Monster (Oneshoot)

monster-(2)

Monster

Jung Jessica (SNSD) | Wu Yi Fan (EXO)

Romance, Thriller, Angst | PG-15 | Oneshoot

I don’t own anything except the storyline.

An ordinary story from an ordinary author.

*

Dia jatuh cinta padanya.

Monster yang tak pernah mengenal cinta dan kasih sayang pada akhirnya merasakannya.

Janggal dan tak masuk akal, benar?

Tapi, ia tak bisa menolaknya, karena ia tahu ia memang ada untuknya.

Seorang monster yang terlahir untuk menerima cinta tanpa akhir yang menyesakan.

*

“Jadi, dengan lelaki mana lagi kau bertengkar?” Jung Jessica melipat tangannya di depan dada dan menatap lurus ke arah Wu Yi Fan yang terduduk lemah di daun pintu kamarnya. Wajah tampan lelaki itu dipenuhi oleh bercak kebiruan, lebam yang disebabkan oleh hantaman yang ia terima beberapa jam lalu.

“Tuan Muda Kim yang mengejarmu.” Wu Yi Fan tersenyum tipis lalu mengusapkan punggung tangannya pada darah mengering di sudut bibirnya.

Jung Jessica memutar bola matanya, jengah. Ia lalu melangkah mendekat dan berjongkok di samping lelaki itu. “Bukannya ia playboy? Pacarnya yang mana yang kau permainkan?” Kebiasaan Wu Yi Fan yang senang merebut gadis milik lelaki lain dan mencampakannya begitu saja hingga membuat para lelaki membencinya benar-benar ia ingat di luar kepalanya. Jadi, bukan sebuah kejutan jika ia menemukan Wu Yi Fan bersimbah darah di depannya.

Lelaki berambut pirang itu menaikan salah satu sudut bibirnya. Salah satu telunjuknya kemudian terangkat dan menunjuk Jessica tepat di wajah gadis itu. “Dia yang mempermainkan gadis kesayanganku, aku hampir saja membunuhnya.”

Gadis itu hampir tersentak. Ia kemudian memeluk tubuhnya sendiri dan menundukan kepalanya. Ingatan samar itu muncul di pikirannya, ketika seorang lelaki asing bermarga Kim yang selalu mengejarnya, menyeringai padanya dan mencengkram pergelangan tangannya. Kemudian ia menemukan dirinya berada dalam ruangan gelap, tanpa busana, dengan lelaki asing tersebut tertidur di sisinya.

Saat itu, pertama kalinya, meskipun mereka telah bersama hampir selama ia hidup, Wu Yi Fan yang menemukan dirinya pertama kali, dirinya saat itu hanya bisa menerawang kosong ke arah lelaki yang tertidur di sebelahnya, tampak begitu menakutkan. Wajah tampan lelaki itu mengeras namun ia tahu melalui tangan mengepal milik Yi Fan, ia tahu lelaki itu menahan diri untuk tidak membunuh lelaki Kim.

Dengan lengan kekar yang bergetar, Wu Yi Fan melepas jasnya dan menyelimuti tubuh polosnya yang baginya terasa kaku. Lelaki itu terlihat begitu tenang ketika menyodorkan gaunnya yang tergeletak di lantai dan membiarkan dirinya berganti. Masih dengan ketenangan yang sama, Wu Yi Fan menuntunnya lembut menuju mobil mewah milik lelaki itu dan memeluk tubuhnya selama perjalanan. Karena ketenangan itu, ia merasa seakan semua adalah mimpi dan tak ada yang benar-benar terjadi.

Namun ketika lelaki itu mengeratkan pelukannya dan meletakan dagu tajamnya di pucak kepalanya. Ia mengetahui bahwa semua benar-benar terjadi dan bukan sebuah fantasi.

“Maaf aku tak menjagamu dengan baik.” Ia mendengar suara Yi Fan bergetar di telinganya. Ia merasakan isakan lembut lelaki itu di puncak kepalanya. Untuk pertama kalinya, ia menatap Wu Yi Fan menangis.

Ketika itu, ia tersentuh oleh kehangatan Wu Yi Fan dan rengkuhannya, kemudian ia menangis seakan dirinya tak pernah menangis.

“Hei?” Sentakan suara lembut Yi Fan menyeretnya kembali menuju kenyataan. Lelaki itu menatapnya dengan pandangan penuh rasa tajam, ia tahu masih ada rasa dendam di dalam tatapan lelaki itu, rasa dendam untuk Lelaki Kim.

Kemudian ia menatap wajah penuh lebam milik Yi Fan dengan sebuah senyuman tipis paling menenangkan yang bisa ia berikan, mencoba menghilangkan rasa dendam di balik pandangan itu. “Berapa lawanmu?” Ia beranjak berdiri, meraih termos di atas meja dan membasahi sapu tangan miliknya dengan air hangat.

