang ada di pikiran Sulli.

Minho kemudian mengambil papan yang tadi sempat dibelinya dalam perjalanan menuju rumah Sulli. Dengan spidolnya, pemuda itu menuliskan sesuatu di papan tersebut lalu mengangkatnya tinggi-tinggi agar Sulli mampu membacanya. Nado Saranghaeyo, begitulah yang tertulis pada papan itu.

Untuk sejenak Sulli menghilang dari jangkauan mata Minho. Namun kemudian gadis itu kembali sambil membawa papan yang serupa dengan milik Minho. Bahkan dengan keadaanku yang teramat menyedihkan ini? Tulisnya.

“Aku tidak peduli!!” jawab Minho lantang. “Mau kau bisu, buta, atau bahkan tak mampu bangkit sekalipun, asalkan orang itu adalah dirimu, aku akan tetap mencintaimu. Aku berjanji akan mencintaimu dengan setulus hatiku, menerimamu baik kekurangan maupun kelebihanmu, serta menjagamu mulai detik ini dengan seluruh jiwa ragaku. Karena kaulah satu-satunya wanita pemegang kunci hatiku.”

Setetes air mata berhasil menganak sungai di pipi Sulli tepat setelah Minho mengakhiri kalimatnya. Ia tak pernah tahu sebelumnya, kalau Minho benar-benar mencintainya dari lubuk hati yang paling dalam. Gadis itu menangis haru. Benarkah Minho adalah Romeo yang ditakdirkan untuknya?

Sulli kemudian kembali menulis di atas papannya. Thanks for accepting my love.

|THE END|

HUUUWAAA!! Please bunuh saya T^T Fic ini geje sumpah ._. mana aneh, jelek, plot ngawur, dan tidak berkesinambungan (?) Tapi ya sudahlah yg penting hepi ending

wkwkwkwkwk~ XD XD

Advertisements

16 thoughts on “Silent Confession

  1. annyeong hasseyo min, ceritanya bagus… 🙂
    BTW author minat gak jadi admin FF minsul di page FB Choi Sulli f(x) Choi Minho Shinee (minsul) indonesian fans club 🙂 ?
    FP itu lagi nyari admin FF minsul, kalau author disini berkenan bisa sesekali mampir dan ikut ya 🙂
    gomawo

  2. oya btw.. FF kamu bgus bgt aku suka alur yg kamu bawain trus penyusunan katanya rapi..
    Bikin FF MinSul lagi yaa yg banyak 🙂 hehe aku suka bgt soalnya sama mereka bener2 cocok terus mereka bener2 real terbukti sama Moment2 MinSul yg aku liat beda sama yg lain yg kesannya cuman dibuat2 aja 🙂 OMOO pokoknya MinSul JJANG dehh Daebbaak !! ❤
    Lanjutkan THOOR !!

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s