“Aku tidak menghitungnya. Bahkan aku lupa apakah lebih banyak yang berakhir hidup atau mati…Ah! Kau mau membunuhku?” Dia memekik keras ketika Jessica menempelkan sapu tangannya di salah satu leban di  keningnya.

“Salahkan dirimu sendiri, untuk apa kau mendatangi dia dan sengaja mengajaknya bertengkar? Inilah yang kau dapatkan.” Jessica mendengus geli. “Apa yang akan dikatakan gadis-gadis kekasihmu itu jika tahu wajah tampanmu ini terluka seperti ini?”

Wu Yi Fan mengeraskan rahangnya. “Aku tak menyesal sudah mendatangi dia, Jessica. Bahkan kurasa apa yang kulakukan padanya masih kurang. Dia—sudah benar-benar menyakitimu. Persetan dengan anggapan gadis-gadis sialan di luar sana, aku akan dengan bangga mengatakan ini sebagai bukti perlindunganku padamu. Agar tak ada satu pun lagi yang berani menyentuhmu.”

Jung Jessica tersenyum tipis. “Jangan berlebihan, Yi Fan. Ini bukan pertama kalinya untukku mengalami hal seperti ini.”

Lelaki itu mengeraskan rahangnya. “Jangan pernah menganggap hal seperti ini adalah hal biasa, Jung Jessica. Kau tak pernah tahu bagaimana aku seperti orang gila ketika menemukan kau tak ada, kau tak tahu bagaimana perasaanku ketika menemukan dirimu seperti semalam.” Ia merenggut pelan bagian belakang kepala gadis di depannya dan menatap mata indah itu dengan pandangan keruh.

Jessica masih tenang dan menatap balik pandangan lelaki itu. Ia kemudian melepas cengkraman lembut Wu Yi Fan dengan senyuman dinginnya. “Sepertinya kau sedang tak bisa berpikir jernih. Tidurlah, Yi Fan. Kau harus istirahat.”

Lelaki tampan itu tercekat pelan. “Aku akan di sini, menemanimu.”

“Pernikahan kita hanya tinggal 3 hari lagi, Yi Fan. Aku tak ingin membuat masalah jika salah satu dari orang tua kita menemukan kita tidur bersama.”

Wu Yi Fan mendengus geli. “Bukankah itu yang selalu kau inginkan? Untuk membatalkan pernikahan bisnis kita ini.” Ia beranjak berdiri dan mengangkat salah satu alisnya, membiarkan bibirnya menampakan senyuman sinis.

Jung Jessica hanya tersenyum tipis. “Selamat malam, Yi Fan.” Ia kemudian menutup pintu kamarnya masih dengan senyuman yang sama terarah kepada Wu Yi Fan.

“Selamat malam.” Bisikan itu dapat ia dengar menembus pintu kamarnya. Ia dapat merasakan bagaimana suara tersebut mengalir halus dan menimbulkan lekukan tipis di bibirnya.

Ia melangkah kembali menuju tempat tidurnya, terduduk di sana sembari memeluk lututnya kaku. Matanya menerawang ke arah langit-langit kamarnya yang dihiasi gambar awan merah muda dengan berbagai tetesan-tetesan air hujan berwarna hijau, biru, dan putih tulang, gambar yang tak pernah gagal untuk membuatnya nyaman.

Dalam keheningan tersebut,  Jung Jessica tersenyum tipis ketika dirinya tak kuasa untuk menahan ingatan yang kemudian membuncah di otaknya, menari-nari memutar sebuah kenangan.

Saat itu, Wu Yi Fan berdiri di hadapannya dengan tubuh basah penuh air hujan, tetesan-tetesan air mengalir dari rambut pirang alaminya. Kala itu, ia mengingat Yi Fan masih berusia 10 tahun dan jika benar, mungkin saja ia berusia hampir 8 tahun. Lelaki itu di dalam ingatannya masih sama, masih berwajah tampan namun terkesan bagai iblis kecil dengan bibir tipis yang selalu menyeringai, namun berbeda dengan hari itu, ketika Wu Yi Fan dengan wajah kaku dan penuh amarah yang berdiri di depannya.

Dirinya, saat itu menangis dengan suara tipis dan isakan yang berusaha ditahannya.

“Apa yang terjadi?”

Ia tahu Wu Yi Fan pasti sedikit atau banyak sudah mengetahui segalanya. Wu Yi Fan hanya sedang ingin mendengarkan kenyataan yang mengalir dari bibirnya sendiri, bukan dari cerita mulut ke mulut.

Dirinya masih terus membiarkan air mata mengalir di pipinya. Bibirnya terus mengelu bertambah kelu ketika Wu Yi Fan merangkul bahunya dan menenggelamkan dirinya ke dalam dada bidangnya. Kehangatan yang bercampur dengan wangi khas lelaki itu, wangi mint yang lembut, membuat air matanya terus mengalir tanpa henti. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, masih belum sanggup berbicara di tengah isakannya.

Dapat ia dengarkan detak jantung tak beraturan milik Wu Yi Fan. Tetes-tetes hujan yang turun dari rambut pirang lelaki itu bercampur dengan keringat, napas lelaki itu bahkan masih tersenggal tanpa henti dan saat itu dirinya tahu, Wu Yi Fan pasti berlari mati-matian di tengah hujan untuk menemui dirinya.

“Siapa yang melakukannya?”

Dia tetap menggelengkan kepalanya. “Maaf.”

Lelaki itu menggertakan giginya. “Apa saja yang lelaki brengsek itu lakukan padamu?”

Ia mengulum senyumannya, berusaha tetap terlihat tenang ketika mengangkat kepalanya dan menatap mata Wu Yi Fan yang berjarak darinya, mengingat betapa jenjangnya tubuh lelaki itu. “Terburuk dari yang paling buruk, Yi Fan. Aku tak ingin kau mendengarnya.”

Wu Yi Fan mengepalkan tangannya dan meletakannya di sebelah bahunya. Ia kemudian memeluk kembali tubuh gadis itu, menahan dirinya untuk tidak segera berlari dan menerjang lelaki brengsek yang kini berada dalam nomor pertama di daftar orang yang paling ingin ia bunuh untuk saat ini.

“Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja.” Ia menepuk punggung gadis itu. Gadis yang kini hanya terdiam bagai tak bernyawa di dalam pelukannya.

Tok Tok

Jessica mengerjapkan matanya. Ia tak tahu dirinya tertidur entah sejak kapan namun selanjutnya ia tersenyum tipis ketika menyadari lamunannya sebelum tidur berlanjut menjadi bayangan penuh kenangan sebagai bunga tidurnya.

Tok Tok

Ia mendengus kesal ketika menemukan ia terbangun benar-benar di pagi buta. Ketika kakinya beranjak berjalan menuju pintu kamarnya, ia bersumpah setidaknya ia akan memaki siapa saja yang mengetuk pintunya dan membangunkannya.

Sebelah alisnya terangkat ketika menemukan sosok lelaki Kim di tempo hari yang nyaris membuatnya memekik sebelum ia melihat Wu Yi Fan berdiri di belakang lelaki itu dan mencengkram tengkuk si lelaki Kim. “Aku membawanya kemari, setidaknya dia harus mencium kakimu untuk meminta maaf sebelum aku benar-benar membunuhnya.” Pria jenjang berambut pirang itu menyeringai tipis padanya dan ia balas dengan seringaian tipis lainnya.

“Bawa dia masuk.” Ia menyingkirkan badannya dan memberi ruang yang cukup untuk Wu Yi Fan mendorong lelaki Kim itu memasuki kamarnya. Setelah memastikan bahwa tak ada seorang pun berada di lorong kamarnya dan melihat ketiganya, ia menutup pintu kayu kamarnya.

Lelaki Kim itu kini berlutut di depan Wu Yi Fan yang dengan tenang tengah menuang teh ke dalam cangkir yang tergeletak di meja pada sudut kamarnya.

Ia berhenti berjalan ketika sudah berada di tengah ruangan, menatap ke arah Kim yang terlihat bersimbah darah yang berasal dari pelipisnya. Sedikit demi sedikit tubuhnya bergemetar, mengingat kejadian kala itu, ketika mata lelaki asing itu terangkat dan menatapnya tajam, tanpa rasa takut.

Namun selanjutnya, kaki panjang Yi Fan menendang punggung lelaki itu, “Berhenti menatapnya seperti itu, aku bersumpah kau benar-benar mati setelah ini.”

Jung Jessica tersenyum tipis. Ia aman, ia bisa memastikan satu hal itu jika Wu Yi Fan berada di dekatnya. Kemudian, ia kembali meneruskan langkahnya dan berdiri di depan lelaki yang tengah berlutut tersebut. Wu Yi Fan dengan cepat ikut melangkah dan menarik tengkuk lelaki itu sehingga kini si lelaki Kim menengadah menatap ke arah Jessica yang melipat tangannya di depan dada dengan senyuman sinis khas miliknya.

“Jadi, bisa kau katakan apa yang ada di pikiranmu saat ini? Aku lebih tertarik dengan satu hal ini.” Gadis itu menghilangkan senyuman tipisnya. Jari lentiknya mengetuk pelan dahi lelaki itu.

Lelaki Kim tersebut mengerutkan alisnya. “Aku semakin tertarik padamu.” Ia terkekeh pelan.

Wu Yi Fan mendengus geli sebelum menendangkan kembali kakinya. “Dia calon istriku, Bajingan,” gumamnya. “Aku membawamu ke sini untuk berlutut dan mencium kakinya, bukan untuk menggodanya, Brengsek.” Kali ini ia mengarahkan sikunya pada tengkuk lelaki itu.

Cairan merah kental keluar dari bibir lelaki Kim. Ia terbatuk pelan dan menatap cairan yang menyembur di lantai. “Aku sering mendengar tentangmu, Wu Yi Fan. Aku mendengar bagaimana pandangan pria dan wanita di luar sana berbeda, para wanita akan berteriak dan memuji ketampananmu sedangkan bagi para lelaki, kau adalah monster berdarah dingin.” Ia bangkit dari lututnya dan mencengkram kerah Wu Yi Fan yang hanya menatapnya datar. “Dan, aku tak pernah mengerti tentang anggapan itu, tak ada seorang pun yang berani mengatakan alasan mengapa kau adalah monster.”

Kini jari-jarinya yang dipenuhi darah merah menyentuh kening, pelipis, pipi tirus, kemudian berakhir di dagu Wu Yi Fan, ia tersenyum sinis. “Tak perlu disangsikan jika kau memang memiliki pesona untuk para wanita.”

Wu Yi Fan mendengus geli, merasakan bagaimana cairan merah amis itu menempel di wajahnya, tapi ia tak merasa jijik, ia selalu menyukai bau anyir darah yang masih baru.

“Jadi, kurasa aku tidak akan menyesali perbuatanku, karena dengan itu aku dapat mengetahui alasan dibalik panggilan monster untukmu. Karena kini, aku menghadapmu, menghadap seorang lelaki berdarah dingin bagai monster setelah kemarin, kau hampir membunuh seluruh orang-orangku.” Pria Kim tersebut melepaskan cengkramannya dan berbalik menatap Jessica Jung dengan mata lebamnya. “Dan, aku cukup menikmati malam kita, Nona Jung. Suatu kehormatan untukku.”

Jessica memicingkan matanya, bibirnya berdecak pelan dan matanya menatap tenang, setenang air pada lelaki itu. “Berlutut padaku.”

Tangan besar Wu Yi Fan mencengkram tengkuk lelaki itu dan menyeretnya untuk berlutut. “Ini tak akan mengubah keputusanku untuk membunuhmu, tapi tetap lakukan semua dengan baik, mengerti? Mungkin ini akan berpengaruh untuk tingkat rasa sakit yang kau dapatkan nanti.”

Si Pria Kim mendengus pelan. Masih dengan pandangan penuh percaya diri yang sama, ia menatap ke arah Jessica Jung. “Untuk apa aku meminta maaf, kaulah orang yang menyerahkan dirimu sendiri padaku, Nona Jung.”

Wu Yi Fan mengeraskan rahangnya. Ia menatap tajam ke arah Jessica Jung. “Ceritakan padaku, Kim.”

Jessica tersenyum tipis, ia berjalan meninggalkan tempatnya dengan suara hak tingginya yang terketuk pelan di lantai keramik kamarnya. Kemudian ia terduduk di tempat tidurnya dengan mata yang terus menatap pada kedua lelaki di ruangan itu.

“Dia tersenyum padaku dengan gaun setipis itu, di depan ruanganku, di kastilku.Saat itu, aku mencengkram tangannya dan dia mengikutiku begitu saja.”Ia meludahkan darah dari bibirnya yang terkoyak dibagian dalam.

Wu Yi Fan menghela napasnya pendek. “Kenapa aku tidak terkejut, eh?” Ia menatap Jung Jessica yang menatapnya balik dengan senyuman sarkastik.

Gadis itu memiringkan kepalanya, masih dengan senyuman yang sama. “Senang bertemu denganmu lagi, Yi Fan. Ini pertama kalinya setelah 12 tahun lalu, benar?”

“Sejak kapan kau datang?” Wu Yi Fan mendengus pelan. “Selamat datang kembali. Aku merindukanmu.”

Si Pria Kim membulatkan matanya ketika Wu Yi Fan melepaskan dirinya dan berjalan perlahan menuju Jung Jessica, sekedar memberikan sebuah ciuman singkat di bibir gadis itu.

Setelah itu, untuk pertama kalinya semenjak diseret menuju kamar ini, ia merasakan ketakutan tertinggi ketika keduanya menatapnya dengan senyuman yang sama, pandangan yang sama, atmosfer mengerikan yang sama.

Dengan kakinya yang melemah, ia merangkak menuju pintu sebelum sebuah bunyi debaman menyentak sebelah telinganya. Ia memekik keras ketika menemukan sebelah kaki panjang Wu Yi Fan berada di sana, menghalangi dirinya untuk membuka pintu. Lelaki itu tersenyum tipis dan menunduk menatapnya tajam, ia menahan napasnya ketika berbalik dan menemukan Jung Jessica dengan senyuman yang sama berjalan ke arahnya.

Sebuah suara keras menghentak telinganya.

Ia memejamkan matanya dan kemudian ketika ia membukanya, ia menatap gaun putih bersih gadis itu kini dipenuhi bercak darah, dan ia tahu itu darahnya. Gadis itu masih memegang pisau di tangannya, pisau yang baru saja digunakan untuk menusuk ulu hatinya.

Berkali-kali ia terbatuk, batuk yang mengeluarkan cairan kental lainnya.

Jung Jessica tersenyum tipis, nyaris bagaikan malaikat di hadapannya. “Apa yang harus kulakukan padamu, Kim?”

“Lakukan yang kau mau. Tak perlu menyisakan untukku, Soo Yeon.” Ia bergerak, berhenti menutupi pintu dengan kakinya karena ia tahu Si Pria Kim yang kini berlutut di depan keduanya tak akan lagi sanggup menggerakan tubuhnya.

Wu Yi Fan terdiam di sana, dengan kedua tangan di dalam saku celananya, menatap lurus ke arah Jessica Jung dengan pisau di tangannya yang bertubi-tubi menghujam badan kurus si Pria Kim.

Malam itu berakhir dengan keduanya tertidur di lantai kamar yang masih dipenuhi genangan merah anyir darah, saling bertopang satu sama lain dan tersenyum tipis menanti esok hari, hari pernikahan keduanya.

*

Jessica Jung berdiri di depan kaca. Ia tersenyum pada bayangannya di dalam sana, bayangannya yang kini memakai gaun putih dengan sepasang tali tipis di bahunya, gaun dengan ekor panjang dan hiasan sulaman bunga di setiap ujungnya, gaun impiannya.

Kemudian, bayangan Wu Yi Fan muncul dari belakangnya dan memeluk pinggangnya. “Mereka akan melihat pengantin paling cantik yang pernah ada.” Lelaki itu meletakan dagunya di salah satu bahunya.

Gadis tersebut tersenyum sejenak sebelum berbalik dan menatap Wu Yi Fan. Ia kemudian mengencangkan kembali dasi perak yang serasi dengan jas putih bersih yang dikenakan lelaki itu. Rambut pirang alami milik lelaki itu yang biasanya ditata secara acak, kini dengan berbagai alat telah membentuk sebuah kesatuan yang tampak pantas dengan wajah iblisnya. Berbeda dengan dirinya yang membiarkan rambutnya teruntai seperti biasa kecuali untuk mahkota kecil yang nanti akan ia pakai, ia sedikit menyesali hal itu.

“Dan, mereka akan melihat lelaki paling tampan ini berjalan bersamaku.” Ia menepuk pelan puncak kepala lelaki itu dengan sedikit berjinjit. Senyuman lembutnya mengembang di wajah cantiknya.

Wu Yi Fan terhenyak sejenak. “Jessica?”

Salah satu alis gadis itu terangkat. “Ya?”

Lelaki tersebut kemudian tersenyum masam. “Tidak. Bukan apa-apa. Senang melihatmu di sini.”

Wu Yi Fan dengan perlahan membalikan badannya dan melangkahkan kembali kakinya keluar ruangan. Ia tersenyum tipis pada Jessica Jung sebelum benar-benar menutup pintu ruangan dan menghilang dari pandangan gadis itu.

Meninggalkan Jessica Jung yang terpaku di tengah ruangan, menatap pintu yang berdebam. “Kau mengharapkan bahwa yang kau temui bukan aku, Yi Fan?” Gadis itu tersenyum kosong.

*

Wu Yi Fan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa berbantalan merah tua di sudut ruangan tata rias untuk pengantin pria. Ia menatap warna merah sofa dan kemudian tersenyum miris, ini warna kesukaan keduanya, warna darah, warna miliknya dan Soo Yeon.

Membiarkan tatanan rambutnya rusak begitu saja, ia menyapu bagian poninya kasar dan penuh frustrasi. Ia mendesah kasar ketika mendengar suara rintikan hujan di luar sana, suara air yang mengalir mengetuk jendela kaca di sudut lain ruangan. Mata elangnya menatap ke arah tetesan-tetesan yang menempel di sana dan matanya kemudian terpejam.

Bau hujan menusuk hidungnya, menghidupkan kenangan di dalam otaknya.

Dimana pertama kali ia bertemu dengan Soo Yeon. Dengan gadis yang dengan segala sikap di luar akal sehat dan tanpa logika miliknya, membuatnya jatuh hati.

“Semua akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja.”

Ia kemudian merasakan bagaimana Jung Jessica menghentakan tubuhnya kasar hingga dirinya nyaris terjungkal. Mata indah gadis itu menatapnya dengan pandangan sinis. “Hai? Kau baik-baik saja?”

“Jessica?” Wu Yi Fan merasakan bibirnya terkunci begitu saja ketika gadis itu menempelkan bibirnya di atas bibir miliknya. Namun, ketika ia menatap kembali mata gadis itu, ia menemukan air mata di pelupuk mata indah Jung Jessica. Gadis itu menangis, bukan ia yakin itu bukan hujan atau sesuatu yang lain, ia yakin itu adalah air mata.

Dirinya tak sanggup untuk tak menggapai bagian belakang kepala gadis itu dan mengeratkan kembali ciuman tersebut. Dan saat itu, ia tahu ia juga menangis.

Ketika ciuman itu terlepas, Jessica Jung berbisik perlahan. “Kenapa kau menangis, Wu Yi Fan?”

Kala itu, dirinya memanglah bocah berusia 10 tahun namun bukan lagi rahasia besar jika dirinya memiliki otak jenius melebihi layaknya seusia dirinya. Otak jeniusnya saat itu berputar, meneliti setiap sudut teman kecilnya dan menemukan perbedaan pada bagaimana cara gadis itu menatapnya dan bagaimana gadis itu tersenyum.

“Mau menemaniku?” Jessica Jung tersenyum lagi dan ia tahu itu bukanlah senyuman tipis khas milik gadis itu.

Namun ia tersenyum, Wu Yi Fan tersenyum bahkan ketika menggenggam tangan mungil milik gadis itu. “Kita akan kemana?”

Ia tahu ada yang berbeda dengan Jessica Jung. Ia sungguh tahu. Tapi, apakah sebuah kesalahan jika ia menyukai perbedaan itu? Jika ia menyukai berpetualangan dengan gadis baru ini?

Berpetualang menjelajah setiap sudut kastil Wu dan memainkan permainan nyawa. Gadis itu penuh dengan kejutan, ia menyukai bagaimana Jessica selalu siap dengan berbagai senjata unik di permainan mereka.

Dirinya menyukai bagaimana ia bisa mengarahkan berbagai senjata dan memunculkan cairan kental dengan bau termanis yang menempel di tubuhnya. Ia tak perlu khawatir karena ini adalah permainan dan ia tak berbuat dosa atau kesalahan, karena ini adalah permainan.

“Ini hanya permainan, Yi Fan. Ini petualangan kita, kita hanya perlu membunuh setiap orang yang mencoba menangkap kita lalu beberapa detik kemudian, mereka pasti akan bangun lagi, karena ini hanyalah permainan, Wu Yi Fan.” Bisikan yang sama selalu Jung Jessica katakan padanya setelah ia menghujam seseorang dengan senjata yang disiapkan gadis itu.

Ia menyukai berpetualang dengan Jung Jessica menggandeng tangannya. Mereka bisa menyusuri kastil-kastil lain yang berada dekat dengan kastil keluarganya dan menemukan target lain yang bisa ia hujam tanpa rasa dosa, baiklah ini adalah permainan, bukan?

Permainan tanpa aturan tanpa ada hukuman itu berakhir begitu saja setelah seminggu berlalu. Ia tidak terlalu mengingat apa yang terjadi kecuali ketika gadis itu jatuh terduduk di depannya dengan keringat dingin membanjiri tubuh mungilnya.

Dengan matanya, ia melihat gadis itu meronta, memegangi dadanya dengan napas tersenggal.

Saat pandangan keduanya bertemu ketika ia merunduk dan menyentuh puncak kepala gadis itu, ia kembali menemukan senyuman berbeda itu. Senyuman yang dalam waktu terakhir ini selalu membuatnya tenang. Gadis itu mencengkram tangannya lembut dan meletakannya di sebelah pipi pucat miliknya yang dipenuhi peluh, “Kau tahu aku bukan Jessica, benar?”

Ia tersentak sejenak sebelum mengangguk pelan.

Untuk kedua kalinya, ia merasakan dinginnya bibir gadis itu menyentuh lapisan bibirnya. Gadis itu menciumnya namun kali ini tidak dengan tangisan. “Salam kenal, Wu Yi Fan. Namaku Soo Yeon dan aku mencintaimu.”

Wu Yi Fan saat itu terpaku ketika tubuh mungil Jessica jatuh dihadapannya, berbaring di pangkuannya. Sedetik kemudian, tubuh itu kembali bergerak dan kini menatapnya dengan pandangan berbeda lainnya.

“Jessica?” Suaranya bergetar melebihi apapun.

“Ya?”

Dan, saat itu, ia menangis seakan dirinya tak pernah menangis sebelum ini. Ia merasakan hancur, terkoyak, dan terjatuh di saat yang bersamaan. Untuk pertama kalinya, ia tahu arti dari kata jatuh cinta dan kehilangan.

Wu Yi Fan tersentak oleh suara petir yang menyambar. Ia tak lagi peduli dengan acara pernikahannya yang mungkin terganggu oleh hujan deras. Ia benar-benar tak peduli pada apapun lagi.

“Yi Fan?” Ia merasakan sesuatu yang hangat mengetuk dahinya pelan.

“Jessica?”

Gadis itu tersenyum lembut. “Ya, ini aku, Jessica. Kau kecewa?”

Rahangnya mengeras. Dalam sekali gerakan, ia terbangun dari posisi berbaringnya dan menatap wajah pucat gadis di depannya.

“Bisakah aku mengatakan kalau tadi malam aku bermimpi, aku bermimpi mengenai seorang gadis bernama Soo Yeon.” Jessica berkata pelan tanpa menghiraukan pandangan penuh rasa tercengangnya.

Ia merasakan dadanya menghentak. “Soo Yeon? Namanya Soo Yeon?”

“Dia selalu bersamaku, tertidur di dalam diriku dan hadir di saat aku tak lagi menginginkan dunia. Dia sisi lainku, temanku dalam kegelapan.” Jung Jessica tersenyum lembut. “Dia bercerita mengenaimu. Mengenai Wu Yi Fan yang selalu bersamaku dan dia menitipkan pesan untukmu.”

Wu Yi Fan terhenyak. “Dia ada di dalam dirimu?”

“Selalu bersamaku dan bersamamu. Dia selalu bersama kita. Bahkan saat ini, dia ada di sini, mendengarkan pembicaraan kita.”

Lelaki itu merasakan air matanya mengalir. Ia tak pernah memikirkan kenyataan ini sekali pun. Ia tak pernah mencoba mencari tahu mengenai Soo Yeon tapi tak sekali pun ia melupakan keberadaan gadis itu.

Sesekali ia menitipkan pesan pada Tuhan agar bertemu lagi dengan gadis itu, ia selalu menatap dan berdiri di sebelah Jessica dengan pengharapan yang sama, agar gadis itu berubah, merubah senyuman dan pandangannya padanya, berubah kembali menjadi sosok 12 tahun lalu. Menjadi Soo Yeon.

Ia sama sekali tak terpikir dengan kenyataan bahwa Soo Yeon ada di sini.

“Dia bukan hantu yang merasukimu, rupanya.” Ia mendengus geli di tengah tangisnya.

Jung Jessica menghapus satu air mata yang mengalir di pipi tirusnya. “Dia menyesal untukmu, Wu Yi Fan. Ia membuatmu kotor.”

Wu Yi Fan menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sungguh, aku tak ingin dia menyesal.”

“Yi Fan, dia berpesan agar aku mengatakan bahwa dia mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

Saat itu, Jessica tahu, itu bukanlah untuknya. Tapi, ia tak sanggup untuk tak memacu jantungnya dengan cepat. Ia tak sanggup ketika menatap mata indah Wu Yi Fan yang mengalirkan air matanya.

Ia mencintai lelaki itu, dirinya mencintai Wu Yi Fan. Jung Jessica mencintai Wu Yi Fan.

Alasan yang sama mengapa ia membenci kegelapan di dalam hatinya. Karena ia tahu betapa besar cinta Wu Yi Fan pada sisi gelapnya. Ia menginginkan Wu Yi Fan sebesar dunia. Ia menginginkan lelaki itu. Dan tak menginginkan siapapun untuk merebut lelaki itu, tak terkecuali sisi gelapnya.

Dirinya memilih menutup bibirnya untuk tak mengatakan bahwa ketika Soo Yeon di sana maka dirinya juga berada di sana. Sama seperti 12 tahun lalu, ketika ia menemukan Wu Yi Fan tersenyum pada sisi gelapnya dan bukan pada dirinya. Ia yang mengenal Wu Yi Fan sejak dahulu kala dan tak pernah mendapatkan senyuman itu dan kini lelaki itu tersenyum hingga ia tak mampu menolak untuk mengambil kembali tubuhnya, ia ingin senyuman itu ditujukan padanya dan bukan pada Soo Yeon, pada monster di dalam tubuhnya. Sama seperti semalam, ketika sisi gelapnya kembali memposisikan diri di dalam tubuhnya setelah kejadian dengan pria Kim dan ia menemukan wajah damai Wu Yi Fan tertidur di sampingnya, lagi dan lagi ia merasa hancur hingga sisi egoisnya kembali, ia tak menginginkan seseorang lain meskipun menggunakan tubuhnya menjadi sandaran untuk lelaki itu, ia merebut kembali tubuhnya.

Karena Wu Yi Fan hanya miliknya.

Dia dan sisi gelapnya memang tak pernah bisa dipisahkan. Begitu pula dengan rasa cinta Wu Yi Fan yang tak akan pernah menghilang untuk sosok Soo Yeon.

Namun bukan berarti ia tak bisa bersama Wu Yi Fan. Karena kini, ia dan lelaki itu tengah berjalan di altar. Mengikat janji suci mereka setelah ia berbisik pelan pada Yi Fan beberapa waktu lalu, meyakinkan langkah lelaki itu untuk berjalan dengannya di altar  dengan sebuah dusta, “Dia pasti akan kembali suatu saat nanti, Yi Fan, dia sendiri yang mengatakan itu. Jadi, bukankah lebih baik kita meneruskan acara pernikahan ini agar kau tetap berada di sini, di samping Soo Yeon?”

Sebuah dusta yang pasti tak akan pernah menjadi kenyataan karena ia tak akan pernah membiarkan sisi gelap di dalam dirinya kembali terbangun. Ia—Jung Jessica tak akan pernah membiarkan Wu Yi Fan bertemu dan jatuh lebih dalam pada sosok itu. Ia bersumpah di dalam hatinya—ketika bibirnya mengungkap janji suci pernikahan mereka. “Aku akan selalu bersamamu dalam hitam gelap dan mengembalikanmu pada putih cahaya. Dalam fantasi dan mengembalikanmu ke kenyataan. Selamanya.”

Wu Yi Fan merasakan angin berhembus tipis menyentuh tubuhnya. Ia menatap sosok gadis yang tengah mengucapkan janji suci di sebelahnya dengan terawangan kosong. Bibirnya tersenyum tipis ketika membayangkan suatu saat nanti di sana bukan lagi seorang Jung Jessica dan sosok gadis yang telah membuatnya merasakan cinta hadir di sana. Sosok yang mampu membangkitkan monster di dalam dirinya. Seorang malaikat bagi dirinya.

Saat pendeta menatapnya, menunggunya menguncapkan janji suci. Bibir tipisnya mengucap, “Aku hidup dengan kebencian hanya untuk melihatmu. Aku membunuh hanya untuk menciummu. Aku mati hanya untuk mencintaimu. Gadis kecil dalam kegelapan, semua itu kulakukan untukmu. Semua kegelapan di dalam diriku hanya untuk bersamamu.”

Janji suci yang ia tujukan pada Soo Yeon.

Sosok yang kini tengah tersenyum menatapnya di dalam diri Jessica Jung. Sosok monster yang menerawang jauh menatapnya, mengucapkan ribuan kata cinta yang mungkin tak akan pernah tersampaikan.

*

Jadi, siapakah monster di sini?

Apakah Wu Yi Fan yang mencintai kegelapan dan rela tenggelam dalam kegelapan tersebut meski harus menumpahkan darah karena itulah kebahagiaannya?

Apakah Soo Yeon? Sosok yang hadir dan jatuh cinta pada lelaki yang ia tahu tak akan pernah dapat ia gapai?

Apakah Jung Jessica dengan sisi egois pada rasa cintanya? Yang tak akan membiarkan Wu Yi Fan terebut meski dengan ribuan dusta?

Ataukah, sebuah perasaan bernama cinta yang menggerogoti ketiganya?

Fin

Advertisements

5 thoughts on “Monster (Oneshoot)

  1. aku nggak terlalu mngerti dengan isi cerita ini mungkin karena bahasanya yang tingginya selangit…. :/
    tapi walaupun gitu ff nya tetep keren… 🙂 😉
    aku selalu suka saat authornya mnggambrkan senyuman” dari jung jessica… seakan aku bisa melihatnya secara langsung…
    over all… kereennn lanjutkan ya thor

    ~nggak tau yg ke berapa~ #gubrak

  2. Bahasanya terlalu tinggi untukku, jadi aku harus benar2 membaca tiap kata dari FF ini untuk mengerti isinya, aku suka karakter tokoh FF ini, tapi aku masih sedikit bingung, kapan Soo yeon itu muncul? Kapan Jessica itu muncul, overall bagus thor, bikin lagi ya! Aku suka FF fantasy Jessica xD!

    Keep writing!’-‘)9

  3. Hai, sLam knaL…..
    Aq suka sma ff kmu ini,, kren bgt… WLopun awaL.a bngung d.prubahan prtama Sica jdi Sooyeon d.kmar itu….
    Tpi stLah itu, sip…. Aq ngrti mksud crita ini apa….
    N WuFan hbat bgt bsa tau n bdain mana senyuman n tatapan Sica, mana yg Sooyeon…..
    Keren Lah pkok.a…. Aq jrang dpat ff dgn krakter Sïca yg bgini….
    Keep writing….

  4. Agak kurang ngerti siiiih…
    tapi kalo bisa buatkan lagi cerita yg lain tentang jessica semasa SMA nya yg terlihat culun dan diam” suka terhadap murid baru yg bernama luhan akan tetapi d sisi lagi sehun suka terhadap jessica karena dia tidak melihat jessica dr luarnya. Karena itu sehun ajak jessicauntuk merubah penampilannya… dan alhasil luhan pun mulai suka dan cemburu karena sehun selalu dekat dengan…. (saranku..) hehhee…. please buatkan cerita kayak gini soalnya aku suka jessica..

  5. Ini keren pake banget dikuadratin…..
    Fic yang bikin :
    Perlu mikir dulu sebelum baca scene selanjutnya,
    Ngga bisa dilewat satu kata pun,
    Dan akhirnya timbul pertanyaan yang jawabannya bisa dibikin sendiri sama readers sesuai pemikirannya

Hey Semers.....please, comment here! ^o^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s